Untuk Tingkatkan Kepatuhan Pemberi Kerja, BPJS Kesehatan Gandeng Jamdatun

“Pemberi kerja pun kami harap dapat makin patuh dalam membayarkan iuran pegawainya, agar pekerja terjamin dan tidak mendapat kesulitan pada akses pelayanan kesehatannya”

lombokjournal.com –

MATARAM  ;  BPJS Kesehatan bekerja sama dengan Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) guna meningkatkan kepatuhan peserta pemberi kerja dalam melakukan pembayaran iuran.

.Sebelumnya, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menemukan terdapat 50.475 badan usaha yang belum bekerja sama dengan Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Terdapat sekitar 528.120 pekerja yang belum didaftarkan oleh 8.314 badan usaha dan  2.348 badan usaha yang tidak melaporkan gaji dengan benar.

“DATUN Kejaksaan RI diberikan wewenang untuk memberikan pertimbangan hukum berupa pendapat hukum, pendampingan hukum, dan audit hukum,” kata Fachmi di Jakarta, Senin (28/10).

Ia melanjutkan, pertimbangan hukum tersebut diharapkan mencegah terjadinya pelanggaran oleh peserta iuran yang dapat berujung pada tindak pidana.

Selain itu, Jamdatun juga berwewenang memberi bantuan hukum berbentuk nonlitigasi dan litigasi serta tindakan hukum lain dalam rangka menyelamatkan dan memulihkan keuangan negara.

Sepanjang tahun 2018, BPJS Kesehatan bersama Kejaksaan Negeri di seluruh Indonesia telah melakukan mediasi dan mengeluarkan Surat Kuasa Khusus sebanyak 3.224 ke pemberi kerja. Surat ini berhasil menagih tunggakan iuran sebesar Rp26 miliar.

Hingga September 2019, mediasi telah dilakukan oleh Kejaksaan Negeri kepada 1.495 badan usaha dengan iuran yang berhasil ditagih sebesar Rp 9,3 miliar. Fachmi berharap, ke depannya angka tersebut terus meningkat.

“Pemberi kerja pun kami harap dapat makin patuh dalam membayarkan iuran pegawainya, agar pekerja terjamin dan tidak mendapat kesulitan pada akses pelayanan kesehatannya,” ujarnya.

Sebelumnya, BPJS Kesehatan sempat mengancam akan mengenakan sanksi terhadap badan usaha yang belum tertib bekerja sama dan membayar iuran.

Ketidaktertiban badan usaha untuk ikut serta dalam program BPJS Kesehatan dinilai menjadi salah satu penyebab defisit anggaran pada lembaga asuransi negara ini.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 86 Tahun 2013, perusahaan yang tidak mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Kesehatan dapat dikenakan sanksi berupa pencabutan perizinan usaha dan izin-izin lainnya.

Sebagai informasi, Undang-Undang (UU) No 24 Tahun 2011 Pasal 15 ayat (2) mewajibkan pemberi kerja secara bertahap mendaftarkan dirinya dan pekerja/karyawannya sebagai peserta kepada BPJS Kesehatan sesuai dengan program jaminan sosial yang diikuti.

Berdasarkan data BPJS Kesehatan hingga 30 September 2019, terdapat 282.779 badan usaha yang sudah terdaftar dalam program JKN-KIS.  Sementara itu, jumlah peserta JKN-KIS mencapai 221.203.615 jiwa atau 84,1 persen dari total penduduk Indonesia.

Dalam pelayananannya, BPJS Kesehatan telah bekerjasama dengan 23.175 fasilitas kesehatan tingkat pertama yang mencakup puskesmas, dokter praktik perorangan, klinik, rumah sakit kelas D pratama, dan dokter gigi.

Selain itu, BPJS Kesehatan juga telah bekerja sama dengan 2.520 rumah sakit dan klinik utama, 572 apotek PRB-kronis, dan 1.080 optik.

