Listrik PLN di Gili Gede Untuk Menunjang Pariwisata

Pembangunan kabel listrik bawah laut yang tengah dilakukan PT PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik di Gili Gede, Lombok Barat, juga dilakukan untuk menunjang potensi pulau itu sebagai kawasan pariwisata.

MATARAM.lombokjournal.com —  Potensi pengembangan wisata Gili Gede ini dinilai bagus. “Dengan pembangunan kabel bawah laut ini PLN berupaya mendukung ketersediaan listrik di sana agar perkembangan sektor pariwisata di sana semakin maju,” kata Direktur Bisnis PLN Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara, Machnizon Masri, Rabu (22/3) di Mataram.

Gili Gede yang secara administratif masuk ke dalam wilayah Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, dihuni oleh sekitar 450 Kepala Keluarga (KK) yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan budidaya ikan.

Namun, sudah sejak belasan tahun lalu, pulau di kawasan pantai Selatan Lombok itu menjadi destinasi wisata mancanegara.

Sebagian masyarakat di sana juga membangun homestay sebagai sarana menginap tamu yang didominasi wisatawan asing. Hanya saja, selama ini kebutuhan listrik di pulau tersebut masih dipenuhi secara swadaya oleh masyarakat menggunakan mesin jenset.

Machnizon mengatakan, selain untuk melistriki penduduk Gili Gede, dengan adanya kabel bawah laut ini membuat listrik di Gili Gede sangat andal dan akan cukup untuk melistriki bisnis pariwisata di sana.

“Sehingga investor yang ingin investasi di pulau itu tidak perlu khawatir lagi dengan masalah listrik di Gili Gede,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPT-SP) Provinsi NTB,  H Lalu Gita Aryadi  menyatakan dukungannya kepada PLN untuk membangun kabel bawah laut di Gili Gede.

Gita  menilai, pembangunan kabel laut ini akan meningkatkan pariwisata dan kesejahteraan masyarakat NTB.

“Listrik ini penting untuk percepatan realisasi investasi, sehingga ekonomi masyarakat sekitar bisa meningkat juga, angka kemiskinan berkurang,” kata Gita.

GRA

 




PLN Bangun Kabel Bawah Laut untuk Listrik di Gili Gede, Lombok Barat

PT PLN mulai mengerjakan  pembangunan kabel listrik bawah laut 20 Kilo Volt (KV) untuk mengalirkan listrik ke Gili Gede, sebuah pulau di bagian Selatan pulau Lombok, yang secara administratif masuk ke wilayah Kabupaten Lombok Barat.

MATARAM.lombokjournal.com — Hal ini dilakukan PLN untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan listrik bagi sekitar  450 Kepala Keluarga (KK) yang ada di Gili Gede.

“Kita bangun kabel listrik bawah laut 20 kV sepanjang 2,4 Kilo Meter Sirkit (kms) untuk mengaliri listrik di pulau Gili Gede. Pembangunan ditargetkan selesai pada bulan Desember nanti,” kata Direktur Bisnis PLN Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara, Machnizon Masri, Rabu (22/3) di Mataram.

Ia mengatakan, jika sudah terbangun nantinya maka jaringan listrik di Gili Gede akan terinterkoneksi dengan Sistem Kelistrikan di pulau Lombok.

Machnizon mengatakan, nilai investasi PLN untuk pembangunan kabel bawah laut ke Gili Gede itu mencapai Rp23 Miliar.

“Meski tergolong besar, tapi ini demi kebutuhan, masyarakat harus kita listriki, rasio elektrifikasi harus terus ditingkatkan,” katanya.

Menurut catatan PLN, hingga akhir tahun 2016, rasio elektrifikasi di NTB mencapai 77,68 persen dari target 75,9 persen. Hingga 2019, PLN menargetkan rasio elektrifikasi NTB mencapai 88,5 persen. Meskipun demikian, PLN mengupayakan rasio elektrifikasi telah mencapai 95 persen pada 2019.

GRA




Gempa 6,4 SR Guncang Bali dan NTB

Gempa bumi berkekuatan 6,4 skala richter (SR), Rabu pagi (22/3) mengguncang wilayah Bali dan NTB. Masyarakat di Mataram dan sekitarnya, sempat dibikin panik.

