Lapangan Kerja Bagi Mahasiswa Perguruan Tinggi Pesantren

Zoom Meeting membahas kebutuhan lapangan kerja, seorang muslim wajib memiliki etos kerja dan mentalitas profesional 

MATARAM.LombokJourmal.com ~ Tantangan dunia dan lapangan kerja yang semakin kompetitif di era modern dinilai menuntut mahasiswa perguruan tinggi pesantren untuk tidak hanya mengandalkan keilmuan agama. 

Tak kalah pentingnya juga membangun mentalitas, karakter kepemimpinan, dan kompetensi profesional yang kuat agar mampu bersaing di lapangan kerja.

BACA JUGA :  Hardiknas; Mengenal Pelaku Transformasi Pendidikan

Pesan itu mengemuka dalam Webinar Nasional bertema “Leadership: Membangun Mentalitas Siap Kerja bagi Mahasiswa Perguruan Tinggi Pesantren dalam Memasuki Lapangan Kerja” yang digelar oleh STIS Darul Falah Pagutan, Mataram, NTB,  Sabtu (16/05/26) Via Zoomeeting Webinar Ilmiah . 

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa eksekutif STIS Darul Falah serta peserta umum dari berbagai daerah, dengan Kevin Era Azzura bertindak sebagai moderator.

Dr. Muhammad Arifin, M.Pd

Tampil sebagai Keynote Speaker, Dr. Muhammad Arifin, M.Pd, Wakil Ketua I STIS Darul Falah. Ditegaskannya, terkait lapangan kerja sebenarnya mahasiswa perguruan tinggi pesantren memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa dibanding lulusan perguruan tinggi pada umumnya.

“Nilai-nilai yang ditanamkan pesantren, kejujuran, kedisiplinan, kemandirian, dan spiritualitas — adalah fondasi karakter pemimpin sejati yang justru paling dicari dunia kerja saat ini. Masalahnya, kita belum cukup percaya diri untuk menunjukkan itu,” ujarnya.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 105:

اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ

“Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.”

BACA JUGA ;  Hardiknas; Gubernur Tekankan Kualitas Pendidikan

Menurutnya, ayat tersebut adalah landasan teologis yang paling kuat mengapa seorang muslim wajib memiliki etos kerja dan mentalitas profesional yang tinggi. Ini yang dibutuhkan dalam lapangan kerja

Bekerja dengan sungguh-sungguh, menurutnya, adalah bentuk ibadah yang disaksikan langsung oleh Allah SWT..

Mentalitas Siap Kerja

Dr. Muhammad Arifin juga memaparkan lima mentalitas siap kerja yang harus dibangun mahasiswa pesantren, yaitu growth mindset, akuntabilitas, resiliensi, komunikasi efektif, serta inisiatif dan proaktivitas. 

Ia menekankan bahwa sifat utama Rasulullah SAW, shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah adalah blueprint kepemimpinan paling sempurna yang relevan hingga hari ini.

“Jangan rendah diri dengan latar belakang pesantren kalian. Itu bukan kelemahan, itu keunggulan yang belum kalian sadari sepenuhnya,” tegasnya. 

Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Abdullah, M.Pd, Dosen Universitas Nurul Jadid Paiton, Jawa Timur, sebagai Narasumber pertama. Ia menyoroti pentingnya penguatan kompetensi abad 21 bagi mahasiswa pesantren, khususnya kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan kecerdasan emosional.

Menurutnya, kesenjangan antara lulusan dan kebutuhan industri bukan semata soal kemampuan teknis, melainkan lebih banyak disebabkan oleh lemahnya soft skills dan kesiapan mental.

“Data menunjukkan bahwa mayoritas kegagalan di dunia kerja bukan karena tidak kompeten secara teknis, tetapi karena tidak mampu beradaptasi, tidak bisa bekerja dalam tim, dan mudah menyerah saat menghadapi tekanan,” paparnya.

Dr. Abdullah menegaskan bahwa mentalitas siap kerja dapat dibentuk melalui beberapa hal konkret, seperti meningkatkan keterampilan komunikasi, kemampuan berpikir kritis, manajemen waktu, kerja tim, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi serta kebutuhan industri.

“Semua keterampilan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dilatih, diasah, dan dibiasakan sejak di bangku kuliah,” ujarnya.

Pesantren dan Kepemimpinan

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengalaman organisasi, pelatihan kepemimpinan, magang, dan kegiatan sosial juga memiliki peran yang sangat strategis dalam membantu mahasiswa memahami tantangan dunia kerja secara nyata bukan sekadar teori di dalam kelas.

“Mahasiswa yang aktif berorganisasi dan terlibat langsung dalam kegiatan sosial akan memiliki kepekaan, ketangguhan, dan kematangan yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang hanya duduk mendengarkan kuliah,” tegasnya.

BACA JUGA  ;  Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan

Ia menutup pemaparannya dengan menekankan bahwa dengan kemampuan leadership yang baik, mahasiswa perguruan tinggi pesantren diharapkan mampu menjadi pribadi yang profesional, percaya diri, mandiri, dan memiliki integritas tinggi.

Hal itu, menurutnya, akan membantu mereka lebih siap memasuki lapangan kerja serta mampu bersaing dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan dunia profesional.

“Pesantren sudah memberi kalian karakter. Kini tugas kalian adalah melengkapinya dengan kompetensi dan keberanian untuk tampil di panggung dunia,” pungkasnya.

Narasumber kedua, Dr. Fathorrahman, M.Pd, Direktur Pascasarjana Institut Kariman Wirayudha Madura, Jawa Timur, membawakan perspektif yang mendalam tentang hakikat manusia sebagai pemimpin di bumi dalam kaitannya dengan kesiapan memasuki dunia kerja.

Ia membuka pemaparannya dengan mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

Menurutnya, ayat ini adalah deklarasi Allah SWT atas kedudukan mulia manusia sebagai pemimpin di muka bumi. 

Bukan pemimpin dalam arti sempit yang hanya duduk di kursi jabatan, melainkan pemimpin dalam makna yang paling hakiki yaitu setiap manusia yang mampu mengelola dirinya, memberikan manfaat bagi lingkungannya, dan mengemban amanah dengan penuh tanggung jawab.

“Sebelum memimpin orang lain, seorang khalifah harus mampu memimpin dirinya sendiri. Itulah inti dari mentalitas siap kerja yang sesungguhnya,” tegasnya.

Dr. Fathorrahman menjelaskan bahwa konsep khalifah mengandung tiga tanggung jawab besar yang sangat relevan dengan dunia kerja.

