Pelabuhan Laut Kayangan, Lombok Timur, Tak Ada Penyeberangan

Setelah kejadian gempa petugas yang ada di pelabuhan meninggalkan lokasi saat listrik dalam keadaan dipadamkan

MATARAM.lombokjournal.com —  Akibat gempa berkekuatan 7.0 Skala Richter (SR) di 30 kilometer (km) arah timur laut Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan kedalaman 10 km, Minggu  (19/08) pukul 22:56 Wita, Pelabuhan penyeberangan laut Kayangan di Lombok Timur mengalami rusak berat.

Kurang 1 jam berikutnya, 3 gempa susulan kembali menerjang dengan kekuatan bervariasi antara 5.0 hingga 5.8 SR. Gempa ini tidak berpotensi tsunami, meski dapat dirasakan kuat getarannya di beberapa kota dan kabupaten sekitar lokasi kejadian.

“Akibat gempa semalam, Pelabuhan Kayangan rusak berat dan akibatnya tidak dapat difungsikan untuk sementara waktu,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat), Budi Setiyadi melalusi rilisnya ke media, Senin (20/08) pagi.

Budi Setiyadi menyatakan, kerusakan infrastruktur dan fasilitas Pelabuhan Kayangan Lombok Timur meliputi causeway dan trestle di dermaga 2 mengalami penurunan dan dalam keadaan retak, sementara lapangan parkir yang berada dekat dermaga 1 mengalami retak sebagian.

Setelah kejadian gempa petugas yang ada di pelabuhan meninggalkan lokasi saat listrik dalam keadaan dipadamkan, jelas Budi mengenai kondisi terkini di Pelabuhan Kayangan.

“Oleh karena itu sejak gempa terjadi tadi malam tidak ada layanan pelayaran di Pelabuhan Kayangan,” kata Budi.

Untuk sementara kegiatan di Pelabuhan Kayangan hanya sebatas bongkar muatan dari Pelabuhan Poto Tano. Karena masih ada guncangan kecil akibat gempa yang masih terasa pagi ini, maka kondisi terkini pelabuhan  akan tetap dipantau.

“Semoga kerusakan yang ada dapat segera diperbaiki dan dapat beroperasi dengan normal kembali,” tutup Dirjen Budi sembari berharap kondisi di Pelabuhan Kayangan maupun lokasi terdampak gempa lainnya segera pulih dan membaik.

HS/PTR.




Bulan Juli, Ekspor  NTB Turun, Sebaliknya Impor Naik

Barang ekspor  Provinsi NTB yang terbesar pada bulan Juli 2018 adalah barang tambang/galian non migas senilai US$ 38.548.088 (90,70 persen)

MATARAM.lombokjournal.com — Nilai ekspor Provinsi Nusa Tenggara Barat bulan Juli  2018 sebesar  US$ 42.499.695, berarti mengalami penurunan sebesar 45,67 persen jika dibandingkan dengan ekspor bulan Juni 2018 yang bernilai US$ 78.225.629.

Badan Pusat Statistik (BPS) NTB merilis penurunan ekspor itu Rabu (15/08).di aula BPS NTB.

“Ekspor pada bulan Juli 2018 yang terbesar ditujukan ke negara Korea Selatan sebesar 54,50 persen, Jepang sebesar 36,54 persen dan Philipina sebesar 8,13 persen,” ujar Kepala BPS NTB, Suntono Suntono.

Ia menjelaskan, jenis barang ekspor  Provinsi NTB yang terbesar pada bulan Juli 2018 adalah barang tambang/galian non migas senilai US$ 38.548.088 (90,70 persen); gandum-ganduman senilai US$ 3.454.400 (8,13 persen), Garam,belerang dan kapur sebesar US$ 167.473 (0,39 persen), dan perhiasan/permata senilai US$ 133.108 (0,31 persen).

Sedangkan Nilai impor pada bulan Juli 2018 senilai US$ 31.737.589. Ini berarti impor mengalami kenaikan sebesar  179,74 persen dibandingkan dengan impor bulan Juni 2018 sebesar US$ 11.345.279.

Sebagian besar Impor berasal dari negara Denmark (32,59 persen), Finlandia (24,54 persen) dan Thailand (18,92 persen).

