Prediksi Mi6, 50 Persen Petahana DPD RI Dapil NTB Bakal Out 

Lembaga kajian sosial dan politik Mi6 prediksi, akan terjadi revolusi ‘Februari Spring’ dalam Pemilu 2024  

MATARAM.lombokjournal.com ~ Sedikit setengah atau 50 Persen petahana DPD RI Periode 2019 – 2024 bakalan out atau kalah bersaing Kontestasi dalam Pemilu 2024 mendatang. 

Prediksi itu disampaikan Direktur  Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH, Senin (02/01/23). 

“Munculnya pemilih pemula 4.0 yang menginginkan perubahan turut berkontribusi terhadap tumbangnya petahana DPD RI periode 2019 – 2024,” kata Bambang Mei Finarwanto, SH melalui siaran pers kepada media. 

BACA JUGA: Pilgub 2024, Mi6 Prediksi Paket Zul-Rohmi Oleng

Menurutnya, ada fenomena Revolusi Februari Spring yang ditandai arus besar migrasi elektoral. 

Khususnya dari kalangan pemilih pemula yang condong mengalihkan dukungan kepada figur-figur baru yang dipandang lebih memiliki effort kuat sebagai senator pujaan hati kaum milenial/Generasi Z. 

Kedua, arus balik dukungan bisa jadi dipengaruhi munculnya tunas-tunas muda pemilih pemul. Mereka sulit diyakinkan persepsinya oleh Kinerja Petahana DPD RI yang ‘dianggap’  tidak selaras dengan kepentingan gaul pemilih 4.0. 

Untuk diketahui Pemilih muda diproyeksi masih menjadi kunci untuk pemenangan Pemilu 2024. Pasalnya, kalangan usia tersebut masih akan mendominasi jumlah pemilih dalam kontestasi politik dua tahun mendatang. 

Hal itu tergambar dari data proyeksi penduduk Indonesia 2015-2045. 

Berdasarkan data yang disusun oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 318,9 juta jiwa pada 2024. 

Dari jumlah itu, sebanyak 21,73 juta penduduk berusia 15-19 tahun. Sebanyak 21,94 juta penduduk berada di rentang usia 20-24 tahun. 

Kemudian, penduduk berusia 25-29 tahun dan 30-34 tahun masing-masing sebanyak 21,73 juta orang dan 21,46 juta orang. Sebanyak 21,04 juta orang berada di rentang umur 35-39 tahun.

BACA JUGA: Kamus Digital Bahasa SASAMBO-Indonesia, Dirilis

Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pun memperkirakan bahwa Pemilu 2024 akan didominasi oleh generasi Z dan milenial yang berada di rentang usia 17-39 tahun. Berdasarkan hasil survei CSIS, jumlah kedua generasi tersebut mendekati 60% dari total pemilih,” ujar Bambang mengutip artikel Shilvina Widi yang dimuat Data Indonesia, 28 Oktober 2022 . 

Dukungan Elektoral dari Parpol

Selanjutnya Pria yang akrab disapa Didu ini mengatakan, selain munculnya Generasi Votter’s 4.0 dengan jargon perubahan Februari Spring 2024, tumbangnya Petahana DPD RI juga dipengaruhi oleh masuknya calon anggota DPD RI yang dindikasikan  berasal dari partisan. 

“Mi6 melihat masuknya sejumlah calon Senator yang memiliki latar belakang Partisan mendaftar sebagai DPD RI dapil NTB  turut berkontribusi memperlemah dan menggerus dukungan suara Petahana,” kata Didu. 

Didu memprediksi melemahnya dukungan Petahana DPD RI juga dipengaruhi sikap Parpol yang dulu memberikan dukungan kepada Senator, kuat dugaan  akan mengalihkan dukungannya kepada Calon DPD RI yang Berlatar belakang Kadernya.

“Partai yang berbasis ideologi memiliki peluang  besar memenangkan Calon Senator yang diendorsnya,” imbuhnya.  

Didu menggarisbawahi kekuatan jaringan dan struktur parpol memberikan keringanan dan memudahkan bagi calon pendatang baru senator, dalam mengagregasi dukungan suara pada tingkat basis. 

“Parpol yang memiliki struktur lengkap ditingkat akar rumput akan memberikan keuntungan elektoral dengan kepastian raihan suara yang jelas untuk calon yang didukung,” lanjut didu. 

Didu menegaskan dengan  luasnya wilayah geografi Dapil NTB yang harus dijelajah dan dipenetrasi oleh pendatang baru, diperlukan kerjasama politik dan elektoral dengan pemilik suara. Baik itu dari kelompok partisan maupun Ormas  agar memiliki kepastian dukungan. 

Didu melihat calon DPD RI yang tidak memiliki investasi sosial yang cukup maupun net working yang kuat diprediksi akan mengalami kesulitan dalam  memenangi tiket elektoral. 

“Tapi sebagai ajang test the water untuk mengukur popularitas dan elektabilitas, tidak soal juga ikut meramaikan konstestasi sebagai Calon DPD RI merasakan aroma pertarungan politik yang sesungguhnya,” ujar mantan Direktur Walhi NTB dua periode ini. 

Direktur Mi6 juga mengapresiasi munculnya pendatang baru dari kalangan anak muda ikut pemilihan kontestasi perebutan DPD RI dapil NTB.

BACA JUGA: Gubernur NTB Terima Penghargaan dari Kapolda NTB

“Terlepas kalah atau menang, terlibatnya pendatang baru calon senator menandakan munculnya kesadaran politik baru dari kalangan anak muda kreatif  yang menyadari kelebihan kapasitasnya dan kekuatan elektoral yang dimiliki,” ujarnya.***

 

 




Gubernur NTB, Bersama Forkopimda Gelar Patroli

Menjelang pergantian tahun, Gubernur NTB bersama Kapolda NTB, dan Danrem serta Forkopimda Provinsi NTB, juga menyempatkan mengunjungi Pondok Pesantren 

MATARAM.lombokjournal.com ~ Untuk memastikan pergantian tahun baru 2023 berlangsung aman dan tenteram, Gubernur NTB ZulkieflimansyaH bersama Kapolda NTB, Irjen Pol Djoko Poerwanto, beserta Danrem dan Forkopimda Provinsi NTB, gelar patroli malam tahun baru.

