Kemiskinan Di NTB, Bulan Maret 2018 Berkurang 10,66 Ribu

Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 73,98 persen untuk perkotaan dan 76,32 persen untuk perdesaan

MATARAM.lombokjournal.com — Jumlah penduduk miskin di Nusa Tenggara Barat pada Maret 2018 mencapai 737,46 ribu orang (14,75 persen). Jika dilihat dalam periode September 2017 – Maret 2018, jumlah penduduk miskin berkurang 10,66 ribu orang (0,30 persen).

Selama periode September 2017  Maret 2018, secara absolut penduduk miskin di daerah perkotaan meningkat sekitar 1,83 ribu orang (dari 368,55 ribu orang, pada September 2017 menjadi 370,38 ribu orang, pada Maret 2018).

Sebaliknya di daerah perdesaan penduduk miskin berkurang sebanyak 12,49 ribu orang (dari 379,57 ribu orang pada September 2017  menjadi 367,08 ribu orang pada Maret 2018).

Profil Kemiskinan di NTB itu disampaikan Kepala BPS NTB, Endang Triwahyuningsih Senin (16/07).

Endang Menyatakan, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2017 sebesar 16,23 persen, turun menjadi 15,94 persen pada Maret 2018. Sementara penduduk miskin di daerah perdesaan turun dari 14,06 persen pada September 2017 menjadi 13,72 persen pada Maret 2018.

“Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar, dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Ini terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan,” ujarnya

Endang menjelaskan, pada Maret 2018, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 73,98 persen untuk perkotaan dan 76,32 persen untuk perdesaan.

Pada periode September 2017 – Maret 2018, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di perkotaan  maupun di perdesaan mengalami peningkatan.

Untuk perkotaan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) meningkat dari 3,001 pada September 2017 menjadi 3,241 pada Maret 2018. Untuk perdesaan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) meningkat dari 2,316 pada September 2017 menjadi 2,448 pada Maret 2018.

Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin di perkotaan maupun di perdesaan cenderung menjauh dari Garis Kemiskinan.

Selanjutnya, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan maupun perdesaan juga mengalami peningkatan.

Untuk perkotaan, Indeks Keparahan (P2) meningkat dari 0,762 pada September 2017 menjadi 0,905 pada Maret 2018. Untuk perdesaan, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) meningkat dari 0,522 pada September 2017 menjadi 0,601 pada Maret 2018.

Dengan meningkatnya P2 berarti kesenjangan diantara penduduk miskin di perkotaan maupun di perdesaan semakin melebar.

AYA




Bulan Juni, Nilai Ekspor NTB Naik 75,44 Persen

Nilai impor pada bulan Juni 2018 bernilai US$ 11.345.279, nilai ini mengalami penurunan sebesar 63,61 persen dibandingkan bulan Mei 2018

MATARAM.lombokjournal.com — 

Nilai ekspor Provinsi Nusa Tenggara Barat bulan Juni  2018 sebesar US$ 78.225.629, mengalami kenaikan sebesar 75,44 persen jika dibandingkan dengan ekspor bulan Mei 2018 yang bernilai US$ 44.588.299.

Badan Pusat Statistik (BPS) NTB merilis kenaikan nilai ekspor tersebut, yang langsung disampaikan Kepala BPS NTB, Endang Triwahyuningsih Senin (16/07).

Endang menjelaskan ,Ekspor pada bulan Juni 2018 yang terbesar ditujukan ke negara Philipina sebesar 58,69 persen, Jepang sebesar 20,38 persen dan Korea Selatan 20,21 persen.

“Jenis barang ekspor  Provinsi NTB yang terbesar pada bulan Juni 2018 adalah barang tambang/galian non migas senilai US$ 68.976.546 (88,18 persen); gandum-ganduman senilai US$ 8.522.900 (10,90 persen) dan perhiasan/permata senilai US$ 545.782 (0,70 persen)”terang Endang.

