Kurma Lombok Utara Disiapkan Jadi Oleh-Oleh Haji

Jemaah haji sebelum tiba di Tanah Air atau jelang berangkat sudah dapat memesan via online apakah kurma, kacang-kacangan atau tasbih

MATARAM, LombokJournal.com Iklim kering dan lahan tadah hujan di Kabupaten Lombok Utara sangat cocok bagi pertumbuhan dan pengembangan varietas Kurma.

BACA JUGA :  Teluk Ekas Jadi Pusat Riset Rumput Laut Dunia

Bahkan, Kurma dari Lombok Utara mendapat pengakuan dari Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan).

Dia datang ke Lombok Utara untuk memetakan potensi perkebunan kurma lokal sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi haji nasional.

Gus Irfan mengapresiasi keberhasilan budidaya kurma di Lombok Utara dan berharap wilayah ini dapat menjadi pelopor swasembada kurma di Indonesia.

Kabar baik untuk varietas kurma dari Lombok Utara. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tengah menyiapkan platform digital khusus untuk oleh-oleh haji. 

Tujuannya agar jemaah haji tidak lagi terbebani oleh barang bawaan saat kembali dari Tanah Suci.

BACA JUGA : Cara Ajarkan Anak Agar Bisa Jaga Diri

“Saya meminta Ditjen PPEH membuat platform oleh-oleh. Jadi jemaah haji sebelum tiba di Tanah Air atau menjelang berangkat sudah dapat memesan melalui gawai. Apakah itu kurma, kacang-kacangan, atau tasbih. Begitu jemaah sampai rumah, oleh-oleh sudah tiba,” ujar Gus Irfan, yang dikutip dari laman resmi Kementerian Haji dan Umrah.

Langkah ini diharapkan dapat memutar roda ekonomi di masyarakat. 

“Harapan kami jemaah tidak perlu lagi membeli kurma di Arab Saudi. Kita optimalkan produksi dari NTB atau provinsi lain, sehingga uangnya berputar di rakyat kita sendiri dan harganya pun lebih kompetitif,” tambahnya.

Pemerintah daerah menyambut baik inisiatif ini sebagai peluang besar bagi petani lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok kebutuhan haji yang masif. 

Dengan adanya platform digital dan dukungan distribusi, kurma Lombok Utara diproyeksikan menjadi komoditas unggulan dalam ekosistem ekonomi haji di Indonesia.

BACA JUGA : Pencegahan Pencegahan Perkawinan Anak di NTB

“Semoga kurma Lombok Utara bisa mengambil peran besar. Inilah wujud nyata swasembada yang dimulai dari daerah untuk kepentingan nasional,” tutup Gus Irfan.(*)




Jejak Digital Anak, Sekali Tersebar Tidak Bisa Terhapus

Data dari jejak digital membentuk persepsi anak di masa depan 

MATARAM,LombokJournal.com ~ Tanpa disadari, setiap klik, komentar, dan unggahan ikut membentuk profil dan meninggalkan jejak digital anak-anak.

BACA JUGA : Anak-anak Tak Bisa Bebas Bermedia Sosial

Anak-anak hari ini tumbuh bersama internet. Dari belajar, bermain game, hingga menonton video, semua aktivitas itu meninggalkan jejak digital yang terekam dan tersimpan.

Jejak digital bukan sekadar riwayat aktivitas. Data tersebut bisa digunakan untuk membentuk rekomendasi konten, iklan, bahkan persepsi tentang diri anak di masa depan.

BACA JUGA : Banjir di Obel-obel, Gubernur Perintahkan Mitigasi Komprehensif

Sekali tersebar, tidak semua bisa benar-benar dihapus.

Karena itu, pendampingan orang tua menjadi kunci.

BACA JUGA : Kurma Lombok Utara Disiapkan Jadi Oleh-oleh Haji

Bukan untuk membatasi secara berlebihan, tetapi untuk mengajarkan anak berpikir sebelum membagikan sesuatu dan memahami risiko jejak digital di dunia maya (*)

 




Banjir di Obel-Obel, Gubernur Perintahkan Mitigasi Komprehensif

Guernur Iqbal menegaskan, banjir di Obel-obel merupakan kejadian dengan pola berulang hampir setiap tahun. 

