Rinjani Saatnya Diberi Kesempatan Bernapas 

Musim hujan membawa risiko tinggi untuk pendakian Gunung Rinjani

MATARAM,LombokJournal.com – Pada saatnya alam juga butuh waktu beristirahat. Masa penutupan Gunung Rinjani memberi ruang bagi tanah dan vegetasi untuk pulih, satwa kembali tenang, serta tekanan aktivitas manusia berkurang. 

Ini saatnya kesadaran memberi ruang bagi alam, kembali seimbang, bagi jalur untuk pulih, dan bagi ekosistem untuk tumbuh tanpa gangguan.

BACA JUGA : Pencegahan Perkawinan Anak di NTB

Ketika langkah-langkah pendaki berhenti sejenak, itulah saatnya Rinjani memasuki masanya untuk bernapas dan memulihkan diri.

Penutupan pendakian Gunung Rinjani seperti yang dikutip dari Instagram Balai Taman Nasional Gunung Rinjani bukanlah larangan, melainkan bentuk perlindungan untuk pendaki, untuk alam, dan untuk masa depan Rinjani itu sendiri. 

Musim hujan membawa risiko tinggi untuk pendakian Gunung Rinjani. Curah hujan tinggi membuat jalur licin, kabut tebal, hingga aliran air yang menutup lintasan.

Curah hujan tinggi membuat jalur licin, kabut tebal, hingga aliran air yang menutup lintasan. 

Risiko hipotermia dan kecelakaan meningkat signifikan. Keselamatan adalah prioritas utama.

BACA JUGA: Desa Berdaya, NTB Tangani 106 Desa Prioritas

Selama periode 1 Januari hingga 31 Maret 2026 seluruh jalur pendakian Gunung Rinjani ditutup sementara. 

Penutupan pendakian Rnjano ini mencakup jalur Senaru, Torean, Sembalun, Timbanuh, Tetebatu, dan Aik Berik. 

Penutupan pendakian Rinjani dimanfaatkan untuk perbaikan jalur, pemeliharaan fasilitas, dan evaluasi pengelolaan pendakian. Agar saat dibuka kembali, Rinjani lebih aman dan lebih siap menyambut musim pendakian dibuka kembali.

Rinjani akan selalu di sini, megah dan menanti.

BACA JUGA :  Sekretaris Derah NTB ke XIV, Siapa?

Hingga waktunya tiba, mari kita jaga dari kejauhan dengan doa, kepedulian, dan rasa hormat.

Beristirahat hari ini, demi keindahan yang lestari esok hari.(*)

 




Cara Ajarkan Anak agar Bisa Jaga Diri 

Anak perlu diajari cara mengenali situasi tidak aman, berani menjauh, mencari pertolongan, dan segera bercerita kepada Ayah atau Ibu.

MATARAM.LombokJournal.com ~ Mengajarkan anak soal tubuhnya bukan hal tabu. Justru, ini merupakan cara penting agar anak tumbuh dengan rasa aman dan berani menjaga dirinya sendiri.

Melansir konten edukasi dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Perlindungan Anak), sejak dini anak perlu diajarkan cara ada bagian tubuh pribadi yang tidak boleh disentuh atau dilihat sembarang orang, baik pada anak laki-laki maupun perempuan. 

BACA JUGA : Pencegahan Perkawinan Anak di NTB

Anak juga perlu tahu cara memahami bahwa tubuhnya berharga dan punya batasan.

Ajarkan dengan bahasa sederhana bahwa bagian tubuh tertentu hanya boleh disentuh oleh orang tertentu, dalam kondisi tertentu. Misalnya oleh orang tua saat membantu mandi, atau oleh dokter dengan pendampingan.

Tak kalah penting, tanamkan kewaspadaan

BACA JUGA : Desa Berdaya, NTB Tangani 106 Desa Prioritas

Anak perlu diajari cara mengenali situasi tidak aman, berani menjauh, mencari pertolongan, dan segera bercerita kepada Ayah atau Ibu.

Yang paling utama ajarkan anak cara berani bilang “TIDAK”. Karena melindungi tubuh sendiri adalah hak setiap anak.

