Kabupaten/Kota Diingatkan Agar Mulai Sosialisasi Pemilahan Sampah

Perlu kerja sama dan koordinasi yang bagus antar kabupaten/kota untuk menyelesaikan permasalahan sampah, khususnya di TPA Kebon Kongok

LOBAR.lombokjournal.com —  Wakil Gubernur Provinsi NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah mengingatkan agar pemerintah kabupaten/kota mulai melakukan sosialisasi pilah sampah dari rumah.

Ini bagian dari penanganan permasalahan sampah yang selama ini menjadi tugas semua pihak.

Menurut wagub, kenyataannya ada 70 persen sampah adalah sampah plastik, jadi sekuat apapun Pemprov, tanpa dukungan kabupaten/kota tidak akan mungkin masalah sampah ini terselesaikan.

“Kabupaten/kota juga harus melakukan sosialisasi untuk pilah sampah dari rumah,” kata Wakil Gubernur saat meninjau lokasi kebakaran TPA Regional Kebon Kongok, Kamis (24/10) 2019.

Umi Rohmi sapaan akrab Wagub, menegaskan  perlu kerja sama dan koordinasi yang bagus antar kabupaten/kota untuk menyelesaikan permasalahan sampah, khususnya di TPA Kebon Kongok ini.

“Kebun Kongok ke depan harus bisa dimanfaatkan, dan sampah tertangani dari hulu,  itu mimpi kita semua, tetapi sangat butuh proaktif dari kabupaten/kota sebagai penghasil sampah,” ungkap Umi Rohmi.

Ia mengatakan, salah satu program yang akan dilakukan Pemprov NTB di TPA Regional Kebon Kongok nantinya yaitu pemasangan panel gas metana. Gas metan yang dihasilkan nantinya bisa dimurnikan sebagai bahan bakar kompor dan listrik.

AYA/HmsNTB




Gubernur Zul Tertarik Meniru Akselerasi Pembangunan Di Zhejiang

Kota dengan populasi sekitar 10 juta penduduk ini, juga mewajibkan penggunaan sepeda angin maupun sepeda motor listrik untuk warganya

lombokjournal.com —

HANGZHOU ;    Usai menghadiri agenda di Urban Planning Exhibiton Hall atau Balkon Perencanaan Kota Qianjiang New City, Tiongkok, Gubernur NTB Dr.H. Zulkieflimanysah bersama istri, Hj. Niken Saptarini Zulkieflimansyah, Rektor Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram langsung menuju Kantor Pemprov Zhejiang dan bertemu Wakil Gubernur Zhu Congjiu beserta jajarannya, Kamis (24/10) 2019.

“Setelah bertemu Wakil Gubernur Provinsi Zhejiang, Pak Zhu Congjiu beserta jajaran Kepala Dinasnya,  mendapat penjelasan bagaimana membangun kota secara masif. Tapi tetap menjaga kelestarian dan keasrian lingkungan, wajarlah kenapa Kota Hangzhou dijuluki surga yang terhampar di bumi,” ujar Gubernur Zul, Kamis (24/10) 2019.

Menurut Gubernur Zul, pengawasan terhadap izin Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) dibuat sangat ketat dan detail. Sehingga pembangunan besar-besaran di Hangzhou dan kota-kota lainnya di Provinsi Zhejiang tidak merusak lingkungan dan kesejarahan.

Wakil Gubernur Zhejiang, Zhu Congjiu menjelaskan, pembangunan di provinsinya berparadigma tetap mempertahankan situs sejarah maupun cagar-cagar budaya di kota-kota seluruh Provinsi Zhejiang.

“Bahkan seni budaya menjadi salah satu obyek daya tarik pariwisata ke provinsi itu,” terangnya.

Dari pengamatan sepanjang perjalanan di Hangzhou, beragam ikon dan cagar budaya sejarah Tiongkok masih menghiasi setiap penjuru kota bersebelahan dengan bangunan-bangunan modern.

Taman-taman kota yang hijau sejuk dan bersih juga bertebaran. Sedangkan salah satu upaya pelestarian seni budaya di kota tua ini adalah pertunjukan tari di Danau Barat Hangzhou.

Gubernur Zul menuturkan, sehari sebelumnya ia menyaksikan seni tari Zuiyi Shi Hangzhou di atas Danau Barat. Sangat memukau dan spektakuler bagaimana memadukan seni tari tradisional dengan modernisasi teknologi panggung di permukaan air danau plus teknik video dan pencahayaan canggih, mengandalkan lanskap asli sekitar danau.

“Dan ini digelar setiap malam selama tiga musim di Tiongkok, kecuali musim dingin karena air danau membeku,” tambah gubernur.