Pertama, tanggung jawab intelektual manusia dibekali akal untuk berpikir, memecahkan masalah, dan berinovasi. Kedua, tanggung jawab moral setiap pekerjaan dan keputusan harus dilandasi nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Ketiga, tanggung jawab sosial hasil kerja seorang khalifah harus memberi kemaslahatan, bukan sekadar keuntungan pribadi.

“Mahasiswa pesantren adalah calon-calon khalifah yang paling siap. Kalian sudah ditempa ilmu agama, dilatih akhlak, dan dididik untuk melayani. Kini saatnya kalian melangkah ke dunia lapangan kerja dan buktikan bahwa khalifah yang sesungguhnya hadir dari rahim pesantren,” ujarnya dengan penuh semangat.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara institusi pendidikan pesantren dengan dunia industri dan pemerintahan guna membuka lebih banyak pintu peluang kerja bagi lulusan.

“Perguruan tinggi pesantren harus berani keluar dari zona nyaman dan membangun kemitraan strategis dengan berbagai sektor. Potensi jaringan alumni pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia adalah modal sosial yang luar biasa dan belum dioptimalkan secara maksimal,” pungkasnya.

Webinar ini menjadi ruang refleksi sekaligus pembangkit semangat bagi para mahasiswa bahwa jalan menuju dunia kerja bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sebuah medan pengabdian yang harus dimasuki dengan persiapan matang, mentalitas kuat, dan keyakinan penuh.

Melalui kegiatan ini, STIS Darul Falah Pagutan berharap dapat terus mendorong lahirnya generasi pemimpin muda dari rahim pesantren yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga unggul, kompeten, dan berdaya saing tinggi dalam menghadapi tantangan zaman. AR

 




Peringatan Hardiknas; Gubernur Tekankan Kualitas Pendidikan

Peringatan Hardiknas 2026 ini, Gubernur NTB menyampaikan amanat nasional pendidikan dasar dan menengah dalam lima kebijakan strategis nasional. 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Dalam peringatan Hardiknas atau Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menekankan kualitas pendidikan dalam akses belajar, kompetensi dan kesejahteraan guru. 

BACA JUGA : Hardikns; Mengenal Pelaku Transformasi Pendidikan 

Gubernur Lalu Muhammad Iqbal

Sebagai apresiasi dan perhatian kepada guru berstatus Pegawai Pemerintah Perjanjian Kerja Paruh Waktu (PPPK – PW), Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyiapkan anggaran untuk penghasilan tambahan minimal sebesar Rp 500 ribu bagi 1.759 guru mulai September mendatang.

“Khusus untuk guru P3K PW yang penghasilannya tergantung jam mengajar, kami berupaya di tengah keterbatasan fiskal untuk memberikan kesejahteraan yang lebih baik”, ucap Gubernur Dr. H.L.Muhamad Iqbal.

Hal itu disampaikannya dalam upacara peringatan Hardiknas di lapangan kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga di Mataram, Sabtu (02/05/26). 

Gubernur mengatakan, kebijakan bagi guru PPPK- PW ini dilakukan sebesar harapan daerah dalam memajukan dunia pendidikan. 

Gubernur menegaskan bahwa Dinas Dikpora sebagai pengampu utama pendidikan, fokus kepada pembanguan manusia bukan sekadar fisik agar kualitas pendidikan meningkat. 

BACA JUGA ;  Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan

“Kualitas pendidikan artinya dinas, kepala sekolah dan guru mulai memikirkan agar seluruh anak memiliki akses pendidikan. Memastikan tidak ada anak putus sekolah, memastikan kualitas bahan ajar dan kualitas  guru,” tegasnya. 

Dalam upacara peringatan Hardiknas ini, Gubernur NTB menyampaikan amanat nasional pendidikan dasar dan menengah dalam lima kebijakan strategis nasional

Kebijakan strategis yang dimaksud yakni, revitalisasi satuan pendidikan dan digitalisasi. Kemudian pemenuhan kualifikasi dan kompetensi guru sebagai teladan dan kesejahteraan dalam bentuk beasiswa kuliah bagi guru. Penguatan pendidikan karakter melalui budaya dan lingkungan sekolah.

Serta kualitas pembelajaran melalui gerakan literasi dan numerasi dalam science, technology, engineering and mathematics (STEM) dan tes kemampuan akademik termasuk olahraga dan kesenian.

Selain itu, kebijakan layanan pendidikan yang mudah, murah dan fleksibel untuk berbagai penyebab putus sekolah dengan sekolah satu atap, pembelajaran jarak jauh, komunitas belajar dan sekolah terbuka. 

Untuk mewujudkan pendidikan bermutu, empat ekosistem pendidikan dari sekolah, keluarga, masyarakat dan media diintegrasikan dalam regulasi dan kebijakan. 

BACA JUGA : Pertunjukan Media Baru, Mengapresiasi Unconscious Theory

Dalam upacara peringatan Hardiknas tersebut, Gubernur juga menyerahkan penghargaan Satya Lencana Karyasatya kepada tiga orang pengajar dari SMA Negeri 5 Mataram, Siti Nurhani, SLB Negeri 1 Mataram, Kamtono dan SMK Negeri 1 Mataram, Ahmad Quroni. (jmy/dinaskominfotikntb).

 

 




Hardiknas; Mengenal Pelaku Transformasi Pendidikan 

Pada momentem Hardiknas, DR Muhammad Arifin menegaskan, pendidikan harus mampu mencetak lulusan yang maju, kompetitif, dan inovatif

MATARAM.LombokJournal.comHari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei bukan sekadar seremoni tahunan untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara. 

Lebih dari itu, momentum Hardiknas merupakan alarm bagi bangsa Indonesia untuk terus menghidupkan api literasi dan karakter di tengah gempuran modernitas. 

BACA JUGA  :  Inovasi Mahasiswa, Bikin Mesin Pengiris Tempe Tenaga Surya

, Esensi filosofi “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” sejatinya sedang diuji: sejauh mana institusi pendidikan mampu mencetak individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kepedulian sosial yang nyata.

Di tengah transformasi besar dunia pendidikan, muncul sosok-sosok inspiratif yang menjadi representasi nyata dari semangat Hardiknas tersebut. 

Salah satunya adalah Dr. Muhamad Arifin, S.Pd, M.Pd, seorang akademisi muda asal Banyumulek, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan hidupnya mencerminkan bahwa pendidikan adalah tangga eskalasi sosial yang inklusif. Memulai langkah dari SDN 05 Banyumulek hingga menimba ilmu di Pondok Pesantren Darul Falah Pagutan Mataram, Arifin membuktikan bahwa latar belakang santri bukanlah penghalang untuk meraih puncak akademik. 

