Masyarakat Mau Lapor Apa Saja, Dishub NTB Siapkan Aplikasi Pelor Mas

Aplikasi “Pelor Mas” Atau Pengaduan Online Transportasi Berbasis Masyarakat Dishub NTB Siapkan Aplikasi Pengaduan Masyarakat

MATARAM.lombokjournal.com —  Bayu Windya, Kepala Dinas Perhubungan NTB mengatakan, selain mempermudah masyarakat menyampaikan pengaduan terkait transportasi di NTB, masyarakat juga bisa mengadukan apa saja.

Bayu Windya, Kepala Dinas Perhubungan NTB (foto: AYA)

“Pengaduan apa saja,” ujarnya di Mataram, Rabu (5/7).

Aplikasi ini sudah dapat diunduh pada playstore, agar masyarakat bisa melaporkan langsung, tanpa harus repot datang ke kantor Dishub NTB.  Tak hanya soal aduan, juga banyak konten tentang perhubungan seperti jadwal penerbangan dan lainnya.

“Jadwal kapal juga akan kita tambah dan sekarang sedang di update,” sambung Bayu.

Bayu minta semua pihak yang terlibat dalam sistem transportasi di NTB bisa menggunakan aplikasi ini sebagai acuan. Pasalnya, aplikasi ini memuat  jadwal penerbangan dan keberangkatan kapal secara real time.  Ini sangat membantu masyarakat mendapatkan informasi dan menyampaikan keluhannya.

“Sopir Blue Bird saja sudah pakai aplikasi ini,” akunya.

Namun terkait keberangkatan bus, pihak Dishub masih kesulitan mendapatkan informasi jadwal. Karena jadwal bus yang berangkat dan tiba saat ini masih belum bisa diprediksi.

Meski belum launching resmi, namun aplikasi cukup diminati masyarakat NTB. Karena data dalam aplikasi tersebut akurat. Seperti jadwal penerbangan, aplikasi tersebut terhubung langsung di lapangan.

“Jika diaplikasi mengatakan penerbangan batal, saya sudah coba hubungi dan memang seperti itu,” pungkasnya.

Aduan Lainnya

Terkait aduan lainnya, masyarakat bisa menggunakan aplikasi ini. Pengaduan lainnya akan dilanjutkan Dishub pada instansi yang bersangkutan.

“Misalnya soal jalan rusak, nanti akan kita forward ke Dinas PUPR,” jelasnya.

Lebih jauh lagi terkait pengaduan lainnya, masyarakat juga bisa mengetahui jika pengaduan sudah ditindak lanjut atau belum. Dalam aplikasi tersebut Dishub juga menyertakan track record dari instansi terkait.

“Jika jalannya sudah diperbaiki akan difoto oleh Dinas PUPR lalu dikirim melalui aplikasi tersebut. Ini akan sangat membantu masyarakat,” tandasnya.

AYA

 




Bulan Mei, Tingkat Hunian Hotel Turun Tapi lama Menginap Naik

Bulan Mei, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di NTB mengalami penurunan dibanding bulan April sebelumnnya

Mataram.lombokjournal.com —  Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat,  tingkat penghunian kamar mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan April 2017. Hal ini disampaikan Kepala BPS NTB Endang Tri Wahyuningsih saat jumpa pers di BPS di Mataram,  Senin (3/7).

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada bulan Mei 2017, sedikit merosot. TPK bulan April 2017 tercatat sebesar 51,69 persen,   pada bulan Mei 2017 dengan TPK 50,83 persen, berarti merosot 0,86 poin.

“Jika dibandingkan dengan TPK bulan Mei 2016 sebesar 50,99 persen, berarti mengalami penurunan sebesar 0,16 poin,” ujarnya.

Sebaiknya, rata-rata lama menginap (RLM) tamu hotel bintang pada bulan Mei 2017 tercatat 2,24, berarti lebih tinggi 0,06 hari dibandingkan RLM bulan April 2017 sebesar 2,18 hari.

