Ratusan tenaga honorer K2 mendatangi Kantor Bupati Lombok Utara. Kedatangan mereka untuk menanyakan kejelasan nasib pengabdiannya selama ini. Pertemuan di Kantor Bupati Kabupaten Lombok Utara itu ini dihadiri Wakil Bupati Lombok Utara Sarifudin, Kepala Dikbudpora Suhrawardi Drs. Suhrawardi, M.Pd dan Bagian Kepegawaian, Lalu Masjudin, ME.
Ketua Forum K2 Lombok Utara, Akmaludin menjelaskan, tahun 2011 lalu ada instruksi dari Bagian Kepegawaian kepada UPTD. Bagian Kepegawaian meminta UPTD agar melakukan pemberkasan ulang. Sehingga muncul nama 262 orang K2 yang sudah mengabdi sejak Januari 2005.
“Tak lama kemudian tiba-tiba muncul nama K2 lebih 300 orang. Saat itu kami heran kenapa kok membengkak begitu besar,” ketusnya.
Pada saat pelaksanaan tes CPNS, lanjut Akmal, jumlah K2 meningkat kembali menjadi 432 orang. Tapi pengumuman kelulusan justru hanya diambil 70 persen. “Yang pengkas 30 persen ini siapa ? Kita ini hanya dipilih untuk dipangkas,” tuturnya dengan nada tinggi.
Padahal dari 30 persen yang ‘dipangkas’ ini semuanya memenuhi persyaratan. Diantaranya, mengabdi mulai 2005 ke bawah, kompeten di bidangnya, dan usia sesuai yang ditentukan. “Heran sekali kami, yang lulus itu justru yang mengabdi tahun 2006 dan 2007. Ada permainan apa ini dan siapa pula pemainnya perlu diungkap,” katanya.
Banyak Pelanggaran
Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Utara Sarifudin mengakui pada rekrutmen pegawai 2011 lalu disinyalir banyak pelanggaran administrasi maupun teknis. Saat itu ia masih menjadi anggota DPRD Lombok Utara, termasuk salah satu orang yang menginisiasi dibentuknya Pansus K2 untuk melakukan investigasi.
“Verifikasi berkas K2 ini dilakukan pertama oleh daerah dalam hal ini BKD. Database awal yang dimilik BKD jumlahnya 262 orang dan bertambah menjadi 432 orang,” ungkapnya.
“Temuan kami di Pansus saat itu memang ada kejanggalan. Kejanggalan itu kami buat dalam satu rekomendasi dan disampaikan kepada pemkab maupun pihak lain. Dan saya yakin pada rekrutmen saat itu memang tidak ada kejujuran,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dikbudpora Lombok Utara Suhrawardi menjelaskan saat ini K2 yang tersisa adalah 128 orang. “Menpan akan melakukan pendataan lagi yang tidak lulus untuk diseleksi. Ini dari yang kami dengar dulu. Tetapi intinya pemda tetap menyuarakan ini di pusat karena pernah ada kebijakan yang belum lulus ini dipertimbangkan lagi,” tuturnya.
Pihak Bagian Kepegawaian Daerah Setda Lombok Utara menjelaskan data akhir yang diterima jumlah K2 sebanyak 432 orang. Dari jumlah itu yang lulus 304 orang. Sehingga yang tidak lulus berjumlah 128 orang.
”Yang menentukan siapa yang lulus dan tidak adalah Kemenpan RB bukan daerah. Karena mereka yang memeriksa hasil tes,” katanya.
djn
Bupati Najmul Lepas Pemberangkatan 52 Calon Haji
Lombok Utara — lombokjournal.com
Bupati Lombok Utara Dr. H Najmul Akhyar melepas keberangkatan 52 calon haji di Masjid Baiturrahim Tanjung, kemudian akan diterbangkan langsung melalui Embarkasi Lombok ke Bandara King Abdul Aziz Jedah, Saudi Arabia. (Minggu, 04/09)
Bupati Najmul meminta para jamaah tetap menjaga kesehatan dengan baik, mengingat ibadah haji merupakan ibadah fisik yang cukup berat. “Usahakan setiap saat mengonsumsi vitamin dan banyak-banyak minum air putih, karena suhu udara di Saudi Arabia sangat berbeda dengan Indonesia,” pintanya.
Selain itu, para jamaah diminta selama melaksanakan ibadah haji hendaknya selalu bersama-sama, jangan berpisah untuk mengurangi masalah-masalah yang sering menimpa jamaah haji, seperti tersesat dan kecopetan.
Menurut Bupati, segala sesuatu yang memang perlu bantuan agar segera bekoordinasi dengan Ketua Tim Pemdamping Haji (TPHD). Selama di tanah suci Mekkah agar memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan memperbanyak zikir dan doa pada tempat-tempat dimana diwajibkan harus berzikir.
“Ingat, doakan Kabupaten Lombok Utara tetap aman dan kokoh dalam persatuan dan kesatuan untuk merajut pembangunan di daerah kita ini,” katanya.