BACA JUGA : Cuaca Ekstrem, BPBD Pimpin Komando Terpadu

Edukasi kecil hari ini, berdasarkan data dan rekomendasi Komnas Perlindungan Anak, bisa menjadi perlindungan besar di masa depan.(*)

 




Pencegahan Perkawinan Anak di NTB

Sosialisasi dan edukasi kepada orang tua serta masyarakat luas untuk pencegahan perkawinan anak itu masih sangat dibutuhkan

MATARAM.LombokJournal.com ~ Upaya pencegahan perkawinan anak ditegaskan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi NTB, Sinta Agathia.

Ditegaskannya, dalam pencegahan perkawinan anak itu penting melibatkan suara anak dan remaja secara langsung dalam upaya pencegahan perkawinan anak. 

BACA JUGA : Sekretaris Daerah NTB ke XIV, Siapa?

Sinta Agathia mengatakan, anak-anak kerap memiliki pemahaman yang lebih jujur dan mendalam mengenai realitas perkawinan anak yang terjadi di lingkungan mereka.

Hal itu disampaikan Bunda Sinta saat hadir dalam kegiatan Youth Consultation dengan tema pencegahan perkawinan anak yang diselenggarakan Plan International Indonesia di Mataram, Rabu (18/02/26).

Diungkapkannya, TP-PKK telah terjun langsung selama satu tahun terakhir, dan menyadari bahwa masih ada pendekatan yang belum tepat sasaran.  

“Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan masukan dari anak-anak dan remaja agar intervensi yang dilakukan benar-benar efektif,” ungkap Ketua Tim TP-PKK NTB..

Bunda Sinta menekankan pentingnya setiap keluarga untuk memahami bahwa perkawinan tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Justru menambah beban baru dalam kehidupan keluarga. 

Karena itu, sosialisasi dan edukasi kepada orang tua serta masyarakat luas untuk pencegahan perkawinan anak itu masih sangat dibutuhkan. “Agar remaja dapat menikmati masa mudanya melalui kegiatan yang produktif dan positif,” katanya..

Lebih lanjut dijelaskan, permasalahan perkawinan anak di NTB sangat kompleks dan penanganannya. Tidak bisa diseragamkan antara wilayah Lombok dan Sumbawa.

“Sering kali adat disalahkan, padahal faktanya kasus serupa juga terjadi di wilayah lain. Ini adalah persoalan sistemik yang saling berkaitan, seperti mata rantai, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga migrasi tenaga kerja,” ujarnya.

Dirinya, juga mengapresiasi adanya pendekatan di luar jalur pengadilan, yang dinilai lebih persuasif dalam memberikan pemahaman kepada anak-anak dan keluarga. 

Bahkan, sejumlah pemerintah kabupaten telah menunjukkan komitmen dalam pencegahan perkawinan anak itu. 

Salah satunya dengan percepatan pengesahan peraturan bupati terkait pencegahan perkawinan anak. Serta keberhasilan menggagalkan sejumlah permohonan dispensasi nikah.

Hal itu dilakukan melalui edukasi dan pendampingan melalui program khususnya gerakan Sahabat Pengadilan dan Program Gemercik (Gerakan Meraih Cita tanpa Kawin Anak) yang diinisiasi oleh Yayasan Plan International Indonesia. 

Prioritas Utama

Dalam kesempatan sama, Sabaruddin, projek manager Yayasan Plan International Indonesia menyampaikan, pencegahan perkawinan anak merupakan salah satu prioritas utama selama sepuluh tahun terakhir.

BACA JUGA : Cuaca Ekstrem, BPBD NTB Pimpin Komando Terpadu

Program itu dijalankan melalui berbagai program, seperti Yes I Do!, Let’s Talk!, dan GEMERCIK (Gerakan Meraih Cita tanpa Kawin Anak). Program GEMERCIK sendiri menitikberatkan pada pelibatan anak dan remaja, penguatan kapasitas satuan tugas, serta kolaborasi lintas sektor, termasuk pengadilan agama dan keluarga.

