Koperasi Masjid Bantu Tuntaskan Target Koperasi Syariah NTB

Koperasi masjid tersebut menjadi penggambaran cara masyarakat memakmurkan masjid

MATARAM.lombokjournal.com — Koperasi syariah di NTB terus berkembang.  Di tahun 2018, target koperasi syariah di NTB tersisa tinggal 191 koperasi.

Kehadiran koperasi masjid yang dikelola Dewan Mesjid Indonesia (DMI) NTB memiliki pengaruh pada target tersebut. Saat ini DMI menyumbang 100 koperasi syariah untuk NTB.

“Kita punya target 500 koperasi syariah dan DMI punya target 100 koperasi masjid. Kekurangan target kita sekarang menjadi 191 koperasi syariah,” jelas Plh Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB H Mohamad Imran, Selasa (03/04).

Koperasi syariah berbasis masjid berbeda dengan koperasi syariah lainnya. Koperasi masjid memiliki basis anggota hanya jamaah yang intens datang ke masjid tersebut.

Ini memiliki potensi yang cukup besar, mengingat jamaah di masjid cukup besar. Sementara koperasi syariah anggotanya bisa berasal dari mana saja.

“Sistemnya nanti bisa saja berbentuk KSU agar mereka bisa melakukan simpan pinjam,” sambungnya.

Imran mengaku sangat mengapresiasi langkah terbentuknya koperasi masjid tersebut. Sebab ini menjadi penggambaran cara masyarakat memakmurkan masjid.

Selain itu, masjid juga memakmurkan jamaahnya sendiri. Hal seperti ini sudah diterapkan di beberapa daerah lain di luar NTB. Koperasi masjid tersebut justru sukses memberikan bantuan kepada anggota dan masyarakatnya.

“Misalnya biaya berobat, biaya sekolah, dan lainnya,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, koperasi masjid memiliki peluang perkembangan yang cukup besar. Hal ini melihat banyaknya masjid di NTB, khususnya Lombok. Jumlah masjid di NTB mencapai 4.000 lebih. Sebab itu, perlahan tapi pasti pihaknya mendorong perkembangan koperasi masjid.

“Kita harus rubah mindset masyarakat dulu,” katanya.

Mindset sebagian masyarakat terkait koperasi masjid masih terbilang tabu. Terutama bagi masyarakat yang ada di pedesaan.

Banyak dari mereka mengaggap masjid hanya untuk beribadah dan bukan tempat berbicara ekonomi. Ini yang masih menjadi kendala perkembangan koperasi masjid di NTB.

“Beda kalau dengan di kota yang pengetahuannya sudah lebih maju,”  pungkasnya.

Imran mengatakan, masyarakat perlu lebih intens diberikan sosialisasi. Sebab itu DMI NTB sering turun ke masjid untuk melakukan sosialisasi langsung. Ia juga menambahkan, pihaknya bekerjasama dengan Kopsah perwakilan pusat untuk mencapai target 500 koperasi syariah tersebut.

AYA




Ekspor Tanpa Surat Keterangan Asal, Tidak Bisa Lolos

Ekspor tanpa Surat Keterangan Asal (SKA)  membuat komoditas yang seharusnya berasal dari NTB, justru tidak tercatat di daerah tujuan

MATARAM-lombokjournal.com — Pemprov NTB melalui Dinas Perdagangan melakukan pencegatan ekspor tanpa Surat Keterangan Asal (SKA) melalui pelabuhan Bima.

Hal ini menjadi langkah tegas pemerintah, untuk mempertahankan komoditas asli NTB, agar tidak diklaim daerah lain. Sebab pengiriman keluar NTB tanpa SKA dinilai sangat merugikan NTB.

“Kita sangat dirugikan,” ujar Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj Putu Selly Andayani, di Mataram, Selasa  (03/04).

Ia menuturkan, ekspor jagung tanpa SKA memang tidak merugikan secara material. Sebab harga jual jagung telah ditentukan.

Namun hal tersebut tetap saja merugikan NTB. Ekspor tanpa SKA membuat komoditas yang seharusnya berasal dari NTB, justru tidak tercatat di daerah tujuan.

“Kita teriak-teriak ekspor, ternyata sampai tujuan tidak ada nama NTB,” tegasnya.

