Cuaca Buruk, Pelabuhan di NTB Berlakukan Sistem Jalur Buka Tutup

Sistem jalur buka tutup hendaknya diberlakukan di semua pelabuhan di NTB

MATARAM.lombokjournal.com – Himbauan itu disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTB, Lalu Bayu Windia kepada pelabuhan yang ada di NTB yakni pelabuhan Kayangan, pelabuhan Lembardan pelabuhan Pemenang ke tiga gili, terkait cuaca buruk berupa angin kencang yang beresiko bagi penyeberangan laut.

“Kita tidak mau mengambil resiko. Lebih baik tidak berangkat daripada berangkat tapi tidak sampai tujuan,” tegas Lalu Bayu di Mataram, Kamis (3/8)

Samapai tadi malam pihaknya sudah berkoordinasi dengan pelabuhan Padang Bai terkait dibetlakukannya sistem buka tutup ini, terlebih lintasan atau penyebrangan dari Padang Bai-Lembar yang merupakan jalur pelabuhan terpanjang.

“Dari Padang Bai-Lembar kan penyebrangan terpanjang dibanding penyebrangan lain, makanya kita tetap intens komunikasi dengan pihak sana,” katanya.

Hal ini dilakukan agar penumpang tidak mengalami hal- hal yang tidak diinginkan selama penyeberangan.

“Penutupan ini untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan selama aktivitas penyeberangan berlangsung,” terangnya

Sepanjang penngamatan di lapangan, diberlakukannya sistem buka tutup itu aktivitas pelabuhan masih terbilang normal. Tidak ada antrean kendaraan hingga petang kemarin.

AYA




Organda Ikut Tentukan Daya Saing

Daya saing ditentukan kuatnya sistem logistik, serta peran transportasi darat yang mantap

MATARAM.lombokjournal.com — Organisasi Angkutan Darat (Organda) memiliki peranan penting meningkatkan daya saing bangsa. Hal itu ditegaskan Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi saat Musyawarah Kerja Nasional II tahun 2017 Organda periode 2015-2020, di Hotel Lombok Raya Mataram, Rabu sore (02/08).  Munas Organda berlangsung tanggal 2-4 Agustus 2017

Dikatakannya, Presiden Jokowi memprogramkan peningkatan arus logistik nasional untuk meningkatkan daya saing nasional.

Pergerakan logistik dari simpul barang yang satu ke simpul yang lain sangat ditentukan pergerakan angkutan yang ada. “Salah satunya adalah transportasi darat,” ujar Gubernur yang akrab disapa TGB itu.

Angkutan darat berkontribusi naik turunnya inflasi di daerah. Ketika terjadi kenaikan inflasi, salah satunya ditentukan pergerakan angkutan barang kebutuhan masyarakat yang terhambat dari daerah yang satu ke daerah yang lain.

Ditegaskannya, kalau ingin meningkatkan daya saing bangsa, maka sistem logistik nasional harus kuat serta transportasi darat kita harus semakin mantap. “Organda berperan sangat besar untuk itu,” jelasnya.

Gubernur mengapresiasi peran organda yang turut andil membangun daerah. Misalnya, indrustri pariwisata yang saat ini tumbuh dengan baik, merupakan salah satu cermin kontribusi positif organda dalam memberikan pelayan terbaik.

Menurut TGB, meskipun Indonesia ini merupakan negara kepulauan, namun hampir seluruh aktivitis manusia dihabiskan di darat. Sehingga sebagian besar kepentingan manusia, baik secara individu maupun kolektif  membutuhkan mobilisasi melalui transportasi darat, tuturnya

TGB mengajak organda mendorong pembangunan daerah melalui peningkatan kinerja layanan angkutan darat yang semakin baik dan menjangkau seluruh lapisan Masyarakat.