Rr (sumber ; Bisnis.com)




Akan Dibentuk Bentuk Tim Kecil Kemenkes dan BPJS Kesehatan, Untuk Atasi Defisit

“Kuncinya, bila tim terbuka dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan melakukan uji publik”

lombokjournal.com —

JAKARTA   ;    Akan dibentuk tim kecil khusus untuk membenahi permasalahan Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola BPJS Kesehatan.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto saat berkunjung ke Kantor Pusat BPJS Kesehatan pada Jumat lalu (25/10) 2019..

Tim kecil yang akan dibentuk itu yang akan membahas langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan BPJS Kesehatan, khususnya defisit.

Munculnya rencana pembentukan tim kecil tersebut, mendapat tanggapam dari Ketua Bidang Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar.

Timboel mengatakan, rencana Menkes Terawan akan membuat tim untuk melihat dan mengatasi masalah yang ada di BPJS Kesehatan memang beralasan.

“Tentunya, masalah JKN memang rumit dan butuh perhatian khusus dari Pak Menkes,” komentar Timboel melalui keterangan tertulisnya, Senin (28/10) 2019.

Menrutnya, perhatian ini agar pelayanan BPJS Kesehatan bisa lebih baik lagi di kemudian hari. Dengan kehadiran tim yang dijanjikan tersebut seluruh persoalan JKN yang rumit berpotensi bisa diurai untuk mencari solusi secara sistemik.

“Kuncinya, bila tim terbuka dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan melakukan uji publik.” kata Timboel.

Masukan dari Masyarakat

Timboel juga berharap  agar masyarakat untuk ikut berpartisipasi memberi masukan ke tim kecil ini. Masukan dari masyarakat bisa membantu menemukan solusi yang ada.

“Bukankah Pasal 96 UU No 12 Tahun 2011 tentang pembuatan peraturan perundang-undangan itu berisi soal membuka ruang ke masyarakat untuk memberikan masukan atas peraturan perundangan yang sedang dibuat. Saya mengapresiasi tim yang terbuka kepada publik dengan mengimplementasikan makna dari Pasal 96 tersebut,” Timboel menegaskan.

Menyoal defisit dan kenaikan iuran BPJS Kesehatan, seharusnya tim kelak tidak lagi membicarakan dari awal tentang masalah ini.

“Sebaiknya, Pak Menkes membuka kembali seluruh dokumen pembicaraan dari rapat ke rapat yang dilakukan sebelum-sebelumnya selama masa kepemimpinan Bu Nila Moeloek (Menteri Kesehatan 2014-2019) lalu,” lanjut Timboel.

BACA JUGA  :   Belum Dipastikan, Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Penyesuaian Iuran BPJS Kesehatan

Jadi, tim tinggal menyimpulkan dan mengeksekusi masalah dan menemukan solusi. Apalagi Pak Mardiasmo (Wakil Menteri Keuangan 2014-2019) sudah melakukan 152 kali rapat.

Dipastikan tingkat pembicaraannya sudah sangat dalam dan detail (rinci) dengan mengkaji seluruh aspek beserta berbagai simulasi kebijakannya.”

Rr

(sumber ; Liputan 6)

 




Belum Dipastikan, Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Penyesuaian Iuran BPJS Kesehatan

“Jadi kami berdua (bersama BPJS Kesehatan) selalu ingin membantu supaya masyarakat bisa terlayani dengan optimal tanpa harus kami bersinggungan dengan hal-hal ketidakmampuan”

lombokjournal.com —

JAKARTA   ;    Hingga kini belum diputuskan, kapan berlakunya penyesuaian iuran BPJS Kesehatan,

Hal itu disampaikan Mwenteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto menanggapi pertanyaan terkait kepastian waktu kenaikan tariff yang sudah diputuskan pemerintah.

Memang, penyesuaian iuran untuk menutup defisit BPJS Kesehatan menjadi salah satu pekerjaan rumah dari Menteri Kesehatan dalam Kabinet Indonesia Maju.