Acara pelepasan JCH tersebut dihadiri Pimpinan DPRD Kabupaten Lombok Utara, Sekretaris Daerah Drs. H. Suardi, Forkompimda dan seluruh pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), kepala badan dan sejumlah serta ratusan keluarga para JCH.
djn
Mahfud MD; HMI Harus Merawat Masa Depan Indonesia
MATARAM – lombokjournal
Kader HMI harus memiliki tanggung jawab untuk merawat Indonesia, dari berbagai posisi baik itu Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, ataupun bidang-bidang lain. Hal itu diungkapkan Prof. Dr. Mahfud MD dalam sambutan pelaksanaan kegiatan Temu Nasional Alumni HMI Pemangku Jabatan Publik, yang berlangsung pada Sabtu, (3/9) di Hotel Lombok Raya.
Prof. Mahfud MD
Menurut Mahfud MD, ada tiga hal yang perlu di jaga berkaitan dengan Tata kelola pemerintahan berdasarkan konsep masyarakat madani, antara lain menjaga kebersatuan dan keberagaman, mengawal demokrasi serta penegakan hukum.
Hadir dalam acara itu, Ketua DPD RI Irman Gusman, Tokoh HMI Akbar Tanjung, Wakil Gubernur NTB H. Muh. Amin, SH., MSi, Walikota Mataram, Ahyar Abduh, Anggota DPRD Provinsi NTB, dan sejumlah tokoh HMI lainnya serta ribuan kader HMI se Indonesia.
Professor Bidang Ketatanegaraan ini lebih jauh menjelaskan, dalam hal keberagaman,
Wakil Gubernur NTB H. Muh. Amin, SH., MSi
Indonesia dinilai paling gemilang mengelola toleransi. Indoneisa merupakan negara kepulauan terbesar dengan jumlah pulau-pulaunya mencapai 17.508 pulau dan 1.128 suku bangsa dengan segala corak budaya, bahasa dan keberagama entitas lainnya, namun mampu di persatukan untuk hidup berdampingan satu sama lainnya.
Modal tersebut tidak dimiliki oleh negara lain, seperti Filipina, Eropa, atau Timur Tengah. “Patutlah Indonesia menjadi laboratorium toleransi keberagaman bagi negara-negara di dunia,” jelasnya.
Sedangkan penyebab krisis dan radikalisme di Indonesia bukanlah karena keberagaman, namun ketidak adilan dan inkonsistensi pemerintah dalam menegakan hukum. Kelompok radikal merupakan kelompok-kelompok kecil kemudian menjadi besar karena masyarakat yang merasa terzolimi bergabung di dalamnya.
Dalam kesempatan sama, Wakil Gubernur NTB H. Muh. Amin, SH., M.Si dalam sambutannya menyebutkan contoh nyata persatuan dan keberagaman di Indonesia adalah Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Barat yang didiami oleh tiga suku besar yaitu Sasak, Samawa dan Mbojo di tambah suku-suku lain di Indonesia, mampu menciptakan harmonisasi dan kerjasama dalam bermasyarakat.
Menurut Wagub, saat ini yang perlu dibangun adalah harmonisasi dan sinergisitas kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. Sebab, di era otonomi daerah ini banyak terjadi ketidak sinkronan kebijakan yang menyebabkan terhambatnya pembangunan.
Dalam hal supremasi hukum, NTB tetap komit dalam upaya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Namun, Ketua DPD Partai Nasdem ini berharap istilah “kriminalisasi kebijakan” patut untuk di kaji lebih mendalam lagi. “Banyak pejabat publik di daerah terjerat kasus korupsi karena kebijakannya. Mereka tidak melakukan korupsi namun karena kebijakannya yang memperkaya orang lain, akhirnya ia terjerat kasus Korupsi,” jelasnya.
Sebelum membuka kegiatan Temu Nasional Alumni HMI tersebut, Ketua DPD RI Irman Gusman menitik beratkan pada konsep demokrasi di Indonesia dan redesign sistem pengkaderan HMI. Sistem demokrasi dipilih dalam sistem ketatanegaraan Indonesia setelah reformasi, karena mampu mengakomodir apa yang tertuang dalam UUD 1945 yaitu kebebasan berkumpul dan berserikat, kebebasan mengeluarkan pendapat, melindungi Hak Azasi Manusia, persamaan di dalam hukum dan pemerintahan yang bertanggung jawab yaitu good government dan clean government
Sedangkan untuk redesign sistem pengkaderan HMI, Ketua DPD RI menjelaskan bahwa pengkaderan HMI hendaknya tidak lagi hanya pada pendidikan politik semata. Ke depan, kader HMI harus mampu menghadapi persaingan global. Ia berharap Kader HMI mampu mengisi bidang-bidang lain baik itu entrepreneurship dan lainnya, agar HMI mampu eksis di tiap perkembangan zaman.
Suk
(Foto; Humas Pemprov NTB)
Parade Teater Kampus, Meramaikan Panggung Teater Mataram
MATARAM – lombokjournal.com
Seni Teater tetap berkobar di lingkungan kampus. Tiga kelompok yang dikenal bersemangat menggeluti teater, membuat parade pentas berturut-turut di Teater Tertutup Taman Budaya NTB, 6 – 8 September 2016.