Meningkatkan Pelayanan

Dewan Pertimbangan DPP organda, Suroyo Ali Muso mengungkapkan, organda perlu meningkatkan peranannya dalam urusan kebijakan transportasi baik, untuk angkutan barang maupun angkutan penumpang.

Jajaran pengurus dimmintanya meningkatkan hubungan baik dengan anggota, agar organisasi tersebut dicintai dan memiliki kontribusi bagi semua pihak.

“Hal yang lebih utama adalah meningkatkan SDM, baik itu pengemudi, manajemen maupun teknisi,” ujarnya sambil menambahkan agar jajarannya terus memperbaiki layanan.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP Organda, Adrianto djokosoetono, ST. M.BA melaporkan, kegiatan Mukernas merupakan ruang koordinasi dan evaluasi tentang program yang telah dilaksanakan.

Menurutnya, ada hal-hal yang perlu dibenahi, terutama dalam hal pelayanan. Saat ini persaingan di bidang transportasi makin meningkat, apalagi munculnya transportasi modern yang berbasis online.

Mukernas Organda mengusung tema “Organda mendorong peningkatan kualitas angkutan jalan raya nasional yang legal dan bermartabat dengan penggunaan teknologi informasi untuk meningkatkan jasa pelayanan transportasi angkutan umum”.

Kegiatan itu dihadiri seluruh pengurus DPD Organda se-Indonesia. Hadir juga Kakorlantas Polri, Irjen Royke Lumowa, MM., Dirjen Angkutan Darat, Kementerian Perhubungan RI, Hendro Surahmat dan anggota Forkopimda Provinsi NTB.

AYA




H. Iswandi Khairy Ramen, Sementara Tinggalkan Humas Loteng

H. Iswandi Khairy Ramen, selama ini sangat akrab dengan wartawan, membantu kerja-kerja jurnalistik terkait pemberitaan seputar pembangunan di Lombok Tengah.

LOTENG,lombokjournal.com – Mengemban tugas sebagai Kepala Sub Bagian (Kasubag) Pemberitaan di Bagian Humas dan Protokol Setda Lombok Tengah, wartawan tak melupakan sosok H. Iswandi Khairy Ramen.

“Humas jadi melek teknologi dan tidak tertinggal seperti adanya Lensa Humas dan lain-lain,” kata Agus Wahaji, Pemred salah satu koran harian di Loteng, menyampaikan testimoninya saat Jumpa Pers Humas sekaligus perpisahan di M2R Cafe Praya, Rabu (2/8).

Selama mengemban tugasnya,  Iswandi melakukan banyak inovasi dan kiprah yang sangat mendukung tugas wartawan. Selain supel, sederhana, ia penuh dedikasi atas tugas dan tanggung jawabnya.

Iswandi Khairy Ramen harus meninggalkan tugasnya yang diembannya karena mendapatkan beasiswa pendidikan S2-nya di universitas yang berkaitan dengan Kementerian Pertahanan, di Bandung selama 1,5 tahun lamanya.

Ia menyisihkan PNS lainnnya yang ingin lolos mendapatkan beasiswa itu. Suasana jumpa pers diliputi suasana sedih meskipun berlangsung riang. Sedih karena harus ditinggalkan Iswandi yang menciptakan komunikasi kkondusif antara humas dan wartawan.

Tapi semua tampak senang karena Iswandi lulus mendapatkan beasiswa S2-nya. “Semoga kembainya jadi Kepala Bagian Humas dan Protokol, “ kata Agus yang diamini wartawan Lombok Tengah yang hadir di M2R Cafe Praya.

GILANG




Danlanud Rembiga Jadi Irup Penutupan TMMD ke 99

TNI Manunggal salah satu upaya TNI AD dalam memperkuat ketahanan masyarakat sebagai potensi kekuatan wiilayah

LOTENG.lombokjournal.com —  Danlanud Rembiga, Kolonel Pnb Dody Fernando menjadi inspektur Upacara dalam penutupan TMMD (TNI Manunggal Masyaraat Desa) ke-99 di di Lapangan Umum Desa Pengenjek  Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Rabu (2/8).

