Kegiatan rakor Program Penguatan Pemerintahan dan Pembangunan Desa (P3PD) mengevaluasi otonomi penggunaan dana desa
SENGGIGI.lombokjournal.com ~ Pengelolaan Dana Desa oleh Pemerintah Desa dari anggaran Pemerintah Pusat adalah salah satu pembahasan menarik untuk merumuskan kebijakan baru pembangunan desa, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
Hal itu dikatakan Sekretaris Daerah Nusa Tenggara Barat, HL Gita Ariadi saat membuka Rapat Koordinasi Daerah Program Penguatan Pemerintahan dan Pembangunan Desa (P3PD) di Hotel Merumatta, Senggigi, Lobar, Rabu (09/11/22),
“Kegiatan ini harus dimanfaatkan oleh Pemerintah Desa dan Pemerintah Pusat untuk mengevaluasi otonomi penggunaan Dana Desa bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Miq Gita.
Dikatakannya, semangat UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa harus menjembatani kesenjangan pemahaman antara pusat dan desa dalam hal keleluasaan menentukan peruntukan Dana Desa bagi pembangunan tiap desa.
Pemerintah Provinsi mendorong dan mengapresiasi kegiatan ini agar masyarakat desa dapat membangun lebih agresif, sesuai pula dengan kebutuhan dan keinginan masyarakatnya.
Rakor P3PD dihadiri Asisten Deputi Pemberdayaan Kawasan dan Mobilitas Spasial, Mustikori Indrijatiningrum Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI.
Ia mengatakan, sejak delapan tahun lalu pelaksanaan UU 6/ 2014, Pemerintah Pusat telah menggelontorkan anggaran 468 triliun bagi 74.940 desa hingga tahun ini.
“Manajemen pemerintah desa secara substansi diserahkan penuh dan mandiri kepada desa,” ujarnya.
Namun demikian, rapat koordinasi kali ini yang dilaksanakan selama tiga hari melibatkan 80 orang peserta se NTB yang terdiri dari Camat, Kepala Desa dan Pendamping Desa diharapkan dapat menghasilkan masukan dan evaluasibagi kebijakan baru tentang desa sebagai rekomendasi dalam RPJMN.
Hadir pula dalam kegiatan tersebut stakeholder lintas sektor diantaranya, pemerintah kabupaten, dinas dan lembaga terkait serta akademisi untuk merumuskan rekomendasi.***
Pancasila Jangan Hanya Dihafal, Harus Diimplementasikan
Rachmat Hidayat Gelar Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Kantor DPD PDIP NTB, Ingatkan arti luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
MATARAM.lombokjournal.com ~ Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, H Rachmat Hidayat kembali melakukan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Pulau Lombok.
Kali ini, kegiatan untuk menumbuhkembangkan pemahaman perihak empat pilar berbangsa dan bernegara tersebut, diadakan oleh Sekretariat MPR RI di Kantor DPD PDIP NTB pada Rabu, (09/11/22).
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga, Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi, Sekretariat Jenderal MPR RI Endang Lestari, S.Sos.
Hadir pula Sekretaris DPD PDIP NTB Lalu Budi Suryata, seluruh Ketua DPC PDIP se-Pulau Lombok.
Di antaranya Ketua DPC PDIP Kota Mataram Made Slamet, Ketua DPC PDIP KLU Raden Raden Milling, Ketua DPC PDIP Lombok Barat H. Lalu Muhammad Ismail, Ketua DPC PDIP Lombok Tengah Suhaimi, Ketua DPC PDIP Lombok Timur Ahmad Sukro.
Sosialisasi empat pilar kebangsaan memiliki urgensi tentang pentingnya Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Di hadapan ratusan kader DPD PDIP NTB, Haji Rachmat Hidayat menegaskan, implementasi penerapan empat pilar kebangsaan itu akan menjadi kunci pedoman dalam membangun karakter bangsa.
Politisi kharismatik NTB itu menegaskan agar Pancasila tidak hanya dihafal, melainkan juga diimplementasikan.
“Yang paling penting itu dilaksanakan. Tidak hanya sekadar diucapkan dan dihafal. Pancasila hanya ada di Indonesia, itu hebatnya. Jangan hanya debat-debat, tinggal laksanakan. Tolong dicamkan baik, diperhatikan baik-baik, kemudian diimplementasikan,” ucapnya.
Kader-kader PDIP harus menjadikan Pancasila sebagai bintang perjuangan dalam bertindak dan bersikap.
“Implementasi itu, menjadi satu ikatan yang tidak bisa dipisahkan. Ketuhanan itu adalah segala-galanya. Disitu, Pancasila harus dipratekkan dalam kehidupan nyata dan keseharian, termasuk dengan alam semesta kita,” tegas Rachmat.
Ketua DPD PDI Perjuangan NTB itu mendaku, untuk mencapai hal tersebut, sosialisasi harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.
Dengan begitu siapa pun tidak akan mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk, seperti terorisme dan radikalisme.