Pertunjukan kesenian Zuiyi Shi di atas Danau Barat Hangzhou yang spektakuler, menjadi daya tarik yang kuat bagi para turis.

Dan pembangunan masif infrastruktur berbagai bidang, mendorong Hangzhou jadi kota tujuan investasi lima besar di Tiongkok.

“Turis dan pebisnis yang berkunjung ke Hangzhou mencapai 140 juta per tahun, sementara yang ke Provinsi Zhejiang hampir lima kali lipatnya, 700 juta orang. Itu untuk tujuan wisata dan bisnis, baik domestik maupun internasional,” kata Zhu Congjiu.

Di kota Hangzhou, tempat kantor pusat raksasa e-commerce Alibaba milik Jack Ma ini, konsep dan desain tata kota terlihat begitu rapi, megah namun tetap bersih dan asri.

Kota dengan populasi sekitar 10 juta penduduk ini, juga mewajibkan penggunaan sepeda angin maupun sepeda motor listrik untuk warganya. Sementara sepeda motor konvensional (berbahan bakar bensin) masih boleh dipakai di sejumlah wilayah pedesaan atau luar kota.

Selain regulasi alat transportasi ramah lingkungan, pengawasan uji emisi untuk kendaraan bermotor diberlakukan super tegas dan ketat, sehingga tidak ada cerita asap polusi yang tinggi di Provinsi berpenduduk sekitar 57 juta jiwa ini.

“Kami sediakan sepeda gratis di banyak titik kawasan kota, bisa dipakai selama satu jam dengan registrasi dan aplikasi. Begitu juga stasiun-stasiun pengisian ulang listrik untuk motor juga diperbanyak dan harga lebih murah, sehingga warga mau menggunakannya,” tutur Zhu.

Menurutnya, lapangan kerja juga sudah tidak lagi menjadi persoalan ekonomi di provinsi dengan pendapatan kapital tertinggi ketiga di Tiongkok ini.

“Pembangunan infrastruktur yang masif membuat masalah ketenagakerjaan terselesaikan di provinsi ini. Boleh dibilang susah mencari pengangguran di sini, kecuali orang yang benar-benar malas bekerja,” kata Wagub Zhu Congjiu.

Fakta-fakta kemajuan Hangzhou dan Provinsi Zhejiang, membuat Gubernur Zulkieflimansyah semakin yakin untuk menjalin kerja sama sister province antara NTB dengan Zhejiang.

Gubernur Zul megaku ingin meniru akselerasi pembangunan di Zhejiang, dan membangun kerja sama sister province dan sister city ke depannya.

Baik dari sisi pembangunan infrastruktur, tata kota atau permukiman, pertamanan hingga pendidikan. Termasuk dengan semangat mempertahankan kelestarian sejarah, seni budaya dan juga lingkungan.

“Yang penting ada niat dan kemauan, ditunjang dengan realisasi kinerja dan pembiayaan, kita bisa mencontoh pembangunan di Hangzhou dan menghadirkan konsep yang sama di NTB. Kita kerahkan segala sumber daya yang ada, mulai dari kampus berkolaborasi dengan seluruh dinas yang relevan hingga komunitas masyarakat untuk mewujudkannya,” kata Doktor Zul.

AYA/HmsNTB




JKN–KIS, Menyalurkan Semangat Dan Menebar Manfaat Bagi Sesama

“Jumlah iurannya tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat besar yang kami dapatkan selama ini. Terimakasih JKN–kIS”

lombokjournal.com —

SELONG   ;     Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Tampaknya hal itu sangat dirasakan oleh Siti Aisyah (40).

Tiga tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2016, ia harus menahan pahitnya kehidupan karena harus ditinggal oleh suaminya yang meninggal karena komplikasi penyakit diabetes.

Sudah sejak lama, suaminya H. Idham (55) menderita penyakit Diabetes Mellitus. Penyakit yang ditandai oleh tingginya kadar gula dalam darah ini membuat H. Idham harus bolak–balik opname ke rumah sakit.

Ia menuturkan, Sudah sejak dulu suaminya sakit gula. Mungkin sejak 10 tahun yang lalu. Satu jari kakinya bahkan sempat diamputasi karena penyakitnya itu.

“Awalnya cuma luka kecil, tapi lama – lama kok jadi tambah parah, tidak kunjung sembuh bahkan sampai ada baunya. Karena dikhawatirkan akan menyebar ke bagian kaki yang lain, akhirnya dokter memutuskan untuk mengamputasi jari kelingking kaki kanannya,” cerita Siti yang ditemui di warung tempatnya berjualan, Senin (18/03).

