Apel Gelar Pasukan Korem 162/WB, Pastikan Keamanan Pilkada
Sebanyak 1.866 personil TNI dari Korem 162/Wira Bhakti mengikuti apel gelar pasukan yang disiapkan memastikan sarana dan prasarana yang digunakan dalam tugas pengamanan Pilkada
MATARAM.LombokJournal.com ~ Apel Gelar Pasukan Kesiapan Korem 162/WB di Lapangan Trisula Yonif 742 SWY, Gebang, Mataram (30/08/24), bertujuan mewujudkanPilkada NTB 2024 yang damai.
Penjabat (Pj) Gubernur NTB Hassanudin, yang menghadiri apel tersebut bersama Kapolda NTB, Irjen Pol Drs. R. Umar Farouk, S.H., M.Hum., serta pejabat Forkopimda NTB, mengapresiasi persiapan yang dilakukan Korem 162/Wira Bhakti.
Menurut Pj Gubernur NTB, seluruh elemen masyarakat juga turut serta menjaga keamanan dan ketertiban selama proses Pilkada berlangsung.
“Semoga Pilkada NTB 2024 dapat berjalan dengan aman, tertib, dan sukses,” harapnya.
Sebanyak 1.866 personil TNI mengikuti apel gelar pasukan tersebut. Pasukan TNI disiapkan untuk memastikan sarana dan prasarana yang digunakan dalam tugas pengamanan, dan semua aspek operasional berjalan sesuai dengan prosedur tetap yang telah ditentukan.
Dalam amanat yang disampaikan pada apel gelar pasukan, Komandan Korem 162/Wira Bhakti Brigjen TNI Agus Bhakti menjelaskan, proses pengamanan diharapkan dapat berjalan baik dan sukses, sebagaimana pada pengamanan Pileg dan Pilpres.
Ia menekankan pentingnya netralitas dan profesionalisme prajurit dalam mengemban tugas mengamankan Pilkada. Hal tersebut sebagai bagian dari komitmen TNI menjaga stabilitas dan ketertiban, selama proses demokrasi berlangsung.
Pada akhir arahannya, Brigjen TNI Agus Bhakti menekankan tugas pengamanan Pilkada harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhan, seperti telah ditunjukkan pada pelaksanaan Pileg dan Pilpres silam. nov/dyd
Ruslan-Normal Ingin Lakukan Perubahan untuk Perbaikan
Pasangan Ruslan-Normal paket komplit dalam pemerintahan. Kami paham bagaimana meningkatkan ekonomi masyarakat Lombok Tengah
LOTENG,LombokJournal.com ~ Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Lombok Tengah Ruslan Turmudzi-Lalu Normal Suzana atau populer disebut pasangan Ruslan-Normal, resmi mendaftar ke KPU setempat untuk Pilkada 2024 pada Kamis (29/08/24).
Ruslan Turmudzi mengatakan pihaknya maju pada Pilkada tahun ini lantaran ingin melakukan perubahan untuk perbaikan Lombok Tengah.
Ia menilai Lombok Tengah dengan potensiyang cukup besar seharusnya tidak kalah dengan kabupaten/kota lain di NTB.
Dia menyebut Lombok Tengah dipercaya menjadi objek vital dengan adanya bandara internasional, KEK Mandalika, dan sejumlah tempat wisata menarik lainnya.
“Dari sisi PAD ini anomali. Kenapa Lombok Tengah seperti ini. Itu yang memotivasi kami maju. Kami ingin punya kewenangan untuk memberi kontribusi,” kata Ruslan saat konferensi pers di KPU Lombok Tengah, Kamis (29/08/24).
Pernah menjabat sebagai anggota DPRD NTB lima periode, membuat Ruslan paham betul kondisi semua kabupaten/kota di NTB. Hal itu menjadi modal kuat bagi pasangan Ruslan-Normal membenahi Lombok Tengah.
“Saya dengan Pak Normal ini perpaduan politisi dan birokrasi. Kami paket komplit dalam pemerintahan. Kami paham bagaimana meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Pasangan dengan tagline “Melalui Jalan Lurus Lombok Tengah Kembali Normal” itu mengaku sudah siap dari segala hal. Baik itu strategimaupun modal.
“Namun, untuk menjadi pemimpin tidak cukup dengan itu saja, tapi juga melihat figur dan ide serta gagasan,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Ruslan mengaku pasangan Ruslan-Normal siap memberikan ide dan gagasan menarik demi kemajuan kesejahteraan masyarakat Lombok Tengah.
“Kami ada program satu desa satu miliar. Ini realistis apabila PAD dioptimalkan,” sambungnya.
Menurut Ruslan, pemerintah harus meningkatkan BPHTB. Faktanya , saat ini harga tanah mahal. Dalam satu are bisa mencapai Rp 50 juta sampai 150 juta.
“Penerimaan kita sekarang ini, kan, kecil. Padahal, belum lagi potensi pariwisata, pajak hotel dan restoran. Saya melihat hari ini kita tidak punya database sehingga dipermainkan,” bebernya.
Untuk diketahui pasangan Ruslan-Normal diusung empat partai politik. Di antara PPP dengam enam kursi, PDIP satu kursi, Perindo dua kursi, dan Gelora satu kursi. ***
Pameran KriyaNusa 2024 Dihadiri Pj Ketua Dekranasda NTB
Pameran ini memberikan peluang bagi produk-produk industri kreatif Indonesia untuk bersaing di tingkat nasional maupun internasional
JAKARTA.LombokJournal.com ~ Penjabat (Pj) Ketua Dekranasda NTB, Pameran Kerajinan Nusantara Tahun 2024 atau Pameran KriyaNusa yang diselenggarakan oleh
Dewan Kerajinan Nasional (DEKRANAS) Indonesia, di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (28/08/24).
