UPDATE Covid-19: Hari Senin, 27 Juli 2020, Bertambah 20 Pasien Positif Covid-19, Pasien Sembuh 6 (enam) Orang, Kasus Kematian 1 (satu) Orang

Kasus-kasus kematian yang disebabkan oleh Covid-19 tidak hanya disertai oleh penyakit komorbid, sehingga kita semua perlu senantiasa waspada dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19

MATARAM.lombokjournal.com — Laboratorium PCR RSUD Provinsi NTB, Laboratorium PCR RS Unram, Laboratorium PCR Genetik Sumbawa Technopark, Laboratorium PCR Prodia, Laboratorium PCR RSDU R. Soedjono Selong, Laboratorium TCM RSUD Provinsi NTB, dan Laboratorium TCM RSUD Kota Mataram mengkonfirmasi, ada tambahan 20 pasien positif Covid-19, dan pasien yang dinyatakan sembuh 6 (enam) orang.

Lalu Gita Aryadi

Siaran pers hari Senin (25/07/20), Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. HL Gita Ariadi, M.Si menjelaskan, telah diperiksa sebanyak 179 sampel dengan hasil 151 sampel negatif, 8 (delapan) sampel positif ulangan, dan 20 sampel kasus baru positif Covid-19, sembuh 6 (enam) orang, kasus kematian baru 1 (satu) orang..

Dijelaskan, adanya tambahan 20 kasus baru terkonfirmasi positif, 6 (enam) tambahan sembuh baru, dan 1 (satu) kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari Senin  (27/07/20) sebanyak 1.946 orang, dengan perincian 1.224 orang sudah sembuh, 110 meninggal dunia, serta 612 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

TAMBAHAN 20 PASIEN POSITIF COVID-19, PASIEN SEMBUH 6 (ENAM) ORANG, KEMATIAN BARU 1 (SATU) ORANG

Kasus baru positif tersebut, yaitu :

  1. Pasien nomor 1927, an. Tn. M, laki-laki, usia 35 tahun, penduduk Desa Telaga Waru, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Pasien meninggal dan dilakukan tatalaksana Covid-19;
  2. Pasien nomor 1928, an. Ny. SK, perempuan, usia 35 tahun, penduduk Kelurahan Karang Taliwang, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  3. Pasien nomor 1929, an. Tn. IDA, laki-laki, usia 23 tahun, penduduk Desa Sedau, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  4. Pasien nomor 1930, an. Tn. LH, laki-laki, usia 53 tahun, penduduk Kelurahan Punia, Kecamatan Mataram, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  5. Pasien nomor 1931, an. Tn. SHS, laki-laki, usia 36 tahun, penduduk Desa Jatisela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  6. Pasien nomor 1932, an. Ny. DUS, perempuan, usia 22 tahun, penduduk Kelurahan Mataram Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  7. Pasien nomor 1933, an. Tn. F, laki-laki, usia 34 tahun, penduduk Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Unram dengan kondisi baik;
  8. Pasien nomor 1934, an. Ny. DVH, perempuan, usia 20 tahun, penduduk Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Tanjung dengan kondisi baik;
  9. Pasien nomor 1935, an. Ny. S, perempuan, usia 48 tahun, penduduk Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Tanjung dengan kondisi baik;
  10. Pasien nomor 1936, an. Ny. M, perempuan, usia 61 tahun, penduduk Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Tanjung dengan kondisi baik;
  11. Pasien nomor 1937, an. Ny. ERA, perempuan, usia 65 tahun, penduduk Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Bhayangkara Mataram dengan kondisi baik;
  12. Pasien nomor 1938, an. Tn. SP, laki-laki, usia 51 tahun, penduduk Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Bhayangkara Mataram dengan kondisi baik;
  13. Pasien nomor 1939, an. Ny. EDS, perempuan, usia 44 tahun, penduduk Kelurahan Pagutan, Kecamatan Mataram, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  14. Pasien nomor 1940, an. Tn. HH, laki-laki, usia 27 tahun, penduduk Kelurahan Gomong, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  15. Pasien nomor 1941, an. Tn. LW, laki-laki, usia 58 tahun, penduduk Kelurahan Kekalik Jaya , Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Bhayangkara Mataram dengan kondisi baik;
  16. Pasien nomor 1942, an. Ny. M, perempuan, usia 32 tahun, penduduk Desa Sukarema, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  17. Pasien nomor 1943, an. An. SRA, perempuan, usia 4 tahun, penduduk Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  18. Pasien nomor 1944, an. Ny. YN, perempuan, usia 33 tahun, penduduk Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  19. Pasien nomor 1945, an. Ny. R, perempuan, usia 36 tahun, penduduk Desa Karang Bayan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Provinsi NTB dengan kondisi baik;
  20. Pasien nomor 1946, an. Tn. INK, laki-laki, usia 52 tahun, penduduk Kelurahan Pagutan Barat, Kecamatan Mataram, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik.

Dipermaklumkan, berdasarkan hasil klarifikasi terhadap pasien Covid-19 nomor 1908 yang semula diumumkan penduduk Kelurahan Gomong, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, bahwa pasien sesungguhnya penduduk di Desa Pelambik, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah.

Hari Senin terdapat penambahan 6 (enam) orang yang sembuh dari Covid-19 setelah pemeriksaan laboratorium swab dua kali dan keduanya negatif, yaitu :

  1. Pasien nomor 1385, an. Ny. YKM, perempuan, usia 32 tahun, penduduk Kelurahan Kebun Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  2. Pasien nomor 1594, an. Ny. LNP, perempuan, usia 46 tahun, penduduk Desa Karang Bongkot, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  3. Pasien nomor 1602, an. Tn. JA, laki-laki, usia 30 tahun, penduduk Desa Gapura, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah;
  4. Pasien nomor 1641, an. Ny. F, perempuan, usia 43 tahun, penduduk Desa Kalimango, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa;
  5. Pasien nomor 1642, an. Tn. IM, laki-laki, usia 50 tahun, penduduk Desa Dalam, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa;
  6. Pasien nomor 1643, an. Ny. S, perempuan, usia 39 tahun, penduduk Desa Luar, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa.

Hari Senin ini juga terdapat penambahan 1 (satu) kasus kematian baru, yaitu pasien nomor 1927, an.Tn. M, laki-laki, usia 35 tahun, penduduk Desa Telaga Waru, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Pasien memiliki penyakit komorbid.

Sekda NTB sebagai Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas NTB mengingatkan masyarakat bahwa Covid-19 adalah penyakit yang berbahaya.

Menurutnya, kasus-kasus kematian yang disebabkan oleh Covid-19 tidak hanya disertai oleh penyakit komorbid, sehingga kita semua perlu senantiasa waspada dengan tetap melaksanakan protocol kesehatan dan pencegahan Covid-19.

“Dihimbau kepada seluruh masyarakat agar senantiasa tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan dalam seluruh aktifitas sosial dan ekonomi, terutama di tempat-tempat  keramaian seperti mall, pasar tradisional dan pusat-pusat perbelanjaan serta diberbagai tempat diselenggarakannya kegiatan-kegiatan social,“ kata Lalu Gita Aryadi.

