Masyarakat adat Lang-lang sangat mengapresiasi kegiatan konsolidasi kader pemula AMAN Mataram
MATARAM.LombokJournal.com ~ Kader AMAN dari semua komunitas adat se Kota Mataram yang sudah menempuh pendidikan kader pemula, melakukan konsolidasi Sabtu, (27/12/25) di Mataram (Wilayah adat Komunitas Masyarakat adat Lang-lang) Dasan Agung Kota Mataram
Ketua PH AMAN Mataram, L.M. Iswadi Athar dalam sambutan dan arahan mengatakan, konsolidasikader adalah wadah berkumpulnya kader yang telah menempuh pendidikan kader pemula Masyarakat Adat, dan memahami keberadaan AMAN sebagai rumah besar bagi perjuangan Masyarakat adat
“Konsolidasi kader mengambil tema, mencetak kader yang solid dan militan membangun organisasi AMAN,” ungkap iswadi
Iswadi Athar mengatakan, peduli lingkungan dan bumi dengan aksi membagikan ‘Green trashbag’ hitam dan putih untuk memilah sampah di masyarakat adat di Kota Mataram merupakan wujud cinta pada kamapung halaman.
Rumah yang disebut ‘Bale Mentaram’ agar sampah tertangani dengan baik, karena penting kepedulian warga. Konsolidasi komunitas masyarakat adat di kota Mataram akan menjaga bumi dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Lebih dari itu akanmemilah sampah rumah tangga sesuai dengan ketentuan plastik Hitam (anorganik) dan Putih (organik).
Ketua Komunitas adat Lang-Lang, H.Parmanmengatakan, masyarakat adat Lang-lang sangat mengapresiasi kegiatan konsolidasi kader pemula AMAN Mataram.
“Silahkan kader AMAN terus memperjuangkan masyarakat adat dan tokoh serta pemimpin adat, kami yang berbasis komunitas lang-lang adat siap mendukung penuh,” Kata H Paqrman.
Kegiatan itu berlangsung untuk melakukan konsolidasi berbagai bentuk kegiatan bersama ke depan dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat. (***).
Manajemen Kelompok Usaha Masyarakat Adat (KUMA)
Dalam peningkatan kapasitas manajemen tersebut menghadirkan pemateri dari Dinas perdagangan
MATARAM.LombokJournal.com ~ Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Mataram (PD AMAN Mataram) mengadakan kegiatan penguatan kapasitas manajemen usaha kelompok usaha masyarakat adat (KUMA), di Aula Dinas Perdagangan Propinsi NTB Rabu-Kamis (19-20/11/25)
Penguatan Kapasitas Manajemen Usaha KUMA ini, terdiri dari dua KUMA; KUMA Krekok dan KUMA Tanjung Karang yang telah berproses dan menghasilkan produk usaha.
Ketua PH AMAN Mataram, L. M. Iswadi Athar. Peserta yang hadir ini bersasal dari Kelompok usaha masyarakat adatdari dua KUMA; KUMA Krekok yang mengolah berbahan baku kelapa menjadi olahan minyak seperti VCO dan minyak rempah. KUMA Tanjung Karang yang mengolah bahan baku ikan laut menjadi abon ikan laut dan souvenir lainnya.
“Kehadiran mereka untuk kita latih dalam peningkatan kapasitas dan pengetahuan dalam manajemen mengolah produk usaha,perizinan usaha, sertifikasi halal, kemasan, dan lain lain. DisIni kami hadir bagaimana untuk mendorong usaha masyarakat adat bisa berdaulat dan menjadi tuan di tanahnya sendiri,” ungkap Iswadi.
Dalam peningkatan kapasitas manajemen tersebut menghadirkan pemateri dari Dinas perdagangan, yang diwakili oleh kepala UPTD NTB Mall Lalu Afgan Muharor.
Dalam penyampaianya ia menyatakan bahwa kelompok usaha berbasis masyarakat adat seperti ini sangat bagus dalam mengangkat hasanah yang ada di masyarakat, yakni berupa produk usaha masyarakat adat oleh AMAN Mataram.
“Kami bangga dan sangat mengapresiasi ini, kami akan kurasi produk usaha yang dimiliki AMAN Mataram untuk kita bisa display di outlet UPTD Kami di NTB Mall,” jelas Iswadi.
Acara kegiatan berjalan dan menghadirkan pemateri dari dinas perindustrian dan UKM, BPOM, Lembaga sertifikasi Halal, Perbankan, dan HIPMI serta dari fasilitator lainnya tentang manjemen bisnis canvas
Sosalisasi PEREMPUAN AMAN dan pembentukan PHKom Krekok
Perwakilan PEREMPUAN AMAN tampak hadir yakni Dewi Kustina dalam kegiatan sosialisasi tersebut
MATARAM.LombokJournal.com ~ Sosialisasi Perempuan AMAN dan pembentukan PhKom Krekok yang dilaksanakan Minggu (16/11) di Sekolah adat Grude Krekok Wilayah adat Krekok Rembiga kota Mataram
Ketua PH AMAN Mataram, L.M Iswadi Athar menyambut baik sosialisasi Perempuan Aman ini. Menurutnya, pihak organisasi induk siap memfasilitasi kegiatan pembentukan organisasi sayap perempuan AMAN PHkom Krekok tentu dengan koordinasi yang baik dengan Seknas PEREMPUAN AMAN. ke depan harapannya.