“Jenis barang impor dengan nilai terbesar adalah mesin-mesin/pesawat mekanik (32,87%), peralatan listrik (32,29%) dan Gula/kembang gula (18,92%),” pungkasnya.

AYA




Operasional Bandara Di Lombok Saat Gempa Tak Pernah Berhenti

Bandara di Lombok Tengah juga menjadi salah satu pintu utama bagi masuknya distribusi bantuan maupun relawan yang datang untuk membantu korban gempa Lombok

) I Gusti Ngurah Ardita

MATARAM.lombokjournal.com  —  General Manager Lombok International Airport (LIA) I Gusti Ngurah Ardita mengatakan, operasional bandara masih berjalan normal, baik saat kejadian gempa maupun saat masa tanggap darurat seperti saat ini.

“Bandara secara infrastruktur 100 persen beroperasi normal, semuanya dalam kondsi baik, laik operasi tidak pernah berhenti sejak kehadian bahkan sampai sekarang,” tutur Ardita.

Ardita menyampaikan, sejauh ini tidak ada pembatalan penerbangan, dan jumlah pergerakan penumpang masih relatif stabil di atas 12 ribu penumpang per hari.

“Kalau masih di atas 10 ribu itu masih stabil,” tegasnya

Ardita menambahkan, LIA yang berada di Kabupaten Lombok Tengah juga menjadi salah satu pintu utama bagi masuknya distribusi bantuan maupun relawan yang datang untuk membantu korban gempa Lombok.

“Kita sudah operasikan Bandata Selaparang (Kota Mataram) khusus distribusi bantuan untuk pesawat militer sampai tanggap bencana berhenti,” pungkasnya.

AYA




Lonjakan Tinggi Harga Terpal Dan Sembako Dibantah

Barang- barang yang dibutuhkan oleh korban bencana maupun pengungsi tersedia, namun karena adanya bencana ini menggagangu proses pengiriman dari luar pulau Lombok

Konfereni pers PSMTI NTB dengan perwakilan dr NW, Muhmadiyah, Polda, Korem dan Ketua Adat Sasak /Foto; AYA-Lombok Journal/

MATARAM.lombokjournal.com –  Adanya lonjakan tinggi harga terpal dan sembako sejak terjadinya gempa di Lombok beberapa waktu lalu, dibantah Paguyuban Sosial Marga Tionghoa indonesia NTB dalam konfresi pers di Kantor PSMTI NTB, Minggu  (12/08)

The Sian, Ketua Harian PSMTI NTB menyatakan,  isu kenaikan tersebut tidaklah benar.

“Itu sangat tidak benar dan menyesatkan,” tegas The Sian

Ia menjelaskan, bahan logistik masih tetap tersedia, pihaknya sudah menghubungi distributor. Barang- barang yang dibutuhkan oleh korban bencana maupun pengungsi tersedia, namun karena adanya bencana ini menggagangu proses pengiriman dari luar pulau Lombok.

Ia menjelaskan soal adanya isu kenaikan harga terpal itu tidaklah benar .

“Memang terjadi kekosongan, karena semua membutuhkan bukan hanya korban gempa di KLU, tapi juga orang-orang di Lombok mengunakannya untuk tidur di luar rumahnya dengan mengunakan terpal” sambungnya

The Sian menjelaskan,  keterbatasn terpal selama ink dikarenakan cuaca yang tidak mendukung.

Adanya gelombng yang tinggi ,sehingga ada dermaga yang hanya beroperasi satu, di Padang Bai, serta buruh pekerja tidak bisa membongkar langsung dari truk pengngkut barang, dan ada toko yang tutup dikarenakan banyak yang izin pulang  khawatir akan gempa susululan.

“Mau tidak mau toko tutup, inilah faktornya barang yang sudah ada tidak bisa di distrubusikan,” katanya.

Inilah dilema yang diahadapi para pedagng dan distributor.

‘Kita berharap semua maslah ini bisa diatasi tentunya jika kondisi alam Mendukung, ” pungkasnya

AYA (*)




UKM Kopi Kekurangan Stok Bahan Baku

Dampak bencana tersebut tak hanya pada bahan baku saja, tetapi juga terhadap daya beli masyarakat akan oleh-oleh khas Lombok

MATARAM.lombokjournal.com – Sejumlah pengusaha di sektor Usaha Kecil Mikro (UKM) mulai merasakan dampak terjadinya gempa.

