OJK Pantau Bank NTB Yang Akan Dikonversi Menuju Bank Syariah

Nasabah Bank NTB diminta tidak mengkhawatirkan terkait konversi menjadi Bank Syariah, mengingat banyak manfaat yang bisa didapatkan nasabah melalui perbankan syariah.

MATARAM.lombokjournal.com –  Bank NTB yang akan dikonversi menjadi Bank  Syariah, kini dalam pantauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB.

Kepala OJK NTB, Yusri menuturkan, pihak OJK bukan hanya melakukan pemantauan terhadap konversi Bank NTB menjadi syariah.  Seluruh aktivitas kegiatan yang berlangsung di Bank NTB juga diawasi.

” Kita memantau seluruhnya, dari menuju Konversi hingga kegiatan Bank NTB, ” kata Yusri, Senin (28/8).

Terkait konversi menjadi Bank Syariah, hal tersebut sudah merupakan keputusan para pemegang saham.  Proses konversi tersebut sedang berlangsung.

“Untuk konversi ke syariah itu sudah menjadi keputusan para pemegang saham” tegasnya

Konversi bank NTB  ke syariah diakui Yusri sudah on the track, sesuai rencana. Kemungkinan konversi tersebut diperkirakan rampung pada April atau selambat-lambatnya bulan Agustus tahun 2018.

Bank NTB dinilai OJK sudah memiliki mainframe terkait konversi tersebut. Ia berharap apa yang diharapkan masyarakat dan stakeholder dalam hal ini pemerintah daerah bisa segera terwujud. Bank NTB segera berubah menjadi bank syariah.

“Lebih cepat lebih baik,” tegasnya.

Berdasarkan pantauan OJK, perjalanan konversi bank NTB belum mengalami kendala apa pun. Hal ini dikarenakan masyarakat dan stakeholder sangat mendukung kegiatan konversi tersebut.

Yusri  menilai, perbankan syariah di NTB akan berkembang baik. Konversi Bank NTB menjadi Bank Umum Syariah akan positif bagi perkembangan industri syariah ke depan. Selanjutnya tugas OJK melakukan pengawasan dan pemantauan.

“Ini juga akan memberikan manfaat masyarakat bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi,”ungkapnya.

Yusri melanjutkan, ia menghimbau para nasabah Bank NTB untuk tidak khawatir dengan konversi tersebut. Ia menilai hal tersebut merupakan pilihan yang baik bagi nasabah. Mengingat banyak manfaat yang bisa didapatkan nasabah melalui perbankan syariah.

AYA




Musim Haji, Berkah Rezeki Pedagang Kecil

Para pedagang menangguk untung berlipat pada musim haji dibandingkan berjualan sehari-hari  di pasar

Deretan pedagang kecil depan Asrama Haji (foto: AYA)

MATARAM.lombokjournal.com — Ratusan pedagang musiman kembali memenuhi trotoar jalan di kawasan Lingkar Selatan atau di depan Asrama Haji provinsi NTB. Mulai pedagang asongan, penjual buah,Tas, sepatu, sandal, jilbab, kaca mata, kaos, mainan anak-anak, pakaian hingga sembako.

Menurut pengakuan para pedagang, omset jualannya meningkat dari hari-hari biasa.

Salah seorang penjual buah asal Gerung lombok Barat, ibu Mali’ah mengaku, dia rutin berjualan pada musim haji di kawasan Asrama Haji. “Omset jualan saya pada musim haji tahun ini antara dua sampai lima juta rupiah dalam sehari,” kata Mali’ah, Kamis ( 24/8).

Jika dibandingkan omset pada hari-hari biasa, diakuinya berjualan di lingkungan Asrama Haji lebih banyak.

“Disini ramai, kalau ada orang naik haji, pada musim haji tiap tahun saya berjualan disini. Kalau tidak musim haji saya berjualan di Lombok Barat. Kalau tahun lalu pendapatan tiga sampai empat juta. Saat ini satu sampai lima juta saja, tapi dibandingkan berjualan di pasar, disini lebih banyak dapat rezeki,” ujarnya.