Ketiganya adalah Teater Putih (FKIP Universitas Mataram) mementaskan “Pinangan” karya Anto P Chekov, BKSM Saksi (IAIN Mataram) dengan lakon Pantomim “Dicari Manusia Jujur” karya Nash Ja’una, dan Sasentra Universitas Muhammadiyah Mataram, menggarap karya Wiliam Butler Yeats berjudul “Arwah-Arwah”
Diskusi menjelang pentas, Jum’at (2/9) lalu, setidaknya diperlukan untuk persiapan mengapresiasi pertunjukan yang susah payah disiapkan ketiga kelompok teater kampus tersebut.
Pantomim-nya BKSM SAKSI (IAIN Mataran) sutradara Nash Jauna;
Pengaruh (struktur) drama dalam pengadeganan pantomime, bukan hal baru dalam pertunjukan pantomime di Indonesia. BKSM SAKSI melakukan itu dalam nomor “Dicari Manusia Jujur”. Sketsa nomor pantomim yang dipandu Nash, merupakan ekspresi keprihatinan manusia modern. Masihkah ada kejujuran itu?
Pantomim dengan aktor lebih berjumlah 7 orang, bahkan hingga puluhan orang, pernah dilakukan kelompok ‘Seno Didi Mime’. Misalnya, pertunjukan yang menggambarkan makna demokrasi, aktor-aktornya beraksi mengusung bongkahan-bongkahan karet-karet ban ke atas panggung. Sejumlah pemain berwajah boneka melakukan gerakan-gerakan ‘pembobolan dinding’. Mereka mengendong tubuh-tubuh manusia telanjang tanpa busana. Dialog-dialog yang muncul dari aktornya dikemas sebagai irama, bukan kosa kata untuk mengantar pengertian.
Memang pantomim tidak selalu muncul dengan kritik sosial, namun kejenakaan yang menyertai kritik sosial menjadi elemen yang menjadi daya tarik pantomim. Simbol-simbol pantomim bisa memikat bila cepat berasosiasi dengan pengalaman keseharian penonton.
Para aktor dari BKSM Saksi memang penuh bakat, namun pantomim (yang memang) tidak dikerjakan berdasarkan naskah tapi langsung dipraktikkan itu, disarankan bisa fokus menyambungkan benang merah sketsa menjadi keutuhan yang tampak dalam pertunjukan. Apakah simbol-simbolya sampai ke penonton? Apakah aktor-aktornya berhasil mengungkapkan perasaan manusia, dan menggambarkan situasinya?
Ada perbandingan dari pertunjukan pantomim yang memberi pilihan agar bisa memikat. Misalnya, apakah pertunjukan lebih menonjolkan aspek keaktoran dalam penyampaian simbol atau membangun imaji dramatik.
Bengkel Mime Theatre Jogja; kostum dan properti dari perkakas rumah tangga
Selain itu, seperti pertunjukan ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ oleh Bengkel Mime Theatre Jogja, menawarkan daya tarik visual artistik dengan set panggung, pencahayaan, properti dan kostum. Dalam nomor ini penonton diajak larut ke dalam ruang imaji yang penuh fantasi. Mereka mengenakan kostum dan properti dari perkakas rumah tangga seperti wajan, panci, sendok, garpu, baskom, ember, kursi, meja, drum, mangkok, botol bekas air mineral, tempat sampah, hanger, tali jemuran, taplak dan lain-lain.
Aktor-aktor dan sutradara dari BKSM Saksi yang menjadi harapan tumbuhnya pertunjukan pantomim di Mataram itu, mungkin punya pilihan lain. Atau sedang berproses menemukan pilihan yang tepat untuk berinteraksi dengan penontonnya.
“Pinangan’-nya Anton P Chekov oleh Teater Putih
Teater Putih-nya FKIP (Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan) Unram merupakan kelompok teater kampus paling produktif dan konsisten membuat pertunjukan drama. Ini didukung lingkungan di FKIP Unram yang kondusif, dengan mata kuliah teater atau drama yang memungkinkan mahasiswanya mempunyai bekal teori membuat pertunjukan teater.
Naskah “Pinangan” meski ditulis Anton P Chekov yang lahir tahun 1860 di pedesaan Taganrog, Rusia, tapi tetap relevan menjadi tontonan saat ini. Kelompok teater yang masih menganut prinsip-prinsip akting Stanilavsky – teater sebagai seni vokal dan seni akting – menyukai karya-karya penuh sindiran dan ledekan karya Chekov (atau Nikolai Gogol). Naskah Pinangan paling sering dimainkan termasuk oleh mahasiswa-mahasiswa teater.
Teaterawan dari Bandung yang legendaris, Suyatna Anirun, menyadurnya ke dalam situasi lokalitas Jawa Barat. Tokoh-tokohnya bukan hanya bernama lokal, tapi cara berpikirnya pun tipikal lokal, yang masuk dalam ‘komedi situasi’ khas lokal. Jadilah perseteruan lucu seseorang yang datang melamar anak gadis, malah terjebak perseteruan dengan orang tua gadis perkara memperebutkan sebidang tanah dan mempermasalahkan hewan peliharaan masing-masing.
