Kisa Batu “Tinggi Tinggang”, Bisa Mencapai Langit Ketujuh

LOMBOK UTARA — lombokjurnal.com

Masyarakat Dusun Lempenge dan Montong Pall di Desa Rempek Kecamatan Gangga, Lombok Utara, menganggap Batu Tinggi Tinggang (baca: Batu Tinggi Ramping) merupakan benda keramat dan bertuah. Masyarakat setempat menganggapnya benda peninggalan ‘zaman lama’ yang punya cerita menarik. Bayangkan, pada masa silam batu ini dikisahkan meninggi hingga mencapai langit lapisan ketujuh.

Batu tinggi,17Agustus1
BATU TINGGI TINGGANG; menjadi obyek wisata

Ceritanya sampai lombokjurnal.com berdasarkan cerita masyarakat setempat. Di zaman lama, hiduplah pasangan suami istri memiliki seorang anak perempuan berusia kurang lebih 4 tahun. Anak perempuan itu ikut serta menemani kedua orang tuanya menanam padi di ladang dengan cara mengoma (baca: menanam dengan sistem tegalan).

Agar bisa cepat menyelesaikan pekerjaannya, sang ibu kemudian meninggalkan anaknya diatas batu tinggang. Anak itu memegang sebutir telur ayam yang berbentuk kursi. Saking asyiknya menanam, suami istri yang bekerja itu lupa meninggalkan anaknya sendirian di atas batu.

Anak perempuan kecil itu mulai ketakutan ditinggal sendiri.  Anak itu berulang kali memanggil kedua orang tuanya , karena takut batu itu tiba-tiba meninggi. Dia memanggil kedua orang tuanya sambil menangis , “Oh inakOh amakbatu ene sen tinggi tinggang”. (Ibu, bapak, batu ini meninggi (naik ke atas).

Rupanya suami istri ini keasyikan menanam, hingga tak menghiraukan teriakan anaknya. Kedua orang tuanya hanya sambil lalu menjawab panggilan anaknya , “Sabar sekedik anti semendak, masih kari sekedik ojak sawek menalet (Sabar, tunggu sebentar, kurang sedikit lagi selesai menanam). Sedang batu itu turun bergerak menjulang ke atas, membawa anak perempuan  itu.

Suara tangisan anak itu terdengar sayup-sayup, dan akhirnya hilanng sama sekali. Setelah suara anaknya tak terdengar lagi, barulah kedua orang tuanya tergerak melihat batu tempat anaknya ditinggalkan tadi. Ujung batu itu tidak kelihatan sedikitpun dari bumi. Sang ibu lalu menangis selama bertahun-tahun karena takut kehilangan buah hati selama-lamanya.

Pasangan suami istri itu terus berupaya agar bisa mengembalikan anaknya ke pangkuan mereka lagi. Banyak dukun dan orang berilmu, dari yang ilmunya biasa-biasa saja sampai dukun yang ajiannya atos/totos, sudah didatangi untuk meminta pertolongan agar batu itu mengembalikan anaknya.

Tak satu pun dari semua dukun itu, yang berhasil mengembalikan batu tersebut ke posisi semula. Sudah bertahun-tahun dan berbagai upaya dilakukan namun belum juga berhasil. Kedua pasangan suami istri ini hampir putus asa, berbagai upaya telah dilakukan tapi sia-sia belaka.

Selalu, haya takdir Tuhan bisa menentukan segalanya. Suatu hari, pertolongan itu justru datang dari nenek renta. Nenek itu kasihan melihat sang ibu menangis hingga kehabisan air mata. Lalu, sang nenek tua itu menawarkan jasa sanggup mengembalikan anaknya, dengan syarat kedua pasangan suami–istri harus menyediakan ampas beras satu karung besar.

Mendengar tawaran nenek tua itu, sang suami bersedia permintaan sang nenek asalkan si anak bisa kembali.  Alhasil, ampas beras pun terkumpul sebanyak satu karung. Kemudian, sang nenek memanggil burung bubut sebanyak 1000 ekor.

Lalu, si nenek tua melepas ampas beras mengitari batu itu dan menyuruh burung bubut tersebut mengelilingi batu tersebut. Burung bubut pun mulai beraksi mengelilingi batu tersebut sambil bernyanyi “But…But… Berik Bawak Marak Aku…”(kecil pendek seperti saya) sampai sekarung ampas beras itu habis.