LOTIM.LombokJournal.com ~ Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal meninjau lokasi banjir di Obel-obel, Lombok Timur, Jum’at (20/02/26)

Di sela peninjauan banjir di Obel-obel, Miq Iqbal menerima laporan darurat dari perwakilan warga Desa Madayin yang datang langsung ke lokasi.
Adanya sumbatan aliran sungai akibat tumbangnya beberapa pohon besar yang tersangkut di jembatan

Kunjungan itu memastikan keselamatan warga sekaligus memantau langsung proses pemulihan penghidupan masyarakat yang terdampak banjir Obel-obel pascabencana. 

BACA JUGA : Kurma Lombok Utara Disiapkan Jadi Oleh-oleh Haji

Dalam peninjauan di lokasi banjir di Obel-obel diidentifikasi, banjir tersebut dipicu sedimentasi lumpur dan batuan di alur sungai. 

Pendangkalan sungai membuat elevasi dasar sungai hampir sejajar dengan lahan sekitar. Saat debit air meningkat, luapan cepat masuk ke pemukiman warga.

Mitigasi mendesak, perlu dilakukan normalisasi sungai melalui pengerukan sedimen. Kemudian pengerukan dimanfaatkan untuk meninggikan tanggul kanan dan kiri sepanjang aliran sungai. 

Upaya ini diharapkan dapat mencegah luapan air kembali terjadi saat hujan deras.

Pemprov NTB melalui BPBD, Baznas, dan Dinas Sosial juga menyalurkan bantuan logistik tanggap darurat berupa paket sembako untuk memenuhi kebutuhan dasar warga serta makanan ringan bagi anak-anak. 

Gubernur Miq Iqbal memberikan bantuan khusus berupa perbaikan tempat pengolahan tempe di Dusun Watumpak yang rusak akibat banjir.

BACA JUGA : Anak=anak Tak Bisa Bebas Bermedia Sosal

Selain itu Gubernur Iqbal memberi dukungan modal pembelian bahan baku kedelai guna membantu memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Di sela peninjauan banjir di Obel-obel, Miq Iqbal menerima laporan darurat dari perwakilan warga Desa Madayin yang datang langsung ke lokasi.

Warga melaporkan adanya sumbatan aliran sungai akibat tumbangnya beberapa pohon besar yang tersangkut di jembatan dan berpotensi memperparah banjir bila hujan kembali turun. Menindaklanjuti itu, BPBD Provinsi NTB segera menerjunkan tim ke Desa Madayin untuk melakukan pembersihan material kayu dan sampah, menggunakan gergaji mesin (genset chainsaw) agar aliran air kembali lancar.

Gubernur Iqbal menegaskan, banjir di Obel-obel merupakan kejadian dengan pola berulang hampir setiap tahun. 

BACA JUGA :  Teluk Ekas Jadi Pusat Riset Rumpu Laut Dunia

Karena itu, ia memerintahkan BPBD dan perangkat daerah terkait untuk memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur guna merumuskan solusi jangka menengah dan jangka panjang.

“Kita tidak bisa hanya menangani saat bencana terjadi. Harus ada langkah mitigasi yang lebih komprehensif, mulai dari normalisasi sungai, penguatan tanggul.

Dan harus ada penataan kawasan hulu

“Saya minta BPBD dan OPD terkait berkoordinasi erat dengan Pemkab Lombok Timur agar pencegahan ke depan lebih optimal,” tegas Gubernur Iqbal.

Diharapkan, melalui penanganan terpadu lintas sektor dan dukungan pemerintah kabupaten, risiko serupa banjir di Obel-obel dapat ditekan.

Sekaligus memastikan masyarakat memperoleh perlindungan dan pemulihan yang berkelanjutan.