Teater Putih memainkan naskah Pinangan tanpa mengadaptasinya ke dalam situasi lokal. Nama-nama tokoh dalam drama itu tetap asli nama Rusia. Memang tanpa adaptasi apa pun (kecuali bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia) tak mengurangi nilai suatu pertunjukan naskah asing. Namun sering menimbulkan kerumitan, misalnya, kalau memainkan tokoh ‘Ivanovic’ (nama Rusia) tentu berbeda saat masuk dalam karakter ‘Khlolil’ (nama Jawa Barat). Ini lebih lanjut akan bersinggungan dengan elemen produksi lainnya.
Meski demikian, bagi aktor yang mempelajari metode dan konsep Stanislavsky yang memanfaatkan ingatan emosi sebagai pijakan pemeranan yang digerakan kondisi jiwa dan mood tokoh di tiap suasana (pengolahan intuisi kreatif-nya Chekov), akan membangun tontonan yang menghibur. Drama Chekov tidak menyarankan titik kulminasi atau puncak konflik, tiap situasi merupakan peristiwa istimewa.
Cara pengungkapan emosi tiga orang aktor Teater Putih telah mendekati pencapaian itu. Termasuk konsep atau teknik Farce dalam pemeranan memang tepat untuk mendekati naskah Chekov.
‘Arwah-arwah’ karya William Butler Yeats (WB Yeats) oleh SASENTRA (Sanggar Seni dan Sastra) Universitas Muhammadiyah Mataram
Arwah-arwah-nya SASENTRA
Drama ‘Arwah-arwah’ mewakili alam pikiran penyair dan penulis drama kelahiran Dublin, Irlandia tahun 1865. WB Yeats yang disebut sebagai salah satu penyair berbahasa Inggris terbesar pada abad ke-20 dan penerima Nobel Sastra tahun 1923 — penyair romantik terakhir dan penganut aliran modern pertama — kerap menampilkan sosok hantu dalam puisi-puisinya. Ia percaya, ketika seseorang berbicara tentang orang mati, akan membangkitkan hantunya.
Yeats disebut memiliki bakat khusus berhubungan dengan hantu-hantu. Dan telah melakukan ribuan percakapan dengan orang-orang yang mengklaim mampu berhubungan dengan hantu.
Seorang penulis, Alice Miller, yang sempat menyusuri jejak Yeat di Dublin menulis, Yeat pernah menyatakan bahwa setelah kematian menjemput, kita menghidupkan kembali kenangan penuh gairah yang terus berulang, mencintai jiwa-jiwa yang sama, membakar rumah-rumah yang sama dan memerankan peran kasus pembunuhan yang sama.
Arwa-arwah karya mahasiswa ISI di Sumatra
Latar belakang ini penting untuk memahami naskah ‘Arwah-arwah’, yang mengisahkan pengembara tua dan putranya di antara reruntuhan rumah dan pohon tua. Peristiwa masa lalu yang mengganggu orang tua itu karena berisi kenangan kisah tragis. Ia membunuh ayahnya sendiri karena ayahnya menyiksa ibunya. Ketakutan membayangi pikirannya, kemungkinan putranya membalas dendam atau ‘melanjutkan keonaran’. Akhirnya ia memutuskan membunuh putranya sendiri.
Asta Bajang yang menyutradarai ‘Arwah-Arwah’ itu berusaha memahami karya drama dari penyair yang menerima Nobel karena puisi-puisinya yang menginspirasi dan memberi semangat bangsa Irlandia. Namun dialog-dialog penuh metafora, ungkapan puitis Yeats, yang membangkitkan kenangan orang tua atas ‘puing-puing rumah dan pohon tua’ bisa menjebak pemainnya dalam ucapan bertele-tele.
Memang, ‘Arwah-arwah’ yang diterjemahkan Suyatna Anirun bukan hanya membutuhkan pendalaman pemahaman untuk menangkap metafora dalam dialog tokoh-tokohnya. Pemahaman plot, intensitas diskusi aktor-sutradara, sekaligus pembahasan elemen desain produksi (cahaya, kostum, properti dan lainnya), juga penting mendekati drama psikologi Yeats. Kedua aktor yang bersemangat dari Sasentra yang bermain dalam ‘Arwah-arwah’ harus lebih banyak diskusi dengan sutradara.
Pertunjukan teater adalah persentuhan organisme hidup antara aktor dan penonton selama teater itu ‘hidup’. Teater itu ‘mati’ ketika lampu panggung dan gedung pertunjukan menyala. Seni teater bukanlah artefak yang bisa diapresiasi dengan nilai sama seperti saat pertunjukan berlangsung.
Karena itu, nilai pertunjukan teater ditentukan berlangsungnya ‘peristiwa teater’ yang memberi kesadaran baru tentang sesuatu.Mari menonton teater.
Suk
Pertahankan Kearifan lokal, Bupati KLU Perintahkan Buat Perda Pengakuan Masyarakat Adat
LOMBOK UTARA – lombokjournal.com
Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengakuan Masyarakat Adat diminta segera dibuat dan disampaikan ke badan legislasi DPRD Lombok Utara agar bisa dibahas secepatnya.
Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar, MH memerintahkan kepada SKPD terkait, saat menjawab dalam dialog bersama tokoh adat Bayan pada acara Dialog Kedaerahan dengan tema ‘Perlindungan Hutan Adat dan Pengakuan Masyarakat Adat’ bertempat di Hotel Mina Tanjung, Jum’at (2/9).