Dan, batu itu pun sedikit demi sedikit merendah, sampai akhirnya kembali ke posisi semula. Ajaib, sang anak ternyata sudah besar atau sedang menanjak remaja, dan telur itu pun telah menjadi ayam jago. Walhasil, anak itu kembali ke pangkuan kedua orang tuanya.

Atas peristiwa bersejarah dan mistis itu, batu itu diabadikan oleh masyarakat Lempenge dan Montong Pall dengan nama “Batu Tinggi Tinggang” yang memiliki nilai mistis adi luhung.

Masyarakat kedua wilayah sepakat memelihara dan menjaga batu itu sampai sekarang, dan bahkan telah dibuatkan sebuah rumah tembok kecil. Setiap tahun masyarakat setempat mengunjungi batu itu seraya membawa sesajen sebagai penghormatan karena dianggap keramat dan bertuah.

Kini, batu itu dijadikan salah satu objek wisata religi oleh warga setempat dan masyarakat Kecamatan Gangga pada umumnya.

djn




Tradisi “Nyirih” Masyarakat Bayan

LOMBOK UTARA — lombokjournal.com

Kebiasaan makan atau mengunyah sirih kadang tampak ‘kurang bersih’; karena gigi kelihatan merah,  dan meludahkan air sirih di sembarang tempat. Namun jarang yang tahu bahwa kegiatan Nyirih (nginang, Jawa) bisa menyehatkan gigi.

Ramai-ramau ngunyah sirih yu......
Ramai-ramau ngunyah sirih

Manula atau orang-orang jompo yang masih Nyirih, kebanyakan giginya tetap utuh dan kuat, bahkan masih bisa mengunyah biji-bijian yang keras seperti biji kedelai, asem, biji belinsak, dan lain-lain.

Sirih itu harus ‘ganjil’ baru menjadi ‘genap’, artinya bahan- bahannya itu harus pinang, gambir, kapur, tembakau dan daun sirih. Jumahnya bahannya lima macam, tapi orang-orang yang suka Nyirih menyebutnya genap. Bahan-bahan sudah genap (bahan-bahan sudah lengkap-red).

Hampir di semua desa di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, seperti Bayan Beleq, Loloan, Karang Bajo, Anyar dan desa-desa lainnya, kebiasaan Nyirih ini masih terpelihara kuat bahkan diwariskan dari generasi ke generasi. Di Bayan sebagian besar orang tua bahkan anak-anak muda terbiasa Nyirih.

Mereka tidak canggung melakukan kegiatan yang identik dengan orang tua itu. Namun, anak-anak muda ini Nyirih tidak tiap hari. “Saya Nyirih tak setiap hari. Jika ada acara baru saya Nyirih,” ucap Samsul, pemuda dari Sukadana.

Bahan-bahan untuk Nyirih itu menjadi hadiah yang amat istimewa bagi para orang tua di Sambik Bangkol dan Rempek. Di beberapa tempat misalnya, bahan-bahan Nyirih itu menjadi “upah” untuk dukun yang ngobati pasien desa. Selain itu, bahan-bahan Nyirih itu juga menjadi bahan yang disajikan dalam sesajen pada berbagai ritual keagamaan.

Kalau kalangan muda perokok, rokok menjadi bahan mengenalkan dan mempererat hubungan perkawanan, atau bahan untuk sosialisasi dan mengakrabkan diri kepada orang lain. Menawarkan rokok pada orang yang belum dikenal atau baru dikenal bisa membuat membuat lebih akrab.

Dengan kata lain, menawarkan rokok dapat menjadi medium pemelihara dan mempererat tali persahabatan. Bagi para orang tua yang masih Nyirih, menawarkan bahan-bahan Nyirih tersebut menjadi media memperkuat hubungan sosial mereka.

djn




Peringatan HUT RI ke 71, Gubernur Serahkan Hadiah Juara MTQ

Di Lapas IIA Mataram; ‘Cobaan di Penjara Akan Tingkatkan Derajat Seseorang’

MATARAM – lombokjournal.com

Usai peringatan Detik-Detik Proklamasi Republik Indonesia ke-71 tahun 2016, di Lapangan Bumi Gora, Kantor Pemprov NTB, Rabu (17/08), Gubernur NTB. TGH M Zainul Majdi didampingi Wakil Gubernur, H Muhammad Amin menyerahkan hadiah kepada putra-putri NTB yang berhasil mengharumkan nama daerah di ajang MTQ Nasional ke-26 pada awal bulan ini.