BACA JUGA : Anak-anak Tak Bisa Bebas Bermedia Sosial

Melalui program beasiswa 5000 Doktor dari Kementerian Agama Republik Indonesia, ia berhasil meraih gelar Doktor (S3) di IAIN Jember pada usia 30 tahun dengan predikat cumlaude, sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa kerja keras dan dukungan negara dapat melahirkan intelektual muda yang mumpuni.

Namun, bagi pria kelahiran 31 Desember 1990 ini, gelar doktor bukanlah tujuan akhir, melainkan alat pengabdian. Sebagai Wakil Ketua I Bidang Akademik di STIS Darul Falah Pagutan Mataram, ia memegang teguh amanah gurunya, Al Mursyid Abuya TGH. Muammar Arafat, SH,MH, yang berpesan:

“Seberapapun tinggi ilmu yang kau raih dan seberapapun jauh langkahmu melangkah, jangan pernah lupakan akar yang telah menumbuhkanmu tetaplah mengabdi dan mengajar, walaupun hanya sebagai guru ngaji di TPQ, karena di sinilah keberkahan sesungguhnya” 

Nilai inilah yang ia ejawantahkan melalui pendirian Yayasan Ma’rifatul Falah pada 2017. Yayasan ini menjadi kawah candradimuka bagi masyarakat melalui berbagai lembaga seperti Madrasah Diniyyah, TK Berbasis Pesantren, Tahfiz al Quran, Majlis Ta’lim hingga Sekolah Literasi. Fokusnya jelas, Pendidikan sejatinya merupakan medan pengabdian yang berorientasi pada transformasi moral dan peningkatan kualitas spiritual umat. 

Sehingga setiap upaya edukatif yang dilakukan secara konsisten dan ikhlas akan berkontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter serta ketinggian akhlak generasi penerus bangsa.

Dedikasi Arifin tidak hanya berhenti pada ranah praktis, tetapi juga tertuang dalam berbagai karya tulis dan jurnal ilmiah. Sebagai akademisi produktif, ia telah melahirkan berbagai pemikiran yang menitikberatkan pada integrasi pendidikan Islam dan manajemen modern. 

Beberapa karya dan publikasinya meliputi kajian tentang manajemen pendidikan Islam, tentang kepemimpinan kiai pesantren, manajemen masjid, manajemen konflik dalam rumah tangga dan beberapa karya lainya. Kiprahnya sebagai invited speaker dan presenter di mancanegara seperti di UPM Malaysia, Fatoni University Thailand, hingga Kolej Islam Teknologi Antar Bangsa membuktikan bahwa pemikiran lokal berbasis pesantren mampu bersaing dan diakui di panggung internasional.

BACA JUGA : Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan

Selain aktif menulis, doktor muda ini juga mengemban tanggung jawab strategis sebagai Asesor PPG Nasional Kemendikbudristek RI. Di organisasi, ia mengabdi sebagai Sekretaris harian Ikatan Alumni Darul Falah (IKADAFA), Ketua Tanfidziyah MWC NU Kediri Lombok Barat, serta Sekretaris Perkumpulan Dosen dan Peneliti Indonesia (PDPI) NTB. 

Sinergi antara literasi kitab kuning (kutubutturats) dan Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPTEK) yang ia usung menjadi kunci bagi kemajuan hukum Islam di Indonesia.

Melalui refleksi Hardiknas ini, kita diingatkan bahwa masa depan pendidikan Indonesia terletak pada integrasi antara kecerdasan akademis dan ketulusan pengabdian. 

Harapan Dr. Muhamad Arifin agar STIS Darul Falah menjadi “mercusuar” di daerah pulau seribu masjid adalah simbol optimisme kolektif kita semua. Pendidikan harus mampu mencetak lulusan yang maju, kompetitif, dan inovatif.

Namun tetap memiliki akar moral yang kuat untuk menyelamatkan umat di dunia dan akhirat. Inilah sejatinya makna kemerdekaan belajar: menjadi manusia yang berilmu, berdaya, dan bermanfaat bagi sesama.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026   

“Narasi Tanpa Batas”. (*)

 

 




Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan 

Dalam banyak kasus, perlawanan justru tumbuh dari keterbatasan—dari ruang yang sempit, dari bahasa yang diawasi, dari ketakutan yang tidak boleh diucapkan

MATARAM.LombokJournal.com ~ Tulisan-tulisan dalam buku ‘Catatan Perlawanan’ ditulis Prof Aba Du Wahid saat masih mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Sastra Arab (tamat 1994). 

Para cendekiawan, termasuk mahasiswa, perlawanan tidak harus dengan cara frontal melalui teriakan
Prof Aba Du Wahid

Saat menulis catatan itu, Aba Du Wahid masih merasakan atmosfer kekuasaan rezim Orde Baru Soeharto. Sehingga catatan dalam tulisan itu merupakan semacam refleksi dari topik kekuasaan dan penindasan.

BACA JUGA :  Maestro Tari NTB, Mengangkat Tradisi Mampu Mendunia

Tokoh yang dikenal sebagai oposisi penguasa represif Orde Baru, yaitu Arief Budiman memberi kata pengantar 16 catatan yang ditulis Aba Du Wahid, menyebutnya sebagai model ekspresi cendekiawan, tipikal  dunia batin dan realita generasi 80-90 an. 

Arief Budiman menyebut ekspresi saat itu para cendekiawan tidak berteriak lantang. Ekspresi yang mengedepan hanyalah gerutuan dan bahkan gumaman. Seharusnya mereka bisa bicara apa adanya tanpa tedeng aling-aling. Tapi yang keluar adalah eufemisme.

Meski demikian, “Sekalipun begitu, daya dobrak ekspresi seperti inii tidak kalah kuatnya,” tulis Arief Budiman.

Tapi demikianlah ekspresi dalam catatan-catatan yang ditulis Aba Du Wahid, perlawanan tidak selalu berteriak. Tulisan-tulisannya dalam Catatan Perlawanan ini justru sering berbisik. Dalam sejarah Indonesia, terutama pada masa Orde Baru, bisikan itu menjelma menjadi bahasa kebudayaan—sebuah cara bertahan sekaligus melawan ketika ruang politik dikunci rapat. 

Pada masa Orde Baru, kekuasaan bekerja bukan hanya dengan aparat, tetapi juga dengan bahasa. Negara tidak sekadar mengatur tindakan, melainkan juga mengontrol cara berpikir dan berbicara. Kritik dibungkam, oposisi dilemahkan, dan wacana publik diseragamkan.

Dalam situasi seperti itu, bahasa resmi menjadi kaku, steril, dan penuh kepatuhan. Ia tidak lagi menjadi alat ekspresi, melainkan instrumen kekuasaan.

