KEK Mandalika Akan Disusul 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas

Pengembangan pariwisata segera direalisasikan setelah rancangan Perpres diajukan oleh Bappenas dan ditetapkan oleh presiden

MATARAM.lombokjournal.com —  Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendukung penuh persiapan Pulau Lombok sebagai destinasi pariwisata super prioritas di Indonesia.

Selain Mandalika, Pengembangan pariwisata super prioritas di Pulau Lombok akan disusul oleh  Senggigi, Tiga Gili, Rinjani, Kawasan Pantai Selatan dan Kota Tua Mataram.

Rencananya, pembangunan dan pengembangan destinasi super prioritas itu akan dilakukan secara bertahap selama 5 tahun ke depan, proses pembangunannya akan dimulai pada tahun 2021 hingga 2024 mendatang setelah Peraturan Presiden (Perpres) ditetapkan.

Pemerintah Provinsi NTB akan terus berikhtiar ditengah pandemi Covid-19, untuk menjadikan Lombok sebagai Destinasi Wisata yang aman dan produktif dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat mengikuti Rapat bersama Tim Program Pembangunan Pariwisata Terintegrasi (P3TB) di Ruang kerjanya, Kamis (30/07/20).

Rapat yang digelar melalui daring ini membahas laporan Hasil Penyusunan Rencana Induk Destinasi Pariwisata Prioritas (RIDPP) Lombok.

“Terima kasih kepada Kementerian Bappenas yang telah menjadikan Pulau Lombok sebagai daerah super prioritas pengembangan pariwisata. Kita akan betul-betul perjuangkan ke depan,” tegas Wagub.

Ummi Rohmi, sapaan akrab Wagub berharap, pengembangan pariwisata segera direalisasikan setelah rancangan Perpres diajukan oleh Bappenas dan ditetapkan oleh presiden.

Untuk mendukung segala tahap pengembangan itu, Pemerintah Provinsi NTB akan terus perkuat sinergi antara pemerintah pusat maupun kabupaten kota.

“Kami berharap mudah-mudahan pengembangan destinasi pariwisata di Lombok bisa sukses ke depannya,” harap Ummi Rohmi

Ketua I Tim Koordinasi Program P3TB, Ir. Bambang Prijambodo mengungkapkan, pemerintah pusat melalui tim koordinasi P3TB telah menyiapkan program pengembangan pariwisata yang berkualitas di beberapa daerah di Indonesia.

Salah satunya adalah pengembangan destinasi pariwisata yang ada di Pulau Lombok, Provinsi NTB.

Pengembangan destinasi pariwisata berkualitas itu telah disusun dalam Hasil Penyusunan Integrated Tourism Master Plan (ITMR) dan Rencana Induk Destinasi Pariwisata Prioritas (ITMR/RIDPP) khusus Lombok.

“Setelah semua disusun ke dalam ITMR dan RIDPP, kemudian dibuat rancangan perpres oleh Bappenas dan diajukan kepada presiden untuk ditetapkan,” ungkapnya sekaligus selaku Deputi Bidang Ekonomi Bappenas tersebut.

“Pengembangan ini melibatkan kementerian/lembaga yang terkait diantaranya, Kementerian PUPR, Kementerian Pariwisata dan Kementerian PPN/Bappenas,” lanjutnya.

Untuk mendukung percepatan pelaksanaan pembangunan pariwisata tersebut, lanjutnya,  Pemerintah bekerja sama dengan Bank Dunia, Pemerintah Daerah, Swasta dan BUMN serta pemangku kepentingan lainnya. Sehingga dapat meningkatkan kualitas dan akses pelayanan serta infrastruktur dasar pariwisata.

Selain Lombok, terdapat dua daerah super prioritas pengembanga destinasi pariwisata tahap pertama yaitu, Danau Toba di Provinsi Sumatera Utara dan Candi Borobudur Provinsi Jawa Tengah.

man@kominfo




Lombok Destinasi Super Prioritas, Angin Segar Bagi NTB di Kancah Nasional dan Internasional

Pariwisata yang merupakan andalan Provinsi NTB ini tidak dapat terlepas dari pengelolaan lingkungannya, sehingga program NTB Bersih dan NTB Hijau benar benar didorong

MATARAM.lombokjournal.com –  Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah mewakili Gubernur NTB, mengikuti Courtesy Meeting Tim Koordinasi Program Pengembangan Pariwisata Terintegrasi dan Berkelanjutan (P3TB) secara virtual dari ruang kerjanya, bersama Deputi Bidang Ekonomi, Kamis (30/07/20).

Masuknya Pulau Lombok sebagai daerah super prioritas, merupakan sebuah angin segar bagi NTB dalam melambungkan nama NTB di kancah Nasional dan Internasional.

“Terimakasih untuk Bappenas dan semua tim, mudah mudahan ikhtiar untuk Lombok yang meliputi Mandalika, Senggigi, 3 Gili, Rinjani, Pantai Selatan dan Mataram ini bisa sukses,” ucap Wagub.

