‘700 paket Sembako Non JPS’, Disalurkan Program Peduli Dharma Wanita NTB

Paket bantuan itu menyasar kelompok masyarakat kurang mampu dan para lansia di desa-desa dan daerah binaan Dharma Wanita Persatuan Provinsi NTB

MATARAM.lombokjournal.com – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi NTB meluncurkan program peduli untuk meringankan beban warga, menggunakan dana yang bersumber dari program organisasi dan partisipasi anggotanya.

Tak tanggung-tanggung,  organisasi sosial kemasyarakatan yang menjadi partner setia para ASN ini, telah mendistribusikan 700  paket bantuan sosial sembako Non JPS kepada sejumlah kelompok masyarakat.

Di antaranya untuk penjaga malam, tukang kebun dan petugas kebersihan pada kantor- kantor pemerintah. Juga menyasar kelompok masyarakat kurang mampu dan para lansia di desa-desa dan daerah binaan Dharma Wanita Persatuan Provinsi NTB.

Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi NTB, Hj. Lale Priyatni Gita Ariadi atau akrab disapa Hj. Lale, didampingi sejumlah pengurus DWP Provinsi NTB, mengatakan itu saat menyerahkan bantuan kepada masyarakat dan lansia di Daerah Binaan Tanjung Karang, Ampenan, Kota Mataram, Sabtu (04/07/20).

Ia mengungkapkan, isi dari paket bantuan tersebut tak jauh beda dengan JPS Gemilang.

Satu paket bantuan sosial non JPS dari Dharma Wanita, berisi telur ayam 10 butir, minyak kelapa 2 liter, ikan asin, sabun dan beras 5kg.

“Semuanya merupakan produk dari usaha masyarakat, yaitu IKM dan UKM kita,” tutur Hj Lale.

Ia berharap bantuan sosial yang yang disalurkannya itu, bisa sedikit meringankan beban warga, terutama dalam memenuhi kebutuhan pokok.

“Tetap syukuri apapun bentuk kenikmatan yang berikan Allah walaupun itu hanya sedikit,” harapnya.

Istri Sekda NTB itu juga tidak lelahnya  menghimbau kepada warga untuk tetap menggunakan masker, jaga jarak serta tetap mematuhi protokol kesehatan pada masa pandemi saat ini.

“Meskipun ini sulit untuk dijalani, tetapi mari kita terus berikhtiar dan berdoa semoga kita semua tetap diberikan kesehatan,”  ajaknya

Sepekan terakhir, Organisasi DWP Provinsi NTB telah menyalurkan 700 Paket bantuan kepada masyarakat kurang mampu. Di antaranya kepada petugas kebersihan, tukang kebun, dan  penjaga malam pada seluruh OPD Provinsi NTB.

Kemudian kepada masyarakat di bawah DWP Lombok Barat, Para petugas Islamic Center dan warga Daerah Binaan DWP yaitu di daerah Sayang-Sayang, Tanjung Karang, Karang Genteng, serta sejumlah masyarakat kurang mampu di Desa Puyung, Lombok Tengah.

(@kominfo)




Rumus Pitagoras Dipahami Tukang di Kampung, Tapi Seorang Sarjana Tak Paham teorema Pitagoras

Pytagoras bergumam “Sisi miring, sisi terpanjang dalam segitiga siku-siku sama dengan kuadrat sisi-sisi lainnya.”

lombokjournal.com

Ada peristiwa menarik pada pagi menjelang siang di hari Sabtu (04/06/20) di halaman depan rumah penulis. Peristiwa menarik itu adalah diskusi tentang rumus yang diciptakan matematikawan Yunani kuno, Pytagoras, yang di Indonesia ditulis dengan ‘Pitagoras’.

Dalam rumus Pitagoras atau teorema Pitagoras, dijelaskan bagaimana cara menghitung sisi segitiga siku-siku dengan sisi miring, atau sisi terpanjang dari segitiga siku-siku sama dengan kuadrat sisi-sisi lainnya.

Pagi menjelang siang itu, Bahri, tukang kampung itu meminta sahabatku Vino, seorang sarjana pendidikan seni, untuk mencari sisi miring dari siku-siku saat memasang benang untuk penanda pondasi bangunan kandang ayam.

Vino yang diminta menemukan ukuran sisi miring dari siku-siku itu kebingungan, matanya dipalingkan pada seseorang yang berdiri tak jauh darinya meminta bantuan.

Seseorang yang diharapkan mampu menjawab juga tak kunjung memberi respon sampai Bahri, tukang kampung yang juga alumni teknik mesin Sekolah Kejuruan itu mengambil alih dengan menemukan sendiri jawabannya.

Tekadu teori lain (kita pakai teori yang lain). Teori empak (ikan) goras,” katanya menyindir.

Ia pelesetkan nama teori Pitagoras itu menjadi teori ‘empakgoras’. Jika diartikan secara harfiah, “empak” dalam bahasa Sasak bisa diterjemahkan menjadi ikan dalam bahasa Indonesia.

“Sisi tinggi 80, sisi datar 60. 60×60=3600, 80×80=6.400, dijumlahkan menjadi 6.400+3600=10.000, akar dari 10.000 adalah 100. 100×100=10.000. maka jumlah sisi miring menjadi 100. Atau semeter,” ujar Bahri menjelaskan ke Vino. Vino yang mendengar itu hanya manggut-manggut.