Gubernur mencium bendera sebelum diserahkan untuk dikibarkan
Gubernur mencium bendera sebelum diserahkan untuk dikibarkan

Gubernur menyerahkan hadiah uang tunai Rp100 juta untuk juara pertama, Rp75 juta untuk juara dua, dan Rp50 juta untuk juara tiga.  Untuk harapan satu, dua dan tiga juga mendapat hadiah uang tunai dari Gubernur NTB.

Sebelumnya, peringatan detik-detik proklamasi yang berlangsung khidmad, diawali penekanan tombol sirine oleh Inspektur upacara selama 60 detik. Dilanjutkan Pembacaan Naskah Proklamasi oleh Ketua DPRD Provinsi NTB, Hj. B. Isvi Rupaedah, MH.

Pada pengibaran bendera merah putih, Islatul Umairah dipercaya sebagai pembawa Baki bendera saat itu. Siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Bolo Kabupaten Bima tersebut dengan bangga mengayunkan langkah menuju mimbar Inspektur Upacara untuk menerima penyerahan bendera yang akan dikibarkan. Sesaat sebelum diserahkan, Gubernur Majdi mencium bendera sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan.

Hadir saat itu, Istri Gubernur, Hj. Erica Zainul Majdi, Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, SH.M.Si dan istri Hj. Syamsiah Muh. Amin. Ratusan unsur TNI/Polri, ASN Pelajar dan mahasiswa  turut ambil bagian pada peringatan yang dilaksanakan sekali setahun tersebut. Bertindak sebagai Komandan Upacara adalah Mayor Sus S. Anggoro Jati, SH.

Remisi Narapidana

Masih dalam suasana peringatan HUT Kemerdekaan RI, Gubernur TGH M Zainul Majdi menerima laporan dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham Provinsi NTB Sevial Akmily, SH., MH saat upacara pemberian remisi di lapas IIA Mataram, Rabu (17/8).

gubernur,17Agustus4

Sebanyak 876 orang narapidana penghuni lembaga pemasyarakatan di seluruh wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendapatkan remisi saat peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-71. Rincianya, 858 orang remisi sebagian, 18 orang remisi seluruhnya/langsung bebas, dan 13 orang remisi tambahan.

Di Lapas, Gubernur Majdi mengatakan pada narapidana, orang yang bertobat adalah seperti orang yang tidak pernah salah. “Jika memiliki kehendak kuat untuk memperbaiki diri, Insya Allah Tuhan Yang Maha Kuasa akan memberikan bekal yang luar biasa untuk kehidupan kita selanjutnya,” katanya.

Cobaan di penjara, pada akhirnya akan meningkatkan derajat seseorang. “Oleh karena itu, saya mengajak kepada Warga Binaan Pemasyarakatan untuk memaknai keberadaan di tempat ini sebagai suatu kesempatan untuk menata masa depan yang lebih baik lagi,” pungkasnya.

Rer




Aparat Diminta Tegas Larang Ormas Anti Pacasila

MATARAM – lombokjournal.com

 Gubernur NTB, Komandan Korem 162 Wira Bhakti, Kapolda NTB, Walikota Mataram dan Kapolres Mataram, didesak tidak memberi ijin kegiatan organisasi masyarakat (ormas) yang berpotensi memecah belah Pancasila dan NKRI.

AKSI GP ANSOR KOTA MATARAM
AKSI GP ANSOR KOTA MATARAM

“Organisasi masyarakat (ormas) apa pun yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan komitmen kebhinekaan bangsa, haruslah diambil sikap yang tegas sebagai langkah-langkah penertiban, pelarangan, sampai dengan pembubaran,” bunyi pernyataan sikap GP Ansor Kota Mataram yang dikirim ke Lombok Journal, tepat pada Peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2016.