Saat itu, Siti dan keluarganya belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Ketika itu penghasilan dari pekerjaan H. Idham sebagai kontraktor tidak memberatkan mereka untuk membayar seluruh biaya pengobatan.

Namun lama kelamaan seiring waktu berjalan, penyakit yang diderita suaminya semakin parah hingga berdampak merusak organ – organ tubuhnya yang lain. Uang yang mereka habiskan untuk berobat pun semakin lama semakin besar. A

Akhirnya atas saran anggota keluarganya, Siti Aisyah memutuskan untuk mendaftarkan keluarganya ke BPJS Kesehatan.

Siti Aisyah mengenang, tahun 2016 ia bersama keluarganya mulai terdaftar sebagai peserta JKN – KIS. Gaji suaminya sudah habis untuk biaya perawatan yang hampir ratusan juta.

“ Bersyukur sekali rasanya kala itu beban kami diringankan oleh BPJS Kesehatan. Namun, selang beberapa minggu setelahnya, suami saya meninggal dunia karena sakit jantung. Kata dokter itu karena komplikasi dari penyakit diabetesnya,” kenang wanita 3 orang anak ini.

Takdir memang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Setelah suaminya meninggal, ia harus banting tulang untuk menghidupi 3 orang anaknya dengan berjualan di warung.

Namun, hal itu tidak membuatnya untuk menyerah. Dengan kondisi tubuhnya yang masih sehat, ia masih mampu untuk bekerja mencari nafkah.

“Kejadian itu terus membuat saya berpikir, entah akan seperti apa nasib kami, jika sampai sekarang belum mempunyai kartu JKN – KIS. Setelah ayahnya meninggal, anak kedua saya Linda (11) sering sakit – sakitan dan harus beberapa kali menginap di rumah sakit. Alhamdulillah, sekarang saya tidak perlu khawatir, kan sudah ada yang menanggung,” ungkap Siti sambil menunjukkan kartu JKN – KIS miliknya.

Di akhir pertemuannya dengan tim Jamkesnews, Siti Aisyah mengungkapkan akan terus rutin memenuhi kewajibannya untuk membayar iuran.

Ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Demi menyiapkan diri dan keluarganya dari hal – hal yang tidak diinginkan jika terjadi kelak.

“Walaupun saya hanya berjualan di warung saya masih mampu untuk tetap rutin membayar iuran kami berempat. Saya tidak mau menunggak, nanti repot ketika sakit. Jumlah iurannya tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat besar yang telah kami dapatkan selama ini. Terimakasih JKN – KIS,” kata Siti.

ay/hd/Jamkesnews

Narasumber : Siti Aisyah




Salmin Menggunakan Kartu Sakti JKN-KIS, Untuk Tangkal Hipertensi

Kartu JKN – KIS yang telah didapatkan Salmin sejak tahun 2016 tersebut membuat ia dan keluarga kecilnya selalu tenang  tanpa khawatir apabila sakit, karena sudah memiliki perlindungan kesehatan

lombokjournal.com —

SELONG   ;    Salmin (43), pekerja wiraswasta asal Desa Jerowaru ini memang sudah lama menderita hipertensi. Pekerjaan yang dilakukannya terkadang membuatnya sering merasa kelelahan dan jarang memperhatikan kondisi tubuhnya.

Namun semenjak Salmin dirawat di rumah sakit akibat kelelahan dan tekanan darah yang tinggi, membuatnya harus mengutamakan kesehatannya.

Darah tinggi atau hipertensi adalah penyakit yang mayoritas diderita oleh masyarakat Indonesia, khususnya pada kalangan usia dewasa sampai lanjut usia.

Seseorang dikatakan memiliki tekanan darah tinggi ketika hasil pemeriksaan tekanan darahnya mencapai 140 mmHg atau lebih pada tekanan sistolik, dan 90 mmHg atau lebih pada tekanan diastolik.

Hal itu bisa disertai dengan munculnya gejala nyeri pada bagian tengkuk atau leher, sakit kepala yang parah disertai mual, nyeri dada hingga sulit bernapas.

Menurut Salmin, sebelumnya ia tidak tahu kalau punya tekanan darah tinggi. Mungkin karena iabekerja terlalu berat, sehingga drop, kemudian masuk rumah sakit.

“Saya jadi tahu kalau selama ini tekanan darah saya tinggi sekali, waktu itu 170/100 mmHg. Pantas saja saya sering pusing, nyeri dada, dan merasa nyeri di bagian tengkuk, seperti ada beban berat menimpa leher saya,” tuturnya.

Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, bapak satu anak ini pun lantas harus mulai rutin kontrol ke puskesmas atau rumah sakit dan minum obat penurun tekanan darah setiap harinya. Makanan dan aktivitas yang dilakukannya sehari – hari pun harus mulai terkontrol.