Laek jak hafal (dulu sih hafal) waktu masih SD,” kilah Vino yang dijawab Bahri dengan mengatakan bahwa ia pun pada masa sekolahnya menganggap teori Pitagoras tidak penting karena tidak bisa diaplikasikan di dunia nyata.

Saya yang mendengar diskusi itu dari jarak yang tidak terlalu jauh berimajinasi dengan membayangkan bagaimana pada zaman dulu, pada masa  530 SM, sang filsuf Yunani kuno Pytagoras yang konon mempengaruhi Plato dan Aristoteles itu hidup.

Saya membayangkan sang filsuf dikelilingi beberapa orang anggota kelompoknya sedang membangun sebuah bangunan utama untuk pertemuan khusus kelompoknya. Pada saat memasang benang untuk menandai pondasi bangunan, Pytagoras kemudian bertanya kepada semua orang di sana bagaimana menemukan sisi miring bangunan itu.

Semua yang ditanya tak kunjung mampu menjawab dengan tepat. Ada yang menyuruh menjumlahkan panjang semua sisi, ada yang menyuruh menjumlahkan sisi tinggi dan datar, bahkan yang terbodoh dari mereka meminta sang guru untuk menggunakan intuisinya saja.

Pytagoras yang kesal karena semua tak kunjung memberi jawaban tepat lalu pergi, dengan rona wajah gusar, ia meninggalkan mereka menuju ke dalam kamar rumahnya di kawasan Magna Graecia. Ia mendekam di sana selama berbulan-bulan dan hanya ke luar satu kali dalam sehari hanya untuk makan sekedarnya.

Selama bertahanus di kamarnya itu, ia hanya bicara pada diri sendiri, nyaris tak pernah mengeluarkan sepatah kata pada siapa pun. Hal tersebut berlaku sampai pada suatu senja yang sejuk, sekitar pukul 18.00. Dalam keadaan mata terpejam dan tangan menengadah ke atas, beberapa huruf dan angka-angka datang padanya.

Sang filsuf lantas bergumam “Sisi miring, sisi terpanjang dalam segitiga siku-siku sama dengan kuadrat sisi-sisi lainnya.”

Meski bahagia telah berhasil memecahkan masalah yang berbulan-bulan mendekam di batok kepalanya, Pytagoras tak lantas lupa diri dengan berlari keliling desa untuk sekedar berteriak “eureka” seperti filsuf Yunani lain.

Ia hanya keluar kamar dan berdiri di teras rumahnya, memanggil salah seorang murid kesayangannya untuk mengambilkan sedikit anggur.

Setelah kejadian itu, Pytagoras yang marah dan muak pada para pengikutnya memilih pindah dengan satu murid kesayangannya ke sebuah tempat yang damai di daerah Kroton, di pesisir Italia.

Di sana, ia mendirikan sebuah perkumpulan baru dengan keanggotaan khusus: mereka yang ingin bergabung harus diinisiasi terlebih dahulu, karena perkumpulan itu menjalani gaya hidup bersama dan ‘bertarak’,  aturannya hanya boleh memakan sayuran. Perkumpulan baru itu diberi nama Pytagoranisme.

Imajinasi saya tentang Pytagoras terhenti ketika Bahri memanggil. Ia mengatakan pemasangan benang telah selesai dan akan dilanjutkan dengan penggalian pondasi untuk pemasangan batu pertama.

Sementara  Bahri sedang bahagia karena selesai memasang benang dengan rumus Pitagoras, Vino memilih asyik mendengarkan lagu India melalui gawai pintarnya.

“Ho gaya hai tujhko to pyar sajna

Laakh kar le tu inakaar sajna

Ho gaya hai tujhko to pyar sajna

Laakh kar le tu inakaar sajna

Diladaar sajna

Hai yeh pyaar sajna

 

Aa.aa.ho.aa…” Saya melihat senandung India itu begitu dinikmati Vino.

 

Begitulah. Akhirnya, teori Pitagoras dan lagu India pun bersenyawa.

Ast




Tokoh Agama dan Tokoh Pemuda di NTB Ikut Tolak RUU Haluan Ideologi Pancasila

Memeras Pancasila menjadi Trisila, lalu diperas lagi menjadi Ekasila,  adalah tindakan penodaan terhadap ideologi Pancasila yang selama ini menjadi landasan bernegara

MATARAM.lombokjournal.com —  Gaung penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP) tak hanya terdengar di Jakarta.

Di NTB, penolakan senada juga disampaikan oleh berbagai kalangan, termasuk Dewan Pembina Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB, TGH Hazmi Hamzar dan Pemuda Muhammadiyah Lombok Barat, melalui Ketuanya Muhsan, S.Pd.

Kepada LombokJornal.com, Hazmi menyampaikan bahwa keputusan MUI NTB sudah final yakni meminta pembahasan RUU HIP tidak dilanjutkan.

Disampaikan Hazmi yang juga anggota Komisi V DPRD NTB, RUU tersebut berindikasi memunculkan kembali luka sejarah bangsa Indonesia.

Selain ITU, Pancasila merupakan kesepakatan bersama para pendiri bangsa sebagai landasan ideologi Negara.

“Kita berharap dari daftar legislasi (RUU HIP) itu dikeluarkan. Karena (Pancasila) itu sudah keputusan bersama para pendiri bangsa ini,” katanya. Jum’at, (03/07/20).