“Yang pasti, prinsip di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung, juga kemanusiaan itu memanusiakan manusia. Inilah maksud persatuan itu jangan ada pecah belah. Maka, membangun karakter bangsa itu tidak ada habisnya, disitu kita penting untuk saling menghargai. Itulah makna implementasi pembangunan karakter akan terus berlanjut sepanjang zaman. Oleh sebab itu, pendekatan yang berbeda diperlukan untuk menghadapi perubahan,” jelas Rachmat.
Dalam sosialisasi yang dihadiri pengurus dan ratusan kader PDI Perjuangan NTB itu, menghadirkan narasumber yakni, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram), Prof. Dr. H. Gatot Dwi Hendro Wibowo dan dan Pengajar Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Budi Luhur Jakarta, Dr. Hakam Ali Niazi.
Dalam pemaparannya Prof. Dr. H. Gatot Dwi Hendro Wibowo menyampaikan pentingnya “Internaliasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari”.
Kaprodi S3 Fakultas Hukum Unram itu melihat ada hubungan yang tidak terpisahkan antara Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhineka Tunggal Ika.
Pancasila adalah landasan ideologi bangsa, alat pemersatu bangsa, sekaligus sebagai sumber dari segala sumber hukum Indonesia.
“Menjaga dan merawat Pancasila itu, bukan hanya dengan dihafalkan tapi harus di ejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini karena Pancasila sesuai kata bung Karno diambil dari jiwa bangsa,” tegas dia.
Prof Gatot mendaku, kristalisasi Pancasila dan UUD 1954 itu, tercermin dalam pluralisme warganya. Kata dia, dalam ajaran agama Islam, terkandung makna bahwa keberagaman itu adalah sebuah rahmat.
Untuk itu, sebagai sebuah entitas bangsa plural, tentunya jika ada pihak-pihak tertentu yang menjadikan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) sebagai isu komoditas politik. Tentunya, kader PDI Perjuangan diharapkan tidak kepancing pada hal itu.
“Kita ini bukan negara agama, pendekatan kita sudah jelas adalah Pancasila. Maka, keberagaman sebagai sebuah fakta historis harus kita dudukan pada porsinya. Yakni, agama itu, adalah spirit. Jadi siapapun enggak boleh lagi melakukan praktik mengkonfrontasi, antara agama dan Pancasila,” ujarnya.
Ia mengajak kader PDI Perjuangan serta warga NTB, agar tidak lagi mau terpengaruh pada sifat-sifat yang mengkonfrontasi antara agama dan Pancasila.
Sebab, NKRI adalah tempat warga berhimpun untuk menyatukan persepsi dan gagasan untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika.
Karena itu, pilihan idiologi Pancasila yang sudah dirumuskan oleh para pendiri bangsa Indonesia, sudah sangat komplit dan sangat brilian dalam mengatur berbagai sendiri kehidupan warganya.
Salah satunya, pada rumusan Sila Pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Itu artinya, bangsa Indonesia, sudah sangat yakin pada Tuhan.
“Semua agama di negara Indonesia tak hanya Islam, menyakini adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Nah, kalau saya ibaratkan itu, NKRI itu, adalah sebuah kapal besar. Maka, jangan sampai ada yang berani coba-coba melobanginya. Sebab, jika sampai ada yang melobangi, tentu kapal besar itu akan bocor dan oleng,” papar Prof Gatot.
Ia berharap para kader PDIP NTB di bawah komando H. Rachmat Hidayat, agar tak henti terus merawat dan menjaga keutuhan NKRI dari jeratan para pihak yang ingin melunturkan rasa nasionalisme warga Indonesia.
“Tantangan kita semua, termasuk kader PDI Perjuangan adalah melawan para pihak yang ingin terus melunturkan asa nasionalisme. Yang pasti, kegiatan kayak sekarang ini adalah upaya kita untuk terus memberikan pemahaman bahwa idiologi Pancasila, harus terus digelorakan karena Pancasila merupakan cara pandang bangsa yang sudah utuh dengan spirit terkandung didalamnya, adalah mengatur segala lini kehidupan warganya,” jelas Prof Gatot.
Terakhir, ia memuji kiprah Anggota DPR RI H. Rachmat dan partainya yang dianggap konsisten dalam menjaga pondasi bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika selama ini.(*)
State of Green vs NTB Net Zero Emissions 2050
Saat mengunjungi kantor State of Green di Kopenhagen, Denmark, delegasi NTB mengungkapkan bahwa NTB punya ambisi netral karbon di tahun 2050
lombokjournal.com ~ Ikhtiar Denmark dalam melakukan transisi energi hijau sudah dimulai sejak 50 tahun yag lalu. Saat itu, terjadi krisis energi yang dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah yang mengakibatkan harga minyak dunia melambung tinggi.
Momen tersebut adalah wake up call bagi Pemerintah Denmark untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan memperkuat ketahanan energi lokal.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Denmark memastikan komitmen penuh dari parlemen dimana diperoleh dukungan mayoritas dari 175 anggota parlemen.