BACA JUGA: Gubernur NTB Terima Penghargaan dari Kapolda NTB

Gubernur NTB versama Forkonpinda memastikan tahun baru aman .”Bersama Pak Kapolda dan Pak Danrem di Mandalika dan tempat-tempat lain di NTB memastikan pergantian tahun di NTB berlangsung dengan aman dan tenteram,” tutur Bang Zul sapaan Gubernur NTB di Mandalika, Sabtu (31/12/22) malam 

Malam itu Gubernur NTB menghimbau kepada masyarakat agar tidak mengisi tahun baru dengan hura-hura. 

Melainkan dengan banyak merenungi apa saja yang telah dilakukan selama satu tahun terakhit dan berdoa. Agar di tahun yang akan datang akan menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. 

“Hindari merayakan tahun baru dengan hura hura. Isi dengan banyak merenung dan berdoa agar tahun 2023 lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Amiiin,” harap Gubernur.

Sebelumnya, Gubernur bersama rombongan mengunjungi beberapa tempat,  seperti menggunjungi Pondok Pesantren Darus Siddiqien NW di Mertak Paok  Lombok Tengah, Desa Wisata Tete Batu, hingga Berkunjung ke Yayasan Ar Rahman Masbagik Lombok Timur. 

BACA JUGA: Bantuan Bencana untuk Korban Bencana Ekstrim

Dan membagikan santunan ke anak-anak yatim, ke ibu-ibu lanjut usia, dan para santri di bawah bimbingan Yayasan hingga bertemu UMKM di Masbagik. ***

 

 




Kamus Digital Bahasa SASAMBO-Indonesia, Dirilis  

Keberhasilan Kantor Bahasa Provinsi NTB berupa pembuatan aplikasi digital, antara lain kamus bahasa daerah NTB-Indonesia berbasis laman dan andoid

MATARAM.lombokjournal.com ~ Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTB Dr. Puji Retno Hardiningtyas S.S., M.Hum,  menyampaikan  keberhasilan dan capaian serta inovasi dalam program yang telah diperoleh hingga tahun 2022.

Capaian dan inovasi dari Kantor Bahasa Provinsi NTB, yakni telah merilis Kamus Bahasa Sasak, Samawa dan Mbojo (SASAMBO), yang dapat diakses secara digital oleh masyarakat umum. 

BACA JUGA: Validitas Data jadi Preioritas dalam Penanggulangan Kemiskinan di NTB

Kantor Bahasa Provinsi NTB merilis Kamus Bahasa Sasak, Samawa dan Mbojo (SASAMBO)

“Inovasi dalam hal pelayanan pada masyarakat, berupa  pembuatan aplikasi digital,  Sistem  Informasi, Data, dan Layanan (Sidaya) berbasis laman dan Android, aplikasi Kamus dalam Jaringan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (Kadaring SIBI) berbasis, dan Kamus Bahasa Sasak-Indonesia, Kamus Bahasa Samawa-Indonesia, dan Kamus Bahasa Mbojo-Indonesia berbasis laman dan Android,” terang Doktor Retno di Kantornya, Jumat (30/12/22).

Menurut Dr. Puji Retno Hardiningtyas S.S., M.Hum, capaian dan keberhasilan program yang diperoleh tidak terlepas dari kerjasama, sinergi dan kolaborasi yang dibangun, baik secara internal maupun ekternal dengan semua pihak. 

Khususnya dukungan Gubernur NTB Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Hj. Sitti Rohmi Djalilah, yang telah menghibahkan tanah dari Pemerintah Provinsi pada tanggal 28 Oktober 2022.

“Terima kasih kami ucapkan kepada Pak Gubernur dan Bu Wagub yang senantiasa mendukung kami. Kami terus berupaya mengembangkan diri dalam inovasi. Karena itu salahsatu kunci keberhasilan program,” kata Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTB yang berada dalam naungan Kemendikbudristek RI tersebut. 

Sementara dalam aspek pencapaian program,  yaitu 1.000 usulan kosakata bahasa daerah NTB yang telah dikirim ke redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 292 penambahan kosakata Kamus Bahasa Sasak—Indonesia, 130 penambahan kosakata Kamus Bahasa Samawa— Indonesia, dan 292 penambahan kosakata Kamus Bahasa Mbojo—Indonesia.

“Termasuk produk perkamusan yang telah diterbitkan oleh Kantor Bahasa Provinsi NTB 

pada tahun 2022, yaitu Kamus Bahasa Daerah NTB-Indonesia dan Ensiklopedia Sastra Daerah di Nusa Tenggara Barat,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Diskominfotik NTB Baiq Nelly Yuniarti yang diwakili Kepala UPT. Pusat Layanan Digital Anugrah Fajar Fahrurazie turut menyampaikan selamat atas kontribusi dan inovasi yang telah dilakukan Kantor Bahasa Provinsi NTB. 

“Menyampaikan salam hormat pimpinan, dan selamat atas capaian serta inovasi Digital yang telah dilakukan, khususnya kamus bahasa daerah yang kini dapat diakses oleh warga NTB. Tentu akan kami terus sosialisasikan sehingga kebermanfaatannya kian terasa,” terang Fajar. 

Capaian lain Kantor Bahasa Provinsi NTB adalah, terfasilitasi layanan profesional kebahasaan dan penutur bahasa terbina. 