Sebab itu ia meminta pihak bea cukai maupun Dinas Perhubungan untuk memberhentikan ekspor sebelum pengiriman. Eksportir jagung harus memiliki SKA terlebih dahulu agar bisa melakukan ekspor.

Mengurus SKA menurut Selly tidaklah sulit. Syaratnya hanya berupa PEB (pemeberitahuan ekspor barang) dari bea cukai, invoice dan packing list.

“Jadi tidak sulit untuk membuat SKA itu. Tapi mereka tidak mau menggunakan SKA itu,” sambungnya.

Seperti jangung 11.500 ton yang akan diekspor NTB ke Filipina. Para eksportir mengatakan akan datang mengurus SKA pada Senin (kemarin, red). Selly mengaku telah berkoordinasi dengan pihak bea cukai untuk meloloskannya ketika SKA sudah ada.

Sama halnya dengan pengusaha di Surabaya. Pihaknya sudah bersurat dan menghubungi via telpon agar pengiriman harus menggunakan SKA NTB.

“Karena Permendagnya sudah jelas, tidak boleh dari daerah lain tapi harus daerah asal,” jelasnya.

Ia melanjutkan, pengiriman selanjutnya pun harus menggunakan SKA. Pihaknya pun siap memberikan layanan tersebut, bahkan mempermudahnya. Selain itu mereka sudah memiliki PEB dari bea cukai sehingga hal tersebut tidak sulit.

Selly mengungkapkan, alasan pengusaha Surabaya tidak membuat SKA dikarenakan mereka langsung ke Bima dan tidak ke Mataram.

Mereka kerepotan jika harus kembali lagi ke Mataram untuk mengurus hal tersebut. Sebab itu, Selly mengatakan akan mengirim staf untuk menindaklanjutinya.

“Sebab NTB dirugikan dengan posisi seperti ini, di negara tujuannya bukan dari NTB nantinya,” pungkasnya.

Ia menambahkan, pemberlakuan SKA juga untuk membuat neraca perdagangan NTB semakin bagus. Sebab bagusnya neraca perdagangan jika barang tersebut berasal dari asalnya. Sebab itu, pihaknya berkoordinasi dengan bea cukai dan Dinas Perhubungan.

“Nanti di pelabuhan barang tidak bisa lolos kalau tidak punya SKA,” pugkasnya,

AYA




Ekspor Tanpa Surat Keterangan Asal, Tidak Bisa Lolos

Ekspor tanpa Surat Keterangan Asal (SKA)  membuat komoditas yang seharusnya berasal dari NTB, justru tidak tercatat di daerah tujuan

MATARAM-lombokjournal.com — Pemprov NTB melalui Dinas Perdagangan melakukan pencegatan ekspor tanpa Surat Keterangan Asal (SKA) melalui pelabuhan Bima.

Hal ini menjadi langkah tegas pemerintah, untuk mempertahankan komoditas asli NTB, agar tidak diklaim daerah lain. Sebab pengiriman keluar NTB tanpa SKA dinilai sangat merugikan NTB.

“Kita sangat dirugikan,” ujar Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj Putu Selly Andayani, di Mataram, Selasa  (03/04).

Ia menuturkan, ekspor jagung tanpa SKA memang tidak merugikan secara material. Sebab harga jual jagung telah ditentukan.

Namun hal tersebut tetap saja merugikan NTB. Ekspor tanpa SKA membuat komoditas yang seharusnya berasal dari NTB, justru tidak tercatat di daerah tujuan.

“Kita teriak-teriak ekspor, ternyata sampai tujuan tidak ada nama NTB,” tegasnya.

Sebab itu ia meminta pihak bea cukai maupun Dinas Perhubungan untuk memberhentikan ekspor sebelum pengiriman. Eksportir jagung harus memiliki SKA terlebih dahulu agar bisa melakukan ekspor.

Mengurus SKA menurut Selly tidaklah sulit. Syaratnya hanya berupa PEB (pemeberitahuan ekspor barang) dari bea cukai, invoice dan packing list.

“Jadi tidak sulit untuk membuat SKA itu. Tapi mereka tidak mau menggunakan SKA itu,” sambungnya.

Seperti jangung 11.500 ton yang akan diekspor NTB ke Filipina. Para eksportir mengatakan akan datang mengurus SKA pada Senin (kemarin, red). Selly mengaku telah berkoordinasi dengan pihak bea cukai untuk meloloskannya ketika SKA sudah ada.