Selanjutnya, disusun kebijakan energi yang terintegrasi dengan pengelolaan sampah, konservasi air dan ekonomi sirkular.
Namun jika ditinjau dari jumlah penduduk dan emisi yang dihasilkan, Denmark hanya merepresentasikan sekitar 0,1 persen dari populasi dunia. Untuk itu, Denmark memiiki ambisi global untuk menularkan semangat ini ke seluruh dunia.
Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta dan pertumbuhan ekonomi yang positif menjadi salah satu prioritasnya.
Pertimbangan tersebut melatarbelakangi didirikannya State of Green. State of Green adalah Lembaga yang didanai operasional oleh Pemerintah dan pelaku industri beberapa dekade lalu.
Lembaga ini aktif mempromosikan dan menghubungkan ambisi Denmark untuk mengurangi emisi global, meningkatkan penggunaan energi terbarukan, manajemen air dan sampah ke suluruh dunia.
Menjalin kemitraan dengan Pemerintah dan pihak swasta megubah tantangan menjadi kesempatan di 4 (empat) area fokus yaitu transisi energi, manajemen air bersih, green cities dan ekonomi sirkular.
NTB Net Zero Emissions 2050
Dalam kunjungan kerja ke kantor State of Green, Kopenhagen pada tanggal 2 November 2022, ketua tim delegasi Provinsi Nusa Tengga Barat, Wakil Gubernur menyampaikan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat juga memiliki ambisi netral karbon di tahun 2050, yang dikenal dengan NTB Net Zero Emissions 2050.
Dengan mendeklarasikan kondisi netral karbon di tahun 2050, berarti jumlah emisi yang dihasilkan pada tahun 2050 akan sama dengan jumlah karbon yang diserap melalui aktifitas seperti pemanfaatan energi terbarukan, penggunaan kendaraan listrik, mengurangi volume sampah dan penghijauan.
Sampai dengan bulan Juni tahun 2022, capaian bauran energi Provinsi Nusa Tenggara Barat sekitar 19 persen.
Hal ini dipandang cukup baik, karena ikhtiar transisi energi hijau baru dimulai di pertengahan tahun 2019, dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2019 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED-P) Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Ikhtiar ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah, namun harus dilakukan Bersama-sama dengan Pemerintah Pusat dan PT. PLN (Persero) sebagai pemegang hak monopoli di sektor ketenagalistrikan di Indonesia.
Transisi energi hijau ala Denmark vs NTB
Belajar dari kasus Denmark juga dapat dibuktikan, pertumbuhan ekonomi tidak harus mengorbankan kesejahteraan ekosistem atau lingkungan hidup sekitar.
Berdasarkan data yang dirilis oleh State of Green, sejak tahun 1990 sampai dengan 2020, Pemerintah Denmark telah berhasil meningkatkan pertumbuhan GDP/PDRB hingga 62 persen, namun di sisi lain bisa mengurangi pemakaian energi atau melakukan konservasi energi hingga 14 persen dan memangkas sekitar 43 persen emisi gas rumah kacanya.
Jika dibandingkan dengan NTB, peluang untuk mengurangan emisi gas rumah kaca sama besarnya terutama di sektor pertanian, sektor pertambangan dan sektor pariwisata.
Di sektor pertanian, pemanfaatan kotoran hewan, jerami, sekam padi dan tongkol jagung untuk biogas dan pembangkitan listrik dapat mengurangi emisi gas metana yang jauh lebih berbahaya daripada karbondioksida.
Industrialisasi di sektor pertanian juga tidak harus bersifat mass production, namun harus memperhatikan keseimbangan lingkungan dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan lokal.
Di sektor pertambangan, praktek green mining seperti yang dilakukan oleh PT. Amman Mineral dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas terpasang 26.000.000 Wattpeak untuk memenuhi 20 peraen kebutuhan energi smelter dapat menjadi best practice bagi perusahaan tambang lainnya.
Selain itu, untuk sektor pariwisata, green tourism dan pariwisata berbasis komunitassaat ini sedang mendapatkan momentumnya, popular di kalangan wisatawan mancanegara. Tentunya peluang-peluang kerjasama dengan pihak lain perlu dioptimalkan karena keterbatasan ruang fiskal daerah, melalui kemitraan yang diinisiasi oleh Pemerintah baik pusat maupun di daerah. ***
Lombok FC Beri Beasiswa untuk Empat Pemain
Beasiswa penuh diberikan untuk empat pemain, Lombok FC ingin agar karier pemain gemilang di dalam dan luar lapangan
MATARAM.lombokjournal.com ~ Lombok Football Club (Lombok FC), klub sepakbola profesional yang didirikan Anggota DPR RI dari Dapil NTB 2/Pulau Lombok, H. Bambang Kristiono, SE (HBK), patut dipuji.
Paling baru, Lombok FC memberi beasiswa S-1 untuk empat skuadnya di Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma).