Sedangkan, nilai impor pada bulan Juni 2018 bernilai US$ 11.345.279, nilai ini mengalami penurunan sebesar 63,61 persen dibandingkan dengan impor bulan Mei 2018 yang sebesar US$ 31.176.930. Sebagian besar Impor berasal dari negara Thailand (27,61%), Jepang (24,93%) dan Australia (12,56%).

Jenis barang impor dengan nilai terbesar adalah Gula dan kembang gula (27,61%), karet dan barang dari karet (25,78%),  dan Mesin-mesin/ Pesawat Mekanik (20,20%).

AYA




Kurtubi dan LAPAN Serahkan Bantuan Alat Zona Potensi Penangkapan Ikan Untuk Nelayan NTB

Hasil produksi ikan nelayan NTB akan meningkat dengan adanya ZPPI tersebut, sebab nelayan akan langsung tahu koordinat kumpulan ikan berada

MATARAM.lombokjournal.com —  Anggota DPR RI Komisi VII Dapil NTB, Dr H. Kurtubi bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mendorong nelayan NTB untuk meningkatkan hasil tangkap, dengan memberi bantuan berupa alat Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI), ZPPI di Kantor Lurah Tanjung Karang,  (05/07).

Bantuan alat tersebut diberikan, karena perekonomian sebagian besar nelayan sangat bergantung pada hasil tangkap di laut.

“NTB kan provinsi kepulauan, jadi kita dorong agar para nelayan di NTB ini bisa meningkatkan produksi ikannya,” jelas Kurtubi usai kegiatan Diseminasi Pemanfaatkan Penginderaan Jauh ZPPI di Kantor Lurah Tanjung Karang.

Ia menuturkan, bantuan alat tersebut merupakan hasil kerja sama pihak LAPAN. Sementara alatnya sendiri dibeli langsung dari luar negeri dengan dana APBN.

Alat tersebut akan memberikan informasi data pada para nelayan tentang lokasi tempat ikan berkumpul di laut. Informasi yang ditampilkan berupa koordinat lintang dan koordinat bujur ikan yang dihasilkan oleh citra satelit.

“Citra satelit dihasilkan dari satelit yang dibuat dan dioperasikan LAPAN yang merupakan  mitra kerja dari komisi VII DPR RI,” sambungnya.

Kurtubi mengatakan, sebagai perwakilan NTB di Komisi VII, dirinya berkewajiban untuk mendorong dn mendukung semua program LAPAN. Di antaranya memberikan  informasi pada nelayan yang dipilih agar penangkapan ikan ini bisa efektif dan berhasil. Hal tersebut untuk meningkatkan produksi perikanan dan mensejahterakan nelayan.

“Bahkan lebih jauh lagi saya juga mengharapkan agar  pada saatnya nanti produksi nelayan kita ini meningkat,” katanya

Ia mengaku yakin hasil produksi ikan nelayan NTB akan meningkat dengan adanya ZPPI tersebut. Sebab nelayan akan langsung tahu koordinat kumpulan ikan berada.

Peningkatan tersebut juga akan berdampak jangka panjang. Sebab itu ke depannya NTB didorong untuk pengembangan investasi industri berbasis perikanan.

“Contohnya seperti pabrik pengalengan ikan dan pengolahan ikan,” ungkapnya.

Hal ini akan serupa dengan bagaimana Komisi VII mendorong listrik di NTB cukup untuk industrialisasi. Ia ingin di NTB bisa menjadi pusta pertumbuhan ekonomi baru dengan industrilisasi berbasis berbagai macam Sumber Daya Alam (SDA). Di antaranya industri berbasis perikanan, peternakan, dan pertambangan.

“Ini harus kita dorong ada di NTB,” tegasnya.