Senada dengan Hazmi, Pemuda Muhammadiyah Lombok Barat melalui Ketuanya Muhsan, S.Pd menyampaikan penolakan terhadap RUU HIP.

Selain sebagai bentuk dukungan kepada putusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, juga melihat banyaknya dampak buruk yang akan terjadi jika nantinya RUU HIP disahkan menjadi Undang-Undang.

Ia juga menyitir berapa pasal yang tercantum dalam RUU HIP seperti memeras Pancasila menjadi Trisila, lalu diperas lagi menjadi Ekasila,  adalah tindakan penodaan terhadap ideologi Pancasila yang selama ini menjadi landasan bernegara.

Hal itu pada akhirnya bisa memicu gejolak di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

“Kita melihat riak yang dimunculkan RUU ini akan berdampak pada sosial di masyarakat. Ada gejolak yang muncul,” katanya.

Selain Muhsan, beberapa tokoh organisasi kemasyarakatan sebelumnya juga menyampaikan penolakan terhadap RUU HIP. Di antaranya anggota DPRD NTB dari Partai Demokrat TGH Mahally Fikri.

Di DPR RI sendiri, pembahasan RUU HIP tersebut sedang ditunda karena banyaknya penolakan dari masyarakat, termasuk dengan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran di depan gedung DPR RI Senayan Jakarta beberapa waktu lalu.

Agar diketahui dalam Catatan Rapat Badan Legislasi Pengambilan Keputusan atas Penyusunan Rancangan Undang-Undang Tentang Haluan Ideologi Pancasila, 22 April 2020, RUU HIP merupakan usulan DPR RI dan ditetapkan dalam Prolegnas RUU Prioritas 2020.

RUU HIP diusulkan dilatar belakangi belum adanya landasan hukum yang mengatur HIP sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, yang paling banyak menjadi sorotan para penolak RUU ini adalah konsep Trisila dan Ekasila yang terdapat dalam Bab II pasal 7 pada RUU HIP. Bunyinya sebagai berikut:

  • Ciri pokok Pancasila adalah keadilan dan kesejahteraan sosial dengan semangat kekeluargaan yang merupakan perpaduan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan/demokrasi politik dan ekonomi dalam satu kesatuan.
  • Ciri pokok pancasila berupa trisila, yaitu: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan.
  • Trisila sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkristalisasi dalam ekasila, yaitu gotong-royong.

Ast




UPDATE Covid-19: Hari Jum’at, 03 Juli, Bertambah 28 Pasien Positif Covid-19, Pasien Sembuh 6 (enam) Orang, Kasus Kematian 1 (satu) orang

Disampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah berperan aktif dalam upaya pemutusan rantai penularan Covid-19

MATARAM.lombokjournal.com – Di Laboratorium PCR RSUD Provinsi NTB, Laboratorium PCR RS Unram, Laboratorium PCR RSUD R. Soedjono Selong, Laboratorium Genetik Sumbawa Technopark, Laboratorium TCM RSUD Provinsi NTB, Laboratorium TCM RSUD Kota Mataram, Laboratorium TCM RSUD R. Soedjono Selong, dan Laboratorium TCM RSUD H.L. Manambai Abdulkadir mengkofirmasi, ada tambahan 28 pasien positif Covid-19, dan pasien yang dinyatakan sembuh 6 (enam) orang. Kasus kematian baru 1 (satu) orang.

Siaran pers hari Jum’at (03/07/20), Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. HL Gita Ariadi, M.Si menjelaskan, telah diperiksa sebanyak 155 sampel dengan hasil 113 sampel negatif, 14 sampel positif ulangan, dan 28 sampel kasus baru positif Covid-19, pasien sembuh 6 (enam) orang, kasus kematian 1 (satu) orang.

Lalu Gita Aryadi

Dijelaskan, adanya tambahan 28 kasus baru terkonfirmasi positif, 6 (enam) tambahan sembuh baru, dan 1 (satu) kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari Jum’at  (03/07/20) sebanyak 1.311 orang, dengan perincian 867 orang sudah sembuh, 66 meninggal dunia, serta 378 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

“Diinformasikan bahwa pasien nomor 1277 an. Ny. J, perempuan, usia 57 tahun, penduduk Makassar, Sulawesi Selatan, yang dalam press release kemarin dirawat di RSUD Patut Patuh Patju diklarifikasi menjadi dirawat di RSUD Sumbawa,” kata Lalu Gita Ariadi.

TAMBAHAN 28 PASIEN POSITIF COVID-19, pasien sembuh 6 (enam) orang. Kasus kematian baru 1 (satu) orang

Kasus baru positif tersebut, yaitu :

