TGB Uraikan Kebhinekaan Di Tablig Akbar Yang Digelar Komunitas Muslim di Korsel

Indonesialah negeri paling cocok dimaksud Al-Qur’an Surah Al-Hujurat Ayat 13

MATARAM.lombokjournal.com — Tablig Akbar diikuti lebih 3.500 orang dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi anggota komunitas muslim di Korea Selatan (Korsel). Mereka secara khusus mengundang Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang akrab disapa TGB di Universitas Gimpo, Korea Selatan tersebut, Selasa (03/10).

TGB  mulai dikenal oleh komunitas Muslim Indonesia di Korsel dan di belahan dunia lainnya. Gubernur NTB dua periode itu dikenal  sebagai sosok komplit ulama muda yang santun,  serta sosok Al Hafidz kharismatik.

Kehadiran TGB disambut antusias ribuan  jemaah dari berbagai sudut negeri ginseng tersebut. Mereka ingin bersilaturahmi dan  menyimak untaian kalimat suci Al Qur’an yang disampaikan TGB. Termasuk Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, menyambut dan mendampingi TGB.

Dalam tablig akbar itu, TGB antara mengupas Al-Qur’an Surah Al-Hujurat Ayat 13 yang menegaskan, Allah SWT menciptakan manusia, laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa hanya untuk saling mengenal.

TGB mengatakan, kalau kandungan ayat ini diarahkan di sudut-sudut benua yang ada, maka Indonesialah negeri paling cocok dimaksud Ayat ini. Hanya Indonesia negara yang memiliki banyak suku, ras dan agama. Bandingkan negara-negara lain yang hanya memiliki satu ras dan suku.

“Maka nikmat ini harus kita syukuri,” ungkap TGB.

Kebaragaman itu harus disyukuri, berarti Allah melimpahkan bermiliaran nikmat. Namun, dari miliaran nikmat tidak semuanya disuruh mengingat secara khusus. Nikmat yang disuruh mengingatnya secara khusus, maka itu adalah keistimewaan.

Nikmat persaudaraan dan persatuan ini merupakan keistimewaan bagi Allah SWT. “Kita ini sebagai satu bangsa, diberi kerunia yang luar biasa, yaitu keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa,” Jelas TGB.

Riwayat Madinah

TGB juga menceritakan riwayat masyarakat Madinah yang dulu bernama Yastrib. Sebelum datang Rasulullah, tidak ada yang tahu wilayah Yastrib.  Desa kecil dan ditinggali satu kelompok saja serta memiliki kemampuan terbatas.

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah,  mulai terbentuklah beragam suku di daerah tersebut. Orang-orang Muhajrin, Anshor dan suku yang lain berasal dari Persia, Roma dan negara-negara lainnya berkumpul dan hidup menyatu dalam keberagaman.

“Jadi keberagaman itu modal untuk membangun,” katanya. Keberagaman itu warisan ulama, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Jamaah yang hadir diajak bersyukur,  merenungi Indonesia yang memiliki masyarakat Muslim terbesar di dunia, sekitar 210 juta jiwa. Jumlah itu lebih besar dibanding warga muslim di negara-negara Arab jika disatukan.

“Apakah ini kebetulan? Tidak ada yang kebetulan dalam penciptaan Allah SWT,” tegas TGB.

Allah memiliki bermaksud agar umat Islam Indonesia menjadi contoh terbaik bagi seluruh umat se-dunia. Bahkan bagi seluruh umat manusia tentang kebaikan dan kemuliaan Islam.

TGB menutup tablig tersebut dengan kunci keberkahan dalam mencari rezeki. Diantaranya, rezeki itu dikatakan berkah apabila yang diterima berasal dari yang baik. Rezeki itu dikatakan berkah apabila kita merasa gampang bila dibelanjakan pada kebaikan, namun berat untuk dibelanjakan kepada kemaksiatan.

Kunci keberkahan kedua adalah Juhud, yakni digambarkan dengan kalau kita dapat nikmat tidak berlebihan dalam kebahagiaan, dan tidak larut dalam kesedihan.

“Silahkan bekerja sekuat-kuatnya. Taruh What itu di tangan, bukan di hati. Karena hati itu merupakan tempat yang paling mulia dalam diri kita. Adapun dunia, entah itu jabatan, harta, maka letakkan itu di tangan bukan di hati,” pesan TGB.