Salmin tidak boleh merokok, mengurangi makanan – makanan yang bersantan dan yang asin – asin. Bahkan harus rutin olahraga, paling sedikit 1 kali seminggu. Obatnya juga harus diminum setiap hari, tidak boleh terlewat sehari.

“Syukur ada istri saya yang selalu mengingatkan. Yang utama sih, saya tidak khawatir masalah uang yang harus saya keluarkan setiap kontrol ke dokter. Sudah punya kartu JKN – KIS. Semuanya gratis. Saya tidak keluar biaya sedikitpun sejak dirawat di rumah sakit sampai kontrol dan obat rutin setiap bulannya,” cerita Salmin, peserta JKN – KIS yang termasuk dalam segmen PBPU.

Di tengah wawancaranya dengan tim jamkesnews, Salmin mengungkapkan sangat bersyukur karena dapat menjadi bagian dari program BPJS Kesehatan.

Kartu JKN – KIS yang telah didapatkannya sejak tahun 2016 tersebut membuat ia dan keluarga kecilnya selalu tenang  tanpa khawatir apabila sakit, karena sudah memiliki perlindungan kesehatan.

“Saya harap, program yang sangat baik ini akan terus berlanjut untuk memberikan perlindungan kesehatan bagi seluruh masyarakat dengan prinsip gotong royongnya. Sekali lagi terima kasih JKN – KIS,” tutup Salmin.

ay/hd/Jamkesnews

Narasumber : Salmin




Qianjiang New City, Disebut Gubernur Zul Jadi Rujukan Konsep Perencanaan Pembangunan Kota

Hanya dalam kurun waktu 10 tahun, Kota Tua Hangzhou telah bertransformasi menjadi kota muda yang modern dan serba digital

lombokjournal.com —

HANGZHOU   ;   Gubernur Provinsi NTB Dr. H. Zulkieflimanysah dan rombongan mengawali agenda kunjungan kerja ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Kamis (24/10) 2019,)  mendatangi  Urban Planning Exhibiton Hall atau Balkon Perencanaan Kota Qianjiang New City.

Kota Qianjiang salah satu distrik di Kota Tua Hangzhou.

Qianjiang New City menjadi salah satu contoh dan rujukan bagaimana konsep perencanaan, penataan dan pembangunan sebuah kota di pinggiran teluk bisa menjadi sebuah kota modern dengan gedung-gedung menjulang. Namun demikian, kota tersebut tetap mempertahankan ruang terbuka hijau yang ideal dan kesejarahan kota dengan segala tradisi serta budayanya.

Gubernur Provinsi NTB Dr. H. Zulkieflimanysah mengatakan, inilah contoh bagaimana pemerintah kota bekerja keras untuk berinovasi dan berkreasi secara maksimal.

Hanya dalam kurun waktu 10 tahun, Kota Tua Hangzhou telah bertransformasi menjadi kota muda yang modern dan serba digital, namun tetap cantik, segar dan ramah lingkungan.

Pertunjukan kesenian Zuiyi Shi di atas Danau Barat Hangzhou yang spektakuler, menjadi daya tarik yang kuat bagi para turis.

Sementara program penggunaan sepeda gratis dari Pemerintah Kota Hangzhou dan motor listrik sebagai moda transportasi kota, membuat Hangzhou lebih minim polusi asap kendaraan.

Jumlah pengunjung dari kalangan wisatawan maupun pebisnis ke Provinsi Zhejiang mencapai 700 juta per tahun, baik omestik maupun nternasional. Sedangkan jumlah kunjungan ke Kota Hangzhou sebanyak 140 juta per tahun.

“Tak heran jika turis yang berkunjung ke Hangzhou mencapai 140 juta per tahun. Yang penting asal ada niat dan kemauan, ditunjang dengan realisasi kinerja dan pembiayaan, kita bisa mencontoh pembangunan di Hangzhou dan menghadirkan konsep yang sama di NTB. Kita kerahkan segala sumber daya yang ada, mulai dari kampus berkolaborasi dengan Dinas Tata Kota hingga komunitas masyarakat untuk mewujudkannya,” ujar Doktor Zul.

AYA/HmsNTB

 




Wagub Tekankan Pentingnya Pemanfaatan Teknologi Dalam Penyampaian Informasi

Pemanfaatan teknologi memudahkan pemerintah menyampaikan informasi secara gamblang dan terbuka kepada publik

LOBAR.lombokjournal.com — – Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah membuka kegiatan Jaring Masukan Daerah (Jarmasda) mengenai Kewajiban Internasional Indonesia di bidang Hak Asasi Manusia bertempat di Hotel Aruna, Senggigi, Kamis (24/10) 2019.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur NTB yang biasa disapa Umi Rohmi ini menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam hal penyampaian informasi.