BACA JUGA : Puisi ke Nada : Perjalanan Lima Karya dalam “Ampenan Groove”

Para cendekiawan, termasuk mahasiswa, perlawanan tidak harus dengan cara frontal melalui teriakan. Dalam banyak kasus, perlawanan justru tumbuh dari keterbatasan—dari ruang yang sempit, dari bahasa yang diawasi, dari ketakutan yang tidak boleh diucapkan. 

Bahasa Kebudayaan

Pada masa rezim Orde Baru, Aba Du Wahid menemukan cara lain untuk berbicara. Ia menulis catatan untuk tidak berhenti melawan dengan mengganti bahasanya. 

Kebudayaan menjadi tempat persembunyian sekaligus medan perlawanan. Saat kritik politik dibungkam, panggung teater, puisi, dan humor menjelma menjadi ruang alternatif. Di sana, perlawanan tidak tampil sebagai slogan, melainkan narasi simbol

Ia tidak berteriak, tetapi mengendap. Tokoh-tokoh dalam lakon tidak sekadar berperan, tetapi menyiratkan. Penonton pun tidak sekadar menyaksikan, tetapi membaca.

“Buku ini (Catatan Peralawanan, red) bukan karya sastra,” kata Aba Du Wahid.

Catatan-catatan yang ditulisnya diakuinya hanya cetusan begitu saja dari suatu pengalaman. Bisa jadi catatan ini memuat pesimisme dan optimisme serta kegamangan subyektif dalam menghadapi keadaan yang serba menindas (Pengatar Penulis).                                                                                                                                                                       

Ada semacam kesepakatan diam-diam: yang tidak bisa dikatakan secara langsung, bisa dipahami bersama melalui tanda, perumpamaan, atau proyeksi.  Inilah yang membuat perlawanan sebagai bahasa kebudayaan pada masa Orde Baru memiliki kedalaman yang khas.

Ia bukan hanya bentuk ekspresi, tetapi juga strategi bertahan. Dalam tekanan, kebudayaan dipaksa menjadi cerdas. Sensor melahirkan kecanggihan simbolik. Represi, secara paradoks, memperkaya cara kita berbicara.                             

Dalam buku setebal 175 halaman (terbit tahun 2000) itu, Aba Du Wahid menulis catatan perjalanannya (mahasiswa era Rezim Orde Baru) dalam bahasa plastis, kisah-kisah dalam tanya jawab yang kritis.                                                       

Misalnya, ia memang berharap (pada masa Orde Baru) agar ‘kalau ada yang mau bicara apa pun jangan dibungkam’. Meski kemudian Wahid menyindir, (pada masa Orde Baru) bahwa ‘kritik boleh-boleh saja, protes sah-sah saja, tapi gue tetap tak mau dengar’.                                                                                                                                                         

“Mungkin kicau burung yang indah saja dikira auman harimau lalu mesti harus ditembak….” tulis Wahid (hal15)  

Nasib Perlawanan                                                                                                                                                                              Dalam akhir buku ini, Aba Du Wahid mengambil kisah simbolik Abu Dzar, yang dikenal sebagai sahabat Rasulullah, yang berani melakukan perlawanan frontal pada kekuasaan yang penuh kepalsuan dan menindas. Ini semacam proyeksi dari situasi pemerintah yang korup, penuh kepalsuan dan anti kritik yang dinilai sebagai perlawanan. Ia memimpin perlawanan dari kalangan tertindas                                                                                                                       

Abu Dzar datang sebagai sesama orang kecil yang menuntut hak-haknya, yang telah lama dirampas penguasa. Rakyat kecil kalau bicara mulutnya ditampar, Dan kalau bicara lagi nafkahnya diputus. Kalau tetap bandel akan dibredel dan dipenjara. Dan tujuh turunan akan dicap sebagai ‘anggota partai terlarang’.                                                                                                              

Aba Du Wahid

Abu Dzar yang berani memimpin perlawanan bersama orang-orang tertindas, akhirnya dibuang ke daerah terpencil yang kering dan tandus. Ia bersama istri dan anaknya hidup dalam keadaan berat dan mengalami penderitaan yang tiada taranya.

BACA JUGA : Toleransi Diperkuat Pada Perayaan dhul Ftri – Nyepi 2026

Apakah kisah Abu Dzar merupakan proyeksi dari nasib yang akan dialami para cendekiawan (yang hidup era rezim Orde Baru) yang berani frontal mengkritik penguasa?

Catatan Perlawanan buku reflektif Aba Du Wahid asyik dan layak dibaca untuk berkaca tentang situasi pada rezim Orde Baru yang menindas.***

 




Maestro Tari NTB, Mengangkat Tradisi Mampu Mendunia

Birokrat yang juga Maestro Tari ini menekankan pentingnya menghidupkan kreativitas, semangat menghasilkan karya=karya kreatif tak boleh padam

MATARAM.LombokJournal.com ~Lalu Suryadi Mulawarman, SSn. MM merupakan satu-satu seniman yang diakui sebagai Maestro tari dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Karya tarinya selain mengisi seremoni berbagai event nasional hingga internasional, hingga acara muhibah ke berbagai negara.

BACA JUGA : Puisi ke Nada, Perjalanan Karya dalam Ampenan Groove

Lalu Suryadi Mulawarman

Ratusan karya tari sudah dihasilkan dan dipresentasikan dengan SAK SAK DANCE, kelompok tari yang didirikan dan dipimpinnya sejak tahun 2001. 

“Baru 24 karya tari yang mempunyai sertifikat hak cipta,” tutur sang Maestro, saat dijumpai di ruang kerjanya, Jum.at (27/03/26) siang.

Karya-karyanya mulai yang ditarikan kelompok anak-anak dalam lomba seni pelajar tingkat nasional, hingga pra penari yang diminta mengisi seremoni berbagai event tingkat nasional hingga internasional.  

Baginya, pengakuan pemerintah yang menetapkannya sebagai Maestro bukan membuatnya menjadi tinggi hati. Justru menurut koreografer yang selalu hangat itu, ia menerima tanggung jawab besar untuk mendorong para seniman daerahnya agar terus berkarya dengan mengangkat khasanah tradisi NTB. 

Dengan rendah hati ia mengakui, di NTB baik di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa, selain kaya dengan khasanah seni tradisi. Selain itu, juga terdapat seniman-seniman pencipta seni tradisi yang layak mendapat apresiasi tinggi. 

Para seniman sepuh itu memiliki dedikasi. Dan merasa memiliki tanggung jawab besar untuk menyebarkan karyanya menjadi warisan generasi penerus di daerahnya. 

BACA JUGA : Literasi Global, Ranadhan Menguatkan Kolaborasi Internasional

Contohnya, di seni tari ada Amaq Raya, di seni pedalangan ada dalang kondang Lalu Nasib, atau di seni teater tradisi Cupak Gurantang ada Amaq Yusuf, ketiganya sudah almarhum.