Ditegaskan, hal terpenting bagi kita untuk dapat beradaptasi dengan tatanan baru kehidupan saat ini adalah dengan taat dan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19. Agar kita semua dapat tetap beraktifitas, produktif, sehat dan aman di tengah pandemi ini.

“Protokol kesehatan dan pencegahan ini harus terus kita terapkan secara disiplin dan ketat sampai vaksin atau obat Covid-19 ditemukan, agar kasus positif baru dan korban meninggal dapat benar-benar kita tekan dan hentikan,” katanya.

AYA/Rr

 Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id

 Layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemi Covid-19 NTB di nomor 081802118119.




Klaim Covid-19, BPJS Kesehatan Cabang Mataram Terima Klaim 44,9 miliar Dari 12 Rumah Sakit

BPJS Kesehatan Cabang Mataram mendapat tugas khusus dari Menko PMK hanya melakukan verifikasi

MATARAM.lombokjournal.com —  Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Rujukan BPJS Kesehatan Cabang Mataram, dr. Putu Gede Wawan Swandayana, Senin, (27/07/20) di Mataram mengatakan, Menko PMK memberikan tugas khusus kepada BPJS Kesehatan untuk melakukan verifikasi klaim Covid-19.

Tugas khusus tertuang dalam Surat Keputusan nomor 5.22/Menko/PMK/3/2020 tentang penugasan khusus verifikasi klaim Covid 19.

Dan pelaksanaan tugas khusus tersebut dilakukan pada pihak rumah sakit yang selama ini sudah menjadi mitra BPJS Kesehatan.

“Jadi kami dari BPJS Kesehatan diberikan tugas verifikasi klaim Covid-19. Ingat, hanya sebatas veifikasi saja,” ujar Wawan Swandayana kepada sejumlah wartawan.

Dijelaskan, saat ini angka kasus Covid-19 di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)  terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan update data Gugus Tugas Covid 19 Provinsi NTB tanggal 26 Juli 2020 jumlah kasus positif Covid-19 di NTB sebanyak 1.926 kasus.

Dari kasus sebanyak itu, 599 di antaranya Positif Dalam Pengawasan (PDP), 1.218 orang dinyatakan sembuh,  109 orang meninggal dunia,  451 Orang Dalam Pengawasan (ODP)  dan 246 orang Dalam Pemantauan.

Dari jumlah pasien Covid-19 tersebut, tidak sedikit yang terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Hasil verifikasi klaim Covid-19 ini, nantinya akan dikirim ke Kementerian Kesehatan untuk selanjutnya melakukan pembayaran klaim.

Menurut Wawan Swandayana, jumlah rumah sakit di bawah wilayah kerja BPJS Kesehatan Cabang Mataram yang mengajukan klaim sebanyak 12 rumah sakit.

Klaim yang diajukan ke BPJS Kesehatan Mataram sebesar 44,9 miliar rupiah dengan total kasus sebanyak 682 kasus.

“Dari sekian Rumah Sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan Cabang Mataram baru 12 yang mengajukan klaim Covid 19,” terangnya.

Wawan Swandayana menambahkan dari 12 rumah sakit yang mengajukan klaim Covid-19 tersebut nilainya berbeda-beda.

“Proporsi terbesar untuk jumlah klaimnya sementara berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah  NTB, yakni mencapai 19 hingga 20 miliar dari 44,9 miliar rupiah,” jelasnya.

AYA




Media Sosial Berperan Penting Promosikan Pariwisata Saat Pandemi

Pelibatan masyarakat lokal juga menjadi salah satu tindakan penting dalam promosi

LOTENG.lombokjournal.com — Membangkitkan sektor pariwisata di era kenormalan baru (new normal), ada sejumlah cara yang bisa dilakukan.

Dari segi penyebarluasan informasi atau promosi, peran media sosial dinilai  strategis di masa sekarang.

Kepala Biro Humas dan Protokol Provinsi NTB, Najamuddin Amy, S.Sos, MM menyampaikan itu dalam Focus Group Discussion (FGD) Program Studi Usaha Perjalanan Wisata Poltekpar Lombok, Senin (27/07/20).

Acara tersebut mengusung tema “Penanganan Tur Wisatawan dalam Era Adaptasi Kebiasaan Baru di NTB,”.

Najamuddin mengatakan, pentingnya promosi di media sosial karena dalam situasi pandemi Covid-19 tidak memungkinkan pemerintah maupun pelaku pariwisata melakukan kontak secara aktif dengan masyarakat.

Hal ini untuk menghindari penyebaran pandemi yang sedang melanda dunia ini.

“Promosi kita ini yang sedikit harus kita ubah, penguatan media-media sosial sangat penting sekali,” ujarnya.

Ia mengatakan, penguatan media sosial bukan hanya untuk mempromosikan pariwisata, namun juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mereka secara aktif terlibat dalam penyebaran berita baik.

“Oleh karena itu, kita berikan edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan media sosial. Banyak dari masyarakat kita yang belum mengenal kepariwisataan, menyebar ketakutan di media sosial yang memberikan dampak negatif bagi pariwisata,” tuturnya.

Selain penguatan media sosial, pelibatan masyarakat lokal juga menjadi salah satu tindakan penting dalam promosi, karena masyarakat lokal sangat paham dengan daerahnya masing-masing.

“Masyarakat lokal ingin dilibatkan, ingin dianggap, sehingga saat diikutsertakan dalam kegiatan pariwisata di daerahnya masing-masing, mereka sangat bersemangat,” terangnya.

Di akhir penyampaiannya, ia mengapresiasi kegiatan FGD yang diadakan oleh Poltekpar Lombok. Ia berharap ada banyak solusi yang dihadirkan oleh Poltekpar untuk pariwisata NTB ke depan.

Solusi menjalankan pariwisata

Direktur Poltekpar Lombok, Dr. Hamsu Hanafi dalam sambutannya menyampaikan, FGD ini bertujuan untuk mencari solusi bagaimana menjalankan pariwisata di masa pandemi Covid-19 ini.

Hal ini sebagai kontribusi Program Studi Usaha Perjalanan Wisata Poltekpar Lombok dalam menyusun protokol kebersihan, kesehatan dan keselamatan Penanganan Tur Wisatawan dalam Era Adaptasi Kebiasaan Baru di Provinsi NTB sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat.

Protokol yang disusun ini dapat diterapkan dalam proses pembelajaran mahasiswa dan kegiatan kepariwisataan di Provinsi NTB khususnya.

Hasil dari FGD ini kata Hamsu  juga akan menjadi masukan bagi pemerintah dalam menyempurnakan buku panduan dan menjadi bagian dari peraturan gubernur terkait protokol kesehatan Covid-19.

FGD ini berlangsung dua hari yakni diskusi satu hari membahas tentang solusi untuk tur perjalanan wisatawan dan satu hari untuk melakukan sosialisasi di tengah masyarakat.

