Hunian Hotel Meningkat Pada Bulan Maret

TPK bulan Maret 2018 mencapai 51,32 persen, mengalami kenaikan sebesar 10,72 poin dibandingkan dengan TPK Hotel Bintang bulan Pebruari

MATARAM.lombokjournal.com — Badan Pusat statistik (BPS) NTB merilis Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada bulan Maret 2018 yang  mengalami kenaikan cukup tinggi dibandingkan bulan Pebruari 2018.

“TPK bulan Maret 2018 mencapai 51,32 persen, mengalami kenaikan sebesar 10,72 poin dibandingkan dengan TPK Hotel Bintang bulan Pebruari 2018, yaitu sebesar 40,60 persen. Jika dibandingkan dengan TPK bulan Maret  2017 sebesar 49,78 persen, berarti mengalami kenaikan sebesar 1,54 poin,” ujar kepala BPS NTB Endang Triwahyuningsih, Rabu (02/05) .

Ia menyatakan rata-rata lama menginap (RLM) tamu hotel bintang pada bulan Maret 2018 tercatat hanya 1,90 hari.

” Ini turun 0,21 hari dibandingkan dengan RLM bulan Pebruari 2018 sebesar 2,11 hari. Dibandingkan dengan RLM bulan Maret  2017 sebesar 2,05 hari berarti juga terjadi penurunan 0,15 hari,” tegasnya

Adapun Jumlah tamu yang menginap di hotel bintang pada bulan Maret 2018 tercatat 83.803 orang yang terdiri dari 66.135 orang tamu dalam negeri (78,92 persen) dan 17.668 orang tamu luar negeri (21,08 persen).

“TPK Hotel Non Bintang bulan Maret 2018 sebesar 31,75 persen mengalami kenaikan 6,11 poin dibanding bulan Pebruari 2018 dengan TPK sebesar 25,64 persen. Jika dibandingkan dengan bulan Maret 2017 juga mengalami kenaikan sebesar 7,25 poin dari 24,50 persen, ” imbuhnya.

Rata-rata lama menginap (RLM) tamu di Hotel Non Bintang pada bulan Maret 2018 sebesar 1,90  hari, sedikit mengalami penurunan 0,01 hari dibandingkan dengan RLM bulan Pebruari 2018.

“Jika dibandingkan dengan bulan Maret 2017 mengalami kenaikan sebesar 0,12 hari,” pungkasnya.

AYA




Inflasi Gabungan NTB Bulan April

Kota Mataram mengalami inflasi sebesar 0,25 persen dan Kota Bima mengalami inflasi sebesar 0,80 persen

MATARAM.lombokjournal.com — Badan Pusat statistik ( BPS ) NTB merilis, bulan April 2018, Nusa Tenggara Barat mengalami inflasi sebesar 0,37 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK), dari 130,73 pada bulan Maret 2018 menjadi 131,21 pada bulan April 2018.

Angka inflasi ini berada di atas angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,10 persen.

Hal ini disampaikan Kepala BPS NTB Endang Triwahyuningsih, Rabu (02/05 ).

Endang menyatakan Untuk wilayah Nusa Tenggara Barat, Kota Mataram mengalami inflasi sebesar 0,25 persen dan Kota Bima mengalami inflasi sebesar 0,80 persen.

Menurut Endang, inflasi Nusa Tenggara Barat bulan April 2018 sebesar 0,37 persen terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan dengan kenaikan indeks pada Kelompok Transport, Komunikasi & Jasa Keuangan sebesar 0,93 persen.

“Sedang pada Kelompok Kesehatan sebesar 0,71 persen; Kelompok Bahan Makanan skoebesar 0,47 persen; Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau sebesar 0,2 persen; Kelompok Sandang sebesar 0,2 persen; Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan bakar sebesar 0,15 persen; Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olah raga sebesar 0,02 persen,” terangnya.