“Mereka itu semua merupakan maestro seni tradisi. Tapi untuk diakui pemerintah sebagai Maestro, mereka harus mempunyai portofolio karya-karyanya…,” tutur Surya

Mengikuti jejak para perintis pencipta seni tradisi di daerahnya, Surya menekankan pentingnya menghidupkan kreativitas. Semangat untuk menghasilkan karya=karya kreatif tak boleh padam. 

Kreativitas merupakan api yang harus terus dihidupkan. Ini salah satu cara mengangkat khasanah seni tradisi NTB ke jenjang lebih tinggi dan luas. 

Seni yang tumbuh dan hidup di lokal, harus diangkat agar mampu bersaing di tingkat nasional bahkan ke tingkat internasional (dunia).

“Kreativitas kita harus mengangkat khasanah lokal (tradisi) bisa mendunia,” tegas Surya.

Memilih Dunia Kreatif

Sejak muda, Lalu Suryadi Mulawarman, telah menekuni dunia tari. Semula ia belajar dari guru tari kondang di Lombok, yaitu H. Hamid. Dari guru tari yang piawai mengulik tari lokal itu, ia mulai banyak mengenal tari yang digali dari khasanah tari tradisi.

Namun minatnya yang besar di dunia tari, membuatnya terdorong belajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di Jakarta.

Selesai belajar di IKJ tahun 2001, Surya memutuskan untuk kembali ke daerah di Lombok. Mendarmabaktikan ilmunya untuk kemajuan seni tradisi  Sejak tahun 2001 ia mendirikan SAK SAK DANCE, tempat ia merekrut anak-anak muda berbakat, melatihnya, untuk menghasilkan karya seni tari yang berangkat dari khasanah seni tradisi.

“Setidaknya, terhitung setelah saya selesai di IKJ tahun 2001, berarti sudah 25 tahun saya intens mencipta di dunia kreatif,” tutur Surya.

BACA JUGA : Toleransi Dipekuat Perayaan Idhul Fitri – Nyepi 2026

Sejak itu pula ia mengajak anak asuhnya menggelar tarian di berbagai event. Tiap event penting, baik tingkat nasional maupun internasional yang berlangsung di NTB, selalu menampilkan kelompok tari SAK SAK DANCE. Harus diakui hanya kelompok tari ini yang siap untuk tampil di ajang event besar. 

Dalam perayaan Hari Kemerdekaan tahun 2025, SAK SAK DANCE yang mewakili NTB untuk menampilkan tarian di Istana Kepresidenan. 

Surya selama kuliah IKJ sUdah 3 kali tampil di Istana Kepresidenan. Meski bukan tampil yang pertama di Istana, tapi kebanggan tersendiri membawa rombongan tim kesenian NTB tampil di Istana.. 

Tim kesenian darr masing-masing  Provinsi yang akan tampil di Istana Negara melalui kurasi yang ketat darr TIM Kepresidenan Sekretariat Negara. Mulai dari materi karya yang ditampilkan, kostum dan properti, semua harus sepengetahuan dan persetujuan dari Tim Kurator

“Penunjukan NTB juga Karena kesuksesan saat Opening Ceremony  dalam pelaksanaan FORNAS VIII 2025 yang melibatkan 500 talent, inilah salah satu tonggak kami diundang,” cerita Surya

Kreativitas tari yang ditampilkan itu juga mengambil khasanah seni tradisi Sasak (Lombok). 

Lalu Suryadi Mulawarman saat ini menjadi Kepala Taman Budaya NTB, dan maestro ini merupakan satu-satunya Kepala Taman Budaya yang berangkat sebagai pelaku seni.

Sehingga ia dalam tugasnya ia sangat dekat dengan seniman. Ia sangat memahami apa yang harus dilakukan, sesuai aspirasi seniman.

“Wilayah kerja Taman Budaya itu laboratorium seni, yaitu meningkatkan kualitas seni,” ujar Surya.

Karena itu ia sangat menikmati memimpin lembaga pemerintah yang bertugas meningkatkan kualitas karya seniman. 

“Saya tidak berambisi menduduki jabatan-jabatan yang membuat tenggelam dalam tugas-tugas, tapi menjauhkan saya dari dunia kreativitas seni. Sebab pilihan hidup saya di dunia kreatif,” tegas Surya. lbj




Puisi ke Nada: Perjalanan Lima Karya dalam “Ampenan Groove”

Beberapa puisi diolah dengan formasi full band, sementara yang lain cukup dengan piano atau instrumen sederhana 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Di sebuah ruang kreatif yang tidak selalu gaduh oleh tepuk tangan, puisi terkadang menemukan kehidupan keduanya, bukan lagi di halaman buku, melainkan di dalam nada. 

“Ampenan Groove”

Dari ruang sunyi itulah lahir sebuah proyek musikalisasi puisi bertajuk “Ampenan Groove”, yang meramu lima puisi dari buku Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil karya Agus K Saputra menjadi karya musikal yang bernapas baru.

Buku puisi yang terbit pada Maret 2020 itu awalnya hadir sebagai kumpulan refleksi personal tentang kenangan, masa kecil, kehilangan, dan perjalanan batin. 

Namun oleh musisi Pipiet Tripitaka, sejumlah puisi di dalamnya diterjemahkan kembali dalam bentuk musikalisasi. Lima puisi terpilih—Puspa, Terkoyak Ujung Mimpi, Kutulis Kata Maaf, Kereta Langit Sudah Datang, dan Selamat Jalan Kawan—disusun menjadi satu perjalanan musikal yang utuh.

BACA JUGA :  Literasi Global, Ramadhan Menciptakan Kolaborasi Internasional

Peracikan artistiknya berada di tangan kriszappa, yang bertindak sebagai produser sekaligus art director. Di tangannya, lima puisi tersebut dirangkai seperti alur cerita kehidupan, membentuk komposisi yang ia beri tajuk “Ampenan Groove”. 

Sebuah nama yang tidak sekadar estetis, tetapi juga membawa suasana kontemplatif yang mengalir dari awal hingga akhir.

Kereta Langit Sudah Datang

Salah satu puisi yang paling memiliki jejak kenangan adalah Kereta Langit Sudah Datang. Puisi ini ditulis pada 6 Oktober 2014 dan judulnya terinspirasi dari cerita pendek karya Imtihan Taufan yang pernah terbit di surat kabar Suara NTB pada 4 Oktober 2014. 

BACA JUGA : Koreografer Muda NTB yang Berprestasi Bermunculan

Bagi lingkar pertemanan kreatif di Mataram, nama Imtihan Taufan bukan sekadar penulis, melainkan bagian dari energi kesenian lokal.