Saat ini Komisi VII DPR RI bersama LAPAN melakukan mini diseminasi penyebarluasan informasi  pada nelayan. Khususnya letak zona potensi penangkapan ikan di NTB. Diseminasi perdana ini dimulai dari nelayan kawasan Ampenan.  Kedepannya akan dilakukan menyebar ke seluruh wilayah di NTB.

“Saat ini di Ampenan dan pada suatu saat kita perjuangkan lagi di daerah lainnya di NTB,” akunya.

Dirinya melalui Komisi VII DPR RI akan memperjuangkan nelayan untuk memperoleh bantuan mesin perahu yang bisa menggunakan elpiji. Bantuan alat dengan menggunakan bahan bakar elpiji tersebut sudah mulai dilakukan di Labuhan Haji Lombok Timur belum lama ini.

Sementara itu, perwakilan LAPAN Arisdiyo mengatakan, alat yang diberikan Dr H Kurtubi merupakan alat praktikum sementara bagi nelayan. Ketika mereka sudah memahami koordinat dari ZPPI maka nelayan hanya memerlukan koordinat saat menangkap ikan.

“Ada garis merah di peta tersebut. Itu yang sangat penting,” pungkasnya.

Kehadiran ZPPI ini akan sangat membantu nelayan. Nelayan tidak perlu lagi banyak menghabiskan bahan bakar untuk mengarungi lautan. Mereka cukup langsung menuju garis merah yang ditunjukkan ZPPI.

“Potensi NTB cukup besar ditunjukkan alat tersebut. namun setiap hari akan berubah-ubah,” katanya

Dengan informasi ZPPI diharapkan bisa meningkatkan hasil tangkapan nelayan. Secara otomatis juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab jika biasanya nelayan melaut untuk mencari ikan tanpa petunjuk.

“Sekarang saatnya melaut dengan bantuan informasi ZPPI dari LAPAN,” pungkasnya.

AYA




Penyelenggaraan ‘Samota and Invesment’, Menjual Bidang Agro dan Industri Olahan

Investasi di bidang tambang dan pariwisata dinilai belum tuntas menjawab permasalahan dasar di NTB, yakni penuntasan angka kemiskinan serta belum sesuai dengan target yang diharapkan

MATARAM.lombokjournal.com —  Kegiatan Samota and NTB Investment di Hotel Lombok Raya,  (05/07), yang dihadiri puluhan investor dalam dan luar negeri ini, ditargetkan untuk meningkatkan minat investasi di luar tambang dan pariwisata

Dinas Penanaman Modal-Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) NTB yang menggelar kegiatan Samota and NTB Investment tersebut,  menjual bidang agro dan sektor olahan perdagangan industri.

Lalu Gita Ariadi

Kepala DPM-PTSP NTB H Lalu Gita Ariadi mengatakan itu usai kegiatan meeting one on one dan seminar Samota and NTB Investment. “Kita syukuri itu sebagai sebuah anugrah,” ujarnya

Selama ini investasi di NTB dominan di sektor tambang dan pariwisata. Sementara NTB masih memiliki sektor lainnya yang juga potensial menarik investasi.

Namun investasi di bidang tambang dan pariwisata dinilai belum bisa tuntas menjawab permasalahan dasar di NTB. Yakni penuntasan angka kemiskinan juga belum sesuai dengan target yang diharapkan.

Selain itu juga penciptaan lapangan kerja masih belum mengurangi pengangguran secara signifikan.

“Kita pahami bahwa kalau tmbang dan paruwisata membutuhkan skill,” sambung Gita.

Berbeda dengan investasi agro industri dan perdagangan. Sektor ini justru bisa menyerap tenaga kerja secara masif. Ia berharap hilirisasi bisa sukses dengan hadirnya banyak investor di sektor ini.

Hadirnya investor tersebut akan memperbanyak nilai tambah di bidang agrikultur dan olahan. Investor yang masuk ke NTB bisa membuat pabrik pengolahan nantinya.