Menurutnya, dengan pemanfaatan teknologi akan dapat membuat masyarakat semakin teredukasi dan juga mengurangi hoaks yang kerap beredar di tengah masyarakat.

Melalui itu pula, pemerintah dapat lebih mudah menyampaikan informasi secara gamblang dan terbuka kepada publik.

“Makanya kita juga ada aplikasi yang namanya NTB Care. Jadi di NTB Care itu masyarakat bisa ngomong apa saja, apa yang ditemukan masyarakat di lapangan, apa saran dari masyarakat, apa kritikan dari masyarakat, masukan dan semuanya bisa langsung dengan mengunduh aplikasi di Play Store,” ujarnya.

Wagub juga menyinggung program unggulan Pemprov NTB yakni Revitalisasi Posyandu. Program ini juga diharapkan mampu memberikan edukasi serta informasi bagi masyarakat, khususnya dari lingkup terkecil.

“Harapannya diskusi kali ini betul-betul bisa memberikan masukan yang produktif, yang konstruktif untuk kebaikan pemenuhan HAM di Indonesia pada khususnya dan Internasional pada umumnya,” kata Umi Rohmi.

Direktur Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri RI, Achsanul Habib dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Pemprov NTB yang mendukung kegiatan Jarmasda.

Ia mengungkapkan,  Indonesia kembali terpilih menjadi salah satu anggota Dewan Hak Asasi Manusia PBB periode 2020-2022.

Terpilihnya Indonesia berdasarkan pemilihan Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat yang berlangsung pada tanggal 17 Oktober 2019 lalu.

“Alhamdulilah juga mendapat suara terbanyak dari kelompok negara negara di Asia Pasifik, yakni sebanyak 174 suara,” ungkapnya.

Indonesia memiliki kewajiban untuk terus mendorong kemajuan dan perlindungan HAM. Dengan hal ini diharapkan pula kedepannya dapat memperkuat komitmen dan implementasi kebijakan pada tingkat Nasional.

Kegiatan Jarmasda ini juga sudah dilakukan di beberapa daerah lainnya, seperti Papua Palangkaraya, Padang dan Palembang.

“Kami juga memandang penting untuk memperoleh masukan dari Provinsi NTB untuk melihat capaian dan hambatan serta tantangan yang masih dihadapi tingkat provinsi ini,” katanya.

AYA/HmsNTB




Penutupan Gili Festival dan Mandi Safar, Bupati dan Wabup Dibopong Mandi Di Pantai

Masyarakat Gili Indah yang nenek moyangnya berasal dari Bugis menganggap ritual mandi Safar sebagai tolak bala

PEMENANG.lombokjournal.com  —   Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar, SH, MH dan Wakil Bupati H. Sarifudin, SH, MH menghadiri penutupan Gili Festival dan Mandi Safar yang dipusatkan di Dusun Gili Trawangan Desa Gili Indah, Rabu (23/10) 2019.

Prosesi ritual Mandi Safar dimulai dengan pelepasan “sesaji” di perahu kecil yang dirangkaikan dengan “serakalan” (baca: barzanji), zikir dan berdoa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat.

Ketiga rangkaian proses ini bertujuan memohon keselamatan dan tolak bala. Rangkaian acara dilanjutkan dengan ritual melepas atau “melarung sesaji” ke laut kemudian diperbutkan oleh warga lalu diakhiri dengan acara mandi bersama di pantai.

Usai santap bersama Bupati H. Najmul Akhyar dan Wabup H. Sarifudin dibopong warga mandi bersama diikuti masyarakat tiga gili (Trawangan, Meno dan Air) serta wisatawan lokal maupun mancanegara yang antusias ikut mandi di pantai tersebut.

Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar, SH, MH menyampaikan, mandi safar yang dikemas dalam kegiatan gili festival merupakan momentum yang bagus untuk memperkokoh kebersamaan antara pemerintah dengan masyarakat dan pelbagai unsur lainnya.

Acara tersebut menjadi agenda tahunan masyarakat Desa Gili Indah.

“Mungkin kita jarang bisa mandi bersama masyarakat, maka pada ‘Rebo Bontong’ ini kita dapat melakukan itu. Pak Wakil Bupati bilang bahwa beliau dilarang mandi sama dokter, karena beliau sakit maka dengan mandi safar ini semoga penyakitnya sembuh,” ujar Najmul di hadapan hadirin

Ditambahkan Doktor Ilmu Hukum ini, Rebu Bontong (hari Rabu terakhir bulan Shafar), masyarakat Gili Indah yang nenek moyangnya berasal dari Bugis menganggap ritual mandi Safar sebagai tolak bala, sehingga diharapkan setelah gempa bumi setahun silam semua bala hilang dengan acara mandi Safar tersebut.