AYA/Hms

 




PPP Optimis Kemenangan Pasangan Ahyar-Mori

Kesungguhan PPP mendukung Ahyar-Mori, dibuktikan dengan terbitnya SK DPP PPP sejak bulan bulan Agustus

MATARAM.lombokjournal.com — Ketua komisi V DPR NTB yang juga Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Hj. Wartiah optimis memenangkan pasangan calon (Paslon) Gubernur NTB periode 2018 -2023, yakni TGH. Ahyar dan Mori Hanafi atau yang biasa disebut paket AMAN.

Wartiah menuturkan, pihaknya sudah  berkoordiniasi sampai ke bawah apalagi dari satu per 1000 persyaratan anggota itu yang E-KTA sudah mencapai 200 persen dari sekitar 5000 yang dibutuhkan. “Kita sudah 12 ribu. Yang lain masih dalam proses,” katanya.

Ia menjelaskan, PPP di nasional sudah tiga besar dalam penyelesan Verifikasi.  Kalau dalam verifikasi itu memaksimalkan koordinasi bawah, berarti sekaligus mempersiapkan diri untuk kemenangan Ahyar Mori.

“PPP tidak setengah-setengah dalam mempersiapkan kemenangan Paket Ahyar dan Mori, ” tegasnya

Sejak tanggal 18 Agustus, SK PPP untuk Mendukung TGH  Ahyar Abduh berpasangan dengan Mori Hanafi keluar itu. Dari terbitnya SK itu menunjukkan PPP sangat bersungguh-sungguh.

“PPP tidak ragu mendukung Paket ini ( AMAN ) jika dilihat dari semua kelebihan-kelebihan. Kami melihat dari sisi pengalamannya, visi- misi, tentunya duetnya juga saat ini merupakan duet yang paling pas,” kata Wartiah.

Kalau Ahyar Abduh disebutnya sukses di bidang pemerintahan atau Eksekutif, sedang Mori Hanafi dikatakannya sukses di Legislatif.

Saat dikonfirmas terkait adanya tambahan pendukung dari partai lain, ia mengaku tambahan koalisi partai tersebut akan menguatkan kemenangan pasangan Ahyar-Mori.

“Paket AMAN yakni Ahyar Abduh-Mori Hanafi sebagai The Next Gubernur itu sangat pas. Saya punya keyakinan sangat besar,” pungkasnya.

AYA

 




BPJS Kesehatan, Yang Perlu Anda Ketahui (1)

Masyarakat mendapat jaminan negara untuk mendapatkan akses ke layanan fasilitas kesehatan minimum di tengah mahalnya biaya pengobatan

lombokjournal.com —

Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJSan) Kesehat mengajak masyarakat Indonesia untuk bergotong royong mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat.  Gotong royong maksudnya, yang sehat membantu yang sakit, dan yang sakit pun diringankan bebannya.

Dari berbagai media baik cetak atau on line, banyak testimoni yang disampaikan orang-orang dari berbagai kalangan. Khusus bagi mereka yang berpenghasilan di bawah rata-rata, bagaimana hadirnya fasilitas BPJS Kesehatan membuat seseorang peserta JKN-KIS yang hanya membayar sekitar Rp30 ribu bisa berobat tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun.

“Buat saya ini anugerah, karena saya memang tidak mempunyai dana untuk berobat. Penghasilan saya saja pas-pasan,” kata Ati, 45, yang sehari-hari berjualan makanan kecil di kantin sebuah Sekolah Dasar pakaian di kawasan Sayang-sayang, Kelurahan Cakranegara.

Suami Ati bekerja sebagai sopir ekspedisi yang sering ke luar daerah. Tapi penghasilan mereka yang hanya untuk hidup sehari-hari.  Sedang Ati sejak 14 bulan lalu harus melakukan cuci darah rutin seminggu sekali karena ginjalnya bermasalah. Tentu biaya yang harus dibayarnya sekali cuci darah tidak sedikit.

Dengan menjadi peserta BPJS Kesehatan kelas III, Ati tak membayar sepeser pun untuk biaya di rumah sakit. Harus diceritakan, sebenarnya dokter menyarankan agar ia cuci darah seminggu dua kali, namun ia mengaku hanya sempat sekali seminggu. Ati sekarang sudah meninggal duania.

Bagi sebagian besar warga Indonesia, terutama masyarakat menengah ke bawah, hadirnya fasilitas BPJS Kesehatan memang mengembirakan sebagai pengganti asuransi kesehatan. Mereka jadi tidak khawatir ditolak rumah sakit hanya karena tidak mempunyai uang.