Salah seorang pedagang pakaian dan tas, H. Harfin mengatakan, omset penjualan di asrama haji lebih banyak jika dibandingkan dengan ketika berjualan pada hari biasa.

“Disini saya bisa memperoleh sampai Rp 1 juta per hari,” akunya. Padahal pada hari biasa, dia berjualan di pasar Mandalika dan memperoleh omset sekitar Rp 500 ribu per hari.

AYA




NTB Resmikan i-Shop, Solusi Promosi dan Pemasaran Produk Unggulan

NTB sering dirugikan karena produk NTB diklaim daerah lain, Solusinya dengan i-shop

MATARAM.lombokjournal.com —  Kepala Dinas Perdagangan NTB Putu Sally Andayani berharap, kehadiran i-shop menjadi jalan keluar bagi para pelaku UKM di NTB dalam mempromosikan dan memasarkan produknya.

Selama ini, lanjut Sally, nilai ekspor dari UKM di NTB masih sangat kecil. Ditambah sejumlah persoalan lain seperti seringnya produk NTB diklaim dari daerah lain dan juga tidak adanya surat keterangan asal (SKA) produk.

“Kita tentu dirugikan. Solusinya dengan i-shop ini,” ujar Sally saat peresmian i-shop di Kantor Pemprov NTB, Kamis (17/8).

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) secara resmi meluncurkan i-shop NTB sebagai sarana jual beli dan media promosi produk-produk unggulan dari para pelaku usaha kecil, dan menengah (UKM).

Program i-shop NTB merupakan sebuah toko daring (online) yang terintegrasi atas kerja sama Dinas Perdagangan NTB dengan BNI dan Pos Indonesia sebagai transaksi keuangan dan juga pengiriman produk.

Sally memaparkan, dari 100 UKM yang mendaftar telah disaring menjadi 20 UKM yang dianggap memenuhi syarat berjualan di i-shop. Ragam jenis produk unggulan NTB di i-shop terdiri atas produk kerajinan tangan seperti gerabah, kain tenun, ketak, cukli, mutiara, hingga susu kuda liar bisa ditemukan di toko daring ini.

“Satu UKM bisa hasilkan macam-macam jenis produk. Kita minta komitmen para pelaku UKM,” kata Sally.

AYA

 




Kopi NTB Akan Diekspor ke Mesir

Ragam kopi yang dimiliki NTB — salah satu yang terbaik di Indonesia – jadi peluang bisnis menjanjikan bagi pelaku usaha di NTB.

Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj Putu Selly Andayani

MATARAM.lombokjournal.com — NTB memiliki beragam hasil kopi yang memiliki potensi ekspor. Seperti kopi Tepal, kopi Sembalun (kopi Rinjani), dan Kopi Tambora. Kopi-kopi tersebut memiliki citarasa menarik yang disukai banyak kalangan, terutama wisatawan lokal.

Bahkan Mesir pun ingin mengimpor kopi yang berasal dari NTB. Bahkan hasil produk kopi NTB akan segera diekspor ke negeri piramida.

“Kita punya kopi the best,” ujar Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj Putu Selly Andayani di Mataram, Selasa (15/08).

Ia mengatakan, Mesir memang minta kopi NTB.  Pihaknya tengah mengurus salah satu kopi NTB, yakni kopi Sembalun untuk diekspor ke Mesir. Kopi ini dinilai sudah memiliki kemasan yang layak dan bagus untuk standar ekspor. Selly mengaku Mesir memiliki pasaran kopi yang bagus dan luas.

Sebab itu Mesir menjadi salah satu tujuan ekspor kopi-kopi NTB. “Kopi NTB tak harus dinikmati oleh orang NTB saja,” tegasnya

Ke depannya Selly ingin kopi NTB bisa melanglang buana di internasional. Terlebih lagi di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini. Era ini memberi ruang yang luas untuk memasarkan hasil produk kopi NTB di dunia.