Dengan terbentuknya PHkom Krekok ini menambah partner dalam membangun komunitas adat di Krekok, dan tentu menghidupkan sekolah adat juga.
Ketua Komunitas adat Krekok, M. Saleh memberikan pemaparan di tengah kegiatan sosialisasi Perempuan Aman ini. Ia berharap dengan adanya perempuan Phkom Krekok ke depan kerja-kerja di Komunitas adat ada yang membantu dalam pelaksanaan kegiatan di komunitas dan termasuk sekolah adat.
Perwakilan PEREMPUAN AMAN hadir Ibu Dewi Kustina dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Ia menyampaikan tentang mekanismepembentukan Perempuan AMAN sesuai dengan statuta Perempuan AMAN.
Yaitu melalui tahapan sosialisasi perempuan AMAN, dan dihadiri oleh perempuan komunitas adat setempat di Krekok sejumlah 25 orang dan mau bersama-sama komitmen membentuk dan mendirikan perempuan AMAN PhKom Krekok.
Mekanisme pengajuan calon ketua wilayah pengorganisasian PH Kom Krekok dilaksanakan sesuai dengan aturan dengan musyawarah mufakat yang memilih saudari Sri Maharani sebagai Ketua PHkom Krekok.
Sri Maharani berharap, untuk bersama-sama membangun PEREMPUAN AMAN dengan tekad berkeadilan, setara dan semangat.
Penguatan Kapasitas Pengurus dan Anggota PHkom Tanjung Karang
Menurut L. M. Iswadi Athar, kegiatan internalisasi dan penguatan kapasitas bagi pengurus dan anggota sangat penting
MATARAM.LombokJournal.com ~ Pengurus PHKom Tanjung karang Sabtu (15/11/25) melaksanakan kegiatan internalisasi dan penguatan kapasitasanggota dan pengurus PHKom Tanjung Karang yang dilaksanakan di komunitas adat Tanjung Karang.
Dalam kegiatan penguatan kapasitas anggota dan pengurus ini mengmbil tema ‘bersama-sama membangun sumberdaya masyarakat adat untuk kesuksesan bersama’
Ketua PH AMAN Mataram, L. M. Iswadi Athar Perempuan AMAN sebagai organisasi sayap yaitu PHKom tanjung Karang kami sangat apresiasi. Menurutnya, kegiatan internalisasi dan penguatan kapasitas bagi pengurus dan anggota juga penting, untuk mengetahui tugas dan fungsi masing-masing dalam menjalankan roda aorganisasi.
“Disini kami melihat pertumbuhan anggota PHkom terus bertambah, silahkan terus ‘saling tulung, saling anton’ dan terus gotong royong saling bina.” kata Iswadi
Ketua PHkom Tanjung Karang, Nana Marliana. Kami dari PHKom Tanjung Karang semenjak terbentuk terus berinovasi dan terus melangka bersama perempuan-perempuan kampung. “Alhamdulilah kita bisa melaksankan kegiatan ini, berupa kegiatan internalisasi dan penguatan kapasitas, baik pengurus dan anggota,” ujarnya.
Tentu perempuan AMAN dengan jargon ‘berkeadilan, setara, dan semangat’ sebagi symbol semangat dan perjuangan kami.
Tokoh adat kampung, Ketua komunitas Adat Tanjung Karang, Moh Amin, mengatakan, keberadaan perempuan adat di kampung kami di kampung Sembalun komunitas adat Tanjung Karang sangat diharapkan.
“Mohon kami dibina dalam penguayan kapasitas, dan silahkan dibina kami dari kampung siap mendukung sepenuhnya kegiatan AMAN Mataram,” ujar Amin.
Hadir dalam kesempatan yang sama Ibu Denda Suria Sari (Damanas Bali Nusra).
Di tengah kegiatan penguatan kapasita anggota itu, ia mengajak PEREMPUAN AMAN PhKom Tanjung karang untuk tetap bangkita bersatu memperjuangkan hak-hak Perempuan adat, terus bangkit bersatu; berdaulat, mandiri dan bermartabat. (***)
Jambore Kampung BPAN Pkam Krekok
Jambore kampung di Krekok ini sebagai wadah anda berorganisasi dan berkumpul untuk bersinergi membangun pemuda-pemudi kampung
MATARAM.LombokJournal.com ~ Pemuda Kampung yang tergabung dalam Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), PKam Tanjung Karang melaksanakan Jambore Kampung Jum’at,(14/11/25) di Komunitas adat Krekok, Mataram
Ketua BPAN Mataram Mawardi effendi saputra bahwa Jambore PKam Krekok ini untuk menjawab bahwa di Komunitas Krekok ada pemuda adatnya yang tergabung dalam BPAN. Dan pada hari ini bisa melaksanakan jambore kampung.