Negara menjamin masyarakat untuk mendapatkan akses ke fasilitas kesehatan minimum dan di tengah mahalnya biaya pengobatan, BPJS kesehatan jadi solusi alternatif.

BPJS Kesehatan adalah lembaga yang menyelenggarakan program jaminan kesehatan dan mulai aktif Januari 2014 lalu. Lembaga ini bisa eksis berdasarkan dua Undang-Undang yaitu UU No 40/ 2004 tentang Jaminan Sosial Nasional dan UU no 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial.

Disini perlu ditegaskan terutama bagi yang masih sulit membedakan antara BPJS kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Kalau BPJS Ketenagakerjaan lebih pada jaminan dan proteksi untukketenagakerjaan, sedang BPJS Kesehatan memang fokus mengelola jaminan sosial yang terkait masalah kesehatan masyarakat pada umumnya.

Ka-eS

(dari berbagai sumber)

BACA JUGA : – BPJS Kesehatan, Yang Perlu Anda Ketahui (2)




Busana Adat NTB Semarakkan Parade Nusantara Jambore PKK 2017

Di tengah keanekaragaman adat dan budaya, diharapkan Indonesia tetap bersatu

Hj Erica Zainul Majdi

lombokjournal.com — Busana adat dari tiga suku di NTB, yaitu Sasak, Samawa dan Mbojo berpartisipasi menyemarakkan Parade Nusantara Jambore Nasional PKK Tahun 201, yang digelar di sepanjang pelataran parkir Hotel Mercure Ancol, Selasa (03/10)

Kader PKK kebanggaan NTB ini terlihat serasi lengkap dengan yiel-yiel timnya yang kompak, tampil setelah kontingen Provinsi Bengkulu, Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.

Ketua TP PKK provinsi NTB, Hj. Erica Zainul Majdi hadir dan menyaksikan langsung penampilan kontingen kader TP. PKK NTB tersebut.

Parade Budaya Nusantara digelar serangkaian dengan Jambore Nasional PkK 2017 diikuti 34 provinsi se-Indonesia. Pembukaan parade secara resmi oleh ketua umum TP KK, Erni Guntarti Tjahjo Kumolo, ditandai pelepasan balon udara.

Di hadapan 1700 kader dari seluruh Indonesia, istri Menteri Dalam Negeri RI itu mengatakan, Parade budaya merupakan salah satu wahana pemersatu bangsa.

“Di tengah keanekaragaman adat dan budaya, Indonesia harus tetap bersatu, dan ibu-ibu bisa turut menjadi pemersatu,” ujarnya.

Dikatakannya,, Jambore yang rutin dilakukan oleh PKK ini merupakan wujud apresiasi atas kerja keras dan sukarela para kader PKK.

“Seluruh kader PKK harus bahagia. Di sinilah kita memberi penghargaan dan kebahagiaan bagi para ibu kader kebanggaan PKK,” ungkap Erni.

Ia berharap melalui rangkaian acara Jambore, para kader dapat saling berbagi ilmu serta bertukar pikiran, serta memetik hal-hal positif.

AYA/Hms

 




Imunisasi PCV Dilaksanakan Mulai Posyandu, Puskesmas dan RS di Lobar dan Lotim

Berdasarkan data 2016, kasus pneumonia ditemukan di NTB sebanyak 17 ribu kasus, di mana 14 ribu kasus diantaranya menyerang bayi dan batita.

MATARAM.lombokjournal.com — Program Imunisasi PCV akan menyasar sekitar 27 ribu bayi di Lombok Timur dan 14 ribu di Lombok Barat, sehingga total sasaran sekitar 40 ribuan.

“Program itu berlangsungdalam jangka tiga tahun,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB, Nurhandini Eka Dewi, Selasa (03/10), di sela sela pencanangan di Lombok Barat..

Nurhandini menjelaskan, berdasarkan data 2016, kasus pneumonia ditemukan di NTB sebanyak 17 ribu kasus, di mana 14 ribu kasus diantaranya menyerang bayi dan batita. Data yang sama menyebutkan sebanyak 89 kasus fatal terjadi hingga menyebabkan kematian bayi.

Menurutnya, selain angka temuan kasus itu, hasil penelitian Dikes NTB bersama Universitas Padjajaran dan Universitas Andalas pada 2016, juga menemukan sekitar 50 persen anak dan balita sehat di NTB masih memiliki ancaman karena ditemukan bakteri pnemokokus di tenggorokannya.

