Cerita Pendek MULUT RAMLI oleh Kongso Sukoco

Tiap Ramli mengucapkan sesuatu cerita, bahkan hanya satu kata pun, mulutnya bertambah melebar

lombokjournal.com ~
MARIKI mendengar teriakan kaget orang-orang kampung. Di gang kampung tempat tinggalnya yang padat penduduk itu terdengar suara riuh. Suara komentar-komentar bersautan tertangkap nadanya penuh khawatir. Pasti tengah terjadi peristiwa mengejutkan, pikir Mariki. Masih di pagi yang gelap saat Mariki meloncat dari tempat tidur dan mencaritahu apa yang tengah terjadi. Ia menyibak kerumunan tetangganya, mencoba mendekati Ramli.  Orang-orang di kampung itu terperangah, termasuk Mariki yang baru saja menyadari apa yang dilihatnya.
Ya, ini soal Ramli, Kepala Lingkungan atau Kaling di kampung kami Dasan Beleq. Sudah dua kali terpilih sebagai pejabat kampung, karena ia pandai memikat dengan beragam cerita, ia masih muda, bertubuh kecil namun lincah, bersemangat dan menggebu gebu meski sebenarnya suka membual. Ia dipilih penduduk dusun yang sebagian besar menempati rumah sempit tanpa halaman yang berdesak-desakan. Ramli dianggap bagian dari mereka, yang sebagian besar bekerja sebagai buruh bangunan. Ramli sendiri semula adalah peladen dari tukang bagunan yang kalau kerja biasanya mendapat imbalan 900 ribu sehari. Sejak dipilih sebagai Kepala Lingkungan, ia mulai banyak berubah. Bakatnya suka membuat cerita yang lebih banyak  membual tampak makin berkembang. Ramli makin suka menyampaikan cerita hal baru di luar pengetahuan orang-orang kampung, yang membuat orang kampung ingin tahu lebih jauh. Misalnya, menurutnya tiap hari ia bertemu dengan Lurah, Camat bahkan Walikota. Para pembesar kota itu konon selalu minta pendapatnya bagaimana membangun kampung miskin. Kabarnya ia selalu mendesak para pembesar kota agar memperhatikan Dusun Dasan Beleq. Memperjuangkan bantuan untuk orang tua renta yang tak bisa lagi bekerja, anak-anak muda pengangguran, perbaikan jalan kampoung yang kumuh. Bahkan rehab masjid pun ia perjuangkan. Walaupun nyatanya selama Ramli jadi Kadus, yang nyata kelihatan hanya petugas Posyandu saja yang tiap minggu rutin menyambangi kampung.
Tapi Ramli saat ini harus menahan diri untuk bicara. Tiap Ramli mengucapkan sesuatu, bahkan hanya satu kata pun, mulutnya bertambah melebar. Jangankan satu kata, asal mulutnya mengeluarkan suara, akibatnya sama. Tampak muka Ramli sangat menderita, tapi mengeluarkan suara tangis pun ia mencoba menahan. Sebab tiap suara yang keluar dari mulutnya, andai pun cuma suara desis, maka ukuran mulutnya makin bertambah.  Akhirnya ia memilih diam, berkali-kali membuka kedua tangan tanda pasrah. Mariki melihat raut muka Ramli memancarkan kesedihan yang tak terbayangkan.
Beberapa orang yang mengelilingi Ramli ingin menolong tapi tapi tak tahu harus berbuat bagaimana. Karena itu Mariki mengambil tindakan menjauhkan orang-orang yang mengelilingi Ramli. Sebab khawatir kalau orang-orang itu mendekat akan memancing Ramli bersuara. Jelas resikonya.
Mariki mendorong orang-orang itu agar menjauh.
“Jangan dekat-dekat, kasihan Ramli…,” ujar Mariki.
Waktu orang-orang didorong menjauh, justru Ramli hendak melangkah mendekat.
“Kamu tetap diam, Ramli!” suara Mariki setengah membentak.
”Kenapa? Kenapa mereka disuruh menjauh?” suara Ramli yang terdengar memelas tanpa sengaja meluncur dari mulutnya.
“Diam Ramli, jangan bicara!” bentak Mariki dengan cepat.
Sudah terlambat, Ramli tak bisa menahan diri untuk tidak mengeluh. Dan siapa pun tak mungkin mencegah, mulut Ramli bergerak melebar. Beberapa saat ia mencoba beradaptasi dengan perubahan itu. Walau semula mengalami rasa sakit, akhirnya Ramli bisa menyesuakan diri. Penyesuaian ini tidak mudah, sebab perubahan ukuran mulut itu juga mempengaruhi bentuk rahang dan gusi. Itu tidak mudah, dan tentu saja sakit.
Mariki mulai berpikir, apa yang tengah terjadi dan gejala apa sesunguhnya yang menimpa Ramli. Apakah Ramli mengalami gejala medis seperti spasme otot, yaitu kejang otot wajah. Mengalami kejang otot di sekitar rahang atau wajah. Ini menyebabkan mulut tampak melebar secara tiba-tiba. Ini bisa disebabkan oleh stres, kelelahan, atau gangguan saraf. Di benak Mariki juga sempat terlintas ucapan temannya yang mengajar di Fakultas Kedokteran tentang dislokasi rahang. Rahang keluar dari posisi normalnya. Ini disertai rasa sakit, sulit menutup mulut, jelas sulit bicara.
Sambil tetap mengontrol gerakan orang banyak dan Ramli sendiri, Mariki memutar otak untuk memahami kemungkinan lain. Dalam bahasan soal saraf juga dikenal kondisi neurologis yakni gangguan pada saraf wajah, seperti dystonia atau facial tics. Ini berpengaruh pada kontrol otot dan  menyebabkan ekspresi wajah yang tidak biasa, termasuk mulut yang tiba-tiba melebar. Ada juga yang disebut Sindrom Ehlers-Danlos atau Hipermobilitas Sendi. Orang yang berada pada kondisi ini, jaringan ikat di tubuh sangat lentur, sehingga memungkinkan gerakan ekstrem, termasuk pembukaan mulut yang sangat lebar.