“Itu tidak lagi dinikmati oleh pihak luar daerah,” harapnya.

Ia melanjutkan, ke depannya NTB tidak hanya melakukan produksi, namun juga akan melakukan pengolahan menjadi olahan. Produk olahan tersebut kemudian bisa dikirim ke pasar, baik lokal maupun luar.

Hal tersebut akan membuat NTB berada pada posisi yang strategis dengan menyediakan kebutuhan pasar Indonesia Timur dan Barat.

“Itu yang saya katakan pada calon investor,” akunya.

Dalam kegiatan pertemuan tersebut, ia juga meminta calon investor untuk tidak memandang NTB berdasrkan jumlah penduduknya. Sebab jika melihat hal tersebut, maka potensi itu paling bagus terletak di Pulau Jawa.

Hal tersebut dikarenakan jumlah penduduknya besar dibandingkan NTB.

Namun NTB memiliki potensi destinasi wisata yang bisa mendatangkan jutaan wisatawan. Bahkan kedepannya NTB akan mampu menyumbangkan 5 juta wisatawan.

Hal ini tentu akan memiliki potensi besar, terutama di sektor konsumsi. Ini membuat NTB sangat strategis untuk membangun industri untuk kebutuhan pasar lokal dan regional.

“Bahkan ekspor,” kata Gita.

Terlebih lagi ketika 2019 mendatang. Pada triwulan ketiga Pelabuhan Gilimas akan rampung. Ini membuat peluang ekonomi NTB terbuka lebar. Hal inilah yang ia paparkan dihadapan para calon investor yang berasal dari luar NTB hingga Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.

“Ada 30an calon investor yang datang dan nantinya bisa jadi akan bertambah,” pungkasnya.

Selain kegiatan one on one meeting dan seminar, DPM-PTSP NTB juga akan mengajak semua calon investor melakukan peninjauan lapangan. Peninjauan tersebut untuk melihat potensi jagung di Dompu, potensi agro industri di Kabupaten Bima dan Dompu. Sehingga investor yang selama ini berhenti di Lombok akan langsung melihat langsung potensi yang ada di Pulau Sumbawa.

“Investor bisa bangun pabrik pengolahan sehingga nilai tambah produk menjadi lebih tinggi,” tandasnya.

AYA




Daya Beli Petani Meningkat

Kemampuan daya beli petani di Provinsi NTB pada tiga subsektor berada di atas 100 atau cukup baik yang terdiri atas subsektor peternakan sebesar 127,16 persen, subsektor tanaman pangan sebesar 108,83 persen; dan sub sektor perikanan sebesar 107,69 persen

Putradi jelaskan nilai tukar petani, Senin (02/07)

MATARAM.lombokjournal.com — Kepala Bidang Statistik Distribusi  BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) L. Putradi menyampaikan, berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan pada delapan kabupaten di Provinsi NTB terjadi nilai tukar petani (NTP) yang berfluktuasi setiap bulannya.

Namun pada Juni, kata Putradi, dengan tahun dasar (2012=100), NTP Provinsi Nusa Tenggara Barat berada di atas 100 (tercatat 107,41).

Artinya, petani mengalami peningkatan daya beli karena kenaikan harga produksi relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan harga input produksi dan kebutuhan konsumsi rumah tangganya,” ujar Putradi di Mataram, NTB, Senin (02/07).

ia menjelaskan, NTP NTB pada Juni 2018 mengalami peningkatan sebesar 0,68 persen dibandingkan dengan NTP Mei 2018 yang sebesar dari 106,69. Endang menyebutkan, hal ini ditengarai karena indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,86 persen dan indeks harga yang dibayar petani (Ib) juga naik 0,18  persen.

Ia melanjutkan, pada Juni 2018, kemampuan daya beli petani di Provinsi NTB pada tiga subsektor berada di atas 100 atau cukup baik yang terdiri atas subsektor peternakan sebesar 127,16 persen, subsektor tanaman pangan sebesar 108,83 persen; dan sub sektor perikanan sebesar 107,69 persen.