MATARAM.lomkjournal.com — Data BMKG menyebutkan, gempa bumi tektonik terjadi pada pukul 07.10 Wita dengan kekuatan 6,4 SR dengan episenter terletak pada koordinat 8.88 LS dan 115.24 BT, sekitar 23 Km arah Tenggara Kota Denpasar, pada kedalaman 117 km.

Kepala Badan Geofisika Mataram, Agus Riyanto mengatakan, guncangan gempa bumi mencapai skala intensitas cukup kuat yakni III-V MMI. Dampak gempa bumi berupa guncangan kuat dirasakan luas di pulau Bali, antara lain dikota Denpasar, Kuta, Gianyar, Negara, Amlalpura. Guncangan kuat juga terasa di Kota Banyuwangi di pulau Jawa dan Mataram pulau Lombok, juga Sumbawa.

“Guncangannya cukup besar, sehingga di daerah Mataram, Lombok juga sebagian Sumbawa guncangan gempa bumi dirasakan oleh hampir semua orang,” kata Agus, Rabu (22/3).

Menurutnya, banyak warga Mataram dan Lombok yang dilaporkan terkejut dan berhamburan keluar rumah akibat guncangan gempa bumi ini.

Dijelaskan, ditinjau dari kedalamannya, gempa bumi ini merupakan jenis gempa bumi menengah akibat aktivitas subduksi, hasil interaksi Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.

Ia mengatakan, guncangan III-V skala MMI berpotensi merusak bangunan. Hanya saja, hingga kini belum dilaporkan adanya kerusakan.

Agus mengimbau masyarakat agar tetap tenang, dan terus mengikuti arahan BPBD dan BMKG.

“Khusus masyarakat di daerah pesisir Selatan Timur Bali hingga Barat Lombok dihimbau agar tidak terpancing isu karena gempabumi yang terjadi tidak berpotensi tsunami,” katanya.

AYA




Cuci Darah Juga Menjadi Jaminan Kesehatan BPJS

Layanan Hemodialisa atau Cuci Darah dengan BPJS dapat digunakan oleh Peserta BPJS baik yang terdaftar di kelas 1 , kelas 2 atau kelas 3, yang penting dalam status aktif (tidak ada tunggakan) dan mengikuti prosedur berobat.

MATARAM.lombokjournal.com —  BPJS Kesehatan merupakan bentuk gotong royong antar peserta, peserta yang sehat membantu mereka yang sakit. Bayangkan, untuk membayar sekali  cuci darah saja dibutuhkan iuran yang berasal dari 40 orang yang sehat. Dengan catatan, orang tersebut membayar iurannya dengan besaran Rp 25.000.

Dalam satu bulan, jika 1 pasien melakukan cuci darah melalui BPJS minimal 4 kali. Layanan kesehatan cuci darah membutuhkan dana dari 160 orang sehat untuk membayarkan satu pasien cuci darah per bulan.

Karena itu, semua penduduk Indonesia harus mendaftar BPJS Kesehatan dan membayar iuran peserta setiap bulan berdasarkan kelas yang diambil. Tapi kenyataannya masih ada peserta yang tidak membayar iuran (menunggak), atau hanya ingat BPJS ketika sakit.

Pengalaman seorang Ibu dari 3 orang anak yang menjadi peserta BPJS Kesehatan ini, Rolen Br Panjaitan, perlu disimak.  Ia divonis doketer menderita gagal ginjal pada bulan Agustus 2015, sehingga harus menjalani cuci darah 8 (delapan) kali dalam sebulan. Membayangan mahalnya biaya pengobatan rumah sakit, membuat keluarganya putus asa.

Dengan penghasilan suami pas-pasan membuat Rolen Br Panjaitan pasrah, sangat tipis harapannya bisa mendapatkan perawatan hingga sembuh. Biaya cuci darah begitu besar, baru 4 kali cuci darah di rumah sakit dikenakan biaya biaya Rp 8.500.000.

Belum terhitung biaya rawat inap selama seminggu.Kalau ditotal, sedikitnya mencapai Rp 16.000.000.  Keluarganya harus menghutang kiri kanan, dan jumlahnya terus menumpuk, guna membiayai perawatannya.

Singkat cerita, kemudian Rolen mendapat informasi mengenai BPJS Kesehatan. Mulailah keluarganya mendaftarkan Rolen pada BPJS Kesehatan sebagai peserta mandiri dengan hak perawatan kelas III, dengan membayar  iuran Rp 25.500 per bulan.