Tapi di tengah ingatan gejala-gejala yang membuat mulut melebar, Mariki sejenak terhenyak. Jika pelebaran mulut ekstrem yang tak bisa dikontrol dijadikan cerita fiksi atau seni teater, dapat digunakan sebagai metafora atau efek dramatis. Mariki merasa telah menangkap sesuatu. Tapi ini terjadi dalam kehidupan nyata, karena itu yang harus segera dilakukan adalah berkonsultasi dengan profesional medis
Orang-orang kampung yang berkerumun itu sambil beringsut menjauh, mulai menafsir-nafsir kenapa nasib malang itu harus menimpa Kadus. Kenapa justru Kaling yang terpilih dan yang harus menjadi korban. Memang anak muda yang sebelumnya dikenal sebagai tukang bangunan itu bergaul wajar bersama orang kampung. Perilakunya tak banyak berubah setelah ia terpilih sebagai Kaling. Tapi ada yang berubah. Hanya rumahnya yang mulai lebih bagus karena sudah direnovasi. Baru-baru ini ia sudah mengendari kendaraan matic jenis Scoopy 110 cc. Ia sering bercerita panjang lebar motor barunya yang menurutnya bergaya retro  dengan desain stylish dan elegan. Kendaraan itu, kata Ramli, merupakan hadiah dari Walikota karena ia dinilai sukses memimpin kampungnya.
Samsul anak muda yang selama ini dikenal sebagai teman dekat Ramli, menerobos dari kerumunan dan berbisik pada Mariki.
. “Ki, saya teman dekat Ramli. Tau persis perangai Ramli…” kata Samsul setengah berbisik pada Mariki. “Ini hanyalah akibat….”
Mariki menoleh. Merasa diberi kesempatan, Samsul mulai nyerocos.
Ini yang dikatakan Samsul. “Untuk memahami keadaan ini, begini Ki…. Kalau nasib malang seseorang itu ditampakkan lewat mulut, berarti yang bersangkutan selama ini banyak salah memanfaatkan mulutnya.”
Samsul makin bersemangat menyampaikan cerita karena Mariki menunjukkan minatnya untuk mendengar
“Kalau mulut sering digunakan melempar cerita bohong atau mengelabuhi, maka musibah itu akan tampak di mulut itu juga. Jangan main-main dengan mulut. Bahaya besar. Mulut itu seperti pedang bermata dua, di mata yang satu mulut berguna untuk menyampaikan kebaikan, sedang di mata lainnya mulut bisa untuk berbohong, menyampaikan janji-janji palsu, menyembunyikan maksud-maksud busuk, mulut digunakan untuk mengelabuhi.”
“Ramli selama ini tidak bisa jaga mulutnya?” tanya Mariki.
“Kalau melihat Ramli datang,” kata Samsul, “dari jauh sudah kelihatan kalau ia sudah akan berbohong…Kalau ia bicara tiga kali, ia bisa berbohong lima kali…..”
Samsul memandang tajam Mariki. Ia ingin meyakinkan, kebohongan-kebohongan yang menumpuk itu membuat Ramli harus menghadapi kenyataan ini. Ia mengaku, kalau Kaling banyak menerima bantuan untuk orang kampung, tapi ditilep atau paling jauh dibagikan ke keluarganya. Bisa jadi prang banyak yang disakiti mendoakan hal buruk untuknya, dan doa itu menjadi nyata.
“Hukuman mulut yang melebar itu tanda-tanda…. Ramli sudah tidak punya kendali atas apa yang dulu ia peralat, yaitu kata-kata!” tegas Samsul
Mariki dakam hati membenarkan ucapan Samsul. Ia hendak mengatakan sesuatu tapi diurungkan.
Karena tiba-tiba terdengar suara lenguhan yang sangat keras, ternyata keluar dari mulut Ramli. Keduanya spontan menengok ke arah Ramli. Seketika itu Mariki dan Samsul beringsut ke belakang dua langkah. Ternyata dalam waktu tak lama, tidak disangka kalau mulut dan kepala Ramli membesar dua kali lipat bahkan lebih dari sebelumnya. Benar-benar mengagetkan. Apalagi tatapan dari mata Ramli yang bentuknya jadi aneh itu tidak lagi bersahabat. Samsul menarik tangan Mariki agar lebih menjauh.
“Karena itu saya yakin….Ramli dipaksa Tuhan untuk tidak bicara dulu… supaya berhenti berbohong…” kata Samsul.
Makin lama orang-orang yang berkerumun dan mulai tidak berani mendekati Ramli itu makin paham bahwa kejadian aneh itu bukanlah cerita dalam mimpi. Kalau toh Ramli mampu menahan diri tidak berkata-kata atau akan mengutarakan sedikit cerita, tapi tak mungkin menahan isak tangisnya. Dan itu membuat orang-orang makin takjub. Bukan hanya mulut Ramli yang bertambah melebar dan membesar, termasuk gigi, juga ukuran kepalanya makin membengkak.
Meski pelahan, tapi ukuran kepala itu seperti balon ditiup. Pelan tapi pasti, terus membesar. Meski suaranya lirih, terdengar juga gemertak tulang yang membesar.  Ada yang mulai ngeri. Apakah mungkin kepala yang membesar mengikuti ukuran mulut itu akan meledak seperti balon, tak ada yang tahu.
Badan Ramli yang kecil itu tampak menderita menahan beban kepalanya. Orang-orang mulai menebak, tentu kepala yang membesar itu sekaligus merubah pikiran Ramli. Pikiran itu berubah tetap normal dan baik seperti sebelumnya atau sebaliknya. Dan apa yang kini sedang dipikirkan Ramli? Dan tiba-tiba, seperti baru tersadar, orang-orang serentak hendak membungkam mulut Ramli. Mereka pikir, setidaknya itu akan menghentikan laju pembesaran mulut Ramli.
Mariki menduga, kengerian dari perubahan mulut dan wajah itu, apalagi jika kondisinya jadi tidak berubah, dapat meningkatkan risiko depresi bagi Ramli. Apalagi jika perubahan wajah itu menyebabkan ekspresi yang permanen, seperti kesan berubah jadi monster, akan memperburuk perasaan negatif Ramli.