Pameran dibuka secara langsung oleh Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional, ibu Wury Ma’ruf Amin. Pj Ketua Dekranasda NTB bu Dessy Hassanudin menghadiri pembukaan
bu Dessy Hassanudin menghadiri pembukaan pameran tersebut.
Tahun ini mengangkat tema ‘Pengrajin Muda Lestarikan Warisan Budaya’. Tema tersebut diangkat sebagai cerminan Dekranas untuk meneruskan tradisidari warisan leluhur kepada generasi muda.
Hal tersebut disampaikan ibu Wury Ma’ruf Amin saat membuka acara yang akan digelar selama 5 hari ke depan.
“Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya dan tradisi. Seni kerajian berbagai daerah Indonesia yang diwariskan tidak hanya mencerminkan keindahan dan ketarampilan tapi juga nilai-nilai dan identitas bangsa,” jelas Wury.
Menurutnya, kegiatan ini memberikan peluang bagi produk-produk industri kreatif Indonesia. Hal ini untuk bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Acara pembukaan tersebut dilanjutkan dengan penyiraman pohon oleh Wury Ma’ruf Amin. Didampingi langsung oleh Tri Tito Karnavian, Yantie Isfandiary Airlangga, Siti Farida Pratikno, Elizabeth Thohir, dan Zubir Akmal.
Terdapat 420 stan kriya, di mana sekitar 30 persennya merupakan perajin muda. Kemudian, 24 stan kuliner di Pameran Kriyanusa 2024 yang dilaksanakan di JCC, 28 Agustus-1September 2024.
Pameran KriyaNusa selama beberapa tahun terakhir telah menjadi ikon kerajinan atau seni kriya terbesar di Indonesia. Gelar industri kreatif ini melibatkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) binaan Dekranas dari Sabang sampai Merauke.
Sebagai sebuah pameran kolaborasi, KriyaNusa juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari Kementerian, BUMN, dan individu-individu terkait. Produk kriya yang ditampilkan dalam pameran KriyaNusa semuanya berbahan dasar lokal yang original dan otentik dari Indonesia. novita
Sumiatun-Ibnu Salim Siap Berlaga di Pilbup Lobar
Pasangan Sumiatun-Ibnu Salim yang akan berlaga dalam pemilihan kepala daerah Pilkada mendaftar ke KPU diiringi ribuan massa pendukung
LOBAR.LombokJournal.com ~Ribuan massa pendukung pasangan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Lombok Barat Hj. Sumiatun-Ibnu Salim yang dikenal dengan Tagline Paket MANIS berkumpul di lapangan Gerung Lombok Barat Kamis (29/08/24)Kamis (29/08/24).
Deklarasi Sumiatun-Ibnu Salim
Mereka mengikuti deklarasisekaligus mengiringi atau mengantar pasangan MANIS ke Komisi Pemilihan Umum Daerah Lombok Barat.
Deklarasi salah satu pasangan di Pilbup Lobar ini berlangsung kondusifmeski di tengah terik panas matahari. Pihak MANIS memasang tenda besar di depan panggung sehingga masa pendukung tidak kepanasan.
Deklarasi diawali dengan penyerahan form B1KWK dari sejumlah partai pengusung yakni Partai Hanura, Partai Gelora, dan Partai Ummat.
Sementara sebelumnya Sumiatun-Ibnu Salim sudah mengantongi form B1KWK dari Partai Golkar. Artinya, pasangan politisi dan birokrat ini meraih 9 kursi dan memenuhi syarat untuk mendaftar di KPU sebagai peserta pemilu.
Dalam orasi politiknya, Hj. Sumiatun yang merupakan Ketua DPD Partai Golkar Lombok Barat mengatakan akan bekerja maksimal untuk Lombok Barat hebat. ***
Desa Cantik Dicanangkan Tingkatkan Kompetensi Aparatur Desa
Dalam program Desa Cantik, Diskominfotik NTB berperan meningkatkan literasi, kesadaran dan peran aktif perangkat desa dan masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan statistik
MATARAM.LombokJournal.com ~Desa cinta Statistik (Desa Cantik) dicanangkan guna meningkatkan kompetensi aparatur desa Pemerintah Nusa Tenggara Barat melalui Badan Pusat Statistik NTB.
Desa Cantik dibentuk guna pengelolaan dan pemanfaatandata desa dan perencanaan pembangunan desa, mengelola desa menjadi desa maju dan tepat sasaran.
Kepala BPS NTB, Drs. Wahyudin menjelasskan, meningkatkan di desa ini adalah program percepatan dari Badan Pusat Statistik dalam lingkup wilayah Desa/Kelurahan/Nagari/Wilayah setingkat, untuk meningkatkan kompetensi aparatur desa dalam mengelola dan pemanfaatan data desa.
“Sehingga Perencanaan Pembangunan Desa menjadi lebih tepat sasaran,” kata Kepala BPS NTB Wahyudin, saat memberikan penjelasan di kantornya, Rabu (28/08/24).
Diharapkan program ini ke depan akan membantu aparatur desa dalam mengelola desa.
OPD yang bertugas meningkatkan kapasitaspengetahuan aparatur desa pada Desa Cantik ini adalah Diskominfotik NTB.
Diskominfotik memiliki peran meningkatkan literasi, kesadaran dan peran aktif perangkat desa/kelurahan dan masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan statistik. Mulai standardisasi pengelolaan data statistik untuk menjaga kualitas dan keterbandingan indikator statistik. Hingga , optimalisasi penggunaan dan pemanfaatan data statistik sehingga program pembangunan di desa tepat sasaran.
Penjabat Bupati Lombok Timur HM Juaini Taofik telah dicanangkan Desa Kumbang, Kecamatan Masbagik resmi sebagai Desa Cinta Statistik (Desa CANTIK) Tahun 2024 Kabupaten Lombok Timur, hari Rabu (21/08/24).
