Menjuarai Regional NTB I, Kesebelasan ASSULAMY Akan Berangkat ke Jogjakarta

MATARAM – lombokjournal.com

ligasantri,28Agustus2

Final Liga Santri Nusantara (LSN) NTB Regional I yang berlangsung Senin (29/8), berakhir dengan adu finalti antara kesebelasan ASSULAMY Langko Kecamatan Lingsar, Lombok Barat melawan kesebelasan PS HADI SAKTI Bertais, Kota Mataram.  Dengan skor 6-5 yang dimenangkan kesebelasan dari pondok pesantren ASSULAMY Lobar,  membungkam optimisme kesebelasan dari Kota Mataram

Sebenarnya pertandingan yang berlangsung dengan durasi 3 x 35 menit itu berlangsung cukup ketat. Namun  sampai  menit 35 babak kedua, pertandingan antara pasukan kesebelasan  ASSULAMI melawan pasukan kesebelasan PS HADI SAKTI belum menghasilkan gol. Setelah peluit panjang berbunyi, tanpa perpanjangan waktu akhirnya wasit memutuskan adu finalti.

Ketua NU Wilayah NTB, TGH Ahmad Taqiuddin Mansyur menyerahkan piala pada pemain ASSULAMY
Ketua NU Wilayah NTB, TGH Ahmad Taqiuddin Mansyur menyerahkan piala pada pemain ASSULAMY

Sejak awal pertandingan, memang sudah tampak keunggulan skil, teknik maupun stamina dari pasukan kesebelasan dari pesantren ASSULAMY. Tak mengherankan kalau pasukan dari Lingsar itu mendominasi dalam penguasaan bola. Pertandingan sempat memanas, sehingga salah seorang pemain tengah HADI SAKTI, Sidki Hidaturrahman, harus diganjar kartu kuning karena menabrak pemain lawan.

LSN NTB Regional I, final3
PS HADI SAKTI, Juara II

Pertandingan final itu menyedot penonton sekitar 4 ribu lebih yang memenuhi lapangan Dirgantara Lanud Rembiga. Namun menjelang adu finalti, ketegangan tetap mewarnai pemain kedua kesebelasan.

Tapi dengan mental juara yang sudah disiapkan, keenam algojo dari Ponpes Langko Lobar itu seluruhnya dapat menyarangkan bola ke gawang lawan. Keenam algojo yang dipilih untuk mengeksekusi finalti itu adalah Holis (16), Dwiki (4),Alim (9), Ridho (7), Bayu (6) dan Risnanda (10), tak bisa ditahan oleh penjaga gawang PS HADI SAKTI dari Ponpes Hadi Sakti Bertais, Kota Mataram.

Sedang algojo yang dipilih dari kesebelasan Kota Mataram, hanya lima orang masing-masing Sofyan Hadi (4), Sidki Hidayaturrahman (15), Yusuf Handan (6), Noki Adi (8), Sukran Abdi (10), yang berhasil membobol gawang lawan. Karena tampak tegang, Muksin Ade (5) gagal menyarangkan ke gawang lawan.  Sorak sorai pun mewarnai kubu ASSULAMI. Suasana berbeda terlihat pada seluruh pemain HADI SAKTI yang tertunduk lesu.

Sebagai kesebelasan yang menjuarai LSN NTB Regional I, para pemain dari Ponpes ASSULAMI Langko Lombok Barat itu berhak mendapat piala tetap dengan uang pembinaan sebesar Rp4 juta. Sementara PS Hjadi Sakti sebagai Juara II mendapat piala dan dana uang pembinaan sebesar Rp3 juta.

Juara NTB Regional I menerima hadiah yang langsung diserahkan oleh Ketua NU  Wilayah NTB, TGH Ahmad Taqiuddin Mansyur, didampingi oleh Ketua Panitia NTB Regional I, Hirjan.

Pembina masing-masing kesebalasan yang masuk final adalah Hj. Kartini anggota DPRD Kota Mataram, sedang finalis Lombok Barat dibina H Jamhur anggota DPRD Lombok Barat.  “Kami memang sudah menyiapkan kesebelasan Lobar mewakili NTB Regional I.  Artinya kami sudah siap jadi pemenang dalam kompetisi ini. Anak-anak sudah siap untuk bertanding ke Pulau Jawa,” kata H Jamhur.

Sedang Pembina Kota Mataram, Hj Kartini menyatakan kelegaannya anak asuh mampu menjadi finalis. “Kami punya waktu terbatas untuk menghadapi pertandingan ini,” katanya.

Di tempat sama, Ketua Koordinator LSN Bali-NTB, Jayadi mengatakan, kesebelasan ASSULAMY sebagai Juara NTB Regional I berhak mewakili NTB berlaga di Grup A di Jogjakarta, untuk menjajal kemampuan kesebelasan dari Jogjakarta, Kalimantan I, Jawa Barat II dan Jawa Timur IV.