Selama ini Ramli sebagai orang yang mulutnya tak pernah henti berbicara. Kadang kata-katanya meluncur seperti air bah yang menenggelamkan tanpa ampun, atau senaliknya melukai tanpa ampun. Namun, hari itu berbeda. Saat mulutnya mulai menganga lebih lebar, Ramli merasakan sesuatu yang tidak biasa—bukan hanya fisiknya yang berubah, tetapi kata-katanya sendiri mulai memberontak. Kata-kata yang dulu membantunya berbohong dan menipu kini berbalik memberontak pada perintahnya. Kara-kata yang bisa terlontar hanya melenguh, mengeram atau berteriak di telinganya tanpa henti. Akhirnya, mulut itu tidak lagi menjadi alat menyampaikan maksud, tetapi rongga kosong yang akan memakan bahkan dirinya sendiri.
Tindakan pencegahan yang coba akan dilakukan orang-orang sudah terlambat. Sebab kini monster itu mulai bergerak, meski tertatih-tatih. Tubuh yang kecil itu menyanggah kepala yang terus membesar. Ketika orang-orang hendak mendekat, ia malah mengerang dan tampak marah. Ia kelihatan mulai lepas dari ketakutan dan kesedihan, sebaliknya kini  memilih berubah beringas. Mulutnya makin lebar, giginya makin besar, lidahnya menjulur-julur seperti komodo, Ramli terkesan selalu berhasrat memangsa.
“Awaaasssss…..!! Mundurrr……!!! Ramli jadi monster  buas!” teriak seseorang.
Orang-orang kampung benar-benar bersiap-siap, harus menghadapi kepala lingkungan yang kini berubah sebagai monster buas yang siap memangsa siapa saja.
Mariki, Samsul bersama orang kampung bergerak secepatnya menjauh. Mereka tak mampu lagi membaca air muka Ramli. Sebab air muka itu sudah tak bisa diraba karena ukurannya telah berubah mengerikan. Mulut itu terus mendesis, dan secara perlahan meneteskan gumpalan air liur.
“Aku lapaaaarrrrrrrr…….” Monster itu seperti merintih.
Tapi karena keluar dari kepala dan mulut yang besar, suara itu sangat memekakkan telinga. “Aku lapaaarrrrrr……………!!!!!”
Suara itu seperti suara monster.  Nadanya makin tak jelas, apakah minta dikasihani atau sedang mengancam. Orang-orang lari menyelamatkan diri. Waktu monster itu bergerak dengan lidah menjulur-julur keluar, orang-orang mulai kocar-kacir. Satu dua orang lari tergopoh-gopoh  melaporkan peristiwa ini ke Kantor Polisi terdekat. Sedang yang lainnya termasuk Mariki dan Samsul masih menguatkan nyali untuk menghadang, meski kehilangan nyali untuk mendekat. Sebab lidah monster itu menjulur seperti siap menyabet dan melahap apa pun.
Orang tua, perempuan, anak-anak, orang sakit, berhamburan keluar rumah. Tiap rumah terjadi kepanikan. Siapa sangka di kampung yang sebelumnya aman tentram, bahkan anak-anak muda yang hendak berbuat onar pun memilih ke luar kampung, tiba-tiba kedatangan monster pemangsa. Ramli memakan apa saja yang ada di dekatnya. Lidahnya menyabet ayam yang kebetulan berkeliaran di depannya, bahkan seekor kucing ikut dimangsa. Mulut monster itu belepotan darah.
“Raammmmlliiiiiiiii!!!!”
Sebelum menyadari siapa yang berteriak, orang-orang melihat sosok laki-laki menghadang. Laki-laki itu bertubuh kecil, mukanya tampak pucat, meskipun suaranya melengking. Namun kelihatan tak gentar menghadapi monster lamban tapi garang siap menjulurkan lidahnya. Ketika monster itu berdesis, laki-laki justru maju mendekat beberapa langkah.
“Ramli!” ia membentak. “Kamu memang pantas menjadi monster, sebab kamu memang monster yang hidup di kampung.”
“Kamu sekarang menjijikkan. Kamu hanya pengen lari dari kenyataan. Normal atau tidak normal kamu tetap tidak berharga. Karena apa? Karena mulutmu hanya untuk membual dan memperdaya orang-orang kampung. Mulutmu sering melenceng. Katanya memperjuangkan orang kampung tapi kalau ada bantuan untuk diri sendiri, paling jauh untuk keluargamu sendiri,” katanya.
Laki-laki itu mengangkat tangannya.
“Sekarang, tidak ada yang bisa kamu tutup-tutupi lagi. Bersuaralah lebih keras agar mulutmu makin membesar, dan kamu makin merasa lapar. Sebab kamu memang tidak pernah kenyang. Sebelumnya kamu tidak pernah malu dengan mulutmu. Justru kamu sering bangga. Padahal tiap kata-katamu berbau busuk. Seperti inilah wajahmu sebelumnya, monster yang siap membunuh siapa saja dengan mulut melencengmu. Mulut yang seharusnya menjadikan seseorang mulia, tapi kamu justru sebaliknya…………………….  “.
Laki-laki itu terus bicara, bahkan memaki monster Ramli. Anehnya, monster itu tiba-tiba kehilangan nyali. Kelihatan ia kecut dan mundur beberapa langkah. Berbalik dan pergi menjauh. Belakangan diketahui monster itu pergi jauh ke hutan, menyembunyikan rasa malu karena mulut dan wajahnya nerubah menyerupai monster.
Orang-orang mulai berani mendekat, dan ingin mengetahui siapakah laki-laki kecil itu sebenarnya. Seketika itu orang-orang terkesima. Ternyata laki-laki itu adalah Ramli.
Mariki hanya tersenyum membayangkan cerita tentang peristiwa yag menggegerkan kampung itu.
Oktober 2012