“Artinya imunisasi Hib saja tidak cukup untuk mencegah pneumonia ini, sehingga PCV diperlukan sebagai pelengkap,” katanya.

Ia menerangkan, secara klinis gejala pneumonia pada bayi dan batita mirip dengan ISPA, yakni batuk pilek dan demam. Hanya saja, pneumonia bisa berdampak fatal karena menyerang dan bisa menyumbat paru-paru.

Banyak kasus terjadi, anaknya panas dua hari baru diajak ke pelayanan kesehatan, ternyata sudah parah karena paru-paru sudah tersumbat. Sebenarnya, mengenali pneumonia ini mudah, kalau anak sudah kelihatan hidungnya kembang kempis, berarti dia sesak nafas.

“(Kalau melihat gejala itu) harus segera dibawa ke pelayanan kesehatan untuk mencegah kasus fatal,” katanya.

Wakil Gubernur NTB, Muhammad Amin usai membuka program itu  mengatakan, Pemprov NTB akan berupaya maksimal mendukung program imunisasi PCV di Lombok Barat dan Lombok Timur. Hal ini juga selaras dengan kebijakan daerah untuk sektor kesehatan.

“Selain itu imunisasi ini menjadi bagian penting untuk mendukung program generasi emas 2025 mendatang. Pemprov akan bersinergi dan mendukung program ini,” katanya.

Dalam seremoni pencanangan program demontrasi imunisasi PCV di Puskesmas Gunungsari, Lombok Barat, Selasa (3/10), sedikitnya 80 bayi berusia 2-3 bulan mendapat suntikan imunisasi PCV.

AYA

BACA JUGA :

Imunisasi pneumococcus vaccine (PCV), Mulai Dilaksanakan di Lombok Barat dan Lombok Timur




Imunisasi PCV Dilaksanakan Mulai Posyandu, Puskesmas dan RS di Lobar dan Lotim

Berdasarkan data 2016, kasus pneumonia ditemukan di NTB sebanyak 17 ribu kasus, di mana 14 ribu kasus diantaranya menyerang bayi dan batita.

MATARAM.lombokjournal.com — Program Imunisasi PCV akan menyasar sekitar 27 ribu bayi di Lombok Timur dan 14 ribu di Lombok Barat, sehingga total sasaran sekitar 40 ribuan.

“Program itu berlangsungdalam jangka tiga tahun,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB, Nurhandini Eka Dewi, Selasa (03/10), di sela sela pencanangan di Lombok Barat..

Nurhandini menjelaskan, berdasarkan data 2016, kasus pneumonia ditemukan di NTB sebanyak 17 ribu kasus, di mana 14 ribu kasus diantaranya menyerang bayi dan batita. Data yang sama menyebutkan sebanyak 89 kasus fatal terjadi hingga menyebabkan kematian bayi.

Menurutnya, selain angka temuan kasus itu, hasil penelitian Dikes NTB bersama Universitas Padjajaran dan Universitas Andalas pada 2016, juga menemukan sekitar 50 persen anak dan balita sehat di NTB masih memiliki ancaman karena ditemukan bakteri pnemokokus di tenggorokannya.

“Artinya imunisasi Hib saja tidak cukup untuk mencegah pneumonia ini, sehingga PCV diperlukan sebagai pelengkap,” katanya.

Ia menerangkan, secara klinis gejala pneumonia pada bayi dan batita mirip dengan ISPA, yakni batuk pilek dan demam. Hanya saja, pneumonia bisa berdampak fatal karena menyerang dan bisa menyumbat paru-paru.

Banyak kasus terjadi, anaknya panas dua hari baru diajak ke pelayanan kesehatan, ternyata sudah parah karena paru-paru sudah tersumbat. Sebenarnya, mengenali pneumonia ini mudah, kalau anak sudah kelihatan hidungnya kembang kempis, berarti dia sesak nafas.

“(Kalau melihat gejala itu) harus segera dibawa ke pelayanan kesehatan untuk mencegah kasus fatal,” katanya.

Wakil Gubernur NTB, Muhammad Amin usai membuka program itu  mengatakan, Pemprov NTB akan berupaya maksimal mendukung program imunisasi PCV di Lombok Barat dan Lombok Timur. Hal ini juga selaras dengan kebijakan daerah untuk sektor kesehatan.

