Kopi NTB Akan Diekspor ke Mesir

Ragam kopi yang dimiliki NTB — salah satu yang terbaik di Indonesia – jadi peluang bisnis menjanjikan bagi pelaku usaha di NTB.

Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj Putu Selly Andayani

MATARAM.lombokjournal.com — NTB memiliki beragam hasil kopi yang memiliki potensi ekspor. Seperti kopi Tepal, kopi Sembalun (kopi Rinjani), dan Kopi Tambora. Kopi-kopi tersebut memiliki citarasa menarik yang disukai banyak kalangan, terutama wisatawan lokal.

Bahkan Mesir pun ingin mengimpor kopi yang berasal dari NTB. Bahkan hasil produk kopi NTB akan segera diekspor ke negeri piramida.

“Kita punya kopi the best,” ujar Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj Putu Selly Andayani di Mataram, Selasa (15/08).

Ia mengatakan, Mesir memang minta kopi NTB.  Pihaknya tengah mengurus salah satu kopi NTB, yakni kopi Sembalun untuk diekspor ke Mesir. Kopi ini dinilai sudah memiliki kemasan yang layak dan bagus untuk standar ekspor. Selly mengaku Mesir memiliki pasaran kopi yang bagus dan luas.

Sebab itu Mesir menjadi salah satu tujuan ekspor kopi-kopi NTB. “Kopi NTB tak harus dinikmati oleh orang NTB saja,” tegasnya

Ke depannya Selly ingin kopi NTB bisa melanglang buana di internasional. Terlebih lagi di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini. Era ini memberi ruang yang luas untuk memasarkan hasil produk kopi NTB di dunia.

Ia juga mengatakan, selain ekspor kopi, ia juga akan mengusahakan untuk ekspor beberapa pengolahan pangan lainnya. Disamping menyiapkan ekspor kopi ke luar negeri, pangsa pasar lokal juga tak kalah penting. Di era MEA tentu banyak kopi dari berbagai daerah maupun luar negeri yang masuk ke NTB.

“Ini yang terus kita promokan ke berbagai pengusaha lokal juga,” pungkasnya.

AYA




Bumdes Mengembangkan Perekonomian Masyarakat, Bukan Jadi Pesaingnya

Usaha Masyarakat perlu dipetakan dan tugas Bumdes membuka peluang usaha berdasarkan potensi yang ada di masyarakat

Pembinaan pengembangan ekonomi masyarakat di Gedung Bumdes Mekar Sari, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Loteng, Selasa (8/8) (Foto: Gilang)

LOTENG.lombokjournal.com — Bumdes “Mekar Dure” Desa Durian, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah, dapat Kunjungan pembinaan Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa Kabupaten, Nyimas Anita Akmayani, bersama Pendamping Desa Kecamatan, Ida Rohayani dan Moh. Nur di gedung Bumdes, Selasa (08/08).

Kunjungan itu memberi bimbingan sekaligus pembinaan pengembangan potensi.

Keberqadaan Bumdes Mekar Sari didorong kreatif dalam mencari peluang usaha agar dapat mengembangkan perekonomian masayarakat. Salah satunya dengan mulai membuat pemetaan potensi usaha yang sudah digeluti masyarakat.

Nyimas dalam pemaparannya menegaskan, agar pengelola Bumdes memahami prinsip dasar dari Bumdes. “Bumdes bertujuan meningkatkan perekonomian desa, bukan malah jadi pesaing usaha masyarakat,” tegasnya.

Bumdes “Mekar Duren” di Desa Durian memang tergolong berhasil. Mmeski masih terbilang baru, namun kinerjanya terbolang memuaskan. Saat ini Bumdes Mekar Sari sudah punya gedung sendiri, pengurus nya aktif, bahkan sudah mulai mengembangkan beberapa unit usaha.

“Intinya pengurus tinggal mengkreasikan semua usaha yang sudah ada di desa,” pesan Nyimas.

Ketua Bumdes ” Mekar Duren” Desa Durian Irsamdi, S. Hi mmengaku cukup mendapatakan pembinaan dan pengetahuan baru dengan kunjungan langsung seperti ini.