Sama halnya dengan pengusaha di Surabaya. Pihaknya sudah bersurat dan menghubungi via telpon agar pengiriman harus menggunakan SKA NTB.

“Karena Permendagnya sudah jelas, tidak boleh dari daerah lain tapi harus daerah asal,” jelasnya.

Ia melanjutkan, pengiriman selanjutnya pun harus menggunakan SKA. Pihaknya pun siap memberikan layanan tersebut, bahkan mempermudahnya. Selain itu mereka sudah memiliki PEB dari bea cukai sehingga hal tersebut tidak sulit.

Selly mengungkapkan, alasan pengusaha Surabaya tidak membuat SKA dikarenakan mereka langsung ke Bima dan tidak ke Mataram.

Mereka kerepotan jika harus kembali lagi ke Mataram untuk mengurus hal tersebut. Sebab itu, Selly mengatakan akan mengirim staf untuk menindaklanjutinya.

“Sebab NTB dirugikan dengan posisi seperti ini, di negara tujuannya bukan dari NTB nantinya,” pungkasnya.

Ia menambahkan, pemberlakuan SKA juga untuk membuat neraca perdagangan NTB semakin bagus. Sebab bagusnya neraca perdagangan jika barang tersebut berasal dari asalnya. Sebab itu, pihaknya berkoordinasi dengan bea cukai dan Dinas Perhubungan.

“Nanti di pelabuhan barang tidak bisa lolos kalau tidak punya SKA,” pugkasnya,

AYA




Bulan Maret, Infllasi NTB Di Bawah Angka Inflasi Nasional

Kota Mataram mengalami deflasi sebesar 0,15 persen dan Kota Bima mengalami deflasi sebesar 0,57 persen

MATARAM..lombokjournal.com — Bulan Maret 2018, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami deflasi sebesar 0,24 persen, atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 131,05 pada bulan Februari 2018 menjadi 130,73 pada bulan Maret 2018.

Angka inflasi ini berada di bawah angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,20 persen.

Badan Pusat Statistik ( BPS ) NTB merilis. deflasi Kota Mataram dan Kota Bima.

“Untuk wilayah Nusa Tenggara Barat,  Kota Mataram mengalami deflasi sebesar 0,15 persen dan Kota Bima mengalami deflasi sebesar 0,57 persen,” ujar Kepala Statistik NTB Endang Triwahyuningsih , Senin (2/4.) di kantor BPS NTB.

Endang mrnuturkan, deflasi Nusa Tenggara Barat bulan Maret 2018 sebesar 0,24 persen terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan dengan deflasi pada Kelompok Bahan Makanan dan Kelompok Transport, Komunikasi & Jasa Keuangan masing-masing sebesar 1,62 persen dan 0,06 persen.

Sementara itu, inflasi terjadi pada Kelompok Kesehatan sebesar 0,92 persen; Kelompok Sandang sebesar 0,33 persen; Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan bakar sebesar 0,26 persen; Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau sebesar 0,12 persen dan Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olah raga sebesar 0,02 persen.

Laju inflasi Nusa Tenggara Barat tahun kalender Maret 2018 sebesar 0,65 persen lebih rendah dibandingkan inflasi tahun kalender Maret 2017 sebesar 1,06 persen.

“Sedangkan laju inflasi “tahun ke tahun” Maret 2018 sebesar 3,30 persen lebih rendah dibandingkan dengan laju inflasi “tahun ke tahun” di bulan Maret 2017 sebesar 4,33 persen,” pungkas Endang.

AYA




Tingkat Penghunian Hotel Bintang Bulan Februari Meningkat, Hotel Non Bintang Turun

Rata-rata lama menginap (RLM) tamu hotel bintang pada bulan Pebruari 2018 tercatat 2,11 hari

MATARAM.lombokjournal.com — Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada bulan Pebruari 2018, mengalami kenaikan dibandingkan bulan Januari 2018.

TPK bulan Januari 2018 sebesar 37,91 persen,  naik  2,69 poin pada bulan Pebruari 2018 dengan TPK  40,60 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) NTB merilis, jika dibandingkan dengan TPK bulan Pebruari  2017 sebesar 41,70 persen, berarti mengalami penurunan sebesar 1,10 poin.