Seluruh biaya kuliah empat pemain tersebut ditanggung manajemen Lombok FC hingga lulus menjadi sarjana.
Rannya Agustyra Kristiono
“Manajemen Lombok FC ingin agar para pemain Lombok FC, kelak selain memiliki skil sebagai pemain bola, juga memiliki kemampuan akademik yang baik guna menujang kariernya di masa depan,” kata Chief Executive Officer Lombok FC Rannya Agustyra Kristiono, melalui sambungan telphone dari London, UK, Selasa (08/11/22).
Empat pemain Lombok FC yang mendapat beasiswa tersebut adalah Muhammad Ali, Ahmad Dani, Haris Wenno, dan Syeich Omar Albaar. Ali adalah pemain Lombok FC yang berasal dari Lombok Timur.
Sementara Dani, merupakan talenta Lombok FC dari Bima. Sedangkan Hais berasal dari Ambon, Maluku, dan Omar berasal dari Ternate, Maluku Utara.
Keempatnya sudah memulai perkuliahan di Undikma. Mereka mengambil Program Studi S-1 Pendidikan Olahraga dan Kesehatan pada Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Masyarakat.
Rannya menegaskan, manajemen Lombok FC akan menanggung seluruh biaya pendidikan untuk empat pemain tersebut, selama mereka menempuh perkuliahan di Undikma.
Manajemen Lombok FC juga siap memberikan dispensasi saat mereka ada jadwal perkuliahan yang berbaterngan dengan jadwal latihan.
“Kami ingin empat talenta terbaik kami memiliki prestasi gemilang di lapangan dan juga prestasi terbaik dalam bidang akademik,” ucap Rannya.
Dara yang kini tengah merampungkan pendidikannya di Brunell University London, UK, ini menegaskan, manajemen Lombok FC menyadari sepenuhnya usia emas atlet sepakbola, tidaklah panjang.
Karena itu, dengan memberikan beasiswa untuk menempuh kuliah di perguruan tinggi, karier para pemain Lombok FC diharapkan tetap gemilang saat mereka sudah gantung sepatu.
“Menjadi komitmen kami di manajemen Lombok FC untuk menyelaraskan pendidikan akademik dengan prestasi pemain di industri sepakbola,” imbuh Rannya.
Sementara itu, Chairman Lombok FC yang juga pendiri klub, H. Bambang Kristiono, SE (HBK), menegaskan ingin para pemain Lombok FC memiliki pandangan bahwa pendidikan formal sama pentingnya dengan prestasi di lapangan.
Karena itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI ini tak ingin ada pemain Lombok FC mengenyampingkan pendidikan di perguruan tinggi, setelah menamatkan pendidikan menengah mereka.
“Pendidikan formal itu sangat penting dimiliki setiap orang dalam kehidupannya. Termasuk para pemain Lombok FC,” imbuh HBK.
Politisi Partai Gerindra ini menegaskan, pendidikan formal merupakan tempat untuk mempersiapkan seseorang agar siap terjun dalam masyarakat.
Pendidikan formal pula yang akan memberi kesempatan untuk memperoleh suatu pekerjaan yang layak.
“Menamatkan sekolah di perguruan tinggi, dan meraih gelar sarjana akan menjadikan para pemain Lombok FC memiliki nilai tambah yang besar dalan perjalanan karir mereka,” kata HBK.
HBK ingin para pemin Lombok FC, bisa sukses layaknya nama-nama besar dalam industri sepak bola nasional bahkan dunia.
Seperti goal getter Barcelona FC, Robert Lewandowski yang merampungkan gelar sarjana di Universitas Polandia.
Atau Juan Mata, legenda Manchester United dan Timnas Spanyol yang mempunyai dua gelar sarjana yakni Ilmu Olahraga dan Keuangan.
Dan bila perlu seperti Giorgio Chiellini, pemain Timnas Italia dan Juventus yang belum lama menyelesaikan jenjang pendidikan Masternya di tengah-tengah prestasi gemilangnya bersama klub Juventus dan Timnas Italia.
Disambut Sujud Syukur
Para pemain Lombok FC yang mendapat beasiswa tak bisa menyembunyikan rasa syukur mereka atas perhatian besar yang diberikan oleh pendiri dan manajemen klub.
“Kami benar-benar seperti mendapat durian runtuh. Ini benar-benar di luar ekspektasi kami. Terima kasih kami yang tinggi untuk Pak HBK dan manajemen Lombok FC untuk seluruh perhatian yang diberikan kepada kami para pemain,” kata Muhammad Ali.
Penjaga gawang Lombok FC ini berasal dari Kembang Kerang, Kec. Aikmel, Kab. Lombok Timur.
Ali yang matang ditempa di Liga Antar Kampung (Tarkam) sebelum bergabung dengan Lombok FC, menamatkan pendidikan sekolah menengahnya di SMA 1 Aikmel pada tahun 2020.