GILANG




Gerabah, Primadona Kerajinan Yang Makin Redup

Kerajinan gerabah dari Banyumulek yang sempat mengangkat pariwisata Lombok, kini harus memperbaiki kualitas bentuk dan coraknya

Baiq Eva Parangan, Kadis Perindustrian NTB (foto: AYA)

MATARAM.lombokjournal.com – Gerabah asal banyumulek, Lombok Barat, pernah menyedot minat pasar mancanegara. Kini, nasib kerajinan gerabah yang sebelumnya jadi primadona produk ekspor Provinsi NTB, kini biisa dibilang mati suri.

Sebelumnya pangsa pasar ekspor gerabah sebagian besar ke negara Eropa, Asia, bahkan Timur Tengah, sekarang meredup. Meredupnnya ekspor gerabah itu diunbgkapkan Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NYB, Baiq eva Parangan di Mataram, Senin (7/8).

Dinas Perindustrian Provinsi NTB kini mulai fokus membangkitkan kembali gairah industri kerajinan gerabah, dengan melakukan inovasi dari bentuk serta coraknya, khususnya sentra gerabah di Desa Banyumulek, Lombok Barat.

Tahun 2017, pihak Dinas Perindustrian Provinsi NTB akan memberikan perlakuan khusus bagi perajin gerabah Banyumulek.

“Mengajarkan kepada pembuat gerabah agar melakukan inovasi baik dari segi bentuk serta coraknya,” ungkapnya. Pengrajin gerabah di tahun 2017 akan diberikan pembinaan dan pendampingan khusus.

Eva mengatakan, salah satu upaya menghidupkan kembali kejayaan kerajinan gerabah Banyumulek yang mati suri adalah melalui program pendampingan, untuk peningkatan mutu dan kualitas dari produk kerajinan gerabah.

Pendampingan kepada para perajin gerabah di Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat tersebut akan dilakukan para profesional di bidangnya.

Pendampingan bisa berupa peningkatan mutu produk, kreatifitas dan inovasi. Misalnya, perajin dibina agar mampu menghadirkan produk-produk gerabah yang memiliki nilai arsitektur dan ciri khas kelokalan.

Selain itu, serta produk yang dihasilkan tersebut tidak bertentangan dengan aturan dari negara tujuan ekspor. Seperti penggunaan bahan baku yang dilarang negara tujuan ekspor, termasuk kualitas dari produk gerabah itu sendiri.

Fokus pendampingan produk gerabah dilakukan di  Banyumulek tahun 2017, karena memang disitu penghasil gerabah terbesar di NTB.

“Harapannya, kerajinan gerabah ini bisa lagi eksis di pasar ekspor NTB seperti tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya.

AYA




Cuaca Buruk, Buruk Pula Rejeki Nelayan

Musim paceklik ikan sedang melanda kehidupan nelayan

Sopiyan, tak tau harus mengeluh kemana

MATARAM.lombokjournal.com — Hasil tangkapan ikan nelayan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat anjlok akibat cuaca buruk di perairan laut Lombok akhir-akhir ini.

Salah seorang nelayan Sopiyan di Kampung nelayan Pondok Prasi, Kelurahan Ampenan, Kota Mataram, melaut sejak selesai shalat Subuh hingga tengah hari, hanya berhasil menjaring beberapa biji ikan kecil

“Saya melaut sejak selesai shalat Subuh hingga pukul 11.00 WITA, tetapi hanya beberapa ikan kecil yang saya peroleh,” kata Sopiyan, Senin ( 7/8 ).

Kalau boleh menyampaikan keluhan, siituasi paceklik itu sudah dialami umumnya nelayan di Ampenan dalam beberapa bulan terakhir.

Sopiyan  mengaku mencari ikan hingga enam mil dari bibir pantai. Namun hasil penjualan ikan tangkapannya paling tinggi Rp50 ribu. Kondisi serupa juga dialami oleh sebagian besar nelayan lainnya.

Sebagian besar nelayan sudah jarang mendapatkan ikan tongkol dalam jumlah banyak, tidak seperti beberapa tahun sebelumnya. Apalagi nelayan itu hanya menggunakan alat tradisional.

Sopiyan mengaku tidak memiliki pekerjaan alternatif yang bisa menopang kebutuhan hidup  keluarga di saat musim paceklik ikan seperti sekarang. Mengandalkan program bantuan pemerintah juga tidak ada.