Plan bekerjasama dengan Kabupaten Lombok Utara mencetuskan program Gemercik dengan melakukan intervensi peningkatan kapasitas satgas perkawinan anak yang ada di Lombok Utara. 

Program ini menggabungkan anak remaja dan sahabat pengadilan sebagai wadah dalam berpartisipasi untuk melakukan edukasi kepada anal dan keluarga,” jelas Sabaruddin. A

Berdasarkan data yang dihimpun, NTB masih mencatat angka perkawinan anak yang tinggi, dengan sebagian besar permohonan dispensasi nikah disetujui oleh pengadilan agama. 

Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya pencegahan yang lebih kuat sejak hulu, terutama melalui edukasi keluarga dan remaja.

Sabaruddin menegaskan bahwa perkawinan anak bukan semata-mata kesalahan individu, melainkan hasil dari sistem yang masih memiliki banyak celah untuk diperbaiki. 

Melalui forum konsultasi anak muda ini, diharapkan lahir rekomendasi dan aksi nyata pencegahan perkawinan anak yang lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan terbaik anak. nov/her

 




Cuaca Ekstrem, BPBD NTB Pimpin Komando Terpadu

Antisipasi cuaca ekstrem dilakukan sejak dini melalui mekanisme komando terpadu 

MAARAM.LombokJournal.com ~ Menghadapi potensi cuaca ekstrem dasarian III Januari 2026, periode 21–31 Januari, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengaktifkan komando terpadu lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

Berdasarkan informasi dan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah NTB, khususnya di kawasan lereng Gunung Rinjani dan Gunung Tambora.

BACA JUGA : Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa :  Sebuah  Solusi?

Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, Ahsanul Khalik menegaskan, pemerintah daerah melakukan antisipasi cuaca ekstrem sejak dini melalui mekanisme komando terpadu yang dipimpin oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB sebagai leading sektor kebencanaan.

“Pemerintah Provinsi NTB tidak menunggu kejadian. Kesiapsiagaan dibangun berbasis prakiraan cuaca dan upaya pencegahan untuk meminimalkan risiko serta menjaga keselamatan masyarakat”, ujar Ahsanul Khalik di Mataram, Kamis (22/01/26). 

Anaalisis BMKG, potensi hujan dengan intensitas lebih dari 150 milimeter per dasarian diperkirakan mencapai 70 hingga lebih dari 90 persen di wilayah Sembalun, Bayan, Labuhan Badas, Pekat, dan Tambora. 

Wilayah tersebut merupakan kawasan strategis karena berfungsi sebagai sentra pertanian dan perkebunan. Dan memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.

Pemprov NTB telah menggerakkan OPD sesuai tugas dan fungsinya. BPBD Provinsi NTB melakukan pemantauan intensif di wilayah rawan, menyiapkan personel dan logistik kebencanaan, serta memperkuat sistem peringatan dini dan respons cepat.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) memastikan kesiapan infrastruktur pendukung, Seperti drainase, gorong-gorong, saluran irigasi, serta melakukan pemantauan dan penanganan titik-titik rawan banjir dan longsor, termasuk kesiapan penanganan darurat akses jalan.

Di sektor ketahanan pangan, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB melakukan pendampingan kepada petani untuk mengantisipasi potensi gagal panen, mendorong penyesuaian pola tanam, serta memperkuat perlindungan lahan pertanian di kawasan rawan bencana.

Dinas Sosial menyiapkan layanan kedaruratan sosial, termasuk dapur umum dan dukungan logistik bagi masyarakat terdampak apabila diperlukan evakuasi.

BACA JUGA : Konsolidasi Pendidikan Kader Pemula AMAN Mataram

Unsur TNI/Polri juga digerakkan, Basarnas, Taruna Siaga Bencana (Tagana), relawan kebencanaan, pemerintah kabupaten/kota, hingga pemerintah desa guna memperkuat respons dan koordinasi di lapangan.

“Koordinasi ini dibangun sejak awal agar risiko cuaca ekstrem dapat ditekan semaksimal mungkin, keselamatan masyarakat terjaga, dan aktivitas ekonomi, khususnya di kawasan sentra pangan, dapat tetap berlangsung”, pungkas Ahsanul Khalik. (edo/jmy)

 




Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Sebuah Solusi?