Dalam konferensi persnya usai rapat bersama dengan Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris Jumat (25/10) 2019 lalu, Terawan mengungkapkan kapan waktu yang tepat akan dibicarakan lagi dengan pihak-pihak terkait, salah satunya bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

“Nanti dilihatnya bersama-sama, kami dengan DPR dan sebagainya. Jadi jangan segera mungkin memutuskan apapun,” kata Terawan di Jakarta, Senin (28/10) 2019.

Terawan mengungkapkan kekhawatirannya, isu kenaikan iuran BPJS Kesehatan bisa meresahkan masyarakat. Karena itua, soal penyesuaian tarif itu  belum bisa diungkapkan kapan waktu yang tepat. if.

“Jadi kami berdua (bersama BPJS Kesehatan) selalu ingin membantu supaya masyarakat bisa terlayani dengan optimal tanpa harus kami bersinggungan dengan hal-hal ketidakmampuan,” kata dokter spesialis radiologi ini.

Mengubah narasi

Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengatakan, sesungguhnya Menkes Terawan mendukung penyesuaian tarif Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Namun Fachmi menambahkan, saat ini narasi yang beredar di masyarakat terkait penyesuaian iuran JKN harus diubah agar tidak terdengar menakutkan.

“(Misalnya) bagaimana 2.000 rupiah bisa ditabung setiap hari,” ujarnya.

BACA JUGA ;  Akan Dibentuk Bentuk Tim Kecil Kemenkes dan BPJS Kesehatan, Untuk Atasi Defisit

Terkait gebrakan lain yang akan dilakukan Terawan untuk mengatasi defisit BPJS Kesehatan sendiri, Mnkes melakukan gerakan moral dengan menyerahkan gaji dan tunjangan kinerjanya untuk BPJS Kesehatan.

Dokter yang dikenal lewat metode “cuci otak” nya ini juga akan membentuk tim kecil.

Rr

(Sumber; Liputan 6




Sobri Bersyukur, Berkat JKN-KIS  Ia Tak Mengeluarkan Biaya Operasi Anaknya

“Saya tidak menyangka kartu jkn-kis yang dibagikan pemerintah begitu besar manfaatnya. Kami benar – benar tidak mengeluarkan biaya sedikitpun”

lombokjournal.com —

SELONG   ;   Muhammad Jaelani (9), anak laki – laki kelas 3 Sekolah Dasar asal Desa Pringgasela Timur Kecamatan Pringgasela ini dijadwalkan seminggu lagi akan melakukan operasi pengangkatan tonsil atau yang biasa disebut dengan amandel.

Ia datang ke rumah sakit ditemani oleh ayahnya, Muhammad Sobri (45) dan bibinya Rabiatun (40).

Siang itu (06/04) 2019, mereka ditemui oleh tim Jamkesnews setelah mendapatkan beberapa jadwal pemeriksaan darah, laboratorium, dan pemeriksaan radiologi untuk persiapan operasinya.

Ayahnya mengatakan, Jaelani memang sudah lama kena radang amandel, mungkin sejak 3 bulan yang lalu. Awalnya batuk – batuk, demam berhari – hari. Tenggorokannya sakit, jadi susah menelan makanan.

“Sudah dua kali berobat ke Puskesmas, tapi sampai sekarang kondisinya masih belum membaik,” ungkap Muhammad Sobri.

Lebih lanjut Sobri menceritakan, akhirnya anaknya dirujuk ke Poli THT RSUD Selong. Kata dokter dianjurkan untuk operasi amandel.

“Alhamdulillah kami langsung dapat jadwal operasinya, Insyaa Allah Senin depan. Semuanya lancar. Administrasi, jadwal konsul ke dokter anak, sampai pemeriksaan tambahannya pun sudah terjadwal. Kita hanya menyiapkan berkas – berkas yang diminta untuk mempermudah prosedurnya,” tambah Rabiatun.

Jaelani dan ayahnya adalah salah satu Peserta Penerima Bantuan Iuran APBN. Pada awalnya Muhammad Sobri meragukan kebenaran tentang operasi anaknya yang akan dibayarkan oleh pemerintah melalui kartu JKN – KIS miliknya.