“Ya mau gimana lagi, bantuan dari pemerintah juga gak pernah dapat, jadi selama tidak melaut kita perbaiki jaring saja”

Sopiyan lahir darikeuarga yang turun menurun menggeluti pekerjaan menjadi nelayan. Ia mengaku tetap melaut kendati musim angin kencang. “Dapat sedikit atau banyak ikan tergantung nasib,” ujarnya.

AYA

 




Setelah Keripik Tempe dan Peyek, Komariah Menjual Keripik Ares dan Keripik Pare

Kreasi Komariah membuat keripik, sebulan mengantongi jutaan rupiah

MATARAM.lombokjournal.com – Ini dia inovasi membuat camilan keripik, yang bisa ditemui di salah satu stan UMKM Lombok Barat (Lobar) pada EXPO NTB 2017 di Islamic Center NTB, Jumat (4/8).

Inovasi tersebut berupa keripik Ares (pelepah pisang) serta keripik dari sayuran Pare, yang produk asli dari Gerung, Lombok barat, yang  belum ditemukan di daerah lain di NTB.  Komariah selaku pemilik  UKM dan yang mengkreasi keripik ares dan pare itu menuturkan inovasinya membuat  camilan tersebut.

Komariah sudah memulai usaha camilan itu sejak sembilan tahun lalu, semula membuat keripik tempe dan peyek, bertempat di jembatan gantung di Gerung, Lombok barat.

Pelepah pisang muda atau ares sangat populer bagi masyarakat Sasak di Lombok. Biasanya Ares disuguhkan sebagai lauk saat masyarakat Sasak begawe atau ada acara hajatan besar saja. Namun saat Komariah melihat pohon pisang di rumahnya, ia terinspirasi membuat keripik Ares.

“Banyak Pohon pisang di rumah, sayang kalau tidak di manfaatkan. Makanya timbul ide, terus saya mencobanya, jadilah keripik ini,” tuturnya.

Jangan dikira keripik ares itu hanya jadi jajanan di kampung. Poduk buatan Komariah sekarang sudah bisa masuk di retail moderen, seperti alfamart dan Idomaret, serta bisa didapat di pusat  Ole-ole jajanan khas lombok.

Sebenarnya permintaan produk keripik Komariah cukup banyak, tapi belum bisa memenuhi permintaan pasar.

“Sebab produk kami masih dikerjakan manual. Masih iris bahan dengan tangan belum bisa menghasilkan produk dalamjumlah banyak. Kami masih minta bantuan ke Dinas Perindstrian  Lobar, agar diberikan mesin pemotong bahan,” terangnya.

Dalam sehari Komariah bisa membuat 200 bungkus keripik ares dari sepuluh buah pohon Pisang. Untuk Keripik pare, biasanya membutuhkan bahan 30-40 kg dan per kilonya menghasilkan lima bungkus Keripik.

Bisnis pembuatan keripik Ares dan Pare ini tidak menggunakan bahan pengawet. Itu sebabnya hanya bisa bertahan samapai dua setenga bulan saja. “Ya cuman bisa bertahan sampai dua bulan, setengah saja karena kita masih alami ya gak pake bahan pengawet,” ungkapnya.

Dari hasil keripik buatannya, Komariah bisa mengantongi penghasilan delapan juta rupiah per bulan.

AYA

 

??foto komariah pemilik ukm dan pencetus keripik pare dan ares




Bertani Hidroponik, Solusi Sempitnya Lahan Pertanian Kota

Sempitnya lahan pertanian di perkotaan, membutuhkan inovasi kreatif agar sektor pertanian mensejahterakan petani

Wakil Walikota Mataram, H Mohan Roliskana bersama istri, didampingi Kepala Dinas Pertanian Mataram, foto bersama di depan grren house

Mataram.lombokjournal.com – Wakil Walikota Mataram, H Mohan Roliskana, mengngatkan tantangan yang dihadapi Kota Mataram, yang lahan pertaniannya hanya tersisa 33 persen. Ini berdampak signifikan pada kesejahteraan sekitar 4900 petani di Mataram.

“Program sitalas (sistem bertani lahan sempit, red) dengan hidroponik sudah berhasil.  Mudah-mudahan bisa direplikasi di tempat lain,” kata Mohan saat melaunnching Program Sistem  Bertani Lahan Sempit (Sitalas) dengan hidroponik di Lingkungan Taman, Karang Baru (depan Kantor BPK) di Mataram, Kamis (3/8) siang.