Adapun cikal bakal hadirnya Desa Cantik pertama di Kabupaten Lombok Timur itu diawali dari koordinasi BPS Kabupaten, Dinas PMD Kabupaten dan Diskominfo Kabupaten Lombok Timur.
Dalam sambutannya Pj Bupati Lombok Timur HM Juaeni Taofik, memberikan penjelasan mengenai pentingnya ketersediaan data di lingkungan pemerintah yang berjenjang, dari tingkat desa, kecamatan, sampai dengan tingkat kabupaten.
Data merupakan komponen utama yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan di suatu wilayah.
“Desa Cinta Statistik adalah filosofi yang menekankan pentingnya desa sebagai penyedia data statistik yang akurat dan dapat dipercaya”. terangnya.
Ia berharap penunjukan Desa Kumbang sebagai Desa Cantik pertama di kabupaten Lombok Timur itu dapat memberikan kontribusi sebagai penyedia data statistik yang akurat dan dapat dipercaya.
Desa bukan hanya sekedar tempat tinggal penduduk, tetapi juga menjadi sumber data yang sangat berharga dalam perencanaan pembangunan, dan tentunya ke depan disetiap Kecamatan akan ada desa cinta statistik lainnya.
“Desa Cinta Statistik adalah filosofi yang menekankan pentingnya desa menjadi sumber data yang sangat berharga dalam perencanaan pembangunan, kedepan semoga di setiap Kecamatan akan ada desa-desa cantik lainnya.” tegasnya. pnd
Kontingen PON NTB Berangkat ke Aceh Sumut
Merngingat persiapan yang telah dilakukan, target 20 emas bagi Kontingen PON NTB merupakan target reslistin
MATARAM.LombokJournal.com ~Penjabat Gubernur Nusa Tenggara Barat, Hassanudin melepas Kontingen PON NTB yang akan berlaga di PON XII Aceh Sumut 2024.
“Ini momen istimewa. Selamat berjuang. Apapun hasilnya, kami akan selalu bangga dengan semangat juang, dedikasi dan kerja keras para atlit,” ujar Gubernur di Gelanggang Pemuda Mataram Rabu (28/08/24).
Target 20 emas bagi kontingen PON NTB sangat realistis dengan persiapan yang telah dilakukan. Ia menambahkan pula bahwa dukungan masyarakat bagi para atlit sangat besar sehingga dengan dukungan solid akan menciptakan atmosfir positif.
Ketua KONI NTB, Mori Hanafi mengatakan, hal penting dari keikutsertaan NTB dalam PON kali ini adalah dikirimnya tim observasi dan tim penutupan sebagai persiapan menjadi tuan rumah PON 2028.
“Nantinya Kontingen PON NTB di acara penutupan akan menerima pataka sebagai simbol menjadi tuan rumah selanjutnya,” kata Mori.
Kepada para atlet ia mengingatkan, agar perolehan medali Indonesia dalam Olimpiade Paris tahun ini menjadi motivasi. Semua cabang olahraga berpeluang meraih medali tanpa ada cabang olahraga unggulan.
Seluruh Kontingen PON NTB terdiri dari 522 orang dengan 251 atlit, 80 pelatih dan 187 orang offisial yang terdiri dari manajer kesehatan, keamanan dan sektor terkait yang mendukung.
NTB akan berlaga di 44 cabang olahraga lebih banyak dari PON lalu yang hanya 19 cabang olahraga dengan target 20 medali emas.
Hadir pula Sekda, HL Gita Ariadi, MSi, seluruh Forkopimda, perwakilan pimpinan kabupaten/ kota, Kepala Bank NTB Syariah dan pimpinan organisasi perangkat daerah. jm
BBPOM Diminta Edukasi kepada Masyarakat Digencarkan
Edukasi harus terus ditingkatkan BBPOM agar masyarakat makin sadar dan berhati-hati dalam memilih produk yang aman dikonsumsi
MATARAM.LombokJournal.com ~Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) telah mengawal keamanan obat dan makanan di NTB. Karena itu, diharapkan agar edukasi kepada masyarakat terus digencarkan, salah satunya melalui media sosial.
Hal itu disampaikan Pj Gubernur NTB, Hassanudin saat menerima audiensi dari Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Mataram beserta jajaran yang berlangsung di Ruang Kerja Pendopo Gubernur NTB, Selasa (27/08/24).
Hassanudin berterima kasih atas upaya BBPOM dalam menjaga keamanan pangan dan obat-obatan di NTB.
“Edukasi ini harus terus ditingkatkan agar masyarakat kita semakin sadar dan berhati-hati dalam memilih produk yang aman untuk dikonsumsi,” ujarnya.
Diharapkan BBPOM dapat memperkuat koordinasi dan kolaborasi antar instansi terkait dalam mewujudkan NTB sebagai daerah yang sehat dan sejahtera.
Sementara itu, Kepala BBPOM di Mataram, Yosef Dwi Irwan, menyampaikan bahwa obat dan makanan memiliki peran penting dan strategisdalam aspek kesehatan, ekonomi, ketahanan nasional, dan daya saing bangsa.
Untuk mewujudkan ketersediaan obat dan makanan yang aman, bermutu, dan bergizi, Badan POM membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Daerah.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi NTB atas dukungannya dalam tugas-tugas Badan POM. Semoga kolaborasi dan sinergi ini semakin solid ke depannya,” ungkap Yosef.
Yosef juga menjelaskan bahwa UPT Badan POM di NTB terdiri dari dua unit, yaitu Balai Besar POM di Mataram dan Loka POM di Kabupaten Bima, yang menjalankan fungsi pengawasan, perizinan, pemberdayaan masyarakat, sampling, pengujian, serta penindakan.
Yosef juga menyoroti inovasi “Gemilang Pro UMKM” yang berhasil masuk sebagai salah satu dari lima inovasi terbaik dalam Kluster Lembaga pada Pemantauan Keberlanjutan dan Replikasi Inovasi Pelayanan Publik (PKRI) 2024 oleh KemenPAN RB.