Ia juga mengatakan, selain ekspor kopi, ia juga akan mengusahakan untuk ekspor beberapa pengolahan pangan lainnya. Disamping menyiapkan ekspor kopi ke luar negeri, pangsa pasar lokal juga tak kalah penting. Di era MEA tentu banyak kopi dari berbagai daerah maupun luar negeri yang masuk ke NTB.

“Ini yang terus kita promokan ke berbagai pengusaha lokal juga,” pungkasnya.

AYA




Bumdes Mengembangkan Perekonomian Masyarakat, Bukan Jadi Pesaingnya

Usaha Masyarakat perlu dipetakan dan tugas Bumdes membuka peluang usaha berdasarkan potensi yang ada di masyarakat

Pembinaan pengembangan ekonomi masyarakat di Gedung Bumdes Mekar Sari, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Loteng, Selasa (8/8) (Foto: Gilang)

LOTENG.lombokjournal.com — Bumdes “Mekar Dure” Desa Durian, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah, dapat Kunjungan pembinaan Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa Kabupaten, Nyimas Anita Akmayani, bersama Pendamping Desa Kecamatan, Ida Rohayani dan Moh. Nur di gedung Bumdes, Selasa (08/08).

Kunjungan itu memberi bimbingan sekaligus pembinaan pengembangan potensi.

Keberqadaan Bumdes Mekar Sari didorong kreatif dalam mencari peluang usaha agar dapat mengembangkan perekonomian masayarakat. Salah satunya dengan mulai membuat pemetaan potensi usaha yang sudah digeluti masyarakat.

Nyimas dalam pemaparannya menegaskan, agar pengelola Bumdes memahami prinsip dasar dari Bumdes. “Bumdes bertujuan meningkatkan perekonomian desa, bukan malah jadi pesaing usaha masyarakat,” tegasnya.

Bumdes “Mekar Duren” di Desa Durian memang tergolong berhasil. Mmeski masih terbilang baru, namun kinerjanya terbolang memuaskan. Saat ini Bumdes Mekar Sari sudah punya gedung sendiri, pengurus nya aktif, bahkan sudah mulai mengembangkan beberapa unit usaha.

“Intinya pengurus tinggal mengkreasikan semua usaha yang sudah ada di desa,” pesan Nyimas.

Ketua Bumdes ” Mekar Duren” Desa Durian Irsamdi, S. Hi mmengaku cukup mendapatakan pembinaan dan pengetahuan baru dengan kunjungan langsung seperti ini.

GILANG




Gerabah, Primadona Kerajinan Yang Makin Redup

Kerajinan gerabah dari Banyumulek yang sempat mengangkat pariwisata Lombok, kini harus memperbaiki kualitas bentuk dan coraknya

Baiq Eva Parangan, Kadis Perindustrian NTB (foto: AYA)

MATARAM.lombokjournal.com – Gerabah asal banyumulek, Lombok Barat, pernah menyedot minat pasar mancanegara. Kini, nasib kerajinan gerabah yang sebelumnya jadi primadona produk ekspor Provinsi NTB, kini biisa dibilang mati suri.

Sebelumnya pangsa pasar ekspor gerabah sebagian besar ke negara Eropa, Asia, bahkan Timur Tengah, sekarang meredup. Meredupnnya ekspor gerabah itu diunbgkapkan Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NYB, Baiq eva Parangan di Mataram, Senin (7/8).

Dinas Perindustrian Provinsi NTB kini mulai fokus membangkitkan kembali gairah industri kerajinan gerabah, dengan melakukan inovasi dari bentuk serta coraknya, khususnya sentra gerabah di Desa Banyumulek, Lombok Barat.

Tahun 2017, pihak Dinas Perindustrian Provinsi NTB akan memberikan perlakuan khusus bagi perajin gerabah Banyumulek.