“Selain itu imunisasi ini menjadi bagian penting untuk mendukung program generasi emas 2025 mendatang. Pemprov akan bersinergi dan mendukung program ini,” katanya.

Dalam seremoni pencanangan program demontrasi imunisasi PCV di Puskesmas Gunungsari, Lombok Barat, Selasa (3/10), sedikitnya 80 bayi berusia 2-3 bulan mendapat suntikan imunisasi PCV.

AYA

BACA JUGA :

Imunisasi pneumococcus vaccine (PCV), Mulai Dilaksanakan di Lombok Barat dan Lombok Timur




Imunisasi pneumococcus vaccine (PCV), Mulai Dilaksanakan di Lombok Barat dan Lombok Timur

NTB daerah pionir yang pernah sukses sebagai pilot project imunisasi hepatitis di tahun 2000, dan imunisasi Hib di tahun 2013.

MATARAM.lombokjournal.com — Kementerian Kesehatan RI bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, mencanangkan program demonstrasi imunisasi pnemokokus konyigasi atau pneumococcus vaccine (PCV), yang mulai dilaksanakan di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (03/10), di Puskesmas Gunungsari, Lombok Barat.

Program yang didukung oleh World Health Organization (WHO), Unicef dan Clinton Health Access Initiative (CHAI) akan direplikasi secara nasional untuk upaya pencegahan penyakit pneumonia pada bayi dan balita.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, hadirf bersama Mohammad Subuh, Wakil Gubernur NTB Muhammad Amin, Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid, serta perwakilan World Health Organization (WHO), Unicef dan Clinton Health Access Initiative (CHAI).

Program demonstrasi imunisasi PCV di Lombok Barat dan Lombok Timur resmi dimulai hari ini, dan akan kota evaluasi enam bulan ke depan.

“Program akan direplikasi di seluruh daerah di NTB dan akan direplikasi menjadi program nasional,” kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, Mohammad Subuh.

Program imunisasi PCV itu dilaksanakan karena beban penyakit pneumonia di Indonesia cukup besar. Penyakit peneumonia menyebabkan kasus kematian bayi terbesar di Indonesia, setelah diare.

Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesda) tahun 2013 yang diulang di tahun 2017, prevalensi pneumonia atau radang paru-paru pada bayi di bawah tiga tahun (Batita) di Indonesia masih mencapai 21,7 persen.

“Bisa dibayangkan, kalau jumlah batita kita ada 10 juta, maka ada 2,1 juta yang menderita pneumonia. Kalau pneumonianya berat, maka kemungkinan kematian sangat tinggi. Ini yang kita cegah dengan imunisasi PCV,” katanya.

Menurutnya, provinsi NTB dipilih menjadi lokasi demontrasi atau pilot project imunisasi PCV ini bukan semata karena kasus pneumonia masih cukup tinggi di NTB.

Namun, NTB merupakan daerah pionir yang sudah pernah sukses sebagai pilot project imunisasi hepatitis di tahun 2000, dan imunisasi Hib di tahun 2013.

Subuh mengatakan, secara nasional imunisasi menjadi bagian penting dalam pencegahan dan pengendalian penyakit bagi masyarakat di suatu negara.

Indonesia saat ini hanya memiliki 9 jenis vaksin untuk imunisasi dasar nasional, sementara di Malaysia sudah 14 vaksin, dan di Amerika Serikat sudah ada 17 hingga 18 vaksin.

Imunisasi ini penting karena hanya ini proteksi spesifik. Tidak ada lagi program proteksi spesifik di kesehatan kecuali imunisasi. “Karena itu sampai tahun 2020 pemerintah menargetkan bisa menambah tiga sampai empat jenis imunisasi lagi selain sembilan yang sudah ada,” katanya.

Dijelaskan, dua imunisasi baru yang sudah mulai dikembangkan dan diujicoba adalah imunisasi MR dan PCV. Untuk MR, saat ini sudah berjalan di pulau Jawa dengan cakupan mencapai 98 persen.

Tahun depan imunisasi MR akan direplikasi juga ke luar pulau Jawa pada Agustus 2018.

Kemenkes juga tengah mengambangkan rencana imunisasi human papiloma virus (HPV) untuk penyakit CA servic, serta imunisasi japanese ensa valeptis untuk penyakit meningitis otak yang tahun depan akan dimulai di Bali.