Dalam meninjau banjir Obel-obel itu, Gubernur Iqbal didampingi Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, Baznas NTB, serta Dinas Sosial turun ke lokasi terdampak banjir di Desa Obel-Obel, Kabupaten Lombok Timur.Komonfotik

 




Anak-Anak Tak Bisa Bebas Bermedia Sosial

 Anak=anak dibatasi bermedia sosial ubtuk melindungi anak dari konten berbahaya, perundungan siber, dan eksploitasi

MATARAM, LombokJournal.com ~ Bermedia sosial dibatasi. Tapi khusus bagi anak-anak. Ya, anak di bawah 13 tahun dibatasi ketat. 

BACA JUGA : Kurma dari Lombok Utara Disiapkan Jadi Oleh-oleh Haji

Sedangkan yang berusia 13 sampai 16 tahun dapat mengakses dengan syarat dan pendampingan orangtua. 

Kebijakan ini melindungi anak dari konten berbahaya, perundungan siber, dan eksploitasi.

BACA JUGA : Teluk Ekas Jadi Pusat Riset Rumput Laut Dunia

Peran orangtua dan kepatuhan platform digital menjadi kunci perlindungan anak di ruang digital.

Dikutip dari Instagram Komdigi, mulai Maret 2026, akses media sosial untuk anak-anak akan dibatasi demi menciptakan ruang digital yang lebih aman.

BACA JUGA : Cara Ajarkan Anak Agar Bisa Jaga Diri

Kebijakan ini bertujuan melindungi anak-anak dari konten berbahaya, perundungan siber, hingga potensi eksploitasi di dunia digital. (*)




Teluk Ekas Jadi Pusat Riset Rumput Laut Dunia 

Hadirnya pusat riset bertaraf internasional di Teluk Ekas diharapkan jadi solusi persoalan klasik budidaya rumput laut

MATARAM.LombokJournal.com ~ Pemerintah Pusat menetapkan Teluk Ekas, Lombok Timur, sebagai lokasi International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) atau Pusat Riset Rumput Laut Tropis Dunia.

Penetapan Teluk Ekas sebagai ITSRC, merupakan bagian dari strategi nasional penguatan ekonomi pesisir dan hilirisasi sektor kelautan.

BACA JUGA : Rinjadi Saat Diberi Kesempatan Bernafas

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menegaskan, penguatan riset rumput laut merupakan langkah strategis. Tujuannya mewujudkan Indonesia sebagai pusat rumput laut dunia. 

Menurutnya, pembangunan ITSRC di Teluk Ekas menjadi pondasi membangun ekosistem riset bertaraf global. Dan mendorong transformasi ekonomi pesisir berbasis ilmu pengetahuan.

Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pasar global

Nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai sekitar 12 miliar dolar AS per tahun dan diproyeksikan terus meningkat. 

Namun, posisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri. 

Karena itu, ITSRC di Teluk Ekas dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional. Termasuk kerja sama dengan University of California, Berkeley, serta Beijing Genomics Institute (BGI) dari Tiongkok. 

BACA JUGA :  Cara Ajarkan Anak Agar Bisa Jaga Diri

BGI berkomitmen mendukung pendanaan sekitar Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, sementara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengalokasikan Rp1,5 miliar pada tahap awal.

Laboratorium Rumput Laut

Sejumlah fasilitas akan dibangun di kawasan ITSRC DI Teluk Ekas, antara lain gedung penelitian, asrama peneliti internasional, apotek, serta sarana pendukung lainnya. 

Secara ekologis, Teluk Ekas dinilai ideal sebagai living laboratory karena memiliki sistem teluk tropis yang relatif terlindung dengan sirkulasi air yang baik. 

Kawasan Teluk Ekas potensial untuk pengembangan berbagai jenis rumput laut, seperti Kappaphycus, Caulerpa, Ulva, dan Halymenia.

Menindaklanjuti penetapan tersebut, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyambut positif kehadiran ITSRC di Teluk Ekas. 

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Muslim, menyampaikan apresiasi atas hadirnya pusat riset bertaraf internasional tersebut, yang diharapkan menjadi solusi atas persoalan klasik budidaya rumput laut, khususnya kelangkaan bibit unggul.