  1. Pasien nomor 1284, an. Tn. IGC, laki-laki, usia 63 tahun, penduduk Kelurahan Pagutan Timur, Kecamatan Mataram, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Pasien memiliki penyakit komorbid. Pasien meninggal dan dilakukan tatalaksana Covid-19;
  2. Pasien nomor 1285, an. Tn. UI, laki-laki, usia 77 tahun, penduduk Kelurahan Dasan Agung Baru, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dengan kondisi baik;
  3. Pasien nomor 1286, an. Ny. WCA, perempuan, usia 30 tahun, penduduk Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  4. Pasien nomor 1287, an. Ny. NKDP, perempuan, usia 28 tahun, penduduk Kelurahan Monjok Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  5. Pasien nomor 1288, an. An. CNR, perempuan, usia 7 tahun, penduduk Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1087. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSAD Wirabhakti Mataram dengan kondisi baik;
  6. Pasien nomor 1289, an. Ny. LT, perempuan, usia 33 tahun, penduduk Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1087. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSAD Wirabhakti Mataram dengan kondisi baik;
  7. Pasien nomor 1290, an. Ny. AA, perempuan, usia 25 tahun, penduduk Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Provinsi NTB dengan kondisi baik;
  8. Pasien nomor 1291, an. An. KMA, perempuan, usia 7 bulan, penduduk Kelurahan Gerung Selatan, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1240. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Awet Muda Narmada dengan kondisi baik;
  9. Pasien nomor 1292, an. Ny. WM, perempuan, usia 33 tahun, penduduk Kelurahan Ampenan Selatan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  10. Pasien nomor 1293, an. Ny. S, perempuan, usia 34 tahun, penduduk Desa Laju, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Sondosia Bima dengan kondisi baik;
  11. Pasien nomor 1294, an. Tn. KA, laki-laki, usia 33 tahun, penduduk Desa Rompo, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Sondosia Bima dengan kondisi baik;
  12. Pasien nomor 1295, an. Tn. R, laki-laki, usia 34 tahun, penduduk Desa Nunggi, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Sondosia Bima dengan kondisi baik;
  13. Pasien nomor 1296, an. Tn. M, laki-laki, usia 45 tahun, penduduk Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belumteridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat provinsi di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  14. Pasien nomor 1297, an. Tn. N, laki-laki, usia 78 tahun, penduduk Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  15. Pasien nomor 1298, an. Ny. SM, perempuan, usia 56 tahun, penduduk Desa Aikmel, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  16. Pasien nomor 1299, an. Ny. J, perempuan, usia 57 tahun, penduduk Desa Apitaik,Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  17. Pasien nomor 1300, an. Tn. ABD, laki-laki, usia 21 tahun, penduduk Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  18. Pasien nomor 1301, an. Tn. SHB, laki-laki, usia 53 tahun, penduduk Kelurahan MonjokBarat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  19. Pasien nomor 1302, an. Ny. IZ, perempuan, usia 43 tahun, penduduk Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  20. Pasien nomor 1303, an. An. MGAW, laki-laki, usia 2 tahun, penduduk Kelurahan Karang Panas, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  21. Pasien nomor 1304 an. Tn. PM, laki-laki, usia 46 tahun, penduduk Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  22. Pasien nomor 1305 an. Tn. LAR, laki-laki, usia 35 tahun, penduduk Kelurahan Selong, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  23. Pasien nomor 1306 an. An. ALDS, perempuan, usia 7 tahun, penduduk Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  24. Pasien nomor 1307 an. Tn. IPOP, laki-laki, usia 29 tahun, penduduk Denpasar, Bali. Pasien merupakan pelaku perjalanan. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  25. Pasien nomor 1308 an. Ny. S, perempuan, usia 31 tahun, penduduk Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  26. Pasien nomor 1309 an. An. DWM, perempuan, usia 11 tahun, penduduk Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  27. Pasien nomor 1310 an. An. HA, perempuan, usia 15 tahun, penduduk Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  28. Pasien nomor 1311 an. Ny. IAMP, perempuan, usia 36 tahun, penduduk Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik.

Hari Jum’at terdapat penambahan 6 (enam) orang yang sembuh dari Covid-19 setelah pemeriksaan laboratorium swab dua kali dan keduanya negatif, yaitu :

  1. Pasien nomor 89, an. Tn. MF, laki-laki, usia 49 tahun, penduduk Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  2. Pasien nomor 780, an. Ny. A, perempuan, usia 52 tahun, penduduk Desa Malaju , Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu;
  3. Pasien nomor 834, an. Ny. YA, perempuan, usia 20 tahun, penduduk Kelurahan Banjar, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  4. Pasien nomor 1025, an. Ny. H, perempuan, usia 55 tahun, penduduk Kelurahan Tanjung, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur;
  5. Pasien nomor 1194, an. Tn. MW, laki-laki, usia 40 tahun, penduduk Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  6. Pasien nomor 1222, an. Ny. PL, perempuan, usia 31 tahun, penduduk Kelurahan Karang Baru, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram.

Hari Jum’a ini juga terdapat penambahan 1 (satu) kasus kematian baru, yaitu :

  1. Pasien nomor 1284, an. Tn. IGC, laki-laki, usia 63 tahun, penduduk Kelurahan Pagutan Timur, Kecamatan Mataram, Kota Mataram. Pasien memiliki penyakit komorbid.

Sekda NTB sebagai Ketua Peaksana HARIAN Gugus Tugas NTB, Lau Gita Ariadi menyamaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah berperan aktif dalam upaya pemutusan rantai penularan Covid-19.

“Pemerintah juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada petugas  kesehatan yang tanpa lelah memberikan pelayanan, baik pencegahan penyebaran Covid-19 di masyarakat maupun pelayanan pengobatan kepada pasien positif Covid-19 di rumah sakit,” katanya.