Acara launching itu berlangsung di tanah pekarangan yang cukup luas. Di areal lain pekarangan itu berdiri green house hidroponik di atas lahan sekitar 195 m2 (2 are) dengan jumlah 9400 (lubang) tanaman sayur, yang siap memanen berbagai macam sayuran. Bahkan bibit padi yang ditanam sudah mulai tumbuh subur.

Meski sekitar dua bulan berbagai sayuran itu baru ditanam dengan media air dalam lubang-labang paralon, tapi  sudah bisa melayani pengumpul yang biasa memasok ke hotel. “Hasil dari yang 2 are (19 m2) ini setara dengan lahan seluas 50 are (5000 m2),” tutur H Masbuhin yang dikenal sebagai penggerak petani kota sistem hidroponik.

Kadis Pertanian Kota Mataram, H Mutawali, mengawali acara itu menegaskan, dengan program Sitalas beryujuan menguatkan kembali kontribusi sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi.

Dikatakan, tahun 2031 diprediksi lahan pertanian di Mataram hanya tersisa sekitar 350 ha. “Ini tidak boleh hanya dpandang dengan kesediah. Tapi butuh kepedulian,” kata Mutawali.

Dengan program siitalas dengan hidroponik, ingin dijawab masalah yang timbul terkait menyempitnya lahan pertanian.   Masalah seperti petani buruh tani yang menganggur, kekuragan kebuuhan sayur mayur, menghilangnya lahan kangkung, kelangkaan cabe, bisa mendapatkan solusinya.

“Jangan menangis karena kehilangan lahan. Mari gunakan yang masih ada,” ajak Mutawali.

Menurutnya, bertani dengan hidroponik punya kelebihan. Disamping tak membutuhkan lahan luas, masa panen relatif singkat, selain itu bisa memanfaatkan  pekarangan,lorong-lorong, bahkan bisa dilakukan di halaman kantor atau sekolah.

Peluncuran program Sitalas dengan hidroponik itu dihadiri Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTB, Priyono, GM Lombok Raya, Gusti Lanang Patra, Luran se Kota Mataram,  pengusaha yang bergerak di pertanian dan kelompok tani.

Pada akhir acara, para undangan meninjau green house hidroponik. Dalam kesempatan itu, langsung terjadi traksaksi pengelola green house, H Masbuhin, dengan beberapa pengusaha pertanian maupun kalangan perhotelan.

Rr

 

 

 

 

 




NTB Expo di Islamic Center, Menguatkan Branding Destinasi Wisata Halal

NTB Expo mengenalkan potensi wisata religi

H. Chairul Mahsul (Foto: AYA)

MATARAM.lombokjournal.com – Pemilihan lokasi NTB Expo 2017 di Komplek Islamic Center NTB merupakan upaya untuk makin mengenalkan potensi wisata religi kepada para buyers dan sellers yang datang dari seluruh Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Koperasi dan UMKM NTB Chairul Mahsul mengatakan, NTB Expo 2017 merupakan NTB Expo yang ke-15 sejak pertamakali digelar pada 2003.

“Islamic Center NTB dipilih sebagai ikhtiar kita mempromosikan branding NTB sebagai destinasi utama wisata halal Indonesia,” ujar Chairil di pelataran Kompleks Islamic Center NTB, Mataram, Kamis (3/8).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar NTB Expo 2017 di pelataran Kompleks Islamic Center NTB yang berlangsung sejak Kamis (3/8) hingga Ahad (6/8).

Sekitar 140 stand dari UMKM di seluruh NTB dan juga luar NTB ikut berpartisipasi dalam NTB Expo 2017, termasuk UMKM binaan BI, Bank NTB, dan BUMN-BUMN yang ada di NTB.

Chairul belum menyebutkan target transaksi yang dihasilkan selama ajang ini berlangsung. Menurutnya, NTB Expo 2017 merupakan persiapan ajang NTB Expo 2018 tahun depan yang digadang-gadang akan menjadi gelaran NTB Expo terbesar.

“InsyaAllah tahun depan akan jadi NTB Expo terbesar karena tahun depan merupakan tahun terakhir Gubernur dan Wakil Gubernur NTB,” jelas Chairul.