Semula Rolen mengaku pesimis bisa mendapatkan layanan kesehatan memuaskan dari rumah sakit, sebab ia sering mendapat cerita ada perbedaan layanan yang diberikan kepada pasien BPJS dengan Pasien Umum.

Tapi apa yang terjadi? Ternyata, Rolen merasa puas setelah mendapatkan pelayanan berobat cuci darah dengan BPJS Kesehatan.  Menurutnya, dengan memahami prosedur dan tidak segan bertanya kepada Petugas BPJS Kesehatan, maka manfaat yang diperoleh juga akan optimal.

“Pertama sempat takut akan ditelantarkan karena peserta JKN Mandiri kelas III. Tapi ternyata saya dilayani dengan baik. Semua perawat ramah, petugas BPJS Kesehatan Center-nya juga memberikan informasi dengan ramah.” tuturnya.

Rolen Br Panjaitan, kini tidak lagi dipusingkan biaya pengobatannya. Keluarga besarnya juga merasa tenang karena Rolen masih memiliki harapan sembuh dengan tetap menjalani cuci darah dengan rutin.

Jadwal cuci darah Rolen di Rumah Sakit Vita Insani pada hari Senin dan Kamis masing-masing selama 4 jam. Ia merasa bersyukur, tanpa menjadi peserta BPJS mungkin ia tidak akan bertahan hingga hingga sekarang.

“Keluarga saya juga akan jadi semrawut karena terus menerus terlilit hutang. Kami benar-benar terselamatkan,,” katanya.

Rr (Adv)

SUMBER : Akun Resmi BPJS Kesehatan di Kompasiana




Nilai Rupiah Diprediksi Terjadi Penguatan

Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi terus menguat. Penguatan bagi rupiah yang didukung sentimen yang ada, terutama pergerakan dolar yang masih cenderung melemah

JAKARTA.lombokjournal.com — Penguatan rupiah ini dimunginkan dengan terapresiasinya laju euro dan poundsterling terhadap dolar yang cenderung melaju di zona merah.

Terapresiasinya penguatan Euro, seiring sentimen debat Presiden Prancis yang dilihat pelaku pasar calon Presiden yang mantan Menteri Ekonomi, Macron, berpeluang memenangi pemilihan.

Di sisi lain, pergerakan euro juga terbantukan pergerakan poundsterling yang menguat seiring rilis data-data Inggris yang cukup positif, inflasi dan retail price index mulai naik. Asumsinya, daya beli masyarakatnya meningkat

Para pengamat memprediksi, rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp13.334 hingga Rp13.278 per dolar AS.

Adanya ruang penguatan bagi rupiah seperti diungkapkan para pengamat. Imbas dari pertemuan The Fed mulai mereda, sementara itu pelaku pasar mencermati imbas dari pertemuan G20.  Pertemuan tersebut dinilai tidak adaa hasil yang cukup positif.

Saat ini AS tetap bersikukuh dengan kebijakan proteksionismenya, hal ini dipersepsikan akan menghambat kerja sama perdagangan di antara para anggotanya. Pergerakan dolar cenderung melemah setelah merespons pertemuan tersebut.

Rr




Kapal Pesiar Seabourn Encore, Wisata Setengah Hari di Lombok

Lebih dari 600 orang wisatawan penumpang kapal pesiar MV Seabourn Encore, menghabiskan waktu setengah hari untuk berwisata di Lombok, NTB, Selasa (21/3).

LOMBOK BARAk lombokjournal.com  —  Kapal pesiar itu mengangkut 556 orang wisatawan dan 410 orang crew kapal.  “Data arus penumpang yang turun sekitar 624 orang. Ya, mereka berwisata ke beberapa destinasi di Lombok,” kata General Manager PT Pelindo III Pelabuhan Lembar, Baharuddin, Selasa sore (21/3).

Kapal jenis cruise berbendera Bahamas, itu tiba di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, Selasa pagi sekitar pukul 09.00 Wita, setelah sebelumnya singgah di pulau Komodo, Flores, NTT.

Dari data manifest penumpang kapal, tercatat para wisatawan itu berasal dari beragam negara, namun di dominasi Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.