Salah satunya Dodi Adi Wibowo pemIlik UKM kopi etchic di Gunung Sari.  Terjadinya gempa berkepanjangan, menyebabkan susahnya memperoleh bahan baku kopi.

Sehingga ia kekurangan stok untuk membuat kopi kemasan, karena bahan baku yang didapatnya diperoleh petani yang lokasinya di wilayah gempa.

“Pasti berdampak masalah bahan bakunya, karena saya ambil bahan baku ada yang dari gangga, sajang dan sembalun,” Ujar pemilik UKM kopi etchic, Dodi Adi Wibowo

Ia menjelaskan, menurut petani di KLU mereka belum siap untuk proses kopi dari kebun. Pasalnya, mereka masih berkabung akibat gempa.

Memang, sebelum kejadian Dodi sempat menyetok bahan baku. Namun tak lama lagi stoknya akan habis karena saat ini persediaan makin menipis.

“Stoknya tidak banyak, mungkin cukup untuk 1 minggu ke depan aja.  Tapi saya sudah coba hubungi beberapa petani  masalah stok bahan baku juga dan mereka akan coba usahakan,” lanjutnya.

Untuk produksinya ia menyesuaikan dengan permintaan dari toko oleh-oleh, karena ia memasukan produknya ke beberapa toko oleh-oleh dan ritel modern. Dodi menuturkan, dampak bencana tersebut tak hanya pada bahan baku saja, tetapi terhadap daya beli masyarakat akan oleh-oleh khas Lombok.

“Sedangkan sekarang jumlah tamu anjlok drastis di Mataram ini semenjak gempa, otomatis perputaran produk saya juga di toko oleh-oleh agak melambat,” kata Dodi.

Lebih lanjut ia menambahkan, untuk produsen seperti dirinya yang bergerak di pasar pariwisata sangat berpengaruh jika ada hal-hal bencana seperti ini.

Dodi pun sejak awal Agustus Minggu pertama ia, baru memproduksi dengan jumlah kopi 100kg yang biasanya 200 kg kini sedikit menurun.

“Yang biasanya sudah produksi 200kg lebih, yang jelas penurunanya cukup besar. ya kalau di kira-kira penurunan produksi sekitar 50 persen,” ujarnya.

Untuk mengantipasi terjadi penurunan seperti ini, ia berusaha untuk menjual produknya ke pedagang kecil. Karena kondisi ini banyak orang begadang dan pasti membutuhkan kopi untuk begadang, dengan memberikan potongan harga.

“Lumayan bisa membantu, saya berharap bisa kembali kondusif dan normal kembali,” pungkasnya.

AYA




Harga Bahan Pokok Stabil, Air Kemasan Terbatas

Khusus untuk mie instan terjadi kelangkaan, disebabkan meningkatnya permintaan untuk membantu korban gempa serta terlambatnya pasokan dari luar daerah

MATARAM.lombokjounal.com —  Di pasar tradisional, kebutuhan bahan pokok masyarakat seperti beras, telur, cabai, bawang merah, bawang putih, tomat, dan lain-lain,  saat ini harga masih stabil dan stok cukup tersedia.

Namun, pasca gempa bumi yang melanda Lombok,  dan terpal melambung tinggi, hingga menembus angka 500 ribu ukuran 4X6.

Tim Satgas Pangan NTB melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok termasuk terpal pasca bencana alam gempa bumi Lombok, Rabu (08/08)

Hal itu disampaikan Plt. Kabid Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Dinas Perdagangan  NTB Lalu Suparno usai memantau di pasar tradisional.

Sedangkan komoditas daging ayam dan daging sapi mengalami sedikit kenaikan, karena belum banyak pedagang yang berjualan.

“Harga bahan kebutuhan pokok di tingkat distributor tidak ada kenaikan harga, untuk ketersediaan stok cukup tersedia,” ujarnya, Rabu.

Ia menuturkan, khusus untuk mie instan terjadi kelangkaan, disebabkan meningkatnya permintaan untuk membantu korban gempa serta terlambatnya pasokan dari luar daerah yang sempat terkendala di jalur penyeberangan akibat gelombang tinggi.