Dody membacakan sambutan KASAD mengungkapkan, kerjasama menyelesaikan berbagai kegiatan sasaran fisik maupun non fisik program dari kegiatan TMMD ke-99 tahun 2017 di Lombok Tengah. TMMD merupakan wujud kemanunggalan TNI Rakyat dalam membantu pemerintah daerah mempercepat pembangunan di daerah

Kegiatan ini juga merupakan upaya TNI AD dalam memperkuat ketahanan masyarakat sebagai potensi kekuatan wiilayah. “Utamanya upaya cegah dini dan deteksi dini terhadap berbagai ancaman yang dapat melemahkan persatuan dan kesatuan NKRI,” ungkapnnya.

Program TMMD di Lombok Tengah sasarannya pembangunan infrastruktur, di antaranya pembangunan jalan baru, peningkatan badan jalan, pembuatan talud dan gorong-gorong, pembangunan MCK, Poskamling, pembangunan tembok kuburan.

Meskipun pelaksanaannya hanya beberapa hari, namun target pembangunan dapat terselesaikan tepat waktu.

“Semuanya telah dibangun dengan hasil tercapai seratus persen,” kata Dody.

Karena terjalin kerjasama dan semangat gotong royong  yang tinggi antar Satgas TMMD dengan masyarakat dan instansi terkait. Melalui TMMD diharapkan dapat mempererat tali silaturahim dan membangun keakraban antar TNI dan seluruh eleman  masyarakat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dandim se Pulau Lombok,  Asisten III Sekda Loteng, Dadenpom Mataram, Wakapolres Loteng, Ketua Pengadilan Negeri Praya, Kepala Kejaksaan Negeri Praya, Para Kasi Korem, Para Dan/Ka Disjan Korem 162/WB, SKPD Loteng, Kasat Pol PP Loteng, Kepala BUMN/BPMD Loteng, Camat Jonggat dan Kades se Keacamatan Jonggat, dan Toga, Toma dan Todat Desa Pengenjek.

Usai upacara dilanjutkan kegiatan pengobatan massal, penyerahan hadiah lomba Gendang Beleq dan kegiatan pasar murah.

AYA

 




Kalau Terus Sepi Peminat, Sekolah Swasta Akan Ditutup

Kalau tak punya terobosan bisa saja sekolah swasta tak diminati dan terancam gulung tikar

MATARAM.lombokjournal.com — Kalau sekolah swasta minim peminat dan terancam gulung tikar, itu disebabkan ketatnya persaingan baik dengan sesama sekolah swasta maupun sekolah negeri

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, M. Suruji di Mataram, Rabu (2/8).

Suruji mengatakan, agar pihak pengelola atau yayasan sekolah swasta di NTB mempunyai langkah-langkah dan terobosan baru agar bisa diminati siswa.

“Kalau bisa dikelompokan atau digabung dengan sekolah terdekat, sehingga akan lebih mudah diberikan bantuan, khususnya terkait anggaran dalam upaya pengembangan,” tegasnya

Langkah tersebut penting dilakukan, supaya ke depan sekolah swasta yang susah dikembangkan dan dipertahankan kita biarkan saja selesai , tapi bagi sekolah yang memang potensial akan terus dorong

Supaya jangan lembaganya saja yang banyak, tapi tidak ada aktivitas pembelajaran dan peserta didik minim. “Intinya kalau dua tahun gak ada siswanya itu alamat kalau sekolahnya tidak ada peminatnya” tegasnya

Intinya, dari sisi minat masyarakat kalau sekolah itu tidak diminati masyarakat dalam rentan waktu sekian tahun lama lama akan tutup.

“Kalau sudah demikian terus mau nģapain kan sudah pasti tidak ada gurunya, sekolahnya mati nah yang begitu masa mau dipertahankan,” pungkasnya

AYA




Cerita Lain Hilangnya Siti, Pendaki Rinjani Dari Jakarta.