Sebanyak  200 peserta dari 60 ODP se-NTB telah mengikuti pendampingan secara luring yang diselenggarakan di Kab. Lombok Barat, 21 lembaga yang mengikuti Lomba Wajah Bahasa pada bulan Oktober 2022, dan 15 lembaga terbaik yang diberikan apresiasi atas pengutamaan bahasa negara pada Lomba Wajah Bahasa Oktober 2022.

Capaian program Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) , yaitu 3.062 peserta UKBI bagi siswa dengan rincian yang terdiri atas siswa SD pada 7 sekolah, siswa SMP pada 3 sekolah, dan siswa SMA/SMK pada 5 sekolah dan 125 peserta UKBI Penerimaan Negara 

BACA JUGA: Presiden Jokowi Resmikan Bendungan Beringin Sila di Sumbawa

Bukan Pajak (PNBP) yang terdiri atas guru SD, mahasiswa, dan mahasiswa beasiswa unggulan.

Ada juga kegiatan Pemantauan dan Evaluasi Distribusi Buku, Gerakan untuk Literasi Semesta (Geulis), melakukan pemberdayaan komunitas penggerak literasi pada bulan Februari, Maret, dan Agustus tahun 2022 dengan total sebanyak 103 komunitas penggerak literasi yang tersebar di pulau Lombok dan Sumbawa.

Melakukan Bimbingan dan Pelatihan di Kabupaten Sumbawa pada bulan Maret 2022 kepada 35 peserta pegiat/pengajar/lembaga BIPA dan Kantor Bahasa Provinsi NTB mengadakan Lomba Bercerita dan Membaca bagi Pemelajar Asing di NTB pada bulan Agustus 2022, yang diikuti 40 peserta pemelajar asing. ***

 




Yayasan Ar-Rahman Masbagik Santuni 1000 Anak Yatim Piatu 

Kepada Ketua Yayasan, Gubernur NTB berharap kehadirannya di Yayasan Ar-Rahman Masbagik merupakan bentuk awal untuk bersinergi 

LOTIM.lombokjournal.com ~ Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menghadiri acara santunan Anak Yatim Piatu Khotmil Qur’an dan Tabligh Akbar di Yayasan Ar-Rahman Kp. Sukadatu, Desa Masbagik Selatan, Kec. Masbagik, Kab. Lombok Timur, Sabtu (31/12/22).

Pada kesempatan tersebut Gubernur mengapresiasi para pengelola yayasan atas perhatiannya kepada seluruh anak yatim piatu dan lansia, ada di sekitar yayasan.

BACA JUGA: Milad ke 70 Ponpes Darus-Shiddiqien L0teng

Gubernur NTB menyampaikan sambutan pada acara santunan Yatim Piatu di Yayasan Ar-Rahman

Ia juga menyatakan, Pemerintah akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh pihak untuk membantu yayasan.

“Kami berterima kasih pada ibu ketua yayasan karena hatinya begitu lapang telah menampung begitu banyak. Atas nama Pemda, kami akan bersinergi membantu yayasannya. Mudah-mudahan dengan kehadiran kita semua disini merupakan bentuk awal sinergi kita di masa-masa yang akan datang,” kata Bang Zul sapaannya.

Acara santunan tersebut diperuntukkan untuk sekitar 1000 anak yatim piatu di sekitar Yayasan Ar-Rahman. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Yayasan Ar-Rahman, Herni Yuliati, SP., sembari bercerita singkat mengenai profil yayasannya. 

“Kita disini ada beberapa lembaga, yaitu TPQ, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak, Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia, SDIT, dan Majelis Ta’lim. Kita juga ada program Bank Sampah dan Eco Bricks. Dan acara santunan hari ini ditujukan untuk sekitar 1000 anak yatim disini,” jelas Herni Yuliati.

Setelah mengunjungi Yayasan Ar-Rahman, Bang Zul, juga turut mendatangi Bazar UMKM bertempat di Pasar Lama Masbagik yang diadakan oleh Kelompok UMKM Kabupaten Lombok Timur.

BACA JUGA: Gubernur NTB bersama Forkompinda Gelar Patroli 

Turut hadir mendampingi Gubernur pada acara tersebut yaitu Kadis Sosial Prov. NTB, Kadis P3AP2KB Prov. NTB, Kadis Kominfotik Prov. NTB, Kadis Sosial Kab. Lombok Timur dan beberapa stakeholders terkait. ***




Milad ke 70 Ponpes Darus-Shiddiqien NW, Loteng

Menghadiri milad Ponpes Darus-Shiddiqien NW, Gubernur NTB, Bang Zul mengajak para santri bersyukur

LOTENG.lombokjournal.com ~ Gubernur NTB, Zulkieflimansyah memberikan sambutan pada acara Tasyakur Milad ke-70 Pondok Pesantren Darusshiddiqien NW Mertak Paok dan Tawajjuh Haul Almagfurullah TGKH. Muhammad Zaenuddin Abdul Madjid, di Aula Pondok Pesantren Darus-Shiddiqien NW Mertak Paok, Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu (31/12/22).

Gubernur yang akrab disapa Bang Zul itu, mengajak seluruh jamaah pengajian untuk bersyukur atas nikmat Allah SWT. 

BACA jUGA: Gubernur NTB bersama Forkompinda Gelar Patroli

Pada acara Milda Ponpes Darusshiddiqien NW Mertak Paok, mengajak santri untuk bersyukur

Diutarakannya, belum tentu jabatan tinggi atau memiliki harta yang banyak belum tentu hidupnya bahagia.

“Saya senang pagi ini bisa hadir melihat jamaah kita ini begitu bahagia sekali datang bersilaturahmi,” sanjung Bang Zul.

Mengutip salah satu surat yang dibacakan Qoriah tadi, bahwa pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda kebesaran Allah SWT bagi orang-orang yang berpikir.