“Sedangkan subsektor lainnya memiliki kemampuan daya beli yang rendah atau NTP di bawah 100 yaitu subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 93,69 persen dan subsektor hortikultura sebesar 81,82 persen,” ucapnya.

Ia menuturkan, penghitungan NTP menggunakan tahun dasar 2012=100, di mana pada Juni 2018 tercatat Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) sebesar 108,83; Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 81,82; Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 93,69; Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 127,16 dan Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) 107,69. Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) dirinci menjadi NTP Perikanan Tangkap (NTN) tercatat 116,70 dan NTP Perikanan Budidaya (NTPi) tercatat 93,12.

“Secara gabungan, NTP Provinsi NTB sebesar 107,41 yang berarti NTP pada Juni 2018 mengalami peningkatan 0,68 persen bila dibandingkan dengan Mei 2018 dengan NTP sebesar 106,69 persen,” Terangnya.

Dari 33 Provinsi yang dilaporkan pada bulan Juni 2018, lanjutnya, terdapat 20  provinsi yang mengalami peningkatan NTP dan 13 provinsi mengalami penurunan NTP. Peningkatan tertinggi terjadi di Provinsi Maluku yaitu sebesar 0,78 persen, sedangkan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Riau yaitu sebesar 1,87 persen.

AYA




Ekspor NTB Alami Penurunan Pada Bulan Mei

 Nilai ekspor mengalami penurunan sebesar 6,43 persen dibandingkan dengan impor pada April 2018 yang sebesar 33.317.803 dolar AS

Putradi jelaskan nilai ekspor NTB, Senin 0(2/07)

MATARAM.lombokjournal.com —  Kepala Bidang statistik distribusi  Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) L. Putradi  mengatakan, nilai ekspor Provinsi NTB pada Mei 2018 alami penurunan.

Pada bulan April 2018 nilai ekspor NTB sebesar 44.588.299 dolar AS, sedang sebelumnya bernilai  48.731.150 dolar AS, itu berarti ekspor NTB mengalami penurunan sebesar 8,50 persen.

“Ekspor pada Mei 2018 yang terbesar ditujukan ke Korea Selatan sebesar 47,26 persen, Jepang sebesar 31,47 persen, dan Filipina sebesar 15,58 persen,” ujar Putradi dalam jumpa pers di Aula Kantor BPS Provinsi NTB, Mataram, NTB, Senin (2/7).

Ia menyebutkan, jenis barang ekspor Provinsi NTB yang terbesar pada Mei 2018 adalah barang tambang/galian non migas senilai 35.074.415 dolar AS (78,66 persen), gandum-ganduman senilai 6.946.675 dolar AS (15,58 persen), dan perhiasan/permata senilai 2.229.633 dolar AS (5 persen).

Untuk nilai impor pada Mei 2018 bernilai 31.176.930 dolar AS. Kata Endang, nilai ini mengalami penurunan sebesar 6,43 persen dibandingkan dengan impor pada April 2018 yang sebesar 33.317.803 dolar AS.

“Sebagian besar Impor berasal dari negara Perancis (41,21 persen), Jepang (18,46 persen), dan Thailand (8,73 persen),”

Putradi mengungkapkan, jenis barang impor dengan nilai terbesar adalah mesin/peralatan listrik sebesar 52,10 persen, karet dan barang dari karet sebesar 26 persen, dan gula dan kembang gula sebesar 8,73 persen.

AYA




Bulan Juni, Inflasi NTB 0,76 Persen

Inflasi sebesar 0,76 persen di NTB pada Juni 2018 terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan dengan kenaikan indeks pada Kelompok Bahan Makanan sebesar 1,69 persen

MATARAM.lombokjournal.com  — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengumumkan, Provinsi NTB mengalami inflasi sebesar 0,76 persen pada bulan Juni 2018.