“Ini adalah simbol yang luar biasa yaitu mensucikan diri, tapi yang paling penting adalah apa yang kita lakukan setelah ini,” tutup orang nomor satu di bumi Tioq Tata Tunaq ini.

Tokoh masyarakat Desa Gili Indah H. Taufik kepada awak media menuturkan, Mandi Safar atau Rebo Bontong menjadi salah satu ritual adat masyarakat Gili Indah yang berasal dari Bugis dengan tujuan menyucikan diri.

Leluhur mereka memercayai Allah menurunkan bala ke bumi baik ke darat maupun ke laut. Itulah alasan teologis mandi safar ditradisikan masyarakat gili.

“Tadi ada 99 lembar daun mangga yang di dalamnya ditulis surat Al-Ikhlas diniatkan supaya tidak ada lagi balak laut ini yang akan menimpa kita. Daun mangga ini akan diangkat kembali dan dijatukan di sumur supaya bala di darat tidak sampai mengganggu kita juga,” tutur mantan Kades Gili Indah itu.

Senafas dengan H. Taufik, Kepala Dusun Gili Trawangan Muhammad Husni, SP mengungkapkan, sebelum ritual mandi safar dimulai, terlebih dahulu diawali dengan “selakaran” dan zikiran.

Mereka juga menyiapkan “larung” yang dihanyutkan ke laut.

sta/humaspro




M16: Calon Pilkada Jangan Abaikan Suara Milenial

“Untuk mengubah perspektif negatif kalangan pemilih pemula ini, pendekatan votters education yang didesain dengan pola dan gaya interaksi milenial diyakini lebih efektif ketimbang memakai pola konvensional”

lombokjournal.com —

MATARAM   ;   Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik M16 Mataram, Bambang Mei Finarwanto, mengatakan, peluang calon petahana maupun penantang dalam kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) di tujuh kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2020, memiliki  sama-sama besar  .

Pria yang akrab disapa Didu mengatakan, untuk calon petahana tentu sudah memiliki popularitas bahkan basis pendukung.

Namun, kondisi ini tak serta merta memuluskan langkah calon petahana. Pasalnya, perlu diuji seberapa besar tingkat popularitas dan basis massa yang benar-benar akan memberikan suaranya.

“Kenyataannya sekarang, calon-calon penantang petahana tampak enjoy dan pede menatap kontestasi,” ujar Didu di Mataram, NTB, Rabu (23/10) 2019.

Didu menyebut calon petahana yang tidak memiliki gagasan dan terobosan baru rentan ditinggalkan pemilihnya.

Apalagi jika wilayah yang sudah dia pimpin belum memberikan kepuasan bagi masyarakat.

“Hal-hal seperti ini yang rentan disalip calon penantang,” lanjut Didu.

Para calon penantang  petahana tentu memiliki analisa sendiri mengenai rekam jejak calon petahana selama memimpin.

Dari sini, calon rival  petahana akan membangun narasi inovasi yang bisa menarik minat pemilih. Oleh karenanya, lanjut Didu, calon penantang petahana dituntut menawarkan gagasan baru yang berbeda dari apa yang sudah ada.

“Jika peluang ini bisa dimanfaatkan calon  penantang, bukan tidak mungkin calon petahana akan tumbang,” kata Didu.

Votters Education

Didu juga meminta kontestasi pilkada tak sekadar dimaknai sebagai perebutan kekuasaan, melainkan juga sebagai sarana pendidikan politik.

Didu berharap pemenang bukan lantaran memiliki kondisi finansial yang lebih banyak, tapi visi dan misi yang lebih jelas.

“Untuk meminimalkan politik uang dan sebagai sarana pendidikan politik yang benar, maka KPU maupun kalangan stakeholders lain perlu memperbanyak votters education (pendidikan pemilih ) di kalangan milenial atau pemilih pemula agar memiliki perspektif yang baik tentang politik,” ucap Didu.

Didu memperkirakan jumlah pemilih pemula pada pilkada 2020 di NTB akan naik sebesar 20 persen hingga 30 persen dari DPT di setiap kabupaten dan kota.

Dengan tingginya jumlah pemilih pemula atau milenial tentu mereka memiliki posisi tawar yang cukup signifikan dalam mendongkrak perolehan suara calon kepala daerah.