Kepala BPS NTB Endang Triwahyuningsih, Senin (02/04) menuturkan, rata-rata lama menginap (RLM) tamu hotel bintang pada bulan Pebruari 2018 tercatat 2,11 hari.

Ada kenaikan 0,18 hari dibandingkan dengan RLM bulan Januari 2018 sebesar 1,93 hari. Jika dibandingkan dengan RLM bulan Pebruari  2017 yang hanya 1,79 berarti terjadi kenaikan 0,15 hari,” jelas Endang.

“Jumlah tamu yang menginap di hotel bintang pada bulan Pebruari 2018 tercatat 63.447 orang yang terdiri dari 47.230 orang tamu dalam negeri (74,44 persen) dan 16.217 orang tamu luar negeri (25,56 persen)” tegasnya

Non Bintang

TPK Hotel Non Bintang bulan Pebruari 2018 sebesar 25,64 persen, mengalami penurunan 2,77 poin dibanding bulan Januari 2018 dengan TPK sebesar 22,87 persen. Sedangkan Jika dibandingkan dengan bulan Pebruari 2017 mengalami kenaikan sebesar 5,38 poin dari 20,26 persen.

Rata-rata lama menginap (RLM) tamu di Hotel Non Bintang pada bulan Pebruari 2018 sebesar 1,91  hari, mengalami kenaikan sebesar 0,29 hari dibandingkan dengan RLM bulan Januari 2018.

”Dibandingkan dengan bulan Pebruari 2017 mengalami kenaikan sebesar 0,30 ” Endang menambahkan

AYA




NTB Akan Mengolah Rumput Laut Jadi Produk Kosmetik

Pemprov NTB sudah menyiapkan lahan 1 hektar, sedangkan untuk nilai investasi melalui Dinas Perikanan dan Kelautan menyiapkan 10 Milyar

Lalu Hamdi

MATARAM.lombokjournal.com — Setelah pengolahan rumput laut menjadi berbagai macam makanan, kini gilran Pemerintah Provinsi (pemprov) NTB melalui Dinas Perikanan dan Kelautan NTB akan mengolah Rumput laut menjadi bahan kecantikan atau kosmetik.

Kepala Dinas Perikanan dan kelautan NTB, Lalu Hamdi mengatakan, tindak lanjut dari pada pengolahan rumput laut menjadi produk kosmetik akan dimulai dengan melibatkan pihak ketiga.

“Yang sudah berjalan olahan rumput laut untuk produk bahan makanan itu sudah jalan. Dan sekarang kita akan kembangkan lagi untuk produk rumput laut menjadi kosmetik. Sekarang kita mulai,” ujarnya Senin (02/04)

Ia menuturkan, pengolahan akan dimulai dari merapikan dulu lingkungan dari pada lahan lokasi lahan, mencoba cek segala fasilitasnya. Selanjutnya akan nanti akan dipasang mesin pengolahnnya dan ditargetkan akan dipasang bulan April ini.

“Untuk mesin, Insya Alah dalam bulan ini akan dipasang, Dan itu nanti urusan pihak ketiga. Ini kita tidak melakukan sendiri ya,” tuturnya

Hamdi menyebutkan, untuk luas lahan pemprov NTB sudah menyipakan 1 hektar, sedangkan untuk nilai investasi yang pemprov NTB melalui dinas perikanan dan kelautan menyiapkan 10 Milyar.

“Kira-Kira investasinya 10 Miliyar,”Tegasnya.

Hamdi mengaku, potensi rumput laut dijadikan kosmetik di NTB Sangat besar, NTB punya produksi  Rumput laut basah tahun 2017 mencapai 1.036 .000 ribu ton. Namun ini bukan hanya untuk kosmetik saja.

“Jadi sudah ada beberapa kegiatan. beberapa  produk olahan yang sudah kita kembangkan seperti dodol rumput laut, rengginang, es rumput laut, dan sebagainya itu sudah jalan,”aku Hamdi

Yang jelas, pengolahan Rumput Laut tidak  bentuk bahan mentah, ini untuk meningkatkan nilai tambah produk yang sekarang  kebanyakan produk-produk asal NTB itu tidak diolah lebih lankut.

“Kita tingkatkan nilai tambahnya memproduksi bahan turunan produk bturynan daripada bahan dasar rumput laut,” jelasnya

Disinggung terkait nantinya kosmetik tersebut akan di jual kemana?   Hamdi menyebut tentu nanti Dinas Perikanan dan Kelautan akan mufakat terlebih dahulu untuk pasar lokal.