“Pemprov NTB sangat mengapresiasi kehadiran laboratorium rumput laut ini. Selama ini salah satu kendala utama petani adalah keterbatasan bibit berkualitas. Dengan adanya ITSRC, kami berharap masalah tersebut bisa teratasi. Ke depan, pusat riset ini juga diharapkan menjadi pusat penelitian, pendidikan, dan pelatihan bagi masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan pengembangan rumput laut di NTB,” ujar Muslim.

Ia menambahkan, NTB memiliki potensi besar sebagai sentra budidaya rumput laut nasional.

BACA JUGA : Pencegahan Perkawinan Anak di NTB

Karena itu, kolaborasi riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta transfer teknologi dari ITSRC diyakini akan mempercepat peningkatan produktivitas sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir.

Sebagai bagian dari penguatan riset dan pengabdian berbasis potensi daerah, Universitas Mataram turut berperan dalam pengembangan ITSRC Ekas Buana Lombok Timur. ITSRC akan dikembangkan sebagai pusat riset rumput laut bertaraf internasional.

Pusat riset itu  melalui kolaborasi dengan para peneliti dunia, dilengkapi laboratorium, sarana riset, hingga dukungan kapal penelitian.

Selain pusat riset rumput laut, Universitas Mataram juga membangun Klinik Spesialis Kedokteran Kelautan sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan wilayah kepulauan sekaligus mendukung pengembangan pendidikan dokter spesialis.

Agar masyarakat pesisir—khususnya di Lombok Timur—dapat memperoleh akses layanan medis yang lebih dekat dan berkualitas.

Melalui kehadiran ITSRC, Pemprov NTB optimistis Teluk Ekas akan berkembang sebagai pusat inovasi rumput laut tropis dunia, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi pesisir yang berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat. Kominfotik

 




Rinjani Saatnya Diberi Kesempatan Bernapas 

Musim hujan membawa risiko tinggi untuk pendakian Gunung Rinjani

MATARAM,LombokJournal.com – Pada saatnya alam juga butuh waktu beristirahat. Masa penutupan Gunung Rinjani memberi ruang bagi tanah dan vegetasi untuk pulih, satwa kembali tenang, serta tekanan aktivitas manusia berkurang. 

Ini saatnya kesadaran memberi ruang bagi alam, kembali seimbang, bagi jalur untuk pulih, dan bagi ekosistem untuk tumbuh tanpa gangguan.

BACA JUGA : Pencegahan Perkawinan Anak di NTB

Ketika langkah-langkah pendaki berhenti sejenak, itulah saatnya Rinjani memasuki masanya untuk bernapas dan memulihkan diri.

Penutupan pendakian Gunung Rinjani seperti yang dikutip dari Instagram Balai Taman Nasional Gunung Rinjani bukanlah larangan, melainkan bentuk perlindungan untuk pendaki, untuk alam, dan untuk masa depan Rinjani itu sendiri. 

Musim hujan membawa risiko tinggi untuk pendakian Gunung Rinjani. Curah hujan tinggi membuat jalur licin, kabut tebal, hingga aliran air yang menutup lintasan.

Curah hujan tinggi membuat jalur licin, kabut tebal, hingga aliran air yang menutup lintasan. 

Risiko hipotermia dan kecelakaan meningkat signifikan. Keselamatan adalah prioritas utama.

BACA JUGA: Desa Berdaya, NTB Tangani 106 Desa Prioritas

Selama periode 1 Januari hingga 31 Maret 2026 seluruh jalur pendakian Gunung Rinjani ditutup sementara. 

Penutupan pendakian Rnjano ini mencakup jalur Senaru, Torean, Sembalun, Timbanuh, Tetebatu, dan Aik Berik. 

Penutupan pendakian Rinjani dimanfaatkan untuk perbaikan jalur, pemeliharaan fasilitas, dan evaluasi pengelolaan pendakian. Agar saat dibuka kembali, Rinjani lebih aman dan lebih siap menyambut musim pendakian dibuka kembali.

Rinjani akan selalu di sini, megah dan menanti.

BACA JUGA :  Sekretaris Derah NTB ke XIV, Siapa?

Hingga waktunya tiba, mari kita jaga dari kejauhan dengan doa, kepedulian, dan rasa hormat.