Laju inflasi Nusa Tenggara Barat tahun kalender April 2018 sebesar 1,02 persen lebih rendah dibandingkan inflasi tahun kalender April 2017 sebesar 1,07 persen. Sedangkan laju inflasi “tahun ke tahun” April 2018 sebesar 3,65 persen lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi “tahun ke tahun” di bulan April 2017 sebesar 3,05 persen.

AYA




Jelang Hari Besar Keagamaan, Pemerintah Tinjau Harga Pokok

Ketersediaan bahan pokok untuk masyarakat sudah terpenuhi dan terjangkau

MATARAM.lombokjournal.com — Guna Memantau Harga Bahan Pokok menjelang Hari Besar Keagaamaan Nasional (HBKN), Pemerintah Pusat melalui Staf Ahli Perdagangan RI melakukan kunjungan kerja ke semua daerah di indonesia,

Kunjungan kerja ini  disertai juga dengan Rakor yng diadakan oleh Dinas Perdagangan NTB, dan Kepala Divre NTB.

Laksminingsih selaku Staf Ahli Bidang Perdagangan ditugaskan untuk melihat dan memantau sendiri serta melaksnanakan dan memantu sendiri untuk persiapan bahan pokok di bulan Puasa dan Idul Fitri.

“Tadi Kita mulai dengan   berkeliling pasar, retail moderen dan sekarang ada di Gudang Bulog guna memastikan ketersediaan bahan Bahan pokok,” terang Laksminingsih saat berada di Gudang bulog, Senin (30/04)

Ia menyatakan, saat melakukan pemantauan sudah ada harga komoditi kebutuhan yng harganya sudah mulai turun yakni mulai dari harga bawang dn cabai, serta harga beras yang sudah mulai terjangkau harganya.

Di NTB sendiri dengan harga harga beras sekitar 8-9 ribu, padahal harga eceran tertinggi untuk beras mencapai Rp.9.450  untuk yang medium. Untuk ayam ras juga masih berkisar di harga 35 ribu hingga 36 ribu, walaupun beberapa minggu lalu terjadi lonjakan hingga mencapai harga 40 ribu.

“Kita merasa senang karena ketersediaan untuk masyarakat sudah terpenuhi dan terjangkau,” imbunnya.

Ia mengaku, sebagai wakil Pemerintah Pusat hadir ke setiap daerah, pihaknya berharap agar harga bisa dipertahankan.

Untuk mengantisipasi harga yang sering melonjak di saat menjelang puasa dan lebaran, Laksminingsih menekankan kepada Dinas Perdagangan dan satgas pangan untuk melakukan pengecekan.

“Inilah tugas Dinas Perdagangan dan Satgas Pangan untuk selalu menegecek setiap harga agar stabil,” ujarnya.

Naik seribu atau dua ribu masih dinilai wajar, dan ia tidak menutup kemungkinan itu bisa saja terjadi. “Tapi ya naiknya jangan 100 persen. Kalau 10 persen masih wajar. Inilah gunanya Satgas Pangan dan petugas Dinas Perdagangan, ” pungkasnya.

AYA




Dr Zul; Dompu Perlu Industri Olahan dan Prodi Jagung

Industrialisasi itu sebuah keharusan. Industri sebagai engine of economic growth tak harus identik dengan pabrik-pabrik besar

lombokjournal.com —

DOMPU ;  Calon Gubernur nomor urut 3, Dr. H. Zulkieflimansyah mengunjungi lebih dari 30 titik di Kecamatan Manggelewa dan Woja Dompu, pada Selasa-Rabu (24-25/04).

Selama dua hari di kabupaten yang menjadikan komoditas jagung sebagai lokomotif perekonomiannya ini, Doktor Zul bertemu ribuan masyarakat Dompu.

Ia menyerap aspirasi para petani, peternak, dan nelayan. Ia berjanji jika terpilih menjadi gubernur, ia akan ikhtiarkan membangun industri olahan dan sekolah khusus tentang jagung di Dompu.