Penegakan komitmen dan kesetiaan terhadap NKRI serta kebhinekaan bangsa, merupakan keharusan struktural, yang mengikat seluruh masyarakat. Lima butir pernyataan sikap GP Ansor Kota Mataram, selengkapnya;

Mendesak kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat, Komandan KOREM 162 Wira Bhakti, Kapolda Nusa Tenggara Barat, Walikota Mataram, Kapolres Mataram, untuk:

  1. Tidak memberikan ijin kegiatan ormas yang berpotensi memecah belah Pancasila dan NKRI
  2. Secara tegas melarang kegiatan organisasi kemasyarakatan yang tidak mengakui pancasila sebagai azas dan ideologi negara
  3. Secara tegas melarang organisasi kemasyarakatan yang anti Pancasila hidup dan tumbuh di Nusa Tenggara Barat
  4. Untuk mengambil langkah-langkah konkret berupa penertiban, pelarangan dan   pembubaran organisasi masyarakat (ormas) apapun dengan berbagai gerakannya yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan komitmen kebhinekaan bangsa.
  5. Kami Gerakan Pemuda Ansor Kota Mataran dan Satkorcab Banser Kota Mataram akan menurunkan spanduk atau tulisan yang tidak sejalan dengan Pancasila dan NKRI.

Pernyataan sikap itu ditandatangani Ketua Ansor Mataram, Hasan Basri dan Dansatkorcab Banser Muh Efendi, dimaksudkan menjaga kondusifitas, stabilitas dan menghindari konflik horinzontal di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Dalam peryataan itu juga ditegaskan, berbagai kasus yang terjadi di wilayah NTB terkait munculnya ormas yang mengusung tema Khilafah menimbulkan keresahan dan perpecahan umat. Kejadian tersebut sepenuhnya dapat dihindari jika sedari awal terdapat komitmen dan sikap yang tegas dari aparatur yang berwenang.

Rer




TRADISI “MUJA TAON-BALIT” MASYARAKAT DESA LENEK

LOMBOK UTARA — lombokjournal.com

Masyarakat Lenek Desa Bentek Kecamatan Gangga masih mempertahankan tradisi selamatan sebelum dan setelah menggarap sawah mereka. Tradisi ini disebut Muja Taon (sebelum menggarap) dan Muja Balit (setelah memanen).

Ritual adat tiap tahun ini diadakan sebagai bentuk rasa syukur warga. Mereka meyakini karunia Tuhan di alam semesta ini melimpah ruah dan manusia patut mensyukurinya. Tanah yang subur dan alam yang indah nan sejuk membawa keberkahan yang sungguh luar biasa.

Mereka yakin Tuhan akan memberi berkah kepada hamba-Nya bila selalu ingat atas segala karunia dan rahmat yang diberikan. Perayaan Muja Taon dan Muja Balit ini adalah pengejawantahan mereka atas segala macam karunia yang diberikan Tuhan di muka bumi.

Ritual ‘sebelum turun ke areal sawah pertanian’ itu dirayakan sebagai doa agar panen berlimpah ruah dan terbebas dari pelbagai macam hama penyakit. Sedang ritus adat yang digelar setelah panen itu sebagai bentuk ‘rasa syukur atas keberhasilan panen’.

Dua ritus adat dirayakan di waktu berbeda, bentuk pelaksanaannya hampir sama. Misalnya pada malam hari acara biasanya diisi dengan persiapan dulang (sesajen) yang berisi berbagai macam makanan.

Malam hari suasana kampung semakin ramai dengan tabuhan gamelan. Pada malam itu pula gamelan yang penduduknya seratus persen umat Budha, dikeluarkan dan ditabuh. Tabuhan gamelan tersebut diiringi dengan berbagai jenis tarian. Dan tarian itu biasanya dilakukan spontan oleh kaum hawa willayah, muda-mudi, anak-anak dan para tua di wilayah setempat.

Acara doa bersama dilakukan di salah satu makam leluhur. Biasanya makam yang dianggap keramat dan mendatangkan berkah bagi warga. Di kompleks makam itu seluruh jenis makanan dari pelbagai bahan yang disiapkan sehari sebelumnya, disajikan lalu dikumpulkan dengan susunan rapi, mirip tangga berundak. Kemudian makanan itu didoa kemudian dibagi dan dimakan secara bersama-sama.