Hal itu terlaksana setelah proses panjang secara adminsitratif sesuai dengan Statuta BPAN. Intinya kita Jambore Pkam Krekok
Dalam sambutannya Ketua PH AMAN Mataram, L.M. Iswadi Athar, Pemuda Kampung Krekok, memiliki hak yang sama dengan pemuda kampung lainnya untuk bangkit dan mandiri.
“Jambore kampung di Krekok ini sebagai wadah anda berorganisasi dan berkumpul untuk bersinergi membangun pemuda-pemudi kampung dalam melindungi dan memperjuangkan hak-hak masyarajat adat,” kata Iswadi.
Hadir dari DePAN Bali Nusra, Hilmiatun. Jambore Pkam Krekok ini sesuai dengan Statuta BPAN. kegiatan ini yang dahadiri oleh pemuda adat dari Komunitas adat Krekok.
Salah satu agenda jambore kampung ini adalah memilih ketua PKam Krekok dan rekomendasi program-pogram PKam Krekok ke depan.
Dalam jambore Pkam Tanjung Karang hasil musyawarah dan mufakatmemilih saudari Dende Zahratul Hilal sebagai ketua PKam Krekok.
“Kami siap mengibarkan bendera Pemuda, BPAN dan menjadi garda terdepan komunitas adat Krekok,” kata Zahratul Hilal. (***)
Pendidikan Kader Pemula PD AMAN Mataram
Pendidikan kader diharapkan akan menciptakan kader AMAN yang militan
MATARAM.LombokJourmal.com ~ Dalam meningkatkan kapasitasanggota dan kader, PD AMAN Mataram menggelar Pendidikan KaderPemula Jumat hingga Minggu (07 hingga 09/11/25) di Taman Hiburan Rakyat Loang Baloq, Mataram
Pendidikan kader pemula yang diikuti sekitar 25 orang kader dari berbagai komunitas adat di Mataram mengangkat tema ‘pendidikan kader pemula AMAN mataram untuk meningkatkan kualitas kader AMAN Mataram’
Ketua PH AMAN Mataram, L. M. Iswadi Athar dalam sambutannya bahwa pentingnya pendidikan kader ini untuk meningkatkan kualitas kader AMAN mataram.
Dikatakan Iswadi, kader yang mengikuti pendidikan kader ini berasal dari komunitas adat yang akan dilaksankan selama tiga hari, dengan fasilitator/pemateri yang handal.
Makin banyak kader yang kita latih semakin bagus sebagai ajang untuk regenenerasi.
“Pengkaderan harus dilakukan kalau kita mau melihat pemuda dan pemudi kita eksis dalam melestarikan adat dan budaya kita,” katanya.
Dalam kegiatan ini hadir bapak Lurah Tanjung Karang H. Achmad Gunawan, yang menilai kegiatan ini bagus sekali
“Kami dari pemerintah Kelurahan Tanjung Karang selaku ‘pengemong kerame’ sangat mendukung dan bagus sekali kegiatan pendidikan kader yang dilakukan oleh PD AMAN Mataram dengan harapan akan menciptakan kader-kader AMAN yangmilitan ke depan,” katanya
Dalam kegiatan ini dirangkaikan dengan acara ritual adat ‘sembeq selamet’ sampan di pantai Tanjung Karang, dengan harapan pemilik sampan mendapat keselamatan dan tangkapan banyak.
Dalam pembukaan hadir beberapa tokoh, selain Lurah Tanjung Karang selaku Pengemong Krame, juga hadir Dewan AMAN Mataram, Babinkamtibmas dan Babinsa Tanjung Karang ketua Komunitas Tanjung Karang dan peserta Pendidikan kader pemula AMAN Mataram. (***)
Jambore Kampung BPAN PKam Tanjung Karang
Jambore Pkam Tanjung Karang dari Komunitas adat Tanjung Karang, salah satu agendanya memilih Ketua PKam dan rekomendasi program-pogram PKam Tanjung Karang
MATARAM.LombokJournal.com ~ Pemuda Kampung yang tergabung dalam Barisan Pemuda Adat Nusantara(BPAN), PKam Tanjung Karang melaksanakan Jambore Kampung Kamis, (13/11/25) di Taman Hiburan Rakyat Loang Baloq Wilayah Adat Tanjung Karang, Mataram.
Ketua BPAN Mataram Mawardi Efendi Saputra bahwa Jambore PKam ini merupakan hasil koordinasi dan bahwa dipandang perlu sesuai kebutuhan komunitasdi bawah penting untuk memiliki pemuda Adat dalam membantu komunitas melaksanakan kegiatan di komunitas adat Tanjung Karang.
Dalam sambutannya Ketua PH AMAN Mataram, L. M. Iswadi Athar bahwa kami PD AMAN Mataram sangat membutuhkan pemuda adat yakni BPAN sebagai mitra strategis AMAN Mataram sebagai organisasi sayap AMAN.
Selaian itu juga menjadi wahana pengkaderan generas muda dalam bidang organisasi adat, pemuda hari ini adalah masa depan pemuda Adat yang akan datang.