Baharuddin menjelaskan, para penumpang yang turun diangkut menggunakan bus dan mobil travel yang disediakan travel agent lokal, menuju sejumlah destinasi wisata di Lombok Barat dan pusat souvenir kerajinan Mutiara di Kota Mataram.

“Mereka berkesempatan setengah hari menikmati keindahan destinasi wisata di Lombok. Rute kapalnya memang dari Komodo kemudian singgah di Lombok dan dilanjutkan ke Bali via pelabuhan Benoa,” katanya.

Kapal pesiar MV Seabourn Encore, kemudian meninggalkan pelabuhan Lembar, Selasa malam sekitar pukul 19.30 Wita, menuju pelabuhan Benoa Bali.

Baharuddin mengatakan, kedatangan kapal pesiar MV Seabourn Encore, itu diharapkan memberi dampak positif bagi sektor pariwisata di Lombok dan NTB secara umum.

“Secara langsung terdapat nilai yang didapat oleh mitra dan masyarakat kita, baik mitra Pelindo III Lembar terutama travel agent dan biro perjalanan serta pengusaha lainnya,” kata Baharuddin.

Selain itu, tambahnya, secara tidak langsung akan mempromosikan Lombok dan NTB secara umum ke negara asal para wisatawan, jika kesan baik mereka terima selama berwisata di Lombok.

AYA




Lombok Travel Mart Dimanfaatkan Asosiasi Pelaku Pariwisata Untuk Eksplor Potensi NTB

Penyelenggaraan Lombok Travel Mart dijadikan  momentum para pelaku pariwisata untuk mengeksplor potensi pariwisata yang dimiliki NTB

MATARAM.lombokjournal.com — Assosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) NTB terus berupaya mengeksplor dan mempromosikan potensi wisata di NTB. Salah satunya melalui kegiatan rutin tahunan, Lombok Travel Mart (LTM).

“Lewat LTM kami ingin eksplore NTB, jadi lokasi pun kami gelar berpindah-pindah tiap tahun. Tahun ini merupakan tahun ke empat LTM kami gelar, dan tahun ini kita eksplore kawasan Gili dan Lombok Utara secara umum,” kata Ketua ASPPI NTB, JN Wirajagat.

Dijelaskannya, LTM pertama kali digelar pada 2014 silam dengan mengambil lokasi di Museum Negeri NTB di Mataram. Saat itu ASPPI mengeksplor potensi wisata di kawasan Kota Mataram.

Kemudian LTM II tahun 2015, ASPPI mencoba mengeksplore potensi wisata di kawasan Lombok Barat terutama di kasawan Sekotong dan pulau-pulau di selatan. Pada LTM III, ASPPI mengeksplor keindahan dan potensi wisata di kawasan selatan Lombok Timur, terutama di sekitar Tanjung Ringgit dengan ikon eksotik, pantai Pink.

Lebih lanjut Wirajagat menjelaskan, hal ini dilakukan ASSPI NTB agar para peserta LTM yang sebagian besar merupakan buyers dari luar negeri dan domestik bisa mengenal dan memiliki informasi yang cukup untuk mempromosikan NTB di negara atau daerah mereka.

“Makin banyak buyers terutama travel agent luar negeri yang tahu tentang potensi NTB maka akan semakin bagus, mereka bisa menawarkan paket-paket wisata di negaranya,” kata Wirajagat.

AYA




Lombok Travel Mart di Gili Air Akan Diisi Aksi Bersih-bersih Pantai

Aksi peduli bersih pantai para pelaku pariwisata akan mewarnai penyelenggaraan Lombok Travel Mart (LTM) yang akan berlangsung minggu akhir bulan

MATARAM.lombokjournal.com  — Bukan semata urusan bisnis, gelaran Lombok Travel Mart (LTM) IV yang akan berlangsung di Gili Air, Lombok Utara, 24-26 Maret mendatang, juga akan diisi dengan kegiatan bersih-bersih pantai (beach clean up).

Ketua Assosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Provinsi NTB, JN Wirajagat mengatakan, aksi beach clean up ingin menunjukan bahwa para pelaku pariwisata tidak hanya melulu berpikir soal bisnis semata, tetapi juga peduli pada lingkungan.

“Pesan lainnya adalah kegiatan bersih pantai itu akan mengedukasi masyarakat setempat tentang pentingnya menjaga kebersihan,” kata Wirajagat, di Mataram.

