NTB Rentan Bencana, Masyarakatnya Harus Tangguh Bencana

Nusa Tenggara Barat (NTB) tergolong rentan bencaana, dari 14 jenis potensi bencana di Indonesia, 11 di antaranya terdapat di NTB

MATARAM.lombokjounal.com — Kondisi geologis NTB terutama di wilayah pegunungan dan pesisir pantai, mulai dari barat sampai timur rawan bencana.

Wakil Gubernur NTB, H. Muh Amin, SH., M.Si mengungkapkann itu dalam pembukaan Rakor (rapat koordinasi) Peningkatan Kapasitas Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Masyarakat dalam Penanganan Bencana Tahun 2017, di hotel Lombok Raya Mataram,  Selasa (8/8).

“Mengantipasi rengtan bencana, selain membutuhkan program  penanganan  komprehensif dan terintegrasi, juga penting menyiapkan masyarakat agar tangguh bencana,” katanya.

Menurutnya, bila bencana terjadi akan , melumpuhkan tingkat  produktivitas masyarakat.  Lahan pertanian dan infrastruktur rusak. “Semua pihak harus berperan ‘merecovery’ akibat bencana tersebut,” katanya.

Merujuk Undang-Undang 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab pemerintah dan pemerintah Daerah. Dalam menjalankan amanah konstitusi tersebut, perlu disusun konsep penangulangan bencana yang  terencana, terkoordinasi dan menyeluruh.

Pemerintah daerah dan semua pihak terkait, untuk menyatukan langkah-langkah taktis yang cepat dan tepat untuk meminimalisir dampak bencana, sekaligus mempersiapkan diri untuk menghadapi resiko bencana di masa depan.

“Sebagai langkah preventif,  saya minta BPBD NTB selaku leading sector penanggulangan bencana mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat agar menjadi masyarakat tangguh bencana,” pinta Wagub.

Di kesmepatan sama, Asdep Tanggap Cepat Bencana, Kemenko PMK, Joko Yuwono mengatakan, hasil Rakor diharapkan dapat diperoleh masukan dan pemikiran serta komitmen lebih jauh, agar dapat mengantisipasi berbagai permasalahan kebencanaan. Selanjutnya dapat dirumuskan berbagai langkah penanggulangan melalui keterpaduan kebijakan dan perencanaan, khususnya dalam penguranga resiko bencana.

Herbin Manihuruk selaku Asdep PRB (Pengurangan Resiko Bencana) menambahkan, hasil indeks resiko bencana (database tahun 2014) dari 478 kabupaten/kota, 77 persen wilayah Indonesia merupakan resiko tinggi rawan bencana. Di NTB, 88 persen dari wilayah ini menjadi lokasi prioritas.

Herbin mengatakan, hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah. Ia mengungkapkan gagasannya tentang upaya mewujudkan ketangguhan bencana di setiap desa.

Artinya ketika terjadi bencana, maka pihak pertama yang bisa menyelamatkan masyarakat, bukan BPBD atau Tim SAR tetapi masyarakat sendiri.

“25 persen selamat karena diri sendiri, maka dari itu masyarakat harus kita internalisasikan bagaimana upaya-upaya penyelamatan diri,” tegasnya.  Program Desa Tangguh Bencana menjadi prioritas, tambahnya.

AYA




Bumdes Mengembangkan Perekonomian Masyarakat, Bukan Jadi Pesaingnya

Usaha Masyarakat perlu dipetakan dan tugas Bumdes membuka peluang usaha berdasarkan potensi yang ada di masyarakat

Pembinaan pengembangan ekonomi masyarakat di Gedung Bumdes Mekar Sari, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Loteng, Selasa (8/8) (Foto: Gilang)

LOTENG.lombokjournal.com — Bumdes “Mekar Dure” Desa Durian, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah, dapat Kunjungan pembinaan Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa Kabupaten, Nyimas Anita Akmayani, bersama Pendamping Desa Kecamatan, Ida Rohayani dan Moh. Nur di gedung Bumdes, Selasa (08/08).

Kunjungan itu memberi bimbingan sekaligus pembinaan pengembangan potensi.