Hadir dari DePAN Bali Nusra, L. Erpan. Jambore Pkam Tanjung Karang ini yang dahadiri oleh pemuda adat dari Komunitas adat Tanjung Karang, salah satu agendanya adalah memilih ketua PKam dan rekomendasi program-pogram PKam Tanjung Karang kedepan.
Dalam jambore Pkam Tanjung Karang hasil musyawarah dan mufakat memilih saudari Zinnuroin sebagai Ketua PKam Tanjung Karang.
Pemuda kampung Terpilih, Zinnuroin yang akrab disapa iin siap mengibarkan bendera BPAN sebagai pemuda kampung dan menghidupkan komunitas adat kami di Komunitas adat Tanjung Karang. (***)
Kelokalan Lombok; Transformasi dari Antigone ke Dende Tamari (2)
Bengkel Aktor Mataram atau Teater BAM tidak hanya mengalihkan teks Sophocles, tapi juga melakukan “penanaman ulang makna”, bertransformasi dalam kelokalan Lombok
Catatan : Agus K. Saputra
MATARAM.LombokJournal.com ~ Transformasi Antigone ke dalam konteks Lombok bukan hanya tindakan artistik, melainkan juga tindakan politis yang mendalam.
Di tangan Bengkel Aktor Mataram (BAM) dan sutradara Kongso Sukoco, kisah klasik Yunani itu tidak lagi menjadi teks asing yang berdiri di atas menara Barat, melainkan tumbuh seperti benih yang menemukan tanah subur baru di tubuh budaya lokal, khususnya kelokalan Lombok.
Dari tanah itu, tragedi Yunani menumbuhkan bunga-bunga dengan aroma dan warna khas Nusantara: spiritualitas, adat, dan relasi sosial yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Lombok.
Kongso tidak sekadar menerjemahkan teks Sophocles. Ia melakukan sesuatu yang lebih mendasar: “penanaman ulang makna”, bertransformasi dalam kelokalan Lombok.
Ia menolak untuk tunduk pada pandangan kolonial yang sering menempatkan teks-teks Barat sebagai pusat. Sementara tradisi lokal, misalnya kelokalan Lombok, hanya berfungsi sebagai pelengkap eksotis.
Dalam Dende Tamari, yang universal menjadi lokal, dan kelokalan Lombok menjelma universal. Di situlah letak kekuatan adaptasi ini: ia tidak memuja sumbernya, melainkan berdialog dengan kritis.
Lakon ini menunjukkan bahwa teater bukan sekadar tiruan atau penerjemahan, tetapi bentuk negosiasi nilai budaya. Ketika Antigone berpindah dari tanah Thebes ke tanah Lombok, ia tidak kehilangan rohnya—ia justru mendapatkan kehidupan baru.
Dende Tamari, sang tokoh perempuan, bukan hanya pantulan Antigone, tetapi juga wujud nyata perempuan Lombok yang hidup di tengah adat, agama, dan kekuasaan patriarki.
Tragedi sebagai Cermin Sosial
Kongso memahami tragedi bukan sebagai kisah kehancuran, tetapi sebagai jalan menuju kesadaran. Dalam pandangannya, tragediselalu mengandung pertanyaan: sejauh mana manusia sanggup mempertahankan kemanusiaannya di tengah tekanan kekuasaan dan hukum yang kaku?
Ketika seseorang jatuh karena mempertahankan prinsipnya, ia sesungguhnya sedang menyingkapkan kemurnian manusia yang paling sejati.
Dalam Dende Tamari, tragedi menjadi cermin bagi masyarakat kita hari ini. Kita masih menyaksikan bagaimana kekuasaan bisa menentukan siapa yang hidup dan siapa yang harus dilenyapkan, siapa yang dimuliakan dan siapa yang dihapus dari sejarah. Kekuasaan yang kehilangan nurani selalu melahirkan penderitaan.
Di tengah kondisi seperti itu, Dende Tamari tampil sebagai simbol: ia melawan bukan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan keberanian moral.
Kehadiran lakon yang mengusung kelokalan Lombok ini, di tengah masyarakat Lombok menjadi relevan, karena ia memotret relasi kuasa yang hidup di antara hukum adat, agama, dan politik lokal.
Dende Tamari menolak tunduk pada tatanan yang semena-mena, tetapi ia tidak kehilangan kesantunan. Perlawanan yang ia lakukan bukan bentuk pemberontakan destruktif, melainkan ekspresi dari cinta dan kesetiaan pada nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan.
Kongso percaya bahwa setiap karya seni harus berpijak pada tanah di mana ia berdiri. Karena itu, Dende Tamari dihadirkan dalam kelokalan Lombok.
Tembang/nyanyian tradisi: suara penyanyi tradisi bukan hanya latar bunyi, tetapi jantung pertunjukan. Ia mengalun seperti doa, sekaligus jeritan, mengikat penonton pada akar leluhur mereka.
Kostum lokal: kain-kain tradisional menjadi penanda identitas, sekaligus simbol keberanian. Setiap lipatan kain menyimpan cerita, setiap warna merekam makna. Kostum tidak sekadar busana, melainkan bahasa visual yang menggemakan keanggunan sekaligus perlawanan.