“Kita coba kerjasama dengan hotel, diperluas ke daerah-daerah lain,” jawabnya.

Untuk izin, Hamdi mengklaim sepenuhnya diatur oleh pihak ketiga, dan dinas kelautan dan perikanan hanya memfasilitasi untuk pembudidaya kemudian mendekatkan dengan lokasi wisata.

“Tidak hanya dengan prodak rumput lautnya kalau semuanya nanti banyak ya akan dikelola oleh pihak ketiganya,” pungkasnya.

AYA




Peringatan HUT Pegadaian Ke 117 Di Kanwil Denpasar

Pegadaian menggencarkan literasi bisnis pegadaian, sebagai solusi masih rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat terhadap bisnis pergadaian, selain itu juga memperkenalkan berbagai produk dan layanan Pegadaian yang makin beragam.

Upacara Peringata HUT Pegadaian ke 117 di Kanwil Denpasar

lombokjournal.com —

DENPASAR ; Ulang tahun PT Pegadaian ke 117, ditandai dengan gencarkan literasi keuangan di  berbagai  kota. Kegiatan itu dimaksudkan,  agar  pengetahuan  masyarakat  tentang  bisnis  pergadaian  dan produk  serta  layanan  Pegadaian  meningkat.

Hal itu disampaikan Sunarso,  Direktur  Utama  PT Pegadaian  (Persero) dalam sambutan tertulis yang dibacakan Pimpinan PT. Pegadaian (Persero) Kanwil VII Denpasar, Nuril Islamiah dalam upacara HUT Pegadaian ke 117 di Kanwil Denpasar, Senin (02/04).

PT Pegadaian (Persero) agresif melakukan ‘ literation fair’  di 19 kota di Tanah Air sebagai solusi di  tengah masih rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat terhadap bisnis pergadaian, dan memperkenalkan berbagai produk dan layanan Pegadaian yang semakin beragam.

Pimpinan PT. Pegadaian (Persero) Kanwil VII Denpasar, Nuril Islamia, memberikan keterangan

Menurut  data  riset  Otoritas  Jasa  Keuangan  (OJK)  RI,  literasi  atau  pengetahuan penduduk tentang pergadaian masih terbilang rendah. Baru sekitar 15 persen dari jumlah penduduk  indonesia  yang  tahu  pergadaian.  Sedangkan  yang  menjadi  nasabah Pegadaian baru 5 persen.

Pegadaian Literation Fair, jelas   Sunarso, semacam roadshow ke berbagai mal di 19 kota  di  Indonesia  yaitu  Banda  Aceh,  Medan,  Pekanbaru,  Padang,  Palembang, Balikpapan,  Banjarmasin,  Pontianak,  Bandung,  Jakarta,  Semarang,  Tegal, Yogyakarta,  Bekasi,  Surabaya,  Denpasar,  Makassar,  Manado,  dan  Jayapura.

Kegiatan literasi itu makin banyak masyarakat khususnya pelaku usaha mikro  dan UKM yang mengenal Pegadaian.

“Kami punya target tahun ini meningkatkan nasabah Pegadaian naik sekitar dua juta nasabah menjadi 11,5 juta nasabah  dan  Literation  Fair  menjadi  sangat  strategis  dan  efektif  utk memperkenalkan  bisnis  pergadaian  dan  juga  PT  Pegadaian  (Persero)  beserta produk dan layanannya, ” kata Sunarso.

Sunarso  menjelaskan, untuk mencapai 11,5 Juta nasabah pada tahun ini Pegadaian akan  melakukan  digitalisasi  business  process,  pengembangan  distribution  channel melalui Agen Pegadaian maupun produk berbasis digital dan tranformasi di bidang human capital termasuk corporate culture.

Pegadaian saat ini sudah terjun ke berbagai lini bisnis selain gadai yang belum banyak diketahui masyarakat. Seperti mikro finansial, pola pembiayaan syariah, investasi emas, tabungan emas, aneka jasa pembayaran iuran televisi berlangganan, telepon, air, pembelian pulsa hingga gadai emas untuk ibadah haji.