Inovasi ini memberikan berbagai insentif kepada UMKM, seperti pendampinganhingga terbitnya izin edar, pengujian gratis, dan diskon 50% PNBP.
“Gemilang Pro UMKM telah secara signifikan meningkatkan jumlah Nomor Izin Edar (NIE) yang diterbitkan, omzet, mitra distribusi, serta serapan tenaga kerja,” jelas Yosef.
Beberapa permasalahan yang masih menjadi perhatian di NTB, antara lain penggunaan kerupuk mengandung boraks, penjualan antibiotik tanpa resep dokter, serta peredaran obat-obatan tertentu seperti Tramadol, Trihexyphenidil, dan Dextromethorphan. BPOM juga telah menjalin kerja sama dengan Tim PKK dan Gerakan Pramuka, serta meresmikan SAKA POM pada Desember 2023 untuk mendukung pengawasan obat dan makanan.
Di akhir audiensi, Yosef menyatakan kesiapan BBPOM di Mataram untuk mendukung program-program Pemprov NTB di bawah kepemimpinan Pj. Gubernur Hasanuddin.
“Kami ingin keberadaan BBPOM di Mataram benar-benar dirasakan oleh masyarakat, pemerintah daerah, dan stakeholder lainnya dalam mengawal mutu, keamanan obat dan makanan, serta daya saing pelaku usaha, khususnya UMKM,” tutup Yosef.***
Menulis Sejarah Tanpa Keilmuan Akademi (5 – habis)
Dalam perjalanan merangkai fakta untuk menulis sejarah perjuangan Polri, Arif Wahjunadi tertuju pada peristiwa penting tanggal 21 Agustus 1945, Proklamasi Polisi Republik Indonesia
LombokJournal.com ~Ketika melakukan penelitian untuk menulis sejarah jejak perjuangan Polri, Komjen. Pol. Purnawirawan Arif Wachjunadi awalnya hanya berangkat dari pertanyaan sederhana. Kapan Kepolisian Negara Republik Indonesia pertama kali ada? Apa saja peristiwa yang dapat mengungkap mengenai hal ini?
Menurut Arif, dua pertanyaan ini kerap menjadi tantangan baginya untuk menemukan jawabannya.
Arif Wahjunadi bersama Jend Pol (Pur) Suroyo Bimantoro
Jauh sebelum menulis sejarah perjuangan Polri (bahkan sejak menjadi Kapolda NTB tahun 2010), ia sudah mulai dihadang pertanyaan itu. Kemudian berlanjut saat menjadi Kapolda Bali 2013, ia lalu mengumpulkan data dan informasi tentang hal ini.
Ketertarikannya untuk menelusuri dan menulis sejarah jejak perjalanan perjuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) datang dari keinginan untuk melengkapi dan “memperkaya” sumber daya manusia yang ada di Polri.
Banyak Polisi yang tidak hanya mengembangkan karir sebagai Polisi profesional melainkan juga ahli dalam bidang lainnya.
“Hal ini penting untuk merespon peluang di era globalisasiyang membutuhkan tidak hanya Polisi profesional saja melainkan juga Polri harus memiliki Polisi berkarakter pejuang dengan wawasan yang mumpuni,” ungkapnya.
Sejak itulah ia tekun dan serius melakukan penelitian. Dalam perjalanannya merangkai-rangkai fakta untuk menulis sejarah Polri inilah, ia kemudian berhenti pada peristiwa penting yang terjadi tanggal 21 Agustus 1945, Proklamasi Polisi Republik Indonesia. Dari sanalah, dengan segala dinamika suka dukanya tantangan dan dilema yang tidak mudah, ia kukuh dengan terus fokus memperjuangkan Hari Juang Polri.
Seluruh data, informasi dan dokumen yang merupakan hasil risetnya, ia catat dan kumpulkan dalam dua buku yang pada akhirnya mendorongnya menulis sejarah lahirnya Hari Juang Polri. Ia menulis sejarah tanpa keilmuan sejarah secara akademis.
Meski tidak memiliki latar belakang keilmuan sejarah secara akademis, dalam menulis buku Arif Wachjunadi terbilang detil dan komprehensif. Penelitian-penelitian lapangan juga literasi yang dilakukannya selama 14 tahun, sangat serius dan menjangkau semua sumber-sumber informasi dan dokumen yang dibutuhkan.
Beberapa akademisi dan ahli sejarah yang turut memberi sambutan dalam buku karyanya berjudul Pearl Harbor Hiroshima Nagasaki Jejak Sejarah Perjuangan Polri, mengakui ketekunan, keuletan dan dedikasinya.
“Komjen Drs. Arif Wachjunadi memang tidak memiliki latar belakang keilmuan sejarah, tetapi beliau memiliki kecintaan yang besar dan kepedulian terhadap lembaganya, sehingga mendorongnya untuk melakukan dengan sungguh-sungguh berbagai langkah dan tahapan ‘penelitian sejarah’ sebagaimana yang biasa dilakukan seorang peneliti sejarah professional, atau bahkan mungkin melampuinya. Ini merupakan capaian luar biasa, buku setebal ini tidak mungkin bisa terwujud tanpa melalui sebuah proses kerja keras yang panjang penuh dengan ketekunan, keuletan, dan dedikasi yang tinggi dari penulisnya,” ungkap Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil., Ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
Prof. Dr. Der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri, Dsc., Rektor UI 2007-2013 dan juga Anggota Senat Akademik PTIK/STIK, turut memberi apresiasi atas karyanya yang bernas ini.
“Kami sebagai sosiolog yang cukup lama berkecimpung di dunia Kepolisian, terutama sebagai dosen di S3 Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian; menyambut gembira hadirnya buku ini. Buku yang ditulis apik ini, didukung data sekunder dan primer yang bernas,” kata Prof. Dr. Der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri.