Selepas itu, Ali sempat melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta. Namun, dirinya memilih cuti setelah memasuki semester tiga.
Ali memang bukan berasal dari keluarga berlebih. Dirinya sudah ditinggal sang ayah saat usianya masih tiga bulan. Sementara sang ibu, sudah tiga tahun ini bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Arab Saudi.
Karena itu, manakala mendapatkan beasiswa dari manajemen Lombok FC untuk melanjutkan pendidikannya di Undikma, Ali langsung sujud syukur. Dengan girang, kabar itu disampaikan Ali pada sang Ibunda di negeri rantau dan disambut penuh haru.
Pemuda 21 tahun ini pun berjanji akan menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan prestasi di akademik selama menempuh pendidikan. Apalagi kata Ali, para pemain telah mendapat dispensasi dari manajemen klub jika harus kuliah di pagi hari saat ada jadwal latihan.
Sementara di sisi lain, tak ada yang harus dirinya khawatirkan terkait seluruh biaya kuliah, mengingat sepenuhnya ditanggung oleh manajemen Lombok FC.
Sementara itu, kegembiraan yang sama juga disampaikan Syeich Omar Albaar. Seperti Ali, pemain sayap kiri Lombok FC ini menamatkan pendidikan menengahnya tahun 2020. Namun, saat itu, Omar tidak melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi.
Di daerah asalnya, Ternate, Provinsi Maluku Utara, Omar fokus memberi waktu penuh untuk karier sepakbolanya. Terlebih pada saat itu, Omar sudah dikontrak oleh Persiter, salah satu klub yang berlaga di Liga III Maluku Utara.
Namun begitu, sembari menempa karier, Omar tak pernah mengubur mimpinya untuk bisa melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi.
Karena itu, pemain yang baru lima bulan memperkuat Lombok FC ini girang bukan main, manakala manajemen Lombok FC memberitahukan bahwa dirinya akan menjadi salah satu dari empat pemain yang mendapat beasiswa penuh untuk menempuh pendidikan di Undikma.
“Orang tua di Ternate juga sangat senang. Hati kami benar-benar membuncah,” kata putra kedua dari lima bersaudara ini.
Di keluarganya, Omar adalah satu-satunya yang menempuh karier sebagai atlet. Kedua orang tuanya bekerja sebagai PNS di Pemprov Maluku Utara dan sehari-hari berdinas di Sofifi, ibu kota Prov. Maluku Utara.
Sementara sang kakak saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu lembaga pendidikan berbasis Islam di Sumatera Barat. Sedangkan adik-adiknya masih kecil.
“Menjadi pemain Lombok FC benar-benar menjadi berkah bagi saya dan keluarga. Saat ini giliran kami memberikan prestasi terbaik di lapangan dan prestasi di bangku pendidikan,” ujar pemain yang sudah membukukan dua gol untuk Lombok FC ini.
Saat ini, manakala banyak klub menghentikan kegiatannya dengan memulangkan banyak pemainnya karena belum jelasnya jadwal bergulirnya Liga akibat tragedi Kanjuruhan, Lombok FC tetap beraktifitas dengan menjalankan latihan-latihan maupun pertandingan-pertandingan persahabatan sambil terus memperbaiki ekurangan-kekurangan.
Ini adalah tekad, realita, dan komitmenkami dalam mendorong kebangkitan sepakbola NTB. Menyelesaikan gelaran Liga 3 NTB dengan sungguh-sungguh, sekaligus bersiap diri dalam menghadapi kompetisi di level yang lebih tinggi.
Lombok FC juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Pemprov NTB, yang dalam hal ini, Bapak Gubernur NTB, yang telah memberikan dukungannya, dengan diizinkannya Lombok FC berlatih dan bertanding di GOR TURIDE, Mataram,” tutup HBK penuh optimisme.(*)
NTB Gelar Operasi Mandalika III Rinjani – 2022
Untuk pengamankan event WSBK, NTB Gelar Operasi Mandalika yang akan dilaksanakan dari tanggal 9-15 November 2022
MATARAM.lombokjournal.com ~ Demi menjamin keamanan saat event World Superbike (WSBK) yang terselenggara pada tanggal 11 – 13 November 2022, Provinsi NTB melaksanakan Apel Gelar Pasukan Operasi Mandalika III Rinjani-2022 yang berlangsung di Lapangan Bharadaksa Polda NTB, Selasa (08/11/22).
Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengatakan, persiapan keamanan menjadi etalase Provinsi NTB dan Indonesia.
Karena adanya event berskala Internasional, faktor keamanan sangat harus diperhatikan.
“Semoga kita bisa kompak menjaga supaya aman dan nyaman,” tutur Bang Zul.
Pengamanan WSBK 2022 akan dilaksanakan dari tanggal 9 – 15 November 2022. Sebanyak lebih dari 2.769 pasukan dikerahkan untuk menjaga keamanan dari berbagai sisi.