Subuh menekankan, keberhasilan program imunisasi sebenarnya merupakan warisan, bukan hanya warisan program tetapi juga warisan sumber daya manusia (SDM).

Ia mencontohkan, Indonesia sudah mendapat tiga sertifikat bebas penyakit dari WHO, antara lain bebas Cacar, bebas Polio, dan bebas eliminasi neonatus tetanus.

Program imunisasi cacar dicanangkan oleh pemerintahan Presiden Soekarno pada 1957 dan pada 1980 Indonesia mendapat sertifikasi bebas cacar dari WHO saat Presiden Soeharto.

Program imunisasi Polio dicanangkan di masa Presiden Soeharto sejak tahun 70-90an, dan pada 2014 Indonesia dinyatakan bebas polio di masa pemerintahan SBY.

Dan sertifikat eliminasi neonatus tetanus yang imunisasinya dicanangkan SBY, sertifikasinya didapatkan tahun 2017 ini di saat pemerintahan Presiden Jokowi.

“Jadi inilah warisan-warisan yang ada. Untuk SDM generasi penerus kita juga, ini kita mulai dari mereka nol bulan hingga berusia sekolah,” katanya.

AYA

BACA JUGA :

Imunisasi PCV Dilaksanakan Mulai Posyandu, Puskesmas dan RS di Lobar dan Lotim




Wakil Gubernur Minta Agar Pengungsi Gunung Agung Diperhatikan Maksimal

Pengungsi Gunung Agung di Lombok sudah mencapai 100 kepala keluarga (KK) dengan 354 jiwa.

MATARAM.lombokjournal.com — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), H Muhammad Amin minta dinas yang terkait penanganan bencana, memberi perhatian lebih terhadap para pengungsi Gunung Agung, Bali yang menyeberanng ke Lombok.

Sebagai daerah terdekat Bali,  NTB harus membantu Pemerintah Provinsi Bali mengantisipasi dampak aktivitas Gunung Agung yang kini statusya Awas.

“Sebagai tetangga dekat, kita harus membantu semaksimal mungkin, ,” kata wagub.

Katanya, gelombang pengungsi yang ke Lombok kebanyakan karena memiliki keluarga. Namun, Amin minta untuk tetap mendata para pengungsi, agar memudahkan memberi bantuan dan kebutuhan para pengungsi.

Mengenai anggaran, Amin mengungkapkan, ada dinas-dinas yang memiliki alokasi anggaran terkait kebencanaan, misalnya Dinas Sosial NTB.

“Harus siapkan dan didata. Ini solidaritas kemanusiaan. Kalau NTB terkena bencana, pasti Bali sebagai daerah terdekat juga membantu, begitu pun sebaliknya,” tegasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Muhammad Rum mengatakan, hingga Selasa (3/10), jumlah pengungsi Gunung Agung di Lombok sudah mencapai 100 kepala keluarga (KK) dengan 354 jiwa.

Jumlah ini tersebar di beberapa titik di wilayah mulai Lombok Barat, Lombok Utara, hingga Kota Mataram. Angka ini merupakan hasil pendataan pos pemantau pengungsi di Pelabuhan Lembar. Diprediksi jumlah ini masih bisa meningkat, lantaran banyak pengungsi yang tidak atau enggan didata.

“BPBD NTB juga telah mendistribusikan bantuan kepada para pengungsi di Lombok,” jelas Rum.

Bantuan berupa makanan siap saji, selimut, perlengkapan sekolah, perlengkapan makanan, hingga family kit telah disalurkan kepada para pengungsi.

Rum menjelaskan, BPBD NTB membuka kantor selama 24 jam di Jalan Lingkar Selatan, Mataram, NTB. Bagi para pengungsi yang tinggal tak jauh dari kantor BPBD NTB untuk mengambil bantuan.

Bagi pengungsi yang tinggal cukup jauh dari Kantor, BPBD NTB mendatangi tempat tinggal sementara para pengungsi guna memberikan bantuan.

AYA




PKK NTB Ikuti Jambore Nasional Kader PKK

Dipamerkan pengelolaan “sampah rumah tangga”, kreativitas dari bahan-bahan yang tidak terpakai, menjadi sesuatu yang punya nilai jual.

MATARAM.lombokjournal.com — Wakil Ketua I TP PKK Provinsi NTB , Hj. Syamsiah M.Amin menghadiri kegiatan Jambore Nasional Kader PKK tahun 2017, di ballroom Hotel Mercure, Ancol Jakarta, Senin (2/10). Kegiatan yang dibuka Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi tersebut sekaligus untuk memperingati Hari Kesatuan Gerak (HKG) ke-45 tahun 2017.