Untuk ritual Muja Balit, puncak acara ditandai dengan pelbagai bentuk ketupat yang telah dihias dengan apik. Kemudian acara ditutup dengan perang tupat. Ketupat yang telah dikumpulkan dijadikan senjata. Dan, menariknya lagi cuma anak-anak saja yang boleh ikut perang topat ini.

djn

 

 




Illegal Logging di Lombok Utara, Mengeringkan Aliran Sungai

LOMBOK UTARA — lombokjournal.com

Kejahatan menebang hutan (illegal loging) di beberapa kawasan hutan di Kecamatan Gangga langsung berdampak buruk bukan hanya bagi lingkungan setempat, bahkan seluruh Lombok Utara. Pasalnya, sungai-sungai mengalami kekeringan di musim kemarau. Sebelumnya, meski musim kemarau volume air  sungai tetap besar.

Kini di musim kemarau, kebanyakan sungai-sungai di Lombok Utara mengalirkan air sangat sedikit. Bahkan ada yang kering kerontang. Masih gencarnya aktivitas pembalakan liar jadi biang turun drastisnya debit air di hulu sungai.

Penebangan hutan secara membabi buta membuat daya tahan tanah dalam menampung air berkurang. Hulu sungai memiliki peran vital untuk menjaga keseimbangan air. “Serius mari kita lihat kondisi hutan di hulu-hulu sungai (kawasan hutan Kecamatan Gangga-red). Jika memang layak tentu tidak seperti ini, ” tutur Jakaria, Rabu (7/8), salah seorang warga Bentek menunjukkan beberapa hulu sungai yang mengering.

Menurut Jakaria, kekeringan pada beberapa daerah aliran sungai di wilayah di Kecamatan Gangga itu baru terjadi beberapa tahun terakhir. “Kekeringan di beberapa aliran sungai ini kan muncul setelah kayu-kayunya sudah habis, ” jelasnya.

Ia menuding, “mafia” hutan masih beroperasi hingga sekarang meskipun ia tidak menyebutkan orang-orangnya. Ada oknum-oknum yang ingin merusak vegetasi di Kecamatan Gangga. Beberapa minggu lalu sebagian pelakunya ditangkap, tapi bukan berarti oknum lainnya tidak ada lagi.

“Kalau pemerintah Kabupaten Lombok Utara mau perihatin atas kondisi yang sedang terjadi, mari kita tegas terhadap para pembalak,” tantangnya.

Ardhi, salah seorang tokoh masyarakat Bentek, menawarkan beberapa solusi bagi pemerintah daerah dan stakeholders terkait agar kekurangan debit air di Kecamatan Gangga tidak terulang kembali pada tahun-tahun mendatang.

Pertama, pemerintah Lombok Utara harus mengevaluasi kembali perlindungan hutan di Kecamatan Gangga khususnya dan Lombok Utara pada umumnya. Jika hasil evaluasi itu kemudian menemukan adanya mafia yang mengeruk keuntungan untuk kepentingan pribadi, harus segera ditindak tegas, tanpa pandang bulu.

Kedua, pemerintah daerah harus punya upaya mengembalikan fungsi hutan. Cara yang perlu diambil diantaranya menggelar reboisasi atau penghijauan kembali di kawasan hutan yang sudah rusak. “Kembalikan fungsi hutan seperti semula terutama kawasan serapan air,” terangnya.

Yang penting harus ada upaya mencari solusi. “Jangan menyalahkan alam,  cari biang keladinya, dan tindak tegas,” kata Ardhi.

djn

 

 

 

 




Tiu Bombong, Air Terjun Yang Mempesona

LOMBOK UTARA – lombokjurnal.com

Lombok Utara memiliki kekayaan wisata alam yang mengagumkan. Kabupaten paling muda di Nusa Tenggara Barat (NTB) ini tak dinyana miliki potensi wisata alam yang berpeluang memberikan pemasukan terbesar bagi kas daerah.

Salah satu potensi wsata yang dapat memberi nilai plus bagi dunia kewisataan dayan gunung (utara gunning) ialah air terjun Bumbung (tiu, air terjun – Sasak). Objek wisata ini masih sangat alami dan airnya jernih kebiru-biruan.  Ketinggian air terjun ini mencapai 150 meter dan debit airnya terjun melambai menyusuri lempengan batu yang melekuk tinggi. Air terjun Bombong terletak di Dusun Sempakok Desa Santong Kecamatan Kayangan KLU.