Dilaporkan pada malam hari, petugas Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) baru berangkat siang hari berikutnya

Jum’at, 28 Juli 2017 sekitar pukul 14.00 WITA saya bersama dua orang kawan memulai pendakian dari titik awal menuju puncak Gunung Rinjani.

Kami tiba di puncak pada hari Minggu siang. Di sanalah kami bertemu seorang wanita muda berjilbab merah bersama rombongan pendaki yang berjumlah sekitar 20an orang. Mereka mengaku datang dari Jakarta.

Wanita muda tersebut memang paling kami ingat karena sempat bergantian saling memotret bersama kawan-kawan saya. Puas menikmati puncak pendakian, Wanita muda tersebut meminta diri untuk turun lebih dulu.

Namun ia menitipkan semua perlengkapan gunungnya pada salah satu kawan satu rombongannya. Pastilah ia akan cari tempat untuk buang air pikir saya. Saya sempat memperingatkannya untuk berhati-hati. Ia pun melenggang pergi.

Tak lama, saya bersama kawan satu tim beranjak turun meninggalkan rombongan si wanita muda yang masih asik menikmati puncak. Setelah beberapa jam kami berjalan menurun, rombongan si wanita muda menyusul kami. Saya melihat seseorang masih memegangi tas dan perlengkapan lain milik si wanita muda. Hingga barisan paling belakang dari rombongan saya tidak melihat pemiliknya.

“Kawannya yang berjilbab merah kemana, mbak?” saya memberanikan diri bertanya

“Siti masih di belakang, Mas” sahut salah seorang dari mereka

“Loh kok ditinggal?”  Tak ada jawaban dari mereka. Mereka asik mengobrol. Kepala saya terus mendongak ke depan ke belakang, memastikan keberadaan wanita muda bernama Siti tersebut. Saya tak melihatnya. Kawan saya pun turut memasang raut keheranan. Sembari berjalan pelan, kami mendiskusikan tentang Siti. Kami saling meyakinkan bahwa tak ada Siti di depan. Juga tak ada orang lain di belakang.

Kami memutuskan untuk berhenti minum dan beristirahat. Kami pikir, kalau benar Siti berada di Belakang dan tertinggal jauh dari rombongannya tanpa perlengkapan akan sangat fatal.

Hari semakin senja. Daun-daun dari pohon-pohon raksasa di dekat kami bergemuruh diterpa angin. Angin yang begitu dingin di musim kemarau. Kami melihat seseorang turun dari puncak. Seorang pria berkebangsaan asing.

“Tak ada orang lain lagi di belakang selain saya,” sahutnya saat kami menanyakan tentang Siti. Kami tidaklah mengenal baik Siti kecuali hanya karena pertemuan beberapa menit kami di Puncak. Tapi hati kami begitu gundah.

Seorang manusia sendirian di puncak Rinjani yang dingin terpisah dari rombongannya. Kelelahan. Tanpa perlengkapan. Apa yang harus kami lakukan. Bukan tak ingin kami kembali ke atas untuk mencari Siti, namun tubuh kami yang juga kelelahan, persediaan air dan makanan yang pas-pasan, hari yang semakin gelap, dan lokasi Siti yang tidak kami ketahui adalah resiko yang besar untuk kami.

Memikirkan resiko-resiko terburuk bagi Siti membuat kami berhenti bicara. Rombongan Siti sudah tak terlihat lagi.

Tiba di sebuah pos peristirahatan. Saya dan tim segera menemui petugas untuk melaporkan Siti yang tertinggal di atas.

“Untuk bertindak, kami harus menunggu instruksi dan laporan resmi, Mas” jawab petugas.