Ruang tubuh & gestur: saya membiarkan aktor bergerak dengan bahasa tubuh yang berakar pada keseharian lokal, pada gestur yang lahir dari tradisi, bukan dari tiruan barat.
Dengan begitu, Dende Tamari bukan hanya terjemahan Antigone ke dalam bahasa Indonesia, tetapi sebuah transformasi yang menanam tragedi klasik di tanah Nusantara, lalu membiarkannya tumbuh dalam kelokalan Lombok..
Estetika Dende Tamari tidak lahir dari imitasiBarat. Sebaliknya, ia berakar dari tubuh dan ingatan masyarakat Lombok itu sendiri. Bahasa tubuh aktor, ritme gerak, hingga tembang yang mengiringi setiap adegan, semua menggali dari tradisi lokal. Ketika para aktor menunduk, menenun, atau melangkah di panggung, tubuh mereka memanggil kembali memori kolektif masyarakat yang nyaris hilang: tentang ibu, tentang tanah, tentang spiritualitas yang sederhana namun dalam.
Kongso menjadikan tubuh aktor sebagai wadah ingatan. Ia memperlakukan gerak bukan sebagai ekspresi formal, melainkan sebagai bentuk doa. Tembang tradisional yang mengalun dalam pertunjukan tidak sekadar menjadi latar bunyi, tetapi menjadi “napas” pertunjukan.
Kadang ia bergetar seperti ratapan, kadang mengalun seperti doa, menghadirkan suasana magis yang membuat penonton merasa sedang berada di antara dunia nyata dan dunia batin.
Dalam konteks ini, Dende Tamari menjadi ruang di mana estetika dan etika bertemu. Keindahan yang hadir di atas panggung bukan semata keindahan visual, melainkan keindahan moral: keindahan tentang keberanian, kejujuran, dan pengorbanan.
Dende Tamari bukan sekadar sebuah pertunjukan. Ia adalah pernyataan politik—sebuah kesaksian bahwa seni masih bisa menjadi ruang perlawanan yang indah. Di tengah dunia yang bising oleh propaganda, media sosial, dan kekuasaan yang saling berebut narasi, teater seperti ini menjadi ruang sunyi di mana manusia dapat kembali berdialog dengan nuraninya sendiri.
Kongso dan BAM menegaskan bahwa teater tidak boleh tunduk pada pasar atau sekadar menjadi hiburan. Ia harus menjadi ruang refleksi, ruang pendidikan batin, dan ruang kesadaran sosial. Panggung adalah tempat manusia menelanjangi dirinya, tempat di mana nilai-nilai diuji, dan tempat di mana kebenaran dipertaruhkan.
Ketika Dende Tamari memilih untuk tetap setia pada keyakinannya meskipun tahu konsekuensinya adalah kematian, ia sedang menunjukkan bentuk tertinggi dari keberanian moral. Ia membuktikan bahwa keindahan sejati tidak selalu terletak pada kemenangan, tetapi pada keteguhan hati untuk tetap berpegang pada nurani.
Tonggak Perjalanan Bengkel Aktor Mataram
Sebagai karya ke-63 dari perjalanan panjang Teater BAM, Dende Tamari menandai kedewasaan artistik dan konsistensi ideologis Bengkel Aktor Mataram. Sejak berdirinya, kelompok ini telah menjadi laboratorium kreatif yang berani menggali akar budaya lokal untuk berdialog dengan dunia.
Dalam setiap karyanya, mereka menunjukkan bahwa teater bukanlah ruang nostalgia, tetapi arena untuk memproduksi makna baru.
BAM tidak sekadar mementaskan lakon, tetapi membangun wacana terkait kelokalan Lombok. Mereka membuktikan bahwa teater bisa menjadi wadah bagi kritik sosial dan spiritualitas sekaligus.
Dalam Dende Tamari, segala elemen teater — naskah, tubuh, musik, dan ruang — disatukan dalam satu kesadaran artistik yang utuh.
Bagi generasi muda teater di Lombok, Dende Tamari adalah pelajaran yang tak ternilai. Ia mengajarkan bahwa teater bukan sekadar tempat bermain peran, melainkan ruang untuk meneguhkan keberpihakan pada manusia.
Ia juga mengingatkan bahwa kreativitas sejati tidak selalu berarti sesuatu yang baru, tetapi sesuatu yang jujur pada akar budaya dan konteksnya.
Kongso Sukoco (baju biru) saat menyutradarai adegan Dende Tamari dalam kelokalan Lombok / Foto : Ags
“Saya persembahkan karya ini untuk semua yang masih percaya bahwa panggung adalah tempat kita merawat kemanusiaan,” kata Kongso. Kalimat itu bukan sekadar penutup, melainkan manifesto: bahwa seni masih punya tempat di dunia yang kehilangan arah moral.
Penekanan kelokalan Lombok dalam lakon Dende Tamari, merupakan bukti bahwa tragedi tidak pernah benar-benar berakhir.