Ketersediaan air minum kemasan juga terbatas, PT. Narmada Awet Muda sampai saat ini belum beroperasi normal, karena sumber air tanah yang digunakan masih keruh.

Sedangkan air minum kemasan merk lain juga terbatas karena meningkatnya permintaan, untuk harga tidak ada kenaikan.

Sedangkan, untuk terpal di tingkat distributor maupun beberapa toko bangunan stok saat ini kosong. Berdasarkan informasi dari para pedagang tidak ada kenaikan harga, namun harga terpal tergantung kwalitas.

“Dimungkinkan masyarakat membeli terpal yang masih tersisa dengan kwalitas lebih baik sehingga harga lebih mahal dan kemudian dikabarkan bahwa harga terpal naik 2 kali lipat,” tuturnya.

Pemilik UD. Sukses Karya Mandiri (SKM),  Antono yang menerangkan, pasca gempa untuk stok komoditas minyak goreng, tepung terigu dan gula pasir dalam posisi aman dan harga stabil. Sedangkan untuk air minum kemasan, mie Instan dan terpal yang langka di pasaran naik.

Pihaknya sudah sejak awal menginstruksikan agar pasokan ke pasar tradisional dan ritel modern jangan sampai terputus. Namun pasca gempa banyak pedagang dan toko yang belum berani buka ditambah lagi dengan issue maling/begal membuat para pedagang tidak berani berjualan di pasar tradisional.

“Tapi mulai kemarin situasi pasar sudah berangsur-angsur normal kembali,” ujarnya

Direktur PT. Distribusi Air Narmada, Dona Butar-Butar, mengungkapkan stok air minum Narmada saat ini kosong, baik kemasan gelas, botol maupun gallon. Produksi masih dihentikan karena mata air bawah tanah yang digunakan masih keruh dan karyawan yang sebagian besar berasal dari Desa Selat Kecamatan Narmada, Lombok Barat (Lobar) juga banyak yang menjadi korban gempa.

Alhasil, Saat ini second branded Narmada yaitu air minum kemasan Rafa yang biasanya dipasarkan di wilayah Pulau Sumbawa juga dikeluarkan, khusus untuk keperluan membantu korban gempa.

“Kami belum bisa dipastikan kapan produksi akan normal kembali karena sangat tergantung dari perkembangan situasi pasca gempa, di mana gempa-gempa susulan masih sering terjadi. Untuk harga dari pihak perusahaan tidak ada menaikkan harga masih normal seperti sebelum gempa,” pungkasnya

AYA




Industri Perbankan, Pascca Gempa Beroperasional Kembali

Kerusakan infrastruktur tidak mendukung untuk ditempati, tapi sudah direlokasi ke beberapa kantor terdekat, sehingga bisa melakukan operasional dengan normal

MATARAM.lombokjournal.com — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengadakan pertemuan dengan sejumlah industri jasa keuangan di NTB.

Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan IV, Teguh Supangkat, mengatakan pertemuan yang di lakukan bersama perwakilan dari perbankan, Asuransi, Perusahaan Pembiayaan dan Pegadian untuk mendengarkan isu-isu yang terdampak dari kejadian gempa Minggu lalu menimpa Lombok.

Akses keuangan yang sempat terkendala, namun kini sudah dapat kembali beroperasional.

“Kita mendapatkan informasi, sampai sekarang ini seluruh operasional perbankan sudah berjalan dengan baik. Jadi sudah bisa melayani seluruhnya baik yang terkena gempa maupun tidak,” tutur Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan IV, Teguh Supangkat, Rabu  (08/08).

Ia menerangkan, dampak gempa pada industri perbankan yang paling parah berada di Kabupaten Lombok Utara, dengan kondisi kantor-kantor perbankan  rusak. “infrastruktur kantor di Tanjung yang rusak parah,” terangnya.

Lebih lanjut Teguh menuturkan, kerusakan infrastruktur yang banyak tidak mendukung untuk ditempati. Tapi sudah direlokasi ke beberapa kantor terdekat, sehingga bisa melakukan operasional dengan normal.

“Hari rabu ini sudah berjalan dengan normal,” cetusnya.

Teguh berharap dari perbaikan tersebut industri perbankan, dapat melaksanakan transaksi kegiatan perbankan secara normal lagi.  Meskipun pada hari Senin setelah kejadian bencana  tersebut, memang ada beberapa yang tutup dan ada juga beroperasional.