Perlu diketahui, Poltekpar Lombok ini telah berdiri selama empat tahun dan saat ini memiliki empat program studi yakni Usaha Perjalanan Wisata, Divisi Kamar, Tata Hidang dan Seni Kuliner. Dalam waktu dekat, Hamsu Hanafi menyampaikan Poltekpar akan mengadakan wisuda angkatan pertama.

AYA/HmsNTB




Bang Zul Dorong Lahirnya Inovasi Baru untuk Tingkatkan Daya Saing Daerah

Kehadiran inovasi dibutuhkan, sehingga daerah mampu memiliki daya saing di berbagai sektor

MATARAM.lombokjournal.com —  Munculnya inovasi demi inovasi merupakan salah satu syarat dari terwujudnya bangsa yang maju. Ide dan terobosan baru dibutuhkan dalam menghadapi tantangan di tengah masyarakat.

Namun, inovasi merupakan suatu proses dan perjalanan panjang yang tentunya butuh pengorbanan. Inovasi juga suatu proses pembelajaran yang dilakukan secara berkelanjutan.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengungkapkan itu saat menjadi pembicara pada Webinar Nasional Manajemen Inovasi (SEMAI) Pascasarjana Universitas Teknologi Sumbawa, Senin (27/07/20).

Mengangkat tema “Peran Inovasi Berbasis Riset dalam Pembangunan Daerah Yang Inklusif dan Berkelanjutan”, Bang Zul memberikan arahan dan juga nasihatnya dalam webinar kali ini.

“Inovasi ini kata yang gampang diucapkan, gampang disampaikan, tapi sebenarnya tidak banyak yang memahami dengan benar,” ucap Bang Zul.

Kehadiran inovasi dibutuhkan, sehingga daerah mampu memiliki daya saing di berbagai sektor. Menurut Bang Zul, ada tiga hal yang dapat mewakili daya saing yakni, Cheaper (lebih murah), Faster (lebih cepat) dan Better (lebih baik).

“Kita harus punya produk yang lebih baik (better), yang lebih murah (cheaper) dan pelayanannya lebih cepat (faster),” sambungnya.

Keterlibatan teknologi kemudian menjadi hal yang disoroti Bang Zul. Inovasi dinilai begitu identik dengan hadirnya teknologi.

Teknologi ini tentunya akan memudahkan berbagai proses bisnis dan produksi, terutama di era moderen seperti sekarang.

“Oleh karena itu, salah satu syarat untuk mencicipi kesejahteraan dan sukses dalam ekonomi yang terbuka adalah menghadirkan teknologi sebagai aktor utama dalam pembangunan,” jelasnya.

Inovasi di tiap sektor juga berbeda-beda. Untuk itu, Ia menekankan bahwa manajemen inovasi di masing-masing sektor haruslah dikelola dan direncanakan dengan sebaik-baiknya.

Terakhir, Bang Zul menuturkan bahwa inovasi memang selalu diawali dengan ketidakpuasan, kegaduhan bahkan kegagalan.

Namun, dari kesalahan-kesalahan tersebut ada proses pembelajaran di dalamnya atau yang biasa disebut “learning by doing“.

“Saya sering mengatakan, bahwa perjalanan panjang selalu dimulai dengan langkah pertama. Inovasi itu adalah sebuah perjalanan panjang dan oleh karena itu, untuk melakukan inovasi dibutuhkan suatu keberanian ekstra untuk berani melangkahkan kaki atau langkah yang pertama itu,” kata Bang Zul.

Paa kesempatan sama, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI ) Wilayah VIII, Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa yang juga ditunjuk sebagai pembicara memberikan motivasi, khususnya kepada Perguruan Tinggi di NTB.

Menurutya, inovasi di lingkungan kerja Civitas Akademika berbasis manajemen harus ditumbuhkan mulai dari sekarang, sehingga inovasi demi inovasi dapat terus dihadirkan.

“Kita harus melakukan inovasi tiada henti, sekecil apa pun, sesederhana apa pun, inovasi itu yang penting ada nilai gunanya,” tuturnya.

Anak-anak muda pun diminta agar terus inovatif, progresif dan tentunya produktif. Terutama di zaman sekarang, anak muda diwajibkan mampu mengikuti arus perkembangan zaman.

“Jadi kalau anak muda tidak inovatif, kreatif dan produktif nanti digilas oleh zaman,” tambah Dasi Astawa.

Ia kemudian mengajak setiap Perguruan tinggi agar dapat menjadi inovator, inisiator, fasilitator, mediator, komunikator, motivator dan juga promotor. Perguruan tinggi juga diharapkan dapat menjadi kiblat dari masyarakat dalam berinovasi.

Webinar iakan berlangsung selama dua hari, yakni tanggal 27 dan 28 Juli 2020. Berbagai tokoh dan dosen turut pula dihadirkan sebagai pembicara.

AYA/HmsNTB




Pelaksanaan Sholat Iedul Adha di Tengah Covid-19

Pihak pengelola Islamic Center memang tidak membatasi, namun dihimbau masyarakat tidak semuanya sholat di masjid Hubbul Wathan, maksimal 30 persen dari kapasitas yang diperbolehkan

MATARAM.lombokjournal.com – Masjid Hubbul Wathan Islamic Center tetap akan dibuka untuk pelaksanaan Sholat Idul Adha, pada Jumat mendatang, dengan tetap menerapkan protokol Covid-19.

Hal itu diungkapkan Kepala UPTD pengelola destinasi wisata unggulan Islamic Center, Muhammad Ilham,  memaparkan akan tetap membuka, Senin (27/07/20).

“Shalat ied kita tetap melaksanakannya sesuai protokol Kesehatan, bawa sajadah sendiri, peralatan salat sendiri, jaga jarak, cuci tangan dan sebagainya pinynya sama seperti sholat jumat, ” ujarnya.

Ilham menjelaskan, meskipun protokol Covid-19 tetap dilaksanakan, namun pada saat melaksanakan sholat Ied nanti ada pembagian tempat untuk jamaah pria dan wanita.

“Kita sudah buat lay out-nya salat Ied itu seperti ini, di Masjid lantai atas satu dan dua untuk jamaah Pria, sedangkan untuk jamaah Wanita ada di atas bagian kanan,” terangnya.

Dalam penjagaan  protokol Covid pihaknya menurunkan petugas dari Dinas Kesehatan.

“Kita juga akan minta bantuan Dinas Kesehatan juga nanti untuk termogannya termasuk di pintu masuk nanti kita pasang,” katanya.

Adapun suhu yang saat dicek termogen yang boleh masuk sekitar 37.5.

“Kalau di atas itu kita minta nunggu sebentar baru di cek lagi 5 menit kemudian, kalau masih ya enggak boleh lah, dipermaklumankan aja kalau lebih dari angka itu,” ujarnya.

Ilham sendiri tidak membatasi jumlah jamaah yang ingin sholat di Islmic Center.