Demikian pula dengan ahli sejarah, Prof. Anhar Gonggong, yang mengakui ketekunan dan kreativitasnya.
“Tentu saja hasil karya dari Komjen. Arif ini patut mendapat, tidak hanya ucapan selamat atas karyanya itu, melainkan juga patut mendapat apresiasi yang tinggi. Komisaris Jenderal (Komjen) Arif Wachjunadi kembali menunjukkan ketekunan-kreativitasnya dalam bentuk penulisan sebuah buku tentang perjalanan hidup dari lembaga negara: Kepolisian Negara Republik Indonesia (RI),” kata Prof. Anhar Gonggong.
Tidak ketinggalan Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, turut memberi apresiasi atas karya tersebut.
“Saya mengapresiasi kegigihan dan keseriusan penulis untuk terus menyempurnakan buku sejarah perjalanan perjuangan Polri ini, dengan rajin mendatangi berbagai tempat dan narasumber yang bisa mengungkap setiap detil keberadaan Polri. Juga banyak meminta saran serta masukan dari berbagai pihak, termasuk saya. Setidaknya dua kali Penulis bertemu saya untuk berdiskusi,” ungkap Bambang Soesatyo.
Apa yang dilakukan Arif Wachjunadi, tidak hanya mendapat sambutan baik dari kalangan ahli dan akademisi, melainkan datang juga dari Jenderal TNI Try Sutrisno.
“Kerja keras dalam mewujudkan buku ini, tentu saja tidak mudah dilakukan oleh Komjen. Pol. Purnawirawan Arif Wachjunadi. Tak terhitung waktu dan tenaga, tentunya dengan kesabaran dan keikhlasannya secara terus menerus sepanjang satu windu, untuk bisa mewujudkan buku yang bisa menjadi pedoman tidak hanya bagi Polri melainkan juga bagi masyarakat luas, khususnya terkait sejarah Polri. Oleh sebab itu, Polri patut berbangga dan harus merasa beruntung memiliki Komjen. Pol. Arif Wachjunadi, yang telah dengan tekun menyusun buku bernuansa sejarah dengan rapi dan runut ini,” kata Try Sutrisno.
Begitu pula para seniornya yang nota bene adalah Kapolrii di masanya, yang turut memberi apresiasi atas lahirnya buku karyanya. Sebut saja Jenderal Polisi Purnawirawan Suroyo Bimantoro yang menyebutnya sebagai sosok yang langka.
“Menurut saya, Komjen. Pol. (P) Arif Wachjunadi adalah seorang yang langka, di tengah kelangkaan pecinta sejarah, khususnya pada sejarah institusi Polri yang dia dan kami cintai.Kelebihan dia dari yang lain, dia bukan hanya memiliki minat tetapi mendalami, meneliti dan lebih hebat lagi menuliskan dalam sebuah buku,” ungkap Bimantoro.
Jenderal Polisi Purnawirawan Bambang Hendarso Danuri, juga mengatakan bahwa karya ini membuka sejarah jati diri Polri.
“Membaca karya buku berjudul; Pearl Harbor Hiroshima Nagasaki Jejak Perjalanan Perjuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia Jilid 2, yang ditulis oleh Komjen. Pol. Arif Wachjunadi ini, kita seperti diantar untuk membuka jendela sejarah jati diri Kepolisian Republik Indonesia yang sesungguhnya. Bahwa Polri itu pejuang yang gigih dan menjadi bagian tidak terpisahkan dalam revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Dan itu dicatat secara cermat selama lebih kurang delapan tahun oleh penulis melalui berbagai penelitian, baik lapangan maupun literasi yang terkait langsung dengan sejarah Polri,” kata BHD.
Arif Wahjunadi dan Bambang Soesatyo
Demikian banyak apresiasi yang diberikan atas karya-karyanya dimaknai Arif sebagai perhatian banyak pihak kepada Polri, sebab ia menulis sejarah itu atas kecintaannya kepada institusi Polri.
Selain menulis sejarah Pearl Harbor Hiroshima Nagasaki Jejak Sejarah Perjuangan Polri (buku ini adalah buku ke 2 dari seri Hari Juang Polri), sebelumnya ia juga menulis buku pertama berjudul Pearl Harbor Hiroshima Nagasaki Polri (Buku pertama) dan buku ke tiga berjudul Hari Juang Polri. nik
Merawat Keyakinan Menuju Sejarah Baru Polri
Keteguhannya merawat keyakinan di balik terwujudnya Hari Juang Polri, akhirnya tahun 2024 ini diperingati pertama kali oleh institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia
LombokJournal.com ~ 14 Tahun Berjuang Menuju Hari Juang Polri, Merangkai Peristiwa Sejarah Perjuangan Peran Polisi Istimewa, merupakan momentum penting dalam mengungkap sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Merawat keyakinan bahwa Polri adalah pejuang lebih karena dalam fakta sejarahnyaada peristiwa istimewa Proklamasi Polisi Republik Indonesia yang terjadi pada tanggal 21 Agustus 1945.
Arif Wachjunadi bersama Prof. Awaluddin Djamin (alm) tahun 2013
Peristiwa itu terjadi 79 tahun silam. Sangat lama. Sejak itu, belum ada seorang pun, baik di dalam maupun di luar institusi Polri, yang secara intensif fokus membicarakan tanggal penting ini.
Di dalam institusi kepolisian sendiri, tanggal 21 Agustus hanya dikenal sebagai pengetahuan umum bahwa pada tanggal tersebut ada peristiwa Proklamasi Polisi. Tidak lebih.
Bahkan, tidak banyak Polisi (khususnya generasi Polri masa kini) yang mengetahui adanya peristiwa ini. Sampai pada tahun 2010, muncul pemikiran untuk menseriusi tanggal tersebut untuk mendorongnya menjadi sejarah baru bagi Polri.