Tiu Bombong merupakan salah satu lokasi wisata alam yang sangat elok sehingga bisa mengalihkan pandangan siapa saja yang berkunjung. Dalam pantauan lombokjurnal, objek wisata ini ternyata menyuguhkan pemandangan alam yang elok berseri. Airnya jernih sebening embun pagi. Objek wisata ini belum banyak dikenal baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Penasaran dengan pesona kepesonaannya, awak media ini kemudian mencari informasi lebih aktual  dengan mengungkap sekian cerita dan informasi dari warga yang berdomisili di sekitarnya. Slamet, menuturkan, Tiu Bombong membawa eksoktika tersendiri bagi siapa saja yang memandangnya, sengaja maupun secara kebetulan.

Menurutnya, objek wisata ini belum begitu dikenal banyak orang sehingga efeknya sepi dari kunjungan wisatawan, padahal memiliki keasrian yang amat indah. Wisata tiu bombong cocok untuk refresing atau membuang kejenuhan bagi orang-orang super sibuk.

Tiu ini bisa memberikan kita corak dan landai keindahan tersendiri dan agak berbeda dibanding objek wisata lain yang sejenis, sebab diapit oleh dua jurang terjal dengan rona-rona pepohonan yang hijau nan alami, membatasi wilayah Kecamatan Gangga dan Kecamatan Kayangan.

Namun ia memiliki nilai jual tinggi dan potensi wisata yang potensial berkembang dengan pesat apabila mampu dikelola oleh pihak-pihak terkait untuk menopang roda perekonomian masyarakat setempat.

Dari obrolan lombokjurnal.com dengan warga setempat, Tiu Bombong punya sejarah panjang. Menurut Melsah, salah satu warga, dulu kala ada orang pemburu rusa melintasi air tiu ini. Kebetulan ia dilihat penduduk setempa,t lalu memberi tahu kepada sang pemburu bahwa di dalam air tiu ini terdapat ikan tuna besar bertanduk dan bernas.

Lalu si pemburu tadi tak jadi menyebrang air tiu ini. Selang beberapa tahun, melintaslah pedagang parang ingin menyebrang tapi warga setempat memberi tahunya bahwa disitu ada ikan tuna besar bertanduk, tapi sayang si pedagang tak menghiraukan bahkan tak mempercayai imbauan warga setempat sehingga ia nekat menyebrangi tiu bombong. Saat sampai di tengah aliran air, ikan tuna tadipun keluar dan beradu dengan si pedagang.

Pendek cerita, si pedagang dapat mengalahkan ikan tuna tersebut sehingga selamat sampai tujuan. Untuk mengenang peristiwa luar biasa ini maka air terjun itu dinamakan Tiu Bombong (bumbung : beradu ketangkasan-red).

Bagi yang ingin berkunjung ke lokasi wisata ini tidak usah ragu karena jalannya bagus dan tak memakan waktu banyak. Jarak tempuhnya kira-kira 16 km dari Tanjung dengan menggunakan kendaraan roda dua. Setelah sampai kita bisa meminta bantuan jasa warga setempat. Siapa penasaran ? Selamat berselancar…..!!!

djn

 




Anggota Paskibraka Dikukuhkan Wagub

MATARAM – lombokjournal.com

32 orang petugas upacara, terdiri dari 28 anggota Paskibraka Provinsi NTB dan 4 Komandan Pasukan dari anggota TNI, sebagai pasukan Pengibar Bendera Merah Putih pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi tanggal 17 Agustus 2016 di Lapangan Bumi Gora dikukuhkan Wakil Gubernur NTB, Selasa (16/8) sekitar pukul 19.30 WITA di Pendopo Gubernur NTB,

Wagub,Paskibraka16Agustus3Wagub,Paskibraka16Agustus2

“Terpilih sebagai anggota Paskibraka adalah suatu prestasi yang patut dibanggakan,” kata Wakil Gubernur, H Muhammad Amin.

asukan Paskibraka ini sebelumnya menjalani pelatihan mulai tanggal 6 Agustus 2016 sampai dengan 16 Agustus 2016. Pengukuhan ini merupakan salah satu unsur kegiatan wajib bagi seorang Paskibraka sebelum mengibarkan duplikat Bendera Merah Putih.

Anggota Paskibraka terpilih melalui proses seleksi ketat, latihan berat yang menyita perhatian, waktu dan energi. “Semoga kebanggaan dan kehormatan sebagai anggota Paskibraka, menjadi motivasi bagi saudara-saudara dalam meraih prestasi gemilang di masa depan,” ujar Wakil Gubernur dengan penuh rasa bangga kepada anggota Paskibraka yang dikukuhkan.