“Kita berharap pasukan dari NTB bisa berprestasi dalam laga di Jogja,” harap Jayadi.

EF

 




Penjabat Kades Persiapan KLU Terima SK

LOMBOK UTARA – lombokjournal.com

Sebanyak 9 orang ASN (Aparatur Sipil Negara) mengenakan baju rapi dengan setelan celana hitam, kemeja putih dan songkok hitam di Aula Kantor Bupati KLU, kemarin. Mereka akan dilantik oleh Pemerintah KLU menjadi Penjabat Kades Persiapan. Namun, wajah-wajah mereka tak ceria layaknya kades yang hendak dilantik.

Hal ini pun menjadi guyonan orang nomor dua di KLU. Karena biasanya wajah kades atau pejabat yang hendak dilantik biasanya ceria dan senang, tapi kali ini tidak. Bahkan jika hendak dilantik, menggunakan baju kebesaran, tetapi kali ini hanya setelan celana hitan dan baju putih layaknya hendak pra jabatan.

“Ini tidak biasanya orang yang mendapatkan SK, wajahnya tidak ceria,” guyon Wabup KLU, Sarifuddin  diikuti gelak tawa hadirin saat dia menyampaikan sambutan.

Sarifudin sendiri melihat tak cerianya para penjabat kades persiapan ini lantaran belum adanya petunjuk lebih lanjut dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI berkaitan dengan pemekaran desa berupa Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri). Sejauh ini masih hanya berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Di mana diamanatkan untuk membuat desa persiapan satu tahun, dua tahun  sampai tiga tahun, lengkap dengan persyaratan teknis dan administratif.

Kemudian untuk mendefinitifkan desa persiapan berdasarakan penilaian, diharuskan terlebih dahulu mendapatkan kode registrasi dari pemerintah provinsi, selanjutnya kode desa dari Kemendagri. Namun Pemprov NTB sendiri belum berani memberikan kode registrasi karena belum ada acuan lebih lanjut yang mengatur hal tersebut.

Menurut Wabup Sarifudin, Pemerintah KLU tetap terus melanjutkan proses desa persiapan. Kendati pun hingga saat ini belum ada aturan lebih lanjut yang mengatur itu.

Kalau ada yang mengatakan kita menabrak undang-undang, ya silakan saja dinilai. Secara normatif iya. Tetapi secara faktual, ini berdasarkan aspirasi masyarakat, ini adalah bentuk pendekatan pelayanan kepada masyarakat. Karena ini dilema pak. Ini situasional,” terangnya.

Wabup sendiri tidak melihat pembentukan desa persiapan ini sebagai bentuk produk politik pada pemerintahan sebelumnya. Namun ini adalah bentuk dari aspirasi masyarakat untuk mendekatkan pelayanan administratif kepada masyarakat. “Kalau kita sebut produk politik, saya kira tidak. Kami berkewajiban untuk tetap melanjutkan itu,” tegasnya.

Menurut Sekretaris DPD Partai Gerindra NTB ini, sebetulnmya untuk menjadi desa definitif, desa persiapan di KLU tidak ada masalah. Mulai dari perangkat desa persiapan, kantor desa persiapan, batas-batas desa sudah ada, sudah lengkap semuanya. Hanya saja peraturan lebih lanjut yang mengatur hal tersebut, belum dikeluarkan. Wabup pun kemudian berpesan kepada para penjabat kades persiapan untuk menganggap, bahwa SK yang diberikan merupakan amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, kendatipun tidak diberikan tunjangan layaknya kades definitif.

“Kami sebagai pimpinan tentu akan menilai. Bisa saja dengan amanah yang diberikan saat ini, ke depan bisa jadi Sekda, atau bisa jadi Asisten I. Seperti kata pak Prabowo, Bapak kami. Apa yang didapatkan itu sesuai dengan amal perbuatan,” ujar mantan Ketua Komisi II DPRD NTB ini diiringi senyum para Penjabat Kades Persiapan.

Tidak lupa wabup juga berpesan agar para Penjabat Kades Persiapan bisa berkoordinasi baik dengan kades di desa induk. Karena berdasarkan pengalaman, ada saja yang menanyakan berkaitan desa persiapan yang tidak mendapatkan Alokasi Dana Desa (ADD). Termasuk, kenapa tidak ada tunjangan. Kemudian sejauh mana hak dan kewenangan desa persiapan di desa induk.

“Saya kira hal-hal seperti itu bisa diselesaikan dengan mengedepankan cara-cara kekeluargaan, tidak semua harus diserahkan kepada pemerintah. Tapi ke depan kita akan pikirkan soal tunjangan itu,” terangnya.