Tetapi setelah diyakinkan oleh anggota keluarganya yang kebetulan pernah melakukan prosedur yang sama, barulah ia percaya akan manfaat kartu hijau kecil tersebut.

“Ini pertama kalinya saya dan keluarga menggunakan kartu JKN – KIS. Saya tidak menyangka kartu yang dibagikan pemerintah tahun lalu ini begitu besar manfaatnya. Kami benar – benar tidak mengeluarkan biaya sedikitpun. Saya semakin yakin dengan manfaat kartu ini,” jelasnya.

Operasi amandel atau tonsilektomi adalah tindakan operatif yang bertujuan untuk mengangkat atau menghilangkan bagian amandel (tonsil) yang sudah mengalami peradangan kronis atau disebut dengan tonsilitis kronis.

Penyakit ini disebabkan karena infeksi bakteri atau virus yang masuk ke dalam mulut. Ketika tonsillitis tidak dapat disembuhkan dengan pemberian obat antibiotik maka akan dilakukan tonsilektomi untuk mencegah terjadinya komplikasi. Biaya tindakan operatif ini pun beragam, berkisar antara 3 – 10 juta rupiah.

Muhammad Sobri mengungkapkan rasa syukurnya terhadap program BPJS Kesehatan tersebut. Ia tidak dapat membayangkan hal – hal buruk yang terjadi apabila tidak punya kartu JKN – KIS.

“Saya hanya bekerja sebagai buruh, istri saya tidak bekerja. Penghasilan saya hanya cukup untuk makan sehari – hari. Tak ada persiapan biaya untuk hal – hal lainnya. Sekali lagi saya tidak henti – hentinya mengucapkan syukur dan terimakasih pada pemerintah karena telah memberikan solusi terbaik bagi masyarakat kecil yang sakit,” tutup Sobri.

ay/hf/Jamkesnews

Narasumber : Rabiatun, Muhammad Sobri, dan Muhammad Jaelani




Menjadi Peserta JKN-KIS, Meski Amir Gagal Ginjal Tak Berarti Gagal Hidup

“sejak pertama kali disarankan cuci darah, saya langsung mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan. Selama 4 tahun ini pun saya tidak pernah mengeluarkan biaya lebih dari 51 ribu tiap bulannya”

lombokjournal.om —

SELONG   ;  Hemodialisa umumnya diperuntukkan bagi pasien gagal ginjal dan beberapa orang dengan peradangan ginjal kronik atau disebut dengan pielonefritis.

Seperti yang dialami oleh Amir (37),  pria asal Desa Paok Motong, Kecamatan Masbagik ini sudah 4 tahun lamanya  melakukan cuci darah ke RSUD dr. R. Soedjono Selong akibat pielonefritis.

Awalnya, Amir berpikir itu sakit pinggang biasa, jadi dibiarkan saja. Istirahat sebentar juga sembuh. Tapi, semakin lama jadi semakin sakit. Ketika buang air kecil rasanya sakit sekali.  Badan semakin lemah, cepat lelah padahal tidak melakukan pekerjaan berat.

“Sampai suatu ketika, saya tiba – tiba pingsan karena tidak kuat menahan nyeri dan pusing yang luar biasa. Ketika sadar, saya sudah ada di rumah sakit. Saat itu juga, saya akhirnya tahu bahwa ginjal saya sudah infeksi parah,” ungkapnya.

Pielonefritis adalah peradangan pada ginjal yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Infeksi ini dapat terjadi berulang kali hingga akhirnya dapat merusak ginjal secara permanen dan menyebabkan gagal ginjal.

Transplantasi atau donor ginjal dapat menjadi pilihan penderitanya untuk sembuh. Namun keberhasilannya sangat kecil sekali,  dan itu tergantung dari kondisi dan tingkat keparahan pasiennya.