Kenanpuan pesantren adalah menerjemahkan pendidikan akhlak menjadi tindakan nyata

MATARAM.LombokJournal.com ~ Belum lama ini, kita dikejutkan berita-berita pilu: pengeroyokan siswa terhadap guru, bullying yang berujung luka fisik dan mental, hingga kekerasan verbal yang menjadi “bahasa sehari-hari” di kalangan pelajar. 

Penulis: Muhamad Arifin: Dosen STIS Darul Falah Pagutan Mataram NTB)

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2023 menunjukkan tingginya angka kekerasan di lingkungan pendidikan, baik secara fisik maupun psikis. Fenomena ini adalah bukti nyata dari degradasi moral yang menggerogoti sendi-sendi karakter anak bangsa.

Situasi ini mengingatkan kita pada peringatan Bung Hatta, “…tidak jujur itu sangat susah diperbaiki.” Kekerasan dan ketidakadilan adalah anak kandung dari ketidakjujuran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Lembaga pendidikan, yang seharusnya menjadi taman yang menumbuhkan kebajikan, justru kerap menjadi panggung konflik dan penyimpangan

Ini adalah alarm darurat bahwa pendekatan pendidikan kita selama ini terlalu menitikberatkan kecerdasan akademik (kognitif) dan mengabaikan penanaman karakter (afektif) serta pembiasaan perilaku (psikomotorik) secara serius.

Lemahnya Fondasi Karakter dan Kendali Diri

Banyak analisis menyebutkan bahwa lemahnya kontrol diri, rendahnya empati, dan kaburnya nilai hormat kepada guru dan sesama adalah akar masalahnya. Dunia digital yang tanpa batas memperparah kondisi ini, di mana kekerasan verbal dan fisik di dunia nyata seringkali merupakan lanjutan dari permusuhan di dunia maya.

Sekolah umum, dengan waktu interaksi yang terbatas dan sistem yang seringkali terjebak pada formalitas kurikulum, kesulitan membangun fondasi karakter yang kokoh. Pendidikan karakter menjadi sekadar mata pelajaran, bukan nafas yang menghidupi seluruh aktivitas sekolah.

Lalu, adakah alternatif ekosistem pendidikan yang mampu membendung krisis ini? Di sinilah pesantren menawarkan model yang relevan. Sebagai sub-kultur pendidikan (Geertz & Wahid), pesantren bukan sekadar sekolah, tetapi sebuah ekosistem kehidupan. Sistem asrama menciptakan lingkungan 24 jam di mana nilai-nilai tidak hanya diajarkan, tetapi “dihidupi” dan “diawasi” secara kolektif.

Kontrol ketat terhadap gadget dan akses internet, seperti diungkapkan Arifin (2024), bukan bentuk pengasingan, melainkan strategi untuk menciptakan ruang aman bagi pembentukan konsentrasi dan karakter. 

Dalam ekosistem ini, hubungan antara santri, ustadz, dan kiai dibangun dengan pondasi rasa hormat (ta’dzim) yang mendalam. Kekerasan fisik atau verbal terhadap guru adalah hal yang hampir tak terbayangkan karena nilai adab kepada pengajar adalah fondasi pertama yang ditanamkan di pesantren.

Akhlak: Lebih Dari Sekedar Teori

Yang membedakan pesantren adalah kemampuannya menerjemahkan pendidikan akhlak menjadi tindakan nyata. Bukan hanya tahu bahwa bullying itu salah, tetapi santri hidup dalam lingkungan yang secara aktif mencegahnya melalui pengawasan peer group dan figur otoritas (kiai/ustadz) yang selalu hadir. Konsep “otot-otot akhlak” yang perlu terus dilatih (Indonesian Heritage Foundation, dalam Arifin, 2024) menemukan medan latihannya yang sempurna di pesantren.