“Jadi para mufasir menafsirkan bahwa dalam kehidupan di dunia ini silih berganti, ada waktunya senang, sedih, murung bahagia dan lainnya semuanya akan berlalu,” pungkasnya.

Selain itu, diceritakan Bang Zul sebelum terpilih menjadi Gubernur, pada masa kampanye dulu sering mengunjungi hampir semua desa-desa hingga dusun, menyapa tokoh agama, mengunjungi pondok pesantren. 

Dalam kunjungan tersebut,  permintaan masyarakat tidak ada yang aneh-aneh.

“Mereka hanya menginginkan untuk kembali dikunjungi dan dilanjutkan untuk disapa tidak hanya saat kampanye saja,” tuturnya.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Darus-Shiddiqien Mertak Paok, TGH. M. Burhanuddin QH., S.Ag., menyampaikan terimakasih kepada bapak Gubernur beserta rombongan menyempatkan waktunya untuk memenuhi undangan di pondok pesantren.

“Kami ucapkan terimakasih banyak atas kedatangan pak Gubernur bersama rombongan dalam rangka memperingati hari lahirnya pondok pesantren ini yang ke-70 sejak tahun 1951 mulai dirintis,” ungkapnya.

BACA JUGA: Validasi Data Jadi Prioritas dalam Penanganan Kemiskinan di NTB

Untuk diketahui, pondok pesantren ini mengelola pendidikan mulai dari MI, PGA 4 tahun, kemudian Tsanawiyah, Aliyah, hingga TK bahkan SMK.

“Tidak hanya pada bidang pendidikan melainkan ponpes ini menyediakan panti asuhan, serta bergerak juga pada bidang sosial kemasyarakatan, berdakwah dan lain sebagainya,” tutupnya. ***

 

 




Kalimat Ucapan yang Benar, “ Umat Islam” atau “Umat Muslim”

Membaca kalimat di berbagai media, seolah-olah sama penggunaan frase “umat Islam” atau “umat muslim”, padahal ada penggunaan yang tidak tepat

MATARAM.lombokjournal.com – Dalam berita di berbagai media, pembaca terbiasa membaca kalimat, misalnya “tiap hari Jum’at umat Islam melaksanakan sholat Jum’at di masjid”, atau terkadang “tiap hari Jum’at umat muslim melaksanakan sholat Jum’at di masjid”.

Atau lebih sering selama selama bulan Ramadhan atau puasa, kita akan terbiasa mendengar dan melihat ucapan-ucapan “Selamat menjalankan ibadah puasa kepada umat Islam” atau terkadang “Selamat menunaikan ibadah puasa kepada umat muslim”.

BACA JUGA: Simbol Pluralisme Pulau Seribu Masjid

Karena terbiasa membaca kalimat itu, seolah-olah kaliman kedua kalimat ucapan itu memiliki arti yang sama.

Padahal, jika diperhatikan, ada penggunaan kata yang kurang tepat di dalamnya.

Kalau kita kemudian merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata umat memiliki arti (1) ‘para penganut (pemeluk, pengikut) suatu agama; penganut nabi’ atau (2) ‘makhluk manusia’.

Maka dari itu, penggunaannya harus diikuti dengan nama agama atau nama nabi. Contohnya adalah ungkapan umat Islam atau umat Nabi Nuh.

Sementara itu, kata muslim dalam KBBI memiliki arti ‘penganut agama Islam’.

Dengan demikian, jika kita menggunakan ungkapan umat Muslim, maka artinya adalah umat yang mengikuti penganut agama Islam.

Mereka, umat yang dimaksud dalam ungkapan tersebut, mengikuti orang (penganut) yang beragama Islam, bukan agamanya.

Tentu saja frasa tersebut tidaklah tepat untuk digunakan.

BACA JUGA: Gubernur NTB Terima Penghargaan dari Kapolda NTB

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka ungkapan yang paling tepat adalah umat Islam bukan umat muslim. ***

 




Gubernur NTB Terima Penghargaan dari Kapolda NTB 

Kapolda NTB mengapresiasi Gubernur NTB atas kontribusi Pemprov NTB baik sebagai mitra Polri maupun dalam peningkatan prasarana Polda NTB

MATARAM.lombokjournal.com ~ Gubernur Zulkieflimansyah, menerima penghargaan dari Kapolda NTB, Irjen Pol Djoko Purwanto yang berlangsung di Lapangan Bhara Daksa Polda NTB, Jumat (30/12/22).

BACA JUGA: Bantuan Bencana untuk Korban Bencana Cuaca Ekstrim 

Kapolda NTB menyampaikan penghargaan kepada Gubernur NTB seluruh Kepala Daerah di NTB
Kapolda NTB bersama Gubernur NTB dan seluruh Kepala Daerah se NTB

Penghargaan itu diberikan atas kontribusi  Pemprov NTB kepada Polda NTB dalam kerjasama dan kolaborasi untuk mewujudkan NTB yang aman dan Gemilang, 

Irjen Pol Djoko Purwanto menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah Daerah Provinsi NTB yang memberikan kontribusi, baik sebagai mitra Polri dan masyarakat dalam meningkatkan sarana prasarana Polda NTB dan jajarannya.

“Pemberian penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi atas kalaborasi dan kerjasama dalam mewujudkan NTB Gemilang,” tuturnya. 

Kapolda NTB mengatakan, tugas Polisi tidak menjadi apa-apa dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif bila tidak ada pola kerjasama dan kemitraan yang dibangun.