“Dengan  berinteraksi  yang  intens  dengan  para  pelaku  usaha  dan  masyarakat khususnya generasi milenial yang sering berkunjung ke mal, diharapkan  terjadi multiplier  effect  penyebaran  informasi  tentang  Pegadaian,” ujar Sunarso.

Ditegaskannya, banyak  sekali produk-produk pegadaian  yang  berbasis  kerakyatan,  tapi  belum  dikenal  luas  oleh publik.

Upacara HUT Pegadaian ke 117 di Kanwil Denpasar, Senin (02/04),juga ditandai berbgai kegiatan sosial, antara lain dengan kegiatan donor darah yang diikuti seluruh karyawan.

Re




Sambut Ultah ke 117, Pegadaian Luncurkan Gadai Tanpa Bunga

Pegadaian melakukan program CSR bertajuk Pegadaian Bersih-bersih, yang terdiri dari Program Bersih Administrasi, Bersih Hati, dan Bersih Lingkungan  sebagai bentuk kepedulian sosial Pegadaian kepada masyarakat

lombokjournal.com —

Jakarta;  Menyambut hari jadi ke-117, PT  Pegadaian (Persero) meluncurkan Pegadaian Digital Service (PDS), untuk semakin mempermudah layanan dan gadai tanpa bunga untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah dan membutuhkan dana kecil termasuk mahasiswa.

Direktur Utama PT Pegadaian (Persero), Sunarso mengatakan, pemberian pinjaman tanpa bunga ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi kalangan masyarakat tertentu.

Lebih mengenal produk di “Pegadaian Literation Fair” 2018

“Kami menyadari bahwa Pegadaian sebagai BUMN harus membangun social values dalam mendukung program inklusi keuangan. Kami berharap program ini dapat membantu meringankan kebutuhan masyarakat serta memperluas basis nasabah, khususnya mahasiswa, buruh pabrik, dan kalangan masyarakat lainnya,” jelasnya di sela-sela acara puncak HUT Pegadaian ke 117, Minggu (01/04), di Jakarta.

Dalam rangkaian  acara peringatan HUT ke-117, Pegadaian juga meluncurkan Pegadaian Digital Service (PDS), Agen Pegadaian, dan aksi sosial Zumba Peduli.

PDS dan Agen Pegadaian merupakan aplikasi yang dikembangkan oleh Pegadaian untuk memperluas jangkauan dan mempermudah pelayanan kepada nasabah.

Dengan aplikasi ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah nasabah yang dilayani dari 9,5 juta orang di tahun 2017 menjadi 11,5 juta nasabah di tahun 2018.

Perayaan HUT juga diwarnai dengan kegiatan Zumba Peduli, yaitu kegiatan senam Zumba yang diikuti dengan pengukuran kalori yang dikeluarkan oleh sekitar 6.000 peserta.

Hasil pengukuran tersebut akan dikonversikan dalam jumlah uang yang disumbangkan ke berbagai lembaga sosial di berbagai wilayah Indonesia.

Total dana yang disiapkan sebanyak Rp2,5 miliar yang disumbangkan di 59 lokasi. Termasuk untuk membantu sarana dan prasarana sekolah bagi anak-anak pemulung di Bantar Gebang senilai Rp500 juta.

“Kami juga melakukan program CSR bertajuk Pegadaian Bersih-bersih, yang terdiri dari Program Bersih Administrasi, Bersih Hati, dan Bersih Lingkungan  sebagai bentuk kepedulian sosial Pegadaian kepada masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu Direktur Produk, Haryanto Widodo menjelaskan, untuk meningkatkan kualitas layanan, Pegadaian terus melakukan digitalisasi proses bisnis, meningkatkan kenyamanan layanan di outlet, revitalisasi gudang & logistik, serta pelayanan prima kepada nasabah.

Pegadaian juga terus memperluas jaringan distribusi dengan membuka 6.000 Agen Pegadaian dan melakukan digitalisasi pelayanan secara online dengan layanan berbasis mobile app.

“Kami juga menambah produk baru, gadai tanpa bunga  yang besaran pinjaman maksimal Rp500.000 dengan tenor dua bulan dan ditargetkan tahun ini menjangkau satu juta nasabah,” kata Harianto.

Harianto menjelaskan, tahun ini perseroan menargetkan Omset sebesar Rp143,9 triliun. Pendapatan usaha ditargetkan Rp12,5 triliun, meningkat sekitar 19% persen dibandingkan pendapatan tahun lalu Rp10,5 triliun.