Nilai-nilai inti seperti “hormat” (al-adab), “kasih saying” (ar-rahmah), “tanggung jawab” (al-mas’uliyyah), dan “cinta damai” (as-silm) dikembangkan bukan melalui seminar, tetapi melalui interaksi harian: mengantri mandi, menghormati teman yang sedang menghafal, menyelesaikan konflik dengan mediasi, hingga kerja bakti membersihkan lingkungan. Inilah pendidikan karakter yang aplikatif, yang langsung menyentuh ranah perilaku.

Kontribusi  Pesantren untuk Pendidikan Nasional

Maraknya kekerasan di lembaga pendidikan adalah cermin kegagalan kita membangun ekosistem karakter yang integral. Pesantren, dengan segala keunikannya, menunjukkan bahwa pembentukan karakter memerlukan:

  • Waktu yang cukup: Tidak bisa dicicil 2 jam pelajaran per minggu.
  • Keterlibatan komunitas penuh: Guru, pengasuh, dan senior semua adalah pendidik
  • Keteladanan yang konsisten: Figur otoritas (kiai/ustadz) hidup di tengah dan menjadi contoh utama.
  • Sistem yang mendukung: Aturan, rutinitas, dan pengawasan yang jelas untuk membentuk kebiasaan.

Pemerintah dan pelaku pendidikan formal perlu melihat pesantren bukan sebagai lembaga eksklusif, tetapi sebagai laboratorium hidup pendidikan karakter. Kolaborasi bisa dibangun, misalnya dengan program pertukaran pengalaman, integrasi model mentoring asrama ke sekolah tertentu, atau pelatihan guru yang menekankan pada keteladanan dan pendekatan holistik.

Seperti pepatah Arab yang dikutip penulis, “Syubbānul yaum rijālul ghad”: Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Jika kita ingin masa depan dengan pemimpin yang berintegritas, empatik, dan menjunjung tinggi perdamaian, maka kita harus memperbaiki ekosistem pendidikan yang membentuk mereka hari ini.

Pesantren, dengan warisan panjangnya, menawarkan secercah solusi yang patut dipertimbangkan dan diadaptasi dengan konteks kekinian. Krisis kekerasan di sekolah adalah panggilan mendesak untuk tidak lagi memandang pendidikan karakter sebagai pelengkap, tetapi sebagai inti dari proses pembelajaran.

Referensi:

Arifin, M. (2024). *Pendidikan Pesantren: Solusi atas Moralitas Anak     Bangsa?*(Artikel orisinal yang dikembangkan).                                                                                                                                                                            Wahid, A. & Geertz, C. (Konsep pesantren sebagai sub-kultur).                                                                                              Indonesian Heritage Foundation. (Konsep 9 Pilar Karakter dalam Arifin, 2024).                                                                    Data dan Laporan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mengenai kekerasan di lingkungan pendidikan.

 




Konsolidasi Pendidikan Kader Pemula AMAN Mataram

Masyarakat adat Lang-lang sangat mengapresiasi kegiatan  konsolidasi kader pemula AMAN Mataram

MATARAM.LombokJournal.com ~ Kader AMAN dari semua komunitas adat se Kota Mataram yang sudah menempuh pendidikan kader pemula, melakukan konsolidasi Sabtu, (27/12/25) di  Mataram (Wilayah adat Komunitas Masyarakat adat Lang-lang) Dasan Agung Kota Mataram

Ketua PH AMAN Mataram, L.M. Iswadi Athar dalam sambutan dan arahan mengatakan, konsolidasi kader adalah wadah berkumpulnya kader yang telah menempuh pendidikan kader pemula Masyarakat Adat, dan memahami keberadaan AMAN sebagai rumah besar bagi perjuangan Masyarakat adat

BACA JUGA : Konsolidasi Kelompok Usaha Masyarakat Adat (KUMA)

“Konsolidasi kader mengambil tema, mencetak kader yang solid dan militan membangun organisasi AMAN,” ungkap iswadi 

Iswadi Athar mengatakan, peduli lingkungan dan bumi  dengan aksi membagikan ‘Green trashbag’ hitam dan putih untuk memilah sampah di masyarakat adat di Kota Mataram merupakan wujud cinta pada kamapung halaman.

Rumah yang disebut ‘Bale Mentaram’ agar sampah tertangani dengan baik, karena penting kepedulian warga. Konsolidasi komunitas masyarakat adat di kota Mataram akan menjaga bumi dengan tidak membuang sampah sembarangan. 