Beristirahat hari ini, demi keindahan yang lestari esok hari.(*)

 




Cara Ajarkan Anak agar Bisa Jaga Diri 

Anak perlu diajari cara mengenali situasi tidak aman, berani menjauh, mencari pertolongan, dan segera bercerita kepada Ayah atau Ibu.

MATARAM.LombokJournal.com ~ Mengajarkan anak soal tubuhnya bukan hal tabu. Justru, ini merupakan cara penting agar anak tumbuh dengan rasa aman dan berani menjaga dirinya sendiri.

Melansir konten edukasi dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Perlindungan Anak), sejak dini anak perlu diajarkan cara ada bagian tubuh pribadi yang tidak boleh disentuh atau dilihat sembarang orang, baik pada anak laki-laki maupun perempuan. 

BACA JUGA : Pencegahan Perkawinan Anak di NTB

Anak juga perlu tahu cara memahami bahwa tubuhnya berharga dan punya batasan.

Ajarkan dengan bahasa sederhana bahwa bagian tubuh tertentu hanya boleh disentuh oleh orang tertentu, dalam kondisi tertentu. Misalnya oleh orang tua saat membantu mandi, atau oleh dokter dengan pendampingan.

Tak kalah penting, tanamkan kewaspadaan

BACA JUGA : Desa Berdaya, NTB Tangani 106 Desa Prioritas

Anak perlu diajari cara mengenali situasi tidak aman, berani menjauh, mencari pertolongan, dan segera bercerita kepada Ayah atau Ibu.

Yang paling utama ajarkan anak cara berani bilang “TIDAK”. Karena melindungi tubuh sendiri adalah hak setiap anak.

BACA JUGA : Cuaca Ekstrem, BPBD Pimpin Komando Terpadu

Edukasi kecil hari ini, berdasarkan data dan rekomendasi Komnas Perlindungan Anak, bisa menjadi perlindungan besar di masa depan.(*)

 




Pencegahan Perkawinan Anak di NTB

Sosialisasi dan edukasi kepada orang tua serta masyarakat luas untuk pencegahan perkawinan anak itu masih sangat dibutuhkan

MATARAM.LombokJournal.com ~ Upaya pencegahan perkawinan anak ditegaskan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi NTB, Sinta Agathia.

Ditegaskannya, dalam pencegahan perkawinan anak itu penting melibatkan suara anak dan remaja secara langsung dalam upaya pencegahan perkawinan anak. 

BACA JUGA : Sekretaris Daerah NTB ke XIV, Siapa?

Sinta Agathia mengatakan, anak-anak kerap memiliki pemahaman yang lebih jujur dan mendalam mengenai realitas perkawinan anak yang terjadi di lingkungan mereka.

Hal itu disampaikan Bunda Sinta saat hadir dalam kegiatan Youth Consultation dengan tema pencegahan perkawinan anak yang diselenggarakan Plan International Indonesia di Mataram, Rabu (18/02/26).

Diungkapkannya, TP-PKK telah terjun langsung selama satu tahun terakhir, dan menyadari bahwa masih ada pendekatan yang belum tepat sasaran.  

“Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan masukan dari anak-anak dan remaja agar intervensi yang dilakukan benar-benar efektif,” ungkap Ketua Tim TP-PKK NTB..

Bunda Sinta menekankan pentingnya setiap keluarga untuk memahami bahwa perkawinan tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Justru menambah beban baru dalam kehidupan keluarga. 

Karena itu, sosialisasi dan edukasi kepada orang tua serta masyarakat luas untuk pencegahan perkawinan anak itu masih sangat dibutuhkan. “Agar remaja dapat menikmati masa mudanya melalui kegiatan yang produktif dan positif,” katanya..

Lebih lanjut dijelaskan, permasalahan perkawinan anak di NTB sangat kompleks dan penanganannya. Tidak bisa diseragamkan antara wilayah Lombok dan Sumbawa.

“Sering kali adat disalahkan, padahal faktanya kasus serupa juga terjadi di wilayah lain. Ini adalah persoalan sistemik yang saling berkaitan, seperti mata rantai, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga migrasi tenaga kerja,” ujarnya.