AYA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




NTB Expo, Ihtiar Mempromosikan Produk UMKM

Penyelenggaraan NTB Expo memacu kreatifitas  UMKM

MATARAM.lombokjournal.com — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Muhammad Amin mengatakan, penyelenggaraan NTB Expo merupakan salah satu ikhtiar memacu kreatifitas dan mempromosikan hasil kerajinan NTB.

“Pameran ini menampilkan produk unggulan dari NTB yang bisa tingkatkan daya saing daerah,” katanya saat dimulainya NTB Expo di Islamic Center NTB di Mataram, Kamis (3/8)

Menurutnya, kontribusi sektor perdagangan termasuk produk-produk dari UMKM di NTB terhadap pertumbuhan ekonomi masih relatif kecil. Hanya berkisar di angka 21 persen.

Jumlah sebesar itu tertinggal jauh dari kontribusi sektor pertanian yang masih menjadi sektor andalan NTB dengan sumbangsih sebesar 46 persen.

Wagub memaparkan beragam kendala yang masih membelit para pelaku UMKM di NTB, sehingga kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi belum berjalan maksimal.

“Kendala utama memang masih pada bagian produksi dan pendanaan,” katanya.

Dikatakannya, sejumlah perbankan sudah berinisiasi memberikan akses permodalan pembiayaan bagi para pelaku UMKM di NTB. Namun tidak semuanya terpenuhi lantaran adanya proses seleksi cukup ketat.

Keterbatasan pembiayaan, menurutnya, kerap menjadi pemicu bagi para UMKM di NTB secara mandiri mengembangkan usahanya hingga mampu merambah pasar internasional.

Pemprov NTB berupaya mencari solusi terkait persoalan permodalan para pelaku UMKM mengingat peran pentingnya sektor ini dalam memajukan sektor pariwisata.

“Salah satunya solusi dengan menggelar NTB Expo 2017,” ungkap wagub.

BACA : NTB Expo di Islamic Center, Menguatkan Branding Destinasi Wisata Halal

AYA

 

 




Organda Ikut Tentukan Daya Saing

Daya saing ditentukan kuatnya sistem logistik, serta peran transportasi darat yang mantap

MATARAM.lombokjournal.com — Organisasi Angkutan Darat (Organda) memiliki peranan penting meningkatkan daya saing bangsa. Hal itu ditegaskan Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi saat Musyawarah Kerja Nasional II tahun 2017 Organda periode 2015-2020, di Hotel Lombok Raya Mataram, Rabu sore (02/08).  Munas Organda berlangsung tanggal 2-4 Agustus 2017

Dikatakannya, Presiden Jokowi memprogramkan peningkatan arus logistik nasional untuk meningkatkan daya saing nasional.

Pergerakan logistik dari simpul barang yang satu ke simpul yang lain sangat ditentukan pergerakan angkutan yang ada. “Salah satunya adalah transportasi darat,” ujar Gubernur yang akrab disapa TGB itu.

Angkutan darat berkontribusi naik turunnya inflasi di daerah. Ketika terjadi kenaikan inflasi, salah satunya ditentukan pergerakan angkutan barang kebutuhan masyarakat yang terhambat dari daerah yang satu ke daerah yang lain.

Ditegaskannya, kalau ingin meningkatkan daya saing bangsa, maka sistem logistik nasional harus kuat serta transportasi darat kita harus semakin mantap. “Organda berperan sangat besar untuk itu,” jelasnya.

Gubernur mengapresiasi peran organda yang turut andil membangun daerah. Misalnya, indrustri pariwisata yang saat ini tumbuh dengan baik, merupakan salah satu cermin kontribusi positif organda dalam memberikan pelayan terbaik.

Menurut TGB, meskipun Indonesia ini merupakan negara kepulauan, namun hampir seluruh aktivitis manusia dihabiskan di darat. Sehingga sebagian besar kepentingan manusia, baik secara individu maupun kolektif  membutuhkan mobilisasi melalui transportasi darat, tuturnya

TGB mengajak organda mendorong pembangunan daerah melalui peningkatan kinerja layanan angkutan darat yang semakin baik dan menjangkau seluruh lapisan Masyarakat.

Meningkatkan Pelayanan

Dewan Pertimbangan DPP organda, Suroyo Ali Muso mengungkapkan, organda perlu meningkatkan peranannya dalam urusan kebijakan transportasi baik, untuk angkutan barang maupun angkutan penumpang.