Pihak pengelola Islamic Center memang tidak membatasi, namun dihimbau masyarakat tidak semuanya sholat di masjid Hubbul Wathan. Karena maksimal 30 persen dari kapasitas yang diperbolehkan.

Seperti diketahui kapasitas jamaah yang ditampung di masjud Hubbul Wathan Islamic Center mencapai 4 ribu orang.

AYA

 




Gubernur Zul Tegaskan, Teknologi Merupakan Aktor Utama Dalam Inovasi

Jalan untuk mewujudkan sebuah inovasi itu panjang dan berliku

MATARAM.lombokjournal.com — Inovasi menjadi kunci pembangunan daerah dan bangsa yang inklusif dan berkelanjutan.

Untuk menghadirkan inovasi diperlukan kemajuan teknologi di dalamnya. Teknologi menjadi aktor utama dalam proses inovasi pembangunan.

Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc. menyampaikan itu saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional Manajemen Inovasi (SEMAI) 2020 di Ruang Kerja Gubernur, Senin (27/07/20).

Seminar itu diselenggarakan secara daring oleh  Prodi Magister Manajemen Inovasi Universitas Teknologi Sumbawa, bertajuk “Peran Inovasi Berbasis Riset Dalam Pembangunan Daerah Yang Inklusif Dan Berkelanjutan”.

“Tidak mungkin ada inovasi tanpa keterlibatan teknologi. Teknologi ini aktor utama dalam inovasi,” jelas Bang Zul.

Gubernur kelahiran Sumbawa Besar tersebut menjelaskan, bangsa Indonesia menerapkan sistem ekonomi terbuka.

Dalam artian, perekonomian yang melibatkan diri dalam perdagangan internasional (ekspor dan impor) barang dan jasa serta modal dengan negara-negara lain.

Karena sitemnya terbuka ini, daerah dan bangsa harus memiliki daya saing dan inovasi yang tinggi untuk mewujudkan pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

Bang Zul melanjutkan, diperlukan tiga kata kunci dalam menghasilkan sebuah inovasi. Kata kunci tersebut adalah menciptakan produk dengan kualitas yang lebih baik, harga lebih murah, dan memberikan layanan yang lebih cepat.

Be better, be cheaper, be faster!” seru Doktor Ekonomi Industri tersebut.

Lebih jauh Bang Zul mengatakan, Universitas atau Perguruan Tinggi memiliki peran yang besar sebagai wadah riset dalam mengembangkan teknologi dan inovasi.

Universitas harus memberikan kontribusinya sebagai lembaga dalam penyelesaian masalah mendasar pembangunan Nasional. Karena di dalam Universitas memiliki berbagai bidang riset, maka inovasi yang bisa disumbangkan juga akan beragam sehingga dapat memperkaya warna pembangunan.

Di akhir materi, alumni Universitas Strathclyde Skotlandia tersebut menyampaikan, jalan untuk mewujudkan sebuah inovasi itu panjang dan berliku.

Namun, sepanjang apapun jalan tersebut dibutuhkan langkah pertama untuk memulainya. Dan untuk memulai langkah pertama dibutuhkan pengorbanan yang besar.

“Keberanian ekstra dibutuhkan untuk menjalankan langkah pertama. Inovasi hadir dengan kegaduhan messy at the beginning, tapi jika sudah dilalui pasti akan sukses,” tutup Gubernur.

Selain Gubernur NTB, webinar tersebut juga menghadirkan narasumber lainnya yaitu, Prof.Dr.I Nengah Dasi Astawa selaku Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VIII, dan Chairul Hudaya, Ph.D selaku Rektor Universitas Teknologi Sumbawa.

Webinar yang dibuka untuk umum ini turut diikuti oleh mahasiswa pasca sarjana ITS.

Novita, diskominfotikntb




UPDATE Covid-19: Hari Minggu, 26 Juli 2020, Bertambah 23 Pasien Positif Covid-19, Pasien Sembuh 21 Orang, Kasus kematian 3 (tiga) Orang

Hingga hari ini kondisi rumah sakit rujukan dan rumah sakit second line untuk penanganan Covid-19 sudah penuh. Bahkan Ruang Intensif di Rumah Sakit Provinsi NTB juga telah penuh

 MATARAM.lombokjournal.com – Laboratorium PCR RSUD Provinsi NTB, Laboratorium PCR RS Unram, Laboratorium PCR Genetik Sumbawa Technopark, Laboratorium PCR RSUD Kota Mataram, Laboratorium PCR Prodia, Laboratorium PCR RSDU R. Soedjono Selong, Laboratorium TCM RSUD Provinsi NTB, Laboratorium TCM RSUD Kota Mataram, dan Laboratorium TCM RSUD H.L. Manambai Abdulkadir mengkonfirmasi, ada tambahan 23 pasien positif Covid-19, dan pasien yang dinyatakan sembuh 21 orang.

Lalu Gita Aryadi

Siaran pers hari Sabtu (25/07/20), Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. HL Gita Ariadi, M.Si menjelaskan, telah diperiksa sebanyak 543 sampel dengan hasil 500 sampel negatif, 20 sampel positif ulangan, dan 23 sampel kasus baru positif Covid-19, pasien sembuh 21 orang, kasus kematian 3 (tiga) orang.

Dijeaskan, adanya tambahan 23 kasus baru terkonfirmasi positif, 21 tambahan sembuh baru, dan 3 (tiga) kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari Minggu ini (26/07/20) sebanyak 1.926 orang, dengan perincian 1.218 orang sudah sembuh, 109 meninggal dunia, serta 599 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

Untuk mencegah penularan dan deteksi dini penularan Covid-19, petugas kesehatan tetap melakukan Contact Tracing terhadap semua orang yang pernah kontak dengan yang terkonfirmasi positif.

Selain itu, diharapkan petugas kesehatan di kabupaten/kota melakukan identifikasi epicentrum penularan setempat Covid-19 untuk dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran virus Covid-19.

TAMBAHAN 23 PASIEN POSITIF COVID-19, PASIEN SEMBUH 21 ORANG, KEMATIAN BARU 3 (TIGA) ORANG

Kasus baru positif tersebut, yaitu :