“Jika dibandingkan RLM bulan Mei 2016 terjadi kenaikan 0,44 hari,” kata Endang.

Namun dipaparkan, jumlah tamu yang menginap pada hotel bintang bulan Mei  2017 tercatat 80.846 orang. Berarti menurun 3,88 persen dibanding tamu bulan April 2017 sebanyak 84.105 orang.

Dibandingkan bulan Mei tahun 2016 tamu menginap sebanyak 75.393 orang, berarti tahun inni mengalami kenaikan sebesar 7,23 persen.

Non Bintang

Sementara itu, TPK hotel non bintang pada bulan Mei 2017 tercatat 25,43 persen, turun sebesar 0,72 poin dibandingkan dengan TPK bulan April 2017 yang tercatat sebesar 26,15 persen.

Jika dibandingkan dengan TPK bulan Mei 2016 yang sebesar  32,94 persen, turun 7,51 poin.

Rata-rata lama menginap (RLM) hotel non bintang pada bulan Mei 2017 hanya 1,90 hari. Ini naik 0,06 hari dibandingkan dengan TPK bulan April 2017 sebesar 1,84 hari.

“Tapi jika dibandingkan RLM bulan Mei tahun 2016 yang tercatat 1,97 hari, tahun inni menurun sebesar 0,07 hari,” kata Endang.

AYA

 




Inflasi NTB Bulan Juni Di Atas Angka Nasional

Bulan Juni  2017 NTB mengalami inflasi sebesar 0,58 persen

MATARAM.lombokjournal.com — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat, bulan Juni 2017 NTB mengalami inflasi sebesar 0,58 persen, angka inflasi ini di atas angka inflasi nasional yang tercatat 0,69 persen.

“Terjadi Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 127,25 pada bulan Mei 2017 menjadi 127,99 pada bulan Juni 2017,” kata Kepala BPS NTB Endang Tri Wahyuningsih di kantor di BPS di Mataram, Senin (3/7).

Dikatakannnya, Kota Mataram mengalami inflasi sebesar 0,47 persen,, dan kota Bima sebesar 0,98 persen. “Mataram mengalami inflasi lebih kecil dari kota Bima,” jelasnya.

Inflasi terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan dengan kenaikan indeks kelompok sandang, makanan jadi, minuman ,Rokok , transport, kesehatan, kelompok perumahan gas, air , listrik  dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga.

Menurut Endang, komoditas terbesar penyumbang inflasi adalah, bawang merah, angkutan udara, nasi dengan lauk, tongkol dan tarif listrik.

“Sementara komoditas terbesar menyumbang inflasi antara lain, bawang putih, cabai rawit, daging ayam ras, tomat, nasi dengan lauk , tarif listrik , daging sapi,  sayur dan telepon seluler,” paparnya

Laju Inflasi NTB tahun kalender Juni 2017 sebesar 2,19 persen, lebh tinggi dibandingkan inflasi tahun kalender Juni 2016 sebesar 1,42 persen. Begitu juga dengan laju inflasi “tahun ke tahun” Juni 2017 sebesar 3,38 persen, lebih rendah dibandingkan dengan laju inflasi “tahun ke tahun” di bulan Juni 2016 sebesar 4,38 persen.

Dari 82 kota yang menghitung IHK, tercatat 79 kota mengalami inflasi dan 3 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Tual sebesar 4,48 persen di ikuti kota Kendari 3,58 persen.

Sedangkan inflasi terendah terjadi di kota Merauke sebesar 0,12 persen di ikuti kota Pekanbaru sebesar 0,15 persen.

“Deflasi terbesar terjadi di kota Singaraja sebesar 0,64 persen dan deflasi terkecil terjadi di kota Denpasar sebesar 0,01 persen,” tutupnya.