Jajaran pengurus dimmintanya meningkatkan hubungan baik dengan anggota, agar organisasi tersebut dicintai dan memiliki kontribusi bagi semua pihak.

“Hal yang lebih utama adalah meningkatkan SDM, baik itu pengemudi, manajemen maupun teknisi,” ujarnya sambil menambahkan agar jajarannya terus memperbaiki layanan.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP Organda, Adrianto djokosoetono, ST. M.BA melaporkan, kegiatan Mukernas merupakan ruang koordinasi dan evaluasi tentang program yang telah dilaksanakan.

Menurutnya, ada hal-hal yang perlu dibenahi, terutama dalam hal pelayanan. Saat ini persaingan di bidang transportasi makin meningkat, apalagi munculnya transportasi modern yang berbasis online.

Mukernas Organda mengusung tema “Organda mendorong peningkatan kualitas angkutan jalan raya nasional yang legal dan bermartabat dengan penggunaan teknologi informasi untuk meningkatkan jasa pelayanan transportasi angkutan umum”.

Kegiatan itu dihadiri seluruh pengurus DPD Organda se-Indonesia. Hadir juga Kakorlantas Polri, Irjen Royke Lumowa, MM., Dirjen Angkutan Darat, Kementerian Perhubungan RI, Hendro Surahmat dan anggota Forkopimda Provinsi NTB.

AYA




PLTGU Lombok Peaker Akan Tambah Listrik NTB Sebesar 150 MW

Sistem kelistrikan NTB terus meningkat, apalagi adanya rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Lombok Peaker yang memproduksi listrik 150 MW

MATARAM.lombokjournal.com – Peningkatan itu menjamin kebutuhan listrik masyarakat terutama untuk menggerakkan simpul-simpul ekonomi masyarakat.

“Pemerintah Provinsi NTB terus mendorong pembangunan pembangkit tenaga listrik di NTB,” kata Wagub NTB, H Muhammad Amin,Sh. MSi saat membuka Rapat Koordinasi Rencana Pembangunan Sistem Kelistrikan Di Provinsi NTB di Hotel Golden Palace, Selasa (1/8).

Sistem kelistrikan di NTB terus meningkat, berkat diresmikannya mobile power plant 2×25 MW oleh Presiden RI Joko Widodo baru-baru ini.

Apalagi dengan rencana pembangunan PLTGULombok Peaker yang mampu memproduksi energi listrik sebesar 150 MW, untuk mendukung proyek kelistrikan sebesar 500 MW di seluruh wilayah NTB.

Selain itu,pembangunan PLTGU merupakan bagian proyek kelistrikan nasional sebesar 35.000 MW.

Wagub berharap, itu penambahan daya listrik bisa berkontribusi mendorong percepatan pembangunan sektor usaha dan ekonomi produktif masyarakat NTB. “Listrik merupakan  infrastruktur dasar yang harus disediakan, mengingat semua usaha memerlukan dukungan listrik,” kata wagub.

Rencana pembangunan PLTGU Lombok Peaker sesuai PP Nomor 13 Tahun 2017 yang mengatur kegiatan pemanfaatan tata ruang yang bernilai strategis nasional tapi belum termuat dalam RTRW Provinsi atau Kabupaten/Kota.

Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menunda pembangunan proyek PLTGU Peaker ini. “Saya harap pembangunan PLTGU ini rampung sesuai yang ditargetkan pada tahun 2018 mendatang,” ujar Wagub Amin.

Sebelumnya, GM Unit Induk Pembangunan (UIP) Nusra, Djarot Hutabri melaporkan perubahan di organisasi Induk PLN. Kini PLN Nusra bergabung dengan Jawa Timur dan Bali, sebelumnya bergabung dengan regional Sulawesi.

“Perubahan regional ini menunjukkan Nusra mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat dan diharapkan dapat mengurangi pemadaman listrik di kawasan Nusra,” ujarnya.

Djarot mengatakan, rakor memiliki dua tujuan, pertama membangun sinkronisasi antara kebutuhan listrik konsumen dengan kemampuan PLN untuk menyediakan kelistrikan. Kedua, adanya tindak lanjut yang lebih detail terkait tentang pembangunan kelistrikan.

Dalam waktu 10 tahun, PLN akan menambah kapasitas listrik sekitar 700 MW di wilayah Nusra, termasuk di Pulau Sumbawa, tambahnya.

AYA