Pada hari kedua sebagai besar telah beroperasional kembali.

“Kita mengharapakan untuk bisa melayani masyarakat, jangan sampai masyarakat ini tidak terlayani dan semua yang datang akan terlayani dengan baik, oleh perbankan yang ada,” terangnya

Memang ada beberapa perbankan yang tidak beroperasi, terutama pada debiturnya yang berdampak karena gempa. Menurut informasi perbankan, kurang lebih sekitar 1.3 triliun sampai 2 triliun terdampak langsung maupun tidak langsung.

Namun data ini didapatkan OJK saat ini masih lisan saja dan belum ada data tertulis.

“Tapi data detail ini sedang kita minta, ini baru lisan. Untuk data tertulisnya nanti masing-masing kita minta industri jasa keuangan untuk menyampaikan ke OJK NTB,” pungkasnya.

AYA




Pasca Gempa, Banyak Pengusaha Menutup Toko

Situasi kembali normal dalam waktu dekat, karena saat ini banyak masyarakat membutuhkan beberapa keperluan baha pokok

MATARAM.lombokjournal.com – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Ketut Wolini membenarkan, bencana gempa bumi berdampak banyak pengusaha-pengusah terpaksa menutup usaha tokonya.

Namun Apindo terus memantau beberapa toko-toko yang tutup dan memberikan dukungan serta memberikan perhatian pada pengusaha agar dapat kembali membuka usahanya.

“Ya melemah sekarang ekonominya pasca gempa kemarin. Tetapi kami dari Apindo terus memantau pengusaha ini mulai dari Ampenan sampai Cakra, kita cek semua kemarin,” tutur Ketua APINDO, Ketut Wolini, Rabu (08/08).

Dorongan diberikan kepada pengusaha untuk tetap melanjutkan usaha mereka. Meskipun banyak yang masih merasa takut untuk membuka kembali toko, karena kondisi belum kondusif. Padahal diperkirakan daya beli masyarakat ketika gempa semakin meningkat.

“Kita APINDO mengajak mereka untuk buka kembali, dilihat juga sekarang daya beli masyarakat ini naik setelah gempa,” terangnya.

Ia menjelaskan, jika terjadinya penurunan ini tidak akan lama, dan perekonomian segera bergerak dinamis. Jika sudah banyak toko buka, maka sektor riil kembali menguat.

Wolini memperkirakan situasi kembali normal dalam waktu dekat, karena saat ini banyak masyarakat membutuhkan beberapa keperluan baha pokok.

“Kejadian ini mungkin hanya 4 hari saja, dan nanti akan kembali normal lagi. dan sekarang ini masyarakat pasti banyak yang ingin membeli kebutuhan, keperluan  mereka banyak,” lanjutnya.

Sementara itu Ketua Kamar Dagangan Provinsi NTB, Hery Prihatin mengatakan, bencana alam ini tidak dapat diprediksi dan hal ini juga merupakan siklus alam yang sering terjadi. Jadi tidak bisa menyalahkan alam, karena perekonomian melemah dapat sebagai acuan untuk para pengusaha bangkit lagi.

“Ya kita terima saja, yang penting bagaimana mereka ini bangkit lagi,” ujar Hery.

Ia menuturkan, ambil positifnya dari kejadian tersebut. dimana satu sisi bencana alam ini juga bisa mendatang lapangan pekerjaan, dan pertumbuhan ekonomi NTB akan kembali lagi perkembangan.

“Di satu sisi membawa berkah dimana proyek-proyek  ini nanti akan membangun rumah lagi, dan banyak lapangan pekerjaan,” katanya.

Hery berharap dapat mengambil sisi positif dari kejadian ini, sebagai bentuk kebangkitan kembali dan berbenah.  Seperti di pariwisata, kita bisa berbenah apa saja yang kurang dari segi fasilitasnya.

“Mungkin karena kurang saran dan prasarana pos majornya kurang dan pelataran untuk emergency, termasuk  standar bangunannya juga,” tandasnya.