Cerita Pendek BENCANA KEPALA

BENCANA KEPALA

“Isi kepala yang carut-marut membuat politik seperti cerita layaknya benang kusut. Kalian hanya tahu menumpuk modal, memperkaya diri, menggadaikan tanah air.”

JAM DINDING TUA di sudut kamar itu berdentang nyaring. Kepala Sabrot.seolah digedor suara logam jam dinding yang memantul dari embok kusam yang berlumut itu. Suara itu menegaskan kesepian seorang veteran yang masih hidup namun dilupakan. Malam itu, udara pengap, langit-langit rumahnya menghitam karena asap lampu minyak yang sering dipakai ketika listrik padam.
Sabrot tergagap bangun dari dipan kayu yang keras. Tubuh renta itu bergidik, matanya yang keruh mencari-cari sesuatu di sekitar tempat tidur.
“Sudah jam berapa ini?” gumamnya. “Besok ada peringatan kemerdekaan. Aku harus tidur, harus siap.”
Namun semakin keras ia meyakinkan dirinya untuk tidur, semakin gelisah tubuhnya. Tangannya meraba laci kosong, membuka lemari tua, mengobrak-abrik kotak besi. Hatinya makin cemas.
“Mana pistolku?” teriaknya. “Pistol itu harus kubawa besok! Aku tak boleh lupa!”
Dentang jam semakin keras, memekakkan telinga. Dalam keremangan kamar, suara-suara samar ikut masuk. Dari luar kamar terdengar suara-suara mengejek. Entah tetangga, entah sekadar gema dari kepalanya.
“Pistol? Hahaha… biasanya yang kau cari botol, bukan pistol. ”Pak Tua, negeri ini bahkan belum merdeka. Untuk apa pistol? Yang perlu dicari uang, bukan senjata.”
Sabrot mendesis, wajahnya merah padam.
“Belum merdeka? Kalian tak tahu apa-apa! Aku saksi sejarah! Aku ikut berperang, menegakkan republik dari tangan penjajah! Jangan berani menghinaku!”
Suara-suara itu justru tertawa, semakin keras. “Ogoh-ogoh akan lewat sebentar lagi Merdeka! Merdeka! Kapan kita merdeka, Pak Sabrot?” Suara-suara itu memekaakkan telinga.
Dentang jam kembali berdentam. Kali ini terasa bagai pukulan palu ke tengkorak kepala Sabrot.
Sambil melangkah gotai karena kurang tidur,ksKeesokan paginya Sabrot melangkah keluar rumah. Udara kota penuh debu, panas menyengat meski matahari belum tinggi. Jalanan semarak: bendera merah putih berkibar di setiap tiang listrik, spanduk warna-warni bertebaran.
Ia berjalan melewati baliho raksasa. Wajah-wajah politisi dengan senyum palsu memandang ke arahnya. Ada yang berjanji “Indonesia Maju untuk Semua”, ada yang berteriak “Perubahan untuk Rakyat”. Namun di pojok kecil spanduk itu tertulis nama perusahaan tambang, pabrik semen, sabun, kendaraan bermotor, dan bank sebagai sponsor.
“Politik sudah jadi dagangan,” gumam Sabrot getir. “Mereka tersenyum manis dari ketinggian baliho, tapi di balik itu ada sawit, ada tambang, ada hutan yang digadaikan. Rakyat hanya angka di TPS.”
Ia berhenti di depan sekolah dasar. Anak-anak berbaris, bernyanyi riang lagu kebangsaan. Di tembok sekolah tertulis: “Terima kasih pahlawan yang gugur mendahului kami.”
Sabrot menelan ludah. Tidak ada tulisan yang beersimpati untuk pahlawan yang masih hidup. Veteran seperti dirinya hanya dianggap beban, yang sesekali dipanggil untuk menghadiri upacara sekadar menjadi hiasan sejarah.
“Orang sekarang hanya tahu memuja yang mati, Serta merta disebutnya sebagai phlawan,” katanya lirih. “Kami yang masih hidup dianggap layaknya sampah.s. Padahal kami masih bisa bicara, masih bisa mengingatkan.”
Ia melanjutkan langkah, melewati kerumunan warga. Di ujung jalan ia melihat pedagang kaki lima berlari terbirit-birit. Gerobak mereka diangkat paksa oleh aparat berseragam, dijatuhkan ke truk sampah. Seorang ibu muda menangis sambil memeluk anaknya yang masih balita.
“Kenapa digusur, Pak? Kami hanya jualan nasi, bukan maling!” jerit sang ibu.
Aparat hanya mengacungkan surat perintah. “Perintah atasan. Trotoar harus bersih. Besok ada tamu penting.”
Sabrot menahan amarah. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Ia hanya bisa menggenggam udara, merasakan tubuhnya gemetar.
Semula ia sempat bangga, bangsa yang dulu diperjuangkan kini merayakan kemerdekaan dengan gegap gempita. Namun semakin lama ia sadar, semua itu hanya pesta oligark: panggung hiburan disponsori prrodusen rokok, konser gratis dibiayai produk minuman kaleng, festival kuliner didukung perusahaan tambang. Semua bicara nasionalisme, tapi saham mereka ditanam di luar negeri.
Malam harinya, Sabrot kembali duduk di dipan kayu. Sunyi menyelimuti kamar. Hanya dentang jam yang terus memukul telinganya.
“Kepala… ya, semua ini karena kepala,” gumamnya.