AYA




Implementasikan al-Faidzin Untuk Raih keberhasilan

Aparatur Sipil Negara (ASN) Lingkup Pemerintah Provinsi NTB Diajak  terapkan makna al-Faidzin, baik di tempat kerja maupun dalam  keseharian

MATARAM.lombokjournal.com – Ajakan itu disampaikan Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB), di hari pertama masuk kerja setelah libur panjang pasca hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriyah.  TGB memberikan pengarahan pada Upacara Paripurna NTB Gemilang yang dilanjutkan kegiatan Halal Bi Halal, hari Senin (3/7).

Al-Fa’idzin menurut gubernur,  bermakna sebagai keberhasilan.  Maka, meraih keberhasilan ada beberapa syarat dan prasyarat yang harus dipenuhi.

Pertama, harus fokus, yakni mengkonsentrasikan serta mencurahkan tenaga, pikiran dan ilmu untuk mengerjakan kebaikan.

“Seraya meningggalkan hal hal yang tidak baik,” kata TGB di hadapan seluruh ASN di lingkup provinsi yang dihadiri Wakil Gubernur, H. Muh. Amin, SH. M. Si, Sekretaris Daerah, Ir. H. Rosiady Sayuti, Ph. D beserta  seluruh pejabat Struktural dan ASN lingkup Pemerintah Provinsi NTB di Lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur NTB di Mataram, Senin (03/07/2017).

Syarat kedua, keberhasilan bisa dicapai dengan disiplin.  “Tingkat kedisiplinan ASN Provinsi NTB  berdasarkan data absensi kehadiran masuk dan pulang kerja, dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan,” kata TGB.

Namun diingatkan, kedisiplinan tersebut selayaknya  tidak hanya diukur dengan angka dan data kehadiran di tempat kerja. Tapi juga pengaruhnya terhadap keberhasilan kerja.

Menurut TGB, kehadiran diri ASN harus berpengaruh baik bagi kelangsungan pekerjaan yang ditugaskan.  “Sehingga, proses pencapaian target pembangunan berjalan baik dan lancer,” katanya.

Momen Apel Paripurna itu,  juga dimanfaatkan  gubernur  untuk menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh ASN yang hadir. Sebab menurut TGB, bermaaf- maafan merupakan sesuatu yang perlu, karena selama berinteraksi dan memimpin daerah tentu terdapat hal-hal yang kurang sesuai. Bermaafan juga memiliki makna mendukung segala proses yang saat ini berlangsung. Sehingga keberhasilan dan kesuksesan dapat diraih.

TGB juga mengajak seluruh ASN, khususnya yang beragama Islam, menerapkan seluruh pengalaman baik yang diperoleh di bulan Ramadhan dalam kehidupan. Sebab, kebaikan selama Ramdhan akan memberikan dampak baik bagi pekerjaan dan kehidupan sosial.

“Saya mengajak semua menunjukkan hal-hal yang produktif, “ ajak TGB.  ASN diajak mncurahkan sumber daya yang dimiliki, baik pemikiran, tenaga, ilmu, serta  apa pun yang DImiliki untuk menuntaskan tugas bersama.

AYA.

 




MOU Mengawal Isu Pendidikan dan Kesehatan

Pendandatangan MoU untuk mengawal  isu  pendidikan sekaligus isu kesehatan dilakukkan antara IKIP Mataram dan Endri’s Foundation (EF) di kampus IKIP Mataram

MATARAM. Lombokjournal.com —  Menurut Endri, yang mewakili pihak EF mengatakan, pendandatanganan MoU tersebut, selain menguatkan silaturahmi antara EF dan IKIP Mataram, juga merupakan bagian kepedulian merespon masalah pendidikan dan kesehatan.

“Diharapkan kami bisa saling mengisi,” kata Endri, usai penandatangan MoU kampus IKIP mataram, Senin (3/7).

MOU dintandatangani Wakil Rektor I Bidang Akademik IKKIP Mataram, DR. Janaludin, MPD mewakili IKIP Mataram dan Endri Susanto dari EF atau Yayasan Endri’s.  Penandatanganan itu disaksikan Sekertaris EF, Adam Tarpiin bersama Humas IKIP MATARAM . Ismail Marzuki SH. MH. serta Kepala BAAK IKIP MATARAM.