Kapolda NTB, Irjen Pol Drs Djoko Poerwanto selaku Inspektur Upacara berharap seluruh pasukan dapat mampu menjaga dan mengamankan penyelenggaraan event WSBK 2022.
“Jadikan kerjasama, solidaritas, sinergitas kita semua menjadikan bukti ,bahwa pengamanan WSBK merupakan bagian dari pembuktian kita untuk NTB Gemilang,” tuturnya.
Terdapat tiga hal penting dalam pelaksanaan Operasi Mandalika III Rinjani-2022, yaitu tau berbuat apa, siapa berbuat apa dan bertanggungjawab.
“Tiga hal tersebut harus berlandaskan nilai, yaitu Bangga dengan NTB, Suksesnya pengamanan WSBK adalah sukses dari race WSBKnya dan sukses pengamanan” tegasnya.
Turut hadir Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Sahli sosmas, Dir RSU, Kadis Pariwisata, Kadis Perhubungan, Kadis PU, Kadis Kominfo, Kadis kesehatan, Kadis Koprasi. ***
Ekonomi NTB Tangguh Hadapi Inflasi
Tumbuhnya ekonomi NTB Triwulan III secara tahunan, karena pertumbuhan terjadi pada 16 lapangan usaha
MATARAM.lombokjournal.com ~ Pemerintah Provinsi NTB mengungkapkan pertumbuhan ekonomi daerah ini pada Triwulan III tahun 2022 dibanding Triwulan III tahun sebelumnya tumbuh sebesar 7,10 persen.
Petani Tembakau
Meski sempat mengalami inflasi sebesar 5,37 persen pada Triwulan II-2022 secara tahunan (year on year), perekonomian NTB tumbuh semakin baik.
Hal tersebut disampaikan Kepala Biro perekonomian Setda NTB, Drs. H. Wirajaya Kusuma, MH., berdasarkan catatan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTB.
Dikatakan tumbuhnya ekonomi NTB Triwulan III secara tahunan, karena pertumbuhan terjadi pada 16 lapangan usaha. Satu di antaranya mengalami kontraksi.
Lapangan usaha mengalami pertumbuhan signifikan dari sisi produksi. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 38,79 persen. Sedangkan, dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa tumbuh sebesar 34,54 persen.
Lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi di NTB pada Triwulan III-2022 dibanding triwulan sebelumnya, mencapai 1,59 persen (q-to-q).
Dimana dari sisi produksi, Lapangan Usaha Industri Pengolahanmengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 45,59 persen.
“Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mengalami pertumbuhan tertinggi sebsar 6,01 persen,” tambah Wirajaya.
Kemudian pertumbuhan ekonomi NTB tanpa tambang bijih logam pada Triwulan III-2022: tumbuh 1,85 persen (q-to-q), tumbuh 3,55 persen (y-to-y), dan tumbuh 3,63 persen (c-to-c).***
NTB Net Zero Emission 2050 Sudah On The Track
Kadis LHK Julmansyah menjelaskan, bauran energi NTB saat ini baru 19 persen di atas rata-rata nasional
MATARAM.lombokjournal.com ~ Komitmen NTB dalam mewujudkan Net Zero Emission (Nol Emisi Karbon) di tahun 2050 sudah berada pada trek yang benar.
Artinya Provinsi NTB kini telah memulai satu langkah pertama menuju perjalanan panjangnya.
Hal tersebut disampaikan Julmansyah, S.Hut., M.A.P, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB setelah kembali dalam perjalanan dinasnya mendampingi Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah untuk melakukan Study Trip Energi Terbarukan ke Denmark.
“Bauran energi NTB saat ini baru 19 persen di atas rata-rata nasional, sementara di Samsø Denmark sudah 70 persen. Denmark sudah bekerja serius sejak 25 tahun lalu. Artinya upaya Pemprov NTB untuk mendorong Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sudah on the track. Apalagi PLN telah mulai cofiring di dua PLTU nya yakni PLTU Jeranjang dan PLTU Kertasari KSB,” katanya di Mataram, Minggu (06/11/22).
Ia pun menjelaskan, untuk mewujudkan NTB Net Zero Emission 2050 dan Indonesia Net Zero Emission 2060, perlu adanya kolaborasi, kerja keras dan konsistensi seluruh pihak. Dan tetap konsisten untuk tidak bergantung pada penggunaan energi fosil.
“NTB saat ini sudah mulai started with a single step (mulai dengan satu langkah pertama). Butuh kolaborasi dan kerja keras serta konsistensi agar kita tidak bergantung pada energi fosil, untuk NTB Net Zero Emisi 2050 dan Indonesia Net Zero Emisi 2060,” jelas Julmansyah.