Ia menatap kosong, bibirnya bergetar. “Kepala-kepala para politisi, kepala para pengusaha, kepala-kepala yang saling menubruk demi kekuasaan. Mereka semua bicara tentang tender, tentang proyek ibu kota baru, tentang izin tambang emas dan nikel. Semua bahasa uang. Tidak ada lagi cerita tentang rakyat.”
Bayangan itu semakin jelas. Di kepalanya, ia melihat ribuan kepala beterbangan. Ada kepala pejabat dengan dasi merah, kepala pengusaha dengan topi proyek, kepala jenderal dengan bintang di bahu. Mereka bercakap-cakap tanpa henti, menyebut angka-angka, membagi-bagi konsesi, mengatur masa depan bangsa seolah sedang memainkan bidak di papan catur.
“Andai saja kita hidup tanpa kepala,” bisiknya. “Tidak ada nafsu, tidak ada kerakusan. Tanpa kepala, manusia akan lebih damai.”
Namun kepala-kepala itu makin banyak, makin riuh. Ada yang saling menubruk, ada yang tertawa pongah, ada yang menuding-nuding rakyat kecil. Sabrot merasa dadanya sesak, seolah udara dirampas oleh kerumunan kepala yang terus membesar.
Suatu malam, Sabrot akhirnya menemukan pistolnya. Di sudut kamar, tergantung berdebu, benda itu menatapnya seperti sahabat lama. Tangannya gemetar ketika meraihnya.
“Pistol bekas,” gumamnya. “Tapi tetap pistol. Selama masih ada peluru, aku masih berbahaya.”
Dentang jam berdentang panjang, seakan memberi aba-aba.
Dengan pistol itu terselip di pinggang, Sabrot melangkah ke balai kota. Ia tahu malam itu ada rapat besar, para pejabat berkumpul. Ia ingin bicara, mengingatkan walikota agar berhenti menggusur rakyat demi investor.
Di gerbang balai kota, aparat muda menghadangnya. Mereka menatap dengan sinis.
“Mau apa, Pak Tua? Pulanglah, jangan bikin ribut.”
Sabrot mendengus. “Aku ingin bicara dengan walikota. Aku masih punya hak, aku masih warga kota ini. Jangan halangi!”
Mereka tertawa. “Kau pikir walikota mau mendengar ocehanmu? Semua sudah diatur di atas. Kau tak punya apa-apa.”
Darah Sabrot mendidih. Tangannya spontan meraih pistol. Ia acungkan tinggi-tinggi. “Aku pernah berperang! Aku ditempa Jepang, aku tahu cara bertempur! Jangan uji kesabaranku!”
Dentang letusan terdengar di tengah malam . Satu aparat jatuh, mengerang. Tiga lainnya menyerbu, tapi Sabrot menembak lagi. Dalam sekejap tubuh mereka tergeletak bersimbah darah.
Ia terdiam, tubuhnya gemetar. “Ternyata begitu mudahnya membunuh… begitu mudahnya darah tumpah.”
Dengan langkah terburu ia masuk ke ruang kerja walikota. Ruangan megah, berpendingin udara, dengan kursi empuk dan meja mengilap. Tetapi kosong. Tidak ada siapa-siapa.
Sabrot berteriak-teriak, memanggil, tapi hanya suaranya sendiri yang memantul. Ia berlari kembali ke halaman. Anehnya, aparat-aparat yang tadi ia tembak telah hilang. Tidak ada darah, tidak ada tubuh. Semua lenyap.
Sabrot mengingat peristiwa yang bau saja terjadi. Ia terjatuh, menangis sambil memeluk pistolnya.
Di layar besar di alun-alun kota, muncul siaran langsung: ribuan massa berdemonstrasi. Mereka berteriak menuntut keadilan, menolak penggusuran, mengecam oligarki yang menguasai negeri. Ada yang membentangkan poster bertuliskan “Negeri Dijual, Rakyat Tinggal Di Kolong Jalann Tol”. Ada yang mengacungkan spanduk “Kembalikan Republik ke Tangan Rakyat, Bukan Konglomerat.”
Sabrot menatap layar itu dengan mata berkaca. “Oh, kepala… kepala… kalianlah sumber bencana. Isi kepala yang carut-marut membuat politik seperti benang kusut. Kalian hanya tahu menumpuk modal, memperkaya diri, menggadaikan tanah air.”
Ia melihat lagi kepala-kepala beterbangan di langit kota. Kini lebih banyak, ratusan, ribuan. Kepala pejabat, kepala pengusaha, kepala perwira. Mereka berbicara bersahut-sahutan: tentang harga nikel, tentang proyek jalan tol, tentang saham tambang emas, tentang suap yang dialirkan diam-diam. Semua bicara uang, semua bicara kuasa.
Sabrot meraih pistolnya kembali. Tangannya gemetar, tapi matanya menyala. Ia membidik kepala kepala itu satu per satu. Letusan terdengar berulang. Kepala-kepala itu meledak, pecah berhamburan. Namun semakin banyak ia tembak, semakin banyak pula kepala baru yang bermunculan.
Dentang jam berdentang panjang, menutup semua suara.
Sabrot menatap langit dengan mata sayu. Ia menggosok-gosok matanya, dan ia merasakan tulangnya sering nyeri, dan tubuhnya yang cepat mengeluh kecapean. Ia kembai mengingat ingat apa yang baru terjadi, dan ia tak mengerti apa itu nyata atau sekedar mimpi yang tiba-tiba hadir di benaknya ilusi, Ia tak tahu lagi. Yang pasti, di dalam kepalanya sendiri, bencana itu sudah meledak.
Dan negeri ini, pikirnya, akan terus menjadi arena bencana kepala—selama oligarki masih bercokol,yang memperalat para pemimpin Negara yang tamak, Dan kepala-kepala tamak itu terus beranak-pinak.