Berikut daftar ASN yang mendapat SK Penjabat Kades Persiapan: Lalu Muhammad Zakir sebagai Penjabat Kades Persiapan Menggala, Reselim sebagai Penjabat Kades Persiapan Samaguna, Ramsah sebagai Penjabat Kades Persiapan Segara Katon, Sahartu sebagai Penjabat Kades Persiapan Rempek Darussalam, Atmaja Gumbara sebagai Penjabat Kades Persiapan Santong Mulia, Murahadi sebagai Penjabat Kades Persiapan Pansor, Ardi sebagai Penjabat Kades Persiapan Gunjan Asri, Raden Sri Gede sebagai Penjabat Kades Persiapan Andalan, R. Sawinggih sebagai Penjabat Kades Persiapan Batu Rakit. Kemudian Sutarjo  SK-nya sudah diserahkan April 2016 sebagai Penjabat Kades Persiapan Selelos.

djn

 

 

 




Bupati Najmul Akhyar Ajak Rawat Persatuan

Pameran Pembangunan 2016 Resmi Ditutup

LOMBOK UTARA – lombokjurnal.com

Seluruh komponen daerah diminta bersatu membangun daerah. Semangat persatuan merupakan kunci berjalannya roda pembangunan sesuai tujuan dan sasarannya. “Bersatu untuk mendukung pembangunan daerah yang kita cintai ini harus menjadi tekad yang kita laksanakan bersama-sama,” Kata Bupati Lombok Utara, DR H Najmul Akhyar.  

BupatiKLU, pameran1
Bupati KLU, DR H Najmul Akhyar

Pesan persatuan itu disampaikan Bupati Lombok Utara, DR H Najmul Akhyar saat menutup Pameran Pembangunan 2016 yang digelar guna mempromosikan produk Usaha Kecil dan Menengah sekaligus memeriahkan HUT Kabupaten Lombok Utara ke-8 dan HUT RI ke-71 tahun 2016 di Lapangan Umum Supersemar Tanjung, Sabtu (27/8).

Tentang pameran, menurut Bupati Najmul, berdampak positif untuk mem­promosikan produk UKM dan potensi unggulan daerah  lainnya, baik kepada masyarakat lokal maupun dunia usaha.

Menurutnya, kegiatan ini memiliki mak­na strategis bagi pe­ningkatan pembangunan di­ berbagai bidang.  Ke depan, diharapkan pameran pembangunan ini lebih meriah dan kreatif. Sehingga benar-benar memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat.

“Kedepan seluruh SKPD termasuk sekretariat punya stand di pameran semacam ini,” harap suami Rohani itu.

Ketua Panitia yang  juga Kepala DPPKKP Kabupaten Lombok Utara Ir. Hermanto me­ngata­kan, peserta kegiatan pamaren dari seluruh SKPD, kecuali Sekretariat. Peserta yang berpartisipasi terdiri dari SKPD, PKK, GOW, Kecamatan, Desa, Komunitas dan pedagang kaki lima.

Pameran yang berlangsung 22-27 Agustus itu berjalan aman dan lancer, dan menjadi sarana rekreasi masyarakat ‘dayan gunung’ ini. “Selama pameran juga dilakukan penilaian terhadap stan pameran, kemudian diumumkan juara pemenangnya ”, ulasnya.

Hadir dalam penutupan pa­meran itu Kasdim Lombok Utara, beberapa pejabat teras Setda Lombok Utara dan sejumlah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SK­PD) lingkup Kabupaten Lombok Utara.

djn

 

 




Mendesak, Sekolah Seni di NTB

MATARAM – lombokjournal.com

Kekayaan khazanah seni di NTB sudah saatnya diikuti dengan adanya pendidikan formal yang  khusus menyelenggarakan kurikulum pengajaran kesenian. “Saya berharap sekolah seni bisa terwujud di NTB,” kata Direktur Kesenian Kementerian Depdikbud, Prof Endang Caturwati dalam percakapan dengan Lombok Journal di Mataram, Minggu (28/8).

Prof Endang Caturwati
Prof Endang Caturwati

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), baik di Pulau Sumbawa atau Lombok, memiliki kekayaan berbagai jenis seni tradisi, antara lain musik tradisi, tari atau sastra lisan. Banyak di antara seni tradisi itu – karena kecilnya perhatian pada konservasi seni tradisi itu – mulai dilupakan masyarakatnya.

Selama dua hari di Lombok, Profesor Endang banyak bertemu dengan guru-guru  di sekolah untuk mendiskusi seputar pendidikan seni di sekolah. Bukan hanya karena potensi khazanaah kesenian di NTB sangat kaya, tapi murid-murid sekolah sangat antusias mengikuti pelatihan kesenian. “Saya jadi bertanya-tanya, kenapa sih di NTB belum ada sekolah seni,” kata Endang.