AYA/Rr

Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id,

Layanan Provincial Call Centre (PCC




Bupati Najmul Ungkapkan, Pemda KLU Taat APBD 2019

Pada 2020 Pemda KLU memperoleh DID sebesar Rp 30 milyar 784 juta

TANJUNG.lombokjournal.com – Bupati Lombok Utara, DR H Najmul Akhyar menyampaikan, laporan realisasi anggaran APBD Tahun Anggaran 2019 menunjukkan, kegiatan keuangan Pemerintah Daerah selaras dengan ketaatan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang disepakati oleh eksekutif dan legislatif.

Hal itu disampaikan Bupati H. Najmul Akhyar, SH, MH pada penjelasan Kepala Daerah tentang Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2019, dalam sidang paripurna DPRD Kabupaten Lombok Utara masa sidang II Tahun Dinas 2020, Kamis (02/07/20).

Dijelaskan bupati, realisasi dana APBD tahun anggaran 2019 terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dianggarkan Rp185 milyar 928 juta lebih, terealisasi Rp146 milyar 771 juta lebih atau 78,94 persen.

Pendapatan transfer dianggarkan Rp891 milyar 939 juta lebih, terealisasi sebesar Rp874 milyar 430 juta lebih atau 98,04 persen. Sementara lain-lain pendapataan daerah yang sah dianggarkan Rp27 milyar 234 juta lebih, terealisasi sebesar Rp27 milyar 934 juta lebih atau 102,57 persen.

Secara keseluruhan pendapatan daerah sebesar Rp 1 triliun 105 milyar 101 juta lebih dan terealisasi sebesar Rp 1 triliun 49 milyar 135 juta lebih atau 94,94 persen. Belanja daerah dari anggaran Rp 1 triliun 174 milyar 417 juta lebih dengan realisasi sebesar Rp 1 triliun 87 milyar 638 juta lebih atau 92,61 persen.

“Dari realisasi pendapatan dan belanja itu terjadi defisit sebesar Rp 38 milyar 502 juta lebih. Defisit ini bisa tutupi oleh pembiayaan netto sebesar 74 milyar 292 juta rupiah lebih,” tandas Najmul.

Bupati juga menuturkan selisih pembiayaan netto dengan defisit menjadi sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) tahun anggaran 2019 dengan jumlah Rp 35 milyar 790 juta lebih. Sedangkan pendapatan tahun 2019 naik sebesar 15,78 persen atau bertambah Rp 142 milyar.

Menurut Sekjen APKASI ini, upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan daerah yaitu memperbaiki sistem pengelolaan keuangan daerah sehingga pertanggungjawabannya mendapat opini WTP.

Implikasinya, tambahnya, KLU memperoleh tambahan dana insentif daerah (DID). Pada 2020 Pemda KLU memperoleh DID sebesar Rp 30 milyar 784 juta.

“Dana DID ini bentuk penghargaan atas pengelolaan keuangan pemerintah daerah ditetapkan melalui Permenkeu No.35/PMK.07/2020,” jelas bupati.

Begitu pun belanja daerah mengalami kenaikan 21,75 persen atau bertambah sebesar Rp 194 milyar dibandingkan dengan 2018. Meskipun penerimaan daerah bertambah 15,78 persen, namun tambahan belanja terealisasi sejumlah 21,75 persen.




Di Tengah Pandemi Covid-19, Bakohumas dan Lembaga Penyiaran Kampanye Berita Baik

Selain meningkatkan imunitas tubuh, berita baik memberi banyak dampak positif bagi daerah

MATARAM.lombokjournal.com —  Informasi yang baik berperan penting dalam membentuk kepercayaan masyarakat. Untuk itulah sangat penting penyampaian informasi yang bersifat edukatif agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang baik.

Di tengah pandemi virus corona Covid-19, masyarakat membutuhkan informasi yang baik dan benar, yang bisa meningkatkan imunitas.

“Mari kita bergandengan tangan, berjalan bersama dalam memberitakan berita baik untuk masyarakat NTB,” ujar Karo Humas dan Protokol Provinsi NTB Najamuddin Amy,S.Sos.,MM saat memberikan sambutan pada acara rapat koordinasi Bakohumas NTB dengan lembaga penyiaran yang bertempat di Lesehan Green Asri Jum’at (03/07/20).

Pertemuan tersebut dihadiri oleh unsur-unsur Bakohumas NTB seperti perwakilan dari Humas Polda NTB, Humas Kejati NTB, Diskominfotik dan Perwakilan Penrem 162/WB.

Hadir juga Komisioner dari KPID NTB, Komisi Informasi (KI) NTB, dan Public Relation (PR) Ambassador Biro Humas dan Protokol NTB.

Bakohumas NTB sudah menuntaskan agenda rapat koordinasi dengan media dan lembaga penyiaran di Pulau Lombok. Kegiatan serupa akan digelar di Pulau Sumbawa dalam waktu dekat ini.

Najamuddin Amy mengatakan, berita baik tidak hanya bisa meningkatkan imunitas tubuh, tapi itu semua bisa memberikan banyak dampak positif bagi daerah.

Menurutnya, berita baik tersebut perlu terus di kampanyekan oleh seluruh pihak, terutama lembaga penyiaran.

“Saat ini, masih banyak masyarakat kita menonton TV dan mendengarkan radio. Jangan sampai, apa yang masyarakat tonton, apa yang masyarakat dengar, merugikan masyarakat itu sendiri, itulah sebabnya kita harus beritakan yang baik-baik,” ungkap mantan Komisioner KI NTB ini.