“Kia berharap Yayasan Endris bisa menjadi tempat pendaftaran mahasiswa baru IKIP MATARAM,” ujjar Endri.

Gilang

 




Polisi Kembali Jadi Serangan Teror

Lagi-lagi Polisi Jadi Incaran Serangan Teroris. Setelah serangan Markas Polisi Daerah Sumatera Utara di Medan diserang dua teroris tepat hari raya idhul Fitri, Minggu (25/6) dini hari,  aksi teror kembali terjadi di lingkungan Mabes Polri.

Irjen Pol Setyo Wasisto

lombokjournal.com —

Seorang pria yang tak dikenal menyerang dua anggota Brimob dengan pisau di Masjid Falatehan, Jakarta Selatan, Jumat (30/6), usai sholat Isya sekitar pukul 19.40 wib. Satu anggota Brimob luka di bagian leher sedang lainnya di bagian bawah telinga.

Anggota Brimob yang tengah bertugas melakukan tugas kemanusiaan pengamanan lebaran itu, sebelumnya tak menduga mendapat serangan laki-laki yang berteriak “togud dan kafir”.  Dua anggota Brimob yang mendapat serangan itu saat ini sudah dirawat di RS Pertamina.

Usai melakukan serangan, pelaku mengancam jemaah yang lain menggunakan pisau. Pelaku sempat lari dari kawasan mesjid menuju ke arah terminal Blok M sekitar 200 meter dari tempat kejadian.

Namun kembali lagi sambil menantang anggota Brimob lainnya di pos jaga. Karena tak mengindahkan tembakan peringatan, akhirnya pelaku diluimpuhkan dengan tembakan.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto Kadiv menjelaskan, saat ini pihak kepolisian sedang melakukan identifikasi  pelaku.  Identifikasi itu bisa dilakukan dengan otopsi maupun memanggil keluarga korban.

Meski sudah ditemukan KTP pelaku atas nama Myd, namun belum bisa dipastikan tempat tinggal pelaku. “Kadang-kadang alamat tidak sesuai dengan KTP-nya,” kata Wasisto, Jum’at malam.

Saat ini anggota Brimob sedang melakukan aksi kemanusiaan pengamanan lebaran 2017. Waktu masuk Isya beberapa anggota Brimob berjamaah di mesjid, sementara anggota lainnya tetap siaga.

Dua anggota Brimob yang mendapat serangan masing-masing, Ajun Komisaris Dede Suhatmi dan Brigadir Satu Syaiful Bakhtiar sudah dirawat di Rs Pusat Pertamina.  Sedang pelaku diduga tewas di tempat.

Rr




Puluhan Ribu Pemudik Lebaran, Manfaatkan Kemudahan Pelayanan BPJS Kesehatan

Kemudahan layanan kesehatan selama mudik Idhul Fitri bagi peserta BPJS Kesehatan, dimanfaatkan puluhan ribu pemudik  

lombokjournal.com —

Selama musim mudik lebaran Idhul Fitri 1438 Hijriyah, kemudahan layanan kesehatan yang dilaksanakan BPJS Kesehatan sejak 19 Juni hingga 2 Juli 2017,  melayani 91.005 kasus kesehatan bagi pemudik.

Pemudik yang butuh layanan kesehatan, baik emergency atau non emergency bisa langsung ke rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Layanan kesehatan khusus lebaran itu memberi kenyamanan pemudik, selama dalam perjalanan hingga sampai tempat tujuan.

Jumlah layanan ini terdiri dari 87.122 kunjungan di Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) seperti klinik, puskesmas hingga dokter pribari serta 3.883 kasus rawat inap di rumah sakit.

Di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) seperti Rumah Sakit dan Klinik Utama, terdapat 105.860 kunjungan/kasus, yaitu terdiri dari 60.635 kunjungan di Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) dan 45.225 kasus di Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL).

Kasus-kasus kesehatan pada masa mudik lebaran, sebagian besar permasalahan kesehatan radang tenggorokan, demam, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan gastro enteritis serta berbagai gangguan pencernaan seperti diare, maag, gangguan lambung, dan nyeri perut.