Wagub yang didampingi Kepala Dinas Pariwisata NTB, menyampaikan, daerah super prioritas ini ke depan, akan diperjuangkan bersama.

Meski saat ini pandemi Covid-19 melanda NTB, bahkan seluruh belahan dunia, Pemerintah Provinsi NTB tetap optimis dan serius akan menyukseskan P3TB.

“Dalam program integrated tourism development projects ini, harapannya tentunya bisa cepat dapat price, agar dapat cepat kita eksekusi dan kami memang tidak mau terlena dalam pandemi Covid-19 ini, kami tetap bergerak dengan apa yang kita bisa, tentunya dengan pilihan untuk hidup aman dan produktif,” ujarnya.

Saat ini, Pemprov NTB sedang gencar mengkampanyekan protokol Covid-19, yang memang tidak mudah dalam pengaplikasiannya.

Terutama menjalankan kembali roda pariwisata dengan penerapan protokol Covid-19. Kendati demikian, Pemprov NTB tetap optimis dan komitmen dalam penerapan protokol ini di berbagai sektor dalam aktivitas masyarakat.

“Mengaktifkan kembali pariwisata dengan protokol Covid itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi kami terus berusaha dorong dan Alhamdulillah step by step berjalan dengan baik, seperti Gili juga sudah mulai aktif dan juga tempat tempat yang lain, utamanya daerah yang direkomendasikan yakni daerah terbuka, yang berhubungan dengan pegunungan, pantai dan lain sebagainya,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, Wagub juga menyampaikan komitmen Pemprov NTB dalam pengelolaan lingkungan.

Pemprov sadar betul bahwa pariwisata yang juga merupakan andalan Provinsi NTB ini tidak dapat terlepas dari pengelolaan lingkungannya. Sehingga program NTB Bersih dan NTB Hijau benar benar didorong.

“Program zero waste atau NTB bersih, kami targetnya di tahun 2023 itu 30% pengurangan dan 70% penanganan dan juga untuk NTB Hijau kami juga memprogramkan rehabilitasi untuk hutan hutan kami dan kami sangat yakin dengan program lingkungan ini bisa sejalan dengan program pariwisata yang sudah saling mendukung satu sama lain,” ungkapnya.

Pada penghujung acara Wagub menyampaikan, Pemprov NTB akan memperdalam tugas dan tanggung jawab, agar P3TB benar benar dapat terealisasikan dengan baik.

“Kita sadar betul bahwa sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan Swasta ini benar benar bagaimana semua pihak dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik baiknya, tentunya kami dari pemerintah daerah akan mempersiapkan itu, seperti apa yang disampaikan tadi ada fungsi pengelolaan dan lain sebagainya, itu merupakan tugas dan tanggung jawab yang harus kami cermati dan tentunya kami akan mempelajari lebih lanjut dan Perpres tersebut,” ujarnya.

Terakhir Wagub mewakili masyarakat NTB sekali lagi menyampaikan rasa terimakasih kepada Bappenas atas kepercayaan dan terpilihnya Lombok sebagai salah satu daerah super prioritas.

“Terimkasih atas apa yang disampaikan dan komitmen kita bersama untuk di beberapa tempat prioritas ini, semoga harapan kami ini bisa terealisasi dan kita perjuangkan bersama,” tutupnya.

10 destinasi pariwisata prioritas

Deputi Bidang Ekonomi, Kementerian PPN/Bappenas, Ir. Bambang Prijambodo, menyampaikan arahan Presiden RI serta RPJMN 2020-2024.

Hal ini terkait dengan penetapan target-target pembangunan pariwisata pada tahun 2024 difokuskan pada pengembangan 10 destinasi pariwisata prioritas.

Untuk itu, P3TB kemudian dibentuk. P3TB diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan percepatan pembangunan pariwisata di destinasi pariwisata prioritas (DPP) tersebut.

Peraturan Presiden (Perpres) tengah disusun guna mempercepat pengembangan destinasi pariwisata prioritas secara terpadu dalam aspek-aspek kepariwisataan, infrastruktur, kehutanan, kemaritiman, tata ruang dan investasi. Tentunya ini harus selaras dengan perkembangan wilayah secara keseluruhan, sehingga diperlukan penetapan Rencana Induk Destinasi Pariwisata Prioritas (RDIPP).

“Jadi Perpres ini akan menjadi acuan dan alat koordinasi bagi kementerian lembaga dan pemerintah daerah, untuk percepatan pembangunan pariwisata kedepan,” ungkapnya.

RDIPP Lombok sendiri memuat visi, sasaran pertumbuhan, strategi pengembangan dan rencana aksi pengembangan kepariwisataan di destinasi pariwisata prioritas Lombok.

“Untuk itu, kami dari pusat, kementerian dan lembaga bersama daerah diharapkan untuk melaksanakan RIDPP Lombok ini,” jelasnya.