Memang diakuinya, dampak langsung dari kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan Pemerintah, anggaran bantuan infrastruktur langsung untuk pendidikan seni jauh menurun. Kalau tahun sebelumnya, diberikan bantuan untuk laboratorium seni masing-masing sebesar Rp700 juta  dengan bangunan untuk 15 sekolah, untuk tahun ini jumlah bantuan itu dibatasi hanya untuk empat sekolah.

Meski demikian Endang menganggap penting dan mendesak adanya sekolah kesenian di NTB. Memang belum ada guru-guru yang langsung menyampaikan usulan tentang sekolah kesenian. Namun hasil bincang-bincang dengan para guru, Endang mulai berpikir adanya sekolah  kesenian,.

“Sekolah kesenian itu penting untuk konservasi dan inovasi,” tegas mantan Rektor STSI Bandung.

Dicontohkannya tentang seni Gendang Beleq. Musik tradisi yang sangat populer di Lombok itu sangat diminati siswa. Tapi saat anak didik itu ingin mempelajari Gendang Beleq menghadapi persoalan terbatasnya biaya untuk membeli alat-alat kesenian. Kadang-kadang karena keterbatasan alat-alat iu, anak-anak belajar dengan alat pengganti yang tidak sesuai.

Dengan adanya sekolah seni, antara lain akan mengatasi hambatan-hambatan seperti itu. ”Ini juga memotivasi anak agar bisa berkembang,” kata Endang yang sempat akan membicarakan itu dengan Bupati Lobar, Fauzan Khalid, namun urung karena ia harus segera kembali ke Jakarta.

Suk

 




Seni Instalasi Dengan Bumbu Performance Art

Tanpa menguasai medium yang mengantar gagasan, nyaris sama dengan tak punya gagasan apa pun.  Kalau seni instalasi tak bisa mengantarkan ‘penemuan kembali’ persepsi audiensnya dengan ruang atau lingkungan dari penciptaan pengalaman unik seniman, apakah sudah gagal menyampaikan gagasannya?

instalasi, seni13

R. Eko Wahono

Pertanyaan itu muncul setelah menyaksikan karya intalasi seniman Mataram, Sabtu (27/8), di halaman luar Taman Budaya NTB. Ini jarang terjadi, pameran instalasi dilakukan ramai-ramai, ada Sembilan karya instalasi beberapa di antaranya karya dari seniman Bandung dan Bali.  Dan beberapa di antaranya karya instalasi itu ‘dibumbui’ performing art. Tentang yang terakhir, saya  menganggapnya inheren sebagai seni instalasi. Jadilah sebuah seni instalasi hidup (live). Audiens pun berharap, di sebuah ruang ‘pemasangan’ ilusi multidimensi, baik seniman dan penonton bisa berkontribusi pada proses penciptaan dan penemuan seniman.

instalasi, seni15

Zaeni Muhammad

Bisa dimengerti pameran ramai-ramai itu berlangsung karena Dinas Budpar NTB, pada bulan Agustus ini sedang menjalankan program Bulan Budaya Lombok Sumbawa (BBLS). Sebenarnya bukan masalah berkarya dengan orderan dalam event apa pun. Tentu jadi pertanyaan, kalau semua berlangsung mendadak, sehingga beresiko munculnya karya-karya dadakan yang semata-mata hanya ‘bernostalgia’.

Sembilan orang yang membuat karya instalasi itu adalah Zaini Muhammad, REko Wahono, Syamsul Fajri Nurawat, Hadi Kru, Justihan Imtihan (Bali), Farhan Adytiasmara (Bali), Muhammad Sibawaihi, Setia Wibowo (Bandung), dan Jante Prabamandala (Bandung). Tidak diperoleh penjelasan, kenapa beberapa perupa tidak ikut serta, seperti Mantra Ardhana, Lalu Syaukani,  Lingsartha Partha atau beberapa lainnya yang biasa membuat seni instalasi.

Mungkin Lingsartha seharusnya ikut terlibat, sebab perupa yang kini justru banyak menghasilkan karya musik ini sering mengkritisi karya-karya yang menyatukan dan mengkontruksi sejumlah benda melahirkan persepsi yang bisa merujuk suatu konteks kesadaran makna tertentu.

“Tapi soal gagasan yang hendak disampaikan harus sepadan dengan penguasaan teknik penyampaian konsep seni instalasi. Saya lihat seniman yang pameran belum sampai kesana,” ujar Ligsartha. Saya lihat, sebagian seperti menganggap seni innstaasinya sebagai set pertunjukan fragmen.