Keberqadaan Bumdes Mekar Sari didorong kreatif dalam mencari peluang usaha agar dapat mengembangkan perekonomian masayarakat. Salah satunya dengan mulai membuat pemetaan potensi usaha yang sudah digeluti masyarakat.

Nyimas dalam pemaparannya menegaskan, agar pengelola Bumdes memahami prinsip dasar dari Bumdes. “Bumdes bertujuan meningkatkan perekonomian desa, bukan malah jadi pesaing usaha masyarakat,” tegasnya.

Bumdes “Mekar Duren” di Desa Durian memang tergolong berhasil. Mmeski masih terbilang baru, namun kinerjanya terbolang memuaskan. Saat ini Bumdes Mekar Sari sudah punya gedung sendiri, pengurus nya aktif, bahkan sudah mulai mengembangkan beberapa unit usaha.

“Intinya pengurus tinggal mengkreasikan semua usaha yang sudah ada di desa,” pesan Nyimas.

Ketua Bumdes ” Mekar Duren” Desa Durian Irsamdi, S. Hi mmengaku cukup mendapatakan pembinaan dan pengetahuan baru dengan kunjungan langsung seperti ini.

GILANG




Data Desa Harus Diunggah ke Website Agar Mudah Diakses

Diharapkan data desa termasuk APBDes-nya diunggah ke website agar masyarakat bisa mengaksesnya

MATARAM.lombokjournal.com – Gubernur NTB, Dr. TGH M. Zainul Majdi minta fasilitator desa menyusun literasi data desa, kemudian semua data itu ditayangkan di website desa sehingga mudah diakses masyarakat

“Ketersediaan data dibutuhkan sebagai modal strategixs di setikap lini pembangunan,” kata gubernur di depan peserta Pelatihan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (RKMD) Angkatan VI Tahun 2017 di kantor UPTD Balai Latihan Masyarakat dan Transmigrasi  Provinsi NTB, Mataram (7/8).

Kehadiran Gubernur  NTB yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) itu merupakan bagian akhir kegiatan inspeksi mendadak  (Sidak) ke sejumlah instansi penyelenggara pelayanan publik di Provinsi NTB.

Sebelumnya Gubernur TGB melakukan sidak di RSUP Provinsi NTB, kemudian dilanjutkan  di Kantor Layanan Terpadu Satu Pintu (LTSP) Penempatan dan Perlindungan TKI NTB dan terakhir di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Kedatangan gubernur di lokasi pelatihan tersebut, sontak membuat kaget pengajar dan puluhan fasilitator peserta pelatihan yang sebagian besar berasal dari desa itu.  Saat itu, Gubernur menegaskan, selain pembangunan fisik, hal penting lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan data spasial tentang kondisi faktual desa.

Data itu harus mudah diakses sehingga pembangunan desa dapat lebih terarah dan dapat dikawal oleh seluruh masyarakat desa.

Dalam sesi dialog, Gubernur juga sempat bertanya kepada sejumlah peserta dari Kabupaten Dompu, Bima dan Sumbawa tentang permasalahan utama yang dihadapi di masing-masing desanya. Para peserta memanfaatkan kesempatan itu menyampaikan sejumlah keluhan dan permasalahan yang dihadapi di desanya.

Fastabiqul Khoirat dari Dompu mengeluhkan kondisi jalan di desanya yang rusak parah. Mereka mohon kepada gubernur untuk memberi perhatian.  Merespon keluhan keluhan itu, Gubernur berjanji akan segera menindaklanjutinya, seraya mengingatkan bahwa tugas mereka bukanlah sebagai penyelesai masalah, melainkan  sebagai fasilitaor  yang mampu mempertemukan stakeholder.

“Jadilah jembatan yang menghubungkan banyak titik. Diperlukan kerendahan hati membangun silaturrahmi untuk memaksimalkan potensi yang ada,” ungkap gubernur.

Gubernur mengingatkan, pengabdian para fasilitator di desa sangat besar kontribusinya bagi kemajuan daerah. “Wajah desa juga ditentukan dedikasi anda semua,” pungkas Gubernur.

Kegiatan RKMD terlaksana atas kerjasama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Pemerintah Provinsi NTB dan UPTP Balai Latihan Denpasar yang dilaksanakan dari 4 s.d 8 Agustus 2017.