Dirinya, juga mengapresiasi adanya pendekatan di luar jalur pengadilan, yang dinilai lebih persuasif dalam memberikan pemahaman kepada anak-anak dan keluarga. 

Bahkan, sejumlah pemerintah kabupaten telah menunjukkan komitmen dalam pencegahan perkawinan anak itu. 

Salah satunya dengan percepatan pengesahan peraturan bupati terkait pencegahan perkawinan anak. Serta keberhasilan menggagalkan sejumlah permohonan dispensasi nikah.

Hal itu dilakukan melalui edukasi dan pendampingan melalui program khususnya gerakan Sahabat Pengadilan dan Program Gemercik (Gerakan Meraih Cita tanpa Kawin Anak) yang diinisiasi oleh Yayasan Plan International Indonesia. 

Prioritas Utama

Dalam kesempatan sama, Sabaruddin, projek manager Yayasan Plan International Indonesia menyampaikan, pencegahan perkawinan anak merupakan salah satu prioritas utama selama sepuluh tahun terakhir.

BACA JUGA : Cuaca Ekstrem, BPBD NTB Pimpin Komando Terpadu

Program itu dijalankan melalui berbagai program, seperti Yes I Do!, Let’s Talk!, dan GEMERCIK (Gerakan Meraih Cita tanpa Kawin Anak). Program GEMERCIK sendiri menitikberatkan pada pelibatan anak dan remaja, penguatan kapasitas satuan tugas, serta kolaborasi lintas sektor, termasuk pengadilan agama dan keluarga.

Plan bekerjasama dengan Kabupaten Lombok Utara mencetuskan program Gemercik dengan melakukan intervensi peningkatan kapasitas satgas perkawinan anak yang ada di Lombok Utara. 

Program ini menggabungkan anak remaja dan sahabat pengadilan sebagai wadah dalam berpartisipasi untuk melakukan edukasi kepada anal dan keluarga,” jelas Sabaruddin. A

Berdasarkan data yang dihimpun, NTB masih mencatat angka perkawinan anak yang tinggi, dengan sebagian besar permohonan dispensasi nikah disetujui oleh pengadilan agama. 

Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya pencegahan yang lebih kuat sejak hulu, terutama melalui edukasi keluarga dan remaja.

Sabaruddin menegaskan bahwa perkawinan anak bukan semata-mata kesalahan individu, melainkan hasil dari sistem yang masih memiliki banyak celah untuk diperbaiki. 

Melalui forum konsultasi anak muda ini, diharapkan lahir rekomendasi dan aksi nyata pencegahan perkawinan anak yang lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan terbaik anak. nov/her

 




Cuaca Ekstrem, BPBD NTB Pimpin Komando Terpadu

Antisipasi cuaca ekstrem dilakukan sejak dini melalui mekanisme komando terpadu 

MAARAM.LombokJournal.com ~ Menghadapi potensi cuaca ekstrem dasarian III Januari 2026, periode 21–31 Januari, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengaktifkan komando terpadu lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

Berdasarkan informasi dan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah NTB, khususnya di kawasan lereng Gunung Rinjani dan Gunung Tambora.

BACA JUGA : Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa :  Sebuah  Solusi?

Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, Ahsanul Khalik menegaskan, pemerintah daerah melakukan antisipasi cuaca ekstrem sejak dini melalui mekanisme komando terpadu yang dipimpin oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB sebagai leading sektor kebencanaan.

“Pemerintah Provinsi NTB tidak menunggu kejadian. Kesiapsiagaan dibangun berbasis prakiraan cuaca dan upaya pencegahan untuk meminimalkan risiko serta menjaga keselamatan masyarakat”, ujar Ahsanul Khalik di Mataram, Kamis (22/01/26). 

Anaalisis BMKG, potensi hujan dengan intensitas lebih dari 150 milimeter per dasarian diperkirakan mencapai 70 hingga lebih dari 90 persen di wilayah Sembalun, Bayan, Labuhan Badas, Pekat, dan Tambora. 

Wilayah tersebut merupakan kawasan strategis karena berfungsi sebagai sentra pertanian dan perkebunan. Dan memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.