Menurutnya, pengangguran dan kemiskinan hanya mungkin ditekan dengan industri pengolahan. Tugas pemerintah menyediakan SDM nya sehingga ketika industri mau datang ke daerah, kita sudah siap.

“Tidak mungkin petani kita sejahtera kalau tidak ada industri pengolahan. Petani, bukan hanya sekedar pupuk dan bibit, tapi industri turunannya harus ada di tempat kita”. Ungkapnya.

Doktor ahli ekonomi industri ini menjelaskan, Industrialisasi itu sebuah keharusan. Industri sebagai engine of economic growth tak harus identik dengan pabrik-pabrik besar.

Tapi ia adalah proses besar untuk menambah nilai. Untuk meningkatkan nilai tambah perlu sentuhan teknologi dan science. Dengan teknologi sederhana, banyak masalah di NTB bisa diselesaikan termasuk di Dompu.

“Jangan membayangkan teknologi itu luar angkasa. Jangan bayangkan teknologi itu yang canggih-canggih. Bunga mawar pada umumnya selalu berwarna merah, dengan sentuhan teknologi bisa berwarna warni. Kenapa bioteknologi itu luar biasa, karena semua bisa direkayasa,” jelasnya.

Dengan teknologi sederhana, ikan bisa busuknya lama, sayur bisa busuknya lama, bahkan bisa tahan berbulan-bulan, itu akan menguntungkan petani dan nelayan.

Jagung ada yang bulirnya besar tapi ada yang tidak enak. Begitu juga sebaliknya. Sentuhan teknologi akan membuat jagung yang kita tanam bisa diproduksi dalam jumlah banyak dengan kualitas terbaik.

Baginya jagung tak berarti banyak jika tidak ada industri pengolahannya. Dia mengakui, membangun industri pengolahan jagung di Dompu tidaklah mudah.

Jalannya panjang dan berliku. Namun Ia meyakini, tidak ada yang tidak mungkin, selama ada kemauan. Jalan panjang selalu dimulai dengan langkah pertama.

Untuk mendukung industri pengolahan jagung, Doktor Zul mendorong agar Dompu mepunyai sekolah khusus tentang jagung. Dia bercita-cita dapat mendatangkan ahli jagung yang ada di Indonesia ke Dompu sehingga siapapun yang mau belajar tentang jagung, belajarnya di Dompu.

“Sekolah khusus tentang jagung harus pusatnya di Dompu. Kita harus punya prodi tentang jagung, kita undang yang ahli jagung ke sini. Semua orang Indonesia yang mau belajar jagung akan datang ke Dompu,” Ungkapnya.

Terkait pencalonannya sebagai Calon Gubernur NTB 2018, Ia berpesan kepada masyarakat mengapa perlu memilih calon gubernur yang dekat dengan masyarakat. Minimal yang pernah datang menyapa dan bertemu dengan mereka, agar masalah-masalah yang dihadapi masyarakat akan mudah diselesaikan.

“Mengapa kita perlu memilih gubernur yang kita kenal, mudah-mudahan kalau kita jadi gubernur perhatian terhadap petani kita, perhatian terhadap masyarakat kita menjadi prioritas utama,” pungkasnya.

Me (*)




Dinas Perdagangan Pantau Harga Jelang Puasa

Harga beras medium di ke dua pasar tersebut masih dibawah HET

Pantau harga beras

MATARAM.lombokjornal.com —  Guna Memastikan harga stabil menjelang bulan puasa, Dinas Perdagangan (Disdag) NTB turun melakukan pemantauan ke dua pasar rakyat di Kota Mataram, senin  (23/04).

Bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Mataram, Disdag NTB tidak menemukan kenaikan harga beberapa komoditas diatas Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Harga komoditas di ke dua pasar masih stabil,” ujar Kepala Disdag NTB Hj Putu Selly Andayani usai pemantauan.

Ia menuturkan, untuk harga beras medium di ke dua pasar tersebut masih dibawah HET.