Ia terus hidup dalam tubuh-tubuh yang berani berkata “tidak” pada ketidakadilan, dan berkata “ya” pada kemanusiaan.
#Akuair–Ampenan, 24 Oktober 2025
Adaptasi Antigone dalam Kelokalan Lombok (1)
Maka dalam adaptasi lakon Dende Tamari bukan dari keinginan meniru Antigone, melainkan dari dorongan memahami kembali makna tragedi dalam konteks lokal
Catatan : Agus K. Saputra
MATARAM.LombokJournal.com ~ Di tengah rutinitas kehidupan teater di Mataram, Bengkel Aktor Mataram atau Teater BAM kembali menghadirkan getaran yang khas. Pada 25 Oktober 2025, mereka mengumumkan pementasan ke-63, adaptasi lakon Antigone dengan judul Dende Tamari.
Di bawah arahan sutradara Kongso Sukoco, adaptasi lakon ini menjelma menjadi ruang baru bagi eksplorasi teater lokal—sebuah tafsir atas tragedi Yunani kuno Antigone karya Sophocles, yang kini ditanamkan ke dalam tanah budayaLombok.
Proses panjang BAM yang telah mencapai lebih dari enam puluh pementasan tentu bukan perjalanan yang singkat. Di setiap lakon, ada pergulatan ide dan bentuk, ada pertemuan antara yang klasik dan yang kontemporer, antara yang lokal dan yang universal.
Namun, Dende Tamari terasa istimewa karena ia tidak hanya menyentuh sisi dramatik, tetapi juga menyentuh kesadaran spiritual dan moral dari masyarakat tempat lakon ini tumbuh.
Kongso Sukoco, yang melakukan adatasi lakon ini dikenal tekun dalam proses, selalu menegaskan bahwa teater bukan sekadar tontonan. “Teater adalah ruang kesadaran,” ujarnya. Bagi Kongso, di atas panggung manusia belajar menjadi dirinya sendiri; ia bercermin kepada zaman, kepada luka dan keberanian yang dibawanya. Teater bukan tempat untuk bersembunyi di balik peran, tetapi justru untuk menyingkap lapisan terdalam dari kemanusiaan.
Maka adaptasi dalam lakon Dende Tamari lahir bukan dari keinginan meniru Antigone, melainkan dari dorongan memahami kembali makna tragedi dalam konteks lokal.
Dalam teks asli Sophocles, Antigone adalah sosok perempuan muda yang menentang titah Raja Kreon, karena ia ingin memakamkan saudaranya, Polyneikes, dengan layak. Tindakan itu melahirkan tragedi, karena perlawanan Antigone bukan semata politik, melainkan moral dan spiritual.
Namun dalam adaptasi Kongso, Antigone menjelma menjadi Dende Tamari—seorang perempuan Lombok yang berakar pada tanah, adat, dan keyakinan masyarakatnya. Ia bukan hanya melawan karena cinta pada keluarga, melainkan karena ia ingin menegakkan martabat manusia yang tertindas oleh kekuasaan.
Dalam tubuh Dende Tamari, terkandung jejak ibu, suara tanah, dan keberanian menjaga nilai yang diyakini suci.
Perempuan di Pusat Tragedi dan Harapan
Mengapa perempuan? Pertanyaan ini menjadi jantung dari tafsir Kongso Sukoco.
Dalam masyarakat kita, perempuan kerap ditempatkan di pinggiran sejarah, tetapi justru dari sana mereka menyimpan kekuatan paling purba—kesetiaan pada kehidupan.
Dende Tamari bukanlah tokoh yang berteriak lantang, melainkan yang berdiri tegak dalam diamnya. Ia adalah wajah dari keberanian yang halus, yang menolak tunduk pada kekuasaan semena-mena. Dalam banyak lapisan masyarakat Lombok, perempuan sering menjadi penjaga moral keluarga dan adat, walau tidak selalu diberi tempat dalam ruang politik. Namun dari merekalah, sesungguhnya, kekuatan moral sebuah komunitas bertumpu.
Dalam interpretasi ini, Kongso memperlihatkan bagaimana tragedi tidak harus keras dan heroik seperti dalam versi Yunani. Ia bisa hadir dalam bentuk yang lirih, dalam tubuh seorang perempuan yang berjalan pelan menuju kubur saudaranya, di tengah ancaman dan larangan. Dari gestur kecil itu, lahir perlawanan yang sangat manusiawi.
Dalam adaptasi lakon tragedi ini menemukan makna barunya: bukan semata kejatuhan tokoh besar, tetapi pergulatan batin manusia biasa. Dende Tamari menjadi kisah tentang benturan dua kebenaran—antara hukum yang dibuat manusia dan hukum yang berasal dari nurani. Kongso meyakini, ketika hukum kehilangan roh kemanusiaannya, maka tragedi pun lahir.
Tragedi itu bukan hanya milik panggung, melainkan milik kita semua, yang hidup di tengah tatanan sosial di mana kekuasaan sering kali menutup mata terhadap nurani.