Najamuddin mengatakan, di tengah pandemi Covid-19 ini, lembaga penyiaran harus seirama untuk terus mengajak masyarakat menjalankan protokol kesehatan.

Jangan sampai, ada masyarakat yang menganggap Covid-19 ini tidak ada, bahkan menganggap pandemi ini tidak berbahaya.

Tiga pesan penting

“Ada tiga pesan penting yang perlu kita sampaikan bersama. Pertama, kita tidak boleh takut berlebihan terhadap Covid-19, yang terpenting kita waspada. Kedua, kita boleh care pada diri sendiri, tetapi jangan sampai, empati kepada orang lain kita lupakan. Ketiga, kita perlu sampaikan bahwa virus ini ada dan berbahaya,” tambah kandidat Doktor Universitas Airlangga tersebut.

Ia berharap, seluruh pihak tetap istiqomah memberitakan berita baik. Dengan harapan, masyarakat bisa terbantu mendapatkan informasi di tengah pandemi covid-19.

“Mohon bantu masyarakat kita. Kita optimis, dengan berita baik, NTB Gemilang bisa kita wujudkan bersama,” tutup Bang Najam, sapaan akrabnya.

Sementara itu, Ketua KPID NTB Yusron Saudi,ST.,M.Pd mengapresiasi langkah positif yang dilakukan Bakohumas NTB. Menurutnya, di tengah pandemi covid-19 tersebut peningkatan penonton TV dan pendengar radio semakin meningkat.

“Di tengah covid-19 ini, TV dan radio menjadi teman dekat masyarakat. Maka dari itu, ayo kita terus kampanyekan berita baik,” ujarnya.

Tidak hanya berita baik, lanjutnya, lembaga penyiaran juga perlu perbanyak konten pendidikan dan hiburan. Karena sudah beberapa bulan terakhir siswa-siswi atau para pelajar selalu belajar dari rumah.

“Ayo sebarkan berita baik, perbanyak konten pendidikan dan hiburan yang mendidik,” tutupnya.

AYA/HmsNTB




Bunda Niken Ajak Lestarikan Warisan Seni dan Budaya

Para pegiat seni dan budaya diajak agar kompak melestarikan dan memajukan kesenian yang sudah menjadi tradisi turun temurun di masyarakat

MATARAM.lombokjournal.com —  Kesenian dan kebudayaan merupakan warisan nenek moyang yang melambangkan ciri dan khas suatu daerah.

Begitu pula dengan seni dan budaya Islam yang sudah begitu melekat di masyarakat.

Namun, di era modern seperti sekarang, semakin sulit dijumpai kesenian Islam seperti Qasidah dan Marawis yang dulunya selalu tampil di tiap acara besar.

Pelestarian nilai seni dan budaya kepada generasi penerus menjadi hal yang perlu dan harus dilakukan mulai dari sekarang.

Pesan itu yang diserukan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB yang sekaligus sebagai Ketua DPW Lembaga Seni Qasidah Indonesia (Lasqi) Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah saat menyapa pegiat seni dan budaya di Kota Mataram di Yayasan Pondok Pesantren Tarbiyatul Ummah, Jum’at(03/07/20).

Kunjungan ini dirangkaikan dengan penyerahan bantuan akibat dampak pandemi Covid-19 kepada pegiat seni dan budaya di Kota Mataram.

“Alangkah baiknya jika kita terus majukan, kita pelihara, kita bina anak-anak dan generasi penerus kita, inilah bentuk dari penyaluran rasa seni yang sejalan dengan agama dan juga budaya kita,” ajak Bunda Niken.

Bunda Niken mengaku senang dapat bersilaturahim dengan pegiat seni dan budaya Kota Mataram.

Ke depan, Ia mengajak para pegiat seni dan budaya agar kompak melestarikan dan memajukan kesenian yang sudah menjadi tradisi turun temurun di masyarakat.

“Insya Allah Lasqi di NTB akan kita majukan kembali bersama-sama,” ujarnya.

Ia  kemudian menyinggung pandemi Covid-19 yang telah menghambat berbagai aktifitas di semua aspek kehidupan, termasuk dalam bidang kesenian. Ia meminta agar masyarakat tetap sabar dalam menghadapi kesulitan di masa pandemi ini.

Menurutnya, kesulitan ini harus dihadapi dengan optimisme dan juga semangat, karena wabah corona sendiri telah memberikan banyak pelajaran dalam kehidupan.

“Mudah-mudahan pandemi ini tidak menghalangi para seniman untuk tetap bisa menghasilkan karya-karya yang nantinya bisa kita nikmati bersama,” harap Bunda Niken.

Ketua DPD Lasqi Kota Mataram, Hj. Noviani Danar Kinastri Mohan Roliskana mengapresiasi bantuan yang diberikan DPW Lasqi Provinsi NTB kepada para pegiat seni dan budaya yang ada di Kota Mataram.

“Mewakili teman-teman pelaku seni, kasidah dan marawis di Kota Mataram menghaturkan terima kasih dan apresiasi kepada Lasqi Provinsi NTB yang telah memberikan bantuan kepada kami di masa pandemi ini, semoga bantuan ini bermanfaat bagi kita semua,” ucapnya.

Adanya bantuan tersebut, diharapkan dapat menjadi penyemangat di situasi pandemi Covid-19. Ia pun berharap agar pandemi Covid-19 dapat segera berlalu, sehingga berbagai aktifitas, khususnya dalam bidang kesenian dapat berjalan seperti sediakala.