Selain itu, juga terdapat pelayanan atas kasus-kasus penyakit kronis rutin seperti stroke, jantung, hipertensi dan hemodialisa yang ditangani dengan baik.

Tidak seperti layanan biasanya, kemudahan yang diberikan bagi pemudik tidak perlu lagi faskes tingkat pertama karena pasti pemudik faskesnya ada di tempat awal berangkat.

“Pemudik bisa langsung ke rumah sakit mitra BPJS Kesehatan. Yang penting peserta bisa menunjukkan kartu kepesertaan BPJS,” kata Kepala BPJS Kesehatan Cabang  Mataram, dr Muhammad Ali, Jum’at (30/6).

Bisa dikatakan layanan khusus kesehatan selama periode mudik itu berlangsung sukses. Sebab kemudahan itu dirasakan pemudik, karena bisa memanfaatkan apikasi BPJS Kesehatan unruk melakukan konsultasi, mengetahui alamat fasilitas kesehatan hingga alamat kantor BPJS Kesehatan se Indonesia.

Di luar masa mudik Lebaran, BPJS Kesehatan menjamin pelayanan kesehatan kasus kegawatdaruratan baik di fasilitas kesehatan yang bekerja sama maupun yang tidak bekerja sama. Ini merupakan wujud kepedulian BPJS Kesehatan terhadap kenyamanan dan kepuasan peserta.

“Layanan kesehatan itu tidak diperbolehkan memungut biaya,” kata Muhammad Ali.

Pihak BPJS kesehatan mengapresiasi pada seluruh fasilitas kesehatan termasuk tenaga medis dan paramedis baik di FKTP maupun di FKRTL, yang telah melayani peserta JKN-KIS khususnya pada masa mudik lebaran.

Rr

 




Saat Silaturahmi, TGB Puji Kinerja Pembangunan Lombok Tengah

Saat menerima kunjungan silaturahmi dari jajaran Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Pemkab Loteng) di Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriyah, Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang akrab disapa TGB menilai baik kinerja pembangunan Loteng

MATARAM.lombokjournal.com —  Penilaian itu disampaikan TGB saat silaturahmi Pemkab Loteng yang dihadiri Bupati Loteng, HM Suhaili FT, SH, dan Wakil Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri,  di rumah dinas Gubernur NTB di Mataram, Jum’at, (30/6).

“Saya melihat Lombok Tengah sebagai kabupaten yang menunjukkan kinerja yang baik dalam membangun NTB,” ujar TGB.

Silaturahmi yang dihadiri Forkopinda dan Para Kepala SKPD lingkup Pemkab Loteng, disebut TGB untuk penguatan hubungan kerjasama dengan Pemerintah Provinsi NTB. Gubernur mengucapkan terimakasih atas kedatangan rombongan pemkab Loteng yang berkenan silaturahmi ke Provinsi NTB.

“Saya berharap kunjungan seperti ini bisa ditiru daerah lain. Apalagi saat ini bertepatan dengan bulan Syawal, jadi suasana keakraban lebih terasa dan lebih efektif,” ujar TGB.

Pada saat itu, TGB mengajak segenap Jajaran Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah untuk terus memupuk semangat tinggi dalam membangun daerah.

“Kalau kita punya semangat yang tinggi dalam membangun daerah pasti akan terlihat hasilnya,” ucap TGB dalam sambutannya.

Mengakhiri  sambutannya, TGB berharap, agar semangat dan nilai-nilai yang terkandung dalam berpuasa bisa terus diterapkan dalam membangun NTB.

AYA

 

 




TGB Blusukan Ke Kampung-kampung, Silaturahmi Dengan Warga Pancor

Usai shalat maghrib di Masjid Attaqwa Pancor, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr.TGH. M. Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) berjalan kaki menemui warga di perkampungan Pancor, Lombok Timur

Ibu-ibu di perkampungan Pancor berebut selfi bersama TGB

MATARAM.lombokjournal.com —  Silaturahmi mendadak TGB menemui warga itu, Kamis (29/6), sontak membuat warga Pancor kaget. Kepala Biro Humas dan Protokol, Irnadi Kusuma melalui release yag dikirim ke media menjelaskan, warga tumpah ruah  keluar rumah memadati gang-gang perkampunngan padat penduduk.