  1. Pasien nomor 1904, an. Ny. AR, perempuan, usia 41 tahun, penduduk Desa Meninting, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Harapan Keluarga dengan kondisi baik;
  2. Pasien nomor 1905, an. Tn. LM, laki-laki, usia 82 tahun, penduduk Kelurahan Selagalas, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Provinsi NTB dengan kondisi baik;
  3. Pasien nomor 1906, an. Ny. RR, perempuan, usia 71 tahun, penduduk Kelurahan Monjok Timur, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1821. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  4. Pasien nomor 1907, an. Tn. LP, laki-laki, usia 54 tahun, penduduk Desa Gunung Sari, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  5. Pasien nomor 1908, an. Ny. BMN, perempuan, usia 26 tahun, penduduk Kelurahan Gomong, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  6. Pasien nomor 1909, an. Ny. WR, perempuan, usia 24 tahun, penduduk Desa Kawo, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  7. Pasien nomor 1910, an. Tn. LGBPP, laki-laki, usia 28 tahun, penduduk Desa Panji Sari, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  8. Pasien nomor 1911, an. Tn. IPM, laki-laki, usia 35 tahun, penduduk Desa Terong Tawah, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Bhayangkara Mataram dengan kondisi baik;
  9. Pasien nomor 1912, an. Ny. PL, perempuan, usia 54 tahun, penduduk Kelurahan DayanPeken, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  10. Pasien nomor 1913, an. Ny. H, perempuan, usia 53 tahun, penduduk Desa Telagawaru, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dengan kondisi baik;
  1. Pasien nomor 1914, an. Tn. FBH, laki-laki, usia 41 tahun, penduduk Kelurahan Karang Baru, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  2. Pasien nomor 1915, an. Tn. H, laki-laki, usia 52 tahun, penduduk Kelurahan Monjok Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dengan kondisi baik;
  3. Pasien nomor 1916, an. Ny. JS, perempuan, usia 77 tahun, penduduk Kelurahan Mataram Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Pasien meninggal dan dilakukan tatalaksana Covid-19;
  4. Pasien nomor 1917, an. Tn. FR, laki-laki, usia 51 tahun, penduduk Desa Sandik, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat. Pasien pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1859. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Provinsi NTB dengan kondisi baik;
  5. Pasien nomor 1918, an. Ny. SR, perempuan, usia 39 tahun, penduduk Desa Sesela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  6. Pasien nomor 1919, an. Tn. AZH, laki-laki, usia 32 tahun, penduduk Desa Merembu, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  7. Pasien nomor 1920, an. Ny. EN, perempuan, usia 27 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan, Kecamatan Mataram, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1868. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSI Siti Hajar Mataram dengan kondisi baik;
  8. Pasien nomor 1921, an. Ny. S, perempuan, usia 26 tahun, penduduk Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  9. Pasien nomor 1922, an. Ny. BK, perempuan, usia 41 tahun, penduduk Desa Masbagik Utara, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  10. Pasien nomor 1923, an. Tn. MKA, laki-laki, usia 29 tahun, penduduk Desa Tababan, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  11. Pasien nomor 1924, an. Ny. FK, perempuan, usia 24 tahun, penduduk Desa Songak, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  12. Pasien nomor 1925, an. Tn. LMLR, laki-laki, usia 19 tahun, penduduk Desa Gelora, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  13. Pasien nomor 1926, an. Tn. S, laki-laki, usia 68 tahun, penduduk Desa Sandubaya, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Pasien meninggal dan dilakukan tatalaksana Covid-19.

Hari Minggu terdapat penambahan 21 orang yang sembuh dari Covid-19 setelah pemeriksaan laboratorium swab dua kali dan keduanya negatif, yaitu :

  1. Pasien nomor 1078, an. Tn. RMF, laki-laki, usia 29 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan Timur, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  2. Pasien nomor 1271, an. Ny. H, perempuan, usia 45 tahun, penduduk Desa Telaga Waru, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur;
  3. Pasien nomor 1298, an. Ny. SM, perempuan, usia 56 tahun, penduduk Desa Aikmel, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur;
  4. Pasien nomor 1335, an. Tn. SH, laki-laki, usia 27 tahun, penduduk Kelurahan Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  5. Pasien nomor 1356, an. Tn. SAK, laki-laki, usia 41 tahun, penduduk Kelurahan Pejarakan Karya, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  6. Pasien nomor 1389, an. Tn. M, laki-laki, usia 39 tahun, penduduk Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur;
  7. Pasien nomor 1512, an. Ny. ERI, perempuan, usia 44 tahun, penduduk Kelurahan Ampenan Tengah, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  8. Pasien nomor 1524, an. Tn. M, laki-laki, usia 53 tahun, penduduk Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah;
  9. Pasien nomor 1622, an. Tn. CW, laki-laki, usia 55 tahun, penduduk Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  10. Pasien nomor 1659, an. Tn. IBM, laki-laki, usia 32 tahun, penduduk Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat;
  11. Pasien nomor 1672, an. Ny. HS, perempuan, usia 59 tahun, penduduk Desa Merembu, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  12. Pasien nomor 1676, an. Tn. MJN, laki-laki, usia 26 tahun, penduduk Kelurahan Pagutan, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  13. Pasien nomor 1726, an. Tn. IGNGYP, laki-laki, usia 63 tahun, penduduk Kelurahan Punia, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  14. Pasien nomor 1735, an. Ny. TS, perempuan, usia 50 tahun, penduduk Kelurahan Monjok, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  15. Pasien nomor 1784, an. Ny. W, perempuan, usia 56 tahun, penduduk Kelurahan Ampenan Selatan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  16. Pasien nomor 1835, an. Tn. A, laki-laki, usia 37 tahun, penduduk berdomisili di Kelurahan Cakranegara Selatan, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram;
  17. Pasien nomor 1847, an. Ny. PAP, perempuan, usia 21 tahun, penduduk Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  18. Pasien nomor 1848, an. Ny. Z, perempuan, usia 55 tahun, penduduk Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  19. Pasien nomor 1849, an. Tn. LW, laki-laki, usia 62 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  20. Pasien nomor 1876, an. Ny. NNRS, perempuan, usia 50 tahun, penduduk Kelurahan Cakranegara Timur, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram;
  21. Pasien nomor 1877, an. Ny. NMW, perempuan, usia 68 tahun, penduduk Kelurahan Cakranegara Selatan, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram.

Hari Minggu ini juga terdapat penambahan 3 (tiga) kasus kematian baru, yaitu :

  1. Pasien nomor 1768, an. Tn. S, laki-laki, usia 52 tahun, penduduk Desa Masbagik Selatan, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. Pasien memiliki penyakit komorbid;
  2. Pasien nomor 1916, an. Ny. JS, perempuan, usia 77 tahun, penduduk Kelurahan Mataram Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Pasien memiliki penyakit komorbid;
  3. Pasien nomor 1926, an. Tn. S, laki-laki, usia 68 tahun, penduduk Desa Sandubaya, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Pasien memiliki penyakit komorbid.

Sekda NTB sebagai Ketua Pelaksana Gugus Tugas NTB, Lalu Gita Aryadi mengingatkan, Covid-19 adalah penyakit yang berbahaya.

Menurutnya, Kasus-kasus kematian yang disebabkan oleh Covid-19 tidak hanya disertai oleh penyakit komorbid, sehingga kita semua perlu senantiasa waspada dengan tetap melaksanakan protocol kesehatan dan pencegahan Covid-19.

“Hingga hari ini kondisi rumah sakit rujukan dan rumah sakit second line untuk penanganan Covid-19 sudah penuh. Bahkan Ruang Intensif di Rumah Sakit Provinsi NTB juga telah penuh,” kata Lalu Gita.

Masyarakat harus agar senantiasa tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan dalam seluruh aktifitas sosial dan ekonomi, terutama di tempat-tempat keramaian seperti mall, pasar tradisional dan pusat-pusat perbelanjaan serta diberbagai tempat iselenggarakannya kegiatan-kegiatan sosial.