AYA

 




Hadapi Ancaman Kekeringan, BPBD NTB Koordinasikan Pihak Terkait

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB dalam waktu dekat akan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) terkait kekeringan

H Mohammad Rum (foto: AYA)

MATARAM.lombokjournal.com  –– Pemerintah Provinsi NTB melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Provinsi NTB) dalam waktu dekat, Rabu (09/08) akan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) terkait kekeringan yang melanda sejumlah titik di daerah ini.

Kepala Pelaksana BPBD NTB, H Mohammad Rum, mengungkapkan itu, Senin (07/08). “Insya Allah, kegiatannya kami pusatkan dikantor jam 9 pagi (BPBD NTB). Kemudian jam 11, kami akan gelar konferensi pers,” terangnya pada Lombok Journal.

Rakor tersebut sebagai upaya mengantisipasi situasi dan kondisi di Kabupaten/Kota dalam menghadapi musim kemarau yang melanda Nusa Tenggara Barat (NTB). Dampak musim kemarau mulai terasa, terutama di wilayah Bima, yang juga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Sebanyak 10 Kepala BPBD yang tersebar di Kabupaten/Kota lingkup NTB ini dijadwalkan hadir. Tak hanya itu, pihak lain seperti Dinas Pekerjaan Umum (PU), Dinas Sosial dan PDAM juga turut serta dilibatkan.

BPBD bersama pihak terkait lainnya akan membahas terkait kekeringan terutama sulitnya akses air bersih. Kemudian, secara bersama dirancang segala sesuatunya untuk dicarikan solusi bersifat jangka panjang, seperti contoh pembuatan sumur bor dan sebagainya.

“Selain membahas masalah kekeringan, kita juga akan menyesuaikan data. Sehingga data yang kita miliki seragam dengan data yang ada di Kabupaten/Kota lainnya,” demikian Haji Rum menambahkan.

AYA

 




Gerabah, Primadona Kerajinan Yang Makin Redup

Kerajinan gerabah dari Banyumulek yang sempat mengangkat pariwisata Lombok, kini harus memperbaiki kualitas bentuk dan coraknya

Baiq Eva Parangan, Kadis Perindustrian NTB (foto: AYA)

MATARAM.lombokjournal.com – Gerabah asal banyumulek, Lombok Barat, pernah menyedot minat pasar mancanegara. Kini, nasib kerajinan gerabah yang sebelumnya jadi primadona produk ekspor Provinsi NTB, kini biisa dibilang mati suri.

Sebelumnya pangsa pasar ekspor gerabah sebagian besar ke negara Eropa, Asia, bahkan Timur Tengah, sekarang meredup. Meredupnnya ekspor gerabah itu diunbgkapkan Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NYB, Baiq eva Parangan di Mataram, Senin (7/8).

Dinas Perindustrian Provinsi NTB kini mulai fokus membangkitkan kembali gairah industri kerajinan gerabah, dengan melakukan inovasi dari bentuk serta coraknya, khususnya sentra gerabah di Desa Banyumulek, Lombok Barat.

Tahun 2017, pihak Dinas Perindustrian Provinsi NTB akan memberikan perlakuan khusus bagi perajin gerabah Banyumulek.

“Mengajarkan kepada pembuat gerabah agar melakukan inovasi baik dari segi bentuk serta coraknya,” ungkapnya. Pengrajin gerabah di tahun 2017 akan diberikan pembinaan dan pendampingan khusus.

Eva mengatakan, salah satu upaya menghidupkan kembali kejayaan kerajinan gerabah Banyumulek yang mati suri adalah melalui program pendampingan, untuk peningkatan mutu dan kualitas dari produk kerajinan gerabah.

Pendampingan kepada para perajin gerabah di Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat tersebut akan dilakukan para profesional di bidangnya.

Pendampingan bisa berupa peningkatan mutu produk, kreatifitas dan inovasi. Misalnya, perajin dibina agar mampu menghadirkan produk-produk gerabah yang memiliki nilai arsitektur dan ciri khas kelokalan.