“Di era milenial yang mengandalkan teknologi 4.0 ini, keberadaan pemilih pemula tidak bisa dianggap remeh karena mereka memiliki identitas tersendiri dalam kumpulan komunitas yang rata-rata mengadopsi tehnologi gadget sebagai sarana interaksi sosialnya,” kata Didu.

Namun, kelemahan mendasar kalangan milenial ialah ketertarikan atau daya pikatnya terhadap politik masih rendah cenderung mengambang.

Hal ini karena telah terbentuk persepsi awal di kalangan milenial bahwa politik itu kotor, jauh dari kesenangan, maupun dianggap kontra produktif.

“Untuk mengubah perspektif negatif kalangan pemilih pemula ini, pendekatan votters education yang didesain dengan pola dan gaya interaksi milenial diyakini lebih efektif ketimbang memakai pola konvensional,” ungkap Didu.

Dengan bertambahnya pemilih pemula paralel dengan kemajuan teknologi komunikasi gaya lama politik uang tidak lagi cukup efektif dalam meraih suara.

Masyarakat kelas menengah sudah sadar bahwa partisipasi politiknya kelak akan mempengaruhi corak dan gaya pemimpin kepala daerah.

“Pemilu legislatif 2019 telah memberikan pelajaran berharga bahwa sebagian besar petahana tumbang oleh arus perubahan yang diinginkan masyarakat di NTB. Pun demikian dalam pilkada serentak 2020 tidak tertutup kemungkinan petahana kepala daerah bertumbangan karena rakyat menginginkan perubahan,” kata Didu.

Me




Mery Menggunakan Fitur Mobile JKN-KIS, Memudahkan Transaksi Pelayanan

“Cara mudah dan praktis untuk deteksi dini penyakit kronis, keren sekali. Besok saya ajak teman–teman saya untuk ikut menggunakan aplikasi ini”

 lombokjournal.com —

SELONG   ;    Mar Atun Sholihah (18), mahasiswa Universitas Mataram, yang menjadi salah satu pengguna aplikasi Mobile JKN.

Aplikasi Mobile JKN mempermudah peserta JKN–KIS melakukan beberapa transaksi pelayanan, tanpa harus datang dan mengantri ke kantor BPJS Kesehatan.

Kesibukan Mery, sapaan akrabnya, dengan kegiatan di kampus maupun luar kampus, membuat gadis asal Selong, Lombok Timur ini tidak mau kerepotan apabila harus ke kantor BPJS Kesehatan dan mengantri berjam–jam.

Aplikasi ini dapat digunakan oleh peserta dimana dan kapan pun tanpa batasan waktu.

Caranya pun mudah, dengan hanya mengunduh aplikasi Mobile JKN secara gratis di playstore atau appstore bagi pengguna smartphone, lalu melakukan registrasi. Setelah itu langsung dapat menikmati fitur–fitur yang tersedia.

“Sekarang kan ada mobile JKN, aplikasi ini memudahkan saya melakukan perubahan data dan perubahan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Bisa kapanpun dan dimanapun. Semuanya praktis berkat aplikasi ini,” kata Mery, ketika ditemui di kediamannya, Minggu (24/03) 2019.

Mery adalah anak dari Peserta JKN – KIS yang masuk dalam segmen Pekerja Penerima Upah (PPU). Orang tuanya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Ia mengungkapkan, ayahnya rutin mengikuti Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) setiap minggunya. Ketika diwawancarai mengenai JKN – KIS, Mery tidak merasa kesulitan karena sudah familiar dengan program yang dikelola BPJS Kesehatan tersebut.

Banyak informasi yang bisa diperoleh dari aplikasi ini, cek status kepesertaan, perubahan data, dan fitur KIS digital yang tidak dapat ditemukan di kartu KIS yang berbentuk fisik.

Tidak hanya itu, mobile JKN juga menyediakan fitur skrining kesehatan yang dapat dinikmati oleh setiap penggunanya. Fitur skrining ini bertujuan untuk mendeteksi gejala penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, gagal ginjal kronik, dan jantung koroner.

“Saya sudah mencoba fitur skriningnya. Sangat menarik! Hanya dengan menjawab beberapa pertanyaan saya bisa melihat langsung hasilnya. Cara mudah dan praktis untuk deteksi dini penyakit kronis, keren sekali. Besok saya akan ajak teman – teman saya untuk ikut menggunakan aplikasi ini,” ungkapnya.

Adapun dengan adanya fitur skrining kesehatan tersebut, penggunanya dapat mengetahui hasilnya secara langsung.

Apabila hasilnya adalah risiko rendah maka peserta JKN – KIS akan diingatkan untuk tetap menjaga pola hidup sehat dan melakukan akrivitas fisik rutin minimal 30 menit/hari.