“Kerjasama itu terdiri dari komunikasi, koordinasi dan kolaborasi. Oleh karena itu tanpa kolaborasi dan kerjasama dengan Pemerintah Provinsi NTB, maupun Pemerintah Kabupaten/Kota dalam membangun kerjasama, maka kami tidak dapat melaksanakan tugas kepolisian dengan baik,” ujarnya.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Resmikan Huntap Korban Banjir di Bima

Selanjutnya, dilakukan pemusnahan barang bukti Narkotika dan Miras hasil pengungkapan Ditresnarkoba Polda NTB tahun 2022 oleh Gubernur yang akrab disapa Bang Zul bersama Kapolda NTB, Kepala Kejaksaan Tinggi, Kepala BNN dan pejabat lainnya menggunakan mobil pemusnahan. ***

 

 




Bantuan Modal Usaha UMKM dan Beasiswa di Lombok Timur

Rachmat Hidayat salurkan bantuan modal usaha UMKM dan Beasiswa senilai Rp 462 Juta di Gumi Patuh Karya

LOTIM.lombokjournal.com ~ Anggota DPR RI dari PDI Perjuangan H Rachmat Hidayat memberdayakan dan membantu masyarakat di Pulau Lombok. Kali ini ia membantu modal usaha untuk UMKM dan memberi beasiswa pelajar yang sedang menempuh pendidikan jenjang SMA sederajat.

Penyerahan bantuan itu dilakukan pada hari Kamis (29/12/22) di Lombok Timur.

BACA JUGA: Rachmat Hidayat Bantu Ruang Kelas Baru di Ponpes Lotim

Rachmat Hidayat menyalurkan bantuan senilai 342 juta

Tiga jenis bantuan yang disalurkan, yakni bantuan modal usaha yang merupakan program Pahlawan Ekonomi Nusantara (PENA) senilai Rp 342 juta untuk 57 keluarga penerima manfaat.

Bantuan modal usaha sebesar Rp 70 juta untuk 70 pelaku UMKM, dan beasiswa senilai Rp 50 juta untuk 50 pelajar.

“Bantuan-bantuan modal usaha ini diharapkan akan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha yang berkelanjutan.Sehingga akan mewujudkan kemandirian masyarakat dan memutus rantai kemiskinan,” imbuh Rachmat.

Anggota Komisi VIII DPR RI yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan NTB tersebut mengupayakan bantuan untuk masyarakat ini melalui program aspirasinya sebagai Anggota DPR RI, dengan menggandeng mitra kerja di Komisi VIII yakni Kementerian Sosial dan Badan Amil Zakat Nasional.

Rachmat mengatakan, penerima bantuan modal usaha senilai Rp 6 juta diharapkan mampu didorong untuk naik kelas menjadi mandiri. 

Sebanyak Rp 5,5 juta dari nilai bantuan tersebut diberikan dalam bentuk modal keperluan usaha, seperti peralatan untuk menopang usaha yang mereka jalankan. 

Sementara Rp 500 ribu sisanya ditransfer langsung ke rekening penerima bantuan untuk menopang penguatan modal.

Penerima bantuan modal usaha PENA ini khusus untuk mereka yang memiliki usaha di bidang makanan, kerajinan, jasa, pertanian, dan peternakan. 

Bantuan modal UMKM diberikan kepada masyarakat yang menjadi pelaku usaha mikro skala rumahan. 

Sedangkan beasiswa untuk para pelajar yang sedang menempuh pendidikan di bangku sekolah menengah atas.

“Bantuan modal UMKM dan beasiswa, sudah ditransfer ke rekening seluruh penerima bantuan tanpa ada pemotongan sedikitpun,” kata Rachmat.

Proses penyerahan bantuan ini berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan, acap disertai canda tawa. Nyaris seluruh penerima bantuan modal usaha adalah kaum perempuan. 

Untuk para penerima beasiswa, yang datang tidak hanya siswa penerima. Melainkan juga orang tua mereka.

Tim dari Sentra Paramita Mataram, unit kerja milik Kementerian Sosial, hadir secara langsung dalam penyerahan bantuan ini. 

Rachmat didampingi Wakil Ketua II DPC PDIP Lombok Timur Ahmad Amrullah, politisi muda di Gumi Patuh Karya yang namanya sedang naik daun.

Para penerima menyambut bantuan ini dengan penuh rasa syukur. Raut wajah mereka pun memancarkan aura kegembiraan tiada henti. Wijaya Kesuma misalnya. Siswa SMKN 1 Selong tersebut mendapat beasiswa senilai Rp 1 juta.

“Beasiswa ini akan saya pakai untuk membayar SPP,” kata siswa kelas III jurusan Teknik Bangunan tersebut.

BACA JUGA: Simbol Pluralisme Pulau Seribu Masjid

Kedua orang tua Wijaya turut hadir dalam penyerahan bantuan beasiswa tersebut. Keluarga ini begitu bersuka cita. Wijaya menuturkan, ini adalah beasiswa yang pertama diterimanya selama menempuh pendidikan. 

Dan beasiswa ini benar-benar sangat bermanfaat. Sebab, saban bulan, Wijaya harus membayar SPP sebesar Rp 200 ribu di sekolahnya.

Ditanya, apakah mengenal figur Rachmat Hidayat yang telah memperjuangkan beasiswa untuknya, dengan mantap Wijaya menganggukkan kepala.

“Beliau adalah panutan dan pahlawan bagi keluarga kami,” katanya.

Inaq Husnawati juga tak bisa menyembunyikan kegirangan hatinya. Warti, buah hatinya yang sedang menempuh pendidikan di SMA 3 Selong, termasuk salah seorang pelajar yang mendapatkan beasiswa.

“Bayar sekolah anak saya tiap bulan sekarang sudah teratasi,” katanya.

Sama seperti Wijaya, ini juga menjadi beasiswa pertama bagi Warti. Karena itu, Inaq Husnawati sudah memasang tekad sepenuhnya, bahwa beasiswa tersebut hanya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya.

Isnawati, penerima bantuan modal usaha senilai Rp 6 juta juga tak kalah girang. Ibu rumah tangga yang memiliki usaha pisang bolen dan kue pastel ini yakin usahanya bisa terus berkembang dengan bantuan yang diterimanya. 