Rer.

 




Sambi, Tempat Nyimpan Padi Yang Nyaris Punah

LOMBOK UTARA – lombokjurnal.com

Ada kebiasaan warga Kecamatan Gangga, Lombok Utara, menyimpan padi di lumbung, dikenal dengan “Sambi”. Beras di Sambi jadi gudang pangan saat gagal panen. Namun kini, tradisi menyimpan padi di Sambi mulai ditinggalkan warga.

Bangunan berbentuk persegi empat itu terlihat kurang terawat. Atap ilalangnya rontok. Pagar bambu dibangun berbentuk kotak itu bolong di beberapa bagian. Tiangnya pun oleng. Melihat di balik lubang hanya ada ruang kosong. Tak ada padi laiknya bangunan yang lain.

Bangunan itu dikenal masyarakat Desa Gondang, Rempek dan Bentek, Kecamatan Gangga, dengan nama Sambi (lumbung padi-red), tempat penyimpanan gabah sebelum digiling. Posisinya cukup tinggi dari tanah dan tertutup rapat, agar tikus kesulitan menggerogoti gabah yang tersimpan.  Dulu, masyarakat menyimpan gabah di Sambi, dan merupakan kebiasaan turun menurun.

Saat butuh makan, gabah dalam Sambi diambil secukupnya. Kemudian digiling menggunakan lesong (rantok, lesung panjang berbentuk laiknya perahu-red). “Dahulu, setahun kami tidak membeli beras, ada cadangan di Sambi,” kata Seni, Warga Rempek.

Padi yang disimpan di sambi sudah diperkirakan cukup untuk cadangan pangan keluarga selama setahun. Sementara lauk pauk dan sayur mayur masih bisa disediakan pekarangan rumah atau areal sawah. Hasil ternak juga masih cukup.

Padi dipanen dengan sistem potong menggunakan anai-anai kemudian dijemur serta disimpan didalam Sambi. Ada juga warga yang menyimpan di dalam karung lalu dimasukkan ke dalam bangunan yang berada di bagian sisi rumah itu.

Zaman dulu, satu rumah biasanya memiliki satu Sambi. Pemandangan seperti itu lumrah dijumpai di kampung-kampung tradisional di Gangga, khususnya di Desa Bentek dan Desa Rempek.

Namun, kini sangat jarang bahkan langka keluarga di desa memanfaatkan Sambi. Jika dulu para keluarga belum tenang sebelum Sambi kosong, tapi kini justru jarang Sambi yang sengaja diisi. Pertanda kuat masyarakat desa bakal meningggalkan tradisi nenek moyang.  Sambi yang rusak pun tidak diperbaiki. Bahkan kebanyakan warga di dua desa itu tidak lagi memiliki sambi.

Ini menandakan tradisi menyimpan padi di sambi perlahan-lahan nan pasti mulai bergeser. Kemudahan warga mendapatkan bahan makanan menjadi salah satu penyebab. Jika dulu kawasan Bentek dan Rempek berada di tengah kawasan hutan lebat, akses transportasinya cukup jauh, kini amat mudah diakses.

Begitu juga dengan Sambi di Desa Gondang dan Sambik Bangkol, perlahan nan pasti juga mulai berkurang. Kesan yang muncul kemudian, Sambi adalah pasangan setia rumah tradisional berbahan bambu.

Hilangnya Sambi ini berpengaruh pada sistem panen petani. Dulu para petani panen menggunakan anai-anai dan pisau kecil untuk memotong tangkai padi. Tidak dengan merontokkan bulir padi (merompes-red). Seluruh padi yang tersimpan di dalam sambi diikat kuat.

Setidaknya ada alasan logis yang membuat Sambi masih bertahan hingga saat ini di beberapa tempat di Gangga, yaitu padi yang disimpan didalam sambi tidak cepat rusak karena masih bertangkai lengkap dengan bulunya.

djn




Dewan Laporkan Warga, Massa Datangi Kantor DPRD KLU

Massa Juga Protes Anggaran Kunker Dewan

LOMBOK UTARA – lombokjurnal.com

Ratusan massa seruduk Kantor DPRD Kabupaten Lombok Utara, Senin (15/8). Aksi itu buntut lanjutan dari laporan dewan terhadap warga kecamatan Bayan (RAB-red) yang dianggap menghina institusi lembaga DPRD Lombok  Utara.