Lalu Gita menekankan, semua memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain disekitar kita, sehingga hal terpenting bagi kita untuk dapat beradaptasi dengan tatanan baru kehidupan saat ini adalah dengan taat dan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19.

“Agar kita semua dapat tetap beraktifitas, produktif, sehat dan aman di tengah pandemi ini,” katanya.

AYA/Rr

 Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id

 Layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemi Covid-19 NTB di nomor 081802118119.

 




CHATASTROPE : Menengok Ulang Penyebab Ketertekanan Komunal yang Dihadapi Manusia

Lakon Chatastrope merupakan drama pendek Samuel Becket selain Come and Go dan beberapa naskah lain. Oleh para kritisi teater, naskah-naskah Becket masuk pada genre teater Absurd

MATARAM.lombokjournal.com —

TETAR LHO INDONESIA mementaskan pertunjukan ‘Chatastrope’ karya pengarang Irlandia, Samuel Beckett, dengan sutradaranya R. Eko Wahono, Jumat (24/07/20).

Pertunjukan yang dihadiri tidak banyak penonton karena aturan protokol kesehatan Covid-19 tersebut, menjadi pertunjukan ke-dua yang diselenggarakan Taman Budaya NTB pasca mewabahnya Covid-19.

Sebelumnya Taman Budaya NTB menghelat pertunjukan berjudul Sandiwara Merah Jambu dari kelompok Teater Kamar Indonesia, Minggu, (26/07/20).

Chatastrope merupakan naskah pendek Becket, bercerita tentang sebuah kelompok teater yang tengah melangsungkan latihan terakhir jelang pertunjukan.

Dimainkan oleh empat aktor: Sutradara (Achdiyat Kurniawan), Asisten Sutradara (Gilang Pratama) Aktor Utama (Ahmad Doom Rosyidi) dan Penata Lampu (Zulhadi), Chatastrope oleh Teater Lho Indonesia sebagaimana pengantar sutradaranya R. Eko Wahono, diniatkan sebagai refleksi dan representasi ketertekanan komunal masyarakat NTB dan dunia karena pandemi virus Covid-19 yang tengah mewabah.

Properti yang minim: hanya kursi, trap dan satu gantungan tempat costum, mampu membuat panggung hidup. Hal itu semakin terasa manakala tokoh sutradara dan asistennya terus berdialog tentang bagaimana seharusnya aktor berlaku di atas panggung.

Adegan demi adegan yang memperlihatkan bagaimana sosok sutradara begitu kuasa (diktator), terhadap asisten dan aktornya menjadi perlambang bagaimana kuasa-bisa berbentuk apa saja termasuk virus Covid-19, membuat seseorang mampu melakukan apa pun yang menjadi kehendaknya.

Dalam sesi diskusi seusai pertunjukan, banyak catatan menarik yang dilontarkan oleh beberapa penonton. Dalam hal ini diwakili beberapa teaterawan senior NTB seperti Majas Pribadi, Kongso Sukoco, Saipullah Sapturi, pun Wing Sentot Irawan.

Majas Pribadi dalam paparannya selain menyinggung sekilas tentang absurditas dari sisi teori, secara samar juga menyatakan bagaimana sutradara, R. Eko Wahono terkesan memaksakan para aktornya untuk memainkan naskah yang sebetulnya belum mampu mereka pahami.

Ada tahapan proses secara organis yang harus dilalui seorang aktor untuk sampai pada pemahaman tentang teater absurd. Proses organis tersebut dinilainya penting guna menghindari pemahaman instan yang saat ini gampang diperoleh seseorang melalui “artifisial intelegensia”.

Kesimpulan pemahaman aktor yang belum sampai pada tatanan organis itu, dijelaskan Majas dengan menyampaikan bagaimana ketegangan nuansa pertunjukan yang ingin diwakili tokoh aktor (diperankan Ahmad Dhoom Rosyidi) tidak diimbangi dua tokoh lain (sutradara dan asisten sutradara).

“Saya melihat, memang absurditas itu bukan persoalan yang gampang. Jadi dalam seni rupa, sebelum bicata surealis ngomong realis dulu. Kenyataan kita berada dalam kehidupan  asrtificial intelegensia, bahwa orang bisa belajar darimana saja, tapi tahapan-tahapan pematangan itu memang tidak bisa menjadi sangat instan. Saya nggak percaya. Saya melihat secara visual lumayan, ending bagus. Saya belum melihat bahwa Dhoom itu berdiri aja itu sudah bagus, dia gigil, dia nggak ngomong, tapi tidak diimbangi oleh dua pemeran yang lain,” paparnya.

Hal lain yang disampaikan Majas adalah tentang bagaimana semestinya pertunjukan tidak perlu terlalu dijelas-jelaskan. Penonton memiliki hak untuk menilai sendiri maksud pertunjukan sesuai kadar pemahamannya.

Hal itu penting dilakukan agar ketegangan yang dialami penonton murni ketegangan yang ditransfer oleh nuansa pertunjukan, bukan ketegangan personal penggarap pertunjukan. Transfer ketegangan nuansa pertunjukan kepada penonton akan sampai ketika pemerannya memiliki pemahaman yang cukup mengenai teater absurd.

“Bahwa pertunjukan ini tidak perlu dijelas-jelaskan. Bahwa dialog di pertunjukan ini tidak terlalu penting dalam pikiran-pikiran Samuel Becket. Tapi dijelaskan oleh bloking, moving itu ya, seluruh elemen yang ada di dalam. Saya melihat bahwa, memang absurditas itu bukan persoalan yang gampang,” terangnya.

Sementara Majas lebih menitik beratkan pada bagaimana pentingnya menilai kesiapan semua perangkat pertunjukan sebelum memilih naskah atau genre pertunjukan, Kongso Sukoco dalam memulai diskusinya berangkat dari pernyataan bahwa naskah-naskah Becket selalu berangkat dari realitas sosial.

Dari pernyataan tersebut, ia kemudian mengajukanpertanyaan apakah Sutradara R. Eko Wahono dalam menafsirkan naskah Chatasrtrope atau dalam bahasanya Kongso disebut malapetaka itu berangkat dari ketegangan psikologi manusia menghadapi pandemi Covid-19 yang dialami dunia saat ini?

Atau malapetaka itu muncul oleh sikap diktator para penguasa? Pertanyaan tersebut dilontarkan Kongso karena melihat malapetaka yang ditampilkan di dalam pertunjukan digambarkan dalam citra kediktatoran sutradara terhadap aktornya sementara dalam pengantar diskusi oleh sutradara R. Eko Wahono, diktatornya sutradara memiliki asosiasi dengan Covid-19.

“Becket selalu mengasosiasikan teaternya itu dengan situasi sosial. Saya tidak tahu apakah pementasan malapetaka ini yang seperti pengantar sutradara tadi juga berbicara situasi terakhir, situasi pandemi Covid-19? Yang kita itu jadi bodoh, kita ditakut-takuti, itu saya pikir bisa diasosiasikan dengan situasi sosial saat ini. Saya tidak tahu apakah Mas Eko Wahono tadi menafsirkan Chatasrope?” tanyanya.