“Warga memanfaatkan momen itu untuk selfi bersama TGB, mengabadikan momen  silaturahmi bersama tokoh idamannya dengan ponselya masing-masing,” jelas Irnadi.

TGB mengawali silaturahmi berjalan kaki dari masjid menemui warga dari Kampung jorong,  dan Kampung Barmi ke arah Timur.  Safari jalan kaki keliling kampung di Pancor itu semata-mata untuk silaturahmi  dan berhalal bil halal dengan warga.

“Khususnnya yang belum sempat menemuuinya saat open house di rumah dinas di Mataram maupun di kediaman pribadinya di Gelang, Pancor,” kata irnadi.

Aksi jalan kaki keliling kampung  dilakukan TGB, setelah sehari sebelumnya dengan didampingi istrinya,  Hj. Erica bersafari keliling mengunjungi rumah para tokoh dan sesepuh NTB di Kota Mataram. Kunjungan ke rumah sesepuh itu sebagi wujud rasa hormat TGB kepada  sesepuh  masyarakat NTB.

Usai berkeliling dari kampung ke kampung, Gubernur kembali ke Masjid Attaqwa Pancor untuk menunaikan sholat Isya.

Pancor selain merupakan kampung kelahiran TGB.  Di kota kelahirannya ini TGB mengenyam pendidikan pesantren di Madrasah Tsnawiyah hingga Madrasah Aliyah. Kemudian melanjutkan ke Ma’had Darul Qur’an wal hadits sebelum bertolak menempuh studi di Universitas Al Azhar Cairo Mesir.

AYA




Merayakan Lebaran Topat, Jangan Lupa Pesan Orang Tua

Hanya mereka yang berpuasa, merasakan makna hari raya (lebaran) yakni mencapai kehidupan yang fitri. Sebulan puasa di bulan Ramadhan, akan merasakan makna Idhul Fitri. Setelah itu, sepekan berpuasa di bulan Syawal maka pada tanggal 8 Syawal kalender Hjriyah, akan menemukan kebahagiaan dalam perayaan Lebaran Topat, Minggu (2/7) mendatang.

Rame-rame bersantap ketupat di pantai (foto: IST)

MATARAM.lombokjournal.com –

Lebaran Topat mendapat tempat istimewa bagi masyarakat Sasak (Lombok). Mengapa demikian?  Masyarakat Sasak menyatakan rasa syukur kepada Allah SWT (Orang tua Sasak menyebutnya Neneq Kaji Saq Kuasa).  Kemeriahan lebaran Topat hanya terjadi di Lombok.

Tentang simbol topat atau ketupat, menurut salah seorang tetua budaya Sasak, Lalu Anggawa Nuraksi,  konon para wali dulu saat berdakwah mensyiarkan agama di pelosok Lombok selalu berbekal ketupat.

Namun ada yang mengatakan, ketupat berbentuk segi empat sebagai menu makan utamanya merupakan khasanah kearifan lokal untuk mengingatkan asal muasal manusia. Ketupat segi empat menunjukkan bahwa manusia terdiri dari air, tanah, api dan angin.

Di beberapa tempat di Lombok, orang tua atau sesepuh budaya atau adat menyebut Lebaran Idhul Fitri dan Lebaran Topat itu berpasangan. Idhul Fitri dikatakan sebagai  Lebaran Mame (laki-laki/pria), sedang Lebaran Topat disebut sebagai Lebaran Nine (wanita/perempuan).  Mungkin, yang terakir disebut lebaran Nine karena pada puasa bulan Syawal ini  para wanita berkesempatan membayar beberapa puasanya yang batal selama puasa wajib di bulan Ramadhan. Entahlah.