Selain itu, serta produk yang dihasilkan tersebut tidak bertentangan dengan aturan dari negara tujuan ekspor. Seperti penggunaan bahan baku yang dilarang negara tujuan ekspor, termasuk kualitas dari produk gerabah itu sendiri.

Fokus pendampingan produk gerabah dilakukan di  Banyumulek tahun 2017, karena memang disitu penghasil gerabah terbesar di NTB.

“Harapannya, kerajinan gerabah ini bisa lagi eksis di pasar ekspor NTB seperti tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya.

AYA




Layanan Rumah Sakit NTB Harus Terus Dimaksimalkan

Dalam sidak di RSUP NTB, Gubernur Majdi masih ingatkan kebersihan ruangan yang tidak diakses umum

MATARAM.lombokjounal.com — Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) menyatakan kondisi Pelayanan kesehatan  di rumah Sakit Umum Provinsi  (RSUP ) NTB sudah memanusiakan pasiennya, namun harus terus dimaksimalkan.

“Alhamdulillah, pelayanannya sudah baik. Pelayanan di RSUP ini telah menunjukkan  pelayanan yang memanusiakan. Namun tetap harus terus dimaksimalkan,” tegasnya.

TGB menyampaikan penilaiannya itu, Senin Siang (07/08) usai melakukan Inspeksi Mendadak (sidak)  dengan mengecek satu persatu kondisi layanan semua poli dan unit/ruang pelayanan rumah sakit.  Ia juga memeriksa kondisi serta kelengkapan sarana prasana dan kebersihan, baik kebersihan di dalam ruangan maupun di lingkungan rumah sakit.

Selama sidak dari ruang satu ke unit layanan lainnya, Gubernur sempat bersalaman dengan sejumlah warga  dan pasien yang tengah antre menunggu giliran  pelayanan medis, sembari  menanyakan  keluhan penyakit yang dirasakannya.

Tenaga medis dan petugas lainnya diminta memaksimalkan koordinasi antar unit layanan, serta meningkatkan skill SDM  maupun keramahtamahannya dalam memberikan pelayanan maksimal.

Satu catatan temuan TGB adalah kebersihan di ruangan tertentu yang tidak diakses masyarakat, seperti di ruang farmasi, masih kotor. Padahal semua area mestinya terjaga dan diperhatikan kebersihannya dengan baik agar sterill dari kuman.

“Artinya menjaga kebersihan harus konprehensif,” ujar Gubernur.

Selain itu, saat mengunjungi ruang perawatan bedah onkologi, Gubernur mendapatkan penjelasan dari dokter specialis bedah, trend penyakit kanker payudara satu semester tahun ini yang ditangani rumah sakit, sama jumlahnya dengan tahun lalu.

Padahal  penyakit itu terkait dengan gaya hidup (lifestyle) yang penanganannya berada di hulu atau bersinergi dengan instasi terkait lainnya, seperti Dinas Kesehatan.

Usai melakukan peninjuan keliling di seluruh area vital rumah sakit terbesar di Provinsi NTB itu, dengan didampingi Direktur RSUP, dr. H. L. Hamzi Fikri, MM, Gubernur TGB mengadakan ramah tamah dengan para medis dan dokter petugas  pendamping Haji asal NTB musim haji tahun 2017 di Aula Pertemuan Rumah Sakit tersebut.

TGB mengapresiasi jajaran rumah sakit, termasuk petugas kebersihan (outsorsing) atas kemajuan pelayanan, termasuk kebersihannya.

Gubernur memuji kemajuan yang dicapai rumah sakit. Terutama pada penyediaan fasilitas pelayanan medis, mulai dari gedung, ruang perawatan, poli, apotik dan peralatan medis yang memadai. Dengan dukungan peralatan ini, maka fungsi pokok rumah sakit ini dapat berjalan cukup baik

Namun TGB mengingatkan, pelayan yang sudah baik, terutama dari aspek tangible (nyata) berupa kecanggihan peralatan, harus diiringi dukungan aspek distangible, yaitu semangat pelayanan dari segenap SDM rumah sakit.

Gubernur menginstruksikan kepada Direktur RSUP agar melakukan evaluasi dan konsolidasi seluruh struktur. Ia mengingatkan pentingnya konsolidasi dan sinkronisai dengan Dinas Kesehatan dalam mengatasi masalah kesehatan.