Sedangkan laba bersih pada 2018 sebesar Rp2,7 triliun, meningkat 7,14 persen dari capaian tahun lalu sebesar Rp2,5 triliun.

“Performa keuangan perusahaan tahun 2018 diperkirakan akan terus tumbuh positif seiring dengan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan sebesar 5,4 persen,” jelasnya.

Re/Ag




‘Literation Fair’ Pegadaian Digelar Di 19 Kota

Literasi  atau  pengetahuan penduduk tentang pergadaian masih terbilang rendah, baru sekitar 15% dari jumlah penduduk  Indonesia  yang  tahu  pergadaian.

lombokjournal.com —

JAKARTA;   PT Pegadaian (Persero) agresif melakukan  literation fair  di 19 kota di Tanah Air sebagai solusi di  tengah masih rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat terhadap bisnis pergadaian.

Selain itu, pegadaian juga memperkenalkan berbagai produk dan layanan Pegadaian yang makin beragam.

“Dalam rangka ulang tahun PT Pegadaian ke 117, kami gencarkan literasi keuangan di  berbagai  kota  agar  pengetahuan  masyarakat  tentang  bisnis  pergadaian  dan produk  serta  layanan  Pegadaian  meningkat,”  kata  Sunarso,  Direktur  Utama  PT Pegadaian  (Persero)  di  sela-sela  Pegadaian  Literation  Fair,  Sabtu  (31/3),  di  Mall Gandaria City, Jakarta Selatan.

Menurut  data  riset  Otoritas  Jasa  Keuangan  (OJK)  RI,  literasi  atau  pengetahuan penduduk tentang pergadaian masih terbilang rendah. Baru sekitar 15% dari jumlah penduduk  indonesia  yang  tahu  pergadaian. 

Sedangkan  yang  menjadi  nasabah Pegadaian baru 5 persen.

Pegadaian Literation Fair, jelas  Sunarso, semacam roadshow ke berbagai mal di 19 kota  di  Indonesia  yaitu  Banda  Aceh,  Medan,  Pekanbaru,  Padang,  Palembang, Balikpapan,  Banjarmasin,  Pontianak,  Bandung,  Jakarta,  Semarang,  Tegal, Yogyakarta,  Bekasi,  Surabaya,  Denpasar,  Makassar,  Manado,  dan  Jayapura.

Diharapkan dari hari ke hari semakin banyak masyarakat khususnya pelaku usaha mikro  dan UKM yang semakin mengenal Pegadaian.

“Kami punya target tahun ini meningkatkan nasabah Pegadaian naik sekitar dua juta nasabah menjadi 11,5 juta nasabah  dan  Literation  Fair  menjadi  sangat  strategis  dan  efektif  utk memperkenalkan  bisnis  pergadaian  dan  juga  PT  Pegadaian  (Persero)  beserta produk dan layanannya.”

Sunarso  menjelaskan untuk mencapai 11,5 Juta nasabah pada tahun ini Pegadaian akan  melakukan  digitalisasi  business  process,  pengembangan  distribution  channel melalui Agen Pegadaian maupun produk berbasis digital dan tranformasi di bidang human capital termasuk corporate culture.

Lebih lanjut  Sunarso  mengatakan, Pegadaian saat ini sudah terjun ke berbagai lini bisnis selain gadai yang belum banyak diketahui masyarakat. Seperti mikro finansial, pola pembiayaan syariah, investasi emas, tabungan emas, aneka jasa pembayaran iuran televisi berlangganan, telepon, air, pembelian pulsa hingga gadai emas untuk ibadah haji.

“Dengan  berinteraksi  yang  intens  dengan  para  pelaku  usaha  dan  masyarakat  khususnya generasi milenial yang sering berkunjung ke mal, kami harapkan  terjadi multiplier  effect  penyebaran  informasi  tentang  Pegadaian.  Karena  banyak  sekali produk-produk  pegadaian  yang  berbasis  kerakyatan,  tapi  belum  dikenal  luas  oleh publik,” tambah Sunarso.