Sejak tahun 1997 sampai tahun 2017, Jambore Kader PKK dilaksanakan secara nasional, meski provinsi juga melaksanakannya.  Pemotongan pita tanda dibukanya pameran kerajinan dari bahan-bahan tak terpakai,  dilakukan Ketua Umum TP PKK, Erni Gundarti Tjahjo Kumolo.

Pameran ini merupakan rangkaian dari kegiatan Jambore Nasional PKk tahun 2017.

Ketua Umum PKK menyebut pameran ini sebagai salah satu upaya mendukung pengembangan  kreativitas Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), demi meningkatkan kesejahteraan keluarga.
ia menekankan pentingnya meningkatkan UP2K, karena merupakan salah satu dari 10 program PKK.

UP2K ini modalnya paling simple dan murah yakni dengan mengelola “sampah rumah tangga”, bahan-bhan yang seringkali tidak terpakai, menjadi sesuatu yang punya nilai jual.  Dari 34 provinsi yang turut berpartisipasi pada pameran, tentu memiliki kekhasannya masing-masing.

Syamsiah yang didampingi Wakil Ketua IV TP PKk Provinsi NTB, Hj Ikhsanti Komala Rimbun, sempat berdialog dengan pengusaha dan pengrajin.  Dialog itu terjadi saat berkeliling meninjau  pameran produksi dalam negeri yang diikuti seluruh provinsi dan pelaku usaha di sekitar Jabodetabek, di pelataran ballroom hotel Mercure, Ancol Jakarta.

Saat meninjau pameran itu, Syamsiah tertarik berbagai aksesoris yang dipamerkan, buah karya pengusaha dan pengrajin dari 34 provinsi se Indonesia. Seperti perhiasan berbahan dasar mutiara yang dirancang apik menjadi kalung, gelang, bros, hingga peniti cantik.

Ketua BKOW Provinsi NTB itu juga meninjau stand yang menjual berbagai produk makanan olahan, kerajinan seperti tas dan berbagai peralatan rumah tangga berbahan dasar anyaman, hingga produk tenun khas nusantara.

AYA/Hms




TGB Ingatkan, 80 Persen di Poltekpar Lombok Harus Diisi Orang NTB

Tiap pembangunan ada konsekuensinya, membangun sepetak kios pun ada konsekuensinya apalagi pembangunan fasilitas hotel dengan ribuan kamar

LOTENG.lombokjournal.com – Konsekuensi pembangunan harus diantisipasi dengan sebaik-baiknya dan mengedepankan kearifan. Hal itu disampaikan Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, saat peletakan batu pertama sebagai simbolis dimulainya pembangunan Kampus Poltekpar Negeri Lombok, di Puyung Lombok Tengah, Senin, (2/10).

“Tidak hanya pembangunan berskala besar seperti pembangunan fasilitas hotel dengan ribuan kamar, dalam skala kecil pun perlu dilakukan perencanaan dan koordinasi sebaik-baiknya,” kata gubernur.

Gubernur yang  lebih dikenal  sebagai Tuan Guru Bajang (TGB)  mengajak tokoh agama dan masyarakat di Lombok Tengah, bisa mengantisipasi dampak dari pembangunan itu, baik negatif maupun positif.  Caranya, dengan menumbuhkan semangat membangun daerah yang tinggi.

Selain itu, perlu memperkuat dan memperkokoh nilai-nilai agama dan budaya kita.

“Jangankan pembangunan besar, pembangunan sepetak kios pun pasti ada konsekuensinya ,” ungkap TGB.

Lebih lanjut diingatkan, 90 persen bagian di Poltekpar Negeri Lombok, 80 persenya harus diisi oleh putra-putri NTB, yakni Lombok dan Sumbawa dengan perimbangan yang baik.

Dengan demikian, tumbuh minat bagi anak-anak muda NTB melihat peluang kerja tidak hanya menjadi PNS. Akan terbuka peluang  untuk menjadi insan pariwisata di NTB.

“Hadirnya Poltekpar menjadi salah satu pintu yang menghadirkan kesejahteraan dan kebaikan untuk kita semua,” harapnya.

AYA

BACA JUGA : Kualitas Poltekpar Lombok Harus Berstandar Internasional