Bagaimana tidak, fakta-fakta sejarah mengungkap bahwa heroisme Polisi Istimewa dalam peristiwa Proklamasi Polisi Republik Indonesia itu, tak bisa dimungkiri menjadi sejarah sangat penting bagi Polri.
Inilah sosok yang tak henti merawat keyakinan tentang peristiwa yang menegaskan kuatnya semangat juang Polri. Figur yang jadi tokoh penting di balik Hari Juang Polri, yang pada tahun 2024 ini diperingati pertama kali oleh institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Komjen. Pol. (Pur) Arif Wachjunadi, penggagas Hari Juang Polri, yang pertama kali sejak tahun 2010 berjuang mendorong terwujudnya Hari Juang Polri. Ia mulai menggagas Hari Juang Polri ketika menjadi Kapolda Nusa Tenggara Barat, tahun 2010.
Dan serius mulai melakukan penelitianpada tahun 2013, ketika menjadi Kapolda Bali.
“Terima kasih Polda NTB, telah memberi saya inspirasi kala itu,” ungkap Arif, tentang keteguhannya merawat keyakinan semangat juang di kalangan Polisi Indonesia.
Arif Wahjunadi menyampaikan itu saat menjadi narasumber pada acara Sarasehan dan Syukuran Hari Juang Polri, yang diselenggarakan di Graha Bhara Daksa Polrestabes Surabaya, Selasa (20/08/24).
Sejak itu, secara terus menerus dan intensif berlanjut dalam proses dan dinamika penelitian panjang (baik literasi maupun lapangan), dipenuhi tantangan yang tidak mudah.
Selama 14 tahun (2010-2024), tanpa kenal lelah, merawat keyakinan pentingnya mewujudkan semangat juang di lingkungan Polri.
Arif tak henti-hentinya berjuang dari satu forum ke forum lainnya (dalam dan luar institus Polri), mendatangi puluhan narasumber utama, pakar-pakar serta sejarawan-sejarawan dan tokoh-tokah lainnya yang paham terkait perjuangan Polisi Istimewa.
Ia juga melakukan penelitian dari satu wilayah ke wilayah lainnya yang menyimpan sejarah Polri di seluruh Indonesia, membongkar naskah-naskah serta dokumen (yang berkaitan dengan masa penjajahan Jepang di Indonesia) di Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional RI, sampai ke perpustakaan-perpustakaan yang berada di Jepang.
Bahkan ia mengunjungi Konjen Jepang di Makassar dan Surabaya untuk menemukan dokumen terkait Tokubetsu Keisatsutai ini. Ia juga terbang mengunjungi Pearl Harbor yang diserang Jepang Jepang pada Desember tahun 1941 yang menjadi pemicu masuknya Jepang ke Asia khususnya Indonesia.
Dari sinilah Jepang membentuk Polisi yang diambil dari pemuda-pemuda pribumi.
14 tahun, bukan waktu sebentar bagi Arif Wachjunadi, yang dalam perjalanannya ini banyak dihadang kendala dan tantangan yang tidak mudah. Namun, semangat dan tekadnya untuk menghadirkan sejarah baru bagi Polri tak pernah padam. Ini dilakukannya, agar seluruh generasi Polri tidak putus dengan sejarahnya (khususnya terkait Proklamasi Polri).
“Karena saya mencintai Polri, jadi suka duka serta kendala dan tantangan selama 14 tahun itu adalah pelajaran penting bagi saya,” ungkapnya ketika ditemui di Sirkuit Mandalika Lombok, Kamis (07/08/24) lalu
Uniknya, Arif bukanlah ahli sejarah, bahkan ia tidak memiliki latar belakang akademis sebagai ahli sejarah. Tekad dan kemauannya yang kuat, ia implementasikan dalam penelitian-penelitian mendalam sambil menjalankan hobinya sebagai seorang pencinta motor besar.
Maka dalam setiap perjalanannya melintasi berbagai tempat di Indonesia (dari Sabang sampai Merauke), ia sempatkan diri untuk mampir ke tempat-tempat yang menyimpan sejarah Polri.
Proses panjangnya selama 14 tahun tersebut, bahkan telah melahirkan tiga buku penting bagi Polri, yang memuat sejarah perjalanan Polri, yang kemudian menjadi pendorong kuat menuju Hari Juang Polri.
Dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Risalah Pustaka tersebut memuat tentang fakta-fakta sejarah serta alasan-alasan yang menjadi landasan valid mengapa tanggal 21 Agustus layak diperingati sebagai Hari Juang Polri.
Dinamika 13 alasan dan fakta-fakta sejarah ini terdokumentasikan dalam dua buku, berjudul Pearl Harbor Hiroshima Nagasaki Kepolisian Negara RI (terbit 2016) dan Pearl Harbor Hiroshima Nagasaki Jejak Perjalanan Perjuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia (terbit 2023).
Dan pada buku ke tiga berjudul Hari Juang Polri, memuat puncak dari perjuangannya, yakni alasan ke 14 yang menguatkan sekaligus mensahkan seluruh hasil penelitian yang melengkapi perjuangan selama 14 tahun tersebut, yakni terbitnya Surat Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor: Kep/95/I/2024, tanggal 22 Januari 2024, tentang Hari Juang Polri.
Maka dengan itu, mulai tahun 2024 ini, institusi Polri tidak hanya memperingati 1 Juli sebagai Hari Bhayangkara, melainkan juga, untuk pertama kalinya secara resmi akan memperingati Hari Juang Polri pada tanggal 21 Agustus 2024.
14 tahun Aruf Wahjunadi merawat keyakinan menuju sejarah baru Polri. Dan setelah 79 tahun kemudian, peristiwa tanggal 21 Agustus 1945 akhirnya mewujud Hari Juang Polri.