Ag




Pengusaha Tembakau Asia Bahas Tantangan Global Industri Rokok di Senggigi

Menegaskan komitmen petani tembakau memajukan industri rokok, bertujuan membahas situasi pasar global tembakau saat ini

MATARAM.ombokjournal.com — Puluhan pengusaha tembakau dari berbagai negara ASEAN dan Asia lainnya berkumpul dalam ajang Asia Tobacco Forum (ATF) di Katamaran Resort Senggigi, Selasa (27/3).

Forum yang digelar Internasional Tobacco Growers Association (ITGA) ini membahas tantangan global dan dampaknya pada industri tembakau atau rokok.

Kegiatan forum ini juga untuk menegaskan komitmen petani tembakau dan memajukan industri. CEO ITGA Antonio Abrunhosa mengatakan, rokok dan tembakau banyak dicengkram peraturan dunia. Forum tersebut ditujukan untuk membahas situasi pasar global tembakau saat ini.

“Kaitannya dengan produksi tembakau,” ujarnya dalam sesi konferensi pers bersama media.

Ia menuturkan, dalam forum ini para anggota ITGA akan ditekankan untuk terus memiliki komitmen. Terutama untuk mematuhi penerapan pertanian yang baik di tengah ketatnya regulasi suatu negara dan dunia.

Hal tersebut dilakukan untuk mendukung pasar konsumen legal menggunakan produk komoditas tembakau atau rokok.

“Saat ini berjumlah 900 juta konsumen di seluruh dunia,” sambungnya.

Sementara itu, Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menyampaikan petani tembakau telah melakukan penerapan praktik pertanian yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDG. Ketua AMTI Budidoyo menyebutkan, setidaknya ada sejumlah target yang telah dipenuhi.

Dimulai dari  soal penghapusan kemiskinan. Tembakau telah terbukti sebagai komoditas yang sangat menguntungkan dan mendukung stabilitas ekonomi petani dan keluarganya. Kemudian soal penghapusan bahaya kelaparan.

Ia mengatakan, salah satu praktik umum dalam pertanian tembakau yakni petani juga menanam tanaman pangan.

“Hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjaga kondisi lahan pertanian melalui rotasi tanaman,” jelasnya.

Selanjutnya adalah soal derajat kesehatan dan kesejahteraan yang baik, pendidikan yang bermutu, kesetaraan gender, sarana air bersih dan sanitasi, serta sumber energi bersih dan terjangkau.

Sektor tembakau berkomitmen melaksanakan berbagai program berbeda untuk meningkatkan penerapan cara berkelanjutan serta memperbaiki derajat kehidupan petani dan kesejahteraan masyarakat.

“Saya percaya petani tembakau sangat yakin akan komitmen mereka,” katanya.

Ia melanjutkan, selain itu pertanian tembakau juga memiliki kesadaran yang baik akan memenuhi prinsip tanggung jawab sosial ekonomi. Berbagai upaya dilakukan setiap tahun untuk memperbaiki penerapan praktik pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Berdasarkan data AMTI, Indonesia merupakan produsen tembakau ke-5 terbesar di dunia.

Hal tersebut dengan jumlah 2 juta orang petani tembakau dan 1,5 juta petani cengkeh. Industri hasil tembakau menyerap 600.000 karyawan dan menggerakkan 2 juta ritel di seluruh Indonesia. Dengan demikian, 6,1 juta orang terlibat dalam seluruh rantai pasok tembakau.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian NTB Husnu Fauzi mengatakan, tembakau menjadi salah satu tanaman perkebunan andalan NTB.

Hal ini dikarenakan tembakau memiliki keunggulan komparatif. Selain itu juga menjadi sumber pendapatan masyarakat, terutama pada masa kemarau. Tenaga kerja yang diserap juga cukup banyak sehingga bisa meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya petani.

“Potensi tembakau virginia di NTB sangat bagus,” katanya.

Ia menuturkan, NTB menjadi penghasil tembakau virginia terbaik di Indonesia. Potensi lahan tanam tembakau virginia mencapai luas 42. 302, 85 hektare.

Sedangkan lahan tanam tembakau rakyat hanya sebesar 16.753,00 hektare. NTB juga menghasilkan tembakau rajangan baik rajangan hitam yangada di Ampenan dan rajangan kuning.

“Potensi lahan yang paling luas di Kabupaten Lombok Timur,” tandasnya.

Dalam kegiatan forum tersebut juga dilakukan deklarasi terkait isu yang dibahas dan komitmen semua petani tembakau di dunia.

AYA  (*)