Menurut Najmul, perda itu penting karena itu pemda harus mengakui, Lombok Utara punya kekayaan budaya cukup beragam dan unik, yang membuat daerah Tioq Tata Tunaq berbeda dengan daerah lainnya di NTB.
Salah satu yang mencolok adalah pranata adat asli (orisinil). “Kita mengakui keberadaan masyarakat adat masih ada hingga kini. Terkait ini, ada beberapa hal yang harus menjadi konsep misalnya apa indikator masyarakat adat, adanya nilai budaya komunitas dan pranata adat yang masih hidup, dan sebagainya,” tutur Najmul.
Di Lombok Utara pengaruh adat tidak bisa hilang begitu saja. Bahkan, telah jadi prinsip penerapan adat bernilaikan agama, cara masyarakat melakukan prosesi adat adalah cara orang-orang tua melakukan prosesi agama, yakni nilai adat yang dibarengi dengan nilai agama.
Artinya kalau mengakui diri anak adat maka taat menjalankan perintah agama. “Jangan adat disebut simbol dari pada agama, itu keliru,” terangnya.
Menyikapi pentingnya perlindungan dan pengakuan masyarakat hukum adat di Kabupaten Lombok Utara, Bupati najmul yang juga Ketua Apkasi Regional Bali Nusra ini minta tiap desa membentuk Majelis Krama Desa. Tugasnya mengawal dan memastikan sinergi 3 poros sentral untuk bersatu yaitu tokoh agama, tokoh adat dan tokoh pemerintahan, atau sering dikenal Wet, wilayah sedangkan telu adalah 3 kekuasaan (toda, toga, tokoh Pemerintah).
Bila 3 tokoh tersebut aktif di semua desa, maka apa pun persoalan di masyarakat bisa diselesaikan secara musyawarah mufakat oleh majelis krama desa di masing-masing desa.
Hutan masyarakat adat lebih bagus dan lebih aman jika dikelola oleh masyarakat adat dibandingkan hutan pengelolaannya diserahkan oleh pihak yang bukan masyarakat adat. Nilai kearifan lokal masih ada dan itu seperti adanya penyediaan padi bulu. “Orang tua dulu mengajarkan kita, istilah menjaga ketahanan pangan dengan nilai kearipan lokal,” kata Najmul. Pemda KLU sepakat untuk mendorong kearipan lokal.
Ada temberasan, ada monjeng ada samba. Nilai-nilai kearipan lokal ini bisa berlaku di Bayan dan ketahanan pangan pun hingga kini ada di Bayan. Sehingga yang paling tinggi kualitas beras padi bulu yaitu menyediakan pangan khusus saat pascakelik.
Keberadaan Masyarakat Adat
Dalam kesempatan sama, Koordinaor Somasi NTB Supriadi SH, menyampaikan bahwa agenda 18 bulan yang lalu Somasi bersama kader inklusi telah mereview Perdes Perlindungan Hutan Adat. Hasil dari proses itu adalah pentingnya ada Perda Pengakuan Masyarakat Adadi Lombok Utara.
Dialog budaya itu dihadiri 60 orang dari 6 desa di Kecamatan Bayan, terdiri dari Desa Senaru, Karang Bajo, Bayan, Anyar, Sukadana dan Loloan. Tujuan dari dialog ini agar ada perlindungan hukum masyarakat adat setempat.
Hasil penelitian keberadaan masyarakat hukum adat adat di Lombok Barat, yang dilakukan yayasan Koslata, tahun 2006, keberadaan masyarakat adat di Lombok Barat masih ada (kelembagaan adat, persekutuan masyarakat hukum adat, batas wilayah hukum adat dan pranata adat). Masyarakat adat memiliki tanah ulayat yang dikelola lembaga adat baik berupa tanah (gontoran paer) maupun hutan adat (pawang).
Tim Peneliti Pengkaji Keberadaan Masyarakat Hukum Adat yang dibentuk melalui SK Bupati Lombok Barat Nomor: 347/17/Koslata/2005, merekomendasikan pemerintah daerah perlu memberi pengakuan yuridis berupa Peraturan Daerah yang memberi pengakuan hak kelola masyarakat adat terhadap hak ulayat, terutama hutan adat, sebab masyarakat hukum adat teruji melakukan perlindungan dan penjagaan lingkungan hidup dengan baik hingga saat ini.
Aset masyarakat hukum adat baik tanah ulayat dan pecatu semakin berkurang jika tidak segera dilindungi oleh aturan formal. Pengkajian Tim Peneliti menyimp[ulkan, revitalisasi nilai luhur budaya dan kearifan lokal dalam bentuk lembaga dan pranata lokal (awiq-awiq) hanya akan terjadi kalau masyarakat hukum adat yang menjadi sumber, pemangku dan pemelihara kearifan lokal diakui sebagai subyek hukum.
djn
Gubernur TGH M Zaenul Majdi Diundang Komunitas Sahabat Damandiri
MATARAM – lombokjournal.com
Mantan Menteri Koperasi era Orde Baru, Subiakto Tjakrawerdaya, yang kini Ketua Yayasan Damandiri bertemu dengan Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi di ruang kerjanya, Rabu (31/8).