“Mengajarkan kepada pembuat gerabah agar melakukan inovasi baik dari segi bentuk serta coraknya,” ungkapnya. Pengrajin gerabah di tahun 2017 akan diberikan pembinaan dan pendampingan khusus.

Eva mengatakan, salah satu upaya menghidupkan kembali kejayaan kerajinan gerabah Banyumulek yang mati suri adalah melalui program pendampingan, untuk peningkatan mutu dan kualitas dari produk kerajinan gerabah.

Pendampingan kepada para perajin gerabah di Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat tersebut akan dilakukan para profesional di bidangnya.

Pendampingan bisa berupa peningkatan mutu produk, kreatifitas dan inovasi. Misalnya, perajin dibina agar mampu menghadirkan produk-produk gerabah yang memiliki nilai arsitektur dan ciri khas kelokalan.

Selain itu, serta produk yang dihasilkan tersebut tidak bertentangan dengan aturan dari negara tujuan ekspor. Seperti penggunaan bahan baku yang dilarang negara tujuan ekspor, termasuk kualitas dari produk gerabah itu sendiri.

Fokus pendampingan produk gerabah dilakukan di  Banyumulek tahun 2017, karena memang disitu penghasil gerabah terbesar di NTB.

“Harapannya, kerajinan gerabah ini bisa lagi eksis di pasar ekspor NTB seperti tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya.

AYA




Cuaca Buruk, Buruk Pula Rejeki Nelayan

Musim paceklik ikan sedang melanda kehidupan nelayan

Sopiyan, tak tau harus mengeluh kemana

MATARAM.lombokjournal.com — Hasil tangkapan ikan nelayan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat anjlok akibat cuaca buruk di perairan laut Lombok akhir-akhir ini.

Salah seorang nelayan Sopiyan di Kampung nelayan Pondok Prasi, Kelurahan Ampenan, Kota Mataram, melaut sejak selesai shalat Subuh hingga tengah hari, hanya berhasil menjaring beberapa biji ikan kecil

“Saya melaut sejak selesai shalat Subuh hingga pukul 11.00 WITA, tetapi hanya beberapa ikan kecil yang saya peroleh,” kata Sopiyan, Senin ( 7/8 ).

Kalau boleh menyampaikan keluhan, siituasi paceklik itu sudah dialami umumnya nelayan di Ampenan dalam beberapa bulan terakhir.

Sopiyan  mengaku mencari ikan hingga enam mil dari bibir pantai. Namun hasil penjualan ikan tangkapannya paling tinggi Rp50 ribu. Kondisi serupa juga dialami oleh sebagian besar nelayan lainnya.

Sebagian besar nelayan sudah jarang mendapatkan ikan tongkol dalam jumlah banyak, tidak seperti beberapa tahun sebelumnya. Apalagi nelayan itu hanya menggunakan alat tradisional.

Sopiyan mengaku tidak memiliki pekerjaan alternatif yang bisa menopang kebutuhan hidup  keluarga di saat musim paceklik ikan seperti sekarang. Mengandalkan program bantuan pemerintah juga tidak ada.

“Ya mau gimana lagi, bantuan dari pemerintah juga gak pernah dapat, jadi selama tidak melaut kita perbaiki jaring saja”

Sopiyan lahir darikeuarga yang turun menurun menggeluti pekerjaan menjadi nelayan. Ia mengaku tetap melaut kendati musim angin kencang. “Dapat sedikit atau banyak ikan tergantung nasib,” ujarnya.

AYA

 




Setelah Keripik Tempe dan Peyek, Komariah Menjual Keripik Ares dan Keripik Pare

Kreasi Komariah membuat keripik, sebulan mengantongi jutaan rupiah

MATARAM.lombokjournal.com – Ini dia inovasi membuat camilan keripik, yang bisa ditemui di salah satu stan UMKM Lombok Barat (Lobar) pada EXPO NTB 2017 di Islamic Center NTB, Jumat (4/8).