Aksi itu memprotes tindakan dewan yang dianggap terlalu reaktif menyikapi tulisan warga di akun media sosial yang dianggap menghina dan dilaporkan ke kepolisian. Warga yang tergabung beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Lombok Utara itu menggelar aksi menuntut dewan mencabut laporan yang telah dilayangkan ke aparat kepolisian.

Pantauan media ini, warga yang datang dari berbagai wilayah kecamatan itu mulai pukul 22:00 Wita. Kedatangan kali ini sebagai buntut dari adanya pernyataan dewan via pesan singkat yang menganggap LSM dan ormas di KLU tidak berani anarkis sampai menimbulkan kerusakan.

Mereka tak bbisa menahan emosi, masuk ke gedung dewan merusak meja kursi yang ada di ruang rapat utama. Beberapa massa kemudian mencari dan mengejar oknum dewan yang melayangkan pesan via sms tersebut.

Pada aksi tadi malam massa pun yang ikut jauh lebih besar dari kemarin pagi. Penambahan massa aksi ini sebagai bukti janji mereka yang akan menggelar aksi kembali dengan mendatangkan massa jauh lebih besar bila tuntutan mereka tidak direspon.

“Dewan ini tak pernah gubris kemauan kita, malah mereka melayangkan pernyataan menantang, akibatnya ya kami rusak fasilitas kantor ini,” celoteh seorang pendemo dengan nada tinggi.

Tidak Transparan

Massa aksi juga menuntut dewan transparan terhadap penggunaan anggaran kunjungan kerja yang dianggap cuma menghamburkan-hamburkan anggaran daerah. Menurut mereka, hasil kunker selama ini nihil sedangkan anggaran daerah yang terkuras amat besar yaitu Rp. 9,14 miliar tiap tahun.

Terbukti, selama ini dewan sama sekali belum melahirkan usulan peraturan daerah inisiatif. Padahal, anggaran yang dikeluarkan daerah cukup besar. “Dewan terhormat ternyata kedap kritik dan buta realitas. Padahal mereka dipilih oleh masyarakat. Dewan ini sangatlah berlebihan. Sikap ini mencerminkan dewan kita seperti anak kecil,” cetus Anton dalam orasinya.

Menurutnya, RAB yang mengkritik kualitas dewan karena rutin keluar daerah cuma menghabiskan anggaran daerah kurang lebih sebesar Rp. 440 juta setiap kali keluar daerah. Melihat hasil kinerja dewan selama ini belum maksimal dalam merealisasikan Prolegda. Dari 27 usulan eksekutif, dewan baru bisa menyelesaikan 11 Ranperda saja.

Di sisi lain, tidak pernah satu pun Perda diinisiasi Dewan. “Lalu apa kerjaan dewan yang selama satu bulan 4 kali melakukan kunjungan kerja,” teriak Anton.

Kalau memang tidak terima dengan kritikan dari masyarakat, lanjutnya, jangan jadi dewan. Pasalnya, dewan itu wakil rakyat yang dipilih untuk mewakili aspirasi rakyat di pemerintahan. “Jangan lupa, dewan itu dipilih masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya. Jangan marah kalau masyarakat mempertanyakan bagaimana hasil kinerja wakilnya,” ketusnya dengan suara keras.

Senada koordinator Aksi, Agus Salim juga meneriakkan, dewan bukanlah manusia suci yang tidak boleh dikritik rakyat. Upaya represif dewan yang berniat memenjarakan warganya ini sama saja merupakan bentuk penodaan perwakilan rakyat terhadap kebebasan berpendapat yang dijamin oleh Undang-Undang.

“Kami atas nama warga dayan gunung bersatu dalam Aliansi Masyarakat Menolak Kriminalisasi Warga menggelar aksi solidaritas untuk RAB menuntut dewan mencabut laporannya ke polisi itu 1×24 jam,” teriak Agus cukup lantang.

Dewan dihimbau untuk mengurangi kunker yang tidak bermanfaat guna mengefisienkan anggaran daerah. Yang terakhir adalah dewan jangan lagi melakukan kriminalisasi terhadap masyarakat yang memberikan kritik.

djn