Kunjungan Subiakto Tjakrawerdaya dalam rangka mengundang Gubernur untuk hadir pada kegiatan pengembangan Komunitas UMKM melalui “Program Komunitas Sahabat Damandiri di Provinsi NTB awal bulan Oktober mendatang”.
Duh, Indahnya Hutan Wisata Selelos
LOMBOK UTARA –lombokjournal.com
Dusun Selelos di Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, memiliki hutan wisata sangat elok dan mempesona siapa saja yang sempat berkunjung. Hutan wisata Bebekeq sangat berpotensi dipasarkan ke pasar wisata global maupun lokal.
Panorama keindahan alam Hutan Bebekeq yang eksotik, dapat menarik naluri orang untuk rekreasinya. Banyak orang yang telah berdecak kagum saat melihatnya.
Panorama alam yang sungguh mempesona, kini hutan Bebekeq makin banyak dikunjungi orang. Apalagi, tiap tahun masyarakat Selelos dan masyarakat Tanjung banyak yang berkunjung ke hutan ini untuk melakukan ritual tahunan. Mereka percaya bahwa di hutan ini terdapat makam keramat yang patut di kunjungi.
Fakta ini dikuatkan oleh pendapat banyak orang, hutan Bebekeq punya daya mitos yang tinggi, namun begitu ada juga yang tidak percaya. Mereka ini hanya percaya dengan keberadaan hutan ini sebagai tempat wisata yang mengasyikkan.
Akan halnya dengan Wilayah San Baro, Selelos juga memiliki banyak daya tarik wisata cukup menarik selain hutan Bebekeq. Seperti temuan media online ini, wilayah Selelos memiliki banyak potensi wisata yang patut dibanggakan.
Selain itu juga kaya hasil alam, seperti cengkeh, kopi, durian, vanili, kakao, kelapa dan lain-lain, wilayah ini juga menyimpan banyak wisata budaya, seperti gamelan Beleq, alat-alat hiasan tradisional yang indah.
Bentang alam hutan wisata Bebekeq seringkali mempesonakan pikiran siapa saja, karena topografis wilayahnya sangat subur dan suasana iklimnya dingin. Kondisi cuaca alam hutan wisata Bebekeq yang dingin ini merangsang geliat aktivitas perkebunan kian berkembang. Pemandangan alam sekelilingnya yang hijau dibarengi kicauan burung merdu membawa suasana makin terasa indah dan mengasyikkan.
Panorama alam hutan Bebekeq yang mempesona memungkinkan menjadi icon hutan wisata di Lombok Utara. Keasrian hutan beserta pepohonan yang tumbuh memenuhi kawasan hutan membawa nuansa keindahan tersendiri.
Keasrian dan kepanoramaan hutan wisata yang sunguh indah ini akan tetap terpelihara bila tetap dijaga dan dirawat dengan baik para pemangku pariwisata maupun masyarakat sekitarnya. Ini penting untuk menjaga kelestarian ekologi lingkungannya agar tetap alamiah, bersih, dan asri.
Tempat ini bisa dicapai dengan kendaraan roda empat dan roda dua serta membutuhkan waktu 1 jam dengan jarak tempuh 25 km dari Tanjung.
djn
Aliansi LSM Dayan Gunung Polisikan Pejabat Kemenag KLU
LOMBOK UTARA – lombokjournal.com
Aliansi LSM dan Ormas Kabupaten Lombok Utara (KLU) Bersatu yang terdiri dari Laskar Muda, NPW, JPA, JPKP, Barnas PD, PCMI, AMATI KLU, Sahabat Berbagi, PSB Salut, IPNU KLU, GMPRI KLU, KLP Tani Sesait, SBDLU dan KOMPAK Gumantar dengan diwakili Ketua JPA, Marianto, melaporkan oknum Pejabat Kementerian Agama (Kemenag) KLU berinisial SA.
SA dilaporkan atas dugaan melakukan penghinaan dan pelecehan harkat martabat masyarakat KLU melalui media sosial Facebook (FB).
“Tindakan SA ini telah menyakiti hati kami sebagai masyarakat Lombok Utara yang beradab santun dan berbudaya yang dikenal dengan filosopi mempolong mrenten. Ucapan SA ini telah melanggar ketentuan Undang-Undang yang berlaku,” ujar Marianto dalam laporan resminya saat berada di Kantor Polsek Tanjung, beberapa waktu lalu.
Dalam laporan resmi ini Marianto didampingi Ketua JPKP KLU, Husnul Munadi menyerahkan dua barang bukti berupa print out dua status FB milik SA. Pertama print out status FB SA tertanggal 24 Agustus 2016.
“ngaji-ngaji kanyan leq lombok utara ne, leguq sakit jahil sekene parah…. preeet!,” bunyi status di akun FB SA yang menyertakan foto undangan Imtaq yang ditandatangani Sekretaris Daerah (Sekda) KLU, Drs. H. Suardi, MH.
Kemudian print out status FB SA tertanggal 24 Juni 2016.