Atas perjuangan dan kerja kerasnya ini, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, saat menyapanya dalam sambutan Sarasehan dan Syukuran Hari Juang Polri, (20/08/24) di Gedung Graha Bhara Daksa Polrestabes Surabaya, menyematkan predikat kepadanya sebagai penggagas Hari Juang Polri.
“Hadir pula Wakil Ketua Umum 1 PKBB (Paguyuban Keluarga Besar Brimob) Komjen. Pol. Purnawirawan Arif Wachjunadi, penggagas Hari Juang Polri,” sapa Kapolri yang disambut tepuk tangan seluruh undangan yang hadir malam itu.
Dalam kesempatan wawancara khusus dengan LombokJournal.com, usai menjadi narasumber sarasehan, bagi Arif, terwujudnya Hari Juang Polri ini, tidak sukses karena perjuangannya sendiri, melainkan ia didukung penuh oleh para Kapolri di masanya.
Komjen Pol (Purn) Arif Wahjunadi
Mulai dari Jenderal Polisi Purnawirawan Prof. Awaluddin Djamin, Jenderal Polisi Purnawirawan Suroyo Bimantoro, Jenderal Polisi Purnawirawan Bambang Hendarso Danuri, Jenderal Polisi Purnawirawan Da’i Bachtiar dan lainnya hingga Ketua PKBB (Paguyuban Keluarga Besar Brimob) Komisaris Jenderal Polisi Imam Sudjarwo.
Ada pula para ahli sejarah seperti Prof. Aminuddin Kasdi dan Prof. Anhar Gonggong dan akademisi-akademisi dari universitas-universitas ternama tanah air, antara lain Prof. Gumilar Soemantri Rektor UI 2007-2013, DR. Abdul Wahid dari UGM. Serta masih banyak dukungan lainnya, salah satunya datang dari Ketua MPR RI, Bambang Seosatyo, termasuk Jenderal TNI Purnawirawan Try Sutrisno.
“Terwujudnya Hari Juang Polri, karena dukungan penuh dari banyak pihak khususnya para Kapolri pada masanya, tokoh serta pakar sejarah, akademisi, hingga pelaku-pelaku saksi-saksi sejarah lainnya. Terima kasih kepada Kapolri dan semua pihak yang mendukung terwujudkan Hari Juang Polri,” ungkap Arif menutup wawancara. nik
Sejarah Proklamasi Polisi, Bermula dari Tokubetsu Keisatsutai (3)
Penggagas dan pencetus Hari Juang Polri, Komjen Pol. Purnawirawan Arif Wachjunadi, mengungkapkan suatu peristiwa yang kemudian jadi tonggak sejarah Hari Juang Polri
“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Polisi Istimewa sebagai Polisi Repoeblik Indonesia.”
Soerabaja, 21 Agoestoes 1945
Atas Nama Seloeroeh Warga Polisi Moehammad Jasin – Inspektoer Polisi Kelas I
“Begitulah bunyi kebulatan tekad Polisi Istimewa yang menyatakan dirinya sebagai Polisi Republik Indonesia, dalam Proklamasi Polisi Republik Indonesia tanggal 21 Agustus 1945,” ungkap Komjen Pol. Purnawirawan Arif Wachjunadi, menyampaikan nukilan sejarah Proklamasi Polisi Republik Indonesia.
Komjen Pol. (Purn) Arif Wachjunadi merupakan penggagas dan pencetus Hari Juang Polri.
Prof. Aminuddin Kasdi (kiri), dan Arif Wahjunadi
Setelah 79 tahun berlalu, peristiwa perjuangan yang menjadi sejarah penting bagi institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia, akhirnya diabadikan sebagai Hari Juang Polri.
Peristiwa sejarah itu adalah Proklamasi Polisi Republik Indonesia, tanggal 21 Agustus 1945 yang dilakukan oleh Polisi Istimewa, di bawah pimpinan Inspektur Polisi Kelas Satoe M. Jasin. Proklamasi Polisi ini sesungguhnya bermula dari Tokubetsu Keisatsutai, yang merubah nama menjadi Polisi Istimewa.
Lahir pada bulan April tahun 1944 dengan nama Tokubetsu Keisatsutai, Polisi bentukan Jepang di masa penjajahannya di Indonesia ini, lalu mengganti nama menjadi Polisi Istimewa pada tanggal 18 Agustus 1945.
Pada masa Jepang bernafsu menguasai Asia di penghujung perang dunia ke II, pemuda-pemuda pribumi (baca-Indonesia) dengan kualifikasi terbaik, sengaja direkrut dan dilatih dengan kamampuan tempur militer demi mendukung Jepang memenangkan perang Asia Timur Raya.
Sebelum masuk ke Indonesia pada Januari 1942, Jepang terlebih dahulu mengobarkan perang setelah meluluhlantakkan Pearl Harbor (Pangkalan Militer Angkatan Laut Amerika Serikat di Hawaii) pada tanggal 7 Desember 1941.
Jepang melancarkan dua kali aksi penyerangan brutal yang dilakukan secara tiba-tiba di pagi buta. Serangan ke Pearl Harbor ini kemudian menjadi pemicu terbakarnya Perang Dunia ke II yang melibatkan begitu banyak negara di dunia. Hancurnya pangkalan militer ini, tak pelak menjadi pukulan berat bagi Amerika Serikat.
Ketika Perang Asia Timur Raya atau yang dikenal dalam sejarah sebagai Perang Pasifik berkobar pada tahun 1941-1945, Indonesia masuk dalam pusaran Perang Dunia ke II yang membakar seluruh dunia itu.
Sukses menghancurkan salah satu kekuatan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor, Negeri Matahari Terbit percaya diri. Invansi ke Asia pun berjalan mulus, termasuk Indonesia.