Lebih dari itu akanmemilah sampah rumah tangga sesuai dengan ketentuan plastik Hitam (anorganik) dan Putih (organik). 

Ketua Komunitas adat Lang-Lang, H.Parmanmengatakan, masyarakat adat Lang-lang sangat mengapresiasi kegiatan  konsolidasi kader pemula AMAN Mataram.

“Silahkan kader AMAN terus memperjuangkan masyarakat adat dan tokoh serta pemimpin adat, kami yang berbasis komunitas lang-lang adat siap mendukung penuh,” Kata H Paqrman.

BACA JUGA : Sosialisasi Perempuan AMAN dan Pembentukan PHKom Krekot

Ia menegaskan, pintu selalu terbuka bagi komunitas adat. Diharapkan bisa bersinergi mengayomi adat dan budaya Mataram/

“Kita hidupkan kesenian kita, dan kita selamatkan adat dan budaya kita tetap lestari di Kota Mataram yang sama-sama kita cintai,” tegas Parman.

Menanggap keterbukaan itu, Iswadi menjelaskan, Kader Pemula adalah tulang punggung generasi AMAN dan gerakan Masyarakat Adat.

“Dan kedepan akan menjadi pemimpin masyarakat adat ‘lek Bale Mentaram’ ini,” kata Iswadi.

Acara konsolidasi internal dilanjutkan antara organisasi induk PD AMAN Mataram bersama ketua komunitas adat se Mataram bersama organisasi sayap AMAN.

Dan konsolidasi itu berlangsung, diantaranya BPAN Mataram; PKam Krekok dan PKam Tanjung Karang serta PEREMPUAN AMAN; PHKom Krekok dan Tanjung Karang.

BACA JUGA : Penguatan Kapasitas Pengurus dan Anggota PHKom Tanjung Karang

Kegiatan itu berlangsung untuk melakukan konsolidasi berbagai bentuk kegiatan bersama ke depan dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat. (***).

 

 




Manajemen Kelompok Usaha Masyarakat Adat (KUMA)

Dalam peningkatan kapasitas manajemen  tersebut menghadirkan pemateri dari Dinas perdagangan

MATARAM.LombokJournal.com ~ Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Mataram (PD AMAN Mataram) mengadakan kegiatan penguatan kapasitas manajemen usaha kelompok usaha masyarakat adat (KUMA), di Aula Dinas Perdagangan Propinsi NTB Rabu-Kamis (19-20/11/25)

Penguatan Kapasitas Manajemen Usaha KUMA ini, terdiri dari dua KUMA; KUMA Krekok dan KUMA Tanjung Karang yang telah berproses dan menghasilkan produk usaha.

BACA JUGA : Sosialisasi Perempuan Aman dan Pembentukan PHKom Krekok  

Ketua PH AMAN Mataram, L. M. Iswadi Athar. Peserta yang hadir ini bersasal dari Kelompok usaha masyarakat adat dari dua KUMA; KUMA Krekok yang mengolah berbahan baku kelapa menjadi olahan minyak seperti VCO dan minyak rempah. KUMA Tanjung Karang yang mengolah bahan baku ikan laut menjadi abon ikan laut dan souvenir lainnya.

“Kehadiran mereka untuk kita latih dalam peningkatan kapasitas dan pengetahuan dalam manajemen mengolah produk usaha,perizinan usaha, sertifikasi halal, kemasan, dan lain lain. DisIni kami hadir bagaimana untuk mendorong usaha masyarakat adat bisa berdaulat dan menjadi tuan di tanahnya sendiri,” ungkap Iswadi.

Dalam peningkatan kapasitas manajemen  tersebut menghadirkan pemateri dari Dinas perdagangan, yang diwakili oleh kepala UPTD NTB Mall Lalu Afgan Muharor. 

Dalam penyampaianya ia menyatakan bahwa kelompok usaha berbasis masyarakat adat seperti ini sangat bagus dalam mengangkat hasanah yang ada di masyarakat, yakni berupa produk usaha masyarakat adat oleh AMAN Mataram. 