Pemprov NTB telah menggerakkan OPD sesuai tugas dan fungsinya. BPBD Provinsi NTB melakukan pemantauan intensif di wilayah rawan, menyiapkan personel dan logistik kebencanaan, serta memperkuat sistem peringatan dini dan respons cepat.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) memastikan kesiapan infrastruktur pendukung, Seperti drainase, gorong-gorong, saluran irigasi, serta melakukan pemantauan dan penanganan titik-titik rawan banjir dan longsor, termasuk kesiapan penanganan darurat akses jalan.

Di sektor ketahanan pangan, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB melakukan pendampingan kepada petani untuk mengantisipasi potensi gagal panen, mendorong penyesuaian pola tanam, serta memperkuat perlindungan lahan pertanian di kawasan rawan bencana.

Dinas Sosial menyiapkan layanan kedaruratan sosial, termasuk dapur umum dan dukungan logistik bagi masyarakat terdampak apabila diperlukan evakuasi.

BACA JUGA : Konsolidasi Pendidikan Kader Pemula AMAN Mataram

Unsur TNI/Polri juga digerakkan, Basarnas, Taruna Siaga Bencana (Tagana), relawan kebencanaan, pemerintah kabupaten/kota, hingga pemerintah desa guna memperkuat respons dan koordinasi di lapangan.

“Koordinasi ini dibangun sejak awal agar risiko cuaca ekstrem dapat ditekan semaksimal mungkin, keselamatan masyarakat terjaga, dan aktivitas ekonomi, khususnya di kawasan sentra pangan, dapat tetap berlangsung”, pungkas Ahsanul Khalik. (edo/jmy)

 




Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Sebuah Solusi?

Kenanpuan pesantren adalah menerjemahkan pendidikan akhlak menjadi tindakan nyata

MATARAM.LombokJournal.com ~ Belum lama ini, kita dikejutkan berita-berita pilu: pengeroyokan siswa terhadap guru, bullying yang berujung luka fisik dan mental, hingga kekerasan verbal yang menjadi “bahasa sehari-hari” di kalangan pelajar. 

Penulis: Muhamad Arifin: Dosen STIS Darul Falah Pagutan Mataram NTB)

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2023 menunjukkan tingginya angka kekerasan di lingkungan pendidikan, baik secara fisik maupun psikis. Fenomena ini adalah bukti nyata dari degradasi moral yang menggerogoti sendi-sendi karakter anak bangsa.

Situasi ini mengingatkan kita pada peringatan Bung Hatta, “…tidak jujur itu sangat susah diperbaiki.” Kekerasan dan ketidakadilan adalah anak kandung dari ketidakjujuran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Lembaga pendidikan, yang seharusnya menjadi taman yang menumbuhkan kebajikan, justru kerap menjadi panggung konflik dan penyimpangan

Ini adalah alarm darurat bahwa pendekatan pendidikan kita selama ini terlalu menitikberatkan kecerdasan akademik (kognitif) dan mengabaikan penanaman karakter (afektif) serta pembiasaan perilaku (psikomotorik) secara serius.

Lemahnya Fondasi Karakter dan Kendali Diri

Banyak analisis menyebutkan bahwa lemahnya kontrol diri, rendahnya empati, dan kaburnya nilai hormat kepada guru dan sesama adalah akar masalahnya. Dunia digital yang tanpa batas memperparah kondisi ini, di mana kekerasan verbal dan fisik di dunia nyata seringkali merupakan lanjutan dari permusuhan di dunia maya.

Sekolah umum, dengan waktu interaksi yang terbatas dan sistem yang seringkali terjebak pada formalitas kurikulum, kesulitan membangun fondasi karakter yang kokoh. Pendidikan karakter menjadi sekadar mata pelajaran, bukan nafas yang menghidupi seluruh aktivitas sekolah.

Lalu, adakah alternatif ekosistem pendidikan yang mampu membendung krisis ini? Di sinilah pesantren menawarkan model yang relevan. Sebagai sub-kultur pendidikan (Geertz & Wahid), pesantren bukan sekadar sekolah, tetapi sebuah ekosistem kehidupan. Sistem asrama menciptakan lingkungan 24 jam di mana nilai-nilai tidak hanya diajarkan, tetapi “dihidupi” dan “diawasi” secara kolektif.