Inovasi tersebut berupa keripik Ares (pelepah pisang) serta keripik dari sayuran Pare, yang produk asli dari Gerung, Lombok barat, yang  belum ditemukan di daerah lain di NTB.  Komariah selaku pemilik  UKM dan yang mengkreasi keripik ares dan pare itu menuturkan inovasinya membuat  camilan tersebut.

Komariah sudah memulai usaha camilan itu sejak sembilan tahun lalu, semula membuat keripik tempe dan peyek, bertempat di jembatan gantung di Gerung, Lombok barat.

Pelepah pisang muda atau ares sangat populer bagi masyarakat Sasak di Lombok. Biasanya Ares disuguhkan sebagai lauk saat masyarakat Sasak begawe atau ada acara hajatan besar saja. Namun saat Komariah melihat pohon pisang di rumahnya, ia terinspirasi membuat keripik Ares.

“Banyak Pohon pisang di rumah, sayang kalau tidak di manfaatkan. Makanya timbul ide, terus saya mencobanya, jadilah keripik ini,” tuturnya.

Jangan dikira keripik ares itu hanya jadi jajanan di kampung. Poduk buatan Komariah sekarang sudah bisa masuk di retail moderen, seperti alfamart dan Idomaret, serta bisa didapat di pusat  Ole-ole jajanan khas lombok.

Sebenarnya permintaan produk keripik Komariah cukup banyak, tapi belum bisa memenuhi permintaan pasar.

“Sebab produk kami masih dikerjakan manual. Masih iris bahan dengan tangan belum bisa menghasilkan produk dalamjumlah banyak. Kami masih minta bantuan ke Dinas Perindstrian  Lobar, agar diberikan mesin pemotong bahan,” terangnya.

Dalam sehari Komariah bisa membuat 200 bungkus keripik ares dari sepuluh buah pohon Pisang. Untuk Keripik pare, biasanya membutuhkan bahan 30-40 kg dan per kilonya menghasilkan lima bungkus Keripik.

Bisnis pembuatan keripik Ares dan Pare ini tidak menggunakan bahan pengawet. Itu sebabnya hanya bisa bertahan samapai dua setenga bulan saja. “Ya cuman bisa bertahan sampai dua bulan, setengah saja karena kita masih alami ya gak pake bahan pengawet,” ungkapnya.

Dari hasil keripik buatannya, Komariah bisa mengantongi penghasilan delapan juta rupiah per bulan.

AYA

 

??foto komariah pemilik ukm dan pencetus keripik pare dan ares




Bertani Hidroponik, Solusi Sempitnya Lahan Pertanian Kota

Sempitnya lahan pertanian di perkotaan, membutuhkan inovasi kreatif agar sektor pertanian mensejahterakan petani

Wakil Walikota Mataram, H Mohan Roliskana bersama istri, didampingi Kepala Dinas Pertanian Mataram, foto bersama di depan grren house

Mataram.lombokjournal.com – Wakil Walikota Mataram, H Mohan Roliskana, mengngatkan tantangan yang dihadapi Kota Mataram, yang lahan pertaniannya hanya tersisa 33 persen. Ini berdampak signifikan pada kesejahteraan sekitar 4900 petani di Mataram.

“Program sitalas (sistem bertani lahan sempit, red) dengan hidroponik sudah berhasil.  Mudah-mudahan bisa direplikasi di tempat lain,” kata Mohan saat melaunnching Program Sistem  Bertani Lahan Sempit (Sitalas) dengan hidroponik di Lingkungan Taman, Karang Baru (depan Kantor BPK) di Mataram, Kamis (3/8) siang.

Acara launching itu berlangsung di tanah pekarangan yang cukup luas. Di areal lain pekarangan itu berdiri green house hidroponik di atas lahan sekitar 195 m2 (2 are) dengan jumlah 9400 (lubang) tanaman sayur, yang siap memanen berbagai macam sayuran. Bahkan bibit padi yang ditanam sudah mulai tumbuh subur.