Tidak begitu berbeda dengan Majas Pribadi dan Kongso Sukoco, pernyataan dua penanya lain dalam hal ini Saepullah Sapturi dan Wing Sentot Irawan juga menyatakan bagaimana absurditas belum sampai pada pemahaman para pemerannya di atas panggung. Sentot bahkan memberikan nasehat kepada R. Eko Wahono agar sebaiknya menjadi penulis ketimbang menyutradarai pertunjukan.

“Saya selalu bilang ke Eko, sebaiknya menulis saja,” katanya.

Sementara itu, R. Eko Wahono selaku sutradara menyampaikan jika pada dasarnya setuju dengan beberapa pernyataan yang dilontarkan. Akan tetapi, dalam praktik penyutradaraannya, Eko cenderung tidak tertarik dengan genre naskah. Sebab ia menganggap bahwa semua genre naskah pada dasarnya bisa disebut realis.

“Saya membaca naskah segelap Waiting for Godot saja, saya membaca dialog-dialognya sangat realis. Jadi sebenarnya yang absurd itu ya, cara berpikirnya saja,” ungkapnya.

Di luar itu, Eko pun mengapresiasi semua yang hadir pada pertunjukan tersebut. Hal yang menurut Eko membuatnya bahagia. Sebab momen pertunjukan bagi para pelaku teater tak ubahnya seperti momen lebaran di mana para pelaku teater bisa bertemu, berkumpul dan bertukar gagasan.

Untuk diketahui lakon Chatastrope merupakan drama pendek Samuel Becket selain Come and Go dan beberapa naskah lain. Oleh para kritisi teater, naskah-naskah Becket masuk pada genre teater Absurd.

Absurdisme sendiri adalah jenis teater yang dengan sengaja melanggar atau meninggalkan konvensi alur, penokohan, dan tema-tema yang umum dijumpai di dalam naskah teater beraliran realis.

Meskipun secara sekilas naskah absurd menunjukkan ketidaksingkronan antar adegan, jika dinikmati lebih dalam maka penonton yang awam pun bisa menemukan benang merah yang menghubungkan adegan per adegan di dalam naskah.

Asta




Gubernur Bangga, JPS Gemilang Tahap Tiga Tersalur 100 Persen

Penyaluran JPS Gemilang yang menggunakan produk-produk lokal mendapat apresiasi dan pujian dari pemerintah pusat

MATARAM.lombokjournal.com — Setelah penyaluran program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang tahap tiga diluncurkan pada tanggal 13 Juli 2020 lalu di Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), distribusi paket bantuan tersebut kini sudah tuntas 100 persen.

Sebanyak 120.000  KK di NTB yang namanya masuk sebagai penerima bantuan JPS tahap tiga ini sudah mendapatkan paket tersebut.

Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah mengatakan, dengan tuntasnya distribusi JPS Gemilang tahap tiga ini dirinya merasa terharu sekaligus bangga dengan sinergi semua pihak.

“Alhamdulillah JPS Gemilang tahap tiga sudah tersalurkan 100 persen di semua kabupaten/kota se NTB. Terima kasih pada teman-teman di lingkungan Pemda Provinsi NTB yang bekerja keras tak mengenal lelah dengan team work yang hebat! Benar-benar terharu dan membanggakan,” kata Gubernur, Sabtu (25/07/20), seiring dengan telah tuntasnya penyaluran JPS pada tanggal 25 Juli pukul 18.00 Wita.

Gubernur juga memberikan ucapan terimakasih kepada Forkopimda dan  semua pihak yang ikut serta mensukseskan distribusi paket bantuan untuk masyarakat yang terkena dampak Covid-19 ini.

“Terima kasih juga pada pemda kabupaten/kota yang tak kalah kerasnya membantu, bersinergi menjadi Tim NTB yg luar biasa! Terima kasih para tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala desa, lurah, kepala lingkungan, Tagana, GNE, teman-teman TNI, Polri, Kejaksaan, BPKP, BPK, dan teman-teman semua yang tak bisa kami sebutkan satu persatu,” ujar Bang Zul sapaan akrabnya.

Ia mengatakan, dengan bekerja dan bersinergi bersama, maka beban yang berat menjadi terasa ringan karena dipikul bersama.

Penyaluran JPS Gemilang yang menggunakan produk-produk lokal mendapat apresiasi dan pujian dari pemerintah pusat.

Presiden Puji Pemprov NTB

Gubernur NTB saat menghadiri  pertemuan dengan Presiden membahas serapan APBD tahun 2020 di Istana Bogor pertengahan Juli lalu mengatakan, Presiden memuji langkah Pemerintah Provinsi NTB karena berhasil memberdayakan dan menggunakan produk-produk IKM/UKM lokal untuk paket bantuan sosial pada Program JPS Gemilang.

“Khusus JPS Gemilang NTB yang menggunakan produk-produk lokal, disebutkan khusus oleh presiden untuk diikuti dan dicontoh oleh provinsi-provinsi lain.” ujar Gubernur.

Terlebih jumlah IKM/UMKM yang dilibatkan sejak penyaluran tahap satu hingga tahap tiga selalu bertambah.

Salah satu stakeholder yang berperan penting ikut membantu pendampingan program JPS Gemilang adalah TNI.

Kapenrem 162/WB Mayor Inf Dahlan, S.Sos mengatakan, Satgas Gugus Korem 162/WB sampai ke tingkat Babinsa Kodim semenjak bergulirnya  program JPS Gemilang maupun program bantuan lain dari pemerintah pusat, termasuk pemda, pemdes selalu melakukan pendampingan bersama stakeholder terkait.

Pendampingan mulai dari  pendataan hingga penyaluran untuk memperkecil timbulnya permasalahan di tengah masyarakat.

“Pendampingan diharapkan dapat membantu mengurangi timbulnya permasalahan yang semestinya tidak perlu terjadi. Manakala semua pihak dapat berkoordinasi dengan baik, maka penyaluran dapat sesuai tujuan, tepat sasaran,tepat waktu serta bernilai manfaat dalam membantu ekonomi masyarakat di tengah pandemi covid -19,” terang Mayor Dahlan.

Menurutnya, dalam kondisi seperti saat ini saat ini semua pihak harus prihatin dan memiliki empati. TNI juga ikut berupaya semaksimal mungkin untuk menghindari munculnya permasalahan di lapangan agar energi tidak terkuras sia sia,

“Sementara kita dihadapkan dalam situasi harus kita  satukan kekuatan dalam melawan pandemi Covid agar kita dapat segera keluar dalam situasi sulit bencana ini,” terangnya.

Program JPS Gemilang dari tahap satu hingga tahap tiga bagi pelaku IKM/UMKM sangat berarti di masa pandemi ini.

Di saat usaha mereka terpuruk, program dari Pemprov NTB menjadi angin segar. Salah satu IKM yang mendapat manfaat dari program ini adalah Putri Rinjani dari Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata Lombok Tengah (Loteng).