Kontrol ketat terhadap gadget dan akses internet, seperti diungkapkan Arifin (2024), bukan bentuk pengasingan, melainkan strategi untuk menciptakan ruang aman bagi pembentukan konsentrasi dan karakter. 

Dalam ekosistem ini, hubungan antara santri, ustadz, dan kiai dibangun dengan pondasi rasa hormat (ta’dzim) yang mendalam. Kekerasan fisik atau verbal terhadap guru adalah hal yang hampir tak terbayangkan karena nilai adab kepada pengajar adalah fondasi pertama yang ditanamkan di pesantren.

Akhlak: Lebih Dari Sekedar Teori

Yang membedakan pesantren adalah kemampuannya menerjemahkan pendidikan akhlak menjadi tindakan nyata. Bukan hanya tahu bahwa bullying itu salah, tetapi santri hidup dalam lingkungan yang secara aktif mencegahnya melalui pengawasan peer group dan figur otoritas (kiai/ustadz) yang selalu hadir. Konsep “otot-otot akhlak” yang perlu terus dilatih (Indonesian Heritage Foundation, dalam Arifin, 2024) menemukan medan latihannya yang sempurna di pesantren.

Nilai-nilai inti seperti “hormat” (al-adab), “kasih saying” (ar-rahmah), “tanggung jawab” (al-mas’uliyyah), dan “cinta damai” (as-silm) dikembangkan bukan melalui seminar, tetapi melalui interaksi harian: mengantri mandi, menghormati teman yang sedang menghafal, menyelesaikan konflik dengan mediasi, hingga kerja bakti membersihkan lingkungan. Inilah pendidikan karakter yang aplikatif, yang langsung menyentuh ranah perilaku.

Kontribusi  Pesantren untuk Pendidikan Nasional

Maraknya kekerasan di lembaga pendidikan adalah cermin kegagalan kita membangun ekosistem karakter yang integral. Pesantren, dengan segala keunikannya, menunjukkan bahwa pembentukan karakter memerlukan:

  • Waktu yang cukup: Tidak bisa dicicil 2 jam pelajaran per minggu.
  • Keterlibatan komunitas penuh: Guru, pengasuh, dan senior semua adalah pendidik
  • Keteladanan yang konsisten: Figur otoritas (kiai/ustadz) hidup di tengah dan menjadi contoh utama.
  • Sistem yang mendukung: Aturan, rutinitas, dan pengawasan yang jelas untuk membentuk kebiasaan.

Pemerintah dan pelaku pendidikan formal perlu melihat pesantren bukan sebagai lembaga eksklusif, tetapi sebagai laboratorium hidup pendidikan karakter. Kolaborasi bisa dibangun, misalnya dengan program pertukaran pengalaman, integrasi model mentoring asrama ke sekolah tertentu, atau pelatihan guru yang menekankan pada keteladanan dan pendekatan holistik.

Seperti pepatah Arab yang dikutip penulis, “Syubbānul yaum rijālul ghad”: Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Jika kita ingin masa depan dengan pemimpin yang berintegritas, empatik, dan menjunjung tinggi perdamaian, maka kita harus memperbaiki ekosistem pendidikan yang membentuk mereka hari ini.

Pesantren, dengan warisan panjangnya, menawarkan secercah solusi yang patut dipertimbangkan dan diadaptasi dengan konteks kekinian. Krisis kekerasan di sekolah adalah panggilan mendesak untuk tidak lagi memandang pendidikan karakter sebagai pelengkap, tetapi sebagai inti dari proses pembelajaran.

Referensi:

Arifin, M. (2024). *Pendidikan Pesantren: Solusi atas Moralitas Anak     Bangsa?*(Artikel orisinal yang dikembangkan).                                                                                                                                                                            Wahid, A. & Geertz, C. (Konsep pesantren sebagai sub-kultur).                                                                                              Indonesian Heritage Foundation. (Konsep 9 Pilar Karakter dalam Arifin, 2024).                                                                    Data dan Laporan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mengenai kekerasan di lingkungan pendidikan.