Kemarin, Isnawati menerima berbagai peralatan untuk menopang usaha rumahan yang sudah ditekuninya selama dua tahun. Dengan peralatan-peralatan tersebut, usaha Isnawati akan menjadi lebih efisien. Dirinya sudah tidak perlu mengaduk adonan secara manual. Namun sudah dibantu alat-alat pengaduk adonan yang bertenaga listrik.

Isnawati menuturkan, pisang bolen dan kue pastel yang dibuatnya selama ini dijual di pasar. Dalam sehari, rata-rata Isnawati mampu mengantongi omzet hingga Rp 250.000, dengan setidaknya Rp 100 ribu di antaranya merupakan keuntungan. 

Kini, dengan bantuan modal usaha yang diterimanya, Isnawati yakin omzet usahanya akan meningkat.

“Saya ingin sekali usaha kami bisa naik kelas. Pak Rahmat benar-benar telah membuka jalan bagi berkembangnya usaha kami,” katanya sembari tiada henti berterima kasih.

Di sela-sela penyerahan bantuan kemarin, Rachmat memang mengajak para penerima bantuan untuk berdialog. 

Banyak hal positif yang terungkap dalam dialog tersebut. Di antaranya bagaimana semangat wirausaha yang begitu tinggi, namun butuh dukungan dalam hal penguatan modal usaha.

Radityo Bimo, perwakilan Sentra Paramita Mataram menjelaskan, dari total 57 penerima bantuan modal usaha PENA yang diusulkan Rachmat Hidayat, kemarin sudah dicairkan kepada 30 penerima. Untuk 27 penerima lainnya, akan dicairkan paling lambat 31 Desember.

Bimo mengatakan, sebelum bantuan ini disetujui, pihaknya telah terlebih dahulu melakuan asesmen terhadap seluruh penerima. Asesmen tersebut untuk memastikan penerima bantuan adalah mereka yang benar-benar layak. Selain itu, asesmen juga untuk menentukan bantuan peralatan usaha apa yang dibutuhkan.

“Jadi, masing-masing penerima bantuan yang menentukan sendiri peralatan apa yang mereka butuhkan. Kami menyiapkannya berdasarkan daftar kebutuhan itu,”  kata Bimo.

Dia mencontohkan, ada penerima bantuan yang memerlukan mesin sampan untuk menopang usahanya. Maka pihaknya menyiapkan mesin sampan dimaksud. Ada pula yang membutuhkan kompor gas, atau kulkas. Maka itu pula yang disiapkan pihaknya.

Setelah penyerahan bantuan ini, akan ada monitoring secara berkala terhadap perkembangan usaha setiap penerima bantuan. Monitoring tersebut juga akan menjadi kesempatan bagi para penerima bantuan mengonsultasikan kendala pengembangan usaha yang dihadapi. 

Nantinya, solusi untuk setiap hambatan tersebut akan disiapkan secara bersama-sama. Misalnya, bagaimana membuka dan memanfaatkan peluang pemasaran yang baru, atau kendala-kendala lain.

Bantuan Renovasi Rumah

Setelah menyerahkan bantuan modal usaha dan pemberian beasiswa ini, Rachmat Hidayat kemudian menyempatkan diri untuk memantau program rehabilitasi rumah tidak layak huni yang telah dibantu sepanjang tahun 2021 hingga 2022. 

Sepanjang dua tahun ini, khusus di Lombok Timur, Rachmat telah membantu pemugaran rumah tidak layak huni menjadi rumah layak huni sebanyak 200 unit.

Rumah-rumah tersebut tersebar di berbagai kecamatan di Lombok Timur. Pemilik rumah adalah keluarga tidak mampu. Banyak di antara mereka merupakan perempuan yang sudah tidak bersuami dan menjadi perempuan kepala keluarga. 

Tiap rumah dibantu sebesar Rp 20 juta.

Kemarin, Rachmat melihat langsung rumah yang sudah selesai dibangun dan merupakan penerima bantuan di tahun 2021. Ada pula rumah-rumah yang menerima bantuan di akhir 2022 ini, dan saat ini sedang dalam proses pembangunan untuk dituntaskan. 

Rumah-rumah tersebut umumnya berada di dalam gang-gang perumahan yang padat penduduk.

Kedatangan Rachmat disambut para pemilik rumah dengan hangat. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk menyampaikan ucapan terima kasih secara langsung. 

Buat mereka, perhatian besar yang diberikan Rachmat sungguh tak ternilai.

BACA JUGA: Bantuan Bencana untuk Korban Bencana Cuaca Ekstrim

“Hidup kami sekarang sudah tenang dan nyaman,” kata salah seorang penerima bantuan yang rumahnya sudah rampung.

Kepada seluruh penerima bantuan, Rachmat pun menyampaikan, apresiasi dan ucapan terima kasih, tak layak untuk dirinya semata. 

Ucapan terima kasih dari masyarakat juga haruslah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo, dan para menteri seperti Menteri Sosial Tri Rismaharini, yang telah memberi ruang dan kesempatan sehingga dirinya bisa memperjuangkan bantuan bagi masyarakat di Pulau Lombok hingga terealisasi. (*)

 




Simbol Pluralisme Pulau Seribu Masjid 

Menggali hikayat “Air Muallaf”, Tim Ekspedisi Mistis PDIP dan Mi6 menemukan simbol kerukunan Umat Hindu dan Umat Islam di Pulau Lombok

MATARAM.lombokjournal.com ~ Tim Ekspedisi Mistis PDIP NTB dan Mi6 menggali simbol pluralisme dan keberagaman di Pulau Lombok. 

Simbol tersebut ada “Air Muallaf” di Dusun Traktak, Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. 

Di sana, sumber mata air dari Pura selama berpuluh-puluh tahun dialirkan untuk kebutuhan Umat Islam beribadah di sebuah Masjid.