Hal ini dikarenakan saat ini sudah musim panen masyarakat dan Bulog. Selly mengaku memberikan atensi cukup besar pada komoditas beras. Karenakan beras bisa menjadi penyebab utama inflasi di NTB jika tidak dikontrol.

“Intinya di ke dua pasar ini harganya masih di bawah HET,” sambungnya.

Ia melanjutkan, pada Pasar Cakra ada intervensi Bulog kepada pedagang. Hal ini terlihat dari harga beras yang dijual Bulog sebesar Rp 8.500 per kilogram pada pedagang.

Pedagang menjualnya kembali ke konsumen seharga Rp 9.000 per kilogramnya. Sedangkan di Pasar Pagesangan tidak ada intervensi Bulog.

“Memang ada beras Bulog tapi disini juga banyak dijual beras premium,” ungkapnya.

Ia mengatakan, patahan beras medium maksimal 25 persen dan premium maksimal 15 persen. Di Pasar Pagesangan, Disdag melihat patahannya masuk dalam kategori beras premium. Sebab beras tersebut dijual seharga Rp 10 ribu. Namun ini masih dibawah HET beras premium yang sebesar Rp 12.500 per kilogramnya.

“Kami berterimakasih pada kepala pasar yang terus mengendalikan harga di pasar,” katanya.

Sementara untuk Bahan Pokok (Bapok), ada perbedaan harga antara ke dua pasar. Terutama pada harga daging sapi. Harga daging sapi di Pasar Cakra sebesar Rp 130.000 per kilogram.

Ini lebih mahal dibandingkan harga di Pasar Pagesangan yang hanya sekitar Rp 120.000 per kilogram. Menurutnya,harga di ke dua pasar tidak bisa dibandingkan, sebab Pasar Cakra diakui Selly merupakan pasar high class.

“Pasar Cakra itu jadi pantauan BPS NTB,” akunya.

Harga di Pasar Cakra cenderung mahal dikarenakan berasal dari tangan kedua. Sementara di pasar Pagesangan berasal dari tangan pertama sehingga lebih murah. Hal ini juga yang menyebabkan Pasar Pagesangan tidak memerlukan intervensi pemerintah.

Selly menambahkan terkait beras, sudah ada telekonfrensi dengan Bulog beberapa waktu lalu. Dalam telekonfrensi tersebut menyatakan NTB nomor satu dalam menjual beras dibawah HET. Sebab itu ia berharap harga akan terus stabil hingga Idul Adha mendatang.

“Ini peran kami berkoordinasi dengan kabupaten/kota dan satgas pangan untuk rutin turun ke masyarakat,” pungkasnya.

AYA




Penyambungan Listrik Serentak Di Pulau Lombok

Penyambungan listrik serentak merupakan upaya PLN meningkatkan rasio elektrifikasi di Lombok, yang sampai saat ini sudah menyentuh angka 85 persen

LOMBOK BARAT.lombokjournal.com — PLN Area Mataram menggelar penyambungan listrik secara serentak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (17/4).

Manajer PLN Area Mataram, Chaidar Syaifullah mengatakan, hari ini PLN Area Mataram melakukan penyambungan listrik di 1.704 pelanggan baru yang tersebar di seluruh Pulau Lombok.

Di antaranya 544 pelanggan di Kabupaten Lombok Tengah, 125 pelanggan di Lombok Utara, 320 pelanggan di Lombok Timur, dan termasuk 249 pelanggan di perumahan Grand Muslim 2 di Desa Terong Tawah, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat.

PLN Area Mataram menargetkan 95 ribu pelanggan baru mendapat sambungan listrik pada tahun ini.

“Sampai pertengahan April, jumlah penyambungan listrik sudah mencapai 27 ribu pelanggan,” kata Chaidar.

Chaidar menyampaikan, program penyambungan listrik serentak merupakan salah satu bentuk upaya PLN meningkatkan rasio elektrifikasi di Lombok, yang sampai saat ini sudah menyentuh angka 85 persen. Masih ada 15 persen masyarakat yang belum terlistriki.