“Di momentum inilah Jepang mulai merekrut anak-anak muda pribumi untuk dijadikan Polisi dengan nama Tokubetsu Keisatsutai, yang akan mendukung Jepang memenangkan perang Asia Timur Raya,” kata Arif.
Penulis buku berjudul Pearl Harbor Hiroshima Nagasaki Jejak Perjalanan Perjuangan Polri ini mengungkapkan, serangan mendadak dan mengejutkan yang dilakukan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada Amerika Serikat di bawah perintah Laksamana Madya Chuichi Nagumo, terhadap pangkalan Militer Amerika di Pelabuhan Mutiara ini adalah langkah preventif Jepang untuk mencegah Amerika ikut campur atas ekspansi mereka di Asia Pasifik.
Karena saat itu Jepang sudah merancang penguasaan atas wilayah-wilayah jajahan Inggris, Amerika dan Belanda di Asia Tenggara demi mengamankan sumber daya alam yang dibutuhkan oleh Jepang.
Berdasarkan laporan surat kabar Berita Oemoem tanggal 3 April 1942 yang mengulas tentang sejarah Perang Pasifik ini menulis bahwa di hari penyerangan Jepang atas armada Amerika di Pasifik itu, sebagian besar Armada Amerika seketika lenyap dari pandangan mata. Satu persatu kapal perang Amerika Serikat hilang dari Pelabuhan Mutiara Hawaii.
Perang hebat di Pearl Harbor terjadi dengan begitu mengagumkan bagi Jepang yang “berkolaborasi” dengan Jerman dan Italia. Pesawat-pesawat udara dan kapal-kapal selam Jepang menggempur dengan begitu hebatnya di pangkalan militer Amerika itu.
Jepang menyerang kapal-kapal pemukul dan kruiser-kruiser besar milik Amerika dan tenggelam hanya dalam beberapa menit saja.
Sejak itu, Jepang tidak berhenti melancarkan serangan-serangan yang “menggoda” kemarahan Amerika, yang membuat dendam perang Amerika Serikat membuncah.
Pertempuran di Asia Pasifik mulai memasuki titik balik pada tahun 1943. Amerika dan Inggris yang merupakan tulang punggung negara-negara Sekutu, mulai menekan Jepang di berbagai medan tempur, akan tetapi Jepang tetap gigih bertahan.
Walaupun angkatan udara Amerika Serikat telah mengebom kota-kota di Jepang, tetapi Jepang tetap tidak menyerah. Puncaknya, pada tanggal 6 Agustus 1945 kota Hiroshima diserang dengan bom atom. Berlanjut tiga hari kemudian, pada tanggal 9 Agustus 1945, Kota Nagasaki turut dibombardir dengan bom atom kedua oleh Amerika Serikat.
Jepang lantas kehilangan kekuatan dan segala upaya perlawanan sudah kehilangan jalan dan arah. Akhirnya Jepang berada pada titik terendah dengan mengibarkan Bendera Putih tanda menyerah. Bom Hiroshima dan Nagasaki disebut-sebut sebagai momentum pembawa perdamaian di Pasifik.
Menyerahnya Jepang kepada sekutu menandai berakhirnya perang. Momentum ini juga dimanfaatkan oleh Indonesia yang kemudian memproklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Demikian pula dengan Tokubetsu Keisatsutai yang kemudian merubah nama menjadi Polisi Istimewa pada tanggal 18 Agustus 1945. Proklamasi kemerdekaan bangsa ini, dipergunakan juga dengan sebaik mungkin oleh Polisi Istimewa untuk menyatakan diri sebagai Polisi milik bangsa Indonesia, Polisi yang berjuang bagi Bangsa Indonesia.
Di masa peralihan kekuasaan ini pasukan Polisi Istimewa dengan bobot tempur militer, menjadi satu-satunya badan perjuangan yang diijinkan memegang senjata demi menjaga keamanan dan ketertiban di masa peralihan kekuasaan di Indonesia.
Heroisme Pasukan Polisi Istimewa dalam berjuang membela dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia tergambar jelas selama revolusi fisik berlangsung, termasuk pada pertempuran Surabaya 10 November 1945.
Polisi Istimewa melucuti senjata tentara Jepang. Orang-orang Jepang dan pimpinan markas Kenpetei pun ditahan dan memutus hubungan telepon keluar. Gudang-gudang senjata dibongkar dan mengeluarkan seluruh perbekalan perang dan amunisitermasuk mobil berlapis baja dan truk-truk.
“Setelah menguasai seluruhnya, kami menjaganya dengan ketat sambil menjalankan tugas pengamanan dan menyiarkan kepada penduduk bahwa negara Indonesia sudah merdeka dan telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, serta bahwa pasukan kami mendukung proklamasi kemerdekaan tersebut dan telah menjadi milik Republik Indonesia,” ujar M. Jasin, dalam buku Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang.
Tindakan lekas yang diambil M. Jasin ini dinilai sebagai langkah yang cerdas dan cekatan.
“Bukan main cekatan dan cerdasnya langkah yang diambil M. Jasin saat merebut markas dalam situasi genting seperti itu. Dia tahu benar membaca peluang untuk kemudian mengambil tindakan yang tepat,” ujar Prof. Aminuddin Kasdi Sejarawan dan Guru Besar Unesa Surabaya.
Syukuran sejarah Hari Juang bersama Kapolri
Sejarah masa perebutan markas dan gudang senjata Kenpetei ini adalah masa yang genting bagi Polisi Istimewa karena harus menghadapi perlawanan Jepang. Inilah masa dimana ‘senjata makan tuan’ bagi Jepang berhasil sukses.
Pasukan Polisi yang bernama Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) yang nota bene dididik oleh Jepang sebagai pasukan istimewa dengan perbekalan ilmu dan strategi perang untuk memenangkan medan-medan pertempuran ini akhirnya mampu membalik situasi.
Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) menang atas ‘tuannya’ sendiri. nik