Ekspedisi kali ini istimewa lantaran Ketua Dewan Pembina Tim Ekspedisi, H Rachmat Hidayat turun langsung.

BACA JUGA: Tim Ekjspedisi Mistis Terus Melakukan Penelusuran

Kata Rachmat Hidayat, sumber mata air Pancor Munjuk, yang kini disebut “Air Muallaf” merupakan simbol kerukunman Islam dan Hindu

Anggota Komisi VIII DPR RI dari PDI Perjuangan tersebut didampingi Ketua Tim Ekspedisi H Ruslan Turmuzi, dan Dewan Pakar Tim Ekspedisi, di antaranya Dr Saiful Hamdi, Dr Azrin. Hadir juga Anggota Fraksi PDIP DPRD Lombok Barat dari Dapil Lingsar-Narmada, H Sardian.

Kedatangan Tim Ekspedisi disambut pemuka agama Islam dan pemuka agama Hindu di Desa Batu Kumbung. 

Kepala Desa Batu Kumbung, H Wirya Adi Saputra memandu rombongan menuju Pura Pancor Munjuk di Dusun Traktak. 

Di pura yang dibangun pada tahun 1918 inilah, terdapat sumber mata air Pancor Munjuk, yang kini disebut “Air Muallaf”.

Saat tim ekspedisi tiba, sudah menunggu di sana Ketua Kramapura, I Made Putra Usada bersama Ketua Banjar dan para pemuka Agama Hindu, pemuka Agama Islam, Kepala Dusun, dan sejumlah tokoh dan perwakilan warga.

Dengan dipandu Ketua Kramapura, Tim Ekspedisi melihat langsung sumber mata “Air Muallaf” yang ada di bagian paling atas Pura. Sumber air itu kini sudah ditata, terlindungi dalam lingkaran beton mirip seperti lingkaran sumur. 

Di dalamnya, air jernih terus menguar dari dalam tanah. Tak pernah mengering semenjak Pura itu dibangun satu abad silam.

Dari sumber mata air ini, air kemudian dialirkan melalui saluran yang dibuat khusus di bawah tanah ke dua kantung reservoar. Dari sana, air dibagi ke tempat pemandian umum yang digunakan baik oleh warga Hindu maupun Muslim. 

Tempat untuk laki-laki dan perempuan dibuat terpisah. Dan di tempat pemandian ini, air tak pernah berhenti mengalir. 

Di sini, sebuah reservoar khusus dibuat untuk mengalirkan air ke Masjid Hidayatul Islam yang berjarak 300 meter dari Pura Pancor Munjuk. Di sana, air digunakan oleh umat Islam untuk beribadah tiap hari.

Kesulitan Air

Semua bermula dari kesulitan air di masa lalu. Saat Masjid Hidayatul Islam dibangun secara sederhana, sumur yang dibangun oleh umat Muslim pada waktu itu di dekat Masjid, tidak memiliki air bersih yang memadai. 

Sehingga hal tersebut menyulitkan umat Islam yang hendak beribadah.

Tokoh masyarakat Hindu dan tokoh masyarakat Islam kemudian berembuk. Dan semenjak itu, air dari Pura Pancor Munjuk dialirkan ke Masjid Hidayatul Islam. Semula dengan cara yang sederhana. 

Baru pada tahun 2016, sistem alirannya dibuat menjadi lebih bagus dengan menggunakan jaringan perpipaan dan reservoar yang bisa disaksikan masyarakat saat ini.

“Sesungguhnya kami Umat Hindu dan Umat Islam di di sini berasal dari leluhur yang sama,” kata Made Putra.

Dahulu, saat pura dibangun pada tahun 1918, empat orang leluhur mereka datang dari Karangasem dan bermukim di sana. Dari empat leluhur inilah jumlah warga terus lahir dan bertambah. 

Dalam perkembangannya, warga kemudian sebagian memeluk agama Islam. Sebagian lagi tetap memeluk agama Hindu. Dan bahkan pernikahan warga di antara kedua pemeluk agama juga terjadi. 

Semisal, warga Muslim menikahi warga yang beragama Hindu yang kemudian muallaf.

Tak heran, kehidupan masyarakat di Desa Batu Kumbung guyub dan rukun. 

BACA JUGA: Tim Ekspedisi Mistis akan Telusuri Folklore Leluhur Lombok

Tak pernah ada pertentangan antara warga di sana. Di sinilah, praktik toleransi antar umat beragama benar-benar dipraktikkan.

Contohnya saat ada warga yang meninggal. Begitu ada pengumuman berita kematian di masjid atau musala, umat Hindu kemudian akan secara serentak mengumpulkan uang duka untuk kemudian membantu keluarga Muslim yang sedang ditimpa musibah. 

Pun begitu saat ada umat Hindu yang meninggal. Hal serupa juga dilakukan oleh umat Muslim. Begitu pula pada saat ada hajatan. Mereka saling membantu satu sama lain.

“Tradisi seperti ini sudah ada semenjak kami bahkan belum lahir. Ini adalah peninggalan leluhur kami,” kata Made Putra.

Antar kedua umat beragama pun begitu saling menjaga satu sama lain. Menyadari bahwa mata air dari Pura Pancor Munjuk dialirkan ke Masjid Hidayatul Islam untuk kebutuhan umat Islam beribadah, maka leluhur umat Hindu membuat aturan yang sangat tegas. 

Tidak boleh ada upacara yang menghadirkan daging babi di pura. Di Pura ini, babi tak boleh ada, tak juga boleh didatangkan atau dibawa untuk disembelih, atau dagingnya diolah, dimasak, lalu disantap baik oleh perorangan atau bersama-sama di sana. 

Larangan itu masih terjaga hingga kini.

“Jadi kalau ada upacara, kami umat Hindu menyembelih kerbau,” kata Made Putra.