“Tak ada saksi lain selain kami dan rombongan yang tadi melewati pos ini, Pak” sahut saya

“Rombongan yang tadi lewat tidak mengatakan apa-apa tentang anggotanya yang hilang” tukasnya acuh

“Itulah mengapa kami yang melapor, Pak. Mereka tidak peduli kawannya sendiri,” nada bicara saya semakin meninggi. Perdebatan terjadi cukup lama. Kawan saya berusaha menenangkan saya.

Tak menyerah, kami bergerak kembali mencari sinyal. Begitu sinyal di handphone muncul, kawan saya berinisiatif menelepon petugas Taman Nasional Gunung Rinjani untuk melaporkan tentang Siti. Kalimat “segera kami telusuri dan evakuasi” dari petugas di telepon untuk sementara membuat kami membuang nafas lega.

Hari semakin malam, kami segera turun kembali menyusul rombongan Siti untuk meyakinkan mereka bahwa satu orang kawannya tertinggal sendirian. Kami menemui mereka di lokasi camp. Saya langsung mencari ketua rombongan Siti.

Emosi saya sudah tak terbendung. Di depan kawanannya saya membentak ketua rombongan Siti. Dari jawaban-jawabannya yang terkesan tak peduli, saya dan tim menyimpulkan bahwa rombongan tersebut tidak saling kenal sebelumnya. Bisa jadi mereka hanya grup backpacker online yang kemudian janjian untuk sama-sama mendaki Rinjani.

Dengan jumlah orang yang cukup banyak, jelas satu ketua regu tidak cukup memimpin rombongannya. Ditambah hanya empat orang dari mereka yang mengaku sudah pernah naik Rinjani. Saya begitu kesal, kecewa, dan marah terhadap mereka. Begitukah sikap sosial masyarakat kota besar? gumam saya.

Tidur nyenyak hanyalah khayalan. Pikiran saya tidak bisa berhenti memikirkan seorang manusia yang tersesat di puncak. Pikiran-pikiran buruk menghantui saya. Pastilah dua orang kawan saya pun memikirkan hal yang sama.

Saya mendengar beberapa dari rombongan Siti mulai terdengar menangis. Menyebut-nyebut nama Siti. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Kenapa baru tersadar setelah jauh begini. Untuk merasa menyesal mereka sudah sangat terlambat. Siti tidak akan mampu bertahan dalam udara yang sangat dingin tanpa tenda, tanpa persediaan makanan dan minuman.

Dengan perasaan dan pikiran yang masih jua tak menentu kami melanjutkan perjalanan turun di pagi hari. Jika Siti masih hidup, harapan satu-satunya adalah tim evakuasi yang kemarin hari ditelepon kawan saya. Atau petugas yang semoga saja percaya ucapan kami dan langsung melakukan pencarian bersama para porter tanpa menunggu instruksi dan laporan yang katanya harus resmi.

Semoga dan semoga yang terus saya rapalkan tiba-tiba harus pupus dalam sekejap. Jam 11 siang, saya berpapasan dengan petugas yang katanya baru akan berangkat melakukan pencarian dan evakuasi. Terlambat!. Saya sudah tak punya energi untuk marah. Dengan nada memelas aya hanya bertanya kenapa bapak-bapak baru berangkat sekarang? Kenapa tidak langsung saja kemarin petang dengan perlengkapan yang super lengkap?.

Setidaknya, saya melakukan hal-hal yang bisa saya lakukan untuk Siti. Tentu saya berharap ada berita baik begitu saya sampai di rumah.

Sayangnya, hal itu pun tidak terjadi. Alih-alih kabar baik, semua kejadian yang tertulis di berita sama sekali tidak sesuai.

Entah apa yang si ketua rombongan dan petugas ceritakan kepada wartawan untuk membela citra diri mereka. Wajah-wajah yang masih bisa tersenyum terpajang di halaman muka berita membuat saya semakin merasa pilu. “Sisi kemanusiaan orang-orang ini sudah sangat memudar” gumam saya menggeleng-gelengkan kepala.