Latihan lakon adaptasi Dende Tamari
Salah satu keunikan Dende Tamari terletak pada pencarian bahasa tubuh lokal. Dalam proses latihan, Kongso dan para aktornya tidak bergantung pada metode Stanislavski atau Brecht semata. Ia mengajak para pemainnya untuk menelusuri gerak yang tumbuh dari keseharian masyarakat Lombok.
Bahasa tubuh Dende Tamari bukan bahasa yang “dipelajari”, melainkan yang “ditemukan kembali.” Seorang aktor, misalnya, diminta mengamati cara seorang perempuan menenun, cara seorang ibu menunduk ketika berdoa, atau bagaimana seorang dukun tua berjalan ke sumber air. Semua gerak itu kemudian menjadi “materi tubuh”—bukan sekadar ilustrasi, tetapi kekuatan dramatik yang lahir dari akar kebudayaan.
Pendekatan ini membuat tubuh aktor menjadi arsip hidup, menyimpan pengalaman sosial masyarakat Lombok.
Ketika Dende Tamari bergerak di panggung, ia membawa seluruh ingatan itu bersamanya. Penonton pun melihat lebih dari sekadar kisah Antigone yang ditransformasikan; mereka melihat diri mereka sendiri, kebiasaan mereka, dan sejarah yang mereka warisi tanpa sadar.
Bagi Kongso, tubuh aktor adalah teks kedua. Ia membaca dunia, lalu menulis ulang pengalamannya dengan gestur, nafas, dan irama. Di sinilah letak “lokalitas” teater BAM: ia tidak sekadar menempelkan atribut lokal, tetapi menghidupkan kembali tubuh lokal sebagai pusat kesadaran estetik.
Tembang, Doa, dan Nyanyian Leluhur
Selain bahasa tubuh, tembang dan nyanyian tradisi menjadi jantung pertunjukan Dende Tamari. Dalam teater BAM, musik tradisi tidak berfungsi sebagai latar, tetapi sebagai roh yang menuntun emosi dan ritme adegan.
Kongso menempatkan penyanyi tradisi sebagai bagian dari narasi. Ia tidak hanya menyanyikan lagu, tetapi juga “berbicara” kepada penonton dengan bahasa simbolik. Kadang suara itu terdengar seperti doa yang dipanjatkan kepada leluhur, kadang seperti jeritan yang datang dari masa lalu.
Tembang menjadi ruang di mana dunia spiritual dan dunia nyata saling berpapasan. Ia menandai momen-momen transenden di mana batas antara kehidupan dan kematian, antara sakral dan profan, menjadi kabur.
Ketika Dende Tamari menguburkan saudaranya, tembang itu menggema, seperti doa yang terbit dari tanah.
Melalui musik tradisi, Dende Tamari menyentuh lapisan terdalam pengalaman penonton. Ia bukan hanya mengisahkan tragedi moral, tetapi juga memanggil ingatan kolektif masyarakat Lombok — tentang ritus kematian, tentang kesetiaan keluarga, dan tentang keyakinan bahwa setiap jasad harus kembali ke bumi dengan hormat.
Dalam Dende Tamari, tragedi klasik Yunani menemukan rumah barunya di Lombok. Ia tidak kehilangan makna universalnya, justru menemukan kehidupan baru dalam konteks lokal.
Melalui adaptasi lakon tragedu Yunani itu Kongso berhasil menunjukkan bahwa karya besar dunia dapat bertumbuh di tanah Nusantara tanpa kehilangan akarnya.
Dengan memadukan tubuh lokal, nyanyian tradisi, dan nilai moral yang hidup di masyarakat, ia menanam Antigone di tanah sendiri — membiarkannya tumbuh menjadi Dende Tamari yang harum dan getir.
Melalui karya ini, BAM memperlihatkan bahwa teater bukan warisan barat, melainkan warisan manusia. Ia hidup di mana pun manusia berani berkata “tidak” terhadap kekuasaan yang menindas.
Dan di tengah dunia yang makin bising oleh propaganda, adaptasi lakon Dende Tamari seperti bisikan yang lembut namun tegas: bahwa kemanusiaan harus terus dirawat — di panggung, di tubuh, di hati kita.
#Akuair–Ampenan, 23 Oktober 2025
Tips Cari Tiket Pesawat Jakarta–Aceh Murah
Memesan tiket pesawat jauh hari sebelum keberangkatan adalah cara efektif menekan biaya, idealnya, pemesanan dilakukan sekitar 4 sampai 8 minggu sebelum tanggal terbang
MATARAM.LombokJournal.com ~ Perjalanan dari Jakarta ke Aceh semakin mudah dengan berbagai pilihan penerbangan yang tersedia. Namun, mencari tiket pesawatJakarta-Aceh dengan harga terjangkau sering kali menjadi tantangan tersendiri.
Untuk mendapatkan harga terbaik, Anda perlu strategi khusus agar tidak terlambat memesan dan akhirnya membayar lebih mahal. Tiket pesawat Jakarta-Aceh bisa didapatkan dengan harga kompetitif jika menggunakan cara-cara cerdas dalam pencarian tiket.