Dalam catatan komunitas Akar Pohon, Imtihan dikenal sebagai penulis cerita pendek, novel, naskah lakon, hingga esai. Ia juga aktif di dunia teater bersama Teater Kamar Indonesia, terutama sebagai penulis naskah dan penata artistik. 

Cerpennya Melawan Kucing-Kucing pernah terpilih sebagai cerpen terbaik Suara NTB 2014–2015. Kumpulan cerpennya Interior Nikolo bahkan diterbitkan secara anumerta pada 2015.

Kenangan terhadap Imtihan tidak hanya hidup di karya, tetapi juga dalam pertemanan sehari-hari. Bagi Agus K Saputra dan kriszappa, salah satu memori paling sederhana adalah berburu kaset-kaset lama. 

Jika ada kabar tentang koleksi musik lawas di suatu tempat, mereka akan saling memberi tahu dan memburunya bersama.

Proyek “Ampenan Groove” sendiri rencananya akan dirilis pada 27 Maret 2026 di berbagai layanan streaming music populer antara lain Spotify, Apple Music, Youtube Music, setelah melewati proses kurasi dari pihak penerbit. 

Namun di balik rencana rilis itu, yang menarik justru terletak pada proses penciptaannya.

Pipiet Tripitaka

Pipiet Tripitaka mengaku memilih puisi secara intuitif. Ia tidak membatasi komposisinya pada format tertentu. 

Beberapa puisi diolah dengan formasi full band, sementara yang lain cukup dengan piano atau instrumen sederhana yang dianggap paling mampu menerjemahkan makna puisi.

Menurutnya, nada yang lahir merupakan interpretasi pribadi terhadap kata-kata penyair. Ia juga sengaja tidak mengurung karya tersebut dalam genre musik tertentu. 

Bagi Pipiet, musik harus tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin menikmatinya, entah mereka menyebutnya jazz, pop kreatif, atau genre lain.

Dalam pandangannya, musikalisasi puisi adalah proses peleburan dua bahasa seni: kata dan nada. Ketika keduanya menyatu, publik bahkan mungkin tidak lagi menyadari bahwa yang mereka dengarkan berawal dari puisi. 

Di titik itulah “Ampenan Groove” menemukan identitasnya sebagai karya otentik.

Dari lima puisi yang digarap, Pipiet mengaku memiliki kedekatan khusus dengan Kereta Langit Sudah Datang. Puisi itu baginya seperti cara yang menyenangkan untuk mengenang Imtihan Taufan. 

Kenangan yang tidak selalu muram, tetapi tetap hangat dan hidup.

Karena itu, muncul pula gagasan spontan: mungkinkah album mini ini menjadi semacam penghormatan bagi Imtihan? Sebuah tribute yang lahir bukan dari rencana besar, melainkan dari pertemanan dan kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.

BACA JUGA : Desa Berdaya, Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

kriszappa sendiri memaknai “Ampenan Groove” sebagai perjalanan batin manusia. Ia menggambarkannya seperti fase kehidupan yang berlapis. 

Dimulai dari Puspa sebagai simbol harapan dan keindahan hidup. Lalu datang fase Terkoyak Ujung Mimpi, ketika realitas mulai menguji harapan. 

Setelah itu muncul refleksi dalam Kutulis Kata Maaf, hingga kesadaran bahwa hidup terus berjalan bahkan ketika seseorang harus turun dari perjalanan, seperti dalam Kereta Langit Sudah Datang.

Dan pada akhirnya, yang tersisa hanyalah satu kalimat sederhana: Selamat Jalan Kawan.

Di sanalah musik dan puisi bertemu, bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai cara manusia berdamai dengan waktu, kenangan, dan kehilangan. 

Sebab kadang-kadang, sebuah puisi tidak selesai ketika ditulis. Ia baru benar-benar hidup ketika dinyanyikan. AKS

 




NTB Jadi Daerah yang Business Friendly

Para pelaku bisnis memberikan pandangannya terkait perekonomian NTB,dan pertumbuhannya 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Gubernur Nusa Tenggara Barat ( NTB), Haji  Lalu Muhammad Iqbal atau Gubernur Iqbal ingin menjadikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB sebagai pemerintah yang bergaya corporative government. 

NTB diharapkan menjadi daerah yang ramah pada komunitas ekonomi dan bersahabat dengan pertumbuhannya. 

BACA JUGA : Toleransi Diperkuat pada Perayaan Idhul Fitri – Nyepi 2026

“Kami ingin menjadi pemerintah yang diurus bergaya corporative government agar tuning dan selaras dengan kalangan bisnis”, ujar Gubernur Iqbal.

Hal itu diungkapkannya saat buka puasa bersama pemangku kepentingan ekonomi dan pelaku bisnis di Pendopo, Senin (16/03/26). 

Dikatakannya, Pemerintah Provinsi siap menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi. Dirinya menyebut saat awal 2025, pemerintah mengakui banyak rencana pembangunan yang belum sesuai dengan rencana bisnis. 

“Jika kebutuhannya revisi rencana pembangunan maka kita akan proaktif memberikan dukungan  pada investasi,” tegasnya. 

BACA JUGA : Desa Berdaya Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Gubernur Iqbal berharap dalam kegiatan ini para pelaku bisnis dapat memberikan pandangannya terkait perekonomian NTB,dan pertumbuhannya sebagai upaya perbaikan dan peningkatan. 

Dirinya menyebut, benchmark RPJMD dengan visi misi Makmur Mendunia sebelum direvisi mengacu pada pertumbuhan 5,3 persen pada September 2024.

Sehingga Pemprov menetapkan target pertumbuhan 0,7 persen yang dinaikkan menjadi 6 persen di tahun 2025.

Sayangnya, crash yang terjadi di awal pemerintahan Iqbal Dinda disebabkan karena take off dari angka pertumbuhan minus 1,47 persen bukan 5,3 persen sesuai benchmark.

Namun demikian berakhir dengan angka pertumbuhan 3,22 persen di tahun itu. 

Gubernur Iqbal mengingatkan, dari perspektif target 6 persen, pertumbuhan gagal dicapai namun dari perspektif target kenaikan dari 0,70 naik 4,69 dalam kurun waktu setahun. 

“Mudah mudahan momentum kenaikan ini bisa sama sama kita jaga di tahun ini dengan target diatas 6 persen dengan tantangan faktor ekonomi global, nasional dan daerah,” pungkasnya. 

BACA JUGA : Gubernur Iqbal Tinjau Pergerakan Penumpang di BIZAM

Acara Buka Bersama yang diinisiasi Biro Ekonomi Pemprov NTB dihadiri pemangku kepentingan ekonomi, pelaku bisnis dan investor. jmy/her/kominfotikntb

 




Literasi Global, Ramadhan Menguatkan Kolaborasi Internasional

 China berhasil meningkatkan angka literasi dari di bawah 10 persen menjadi hampir menyeluruh melalui kerja keras para pengajar.