Gagasan yang tak sampai itu hanya akan berhenti sebagai inspirasi, belum sampai sebagai gagasan yang berwujud sebagai karya seni. Seni instalasi seharusnya bisa mengajak pengunjung masuk dan bergerak di sekitar ruang atau berinteraksi dengan beberapa elemen. Seharusnya menawarkan ‘bentuk’ pengalaman berbeda dari (katakanlah) karya lukisan atau patung yang biasanya dilihat dari sudut referensi tunggal .

Pemirsa bisa terlibat, mungkin sentuhan, suara atau sekedar bau. Juga visi seniman dalam mengangkat tema social, hubungan ketergantungan tubuh dengan alam sekitar atau persoalan-persoalan sosial politik

Instalasi,seni11

Tubuh dan Ruang Maya – Hafizah hamzah

 

“Ruang makan bukan lagi ruang sosial, tapi benar-benar individual saat kita intens bergaul di dunia maya,” kata aktor Hafizah Hamzah (Opik).

Opik tidak ikut memamerkan karya instalasinya tapi membuat performance art.  Banyak yang menilai, ia berhasil menyampaikan gagasannya.

Suk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Liga Santri NTB, Mencari Bibit Sepak Bola Dari Pesantren

MATARAM – lombokjournal.com

ligasantri,28Agustus2Memasuki tahun kedua penyelenggaraan Liga Santri Nusantara (LSN) NTB, peserta dari pesantren meningkat dua kali lipat. Tahun 2015 baru diikuti 12 peserta, pada penyelenggaraan tahun ini sudah meningkat menjadi 26 peserta. Sedang LSN tingkat nasional, tahun 2015 baru diikuti 124 pesantren, dan tahun ini meningkat menjadi 1024 peserta dari pesantren.

Technical meeting LSN Regional NTB I
Technical meeting LSN Regional NTB I

“Ini menunjukkan baik minat atau potensi bibit olahraga sepak bola dari pesantren sangat besar. Jadi, pesantren bukan hanya bisa baca kitab,” kata Koordinator Humas Panitia Regional NTB I, Syamsul Hadi, Sabtu (27/8).

Pertandingan Liga Santri Regional NTB I di lapangan Dirgantara TNI AU, Rembiga, Mataram, NTB yang dimulai sejak 18 agustus, hari Sabtu sudah memasuki babak semi final. Ckub dari pesantren Lombok Barat mendominasi, dengan 3 club memasuki semi final dan sisanya dari Mataram.

Sekretaris Jenderal PBNU, Ahmad Helmy Faisal  yang membuka secara simbolis LSN 2016 Regional Nusa Tenggara Barat (NTB-I), di lapangan Dirgantara TNI AU, Rembiga, Mataram, NTB (18/8) mengatakan, selain wadah penyeleksian dan pembinaan skil olahraga sepak bola bagi kalangan santri,  LSN juga menjadi salah satu kanal persaudaraan antara santri se-Nusantara melalui olahraga sepak bola.

PEMAIN SANTRI, berdoa sebelum berlaga
PEMAIN SANTRI, berdoa sebelum berlaga

“Semua pemain yang ikut benat-benar santri. Tidak ada mengambil pemain dari pesantren. Ternyata bakat-bakat sepak bola dari kalangan pesantren sangat menjanjikan,” kata Syamsul Hadi.

Kompetisi LSN Regional NTB I Usia 18 itu, akan berlangsung hingga 29 Agustus mendatang. LSN yang merupakan

program Kementerian Pemuda dan Olahraga akan mendorong pesantren berkontribusi dalam memajukan olahraga sepak bola di Indonesia.

Moh. Hirjan Ketua Panitia LSN Region NTB1 mengatakan, selain disediakan piala tetap untuk juara satu, dua, tiga dan empat, panitia Region juga menyediakan dana pembinaan untuk juara satu hingga juara empat senilai 20 juta.

Pemberian insentif ini untuk mendorong semangat dan motivisi kepada para santri agar berkompetisi optimal. Pemberian insentif itu merupakan dana yang berasal dari panitia Region NTB1. “Bukan dari pusat,” kata Hijran.