Hj. Zaenab selaku Penggerak IKM Putri Rinjani mengaku mendapatkan pengadaan 11 ribuan bungkus abon ikan. Dari belasan ribu bungkus tersebut dibagi ke 27 kelompok usaha. Setiap kelompok memiliki pekerja sebanyak 12-15 orang. Artinya program ini telah membantu banyak keluarga.

“Dari 11 ribuan paket itu, saya hanya ambil tiga ribu. Selebihnya kami bagi ke kelompok lain. Program ini sangat membantu kami. Artinya program ini tidak dimonopoli oleh satu kelompok usaha tertentu, namun IKM seperti kami juga dilirik,” katanya.

IKM Putri Rinjani selama ini memproduksi aneka makanan ringan serta sambal khas Lombok yang dikirim hingga ke sejumlah daerah di Indonesia. Namun setelah pandemi, produksinya turun drastis hingga 90 persen.

“Penurunan produksi sampai 90 persen selama pandemi. Paling yang kami lakukan hanya membuat kerupuk, tortilla dalam sekala kecil, sekitar 5 kilo per hari yang dijual secara keliling di area terbatas atau menunggu pesanan,” katanya.

Ia mengatakan, selama pandemi ini, penjualan tortilla ke luar daerah sudah mulai dilakukan, namun demikian waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke daerah tujuan sangat lama. “Dengan adanya JPS ini kami merasa terbantu,” terangnya.

Untuk diketahui, jumlah penerima JPS tahap III sebanyak 120.000 KK. Terdiri dari 110.130 KK berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan 9.870 non DTKS. Sedangkan produk-produk yang ada dalam JPS Gemilang tahap tiga menggunakan produk dari 4.673 UMKM/IKM/kelompok usaha.

Untuk penerima manfaat di Pulau Lombok sebanyak 83. 276 KPM yang terdiri dari Kabupaten Lombok Utara sebanyak 4.290, Lombok Timur 43.920, Kota Mataram 6.641 Lombok Barat 11.458 dan Lombok Tengah 16.967.

Di Pulau Sumbawa sebanyak 36. 724 PKM, terdiri dari Kabupaten Sumbawa Barat 2.639, Kabupaten Sumbawa 7.106, Kabupaten Dompu 8.696, Kabupaten Bima 16.093 dan Kota Bima 2.187.

AYA/HmsNTB

 




Dirut BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, Terpilih Sebagai Best CEO yang Sukses Saat Pandemi

Apresiasi tersebut diharapkan dapat memacu kinerja BPJS Kesehatan dalam melayani masyarakat

lombokjournal.com —

JAKARTA ;     Sejumlah pemimpin perusahaan yang dinilai berhasil membawa institusinya survive di tengah pandemi Covid-19, mendapat penghargaan.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, merupakan salah satu pemimpin institusi yang dinilai berhasil survive menghadapi pandemi Covid-19.

Fachmi Idris masuk dalam daftar 55 Best CEO – Employees’ Choice Award 2020 yang diselenggarakan oleh Iconomics.

Founder and CEO Iconomics, Bram S. Putro mengatakan, pada kondisi saat ini, kehebatan sosok pemimpin diuji. Disrupsi kali ini melengkapi ujian disrupsi-disrupsi yang sebelumnya sudah melanda, seperti disrupsi digital, politik, dan lainnya

“Kali ini pula CEO seperti menghadapi ujian kelulusan, mampukah para CEO menghadapi dan melewati fase-fase ini,” kata Bram, dalam webinar penyerahan apresiasi Best CEO-Employees’ Choice Awards, Kamis (23/07).

Bagaimana penilaian Best CEO – Employees’ Choice Award 2020 dilakukan?

Bram menjelaskan, penilaian Best CEO – Employees’ Choice Award 2020 dilakukan melalui survei online terhadap ribuan staf berbagai industri dan kategori, dengan total responden mendekati 10.000 pada awal Juni 2020.

Penilaian dilakukan melalui kusioner online dan tanpa melakukan kuota geografis maupun jenjang jabatan.

Responden diminta melakukan penilaian terhadap CEO institusinya, dan diperkenankan melakukan penilaian terhadap CEO institusi lain dalam kategori industri/kegiatan sejenis.

Dijelaskan, dengan mempertimbangkan efisiensi eksekusi, maka hanya sekitar 200 CEO/institusi yang diikutsertakan ke dalam survei. Pemilihan kandidat CEO dan institusinya berdasarkan pilihan redaksi Iconomics.

“Best CEO – Employees’ Choice Award 2020 diberikan kepada pemimpin instansi dengan skor tertinggi di kategori sub-industrinya,” jelasnya.

BPJS Kesehatan berhasil memperoleh skor 4,08 dari 5 dalam parameter penilaian yang meliputi popularity, competency, personality, dan crisis leadership.

Memacu kinerja

Kepala Humas BPJS Kesehatan, M. Iqbal Anas Ma’ruf mengatakan apresiasi tersebut diharapkan dapat memacu kinerja BPJS Kesehatan dalam melayani masyarakat.

“Prestasi ini menjadi motivasi bagi kami agar terus bekerja lebih baik lagi dan mengedepankan integritas, profesional, pelayanan prima, dan efisiensi operasional dalam menyelenggarakan Program JKN-KIS. Yang pasti ini penghargaan karena para Duta yang bekerja luar biasa,” ucap Iqbal.

Kemudian menginisiasi dan menggalang dana kemanusiaan untuk para tenaga medis lewat Gerakan Gotong Royong Bantu Tenaga Kesehatan Cegah Corona (GEBAH Corona), yang diprakarsai BPJS Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan Republika.

Selain itu, BPJS Kesehatan juga menjalankan tugas khusus dari pemerintah.

Dijelaskan, tugas khusus yang dimaksud adalah melakukan verifikasi tagihan pelayanan kesehatan yang telah diberikan kepada peserta JKN-KIS, dari fasilitas kesehatan yang ditelah ditunjuk pemerintah untuk penanganan wabah Covid-19. sesuai dengan ketentuan regulasi yang berlaku.

Diugkapkan Iqbal, pihak BPJS Kesehatan berupaya semaksimal mungkin membantu pemerintah dalam melakukan penanganan terhadap kasus Covid-19.

Sejumlah dukungan BPJS Kesehatan dalam penanganan pandemi Covid-19 antara lain melakukan percepatan pembayaran klaim RS yang menjadi RS rujukan kasus Covid-19, mengalihkan layanan konvensional di Kantor Cabang dan Kantor Kabupaten/Kota ke layanan digital (Mobile JKN, BPJS Kesehatan Care Center 1500, dan Chat Assistant JKN/Chika).

“Kami juga memastikan peserta JKN-KIS memperoleh akses ke fasilitas kesehatan yang ditunjuk pemerintah untuk penanganan wabah Covid-19 sesuai prosedur dan ketentuan,” jelas  Iqbal.

(dob/dob/CNBC Indonesia)