AYA/HmsNTB

 




Dekranasda NTB Serahkan 125 Paket Bantuan Kepada Pengrajin di Mataram

Para pengrajin memberikan kontribusinya dalam melestarikan kesenian, sebab hasil kerajinan bukan hanya bernilai materi saja

MATARAM.lombokjourna.com — Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB menyerahkan sebanyak 125 paket bantuan kepada pengrajin UKM/IKM binaan Kota Mataram, di Pendopo Walikota Mataram, Jum’at (03/07/20).

Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah mengatakan,  pandemi Covid-19 begitu mempengaruhi perekonomian masyarakat, termasuk para pengrajin.

Masyarakat diajak tetap bersemangat menekuni usahanya dan mampu tetap berkarya meskipun di tengah situasi pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah, kita selalu diajarkan untuk bersikap optimis, bersikap positif, karena di balik semua kesulitan pasti ada kemudahan,” tuturnya.

Bunda Niken , memuji para pengrajin yang telah memberikan kontribusinya dalam melestarikan kesenian. Baginya, hasil kerajinan bukan hanya bernilai materi saja.

“Menurut saya, semua yang kita lakukan semata-mata bukan hanya untuk bisnis, namun kita juga melestarikan warisan nilai budaya dari nenek moyang kita. NTB memiliki kesenian dan kebudayaan yang luar biasa yang tercermin dalam kerajinan-kerajinannya,” jelasnya.

Bunda Niken yang juga merupakan Ketua TP PKK Provinsi NTB tersebut mengajak para pengrajin untuk ikut berkontribusi dalam memutus rantai penyebaran Covid-19. Hal ini dapat dimulai dari lingkungan sekitar tempat tinggal.

“Bapak ibu nantinya menyampaikan kembali kepada masyarakat di sekitar kita, bahwa dengan mengikuti protokol kesehatan, jaga jarak, menggunakan masker, cuci tangan, itu adalah cara kita agar badai ini cepat berlalu,” pintanya.

Sebelumnya, Ketua Dekranasda Kota Mataram, Hj. Suryani Ahyar Abduh menyambut baik kepedulian dan perhatian Dekranasda Provinsi NTB kepada UKM/IKM binaan Kota Mataram.

“Mudah-mudahan bermanfaat bagi bapak ibu semua yang akan menerima bantuan nanti dan saya berharap kepada UKM/IKM agar ini dapat menjadi penyemangat, motivasi dan spirit untuk bapak ibu tetap bertahan dan bersemangat dalam melawan Covid-19,” kata Suryani.

AYA/HmsNTB




Komisi II DPRD NTB Desak Dinas Koperasi Berdayakan KUD Topang UKM/IKM

Selama ini KUD yang ada lebih banyak yang tidak berproduksi lagi

MATARAM.lombokjournal.com —  Anggota Komisi II DPRD NTB yang membidangi perekonomian, Drs. H. Muhammad Jamhur mendorong Dinas Koperasi segera lakukan penataan kembali semua Koperasi Unit Desa (KUD).

Peataan KUD menjadi wadah bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Inddustri Kecil Menengah (IKM) yang ada di tingkat desa. Terutama dalam fungsinya sebagai wadah perputaran roda ekonomi masyarakat.

Menurut Jamhur  selama ini KUD yang ada lebih banyak yang tidak berproduksi lagi.

Pemerintah melalui Dinas Koprasi harus bisa menata KUD dengan menerapkan manajemen yang sesuai kebutuhan zaman.

Jika sudah demikian, terang Jamhur, bukan tidak mungkin lembaga yang berbasis di desa tersebut mendatangkan manfaat besar bagi perkembangan perekonomian masyarakat desa.

“KUD punya gudang-gudang yang sekarang lebih banyak tak terawat. Kita berdayakan kembali sebagai payung UKM/IKM kita di bawah. Ayok (pemerintah) sikapi ini supaya tidak sia-sia,” katanya kepada lombokjournal.com, Jumat (03/06/20).

Ditambahkan Jamhur, selama ini pemerintah sangat abai dengan keberadaan KUD. Pemerintah terus-menerus membuat program pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil tanpa melibatkan KUD.

Hal yang membuat tingkat keberhasilan program tersebut tak maksimal.

Jamhur menilai, sinergi positif harus terjalin antara program yang dibuat pemerintah kaitannya dengan UKM dan IKM dengan melibatkan KUD.

Sebab KUD bisa jadi rumah bersama para pelaku UKM/IKM untuk mengembangkan usahanya.

Nantinya, fungsi KUD tidak hanya sebatas pemberi pinjaman modal usaha, KUD bisa jadi jembatan pemasaran dan distribusi produk-produk yang dihasilkan UKM dan IKM.

Dengan demikian, KUD tidak lagi menjadi lembaga yang bangunannya hanya menjadi “rumah hantu”.

“Coba lihat aset dan bangunan-bangunan, nilainya milyaran rupiah. Sekarang mangkrak jadi rumah hantu,” katanya.

Selain hal di atas, Jamhur menyebut salah satu faktor penyebab kegagalan KUD adalah buruknya koordinasi antara Dinas Koperasi di bawah pemerintah provinsi (Pemprov) dengan Dinas Koperasi di bawah pemrintah Kabupaten/Kota. Hal yang ia ketahui setelah bertanya langsung kepada Dinas Koperasi Pemprov NTB.