“Kami masyarakat ntb butuh pengajian bukan sepanduk yg isinya perbanyak solawat …… itu semua kami tau sebelum kami lahir. kami di lombok utara terjangkit penyakit munafek semoga anta faham,” bunyi status akun FB SA yang menyertakan foto spanduk Ketua DPD Partai Demokrat NTB, DR. TGH. M. Zainul Majdi bertuliskan ajakan perbanyak solawat.
Sementara Kapolsek Tanjung, Kompol M. Purna mengatakan, laporan Marianto ini diterima dan akan didalami lebih lanjut.
“Kita dalami dulu laporannya, karena menyangkut ITE (Informasi Transaksi Elektronik), kasusnya kita akan limpahkan ke Polres Lombok Barat. Apakah penyidikannya nanti akan dilakukan di Polres Lombok Barat atau apa nanti dilimpahkan ke Polda NTB, nanti kita lihat. Karena setahu saya Unit ITE itu hanya ada di Polda NTB. Di sini kita dalami dulu, kita dengarkan beberapa saksi,” terang mantan Kapolsek Gangga ini.
Sementara itu, SA yang merupakan Kasubag Tata Usaha Kemenag KLU, memilih untuk tidak memberikan komentar saat hendak dimintai tanggapannya.
“Saya tidak mau komentar masalah itu,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenag Kabupaten Lombok Utara.
djn
Bupati Najmul Akhyar; Program 1 Dokter 1 Desa di KLU Terealisasi 2017
LOMBOK UTARA – lombokjournal.com
Program ‘satu dokter satu desa’ di Kabupaten Lombok Utara direncanakan terealisasi tahun 2017. langkah awal realisasi visi misi dan program yang telah dicanangkan Pemkab Lombok Utara akan menyiapkan 10 dokter untuk 10 desa. Anggaran untuk 10 dokter itu akan dimasukkan pada APBD Perubahan 2016.
Bupati H Najmul Akhyar
Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar, MH menjelaskan itu ketika ditemui di kediamannya pekan lalu. Menurutnya, Sasaran 10 dokter itu diprioritasnya bagi desa-desa yang akses jangkauannya jauh dari pusat pelayanan kesehatan seperti polindes dan puskesmas.
”Kami sudah merencanakan pada anggaran perubahan tahun 2016 ini untuk 10 dokter dulu, dan dokter-dokter ini akan ditempatkan di desa-desa yang terpencil dan jauh dari jangkauan pusat pelayan kesehatan,” kata politisi gaek ini.
Selain itu, Bupati muda bersahaja ini menambahkan, 10 desa yang akan dijadikan pilot project implementasi program strategis tersebut akan ditentukan setelah pihaknya memperoleh data dari Dinas Kesehatan. Secara teknis, lanjutnya, program itu akan dijalankan oleh dinas terkait dan bekerjasama dengan SKPD lain lebih paham dengan kondisi desa yang butuh pendampingan. “Saya cuma pembuat kebijakan, tetapi persoalan-persoalan teknis kami serahkan kepada SKPD terkait,” ungkapnya.
Bupati Najmul meyakini efektifitas program ini, amat efektif serta efisien sebab menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Ketika para dokter telah berada di desa mereka akan melakukan tindakan-tindakan preventif sesuai sistem operasional prosedur tenaga kesehatan, sehingga diharapakan manfaat dapat dirasakan secara langsung oleh warga masyarakat bumi Tioq Tata Tunaq.
“Program ini saya rasa sangat efektif karena akan langsung bersentuhan dengan masyarakat, dan para dokter ini akan langsung dapat mengambil tindakan pada kondisi yang mendesak, misalnya memberikan rujukan kepada rumah sakit pada saat kondisi pasien sangat kritis,” ulas Bupati pemerhati pendidikan ini.
Satu titik tekan program ‘satu dokter satu desa’ ini murni dihajatkan untuk perwujudan pengabdian dan pengkhidmatannya selaku pemimpin kepada masyarakat. Najmul berharap, seluruh lapisan mendukung program pemerintah daerah dalam rangka mewujudkan kemaslahatan seluruh masyarakat kabupaten Lombok Utara.
djn
Inovasi Ibu Rumah Tangga di Pemenang Timur
Menyulap Sampah Jadi Produk Bermutu
LOMBOK UTARA – lombokjournal.com
Kelompok para perempuan yang terbilang kreatif dan sedikit inovatif ini cukup menginspirasi dengan aktivitas usaha yang mereka geluti. Aktifitas keseharian ibu-ibu rumah tangga ini dalam mengelola usahanya ternyata tidak memerlukan bahan yang mahal. Mereka manfaatkan bahan dari limbah sampah lalu menghasilkan aneka jenis produk menarik nan indah.
Dari sampah jadi produk nan indah
———
Kelompok Aneka Kerajinan di Dusun Karang Baru Desa Pemenang Timur Kecamatan Pemenang Lombok Utara ini, mempunyai anggota 10 orang. Berdiri sejak awal tahun 2012, dan hingga kini masih aktif dalam menjalankan usahanya menyulap limbah sampah menjadi tas, bunga, dompet, keranjang minuman dan alat-alat aksesoris lain yang berwarna-warni.