Selain mengunjungi Kota Samsø untuk melihat dan belajar mengenai energi terbarukan, rombongan study trip dari dua Provinsi tersebut juga turut berkunjung ke Kota Bornholm. Tujuannya mempelajari energi hijau serta bagaimana pengelolahan sampah di kota tersebut.***
Wagub NTB Kunjungi Energy Academy di Denmark
Wagub NTB melakukan study trip energi terbarukan di Pulau Samsø untuk pelajari transisi energi
DENMARK.lombokjournal.com ~ Wagub NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah menyampaikan bahwa begitu tiba di Pulau Samsø, tanda-tanda transisi energi terbarukan telah nampak dengan pemandangan 10 turbin angin lepas pantai sejajar yang memanjang ke selatan pulau.
Hal tersebut disampaikan Ummi Rohmi, sapaannya, saat memimpin delegasi Provinsi NTB mengunjungi Energy Academy di Pulau Samsø, Denmark, Kamis (03/11/22).
“Pulau Samsø memiliki karakteristik yang sama dengan Provinsi NTB, dimana masyarakatnya berbasis agraris”, tuturnya.
Lebih lanjut, Ummi Rohmi menambahkan, saat ini capaian bauran energi di NTB mencapai 19 persen, dan upaya yang dilakukan sudah on the track.
Pelaksanaan transisi energi dilakukan dengan menyesuaikan potensi dan melibatkan warga setempat.
Di sisi lain, edukasi berperan penting untuk menyamakan pemahaman dan meyakinkan semua pihak terkait manfaat energi terbarukan baik dari aspek ekonomi maupun lingkungan. Pertumbuhan ekonomi dapat diraih tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan.
“Tentunya tidak mudah untuk memulai transisi energi di Pulau Samsø,” tutur Søren Harmensen, salah satu mantan Profesor Studi Lingkungan yang menonjol karena antusiasme dan dedikasinya terhadap energi terbarukan.
Dijelaskan, awal tahun 1970an merupakan tantangan utama untuk meyakinkan penduduk pulau yang sebagian besar enggan dan terpecah konflik kepentingan.
Ditunjuk sebagai manajer proyek, Ia mengadakan pertemuan informal yang dihadiri oleh sebagian besar warga dan berdasarkan argumen ekonominya, Ia berhasil meyakinkan penduduk tentang manfaat energi terbarukan.
Menurut, Søren Harmensen, pendekatan dari bawah ke atas (bottom up) sangat penting dan tidak seharusnya Pemerintah atau perusahaan memaksakan teknologi kepada warga. Pendekatan sosial jauh lebih baik daripada teknologi.
Saat ini, Pulau Samsø telah menghasilkan sekitar 140 persen listrik jauh melebihi kebutuhannya. Kelebihannya dapat diekspor ke daratan lain di Denmark.
Sekitar 70 persen kebutuhan minyak bumi untuk kebutuhan air panas warga sudah digantikan oleh kayu (woodchips), jerami dan surya.
Secara internasional, Pulau Samsø juga dikenal sebagai pulau energi berkelanjutan dan pusat studiyang telah dikunjungi oleh banyak delegasi dari seluruh dunia. ***
Bang Zul Ingatkan, Perhatikan Kehidupan Anak Yatim Piatu
Gubernur NTB yang disapa Bang Zul mengingatkan, jangan sampai anak-anak yang kehilangan orang tuanya tidak memperoleh pendidikan
LOTENG.lombokjournal.com ~ Gubernur NTB, Zulkieflimansyah mengingatkan agar memperhatikan pendidikan dan kehidupan anak-anak yatim yang ditinggal kedua orangtuanya.
Bang Zul bersama istri
“Jangan sampai, anak-anak kita karena kehilangan orang tuanya tidak memperoleh pendidikan dan kehidupan sebagimana mestinya,” pesan Gubernur NTB H. Zulkieflimansyah.
Pesan itu disampaikan Bang Zul saat menghadiri Haflah Hauliyah 33 tahun Almaghfurullah TGH. Muhammad Fadil Thohir.
Sekaligus memperingati 63 tahun berdirinya Ponpes Sosial (Ponpesos) Atthohiriyah Alfadliyah, di Majelis Ponpesos Yatofa Bodak, Lombok Tengah, Senin (07/11/22).
Bang Zul sapaan akrab Gubernur NTB ini menyampaikan, semua orang memiliki kesempatan yang sama seperti yang dicontohkan Pimpinan Ponpesos Atthohiriyah Alfadliyah Bodak dengan pemberian santunan kepada anak yatim piatu.
Melihat senyuman mereka bisa dirasakan sebagai bentuk kepedulian antar sesama.
Pada kesempatan yang sama Pimpinan Ponpesos Atthohiriyah Alfadliyah Bodaq, Lombok Tengah , TGH. Padli Fadil Tahir berpesan kepada anak yatim piatu agar santunan yang diterimanya bisa dipergunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Tidak diperkenankan menggunakan santunan itu untuk membeli Handphone.
“Tidak boleh untuk beli HP. Gunakan untuk beli beras atau yang lebih bermanfaat lagi,” pesannya.