Salah satu platform terpercaya untuk membeli tiket pesawat adalah Traveloka, yang menyediakan beragam promo menarik dan pilihan maskapai lengkap. Dengan memanfaatkan fitur pencarian harga termurah di Traveloka, Anda bisa memperoleh tiket sesuai anggaran tanpa mengorbankan kenyamanan perjalanan.
Lantas, apa saja tips mencari tiket murah untuk rute Jakarta-Aceh?
Berikut adalah lima tips penting untuk mendapatkan tiket pesawat Jakarta-Aceh murah yang bisa Anda praktikkan.
Tips Mencari Tiket Pesawat Jakarta–Aceh Murah
Menerapkan tips yang tepat akan membantu Anda menghemat biaya perjalanan. Berikut beberapa langkah praktis untuk mendapat harga tiket pesawat terbaik.
Pesan Tiket Lebih Awal untuk Harga Terbaik
Memesan tiket pesawat jauh hari sebelum keberangkatan adalah cara efektif menekan biaya. Idealnya, pemesanan dilakukan sekitar 4 sampai 8 minggu sebelum tanggal terbang. Untuk rute populer seperti Jakarta–Aceh, harga tiket cenderung merangkak naik jika dipesan mendekati waktu keberangkatan.
Oleh sebab itu, selalu awasi kalender harga di situs Online Travel Agent (OTA) untuk mengetahui kapan harga tiket mulai naik dan kapan waktu terbaik untuk memesan.
Memesan lebih awal tidak hanya mengamankan harga murah, tetapi juga memberi keleluasaan memilih jadwal penerbangan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Dengan perencanaan matang, Anda bisa menghindari lonjakan harga mendadak yang kerap terjadi pada rute penerbangan padat.
2. Bandingkan Harga di Berbagai Platform
Melakukan perbandingan harga di berbagai situs adalah langkah penting. Gunakan situs pembanding harga seperti Google Flights untuk melihat berbagai pilihan tiket dari sejumlah maskapai. Selain itu, jangan lupa cek secara langsung di situs maskapai seperti Garuda Indonesia, Batik Air, Citilink, dan Lion Air karena sering ada promo eksklusif yang hanya tersedia di platform resmi mereka.
Anda juga bisa memanfaatkan paket bundling tiket plus hotel yang kadang menawarkan harga lebih hemat. Perbandingan harga yang teliti memastikan Anda mendapatkan penawaran terbaik tanpa harus membuka banyak tab browser secara acak.
3. Pilih Waktu Terbang di Luar Jam Sibuk
Pemilihan waktu terbang sangat berpengaruh pada harga tiket. Biasanya, penerbangan di jam-jam sibuk seperti pagi 07.00–09.00 dan sore 17.00–19.00 memiliki tarif yang lebih tinggi. Sebagai alternatif, memilih penerbangan pagi buta atau larut malam bisa menekan biaya perjalanan.
Selain waktu, hari keberangkatan juga berpengaruh. Hari Selasa dan Rabu kerap menawarkan harga tiket lebih murah dibanding akhir pekan. Jika Anda punya fleksibilitas waktu, gunakan keuntungan ini untuk menghemat sekaligus mendapatkan jadwal yang tidak terlalu padat.
4. Manfaatkan Promo Maskapai dan Travel Fair
Maskapai domestik Indonesia kerap meluncurkan promo musiman, terutama saat hendak memasuki masa liburan panjang. Promo ini menawarkan potongan harga yang signifikan bagi penumpang yang cepat tanggap. Ikuti akun media sosial maskapai dan OTA untuk mendapatkan informasi terkini terkait flash sale yang tidak mau Anda lewatkan.
Selain itu, hadir juga event travel fair, baik secara offline maupun online, yang menyediakan harga lebih murah dibandingkan tarif normal. Travel fair ini menjadi momen tepat untuk berburu tiket dengan diskon menarik dan penawaran khusus lainnya.
5. Gunakan Program Loyalty dan Poin Reward
Program loyalitas memudahkan Anda mendapatkan tiket pesawat gratis atau upgrade kelas kursi dengan menukarkan poin reward. Jika sering bepergian, program ini bisa menghemat pengeluaran perjalanan secara signifikan.
Tak kalah menarik, OTA seperti Traveloka menyediakan sistem poin yang bisa digunakan sebagai potongan harga saat membeli tiket pesawat. Bagi pelancong bisnis yang rutin terbang ke Aceh, memaksimalkan penggunaan poin dan program loyalitas merupakan strategi cerdas.
Menemukan tiket pesawat Jakarta–Aceh murah bukan hal yang sulit jika Anda menerapkan lima tips ini. Mulai dari pemesanan awal, membandingkan harga di berbagai platform, memilih waktu penerbangan yang fleksibel, memanfaatkan promo dan travel fair, hingga menggunakan program loyalitas dan poin reward.
Siap terbang ke Aceh dengan harga terbaik? Pesan tiket pesawat lewat Travelokasekarang juga. Tentu, ini karena Traveloka menawarkan promo menarik, pilihan maskapai lengkap, dan fitur pencarian harga termurah, Anda selalu untung dan mendapatkan kemudahan dalam setiap perjalanan. (*)