AYA




Gubernur Pastikan Layanan Publik Berjalan Baik

Beberapa instansi penyelenggara layanan publik disidak gubernur

MATARAM.lombokjournal.com — Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke beberapa instansi lingkup Pemerintah Provinsi NTB yang bersentuhan langsung dengan pelayanan dasar masyarakat, Senin (07/08).

Instansi layanan tersebut di antaranya Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP), Kantor Layanan Terpadu Satu Pintu, Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB.

Melalui Sidak itu, Gubernur ingin memastikan, pelayanan publik berjalan baik, lancar dan sesuai prosedur yang ditetapkan.

Di RSUP, TGB mengecek semua klinik dan bagian yang ada, seperti Bagian administrasi, Ruang Network Operation Center (NOC), Instalasi JPK, Klinik Jantung, Klinik Rehabilitasi Medik, Klinik Dalam, Klinik Anak, Klinik Bedah serta bagian lain yang berhubungan langsung dengan pasien.

Di ruang bedah Onkologi, TGB berbincang dengan paramedis mengenai sejumlah penyakit yang dikeluhkan masyarakat, terutama penyakit kanker. Ditemani Direktur Rumah Sakit, dr. H. L. Hamzi Fikri, MM, Gubernur mendapatkan banyak informasi penyebab munculnya penyakit ganas seperti kanker payudara.

Salah satunya disebabkan oleh gaya hidup. Dari informasi itu, TGB meminta Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan meningkatkan penyuluhan terkait pola hidup sehat.  Sehingga masyarakat mendapatkan informasi utuh agar terhindar dari penyakit tersebut.

Selain berinteraksi dengan petugas kesehatan dan dokter, TGB juga berbincang dengan masyarakat untuk menggali informasi mengenai pelayanan masyarakat di rumah sakit. Termasuk menanyakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi saat mendapatkan perwatan di rumah sakit, baik rawat inap maupun rawat jalan.

Selain pelayanan, TGB mengecek kebersihan di setiap sudut ruangan pelayanan publik dan juga ruang kerja petugas.

Usai Sidak di RSUD, Gubernur kemudian meyambangi Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Jln. Udayana, Kota Mataram.

Di kantor itu, TGB berbincang dengan sejumlah Calon Tenaga Kerja Indonesia yang akan bekerja di luar negeri, seperti di Malaysia, Brunai Darussalam dan sejumlah negara lainnya. Sebagian besar Calon TKI yang diajak berbincang TGB saat itu sedang mengurus Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN), Passpor dan sejumlah administrasi lainnya.

TGB menganjurkan untuk melengkapi semua berkas yang dibutuhkan agar terhindar masalah saat bekerja di luar negeri. Di ruang pelayanan, TGB berdialog dengan petugas untuk menjaring informasi, termasuk jaminan-jaminan dan hak-hak yang diperoleh TKI ketika mendapat masalah di luar negeri. Ia minta suluruh petugas melayani masyarakat dengan baik, tulus serta mengedepankan keramahan.

Dari kantor LTSP, TGB berjalan kaki menuju kantor  Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, UPTD Balai Latihan Masyarakat dan Transmigrasi NTB yang berada disebelah timur tidak jauh dari kantor LTSP-TKI.

Disambut Kepala UPTD, TGB memasuki ruangan pelatihan yang saat itu sedang diselenggarakan Pelatihan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD). TGB berdialog terkait kebutuhan dan masalah yang perlu ditangani di desa masing-masing.

BACA : Layanan Rumah Sakit NTB Harus terus Dimaksimalkan

Gubernur mengajak merek memberikan sumbangsih positif bagi desa masing-masing. Sehingga, seluruh program yang ada di desa dapat berjalan lancar dan memberikan kemanfaatan bagi masyarakat.

“Sepulang dari pelatihan ini, datangilah orang-orang yang memiliki pengaruh di desa dan lakukan yang terbaik untuk desa anda,” pesan Gubernur.