Namun, kata Chaidar, sebenarnya banyak juga masyarakat yang sudah mendapatkan listrik dengan menyambung rumah tetangga. Hal ini tidak dibenarkan karena tidak diperbolehkan dan memiliki kerawanan dari segi keamanan. Selain itu, model menyambung ini juga membuat masyarakat yang terlistriki tidak terdapat dalam rasio elektrifikasi.

“Paling rendah rasio elektrifikasi di Lombok Barat karena medan geografis dan mungkin kemampuan pendapatan per kapita masyarakatnya,” katanya.

Chaidar menambahkan, penyambungan listrik serentak bisa mendorong PLN menaikan rasio elektrifikasi di NTB yang ditargetkan 100 persen pada 2020.

“Pasti rasio elektrifikasi salah satu target kita, karena target kita 100 persen di 2020, sekarang sudah 84 persen se-Lombok. Mudah-mudahan tahun ini bisa mencapai 88 persen,”katanya.

Chaidar mengungkapkan percepatan penyambungan listrik juga dilakukan PLN guna menyambut datangnya bulan sucu Ramadhan.

“Ini kita percepat agar masyarakat sudah bisa merasakan manfaat listrik saat bulan puasa, agar ibadah puasa bisa lebih nyaman,” tegasnya.

AYA




Penyambungan Listrik Serentak Di Pulau Lombok

Penyambungan listrik serentak merupakan upaya PLN meningkatkan rasio elektrifikasi di Lombok, yang sampai saat ini sudah menyentuh angka 85 persen

LOMBOK BARAT.lombokjournal.com — PLN Area Mataram menggelar penyambungan listrik secara serentak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (17/4).

Manajer PLN Area Mataram, Chaidar Syaifullah mengatakan, hari ini PLN Area Mataram melakukan penyambungan listrik di 1.704 pelanggan baru yang tersebar di seluruh Pulau Lombok.

Di antaranya 544 pelanggan di Kabupaten Lombok Tengah, 125 pelanggan di Lombok Utara, 320 pelanggan di Lombok Timur, dan termasuk 249 pelanggan di perumahan Grand Muslim 2 di Desa Terong Tawah, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat.

PLN Area Mataram menargetkan 95 ribu pelanggan baru mendapat sambungan listrik pada tahun ini.

“Sampai pertengahan April, jumlah penyambungan listrik sudah mencapai 27 ribu pelanggan,” kata Chaidar.

Chaidar menyampaikan, program penyambungan listrik serentak merupakan salah satu bentuk upaya PLN meningkatkan rasio elektrifikasi di Lombok, yang sampai saat ini sudah menyentuh angka 85 persen. Masih ada 15 persen masyarakat yang belum terlistriki.

Namun, kata Chaidar, sebenarnya banyak juga masyarakat yang sudah mendapatkan listrik dengan menyambung rumah tetangga. Hal ini tidak dibenarkan karena tidak diperbolehkan dan memiliki kerawanan dari segi keamanan. Selain itu, model menyambung ini juga membuat masyarakat yang terlistriki tidak terdapat dalam rasio elektrifikasi.

“Paling rendah rasio elektrifikasi di Lombok Barat karena medan geografis dan mungkin kemampuan pendapatan per kapita masyarakatnya,” katanya.

Chaidar menambahkan, penyambungan listrik serentak bisa mendorong PLN menaikan rasio elektrifikasi di NTB yang ditargetkan 100 persen pada 2020.

“Pasti rasio elektrifikasi salah satu target kita, karena target kita 100 persen di 2020, sekarang sudah 84 persen se-Lombok. Mudah-mudahan tahun ini bisa mencapai 88 persen,”katanya.

Chaidar mengungkapkan percepatan penyambungan listrik juga dilakukan PLN guna menyambut datangnya bulan sucu Ramadhan.