Diceritakan oleh Reza Andhika
Ditulis oleh Yuga Anggana
-eRKaeM 01/08/2017-

sumber : blog satriabond




Siti Mariam, Pendaki Yang Sempat Raib di Rinjani, Ditemukan Pengembala Sapi

Pendaki asal Jakarta, Siti Mariam (29) yang dikabarkan hilang akhirnya ditemukan Suhaldi, pengembala sapi  asal warga Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Lombok Tiimnur

MATARAM.lombokjournal.com – Penegasan ditemukannya Siti Mariam yang dilaporkan hilang hari Minggu (30/7), dan dalam keadaan selamat hari Rabu (2/8) sekitar pukul 07.00 Wita, disampaikan Mustafa Imran Lubis, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

“Korban ditemukan oleh pengembala sapi salah seorang warga Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun bernama Suhaldi,” ujar Lubis, Rabu (2/8).

Saat ditemukan Siti Mariam posisinya berada 1,5 Km dari jalur pendakian Desa Sembalun ke arah selatan. Menurut penuturan Suhaldi, Siti ditemukan di daerah Abangan Sembalun dalam keadaan pucat pasi.

Dikatakan Lubis, Siti telah mendapatkan pertolongan dari petugas Balai TNGR Resort Sembalun Seksi Pengelolaan Wilayah II serta Tim Evakuasi Edelweis Medical Help Center (EMHC) dan dilakukan pemeriksaan kesehatan terhadap korban Siti Maryam.

“Hhasil pemeriksaan Dokter Puskesmas Sembalun, korban dalam keadaan sehat, “ kata Lubis. Siti hanya mengalami cidera ringan dan trauma akibat musibah yang dialaminya.

Sebelumnya, Siti dilaporkan hilang saat mendaki di Gunung Rinjani. Menurut penuturan Agus Budi Santoso, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), kejadian adanya pengunjung yang hilang diterima petugas Balai TNGR Resort Sembalun pada Ahad (30/7) sekitar pukul 18.00 Wita.

Laporan tersebut berasal dari petugas Polhut BTNGR Lalu Wira Jaya yang sedang melaksanakan tugas pemantauan pengunjung di Pelawangan Sembalun dan diterima Kepala Resort Sembalun Zainuddin.

Dikatakan, tim evakuasi berangkat menuju lokasi sekitar pukul 20.00 Wita dengan jumlah petugas 10 orang dan tiba di lokasi pada Senin (31/7) sekitar pukul 14.00 Wita.

Agus menerima laporan, informasi yang dikumpulkan tim evakuasi dari rekan-rekan korban, mereka merupakan endaki grup berjumlah 28 orang, berasal dari Jakarta. “Masuk melakukan pendakian melalui Sembalun hari Jumat (28/7),” ujar Agus di Mataram, Selasa (1/8).

Rombongan tersebut pada hari pertama bermalam di Pos 3, kemudian hari Sabtu (29/7) pagi menuju Pelawangan Sembalun dan bermalam. Sehari berselang, sekitar pukul 02.00 Wita, rombongan munca dan kembali ke pelawangan sembalun pada pukul 09.00 WITA.

Pada saat track turun di letter “S” korban, lanjut Agus, izin kepada temannya untuk buang air besar. Siti Mariam menitipkan barang-barangnya berupa HP, tas dan dompet pada rekan grupnya.

Setelah satu jam, korban yang beralamat di Cakung, Jakarta Timur tidak juga kembali dari buang hajatnya sehingga rekan korban mencari namun tidak ditemukan. Kemudian dilakukan pencarian oleh rekan-rekan korban lain namun tidak ditemukan.

Agus menyebutkan, saat melakukan pendakian tersebut, korban mengenakan pakaian berwarna merah marun, sweater abu-abu bertuliskan backpacker Jakarta, dengan jilbab berwarna agak merah muda.