Suk/EF

 




Olahraga Rekreasi Menguatkan Jati Diri

MATARAM – lombokjournal.com

Pelantikan Pengurus Baru Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) di Taman Budaya NTB, Sabtu (27/8), diharapkan makin mengenalkan dan melestarikan budaya dan olahraga tradisional daerah NTB untuk mengangkat jatidiri NTB dan Masyarakat NTB.

wagub,FORMI28Agustus3wagub,FORMI28Agustus.1

Hal itu disampaikan Ketua FORMI NTB periode 2016-2021 Nauvar Nauvar F pada pelantikan FORMI yang dihadiri Ketua Umum FORMI Nasional Hayono Isman. Mantgan Menpora Hayono Isman juga menjelaskan, FORMI merupakan perhimpunan dari beberapa induk olahraga masyarakat. Perhimunan ini lahir dari kegelisahan beberapa induk olahraga yang tidak dinaungi KONI (Komite Nasional Olahraga Indonesia).

wagub,FORMI28Agustus2
Hayono Isman

“Tahun 2000 FORMI resmi berdiri dengan Nama Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (FOMI) kemudian bermetamorfosa menjadi FORMI setelah keluar peraturan perundang-undangan yang baru,” jelas Hayono Isman.

Pada kesempatan sama, Wakil Gubernur NTB, H Muhammad Amin menjelaskan kegiatan olahraga yang mampu menembus batas dan sekat-sekat antar kelompok, “Negara Palestina, Israel bisa berdamai untuk  kompetisi  olahraga, begitu juga olahraga menjadi bagian startegis dalam meredam gejolak yang terjadi di masyarakat,” ujarnya.

Dikatakannya, NTB terus menerus melakukan pembinaan olahraga, karena itu diharapkan FORMI berkoordinasi dengan dinas terkait antara lain KONI, Dikpora dan terutama Dinas Pariwisata yang secara langsung menangani kegiatan olahraga tradisional.

“FORMI bisa berintegrasi dengan event event pariwisata sebagai supporting event,” kata wagub. Wagub juga menekankan FORMI bersinergi dalam pengembangan pembangunan pariwisata. Karena saat ini program unggulan NTB adalah pembangunan pariwisata, imbuhnya.

Hadir dalam pelantikan tersebut anggota DPR Dapil NTB dari Partai Gerinda H. Wilgo Zainar, MBA, Sekretaris Daerah Prov. NTB Ir. H. Rosiady H. Sayuti, MSc. Ph.D, Ketua DPRD Kab. Lombok Barat Hj. Sumiatun, Mantan Sekda Prov. NTB H. Muhammad Nur, SH., MH serta unsur FKPD  Kabupaten Lombok Barat serta Pengurus FORMI NTB.

Suk




Eloknya Panorama Temponan Saong

LOMBOK UTARA – lombokjournal.com

Lombok Utara yang memiliki bentang alam pegunungan dan perbukitan yang indah memang menyimpan banyak air terjun yang panoramanya menawan. Ini salah satu yang memukau adalah Temponan Saong (Air Terjun Saong-red).

Temponan Saong lokasinya di Dusun Saong, Desa Bentek Kecamatan Gangga Lombok Utara, sekitar 20 menit dari Tanjung, ibu kota Lombok Utara. Kurang lebih satu jam dari Ibu Kota Mataram menggunakan kendaraan roda dua atau kendaraan roda empat baik. Rute jalan Menuju Temponan Saong dijelaskan berikut :

Anda naik angkot, mobil, sepeda motor dari Mataram (Lombok Barat) -> Taman Wisata Pusuk Pass Lombok Utara -> Tanjung Lombok Utara -> Karang Kates Lombok Utara -> Dasan Bangket Lombok Utara -> Saong Lombok Utara (Lokasi Air Terjun).

Temponan Saong miliki daya tarik wisata yang mempesona dengan kemilau bebatuan dan kebeningan airnya yang terjun melandai di aras lempengan batu. Seperti dilansir media lombokjurnal.com, wilayah dayan gunung kabupaten Lombok Utara memiliki banyak sekali destinasi wisata yang patut dibanggakan.

Disamping kaya hasil alam, daerah ini juga menyimpan banyak panorama alam air terjun dan lempengan batu terjal yang elok, asri dan cukup elegan.

Ada seorang teman yang betul-betul termenung bukan kepalang melihat air terjun ini. Ia kemudian berkomentar lirih, selain air terjun Ras dan air terjun Sekeper ternyata Lombok Utara memiliki tempat wisata tersembunyi lainnya yaitu Air Terjun Saong, atau lebih dikenal oleh masyarakat Lombok Utara dengan nama Temponan Saong.

Temponan ini memang tidak banyak ditahui orang karena letak dan lokasinya sangat jauh berada di bagian dalam hutan Desa Bentek. Kebanyakan orang kebetulan saja mengetahuainya, dan kaget ternyata menemukan tempat wisata yang bagus dan memikat hati.

djn

 

 




Air Terjun Leong, ‘Surga’ Kecil Di Balik Bukit Curam

LOMBOK UTARA – lombokjournal.com

Lombok Utara memang kaya dengan wisata air terjun. Tidak hanya air terjun Sindang Gila yang bisa dijadikan tujuan wisata. Di perbukitan Dusun Leong Timur Desa Tegal Maja Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara terdapat sebuah Surga Kecil, yakni air terjun dengan keindahannya yang alami dan mempesona.