Meski sekitar dua bulan berbagai sayuran itu baru ditanam dengan media air dalam lubang-labang paralon, tapi  sudah bisa melayani pengumpul yang biasa memasok ke hotel. “Hasil dari yang 2 are (19 m2) ini setara dengan lahan seluas 50 are (5000 m2),” tutur H Masbuhin yang dikenal sebagai penggerak petani kota sistem hidroponik.

Kadis Pertanian Kota Mataram, H Mutawali, mengawali acara itu menegaskan, dengan program Sitalas beryujuan menguatkan kembali kontribusi sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi.

Dikatakan, tahun 2031 diprediksi lahan pertanian di Mataram hanya tersisa sekitar 350 ha. “Ini tidak boleh hanya dpandang dengan kesediah. Tapi butuh kepedulian,” kata Mutawali.

Dengan program siitalas dengan hidroponik, ingin dijawab masalah yang timbul terkait menyempitnya lahan pertanian.   Masalah seperti petani buruh tani yang menganggur, kekuragan kebuuhan sayur mayur, menghilangnya lahan kangkung, kelangkaan cabe, bisa mendapatkan solusinya.

“Jangan menangis karena kehilangan lahan. Mari gunakan yang masih ada,” ajak Mutawali.

Menurutnya, bertani dengan hidroponik punya kelebihan. Disamping tak membutuhkan lahan luas, masa panen relatif singkat, selain itu bisa memanfaatkan  pekarangan,lorong-lorong, bahkan bisa dilakukan di halaman kantor atau sekolah.

Peluncuran program Sitalas dengan hidroponik itu dihadiri Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTB, Priyono, GM Lombok Raya, Gusti Lanang Patra, Luran se Kota Mataram,  pengusaha yang bergerak di pertanian dan kelompok tani.

Pada akhir acara, para undangan meninjau green house hidroponik. Dalam kesempatan itu, langsung terjadi traksaksi pengelola green house, H Masbuhin, dengan beberapa pengusaha pertanian maupun kalangan perhotelan.

Rr

 

 

 

 

 




NTB Expo di Islamic Center, Menguatkan Branding Destinasi Wisata Halal

NTB Expo mengenalkan potensi wisata religi

H. Chairul Mahsul (Foto: AYA)

MATARAM.lombokjournal.com – Pemilihan lokasi NTB Expo 2017 di Komplek Islamic Center NTB merupakan upaya untuk makin mengenalkan potensi wisata religi kepada para buyers dan sellers yang datang dari seluruh Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Koperasi dan UMKM NTB Chairul Mahsul mengatakan, NTB Expo 2017 merupakan NTB Expo yang ke-15 sejak pertamakali digelar pada 2003.

“Islamic Center NTB dipilih sebagai ikhtiar kita mempromosikan branding NTB sebagai destinasi utama wisata halal Indonesia,” ujar Chairil di pelataran Kompleks Islamic Center NTB, Mataram, Kamis (3/8).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar NTB Expo 2017 di pelataran Kompleks Islamic Center NTB yang berlangsung sejak Kamis (3/8) hingga Ahad (6/8).

Sekitar 140 stand dari UMKM di seluruh NTB dan juga luar NTB ikut berpartisipasi dalam NTB Expo 2017, termasuk UMKM binaan BI, Bank NTB, dan BUMN-BUMN yang ada di NTB.

Chairul belum menyebutkan target transaksi yang dihasilkan selama ajang ini berlangsung. Menurutnya, NTB Expo 2017 merupakan persiapan ajang NTB Expo 2018 tahun depan yang digadang-gadang akan menjadi gelaran NTB Expo terbesar.

“InsyaAllah tahun depan akan jadi NTB Expo terbesar karena tahun depan merupakan tahun terakhir Gubernur dan Wakil Gubernur NTB,” jelas Chairul.

AYA