AYA




Pasar Murah Digelar Dinas Perdagangan Dan Distributor Untuk Stabilkan Harga

Beberapa distributor ayam dan daging juga juga dihadirkan dalam pasar murah

Hj Putu Selly Andayani

MATARAM.lombokjournal.com – Menstabilkan harga bahan pokok (bapok) saat ini menjadi perhatian pemerintah. Sebab menjelang perayaan hari raya Idhul Adha, dalam tiga hari terakhir terjadi kenaikan harga bapok, khususnya beras.

Dinas Perdagangan (Disdag) NTB menggelar pasar murah di halaman Kantor Disdag NTB, guna untuk mensetabilkan harga bapok menjelang perayaan Idul Adha (Qurban).

Kepala Disdag NTB, Hj Putu Selly Andayani mengatakan, menghadapi hari Raya Qurban. Dinas perdagangan bersama distributor dan pelaku usaha berkomitmen untuk mengadakan pasar murah, yang digelar sejak hari Rabu dan Jumat  (1-3 Agustus).

“Kami adakan pasar murah ini untuk menstabilkan harga Bapok,” ujarnya, Jumat (3/8).

Ia menuturkan, pasar murah tersebut mengandeng beberapa distributor besar serta ritail moderen yang ada di kota Mataram.

“ Dan ini memang kami tidak ada anggarannya. Hanya kami minta dengan kerjasama dengan diatributor juga, semua  berdasarkan komunikasi,” tuturnya.

Selly mengungkapkan, beberapa distributor ayam dan dagaing juga juga dihadirkan dalam pasar murah tersebut. Sebab beberapa pecan lalu, harga daging ayam sempat meroket menyentuh harga Rp 70 ribu per kg dipasar.

“Tadi PT MSJ yang distributor besar, menjual harga 36 ribu per kg  dan sudah habis 100 kg tidak sampai dalam satu jam,” ucapnya.

Selanjutnya, Selly membeberkan akan terus mengadakan pasar murah, jika harga dipasar tidak stabil dan jika ada permintaan.

Dan dipastikan pasar murah jhga akan digelar menjelang perayaan Natal dan tahun baru, guna memastian bapok di NTB aman.

“Yang jelas pasar murah ini, untuk memastikan kepada masyarakat bahwa stok bapok itu aman, jadi dengan pasar murah itulah kita saksikan bersama bahwa bahan pokok itu selama ini aman walaupun cuaca ekstrim,” pungkasnya.

AYA




Bulan Juli,  Inflasi NTB Di Atas Angka Inflasi Nasional

Laju inflasi Nusa Tenggara Barat tahun kalender Juli 2018 sebesar 2,16 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi tahun kalender Juli 2017 sebesar 2,60 persen

MATARAM.lombokjournal.com — Badan Pusat statistik ( BPS ) NTB merilis pada bulan Juli 2018, Nusa Tenggara Barat mengalami inflasi sebesar 0,64 persen.

Atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 131,84 pada bulan Juni 2018, menjadi 132,69 pada bulan Juli 2018.

Hal ini disampaikan Kepala BPS NTB Endang Triwahyuningsih,Rabu (1/8) di Kantor BPS NTB di Mataram.

“Angka inflasi ini berada di atas angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,28 persen,” ujarnya.

Endang menyatakan,  untuk wilayah Nusa Tenggara Barat, Kota Mataram mengalami inflasi sebesar 0,60 persen, dan Kota Bima mengalami inflasi sebesar 0,81 persen.

Inflasi Nusa Tenggara Barat bulan Juli 2018 sebesar 0,64 persen.

Terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan dengan kenaikan indeks pada Kelompok Bahan Makanan sebesar 1,62 persen; Kelompok Sandang sebesar 0,59 persen; Kelompok Kesehatan sebesar 0,55 persen; Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau sebesar 0,46 persen; Kelompok Transport, Komunikasi & Jasa Keuangan sebesar 0,43 persen; Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olah raga sebesar 0,34 persen; Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan bakar sebesar 0,21 persen.

Laju inflasi Nusa Tenggara Barat tahun kalender Juli 2018 sebesar 2,16 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi tahun kalender Juli 2017 sebesar 2,60 persen.

“Sedangkan laju inflasi “tahun ke tahun” Juli 2018 sebesar 3,25 persen lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi “tahun ke tahun” di bulan Juli 2017 sebesar 2,70 persen,” tutur Endang.

AYA