Kepala Bidang Statistik Distribusi  L. Putradi mengatakan, terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 130,84 pada Mei 2018 menjadi 131,84 pada Juni 2018.

“Angka inflasi ini berada di atas angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,59 persen,” ujar Putradi dalam jumpa pers di Aula Kantor BPS Provinsi NTB, Mataram, NTB, Senin (02/07).

Ia menyebutkan, dua kota di NTB, Kota Mataram dan Kota Bima sama-sama mengalami inflasi. Untuk Kota Mataram inflasi tercatat sebesar 0,75 persen, sementara Kota Bima mengalami inflasi sebesar 0,77 persen.

Ia menyampaikan inflasi sebesar 0,76 persen di NTB pada Juni 2018 terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan dengan kenaikan indeks pada Kelompok Bahan Makanan sebesar 1,69 persen; Kelompok Transport, Komunikasi & Jasa Keuangan sebesar 1,43 persen; Kelompok Sandang sebesar 0,92 persen; Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau sebesar 0,78 persen; Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olah raga sebesar 0,16 persen dan Kelompok Kesehatan sebesar 0,14 persen. Sedangkan penurunan indeks terjadi pada Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan bakar sebesar 0,1 persen.

“Lima komoditas yang mengalami inflasi terbesar pada Juni 2018 ini, antara lain Angkutan Udara, Kue Kering Berminyak, Daging Ayam Ras, Jeruk, dan Tenggiri,” ucapnya

Sedangkan lima komoditas yang mengalami deflasi terbesar antara lain Tomat Sayur, Bawang Merah, Bahan Bakar Rumah Tangga, Bawang Putih, dan Telur Ayam Ras.

Dia menambahkan, laju inflasi NTB tahun kalender Juni 2018 sebesar 1,51 persen lebih rendah dibandingkan inflasi tahun kalender Juni 2017 sebesar 2,19 persen. Sedangkan laju inflasi tahun ke tahun Juni 2018 sebesar 3,02 persen lebih rendah dibandingkan dengan laju inflasi tahun ke tahun pada Juni 2017 sebesar 3,38 persen.

AYA




Penumpang Melalui  Lombok Internasional Airport Naik 9 Persen

Manajemen LIA mengantisipasi lonjakan penumpang serta meningkatkan  layanan

PRAYA .lombokjournal.com —  Lombok International Airport (LIA) atau Bandara internasional Lombok mencatat kenaikan jumlah penumpang hingga H Lebaran sebesar 104.569 penumpang.

Ini berarti ada kenaikan  sebesar 9 persen dibandingkan tahun 2017. Sedangkan untuk pergerakan pesawat tercacat sebanyak 918 pesawat atau mengalami kenaikan sebesar 11.6 persen.

“Jika dilihat realisasi kepadatan penumpang pada arus mudik terjadi pada H-4 yaitu tanggal 11 juni 2018, sebanyak 12.769 penumpang. Dan H-1 tanggal 14 Juni 2018 sebanyak 12.565 penumpang.

Secara total hingga hari H lebaran lonjakan penumpang telah mencapai 9 persen.

“Kami tentunya berharap ini berdampak pada kemajuan Lombok baik pariwisata maupun ekonomi ,” ujar I Gusti Ngurah Ardita General Manager LIA.

Berdasarkan Informasi humas Lombok International Airport, kini bandara telah mengoperasikan selasar, pick up dan drop zone pada tanggal 7 Juni 2018.

Ini merupakan upaya dari Manajemen LIA  sebagai bentuk antisipasi lonjakan penumpang serta peningkatan pelayanan dan fasilitas.