BACA JUGA :Penguatan Kapasitas Pengurus dan Anggota PHKom Tanjung Karang

“Kami bangga dan sangat mengapresiasi ini, kami akan kurasi produk usaha yang dimiliki AMAN Mataram untuk kita bisa display di outlet UPTD Kami di NTB Mall,” jelas Iswadi.

Acara kegiatan berjalan dan menghadirkan pemateri dari dinas perindustrian dan UKM, BPOM, Lembaga sertifikasi Halal, Perbankan, dan HIPMI serta dari fasilitator lainnya tentang manjemen bisnis canvas

 

 




Sosalisasi PEREMPUAN AMAN dan pembentukan PHKom Krekok

Perwakilan PEREMPUAN AMAN tampak  hadir yakni Dewi Kustina dalam kegiatan sosialisasi tersebut

MATARAM.LombokJournal.com ~ Sosialisasi Perempuan AMAN dan pembentukan PhKom Krekok yang dilaksanakan Minggu (16/11) di Sekolah adat Grude Krekok  Wilayah adat Krekok Rembiga kota Mataram

Ketua PH AMAN Mataram, L.M Iswadi Athar menyambut baik sosialisasi Perempuan Aman ini. Menurutnya, pihak organisasi induk siap memfasilitasi kegiatan pembentukan organisasi sayap perempuan AMAN PHkom Krekok tentu dengan koordinasi yang baik dengan Seknas PEREMPUAN AMAN. ke depan harapannya. 

BACA JUGA : Manajemen Kelompok Usaha Masyarakat Adat  (KUMA)

Dengan terbentuknya PHkom Krekok ini menambah partner dalam membangun komunitas adat di Krekok, dan tentu menghidupkan sekolah adat juga.

Ketua Komunitas adat Krekok, M. Saleh memberikan pemaparan di tengah kegiatan sosialisasi Perempuan Aman ini. Ia berharap dengan adanya perempuan Phkom Krekok ke depan kerja-kerja di Komunitas adat ada yang membantu dalam pelaksanaan kegiatan di komunitas dan termasuk sekolah adat.

Perwakilan PEREMPUAN AMAN hadir Ibu Dewi Kustina dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Ia menyampaikan tentang mekanisme pembentukan Perempuan AMAN sesuai dengan statuta Perempuan AMAN. 

Yaitu melalui tahapan sosialisasi perempuan AMAN, dan dihadiri oleh perempuan komunitas adat setempat di Krekok sejumlah 25 orang dan mau bersama-sama komitmen membentuk dan mendirikan perempuan AMAN PhKom Krekok.

BACA JUGA : Jambore Kampung BPAN PKam Krekok

Mekanisme pengajuan calon ketua wilayah pengorganisasian PH Kom Krekok dilaksanakan sesuai dengan aturan dengan musyawarah mufakat yang memilih saudari Sri Maharani sebagai Ketua PHkom Krekok.

Sri Maharani berharap, untuk bersama-sama membangun PEREMPUAN AMAN dengan tekad berkeadilan, setara dan semangat.

 

 

 




Penguatan Kapasitas Pengurus dan Anggota PHkom Tanjung Karang 

Menurut L. M. Iswadi Athar, kegiatan internalisasi dan penguatan kapasitas bagi pengurus dan anggota sangat penting

MATARAM.LombokJournal.com ~ Pengurus PHKom Tanjung karang  Sabtu (15/11/25) melaksanakan kegiatan internalisasi dan penguatan kapasitas anggota dan pengurus PHKom Tanjung Karang yang dilaksanakan di komunitas adat Tanjung Karang.

Dalam kegiatan penguatan kapasitas anggota dan pengurus ini mengmbil tema ‘bersama-sama membangun sumberdaya masyarakat adat untuk kesuksesan bersama’

BACA JUGA : ManajemenUsaha Kelompok Usaha Masyarakat Adat (KUMA)

Ketua PH AMAN Mataram, L. M. Iswadi Athar Perempuan AMAN sebagai organisasi sayap yaitu PHKom tanjung Karang kami sangat apresiasi. Menurutnya, kegiatan internalisasi dan penguatan kapasitas bagi pengurus dan anggota juga penting, untuk mengetahui tugas dan fungsi masing-masing dalam menjalankan roda aorganisasi.