Agustus, 2012




Vaksinasi di NTB Meningkat, Kapolri Optimis WSBK Terwujud

Vaksinasi 45 ribu dosis per hari, membuktikan NTB akan siap menjadi tuan rumah gelaran event World Superbike (WSBK) pada November tahun ini.

MATARAM.lombokjournal.comKepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) Jendral Listyo Sigit Prabowo mengapresiasi program vaksinasi yang dilakukan pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan menargetkan 45ribu dosis vaksin dalam sehari. Hal ini membuktikan NTB akan siap menjadi tuan rumah gelaran event World Superbike pada November tahun ini.

Dalam kunjungan kerjanya di NTB, Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dengan didampingi Gubernur Zulkieflimansyah, meninjau secara langsung vaksinasi massal di SMA Negeri 4 Kota Mataram, Jum’at (10/9).

Vaksinasi “Kami ingin memastikan bahwa target vaksinasi di NTB segera dituntaskan, karena ini sebagai persyaratan diselenggarakannya event tersebut. Target 45 Ribu dosis vaksin dalam sehari adalah langkah tepat untuk mempercepat vaksinasi sebelum WSBK digelar,” ungkap Kapolri.

Jendral Listyo juga mengakui bahwa antusiasme masyarakat NTB dalam mengikuti program vaksinasi sangat luar biasa. Ia berharap vaksinasi Covid-19 harus tetap ditingkatkan terutama masyarakat di kawasan Mandalika kabupaten Lombok Tengah, sebagai tempat akan digelarnya WSBK November tahun ini dan MotoGP tahun 2022 mendatang.

“Ini pertanda bahwa kita sudah siap menghadapi event bergengsi WSBK dan MotoGP, sehingga masyarakat sehat dan Indonesia maju,” tuturnya.

Usai meninjau vaksinasi di SMAN 4 Mataram, Kapolri dan Panglima TNI melanjutkan agendanya di ruang rapat utama kantor gubernur, dalam rangka rapat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) tingkat provinsi dan pemerintah kota/kabupaten se-NTB, secara virtual.

manikp@kominfo




Keluhan Warga Kebon Kongok Soal TPA Sampah Didengar Gubernur

Warga dusun Kebon Kongok, desa Parampuan, Lombok Barat, menyampaikan keluhan kepada Gubernur NTB soal bau tak sedap dari TPA sampah.

LOBAR.lombokjournal.com ~ Desa Parampuan adalah salah satu desa di kabupaten Lombok Barat yang penduduknya padat. Desa ini disebut daerah penyangga kota sebab terdapat lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dari ibu kota Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni kota Mataram.

KeluhanKeberadaan TPA sampah yang ada di dusun Kebon Kongok sudah lama menjadi perbincangan warga, khususnya mengenai keluhan warga atas dampak TPA berupa bau yang tak sedap. Untuk mendengarkan langsung keluh kesah warga tersebut, Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, mengunjungi desa Parampuan, Kamis (9/9).

“Yang jadi isu memang masalah kesehatan dan lingkungan akibat TPA sampah yang berdekatan dengan desa dan pemukiman. Mudah-mudahan segera ada solusi dari Dinas Kesehatan dan Dinas LHK yang turut bersama kami saat ini,” ujar Zulkieflimansyah.

Selain berdialog dengan masyarakat, gubernur juga bersilaturahmi dengan kepala desa serta tokoh masyarakat. Zulkieflimansyah juga menyempatkan mengunjungi Pondok Darul Furqon, Pondok Tahfidzul Qur’an yg berada di Desa Perampuan Lombok Barat.

diskominfotikntb




Kesehatan Megawati Soekarnoputri Menurun Dipastikan Hoax

Kondisi kesehatan Megawati Soekarnoputri dikabarkan menurun dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta dipastikan berita hoax.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Sebab, Presiden Indonesia ke-5 tersebut dalam kondisi segar bugar, keadaannya sehat walafiat. Bahkan, Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional itu berkomunikasi langsung dengan Ketua DPD PDIP Perjuangan NTB, Rachmat Hidayat, untuk meminta dikirimkan benih manggis terbaik dari Pulau Seribu Masjid.

“Isu yang beredar ini benar-benar fitnah. Ibu Mega dalam kondisi sehat, energik, dan selalu bersemangat,” kata Rachmat, Kamis (9/9).

Rahmat menyebut, berbagai fitnah memang sering datang ke Ibu Mega dan PDIP. Pihaknya pun siap menghadapi serangan fitnah dan hoaks itu dengan penuh kesabaran dan tidak akan menggoyahkan karakter berpolitik partai.

“Politik membangun peradaban menjadi tema sentral PDI Perjuangan. Seluruh gerak kemanusiaan dan kerakyatan Partai tidak terpengaruh oleh berbagai fitnah dan hoaks,” tandasnya.

Rachmat menengarai, berhembusnya isu soal kondisi kesehatan Ibu Mega yang menurun dan lalu dilarikan ke rumah sakit adalah upaya sistematis dari pihak tertentu yang ingin memecah belah partai. Dirinya pun telah menginstruksikan seluruh kader dan simpatisan PDIP di NTB untuk bersatu melawan cara-cara berpolitik yang tidak bertanggung jawab tersebut.

“Ibu Mega dalam kondisi baik-baik saja. Bahkan sedang bercocok tanam, karena beliau sangat mencintai alam dan tanaman,” ujar anggota Komisi VII DPR RI ini.