AYA




Inflasi NTB Bulan Mei 2018

Inflasi Nusa Tenggara Barat bulan Mei 2018 sebesar 0,28 persen terjadi karena adanya penurunan harga

MATARAM.lombokjournal.com — Bulan Mei 2018, Nusa Tenggara Barat mengalami deflasi sebesar 0,28 persen, atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 131,21 pada bulan April 2018 menjadi 130,84 pada bulan Mei 2018.

Badan Pusat statistik ( BPS ) NTB merillis itu pada media di Mataram, Senin (04/06).

“Angka deflasi ini berada di bawah angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,21 persen,” ujar Kepala BPS NTB Endang Triwahyuningsih, Senin.

Endang menyatakan, untuk wilayah Nusa Tenggara Barat, Kota Mataram mengalami deflasi sebesar 0,25 persen dan Kota Bima mengalami deflasi sebesar 0,38 persen.

Inflasi Nusa Tenggara Barat bulan Mei 2018 sebesar 0,28 persen terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan dengan penurunan indeks pada Kelompok Bahan Makanan sebesar 1,21 persen dan Kelompok Transport, Komunikasi & Jasa Keuangan sebesar 0,46 persen.

Sedangkan kenaikan indeks terjadi pada Kelompok Kesehatan sebesar 0,29 persen.

“Kelompok Sandang sebesar 0,23 persen Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau sebesar 0,11 persen, Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olah raga sebesar 0,07 persen dan Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan bakar sebesar 0,02 persen,” ujarnya.

Sementara itu, laju inflasi Nusa Tenggara Barat tahun kalender Mei 2018 sebesar 0,74 persen lebih rendah dibandingkan inflasi tahun kalender Mei 2017 sebesar 1,60 persen.

Sedangkan laju inflasi “tahun ke tahun” Mei 2018 sebesar 2,82 persen lebih rendah dibandingkan dengan laju inflasi “tahun ke tahun” di bulan Mei 2017 sebesar 3,89 persen.

AYA




BPS NTB, Penumpang Datang dan Pergi Dengan Angkutan Laut Turun

Penumpang yang datang melalui penerbangan domestik pada bulan April 2018 naik sebesar 2,50 persen dari bulan Maret 2018

MATARAM.lombokjournal.co — Badan Pusat statistik (BPS) NTB merislis, jumlah penumpang yang datang dan berangkat menggunakan angkutan laut pada bulan April 2018 turun dibandingkan bulan Maret 2018, masing-masing sebesar 34,08 persen dan 58,33 persen. \

Kepala BPS NTB, Endang Triwahyuningsih menjelaskan pada media jumlah penumpang yang datang dan berangkat menggunakan angkutan laut, Senin (0 4/06) di Mataram.

Menurut Endang, jumlah barang yang dibongkar melalui pelabuhan laut pada bulan April 2018 turun 15,12 persen dari bulan Maret 2018. Adapun barang yang dimuat naik tajam sebesar 327,59 persen.

Diungkapkannya, jumlah penumpang yang datang melalui penerbangan domestik pada bulan April 2018 sebanyak 172.911 orang, naik sebesar 2,50 persen dari bulan Maret 2018.

“Demikian halnya dengan jumlah penumpang yang datang melalui penerbangan internasional juga naik sebesar 14,04 persen menjadi sebanyak 16.708 orang,” terangnya

Jumlah penumpang yang berangkat pada bulan April 2018 melalui penerbangan domestik sebanyak 165.710 orang, meningkat sebesar 5,57 persen dibandingkan bulan Maret 2018.

Demikian halnya dengan jumlah penumpang yang berangkat melalui penerbangan internasional juga meningkat sebesar 5,89 persen dari 13.152 orang menjadi 13.926 orang.

“Jumlah barang yang dibongkar pada bulan April 2018 melalui penerbangan domestik sebesar 675.677 Kg, menurun sebesar 1,15 persen dari bulan Maret 2018. Sedangkan barang yang dimuat pada bulan April 2018 meningkat sebesar 9,23 persen dari bulan  sebelumnya,” pungkasnya.

AYA