Hadir pada kesempatan itu, Karo Kesra Setda NTB, Karo Hukum, Pimpinan Baznas, Bupati Lombok Tengah, Wakil Bupati serta mantan Bupati Lombok Tengah Suhaili dan serta tamu undangan lainnya. ***
MATARAM.lombokjournal.com ~ Anggota Komisi VIII DPR RI dapil Lombok, Fraksi PDI Perjuangan, H Rachmat Hidayat gagas sayembara parade berbusana adat Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) di Pulau Lombok.
Menariknya, Ketua DPD PDI Perjuangan NTB, menyerahkan secara langsung terkait teknis hingga kriteria penilaian sayembara berbusana adat tersebut pada jajaran WHDI.
“Nanti, semua hadiahnya, mulai dari juara satu, dua dan tiga, dari saya secara langsung. Tapi, tolong para pesertanya itu adalah seluruh Perwakilan WHDI di kecamatan di Pulau Lombok, baik itu Kota Mataram, Lombok Barat (Lobar), Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan Lombok Tengah (Loteng). Mulai dari sekarang, silahkan digagas sayembara itu,” ujar H. Rachmat Hidayat saat melakukan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan bersama jajaran pengurus WHDI Kota Mataram di lantai II Gedung PHDI NTB di Mataram, Minggu Petang (06/11/22).
Digagasnya sayembara parade berbusana adat WHDI itu, karena Rachmat sangat peduli terhadap keberlangsungan adat istiadat hingga kebudayaan yang menjadi tradisi umat Hindu di Provinsi NTB.
Selain itu, ia berkeinginan bahwa tradisi kebudayaan itu harus tertanam pada jati diri generasi muda umat Hindu.
“Jadi, merawat keberagaman dan toleransi beragama itu, adalah semangat kita dalam merawat Kebinekaan yang terkandung dalam ajaran Pancasila,” tegas Rachmat.
Ia meminta keberagaman kehidupan berbangsa dan bernegara yang sudah digariskan dalam ajaran Pancasila itu, harus diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Utamanya, dari rumah tangga, kampung tempat tinggal hingga saat hendak melaksanakan kegiatan beragama.
Pasalnya, lanjut Rachmat, ia telah memperoleh informasi bahwa, sudah ada sebagian umat Hindu di wilayah Provinsi NTB, yang kini mulai terpapar paham radikalisme.
“Implementasi dari nilai Pancasila yang tadi disampaikan oleh Prof. Dr. H. Gatot Dwi Hendro Wibowo, dan Pak Dr. Alfin Syahrin, wajib diejawantahkan dalam kehidupan keseharian kita. Pokoknya saya yakin dan percaya. Bahwa jika ibu-ibu yang bergerak mengamalkan ajaran Pancasila, maka para suami yang sempat terpapar paham radikalisme itu, akan kembali pada ajaran Tri Hita Karana,” papar Haji Rachmat.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram), Prof. Dr. H. Gatot Dwi Hendro Wibowo mengatakan, nilai ajaran dan Pancasila yang didalamnya terdapat Ketuhanan Yang Maha Esa itu, dipastikan sudah final.
Menurut dia, filosofi kehidupan beragama sesuai yang terkandung dalam sila pertama Pancasila, adalah umat yang mayoritas harus mengayomi umat yang minoritas.
“Kalau soal cara beragama boleh kita beda. Tapi soal Ketuhanan itu, adalah prinsip dasar yang harus dijunjung secara utuh agar enggak ada lagi, kita mengkafir-kafirkan seseorang. Ini, karena Pancasila itu landasan Idiologi dalam berbangsa dan bernegara,” tegas Prof Gatot.
Ketua Program Studi Doktoral Fakultas Hukum Unram itu menegaskan, Pancasila merupakan dasar negara dan idelogi bangsa yang mampu menciptakan kedamaian. Dulu orang tidak berani menguatkan Pancasila, tetapi saat ini zaman keterbukaan dan demokrasi, sehingga Empat Pilar Kebangsaan harus terus ditanamkan dalam setiap individu.
Dengan adanya fakta, sudah empat kali dilakukan amandemen UUD 1945, maka ada satu semangat beragama bangsa Indonesia yang hilang. Yakni nila kasih sayang.
“Maka tugas kita bersama untuk mengembalikan bahwa konsep beragama bangsa kita sesuai dalam nilai luhur Pancasila adalah sosialis relegius. Disitu, enggak bisa ditawar-tawar soal Idiologi itu.
Maka, untuk mewadahi semangat Nasionalisme gotong royong. Caranya, hanya dengan kembali pada Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa. Serta, terus membumikan 4 Pilar Kebangsaan, seperti kali ini.
Rachmat Hidayat menyempatkan memberikan bantuan senilai Rp 5 juta dari kantong pribadinya untuk organisasi WHDI Kota Mataram.
“Silahkan dipakai uang ini baik-baik dalam rangka menjaga keberlangsungan organisasi dan kehidupan keumatan yang tetap mengamalkan semangat nilai luhur Pancasila dalam kehidupan nyata,” tandas Rachmat Hidayat. (*)