Siti Mariam sempat dperkirakan jatuh karena tim evakuasi menemukan jejak di lokasi di mana terakhir kali korban izin untuk buang hajat. Berdasarkan jejak kaki diperkirakan korban jatuh ke jurang dengan kedalaman sekitar 100 meter lebih,” kata Agus.

BACA : Cerita Lain Hilangnya Siti, Pendaki Dari Jakarta

Namun, karena kondisi cuaca, tim akan kembali melakukan pencarian dengan membawa peralatan untuk evakuasi. Kata Agus, saat ini 25 orang rekan korban sudah turun menuju Sembalun dan 2 orang termasuk pelapor juga sudah berada di Sembalun.

AYA




Dana Desa Juga Untuk Tanggulangi Kemiskinan

Akan dilakukan pelatihan bagi Pemerintahan Desa agar APBDes program dan kegiatannya berkontribusi untuk pengentasan kemiskinan.

MATARAM.lombokjournal.com –Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, akan melakukan pelatihan kepada para Kepala Desa dan seluruh Pendamping Desa, untuk memastikan merencanakan APBDes program dan kegiatannya berkontribusi untuk pengentasan kemiskinan.

“Saya harapkan semua kepala Desa dan Pemerintah Desa untuk bersama-sama memahami potret kemiskinan di Desa,” kata Kepala Bappeda Provinsi NTB Ir. Ridwan Syah, MSc,.MM,MTp di Mataram, Selasa (1/8).

Selain itu, pemerintah akan mengintegrasikan program antara Provinsi dengan Kabupaten. Saat ini sudah dimulai antara SKPD dengan pendekatan desa berbasis kawasan.

Irwansyah  mengatakan, untuk menurunkan angka kemiskinan Pemprov NTB akan melakukan berbasis Desa. Pemerintah sudah mempunyai data terintegrasi berbasis desa yang menjadi acuan dalam merencanakan program penanggulangan kemiskinan.

Kemiskinan juga sudah menjadi agenda rutin setiap tahapan pembangunan. Untuk mengatasinya, sudah banyak program dan kegiatan pemerintah yang berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan.

Salah satunya dengan adanya dana desa yang akan diarahkan untuk menanggulangi kemiskinan di NTB

“Dana Desa juga diarahkan untuk penanggulangan kemiskinan,” tegasnya.

Irwansyah meilihat dalam struktur APBD yang ada,  hampir semua fokus untuk masalah penurunan angka kemiskinan.

AYA

 




Relokasi Pasar Seni Trawangan, Mulai Jum’at Malam

Hari Selasa malam (malam ini) dan Rabu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lombok Utara (KLU) akan sosialisasi untuk melakukan relokasi pasar seni Trawangan.

MATARAM.lombokjournal.com  –  Relokasi pasar seni itu dipastikan tidak akan merugikan pedagang pasar seni dan tak akan mengganggu perekonomian pasar tersebut.

“Setelah sosialisasi, kita buatkan event sambil pasang spanduk relokasi,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja KLU H Ahmad Dharma, usai berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pariwisata NTB di Mataram, Selasa (1/8).

Ahmad Dharma mengaku sudah turun melihat lokasi baru, jaraknya sekitar 1 kilo meter lebih dari lokasi sebelumnya. Pihaknya menunggu jadwal dari Dispar NTB. Meski begitu ia akan melakukan sosialisas terlebih dahulu selama dua hari kepada pedagang yang akan direlokasi.

Rencana Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) dalam waktu dekat memang segera merelokasi seluruh pedagang di pasar seni Gili Trawangan. Relokasi tersebut diyakini tidak akan mengganggu perekonomian dalam pasar tersebut.

Sebelum direlokasi, rencananya pemda KLU akan melakukan sosialisasi sekaligus mengadakan event. Relokasi pasar seni sebenarnya telah lama direncanakan. Hanya saja, belum bisa diselesaikan.

Dharma mengatakan, ada tahapan yang telah disepakati sebelum melakukan relokasi terhadap pedagang di pasar seni tersebut.