Jamhur mengingatkan, tugas pengelolaan KUD sebagai basis pengembangan ekonomi masayarakat desa adalah tugas pemerintah, maka dari itu, persoalan tarik ulur kepentingan mengenai siapa berhak dan tidak berhak harus dihentikan.

“(Kata Pemprov) ini kewenangaN kabupaten. Ya, jangan bicara kewenangan, yang penting pemerintah, bagaimana berkoordinasi dengan kabupaten. Bagaimana mencari solusi KUD, kita apakan asetnya,” jelasnya.

Ast




Wagub; Posyandu Kunci Selesaikan Masalah Kesehatan Masyarakat

Jika posyandu keluarga telah berjalan aktif maka banyak pekerjaan rumah masalah kesehatan masyarakat terselesaikan

MATARAM.lombokjournal.com —  Progres perkembangan jumlah posyandu keluarga  di Provinsi Nusa Tenggara Barat  meningkat setiap bulannya.

Hal tersebut membuktikan bahwa program unggulan revitalisasi posyandu dalam visi NTB Gemilang pelan namun pasti akan segera terwujud.

Selama 6 bulan terakhir – periode Juli 2019 s.d Juni 2020 – telah terbentuk  454 posyandu keluarga. Sehingga total jumlah posyandu keluarga per Juni 2020 sebanyak 1.514 dari 7.379 posyandu se-NTB.

Merujuk hal tersebut, Wakil Gubernur NTB Dr. Sitti Rohmi Djalilah mengapresiasi kinerja Dinas Kesehatan dalam mewujudkan revitalisasi posyandu.

Hal tersebut disampaikan saat melakukan kunjungan ke Dinas Kesehatan Provinsi NTB dalam rangka mengekspos progress program unggulan, Jum’at (03/07/20).

Kunjungan tersebut turut didampingi oleh Sekretaris Daerah H. Lalu Gita Ariadi dan Asisten 1 Setda Baiq Eva Nurcahyaningsih, M.Si.

Ummi Rohmi memaparkan, jika posyandu keluarga telah berjalan aktif maka banyak pekerjaan rumah masalah kesehatan masyarakat seperti pandemi Covid-19, stunting, permasalahan keamanan pangan, kematian ibu dan anak, dan permasalahan kesehatan masyarakat lainnya bisa terselesaikan.

Hal tersebut dikarenakan seringkali sumber masalah disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat mengenai hal tersebut.

“Jika posyandu keluarga sudah jalan aktif dan bagus selesai banyak PR kita. Karena edukasi jalan trus sehingga mindset masyarakat bisa terbangun. Banyak permasalahan kesehatan masyarakat kita belum terselesaikan bukan karena tidak mampu tapi karna ketidak mengertian dan ketidak tahuan,” jelas Ummi Rohmi.

Untuk mengaktifkan posyandu secara maksimal, Ummi Rohmi berpesan untuk terus meningkatkan kemampuan para kader posyandu. Karena melalui kader yang baik maka posyandu dapat berjalan dengan baik juga.

Jika memiliki kader yang kompeten maka masyarakat akan senang hati ke posyandu tanpa merasa terpaksa. Selain terus mengupgrade kemampuan kader posyandu kembali mengingatkan untuk selalu memperhatikan kesejahteraan para kader.

“Minimal insensif kader 150 ribu sebulan, supaya kader kita merasa termotivasi untuk terus belajar dan mengedukasi masyarakat,” pesan Ummi Rohmi.

Lebih jauh Ummi Rohmi memaparkan, dalam masa pandemi covid-19 menjadi masa-masa yang berat bagi Dinas Kesehatan.

Namun dengan perencanaan program yang matang, sinergi yg baik, serta evaluasi yang tepat Dinas Kesehatan pasti mampu mengemban segala tugas dan menyelesaikan program-programnya dengan baik.

Kepala Dinas Kesehatan dr. Nurhandini Eka Dewi dalam persentasinya memaparkan beberapa hambatan yang dihadapi posyandu saat pandemi covid-19.

Di antaranya, Posyandu tidak terlaksana di bulan April-Mei 2020 di semua Kab/Kota diakrenakan pembatasan sosial selama masa covid-19. Update data triwulan II belum dapat dilaksanakan karena hampir semua petugas Puskesmas melaksanakan Tracing contak pasien Covid-19.

Serta, beberapa Kegiatan tidak terlaksana (Reward kader, pengadaan Dacin, Evaluasi kegiatan, dan media KIE Posyandu.

Namun beberapa strategi dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut diantaranya, beberapa Kabupaten melaksanakan kegiatan Posyandu dengan kunjungan rumah oleh kader.

Dikes Provinsi menyurati Dinas Kesehatan Kab/Kota untuk mulai melaksanakan Posyandu dengan Protokol Copid-19 di awal juni 2020. Menyusun SOP Posyandu pada masa Pandemi Covid-19.

Mengalihkan beberapa kegiatan Promkes dari dana BOK menjadi kegiatan Posyandu. Menyebarkan berbagai tutorial terkait pelaksanaan Posyandu di masa Pandemi Covid-19. Serta, menjalin komunikasi dan koordinasi dengan Kab/kota. ,

@diskominfotikntb