AYA

 




Cuaca Buruk, Buruk Pula Rejeki Nelayan

Musim paceklik ikan sedang melanda kehidupan nelayan

Sopiyan, tak tau harus mengeluh kemana

MATARAM.lombokjournal.com — Hasil tangkapan ikan nelayan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat anjlok akibat cuaca buruk di perairan laut Lombok akhir-akhir ini.

Salah seorang nelayan Sopiyan di Kampung nelayan Pondok Prasi, Kelurahan Ampenan, Kota Mataram, melaut sejak selesai shalat Subuh hingga tengah hari, hanya berhasil menjaring beberapa biji ikan kecil

“Saya melaut sejak selesai shalat Subuh hingga pukul 11.00 WITA, tetapi hanya beberapa ikan kecil yang saya peroleh,” kata Sopiyan, Senin ( 7/8 ).

Kalau boleh menyampaikan keluhan, siituasi paceklik itu sudah dialami umumnya nelayan di Ampenan dalam beberapa bulan terakhir.

Sopiyan  mengaku mencari ikan hingga enam mil dari bibir pantai. Namun hasil penjualan ikan tangkapannya paling tinggi Rp50 ribu. Kondisi serupa juga dialami oleh sebagian besar nelayan lainnya.

Sebagian besar nelayan sudah jarang mendapatkan ikan tongkol dalam jumlah banyak, tidak seperti beberapa tahun sebelumnya. Apalagi nelayan itu hanya menggunakan alat tradisional.

Sopiyan mengaku tidak memiliki pekerjaan alternatif yang bisa menopang kebutuhan hidup  keluarga di saat musim paceklik ikan seperti sekarang. Mengandalkan program bantuan pemerintah juga tidak ada.

“Ya mau gimana lagi, bantuan dari pemerintah juga gak pernah dapat, jadi selama tidak melaut kita perbaiki jaring saja”

Sopiyan lahir darikeuarga yang turun menurun menggeluti pekerjaan menjadi nelayan. Ia mengaku tetap melaut kendati musim angin kencang. “Dapat sedikit atau banyak ikan tergantung nasib,” ujarnya.

AYA

 




TGB Mulai Populer di Sumatera Utara

Selain sebagai ulama besar, TGB (Tuan Guru Bajang) disebut sebagai pemimpin daerah yang sukses

lombokjournal.com –

Masyarakat Sumatera Utara saat ini sudah mengenal ketokohan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), TGH M Zainul Majdi atau TGB (Tuan Guru Bajang) sebagai umara sekaligus ulama skarismatik.

“Kami memang tak tahu apa arti bajang,  apa pun artinya pasti sesuatu yang positif,” ujar Ketua Panitia Tablig Akbar menyambut peringatan HUT ke 72 Proklamasi Kemerdekaan RI di Masjid Amalia, Kabupaten Langkat, Sumatra utara, Minggu (06/07).

Ungkapan senada dilontarkan Ketua GAPAI Sumatra Utara, Ustadz Hendriyanto. TGB sebagai gubernur telah berhasil membangun NTB, tentu sangat dicintai masyarakat NTB.

“Tetapi tidak hanya masyarakat NTB, masyarakat Sumatra Utara, bahkan Indonesia pun mencintainya, karena TGB merupakan  seorang  ulama besar sekaligus  pemimpin daerah yang sukses,” ungkap Ustadz Hendriyanto.  Kalimat Ustadz Hendriyanto kemudian disambut takbir menggema dari masyarakat yang menghadiri tablig akbar.

Hari Minggu TGB mengakhiri rangkaian kegiatan  silaturahim di Provinsi  Sumatera Utara. Pada hari terakhir kunjungannya ke Sumatera Utara, TGB menghadiri undangan Tablig Akbar menyambut Peringatan HUT ke 72 Proklamasi   Kemerdekaan RI yang gelar di Masjid Amalia di Kabupaten Langkat, Minggu Pagi (06/08/2017).

Pada acara Tablig Akbar yang diselenggarakan oleh Pengurus DPW Ikatan  Pondok Pesantren Indonesia (IPI) Sumut bekerjasama dengan Pemda setempat,  TGB disambut meriah dan penuh keakraban oleh Ketua MUI Kabupaten Langkat,  Buya H. Ahmad Maqfus,  Wakil Bupati Langkat,  Drs. H. Sulistiono,  M. Si,  Ketua GAPAI Sumatera Utara,  Ustadz Hendriansyah dan Ketua panitia, Mukhlis Siregar.