“Malam ini dan besok malam kita akan lakukan sosialisasi. Malam sabtunya (Jum’at malam) sudah bisa kita lakukan pemindahan,” jelasnya.

Pasar seni tersebut akan direlokasi sekitar 1,5 kilometer dari lokasi semula. Di tempat relokasi telah dibangun 24 lokal baru berupa tenda untuk para pedagang. Termasuk termasuk empat toko di depan pasar seni.

Relokasi diyakini tidak akan merugikan para pedagang, karena di lokasi lama akan dipasang spanduk pemberitahuan, sehingga pelanggan dapat dengan mudah lokasi pasar seni yang baru.

“Tidak akan membuat pedagang rugi atau takut pemasukannya bekurang , karena nanti kita akan pasang pemebritahuan lokasi pasar seni yang baru,” jelas Ahmad Dharma.

AYA




PLTGU Lombok Peaker Akan Tambah Listrik NTB Sebesar 150 MW

Sistem kelistrikan NTB terus meningkat, apalagi adanya rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Lombok Peaker yang memproduksi listrik 150 MW

MATARAM.lombokjournal.com – Peningkatan itu menjamin kebutuhan listrik masyarakat terutama untuk menggerakkan simpul-simpul ekonomi masyarakat.

“Pemerintah Provinsi NTB terus mendorong pembangunan pembangkit tenaga listrik di NTB,” kata Wagub NTB, H Muhammad Amin,Sh. MSi saat membuka Rapat Koordinasi Rencana Pembangunan Sistem Kelistrikan Di Provinsi NTB di Hotel Golden Palace, Selasa (1/8).

Sistem kelistrikan di NTB terus meningkat, berkat diresmikannya mobile power plant 2×25 MW oleh Presiden RI Joko Widodo baru-baru ini.

Apalagi dengan rencana pembangunan PLTGULombok Peaker yang mampu memproduksi energi listrik sebesar 150 MW, untuk mendukung proyek kelistrikan sebesar 500 MW di seluruh wilayah NTB.

Selain itu,pembangunan PLTGU merupakan bagian proyek kelistrikan nasional sebesar 35.000 MW.

Wagub berharap, itu penambahan daya listrik bisa berkontribusi mendorong percepatan pembangunan sektor usaha dan ekonomi produktif masyarakat NTB. “Listrik merupakan  infrastruktur dasar yang harus disediakan, mengingat semua usaha memerlukan dukungan listrik,” kata wagub.

Rencana pembangunan PLTGU Lombok Peaker sesuai PP Nomor 13 Tahun 2017 yang mengatur kegiatan pemanfaatan tata ruang yang bernilai strategis nasional tapi belum termuat dalam RTRW Provinsi atau Kabupaten/Kota.

Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menunda pembangunan proyek PLTGU Peaker ini. “Saya harap pembangunan PLTGU ini rampung sesuai yang ditargetkan pada tahun 2018 mendatang,” ujar Wagub Amin.

Sebelumnya, GM Unit Induk Pembangunan (UIP) Nusra, Djarot Hutabri melaporkan perubahan di organisasi Induk PLN. Kini PLN Nusra bergabung dengan Jawa Timur dan Bali, sebelumnya bergabung dengan regional Sulawesi.

“Perubahan regional ini menunjukkan Nusra mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat dan diharapkan dapat mengurangi pemadaman listrik di kawasan Nusra,” ujarnya.

Djarot mengatakan, rakor memiliki dua tujuan, pertama membangun sinkronisasi antara kebutuhan listrik konsumen dengan kemampuan PLN untuk menyediakan kelistrikan. Kedua, adanya tindak lanjut yang lebih detail terkait tentang pembangunan kelistrikan.

Dalam waktu 10 tahun, PLN akan menambah kapasitas listrik sekitar 700 MW di wilayah Nusra, termasuk di Pulau Sumbawa, tambahnya.

AYA