Amir adalah salah satunya. Karena kondisi ginjalnya memang sudah rusak, jika melakukan operasi, maka akan membahayakan jiwanya. Akhirnya cuci darah menjadi jalan satu – satunya bagi Amir untuk bertahan hidup.

“Cuci darah itu kan ada yang akut dan kronik. Akut itu membantu fungsi ginjal untuk kembali normal. Kalo udah normal ya berhenti cuci darahnya. Nah kalau saya ini yang kronik. Ginjal nya sudah tidak ada fungsinya, jadi harus mengandalkan alat cuci darah seumur hidup,” ungkap pria 3 orang anak ini ketika ditemui tim Jamkesnews, Sabtu (13/04) siang.

Akhirnya Amir hanya bisa pasrah saja. Sudah ratusan kali dipasang selang bermacam – macam di tangan juga sudah tidak terasa sakit.

“Alhamdulillah, saya ikhlas. Masalah biaya? saya tidak khawatir, sejak pertama kali disarankan cuci darah, saya langsung mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan. Selama 4 tahun ini pun saya tidak pernah mengeluarkan biaya perawatan lebih dari 51 ribu setiap bulannya,” tutur salah satu Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) ini.

Amir juga mengungkapkan pelayanan kesehatan yang diterimanya sangatlah baik. Perawat – perawat  di ruang Hemodialisa RSUD Selong tersebut pun sangat ramah dan dia merasa betah walaupun harus berbaring berjam – jam.

“Kami di sini semuanya pengguna BPJS Kesehatan. Jadi tidak ada yang dibeda – bedakan. Jika ada pasien umum pun, akan tetap dilayani dengan adil tanpa pilih kasih. Kami semua ada sekitar 11 orang, rasanya sudah seperti keluarga yang sama – sama sedang berjuang bertahan hidup. Saling menguatkan dan saling mensupport,” kata Amir.

ay/hf/Jamkesnews

Narasumber : Amir




Program NTB Satu Data, Menarik Perhatian “Publish What You Pay”

“Posyandu adalah jalur untuk pendataan, karena kegiatan posyandu dilaksanakan setiap bulan pada tingkat dusun dan dibarengi dengan pendataan oleh para kader”

MATARAM.lombokjornal.com —  Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah menerima audiensi Yayasan Transparansi Sumberdaya Ekstraktif-Publish What You Pay ( PWYP) Indonesia di ruangannya, Senin (28/10/2019).

Kedatangan Yayasan tersebut berkaitan dengan program NTB Satu Data yang sedang digagas oleh Pemprov NTB.

“Di Pemprov ini, kita mendapatkan informasi langsung dari masyarakat, melalui beberapa program di antaranya Jumpa Bang Zul dan Umi Rohmi, aplikasi NTB Care, medsos-medsos yang kita miliki, semua OPD pun kami wajibkan punya medsos,” terang Wakil Gubernur.

Melalui program tersebut,  Pemprov NTB dapat langsung mengelola saran, kritikan maupun informasi dan dapat diolah tanpa memakan waktu lama.

“Data adalah sesuatu yang penting di era ini, data itu adalah harta untuk merencanakan NTB ke depan, satu data adalah acuan semua perangkat untuk bersinergi dengan baik,” tutur Wagub.

Umi Rohmi, sapaan akrabnya mengatakan, salah satu program yang dapat dijadikan sebagai sumber data adalah program Revitalisasi Posyandu.

“Posyandu adalah jalur untuk pendataan, karena kegiatan posyandu dilaksanakan setiap bulan pada tingkat dusun dan dibarengi dengan pendataan oleh para kader,” kata Ummi Rohmi.

Selain Revitalisasi Posyandu, Umi Rohmi juga menyampaikan informasi terkait pariwisata dan program zero waste yang sedang dijalankan.

Pencanangan program satu data yang digagas oleh Provinsi NTB mendapat apresiasi oleh Yayasan Transparansi Sumberdaya Ekstraktif-Publish What You Pay Indonesia.

Direktur Publish What You Pay Indonesia, Maryati Abdullah mengungkapkan ketertarikannya pada program NTB yang satu ini.