Leong,airterjun26Agustus2
AIR TERJUN LEONG, lokasinya di belakang bukit

Tak ada yang mengira di balik gugusan perbukitan dan hutan tropis yang terjal di Dusun  Leong Timur Desa Tegal Maja Kecamatan Tanjung, terdapat sebuah ‘surga’ kecil. Air terjun yang mempesona. Masyarakat  setempat menyebutnya air terjun Temponan Sekowah.

Karena lokasinya di belakang bukit, dengan minimnya akses jalan yang bisa menghubungkan masyarakat menuju lokasi, keberadaan air terjun ini luput dari perhatian banyak orang. Bahkan banyak masyarakat Kecamatan Tanjung sendiri yang belum mengetahuinya.

Meski dapat ditempuh dengan kendaaraan bermotor, tidak mudah sampai ke lokasi. Rute menuju lokasi sangat sulit, jalan yang bebatuan dan menanjak. Pengunjung harus ekstra  hati-hati, bahkan tidak sembarang orang mampu mengendarai motor di daerah tersebut. Tidak hanya menanjak, namun jalan yang berlubang dan licin semakin menambah tingkat kesulitannya.

Dengan jarak 6 kilometer dari Dusun Lendang Bila, jika menggunakan kendaraan bermotor, pengunjung membutuhkan perjalanan selama kurang lebih 15 menit untuk sempai ke tujuan. Namun tidak semua rute bisa ditempuh dengan berkendaraan, karena terjalnya jalan yang harus dilalui mengharuskan pengunjung untuk berjalan kaki sepanjang 300 meter melewati perkebunan warga.

Jalan yang sempit dan terjal  serta menantang sedikit terobati rasa lelah karena di sepanjang jalur yang dialuli, dipenuhi tanamaan produktifitas milik warga yang terpelihara dengan baik, seperti kopi, kakao, kelapa cengkeh dan lainnya seakan menyapa lembut pengguna jalan yang tetap bersemangat untuk sampai tujuan.

Air terjun dengan ketinggian kurang lebih 15 meter itu mengalir dari aliran sungai yang berasal dari pegunungan daerah setempat, banyaknya bebatuan besar semakin menambah keasrian dan kesejukan di sekitar lokasi air terjun.

Sedikit berbeda dengan beberapa destinasi wisata air terjun yang ada di Lombok Utara, yang hampir semuanya memiliki ketinggian di atas 50 meter, air terjun Temponan Sekowah ini tergolong kecil, dengan lingkaran air di bawahnya yang menyerupai kolam renang sehingga pengunjung dimungkinkan untuk berenang dan berendam sambil menikmati desiran air yang jatuh dari ketinggian.

Seorang warga setempat, Mursidi, mengungkapkan, air terjun ini berasal dari daerah pegunungan yang tidak jauh dari lokasi. Airnya  jernih mengalir sepanjang tahun. Uniknya, meski musim kemarau air terjun ini tidak pernah kering, tetapi  debit airnya masihterjaga dengan baik.

“Tidak banyak orang yang tahu keberadaan lokasi air terjun ini, karena memang tempatnya sangat tersembunyi dan jauh, Saat tertentu, lokasi air terjun ini ramai dikunjungi masyarakat lokal, seperti saat lebaran Topat atau Maulid, bahkan beberapa tahun lalu ada warga dari luar datang ke sini hanya untuk melihat tempat ini,” jelasnya.

Sementara, Kepala Desa Tegal Maja, Ir. Rusdi, mengatakan, keindahan air terjun ini tidak kalah jika dibandingkan dengan lokasi-lokasi air terjun yang ada di tempat lain. Namun karena lokasinya sulit dijangkau tidak banyak orang mengetahui keberadaannya. “Ini salah satu potensi wisata yang dapat dikembangkan ke depan, tentu harus didukung oleh ketersediaan akses jalan yang memadai,” pungkasnya.

djn  

 

 




Montong Gedeng (Gunung Kayangan) Dulu Tempat Pemujaan Adat

LOMBOK UTARA — lombokjurnal.com

Kabupaten Lombok Utara memiliki tradisi lama yang kuat dipegang masyarakatnnya hingga kini. Sebut saja Montong Gedeng, Desa Sesait Kecamatan Kayangan, dulu jadi lokasi tujuan pelaksanaan ritual adat oleh masyarakat.  Meski kini keadaannya hanya bukit yang sepi dan ditumbuhi tanaman liar yang mongering, pernah jadi saksi bisu perjalanan sejarah masyarakat di sekitar Kayangan.