Rahmat menjelaskan bahwa ibu Mega mengirimkan nota secara khusus kepada dirinya untuk minta dikirimkan bibit manggis terbaik dari Lombok. Kecintaan pada tanaman rupanya menjadikan ibu Mega tahu betul bahwa Lombok punya bibit manggis unggul. Sehingga secara khusus, presiden perempuan pertama Indonesia ini meminta bibit manggis dari kecamatan Lingsar, khususnya dari Batu Kumbung, Batu Mekar, dan Karang Bayan.

Kesehatan
 Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menegaskan, Ibu Mega masih beraktivitas seperti biasanya. Kemarin malam pukul 21.00 WIB, Ibu Mega masih memberikan arahan terkait program kerakyatan partai dan pagi ini pun ketika saya menghadap beliau, Ibu Mega juga terus mencermati situasional terkait pandemi dan juga politik internasional.

“Ibu Megawati merupakan sosok politisi yang memiliki tradisi kontemplasi. Kebiasaan beliau bercocok tanam memberi oksigen bagi kehidupan dilakukan dengan penuh rasa cinta. Selain itu, Ibu Mega juga rajin berolahraga,” tutur Hasto.

me




Sekolah Jadi Pusat Edukasi Lingkungan, Wujudkan NTB Bersih

Seluruh sekolah SMA, SMK dan SLB yang berada dalam koordinasi pemprov NTB, menjadi pusat edukasi terkait masalah lingkungan yang ada di sekitarnya.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Sitti Rohmi Djalillah menyatakan hal tersebut saat membuka kegiatan Jambore IBBS 2021 Special Series : Ecoranger Talkshow Series 4.0 Potret KSPN Mandalika, NTB: “Menuju Destinasi Pariwisata Super Prioritas Yang Ramah Lingkungan dan Bebas Sampah”, secara virtual, di ruang kerja Wagub, Kamis (9/9).

“Mereka harus bisa mempengaruhi lingkungan sekitarnya untuk menyadari pentingnya mewujudkan NTB Bersih dan Hijau, maka semua sekolah kita wajibkan mengelola lingkungannya dengan baik dan mengelola bank sampah,” kata Sitti Rohmi.

Sitti Rohmi menjelaskan bahwa terdapat 468 bank sampah yang tersebar di NTB telah memberikan kemanfaatan bagi masyarakat. Kehadirannya sebagai media pengelolaan sampah, menjadikan sampah bernilai sebagai sumberdaya dan dikelola menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Selain itu, pemprov terus mendorong seluruh kabupaten/kota untuk sama-sama mengelola lingkungan agar asri dan lestari. Salah satunya yang ada di kabupaten Lombok Tengah, tepatnya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

“Agar pengunjung yang datang dapat merasakan keindahan Mandalika didukung dengan kebersihan lingkungan dan kehijauan lingkungan yang ada di sekitarnya,” ujar Sitti Rohmi.

BACA JUGAVaksinasi Berbasis Wilayah, Strategi Percepatan Serapan

ser




Vaksinasi Berbasis Wilayah, Strategi Percepatan Serapan

Percepatan serapan vaksinasi berbasis wilayah dalam perencanaan dan sebagai strategi, ampuh untuk mencapai target 70 persen vaksinasi.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Sitti Rohmi Djalilah mendorong strategi percepatan vaksinasi berbasis wilayah tersebut, baik tingkat desa, di puskesmas, atau lingkungan dengan cara bersinergi dan bergotong royong.

Vaksinasi“Percepatan serapan vaksin ini juga setelah melihat situasi dan kondisi di wilayah masing-masing,” kata Sitti Rohmi dalam Rapat Koordinasi Percepatan Vaksinasi Di Wilayah Provinsi NTB bersama Kapolda, Danrem 162/WB dan seluruh jajaran TNI/Polri, secara virtual, di Tribun Lapangan Bharadaksa Polda NTB, Kamis (9/9).

Dikatakan Sitti Rohmi bahwa target dalam sehari 41 ribu dosis, merupakan tantangan bagi daerah dan sebab itu begitu vaksin datang secara teknis harus langsung didroping ke kabupaten/kota. Selain itu, sistem dan manajemen pelaporannya juga harus cepat dan bagus, dengan cara begitu serapan vaksin dilakukan maka segera laporkan.

“Ini penting, agar pemerintah pusat dapat melihat serapan vaksin kita. Agar setelah dosis habis, pusat akan segera mendroping vaksin secepatnya,” tutur Sitti Rohmi.

BACA JUGAPenanganan Covid-19 di NTB Terkendali sebab Patuh Prokes

Sementara itu, Kapolda NTB, Irjen Pol. M. Iqbal, menegaskan, rapat ini penting untuk menyamakan persepsi dan strategi, sehingga percepatan penyerapan vaksin tercapai di kabupaten/kota. Sebab, hingga saat ini serapan vaksin di NTB masih rendah dibandingkan dengan target pusat yaitu, 41 ribu dosis vaksinasi perhari.

“Ini peringatan bagi semua. Agar status level 3 turun ke level 2, salah satu caranya adalah percepatan serapan vaksin,” tegas Iqbal.

Sedangkan, Danrem 162/WB, Brigjen. Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan target 41 ribu ini harus tuntas, bahkan target 45 ribu dosis perhari di NTB harus bisa terserap. Sistemnya adalah jemput bola dengan cara tenaga kesehatannya mendatangi masyarakat di rumah dan gunakan pendekatan humanis.

edy




Penanganan Covid-19 di NTB Terkendali sebab Patuh Prokes

Penanganan Covid-19 di NTB terkendali sebab kerjasama semua pihak dan masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan (prokes).

MATARAM.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Sitti Rohmi Djalillah, mengatakan hal tersebut saat menjadi keynote speaker pada Webinar “Kebijakan Penanggulan Covid 19 di NTB”, yang diselenggarakan oleh BKOW NTB, secara daring, Kamis (9/9).