Ia berencana mengundang Wakil Gubernur NTB  untuk hadir dalam acara Implementasi Satu Data  dan Tata Kelola Sektor ESDM yang juga dihadiri oleh perwakilan Kemenko Perekonomian, Edy Widarto.

Publish What You Pay Indonesia merupakan koalisi masyarakat sipil untuk transparansi dan akuntabilitas tata kelola sumber daya ekstraktif migas, pertambangan dan sumber daya alam yang terafiliasi dalam kampanye Publish What You Pay di tingkat global.

AYA/HmsNTB




Wagub; Dengan Data, Program-program Akan Tepat Sasaran Dan Efesien

“Harapannya 10 kabupaten/kota juga demikian, memandang data ini juga sebagai suatu hal yang penting, karena kalau kita berangkat dari data, mungkin akan jauh banyak penghematan yang kita lakukan dan efektifitas akan jauh lebih baik”

MATARAM.lombokjornal.com —  Data sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa, hanya dengan data program-program akan tepat sasaran dan wefisien.

Hal itu ditekankan Wakil Gubernur Provinsi NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat membuka kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB di Hotel Aston Inn Mataram, Senin (28/10) 2019.

Dalam Rakor tersebut memiliki tema “Peningkatan Peran dan Fungsi Institusi Statistik dalam Satu Data Indonesia di Provinsi Nusa Tenggara Barat”, wagub menegaskan, data sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa.

“Kami sejak awal sangat konsen dengan data, karena kami paham betul, dengan data, program-program kami akan tepat sasaran dan efesien,” kata Wagub dalam sambutannya.

Menurutnya, peran BPS di NTB sangat strategis. Karena dengan data, kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah membuahkan hasil, misalnya Indeks Pembangunan Kebudayaan NTB menduduki posisi ke-5 di Indonesia.

“Posisi ke-5 ini, tentunya ini adalah berkat usaha yang luar biasa BPS 10 kabupaten/kota, BPS Provinsi NTB, dinas-dinas terkait, pemerintah kabupaten/ kota dan provinsi juga, tentunya kerja dari masyarakat, karena sumber data ini datangnya dari masyarakat,” ungkap Wagub.

Wagub menegaskan,  Pemprov optimis dengan kemajuan Provinsi NTB. Dengan menaruh perhatian lebih terhadap data, maka akan mudah menentukan langkah ke depan.

Wagub berharap, agar satu data NTB semakin baik serta kerja sama dengan BPS dengan Pemprov NTB semakin harmonis.

“Semakin baik lagi dengan BPS, sehingga harapannya, kita berjalan di jalan yang terang sehingga tujuan kita itu jelas, bagaimana cara mencapai tujuan tersebut, kekuatan seperti apa yang kita berdayakan untuk bisa mencapai tujuan tersebut,” tutur Wagub.

Data sebagai satu hal yang vital,  yang tidak bisa dilepaskan dari eksekusi segala program yang ada di NTB.

“Harapannya 10 kabupaten/kota juga demikian, memandang data ini juga sebagai suatu hal yang penting, karena kalau kita berangkat dari data, mungkin akan jauh banyak penghematan yang kita lakukan dan efektifitas akan jauh lebih baik,” terang Wagub.

Ketua Penyelenggara kegiatan Rakor, Anan Zakaria menyampaikan, dengan ketersedian dan informasi yang akurat akan memberikan dasar dan arahan kepada pemerintah dalam merumuskan kebijakan pada program pembangunan yang tepat.

“Data dan informasi tersebut, dapat diperoleh melalui penyelenggaraan kegiatan statistik, baik statistik dasar maupun statistik struktural. Rakor ini merupakan upaya menyebarkan informasi tentang peran dan fungsi unit kerja statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat,” kata Anan.

Rakor ini terlaksana dari tanggal 28- 29 Oktober 2019.  hadir dalam kegiatan ini Direktur Statistik Kesejahteraan Rakyat, Kepala BPS Provinsi NTB, Kepala Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik Provinsi NTB, dan 10 Kepala BPS Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB.