Ia menjelaskan, kegiatan bersih pantai itu akan dilaksanakan usai pertemuan bisnis table top LTM di Hotel Ombak Paradise, Gili Air, Kabupaten Lombok Utara.

Para peserta yang terdiri dari ratusan buyers dan sellers, dipastikan ikut dalam kegiatan tersebut.

BACA : Lombok Travel Mart Dimanfaatkan  Pelaku Pariwisata Untuk Eksplor Potensi NTB

AYA




Amnesti Pajak di NTB dan NTT Capai Rp304,5 Miliar

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Nusa Tenggara mencatat total realisasi uang tebusan amnesty pajak di Provinsi NTB dan NTT mencapai Rp304,5 Miliar, hingga menjelang akhir program amnesty pajak.

MATARAM.lombokjournal.com —   Menjelang akhir amnesti pajak, hingga pertengahan Maret, DJP membukukan total realisasi uang tebusan amnesti pajak sebesar Rp304,5 untuk NTB dan NTB.

“Total wajib pajak yang ikut amnesty itu sekitar 11.634 wajib pajak untuk NTB dan NTT,” kata Kepala DJP Nusa Tenggara, Suparno, dalam jumpa pers Selasa (21/3) di Mataram.

Dirincikannya, di NTB program amnesty pajak membukukan realisasi sebesar Rp159,38 Miliar dengan melibatkan sekitar 5.479 wajib pajak.  Sedang di NTT membukukan sebesar Rp145,16 Miliar, melibatkan sekitar 6.155 wajib pajak.

Suparno mengatakan, dari data tersebut bisa dilihat sisi peningkatan animo dan kesadaran wajib pajak di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di NTB dan NTT untuk turut memanfaatkan program Amnesty Pajak.

Di NTB, sekitar Rp48,91 Miliar dari total realiasi didapat dari sekitar 3.286 wajib pajak sektor UMKM. Sementara di NTT, sekitar Rp47,63 Miliar dari total realisasi didapat dari sekitar 4.210 wajib pajak di sektor UMKM.

PihakKanwil DJP Nusa Tenggara menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya berbagai pihak yang telah memberikan dukungan dan demi keberhasilan program amnesty pajak.

“Untuk yang belum memanfaatkan masih ada waktu sampai 31 Maret. Kami juga terus mengimbau agar ini dimanfaatkan,” katanya.

Diharapkannya,  setelah program amnesti pajak ini, setiap  wajib pajak dapat meningkatkan komitmen untuk menjadi wajib pajak yang patuh. DJP Nusa Tenggara akan fokus dan konsisten dalam menjalankan Pasal 18 Undang-undang Pengampunan Pajak.

Bila ditemukan data dan atau informasi Harta Wajib Pajak sejak tanggal 1 Januari 1985 sampai dengan 31 Desember 2015 dan belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan, harta dimaksud dianggap sebagai tambahan penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajb Pajak pada saat ditemukannya.

“Dan akan dikenai pajak dan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan,” tegas Suparno..

Era keterbukaan informasi pajak juga akan mulai diberlakukan dengan dilaksanakannya Automatic Exchange of Information (AEOl), dan diikuti dengan revisi UU Perbankan mengenai keterbukaan data perpajakan paling lambat tahun 2018.

“Sistem ini menjadikan Wajib Pajak tidak bisa lagi menyembunyikan asetnya,” katanya.

AYA




Tak Bingung Bayar Biaya Kesehatan, Setelah Jadi Peserta BPJS Kesehatan

Akhmad Mukhibun, sebelum menikah pernah bekerja  di Korea dan Malaysia. Setelah beristri ia buka usaha genteng, dan istrinya jualan makanan. Seiring usia yang makin bertambah, ia pun mulai sering sakit-sakitan. “Saya bersyukur ada program jaminan kesehatan BPJS. Ini bener-bener membantu. Kalau tidak ada BPJS ya enggak tahu lagi harus kemana cari uang untuk berobat,” katanya.

lombokjournal.com

Akhmad Mukhibun, Peserta BPJS KEsehatan

Menderita sakit memang “cobaan” yang harus diterima dengan ihlas. Namun, meski demikian tetap membutuhkan biaya, apalagi harus menjalani pengobatan dalam waktu lama.