Sitti Rohmi menjelaskan, situasi Covid-19 di NTB per tanggal 7 September 2021, kasus pelaku perjalanan sebanyak 118.749 orang, Kontak Erat sebanyak 120.188 orang, suspek sebanyak 24.467 orang, kasus konfirmasi sebanyak 26.416 orang, kasus sembuh sebanyak 24.681 orang, dalam perawatan sebanyak 889 orang dan kasus meninggal sebanyak 846 orang.

“Kita berharap agar angka kesembuhan dapat terus bertambah, Alhamdulillah NTB sudah diatas 90%,” ungkapnya.

Sitti Rohmi juga menjelaskan tujuan vaksinasi covid-19 yang merupakan pembentukan kekebalan kelompok, menurunkan kesakitan dan kematian akibat Covid-19, melindungi dan memperkuat sistem kesehatan secara menyeluruh, menjaga produktifitas, serta memperbaiki dampak sosial dan ekonomi.

BACA JUGANTB Dapat Tambahan Vaksin dari DPR untuk Sambut WSBK

ser




NTB Dapat Tambahan Vaksin dari DPR untuk Sambut WSBK

Untuk mempercepat vaksinasi di kawasan Mandalika jelang event World Superbike (WSBK), NTB mendapat tambahan alokasi vaksin dari anggota Komisi IX DPR RI.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Tambahan alokasi vaksin sebanyak 50 ribu dosis akan digunakan pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk pencapaian target vaksinasi, khususnya di kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika, di mana akan digelar WSBK november tahun ini.

Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, menyatakan, untuk mensukseskan berbagai event internasional seperti WSBK dan MotoGP di sirkuit Mandalika adalah dengan mempercepat vaksinasi yang ditargetkan harus mencapai 70 persen.

NTB“Percepatan vaksinasi merupakan fokus NTB saat ini. Kami mengapresiasi komisi IX DPR RI yang mendukung mempercepat vaksinasi tersebut,” ungkap Zulkieflimansyah saat menerima kunjungan Komisi IX DPR RI bersama tim Kementerian Kesehatan terkait Pengawasan Vaksinasi NTB di ruang rapat utama kantor gubernur, Kamis (9/9).

BACA JUGAPenanganan Covid-19 di NTB Terkendali sebab Patuh Prokes

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, mengungkapkan bahwa kunjungan ini merupakan upaya yang dilakukan pihaknya dalam mendukung NTB sebagai tuan rumah gelaran even WSBK dan MotoGP mendatang.

“Hari ini kami membawa tambahan vaksin Covid-19 untuk mempercepat vaksinasi di NTB. Selain itu, kami juga memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengawasan terhadap distribusi vaksin Covid-19,” jelas Charles.

Selain menyerahkan tambahan alokasi vaksin Covid-19, Komisi IX DPR RI juga menyerahkan tambahan alokasi rapid Antigen sebanyak 50.000 PCS yang diterima langsung oleh gubernur.

manikp@kominfo




Radio Komunitas Desa Gemilang NTB akan Dibangun KPID

Radio Komunitas Desa Gemilang yang akan dibangun di NTB bisa menjadi media alternatif menyampaikan informasi dan edukasi kepada masyarakat.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Zulkieflimansyah, menyatakan dukungan terhadap rencana Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) membangun Radio Komunitas Desa Gemilang, saat menerima silaturahmi Ketua dan komisioner KPID, di ruang kerjanya, Rabu (7/9).

“Radio komunitas atau radio sosial ini dikelola langsung oleh masyarakat desa,” ujar Zulkieflimansyah.

Menurut Zulkieflimansyah, di era digitalisasi serta teknologi informasi dan komunikasi, radio komunitas juga dapat memanfaatkan media sosial untuk menyiarkan siaran radionya, sehingga semua informasi dapat tersampaikan di semua kanal media. Semua potensi dan persoalan di tingkat RT, dusun hingga desa dapat tersampaikan juga melalui Radio Komunitas Desa Gemilang.

BACA JUGALiterasi Digital Harus Diperkuat di Masyarakat oleh KPID

Literasi Digital Radio Komunitas

Ketua KPID NTB, Ajeng Rosalinda Motimori, menyampaikan bahwa rencana pembangunan radio komunitas ini berawal dari kunjungan kerja ke Balai Monitoring Frekuensi (Balmon) Kemenkominfo di Mataram. Sehingga inovasi yang akan menjadi program kerja KPID pada tahun 2022, salah satu

nya mendorong masyarakat untuk membangun radio komunitas di desa-desa.

Untuk kanal frekuensi, hanya Kota Mataram saja yang sudah penuh terpakai, sedangkan pulau Sumbawa serta kabupaten masih belum terpakai, sehingga menjadi peluang membangun radio komunitas.

“Kami melihat masih banyak kanal frekuensi radio komunitas belum dimanfaatkan di NTB,” kata Ajeng.

Untuk 1 kanal frekuensi, cakupan jangkuannya 2,5 km. Jadi untuk yang area wilayahnya tidak begitu luas, 2 desa bisa mengelola 1 kanal atau 1 radio komunitas. Biaya pembangunan radio komunitas pun terbilang murah dibanding radio komersil. Dengan standar SNI membutuhkan biaya sebesar Rp. 25 juta, sudah lengkap dan jadi, termasuk izinnya.

Radio komunitas desa Gemilang selain menyampaikan informasi capian dan progres program pembangunan di NTB dapat menjadi media edukasi dan peningkatan kemampuan potensi dan bakat masyarakat desa di semua sektor. Apalagi saat ini pemerintah desa sudah mengelola APBDesa

“Radio Komunitas Desa Gemilang akan menjadi media pemberdayaan masyarakat, yang bertujuan untuk pendidikan dan peningkatan kapasitas masyarakat,” ujar Ajeng.

edy