AYA/HmsNTB




Wagub Minta Duta Forum Pelajar Indonesia Beri Yang  Terbaik untuk NTB

Forum ini bertujuan membuka ruang belajar untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam upaya menumbuhkan karakter kepemimpinan dan integritas pelajar Indonesia

MATARAM.lombokjournal.com —  Wakil Gubernur Provinsi NTB, Dr. Hj Sitti Rohmi Djalilah berharap para pelajar yang lolos seleksi dan akan menjadi duta NTB dalam Forum Pelajar Indonesia mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

“Pahami budaya dan masyarakat NTB, dan berikan yang terbaik untuk NTB,” ungkap Wagub.

Hal itu dikatakan Wagub Hj Sitti Rohmi saat menerima audiensi pelajar yang lolos seleksi Forum Pelajar Indonesia, yang diselenggarakan oleh Indonesia Student and Youth Forum (ISYF) di ruang kerjanya, Senin, (28/10) 2019.

Baginya, kolaborasi pelajar se-Indonesia ini dapat memberi pengaruh terhadap pelajar-pelajar lainnya, sebab anak-anak muda adalah generasi penerus yang nantinya mau tidak mau akan mengemban tugas memajukan bangsa.

Sebagai informasi, Forum Pelajar Indonesia adalah forum tahunan yang melibatkan sebanyak 250 pelajar tingkat SMA/SMK/MA dari seluruh Indonesia.

Forum ini bertujuan membuka ruang belajar untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam upaya menumbuhkan karakter kepemimpinan dan integritas pelajar Indonesia.

Adapun outcome-nya adalah para pelajar memahami hak dan kewajiban sebagai pelajar sehingga menjadi agen perubahan. Selain itu dapat menjadi duta promosi kebijakan dalam berbagai bentuk kegiatan positif di daerah masing-masisng.

Kegiatan dari forum ini akan diselenggarakan pada tanggal 6-10 November 2019 di Jakarta.

AYA/HmsNTB




Hari Sumpah Pemuda ke 91, Harapan Munculnya Tokoh Pemuda Yang Mendunia

“Kalau pemuda generasi terdahulu mampu keluar dari jebakan sikap-sikap primodial suku, agama, ras dan kultur menuju persatuan dan kesatuan bangsa, maka tugas para pemuda saat ini yaitu harus tangguh membuka pandangan ke luar batas-batas tembok kekinian dunia, kemudian menyongsong masa depan dunia yang lebih baik”

MATARAM.lombokjournal.com —  Pemerintah Provinsi NTB menggelar upacara Hari Sumpah Pemuda di ke-91 di Lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur NTB, Senin (28/10) 2019. Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah bertindak sebagai Inspektur Upacara.

Wakil Gubernur NTB membacakan amanat Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali sesuai dengan tema Sumpah Pemuda tahun ini, yaitu “Bersatu Kita Maju”.

“Tema ini diambil untuk menegaskan kembali komitmen yang telah dibangun oleh para pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 oktober 1928 dalam sumpah pemuda, bahwa hanya dengan persatuan kita dapat mewujudkan cita-cita bangsa,” jelasnya.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi yang memiliki dampak positif dan negatif, menjadi sebuah tentangan bagi para pemuda saat ini.

Pemuda bisa membendung dampak negatif tersebut dengan memfilter ilmu pengetahuan dan karakter positif dalam berbangsa dan bernegara.

“Canggihnya ilmu pengetahuan serta mudahnya akses ke sosial media 8menjadi tempat favorit berkumpulnya anak-anak muda lintas negara, lintas budaya dan lintas agama dan interaksi mereka di sosial media, berjalan real time 24 jam. Di sinilah peran para pemuda untuk bersaing dalam segi apapun tentunya dalam hal positif,” kata Menpora.

Menpora juga berharap, ke depan akan banyak muncul tokoh pemuda yang mendunia, yang mampu memberikan warna untuk mengubah dunia, dengan tekad dan semangat yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang dimiliki.