Nilai-nilai peninggalan nenek moyang berupa ritual adat, hingga kini masih dijalani masyarakat Lombok Utara. Seperti ritual ‘buka tanah’ yaitu sebelum mulai membuka areal tanam. Ritual adat ini diwariskan nenek moyang masyarakat wet (baca: gontoran) Sesait Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara.

Menjelang musim tanam masyarakat Wet Sesait selalu menggelar perayaan adat yang jatuh pada tiap bulan lima setiap tahun. Perayaan rutin ini diperingati secara turun-temurun oleh masyarakat adat Wet Sesait dan dikenal dengan Perayaan Adat Taiq Daya dan Taiq Lauq.

Taiq Daya dilakukan masyarakat komunitas adat Santong Asli. Prosesi ritualnya dilakukan dengan naik ke Bale Penginjakan di Pawang Semboya yang terletak di lereng utara gunung Rinjani. Waktu pelaksanaannya setelah pagelaran ritual Taiq Lauq. Sementara Taiq Lauq dilaksanakan mengenang sejarah nenek moyang masyarakat adat Sesait yang kala itu naik ke Montong Gedeng untuk melaksanakan ritualnya.

Montong Gedeng itu sendiri tidak lain adalah Gunung Kayangan saat ini, terletak sekitar 200 meter ke arah timur Kampung Cangkring Dusun Sidutan Desa Kayangan Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara.

Tokoh adat Wet Sesait, Djekat, menuturkan berdasarkan sejarah perayaan adat Taeq Daya maupun Taeq Lauq, asal-muasal perayaan ini berawal dari kebiasaan orang tua Sesait lama yang dikenal dengan sebutan Tau Lokaq Empat, yang terdiri dari Penghulu, Pemusungan, Mangkubumi, dan Jintaka.

Dikatakan, kebiasaan para sesepuh Sesait lama kala itu, sebelum melaksanakan suatu kegiatan yang berlaku menyeluruh bagi masyarakatnya, mereka selalu menggelar sangkep atau musyawarah di Bale Adat yang berada di lereng selatan Montong Gedeng. Hal-hal yang biasanya dibicarakan adalah terkait waktu dimulainya membuka tanah dan waktu dimulainya musim pola tanam.

Itulah sebabnya, sebut Djekat, warga Sesait lama tidak akan berani memulai pelaksanaan pola tanam sebelum Tau Lokaq Empat selesai menggelar rapat tersebut. Pasalnya, mereka patuh dan taat pada aturan adat yang diwariskan secara turun-temurun. “Jadi, orang Sesait lama sejak jaman dulu sudah mengenal yang namanya aturan pola tanam,” kata Djekat.

Djekat menambahkan, kegiatan ritual adat yang digelar setiap bulan lima tiap tahun tersebut adalah sebagai bentuk revitalisasi ritual adat yang memang pernah dilakukan oleh masyarakat Sesait lama pada jamannya. Namun semenjak tahun 1966 ritual adat ini hilang atau praktis tidak dilakukan oleh warga. Pasalnya, pada saat itu terjadi perombakan ajaran Islam dari ‘wettu telu’ ke ajaran Islam waktu lima.

Karena pada saat itu penduduk Sesait lama dan sekitarnya masih menganut Islam Wettu Telu. “Jadi sudah 50 tahun silam ritual Taiq Lauq tersebut tidak dilakukan lagi oleh masyarakat Sesait lama,” jelasnya.

Pada zaman dahulu dibawah tahun 1965, Montong Gedeng atau gunung Khayangan ramai di kunjungi oleh para peminat dan penganut acara pemujaan kepada para Dewa yang bersemayam di tempat itu. Menurut kepercayaan masyarakat Sesait Lama, bahwa di gunung Khayangan tersebut di yakini sebagai tempat petilasan Panji Mas Kolo. Itulah sebabnya, setiap tahun sebelum tahun 1965, tempat itu ramai di kunjungi oleh masyarakat penganutnya untuk Ngaturang Ulak Kaya.

Pada saat acara Ngaturang Ulak Kaya (terkenal dengan sebutan “Taeq Lauq”) itu, masyarakat penganutnya membawa makanan, sesaji dan Praja Taeq Lauq (para gadis yang di rias layaknya pengantin) sambil membunyikan tabuh-tabuhan atau kesenian tradisional rakyat yang jumlahnya tidak kurang dari 10 hingga 15 grup.

Praktis sejak tahun 1966 acara pemujaan di Gunung Khayangan itu sudah tidak kedengaran lagi, tinggal Gunung Khyangan yang masih tetap utuh tegak berdiri yang merupakan peninggalan bersejarah bagi Desa Kayangan, sehingga namanya diabadikan sebagai lambang dan nama Desa Kayangan saat ini.

djn