MATARAM.LombokJournal.com ~ ​Momentum bulan suci Ramadhan menjadi panggung penguatan kolaborasi internasional dalam memajukan literasi di Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Bunda Literasi NTB, Sinta Agathia M Iqbal, bersama Konsul Jenderal (Konjen) Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Denpasar, Zhang Zhisheng, menegaskan komitmen bersama,membangun masa depan generasi muda melalui akses pengetahuan yang lebih luas.

BACA JUGA : NTB Jadi Daerah yang Business Friendly

​​Konjen RRT, Zhang Zhisheng, dalam sambutannya menekankan filosofi bahwa pengetahuan adalah “makanan” bagi akal yang mampu memutus rantai kemiskinan secara permanen

Ia berbagi pengalaman sejarah China yang berhasil meningkatkan angka literasi dari di bawah 10 persen menjadi hampir menyeluruh melalui kerja keras para pengajar.

Menurutnya, salah-satu cara membuat orang keluar dari kemiskinan adalah memberikan mereka pengetahuan. 

“Jika mereka memiliki uang, mereka memiliki makanan, tapi setelah uang habis mereka akan kesulitan lagi. Dengan pengetahuan, mereka bisa membangun hidup sendiri,” ujar Zhang Zhisheng. 

Ia juga menyoroti harmoni kehidupan 20 juta umat Muslim di China yang didukung oleh fasilitas lebih dari 40.000 masjid sebagai bentuk kedekatan budaya dengan masyarakat Indonesia.

​Bunda Literasi NTB, Sinta Agathia M Iqbal, mengapresiasi kehadiran Konjen RRT sebagai bentuk dukungan moral bagi para relawan. 

BACA JUGA : Toleransi Diperkuat pada Perayaan Idhul Fitri – Nyepi 2026

Ia berharap kerjasama ini dapat berkembang ke arah yang lebih strategis, terutama dalam mendukung gerakan literasi yang dijalankan oleh anak-anak muda di NTB.

​”Harapannya, apa yang dibagikan dari teman-teman Konjen China di Denpasar ini bisa menambah keceriaan dan semangat kita untuk terus bergerak. Kita ingin menceritakan kepada Mr. Zhang apa gerakan yang kita lakukan di sini, siapa tahu ke depan kita bisa bekerja sama di bidang literasi karena masa depan ada di tangan teman-teman semua,” ungkap Sinta Agathia.

Kemah Listerasi

​Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Ashari, SH., MH., menyampaikan bahwa di bawah kepemimpinan Bunda Literasi, NTB telah menunjukkan perkembangan signifikan.

  • NTB menjadi satu-satunya provinsi yang menyelenggarakan Kemah Literasi disertai pengukuhan Bunda Literasi Desa se-NTB untuk menggerakkan kreativitas hingga ke tingkat akar rumput.

​Selanjutnya pembagian paket buku secara simbolis untuk perwakilan dari 16 komunitas relawan literasi se-Pulau Lombok ini menjadi ajang diskusi mengenai potensi kolaborasi teknologi dan edukasi. 

Pihak Dinas Perpustakaan menyambut baik rencana bantuan dari Konsulat China untuk pengembangan Perpustakaan NTB ke depan. Hal itu akan meningkatkan minat baca masyarakat di seluruh provinsi.

BACA JUGA :  Angkutan Lebaran di Terminal Mandalika

Sinta Agathia juga berharap gerakan ini dapat terus meluas, tidak hanya di Pulau Lombok tetapi juga menjangkau rekan-rekan relawan di Pulau Sumbawa untuk menciptakan ekosistem literasi yang merata.san/diskominfotik)

 




Toleransi Diperkuat pada Perayaan Idul Fitri-Nyepi 2026

Gubernur Iqbal juga menekankan pentingnya menghadirkan contoh nyata toleransi dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan

MATARAM.LombokJournal.com ~ Perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu yang berdekatan dengan malam takbiran dan Hari Raya Idul Fitri umat Islam,menjadi tantangan dalam perkuat toleransi umat beragama.

NTB sejak lama dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi
Gubernur NTB, mIQ iQBAL

Mengingat kedekatan waktu perayaan keagamaan itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) , Lalu Muhamad Iqbal melakukan rapat koordinasi bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

BACA JUGA : Gubernur Iqbal Tinjau Pergerakana penumpang di BIAM

Selain itu juga melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB di Ruang Rapat Sangkareang Kantor Gubernur NTB, Senin (16/03/26).

Rakor tersebut digelar untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan keagamaan berjalan aman, tertib, dan tetap mencerminkan upaya perkuat toleransi masyarakat NTB.

Gubernur Iqbal menegaskan, secara umum situasi keamanan dan kerukunan masyarakat di NTB dalam kondisi kondusif. Meski demikian tetap perlu dilakukan langkah antisipatif karena dinamika yang terjadi di daerah lain dapat mempengaruhi psikologi masyarakat.

“NTB sejak lama dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi. Kita ingin memastikan bahwa perayaan dua hari besar keagamaan ini justru menjadi momentum untuk menunjukkan wajah kerukunan dan kebersamaan masyarakat NTB,” ujar Gubernur.

Menurutnya, pengamanan dan pengelolaan kegiatan keagamaan tersebut merupakan tanggung jawab seluruh pihak, baik pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, maupun masyarakat.

Dalam rakor tersebut, Gubernur Iqbal juga menekankan pentingnya menghadirkan contoh nyata toleransi dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan.

Salah satu contoh yang disepakati adalah penghentian sementara musik atau sound system pawai ogoh-ogoh ketika waktu adzan tiba. Ini merupakan bentuk penghormatan kepada umat Islam yang sedang menunaikan ibadah.

BACA JUGA : Pelabuhan Lembar : Arus Kedatangan Meningkat 20 persen 

Sebaliknya, ketika kegiatan pawai takbiran melintasi kawasan permukiman umat Hindu yang sedang menjalankan Catur Brata Penyepian, peserta takbiran juga diimbau tidak menggunakan pengeras suara berlebihan.

“Kita ingin toleransi itu tidak hanya menjadi slogan, tetapi terlihat nyata dalam kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Timeline Perayaan Keagamaan

Dalam rapat tersebut juga dipaparkan timeline pelaksanaan kegiatan keagamaan, yaitu:

  • 18 Maret: Pawai ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi
  • 19 Maret: Hari Raya Nyepi (Catur Brata Penyepian)
  • 19 atau 20 Maret malam: Pawai takbiran menjelang Idul Fitri
  • 20 Maret: Idul Fitri bagi warga Muhammadiyah, dan
  • 21 Maret: Kemungkinan  Idul Fitri Fitri sesuai hasil sidang isbat Kementerian Agama RI.