“Ini kita percepat agar masyarakat sudah bisa merasakan manfaat listrik saat bulan puasa, agar ibadah puasa bisa lebih nyaman,” tegasnya.

AYA




Ekspor dan Impor NTB Bukan Maret 2018 Meningkat

Ekspor pada bulan Maret 2018 yang terbesar ditujukan ke negara Korea Selatan sebesar 54,71 persen

MATARAM.lombokjournal.com —  Badan Pusat Satatistik ( BPS ) NTB merilis Nilai ekspor Provinsi Nusa Tenggara Barat bulan Maret 2018 sebesar US$ 43.910.678.

Berarti nilai ekspor mengalami peningkatan sebesar 12.363,19 persen, jika dibandingkan ekspor bulan Februari 2018 yang bernilai US$ 352.323.

Kepala BPS NTB, Endang Triwahyuningsih menyampaikan ini pada media, Senin (16/04) di Mataram.

Endang menuturkan, ekspor pada bulan Maret 2018 yang terbesar ditujukan ke negara Korea Selatan sebesar 54,71 persen, Jepang sebesar 36,61 persen dan Philipina sebesar 6,86 persen.

Jenis barang ekspor Provinsi NTB yang terbesar pada bulan Maret 2018 adalah barang tambang/galian non migas senilaiUS$ 40.074.249 (91,26 persen); gandum-ganduman senilai US$ 3.012.000 (6,86 persen) dan perhiasan/permata senilai US$ 352.913 (0,80 persen),” terangnya

Endang menambahkan, nilai impor pada bulan Maret 2018 bernilai US$ 13.820.490, nilai ini mengalami peningkatan sebesar 117,38 persen dibandingkan dengan impor bulan Februari 2018 yang sebesar US$6.357.879.

Sebagian besar Impor berasal dari negara Thailand (59,69%), Jepang (9,56%) dan Amerika Serikat (9,21%).

“Jenis barang impor dengan nilai terbesar adalah gula dan kembang gula (59,69%), mesin-mesin/pesawat mekanik (12,31%),  dan karet dan barang dari karet (9,60%),” pungkas Endang.

AYA




Kerajinan Ketak Tembus Pasar Asia Eropa

Beberapa pengrajin mmegakui, prospek kerajinan ketak terbilang sangat menggiurkan

MATARAM.lombokjournal.com — Kerajinan ketak tak hanya dikenal masyarakat NTB. Dan pasaran kerajinan khas NTB satu ini sudah menasional bahkan mendunia.

Seperti kerajinan ketak yang berada di Dusun Peresak Timur Desa Karang Bayan, Lingsar, Lombok Barat ini. Resellernya pun bahkan berasal dari negara di Asia dan Eropa. Terutama dari Negeri Sakura atau Jepang.

Salah satu Usaha Kecil Menengah (UKM) bernama UD Nusa Indah Awidi menuturkan, kerjainan berbahan baku ketak ini sudah masuk ekspor di beberapa negara Asia dan Eropa.

Salah satunya adalah Jepang yang bisa melakukan impor kerajinan ketak sebanyak tiga kali dalam setahun. Sekali order sebanyak 2.000 pcs kerajinan ketak.

“Sudah 10 tahun kami mengirim ke Jepang,” ujarnya, Rabu (11/04)

Ia mengungkapkan, prospek kerajinan ketak terbilang sangat menggiurkan. Bagaimana tidak, dalam sehari ia bisa memperoleh keuntungan bersih sebesar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta.

Mengerjakan aneka kerajinan ketak, ia menggandeng 341 perajin dari dua desa,  yakni Desa Batu Mekar dan Desa Karang Bayan.

“Dari 341 perajin ini terdiri dari 15 pengepul se kecamatan Lingsar,” sambungnya.

Awidi melanjutkan, ada beragam jenis kerajinan ketak yang dihasilkan. Namun salah satunya yang saat ini tengah buming yaitu tas roda.