Namun apabila hasilnya adalah resiko sedang atau tinggi maka peserta akan dihimbau untuk konsultasi ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk mendapatkan penjelasan terhadap hasil skrining riwayat kesehatan.

“Kita sebagai generasi muda harus pintar – pintar memperhatikan kondisi tubuh kita. Mumpung masih muda dan masih sehat, yuk cek kesehatan dari sekarang. Deteksi dini penyakit jadi lebih mudah dengan skrining kesehatan di Mobile JKN,” ungkap Mery.

ay/hd/Jamkesnews

 

 




Program JKN–KIS Mengembalikan Keceriaan Lalu Rafinza

“Saya sangat bersyukur karena telah menjadi peserta Program JKN–KIS. Saya benar–benar merasa terbantu”

lombokjournal.com —

SELONG   ;    Program JKN–KIS terbukti mampu memberikan perlindungan dan meringankan beban finansial masyarakat.

Terutama masyarakat yang menderita penyakit yang berat dan membutuhkan pengobatan jangka panjang.

Pengalaman Yanti (42) dan anaknya Lalu Rafinza (10), yang merupakan peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) asal Desa Rarang, Kecamatan Terara.

Lalu Rafinza atau yang akrab dipanggil Finza adalah anak kedua Yanti yang sekarang sedang duduk di kelas 4 SD. Pada usia 8 tahun, Finza pernah didiagnosis menderita Tuberkulosis Kutis Verukosa atau biasa disebut dengan TBC Kulit.

Sebagian besar kasus Tuberculosis (TBC) memang terjadi pada paru–paru, tetapi bakteri penyebab TBC yaitu Mycobacterium Tuberculosis juga dapat menyerang bagian tubuh lainnya, termasuk kulit.

Gejala penyakit ini berupa munculnya beruntus di kulit dan berwarna kemerahan. Sering ditemukan pada bagian lutut, tungkai, dan kaki penderitanya.

Saat bertemu dengan Tim Jamkesnews Minggu sore (30/03), Ibu yang merupakan penggiat kegiatan posyandu di desanya ini menceritakan kisah anaknya dalam menjalani pengobatan penyakit yang terbilang jarang terjadi ini.

“Awalnya Finza sempat demam beberapa hari, setelah itu muncul bisul – bisul kecil di bagian lutut kanannya dan pergelangan tangannya. Semakin lama semakin banyak, seperti luka borok. Saya tidak pernah terpikir kalau itu penyakit TB kulit. Setelah diperiksa ke rumah sakit baru saya percaya,” Ccerita Yanti.

Saat itu Finza harus dirujuk ke RSUD Kota Mataram. Selama 4 hari dan ia harus menerima perawatan intensif di ruang isolasi. Setelah keluar dari rumah sakit pun, Finza harus terus – menerus mengkonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) kurang lebih selama 6 bulan penuh.

Yanti mengungkapkan kesedihannya, ketika mengingat kejadian itu. Penyakit tersebut menyebabkan pertumbuhan Finza menjadi terganggu.

Untuk anak seusianya, seharusnya Finza memiliki bobot tubuh yang normal. Nyatanya tubuh Finza menjadi lebih kurus dan lebih kecil dibandingkan dengan teman – temannya yang lain.

Namun, ia tetap bersyukur karena sekarang Finza dapat sembuh total dari penyakitnya.

“Alhamdulillah, sekarang Finza sudah sembuh dan sehat kembali. Saya sangat bersyukur karena telah menjadi peserta Program JKN–KIS. Saya benar – benar merasa terbantu. Apalagi biaya pengobatannya tidak terbilang murah dan butuh waktu lama untuk sembuh.  Saya sangat lega, Finza bisa menjalani pengobatan tanpa harus dipusingkan dengan masalah biaya yang besar,” ungkap ibu tiga anak tersebut.

Yanti mengucapkan terima kasih kepada program JKN–KIS yang sudah menanggung semua biaya pengobatan anaknya.

Dikatakannya, kalau tidak ada JKN – KIS, mungkin sekarang anaknya tidak bisa sekolah dan tidak bisa melakukan kegiatan kesukaannya. Finza suka main bola, ia sering ikut pertandingan sepak bola. Minggu lalu, ia dan timnya bahkan menang turnamen antar sekolah.

“Bangga sekali rasanya melihat ia kembali sehat dan aktif seperti anak – anak lainnya. Berkat program JKN – KIS yang baik ini, Finza bisa sembuh dan kembali bersemangat menjalani aktivitasnya,” tutur Yanti di akhir pembicaraannya dengan Tim Jamkesnews.

ay/hf/Jamkesnews

Narasumber : Yanti