Karena sebagian wilayah di NTB belum terbiasa dengan tradisi ogoh-ogoh, terutama di beberapa kawasan di Pulau Sumbawa, Gubernur meminta agar dilakukan sosialisasi dan pengamanan yang lebih intensif.

Dalam rapat tersebut, unsur Forkopimda juga menyoroti munculnya sejumlah narasi di media sosial yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Kabinda NTB mengingatkan bahwa sejumlah narasi yang berkembang di media sosial terkait dinamika perayaan keagamaan di daerah lain berpotensi memicu sentimen negatif jika tidak disikapi secara bijak.

Karena itu, Gubernur Miq Iqbal menekankan pentingnya mengimbangi narasi negatif dengan pesan-pesan toleransi dan kebersamaan.

“Saya minta kita semua aktif membangun narasi positif bahwa NTB adalah daerah yang menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi kerukunan antarumat beragama,” ujar Gubernur Iqbal.

Disiplin pelaksanaan dan pengawasan beberapa kesepakatan penting yang dihasilkan dalam rapat tersebut antara lain,

pelaksanaan kegiatan harus disiplin terhadap waktu sesuai kesepakatan bersama.

Perlu dilakukan sosialisasi luas kepada masyarakat Hindu dan Muslim di seluruh wilayah NTB mengenai kesepahaman bersama dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan.

Aktivitas yang berpotensi menimbulkan gangguan ketertiban, seperti konsumsi minuman keras di ruang publik saat kegiatan ogoh-ogoh, tidak diperkenankan.

BACA JUGA : Angkutan Lebaran di Terminal Mandalika

Penguatan pengawasan dan koordinasi di wilayah yang belum terbiasa dengan kegiatan ogoh-ogoh.

Selain itu, pemerintah daerah juga diminta memastikan ketersediaan dan distribusi BBM serta dukungan pasokan listrik selama berlangsungnya rangkaian perayaan keagamaan.

Indeks Kerukunan NTB Tergolong TInggi

Dalam rapat tersebut, FKUB NTB juga memaparkan data Indeks Kerukunan Umat Beragama di Provinsi NTB yang menunjukkan angka 73,84, masuk kategori tinggi dan menuju sangat tinggi.

seluruh rangkaian kegiatan keagamaan berjalan aman, tertib, dan tetap mencerminkan upaya perkuat toleransi masyarakat NTB
Rapat Koordinasi Forkopimda, FKUB DAN gUBERNUR ntb

Rinciannya meliputi : 

  • Indeks toleransi: 87,44 (sangat tinggi)
  • Indeks kesetaraan: 81,19 (tinggi), 
  • Indeks kebersamaan: 52,88 (masih perlu diperkuat).

Data tersebut menunjukkan, secara umum masyarakat NTB memiliki tingkat toleransi yang sangat baik, meskipun masih perlu terus diperkuat dalam aspek kebersamaan sosial.

Gubernur Iqbal juga  meminta agar sejumlah kesepakatan yang telah dibahas segera ditindaklanjuti dalam bentuk surat edaran, dan langkah-langkah koordinatif di tingkat daerah.

Gubernur Iqbal minta agar Pemerintah Daerah melalui Dinas Komunikasi dan Informatika memperkuat penyebaran pesan-pesan toleransi kepada masyarakat.

“NTB harus menjadi contoh bagaimana masyarakat yang berbeda agama dapat hidup rukun dan saling menghormati. Ini adalah warisan sosial yang harus terus kita jaga,” ujar Gubernur Iqbal. 

Hadir dalam rapat koordinasi tersebut, antara lain Wakapolda NTB, Kabinda NTB, perwakilan Korem 162/WB, Lanal Mataram, Lanud ZAM, Ketua FKUB NTB, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia NTB, Kapolres Mataram, Asisten I Setda Kota Mataram, serta sejumlah perangkat daerah terkait.

ALiF/he

 

 




Pelabuhan Lembar, Arus Kedatangan Meningkat 20 Persen

Peninjauan Pelabuhan Lembar dilakukan Gubernur NTB sebagai bagian dari pemantauan kesiapan transportasi laut menjelang arus mudik Lebaran 2026.

LOBAR.LombokJournal.com Hasil peninjauan dan laporan dari pengelola pelabuhan, arus penyeberangan yang keluar dari Pulau Lombok saat ini masih relatif normal. Meski demikian, terjadi peningkatan cukup signifikan pada arus kedatangan ke Pulau Lombok.

Hal itu dilaporkan pengelola Pelabuhan Lembar saat Gubernur NTB tinjau kondisi arus penyeberangan di Pelabuhan Lembar, Ahad (15/03/26).

BACA JUGA :  Angkutan Lebaran di Terminal Mandalika

Peningkatan tersebut tercatat mencapai sekitar 20 persen, baik pada pergerakan barang, kendaraan, maupun penumpang. Lonjakan paling terlihat pada kendaraan roda dua serta kendaraan pribadi yang datang dari luar daerah. 

Peninjauan Pelabuhan Lembar dilakukan Gubernur NTB sebagai bagian dari pemantauan kesiapan transportasi laut menjelang arus mudik Lebaran 2026.

Mayoritas arus kedatangan tersebut berasal dari Padangbai, Bali, yang menjadi salah satu jalur utama penyeberangan menuju Lombok.

Arus keberangkatan dari Pelabuhan Lembar, Lombok menuju Bali masih terpantau stabil dan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. 

BACA JUGA :  Gubernur NTB Tinjau Pergerakan Penumpang di BIZAM

Diperkirakan lonjakan arus keluar dari Pelabuhan Lembar baru akan terjadi setelah Hari Raya Idulfitri, seiring dimulainya arus balik masyarakat.

Terkait pengaturan lalu lintas penyeberangan, pemerintah akan memberlakukan sistem buka tutup penyeberangan yang menyesuaikan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) serta regulasi dari Pemerintah Provinsi Bali, khususnya berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan keagamaan di Bali.

Berdasarkan pengaturan tersebut, penyeberangan dari Pelabuhan Lembar menuju Bali akan ditutup pada 18 Maret hingga pukul 09.00, kemudian kembali dibuka pada 20 Maret pukul 04.00 dini hari. Sementara itu, dari arah Bali menuju Lombok, penyeberangan akan mulai ditutup pada 19 Maret.

BACA JUGA :  Desa Berdaya Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Pemerintah Provinsi NTB terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan pengaturan arus penyeberangan berjalan tertib, aman, dan lancar selama periode angkutan Lebaran tahun ini. diskominfotikntb