Ini pengalaman Akhmad Mukhibun. Bermula tahun 2010, ia hanya merasakan sakit  perut, seperti sakit maag.  Kemudian, ia pergi ke Rumah Sakit, ternyata hasil diagnosa dokter ia sakit usus buntu, dan ia harus segera dioperasi.

“Saya operasi usus buntu, biayanya sekitar Rp3juta-an,” cerita Akhmad. Dan operasi itu pun dijalaninya. Tapi tidak beres cukup sampai disitu.  Setelah operasi usus buntu, Akhmad masih merasakan tidak enak di bagian perutnya.

Setelah itu ia hanya berobat jalan, tapi tidak sembuh-sembuh. Setelah diperiksa beberapa kali, lalu dirontgen, ternyata Akhmad mengalami radang usus besar. Ia harus menjalani perawatan beberapa hari, biayanya sekitar Rp6 juta. Dengan kondisi ekonomi pas-pasan, ia tak membayangkan dari mana ia harus memperoleh uang sebesar itu.

Setelah operasi, biaya yang harus dikeluarkannya pun terus mengalir. Obatnya ada tujuh macam, yang harus diminum tiap hari selama enam bulan. Harga obatnya sekali tebus Rp300.000 sampai Rp400.000. Obatnya ini untuk satu minggu saja.

“Jadi tiap minggu saya harus kontrol ke dokter,” cerita Akhmad. Katanya memang masih rawat jalan, dan dalam pengawasan dokter.

Untung Jadi Peserta BPJS Kesehatan.

Bagaimana Akhmad Mukhibun membiayai pengobatannya, “Ya, untung saya sudah jadi peserta BPJS Kesehatan,” jelas Akhmad.

Kalau belum menjadi peserta BPJS, Akhmad mengaku enggak tahu harus cari uang kemana untuk berobat. Apalagi ia tidak bisa bekerja berat, karena kondisi kesehatannya sedang tidak normal.

Akhmad menjelaskan, sebagai peserta BPJS Kesehatan Kelas III ia harus membayar iuran premi Rp25.500 tiap bulan, yang disetorkannya di Bank BRI.  Selama menjadi peserta BPJS Kesehatan sudah tiga kali keluar masuk rumah sakit, dirawat sekitar 10 hari.

Yang terakhir ini, ia dirawat karena HB (haemoglobin) 2,2, jadi Akhmad harus transfusi darah, darahnya habis lima kantong. “Sekarang, masih lemes,” katanya, tapi kesehatannya main membaik.

Tapi ia harus makan semua makanan yang direbus, minum obat teratur, istirahat cukup, belum boleh bekerja yang berat, dan tidak boleh merokok. Intinya, menjalani hidup bersih dan sehat. Meurutnya, ini pelajaran bagi yang belum sakit. Penting menjaga pola makan dan kebiasaan hidup bersih dan sehat.

Bagaimana pelayanan kesehatan yang diberikan setelah menjadi peserta BPJS Kesehatan?

Menurut  Akhmad, pelayanan kesehatan cukup bagus. Ia  dirawat di kelas 3, sesuai iuran yang dibayarnya yaitu Rp25.500 pervbulan. Ia dirawat di ruangan kelas 3 berisi 6 tempat tidur,  antar tempat tidur disekat oleh pembatas korden. “Saya tidak pernah dipersulit. Saya ditangani dokter spesialis penyakit dalam,” ungkapnya.

Akhmad mengungkapkan rasa syukurnya, hadirnya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memberi harapan menanggulangi kesehatan masyarakat Indonesia.

Harapannya, ia bisa mengajak anak isterinya menjadi peserta BPJS Kesehatan. Karena kondisinya serba pas-pasan, sementara ia baru bisa membayar iuran untuk dirinya sendiri. Tapi kalau ia sudah bisa bekerja normal, menjadi peserta BPJS Kesehatan akan menjadi prioritasnya,

“Jaminan kesehatan itu penting. Saya menyarankan teman-teman yang belum jadi peserta BPJS Kesehatan dan mampu bayar iuran, segera saja mendaftar jadi peserta. Bener loh, repot banget kalau sudah sakit seperti saya ini. Saya bukan pegawai (karyawan) jadi tidak punya jaminan apa-apa,” katanya.

Pur (Adv)

 

Sumber : Menyisihkan Rp25 ribu, Manfaatnya Jutaan Rupiah