Di hadapan hampir seribu jama’ah yang hadir, NTB mengajak jemaah menyambut momentum kemerdekaan dengan suka cita. Sebagaimana saat Presiden Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, 72 tahun yang lalu, juga disambut suka cita oleh seluruh rakyat Indonesia, ujarnya.

“Dalam mensyukuri nikmat kemerdekaan ini, kita harus benar-benar bertasyakur,” terang Gubernur TGB, seraya mengingatkan cara terbaik mewujudkan rasa Syukur atas karunia kemerdekaan itu adalah  dengan melakukan hal hal yang positif dan membawa kemanfaatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

TGB menyampaikan  rasa syukurnya telah diberi kesempatan hadir dan bersilahturahmi dengan masyarakat  di Bumi Langkat. Tanah melayu yang diberkahi Allah. “Tanah Indonesia yang dirahmati Allah,” ujarnya.

AYA/Hms

 




Surga Yang Digambarkan Dalam Al Quran Ada di Indonesia

Tidak ada yang kebetulan, termasuk keberagaman Indonesia merupakan skenario Allah Swt

TGH M Zainul Majdi

lombokjournal.com  – Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), menegaskan pandangannya tentang Indonesia adalah Ijma’ Wathani, yakni sudah menjadi konsensus Nasional. Di dalam perjuangan mewujudkan konsensus nasional itu,  para ulama  memiliki peran terbesar

TGB mengajak semua pihak ikhlas menerima keragaman bangsa Indonesia. Caranya, terus memupuk kepedulian keluarga besar ponpes yang selama ini sudah tumbuh dan berkembang dalam semangat keiklhlasan.

“Tidak ada lagi ruang adanya perdebatan mengenai perbedaan dan keragaman Indonesia,” tegas TGB dalam orasi kebangsaan yang diucapkan usai malam pelantikan pengurus Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) di Medan, Sumatara Utara, Jumat (4/8).

Kunjungan TGB ke Sumatera Utara memenuhi undangan tokoh agama dan masyarakat KH. Dr. Dedi Masri, L. C.,  M. Si, selain membangun hubungan dinamis antara NTB dengan provinsi lain, serta menjalin silahturahmi.

Di Sumatera Utara, TGB menghadiri malam pelantikan pengurus Ikatan Pesantren Indonesia (IPI). Pertemuan ini dihadiri pimpinan BUMN, Forkompimda Provinsi Sumatera Utara,  para tokoh agama dan masyarakat. Juga dihadiri oleh seluruh ratusan perwakilan Ponpes se Sumut , serta Pejabat dari Kementerian Dalam Negeri, Laode Ahmad SE. MSi, Perwakilan POLDA Sumut,  Perwakilan Pemda Sumut dan tokoh-tokoh masyarakat/tokoh agama se Sumut.

Menurutnnya, pondok pesantren di seluruh Indonesia, sejak awal merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. “Kewajiban kita semua bersama-sama untuk terus berjuang, merawat,  menjaga dan membentengi Indonesia,” ujarnya.

Dalam orasi kebangsaannya TGB menyampaikan buah pemikiran pandangannya tentang Indonesia. Indonesia dikatakannnya wujud anugerah dan nikmat dari Allah Swt.

“Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Termasuk keragaman Indonesia yang ada saat ini,  merupakan skenario besar dari Allah SWT,” tuturnya.

Keberagaman di Indonesia tampak jelas. Berbeda dengan negara-negara di Jazirah Arab, asal usul maupun suku bangsanya homogen. “Aneka ragam kekayaan alam dan budaya makin menggambarkan bahwa surga yang tergambar di dalam Al Quran itu ada di Indonesia,” katanya.

TGB mengatakan, Indonesia adalah Ijma’ Wathani, yakni sudah menjadi konsensus Nasional. Dalam perjuangan mewujudkan konsensus nasional itu,   para ulama  memiliki peran terbesar.  Dengan demikian,  tidak ada lagi ruang untuk adanya perdebatan mengenai perbedaan dan keragaman Indonesia.

AYA