Terbilang kreatif, karena limbah sampah yang ada dapat mereka ubah jadi barang-barang bermanfaat dan indah merona. Panorama ini jarang kita lihat dan dengar di Lombok Utara yang bermotto bumi Tioq Tata Tunaq. Sampah yang selama ini kita anggap mengganggu dan merusak penglihatan kita, jorok dan juga kotor. Namun, kelompok perempuan bertangan kreatif ini, limbah sampah (bungkus kopi, botol minuman, serta bungkus-bungkus jajanan (snack) justru mendatangkan manfaat besar.
“Semua kerajinan yang kami hasilkan berbahan dari limbah sampah. Untuk mendapatkannya kami cari bersama-sama secara sendiri-sendiri. Terkadang, ketika sulit kami dapatkan, kami membeli dari para pemulung sampah,” ungkap Salamah, Ketua Kelompok Aneka Kerajinan.
Untuk membuat satu unit tas misalnya, cukup membutuhkan bahan dari limbah bungkus kopi disamping benang untuk mengikat sambungan satu bungkus kopi dengan bungkus yang lainnya. Pembuatan untuk satu unit tas saja misalnya tidak butuh waktu yang lama.
Mereka bisa menuntaskan pengerjaan satu unit tas hanya dalam waktu setengah hari. Pun halnya dengan produk lainnya seperti keranjang minuman dibuat dari bekas botol minuman, dompet, dan kembang bunga. Semuanya berbahan dari limbah sampah. Mereka mengerjakannya dalam waktu yang cukup cepat dan diracik oleh sentuhan tangan-tangan kreatif juga produktif.
Sudah lebih 4 tahun kelompok ini berdiri, tapi sayangnya, peralatan untuk membuat produk hingga kini masih memakai alat-alat manual karena belum memiliki alat modern untuk mempercepat proses penganyaman.
“Untuk membuat semua produk kerajinan kami menggunakan alat obeng, gunting, soder dan mesin jahit, sampah-sampah tersebut bisa tersulap jadi barang bermanfaat,” kata perempuan berjilbab ini.
Saat ini hasil kerajinan yang dibuat kelompoknya sudah mulai dipasarkan di pasar UMKM Lombok Utara depan Pasar Tradisional Tanjung. Di pasar ini, semua jenis karya perempuif an-perempuan kreatini dipajang. Tak hanya itu, barang hasil kerajinan mereka juga kerap ditampilkan dalam beberapa kegiatan seremonial pemerintah daerah, kecamatan dan desa. Semisal, pada musrenbang RKPD tahun 2017 di Hotel Bay Marina beberapa waktu lalu, hasil kerajinan mereka dipamerkan dalam ajang tersebut.
Dalam rangka memperluas jangkauan promosi, ibu-ibu rumah tangga ini banyak menitipkan produk mereka di hotel dan restoran yang ada di Kabupaten Lombok Utara. Promosi selain dimasudkan melebarkan jangkauan pangsa pasar, juga diharapkan dapat menyedot daya tarik tamu hotel dan restoran sehingga mereka saban waktu berinisiatif untuk membeli sebagai oleh-oleh ketika balik ke daerah/negara asalnya.
“Kami sangat mendambakan pasar seni yang ada di Gili Trawangan juga dapat kami akses sebagai lokasi memasarkan hasil-hasil kerajinan kami. Harapan tersebut telah kami usulkan kepada pemerintah daerah. Tapi, dari informasi yang kami peroleh, ijin bukan dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten tapi pemerintah provinsi selaku pemegang kuasa di tempat itu. Mudah-mudahan kedepan kami diijinkan menjual produk di lokasi itu,” cetusnya.
Cara lain yang ditempuh untuk memasarkan produk ialah mempromosikannya secara door to door dengan komunikasi tatap muka secara intensif bersama para pengusaha dan para guide yang ada di wilayah Pemenang dan sekitarnya. Cara ini dilakukan agar produk mereka bisa sampai kepada pengunjung.
“ Tidak jarang kami dikunjungi wisatawan langsung di lokasi produksi,” terangnya.
Keuntungan penjualan yang mereka dapat minimal 1 juta rupiah dalam sebulan. Penjualan tampak fantastis ketika musim high season. Mereka tidak mematok harga tetap untuk masing-masing produk, namun, pihak yakin akan adanya kesempatan lain. Menurut mereka, daripada pembeli tawa-menawar dengan harga lebih rendah dari harga standar yang mereka tawarkan.
Kanyataan ini kemudian membuat kelompok ini sadar, ternyata usaha mereka tak terbilang besar seperti produksi-produksi pengusaha besar. Untuk satu unit tas gandeng dijual pada kisaran harga 100 ribu keatas, keranjang minuman untuk ukuran terkecil dijual dengan kisaran 80 ribu, dompet 50 ribu serta bunga kembang 100 ribu.
Dengan usaha yang telah dibangun bersama, Salamah dapat sedikit mengurangi beban ekonomi para ibu rumah tangga yang ikut tergabung dalam kelompok. Setidaknya mereka bisa membantu menstabilkan ekonomi keluarga. Sebelum membentuk kelompok usaha ini, waktu lowong mereka banyak terbuang. Kini, waktu mereka terisi aktivitas yang mendatangkan penghasilan.