Mestinya, perayaan Lebaran Topat dilakukan mereka yang berpuasa Syawal, selama sepekan pascaIdhul Fitri.  Tapi tidak, semua bisa merayakannya, berkumpul bersama menyantap topat atau ketupat dengan menu khas Sasak seperti opor, urap-urap, dan panganan tradisional.

Dan secara tradisional, inti Lebaran Topat ungkapan rasa syukur yang dinyatakan dengan rasa hormatnya pada para wali penyebar Islam. Karena itu, ritual penting dalam lebaran ini adalah berziarah ke makam-makan keramat, atau kubur orang-orang suci yang berjasa mensyiarkan Islam sehingga masyarakat Lombok dikaruniahi keimanan dalam Islam.

Dan disitulah tampak nilai budaya atau kultural Lebaran Topat, sebagai ekspresi keislaman masyarakat Sasak. Di Kota Mataram, makam-makam yang biasa diziarahi masyarakat, yaitu Makam Bintaro di Ampenan, Makam Loang Baloq di Tanjung Karang, atau Makam Batu Layar (Lombok Barat).

Tiap Lebaran Ketupat, Makam Loang Baloq yang berseberangan jalan dengan Pantai Tanjung Karang, Mapak, sejak pagi penuh sesak oleh para peziarah dari berbagai tempat.  Para peziarah itu berdoa, berebutan mencuci muka dan kepala dengan air di atas makam yang dianggap keramat. Demikian pula yang terjadi di Makam Bintaro dan di Batu Layar.

Di tempat lain, seperti di Lombok Tengah, masyarakat merayakannya dengan berziarah ke makam-makam keramat, yakni peristirahatan terakhir para wali yang berjasa berdakwah dan mensyiarkan Islam.

Ritual Pariwisata

Aspek sosial perayaan Lebaran Topat adalah rekreasi bersama keluarga dan handai taulan ke tempat atau obyek wisata. Tempat favorit adalah pantai. Tak heran kalau saat Lebaran Topat, pantai tertentu menjadi ramai pengunjung. Mereka bergerombol membawa bekal ketupat dan penganan tradisional lainnya untuk bersantap bersama-sama.

Pantai Senggigi di Lombok Barat termasuk paling favorit didatangi muda mudi, baik yang datang serndiri maupun bersama pasangannya. Polisi akan sibuk mengatur lalu lintas kendaraan yang datang maupun meninggalkan Senggigi..

Selain itu, seiring gencarnya promosi Lombok sebagai destinasi wisata, maka Lebaran Topat pun dijadikan salah satu event wisata untuk menarik kunjungan wisatawan.  “Nuansa pariwisatanya lebih menonjol dari nuansa budaya maupun agamanya,” kata Anggawa.

Lebaran Topat sudah menjadi produk wisata. Pelaksanaan Lebaran Topat terkesan kehilangan roh budaya maupun religinya.

Tapi bagaimana pun, waktu terus berjalan dan berubah. Semula perayaan Lebaran Topat diisi dengan mengunjungi makam-makam para tokoh agama dan penyebar agama Islam di Lombok. Orang tua di Lombok dulu mengunjungi makam-makam para wali, tokoh penyebar agama Islam seperti makam Bintaro, makam Nyatuq, makam Selaparang dan lainnya.

Bolehlah muda mudi bergembira. Bolehlah pemerintah atau pelaku pariwisata mennjadikan Lebaran Topat sebagai produk wisata. Tapi ingat pesan orang tua, Lebaran Topat sesungguhnya momentum menumbuh suburkan syiar agama. Agama itu menyempurnakan tradisi. Bagi masyarakat sasak, tradisi mencerminkan nilai-nilai kebajikan agama.

Kata orang tua, Lebaran Topat dijadikan saat introspeksi mengenal kembali jati dirinya, seperti halnya seseorang yang menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Dendek ipuh panthok gong (tak usah segan memukul/membunyikan gong),”  kata pepatah Sasak yang mengingatkan manusia agar mengoreksi diri.

Rr