Suci Menyucikan

H Tantowi, tokoh agama Islam yang hadir berbincang dengan tim ekspedisi menekankan, dengan cara itulah, maka air yang mengalir dari Pura ke Masjid tetap terjaga kesuciannya. Sehingga memenuhi kaidah dan unsur air yang suci menyucikan bagi umat Islam sesuai dengan kaidah Fiqih.

Dikatakan, baik umat Islam  maupun umat Hindu begitu bersyukur, leluhur mereka telah mewariskan secara turun temurun tentang pentingya toleransi, saling menghormati, meski mereka berbeda keyakinan.

“Apa yang kami lakukan hingga hari ini, adalah sepenuhnya mengikuti apa yang sudah dilakukan leluhur kami lebih dari satu abad,” kata H Tantowi, paman dari Made Putra, lantaran menikahi bibi tokoh yang karib disapa Made Arab tersebut.

Dewan Pembina Tim Ekspedisi, Rachmat Hidayat sendiri mengaku begitu takjub atas komitmen yang begitu tinggi masyarakat Muslim dan masyarakat Hindu di Desa Batu Kumbung yang telah merawat keberagaman sedemikian indahnya. 

Itulah yang membuatnya melabeli Desa Batu Kumbung sebagai tamansarinya keberagaman di NTB dan juga di Indonesia.

“Bagi mereka yang belum juga memahami arti pentingnya ke-Indonesiaan, datanglah belajar ke Desa Batu Kumbung,” kata Anggota Komisi VIII DPR RI ini.

Rachmat menegaskan, Desa Batu Kumbung layak masuk menjadi teladan toleransi dunia, karena telah memberikan contoh toleransi yang baik antarumat beragama. 

Di desa ini juga terdapat dusun yang diplot sebagai “Kampung Toleransi” yakni Dusun Tragtag. Dimana harmonisasi dua suku yaitu Suku Bali dan Suku Sasak yang hidup rukun berdampingan.

Hal itu dinilai Rachmat sebagai bentuk konkret pengimplementasian nilai-nilai Pancasila.

“Di Batu Kumbung inilah kita melihat Pancasila. Ada keberterimaan, toleransi, dan keberagamaan,” tandas Rachmat.

Ditegaskan tokoh kharismatik Bumi Gora ini, Air Muallaf yang ada di Desa Batu Kumbung ini, tak ubahnya adalah simbol abadi pluralisme di Pulau Seribu Masjid.

“Ini sungguh pembelajaran yang sangat berharga untuk kita yang hidup di saat ini, dan bagi anak-anak cucu kita yang hidup di masa yang akan datang,” imbuhnya.

Ketua Tim Ekspedisi H Ruslan Turmuzi menambahkan, Tim Ekspedisi datang secara khusus untuk melihat langsung simbol abadi pluralisme Air Muallaf tersebut, untuk membuka pemahaman khalayak tentang pentingnya seluruh umat beragama di Pulau Lombok dan Sumbawa, agar terus menjaga dan merawat keberagaman.

“Di mana ada keberagaman, di situlah sesungguhnya ada kekuatan,” tandasnya.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Resmikan Huntap Korban Banjir di Bima 

Sementara itu, Direktur M16 Bambang Mei Finarwanto menegaskan, hubungan kedua umat beragama yang terjalin sangat baik di Desa Batu Kumbung adalah sebuah Masterpiece atau hasil karya  yang  tak ternilai harganya.

Ia ingin agar kerukunan yang damai menjadi spirit yang terus dirawat dan dijaga. Daerah-daerah juga diajak mencontoh Desa Batu Kumbung dalam hal bagaimana merawat keberagaman tersebut.

Saat ini, menurut Kepala Desa Batu Kumbung Wirya Adi Saputra, dari delapan ribu jiwa yang bermukim di desa yang dipimpinnya ini, 70 persen memeluk agama Islam. 

Sisanya adalah pemeluk agama Hindu. (*)

 




Pemprov NTB Tidak lagi Bekerja Sama dengan BSI

PT Bali Sea Food Indonesia (BSI) yang membangun pabrik pengolahan ikan di tanah Pemprov NTB tak lagi beroperasi di tahun 2022

MATARAM.lombokjournal.com ~ Pemerintah Provinsi NTB resmi tidak lagi menjalin kerjasama dengan PT. Bali Sea Food Indonesia (BSI). BSI sebelumnya, membangun pabrik pengolahan ikan bertaraf internasional, di atas lahan milik Pemprov NTB seluas 2 hektare di Teluk Santong Sumbawa. 

BACA JUGA: Presiden Jokowi Resmikan Bendungan Beringin Sila di Sumbawa

Kerja sama pengelolaan aset ini dimulai dari 2013. BSI kemudian resmi beroperasi di awal 2018 dan tak lagi berlanjut di tahun 2022. 

Hal tersebut diutakan Sekertaris Daerah Provinsi NTB Lalu Gita Ariadi saat menerima tim manajemen PT. Bali Sea Food Indonesia (BSI) untuk menyampaikan terkait status BSI di Teluk Santong Sumbawa, di Mataram, Rabu (28/12/22). 

Sekda menyebutkan, kewajiban pihak BSI terhadap negara yang belum ditunaikan akan diupayakan win win solution atau jalan tengah dengan calon investor lain, yang berpotensi mengelola lebih lanjut aset yang ada.

Sekda NTB yang didampingi Kadis DPMPTSP, Karo Hukum dan Kadis Lutkan meminta kepada pihak BSI untuk menyampaikan pernyataan tertulis kepada Pemerintah Provinsi NTB.

BACA JUGA: Falidasi Data Jadi Prioritas Penanggulangan Kemiskinan di NTB

Terkait pengambilan keputusan akhir akan dilakukan pembahasan lebih lanjut dalam waktu segera, sebagai bentuk penghargaan Pemprov NTB dalam menghargai setiap inisiatif baik dari kegiatan investasi di NTB. ***