“Disini kami melihat pertumbuhan anggota PHkom terus bertambah, silahkan terus ‘saling tulung, saling anton’ dan terus gotong royong saling bina.” kata Iswadi

Ketua PHkom Tanjung Karang, Nana Marliana. Kami dari PHKom Tanjung Karang semenjak terbentuk terus berinovasi dan terus melangka bersama perempuan-perempuan kampung. “Alhamdulilah kita bisa melaksankan kegiatan ini,  berupa kegiatan internalisasi dan penguatan kapasitas, baik pengurus dan anggota,” ujarnya. 

Tentu perempuan AMAN dengan jargon ‘berkeadilan, setara, dan semangat’ sebagi symbol semangat dan perjuangan kami.

Tokoh adat kampung, Ketua komunitas Adat Tanjung Karang, Moh Amin, mengatakan,  keberadaan perempuan adat di kampung kami di kampung Sembalun komunitas adat Tanjung Karang sangat diharapkan.

“Mohon kami dibina dalam penguayan kapasitas, dan silahkan dibina kami dari kampung siap mendukung sepenuhnya kegiatan AMAN Mataram,” ujar Amin. 

BACA JUGA : SOSIALISASI Perempuan AMAN dan Pembentukan PHkom Krekok

Hadir dalam kesempatan yang sama Ibu Denda Suria Sari (Damanas Bali Nusra). 

Di tengah kegiatan penguatan kapasita anggota itu, ia mengajak PEREMPUAN AMAN PhKom Tanjung karang untuk tetap bangkita bersatu memperjuangkan hak-hak  Perempuan adat, terus bangkit bersatu; berdaulat, mandiri dan bermartabat. (***)

 

 




Jambore Kampung BPAN Pkam Krekok

Jambore kampung di Krekok ini sebagai wadah anda berorganisasi dan berkumpul untuk bersinergi membangun pemuda-pemudi kampung

MATARAM.LombokJournal.com ~ Pemuda Kampung yang tergabung dalam Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), PKam Tanjung Karang melaksanakan Jambore Kampung Jum’at,(14/11/25) di Komunitas adat Krekok, Mataram

Ketua BPAN Mataram Mawardi effendi saputra bahwa Jambore PKam Krekok ini untuk menjawab bahwa di Komunitas Krekok ada pemuda adatnya yang tergabung dalam BPAN. Dan pada hari ini bisa melaksanakan jambore kampung.

BACA JUGA : Pendidikan Kader Pemuda PD Aman Mataram  

Hal itu terlaksana setelah proses panjang secara adminsitratif sesuai dengan Statuta BPAN. Intinya kita Jambore Pkam Krekok

Dalam sambutannya Ketua PH AMAN Mataram, L.M. Iswadi Athar, Pemuda Kampung Krekok, memiliki hak yang sama dengan pemuda kampung lainnya untuk bangkit dan mandiri

“Jambore kampung di Krekok ini sebagai wadah anda berorganisasi dan berkumpul untuk bersinergi membangun pemuda-pemudi kampung dalam melindungi dan memperjuangkan hak-hak masyarajat adat,” kata Iswadi.

Hadir dari DePAN Bali Nusra, Hilmiatun.  Jambore Pkam Krekok ini sesuai dengan Statuta BPAN. kegiatan ini yang dahadiri oleh pemuda adat dari Komunitas adat Krekok. 

Salah satu agenda jambore kampung ini adalah memilih ketua PKam Krekok dan rekomendasi program-pogram PKam Krekok ke depan. 

Dalam jambore Pkam Tanjung Karang hasil musyawarah dan mufakat memilih saudari Dende Zahratul Hilal sebagai ketua PKam Krekok. 

BACA JUGA : Jambore Kampung BPAN PHKom Tanjung Karang 

“Kami siap mengibarkan bendera Pemuda, BPAN dan menjadi garda terdepan komunitas adat Krekok,” kata Zahratul Hilal. (***)