Tas ini biasa dikenal dengan tas Raisa. Disebut tas Raisa dikarenakan tas ketak bundar ini pernah diunggah di Instagram milik selebritis tanah air tersebut.

Hal tersebut membuat Awidi kebanjiran orderan. Hingga para pengrajin kewalahan, dengan banyaknya permintaan tas Raisa ini.

“Semua perajin kita kewalahan dengan permintaan tas ini,” akunya.

Ramainya pemesanan terlihat dari jumlah pesanan yang ia dapatkan. Dalam seminggu ia dapat menerima orderan hingga 1.000 pcs. Saat ini yang order sudah sampai ke Jepang, India dan Turki serta beberapa negara Eropa lainnya. Tapi kalau yang Turki di ekspor langsung.

“Untuk pemesanan Jepang dan India ia bermitra dengan agen di Jakarta dan Jawa Barat,” pungkasnya.

Ia mengatakan, untuk pemasaran internasional lebih banyak berasal dari Jepang. Pemesanannya pun beragam jenis kerajinan ketak. Mulai dari tas Raisa, tempat sendok, tempat roti dan lain-lainya. Sementara untuk pemasaran nasional, resellernya telah tersebar di Indonesia.

“Sampai ke wilayah Aceh,” ungkapnya.

Sementara untuk harga, setiap kerajinan di patok dengan harga berbeda. Harganya berkisar dari Rp 5 ribu hingga Rp 1 juta. Kerajinan ketak ini merupakan kerajinan yang tidak kalah kualitasnya dengan bahan lainnya. Salah satu kelebihan dari ketak yaitu anti rayap dan tahan lama.

“Itu yang membuatnya banyak dimintai,” pungkasnya.

AYA




Dewan Soroti Program BUMDes Mart Lombok Utara

Di BUMDes Mart tidak ansih mengakomodir semua produk lokal, juga akan menerima atau menjual produk luar yang memang dibutuhkan masyarakat Lombok Utara

LOMBOKUTARA.lombokjournal.com — Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lombok Utara, angkat bicara terkait program BUMDesa Mart yang memunculkan pro kontra di kalangan masyarakat.

“Memang persentasi produk yang terakomodir di BUMDes Mart mash tergolong kecil, hanya 10 persen. Ke depan kita harapkan bisa lebih banyak,” harap Ketua Komisi II DPRD KLU, Tusen Lasima, Senin (09/04).

Salah satu upaya untuk itu, menurut Tusen, pemerintah daerah melalui SKPD terkait lebih banyak memberikan pelatihan dan pembinaan guna meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan.

“Misalnya soal kemasan, olahan yang higienis, kode produksi, tanggal kadaluarsa dan beberapa standarisasi lainnya,” paparnya.

Lebih jauh, Tusen juga menilai jika program ini sejalan dengan program WUB pemda KLU. Artinya produk-produk yang dihasilkan bisa juga masuk mengisi BUMDes Mart yang ada.

Sebelumnya, Kepala Dinas BP2KBPMD KLU. H.Kholidi Khalil, mengatakan Kementrian Desa memberikan peluang kepada daerah untuk memperkuat Struktur ekonomi di desa.

“Kalau di Kabupaten ada BUMD, sementara di desa ada BUMDes Mart, guna mendukung meningkatnya perekonomian masyarakat desa,” paparnya.

Di BUMDes Mart, sambung Kholidi, tidak ansih mengakomodir semua produk lokal. Tapi tentu juga akan menerima atau menjual produk luar yang memang dibutuhkan masyarakat Lombok Utara.

“Kita juga sudah melakukan identifikasi, salah satunya dengan menggelar pameran untuk menyeleksi produk-produk yang ada, layak atau tidak masuk di BUMDes Mart,” tutupnya.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, dari total produk lokal yang ada di KLU, baik olahan maupun kerajinan kreatif, hanya 10 persen saja yang diakomodir dalam BUMDes Mart. Selebihnya masih didatangkan dari luar KLU.

DNU