Walaupun tantangan pemuda terdahulu dengan pemuda masa kini sangat berbeda. Namun, pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yakni persatuan dan kesatuan bangsa.

“Kalau pemuda generasi terdahulu mampu keluar dari jebakan sikap-sikap primodial suku, agama, ras dan kultur menuju persatuan dan kesatuan bangsa, maka tugas para pemuda saat ini yaitu harus tangguh membuka pandangan ke luar batas-batas tembok kekinian dunia, kemudian menyongsong masa depan dunia yang lebih baik,” tutupnya.

AYA/HmsNTB

 

 




Bersama BPJS Kesehatan, Gotong Royong Mengayomi Kesehatan Seluruh Masyarakat

“Saya merasa bangga bisa berkontribusi dalam program – program pemerintah tersebut. Sama – sama bertujuan menjadikan Indonesia yang lebih sehat”

lombokjournal.com —

SELONG   :    Dewi Maracandra Kirana (53), Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sudah 2 tahun terakhir ini ditunjuk sebagai instruktur senam Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Labuhan Haji.

Selain menjadi instruktur senam ia pun kerap kali memberikan penyuluhan di tiga Puskesmas yang berbeda setiap minggunya.

Tentang senam itu Dewi mengatakan, bentuk senamnya yaitu senam bugar lansia, termasuk senam untuk penderita hipertensi, diabetes, osteoporosis, dan sebagainya.

“Setelah senam, peserta akan diberikan edukasi tentang berbagai macam penyakit kronis. Saya mengisi kegiatan tersebut pada hari Kamis, Jumat, dan Sabtu, tergantung dari jadwal yang diberikan oleh puskesmasnya,” ujar Dewi yang ditemui oleh tim Jamkesnews Minggu (14/04) pagi bersama salah satu teman instrukturnya, Atik (35).

Wanita yang bekerja di kantor BKKBN Lombok Timur ini juga mengungkapkan, program yang diusung oleh pemerintah tersebut sangat bermanfaat untuk meningkatkan derajat kesehatan bagi masyarakat khususnya bagi lansia yang memiliki riwayat atau resiko penyakit hipertensi, diabetes, asam urat, maupun hiperkolesterol.

Selain aktif sebagai instruktur senam prolanis, wanita yang selalu tampak bugar ini juga menjadi salah satu pengurus Klub Jantung Sehat yang merupakan program dari Yayasan Jantung Indonesia.

Lembaga tersebut adalah lembaga yang fokus pada peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya upaya pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Selain Prolanis ada namanya program senam jantung sehat. Kedua program tersebut saling bersinergi untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat. Prolanis merupakan program BPJS Kesehatan, sedangkan senam jantung sehat merupakan program Yayasan Jantung Indonesia.

“Saya merasa bangga bisa berkontribusi dalam program – program pemerintah tersebut. Sama – sama bertujuan menjadikan Indonesia yang lebih sehat,” ungkap Dewi.

Sebagai PNS, ia terbilang jarang menggunakan kartu JKN – KIS miliknya. Suaminya yang merupakan pekerja swasta pun juga hampir tidak pernah menggunakannya. Namun walaupun begitu ia merasa berkewajiban untuk selalu rutin membayar iuran bulanan.

“JKN – KIS itu wajib dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia, dan sebagai warga negara yang baik, ya harus patuh sama aturan yang dibuat pemerintah,” kata Dewi.

Ia mengaku, ekeluarga memang jarang memanfaatkan pelayanan kesehatan. Walaupun gajinya dan gaji suamiya tetap dipotong untuk iuran per bulannya, Dewi tetap tidak keberatan.  Sebab iuran yang dikeluarkan bisa membantu peserta – peserta JKN – KIS yang lain yang membutuhkan.

“ Saling membantu dengan sistem gotong royong. Benar-benar program yang luar biasa besar manfaatnya,” kata Dewi.

ay/hf/Jamkesnews