Selaku Ketua Pelaksana P3TB, Bambang berjanji akan terus mengawal proses dan perkembangan dari Perpres. Dengan ini, arah pembangunan pariwisata di Lombok dapat dipantau secara terus-menerus.

AYA/HmsNTB




Biaya Operasi Katarak Haerudin Ditanggung Program JKN-KIS

Program JKN-KIS banyak membantu masyarakat yang membutuhkan perawatan di fasilitas kesehatan, untuk itu harus didukung semua pihak dan mendapat perhatian penuh dari pemerintah

Narasumber : Haerudin

MATARAM.lombokjournal.com —  Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan sebagai pengelola jaminan kesehatan di Indonesia, terus berupaya meningkatkan performa pelayanan terbaiknya bagi masyarakat.

Pelayanan kesehatan yang komprehensif dan lengkap diberikan untuk semua peserta tanpa memandang lapisan masyarakat.

Haerudin (57), warga Dasan Lekong, Rembiga, Kecamatan Selaparang adalah salah satu peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat  (JKN-KIS) dari segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) yang sudah merasakan banyak manfaat dari program itu.

Saat ditemui tim jamkesnews, Haerudin mengaku pernah mengidap penyakit katarak. Ia dan keluarga selalu menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) untuk berobat ke fasilitas kesehatan.

“Saya sudah merasakan manfaat dari Program JKN-KIS sejak zaman PT. Askes Persero. Operasi katarak saya sendiri berjalan lancar dan tidak mengeluarkan biaya sepeserpun, karena saya dan keluarga adalah peserta JKN-KIS,” ujar Haerudin pada, Rabu (29/06/20).

Berawal dari penglihatannya yang menurun, akhirnya ia melakukan pemeriksaan dan diharuskan menjalani operasi karena katarak.

Saat akan menjalani operasi di Rumah Sakit Mata Provinsi Nusa Tenggara Barat, Haerudin diberikan penanganan yang baik dan cepat. Haerudin pun sangat puas.

“Alhamdulilah operasi saya berjalan lancar dan cepat, tanpa ada kendala dan proses pemulihan saya sangat cepat. Dari awal pemeriksaan sampai dengan operasi katarak saya ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan. Bukan hanya itu, kacamata yang saya gunakan juga saya dapatkan berkat Kartu JKN-KIS yang saya miliki.” ujar Haerudin.

Ia dan keluarga pun merasa sangat terbantu dengan adanya Program JKN-KIS.

Menurutnya program ini banyak membantu masyarakat yang membutuhkan perawatan di fasilitas kesehatan untuk itu harus didukung semua pihak dan mendapat perhatian penuh dari pemerintah.

Agar masyarakat tidak perlu bingung memikirkan biaya kesehatan yang semakin lama semakin mahal.

Ia pun mengucapkan terima kasih kepada BPJS Kesehatan yang sudah membantu biaya operasinya, dan tidak lupa juga dirinya mengucapkan terima kasih kepada Rumah Sakit Mata Provinsi Nusa Tenggara Barat yang telah memberikan pelayanan terbaik.

Ia berharap Pemerintah Daerah dapat segera menjamin kesehatan seluruh masyarakatnya ke dalam Program  JKN-KIS.

dh/yn/Jamkesnews

 

 




Aplikasi Mobie JKN,  Beri Kemudahan Pemuda Milenial Ini

Narasumber : Naufal Fitriadi Irsan

MATARAM.lombokjournal.com —  Di era revolusi industri 4.0 yang teah dikelilingi dengan kecanggihan teknologi juga kerap disebut dengan zamannya kaum milenial.

Para pemuda melenial saat ini lebih akrab dengan perkembangan teknologi. Seperti salah satu pemuda milenial yang satu ini, Naufal Fitriadi Insan (29) yang mengaku dirinya tidak terlepas dari kecanggihan yang diberikan teknologi.

Naufal yang merupakan peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) mengatakan bahwa kesehatan tidak untuk disepelekan.

Tak hanya itu saja, di era seperti ini Naufal pun kerap menggunakan Aplikasi Mobile JKN untuk memenuhi kebutuhannya dalam mengakses segala tentang Program JKN-KIS, maka dari itu bisa dikatakan saat ini BPJS Kesehatan terus berkembangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Menurut saya Program JKN-KIS ini sangat penting bagi kita, karena sedia payung sebelum hujan itu sangat perlu di masa seperti sekarang ini. Saya rasa pemuda melenial pasti sadar akan itu,” ungkap Naufal saat di temui dikediamannya pada Kamis (30/07/20).

Semua sudah sangat dipermudah dengan cara membuat perkembangan teknologi seperti Aplikasi Mobile JKN. BPJS Kesehatan pun telah meluncurkan aplikasi Mobile JKN ini dengan harapan dan tujuan untuk dapat mempermudah peserta JKN-KIS dalam hal mengakses layanan dri BPJS Kesehatan.

“Anak Muda seperti kami tentu lebih suka dan sangat senang jika semua fasilitas dapat di permudah, salah satunya dengan aplikasi Mobile JKN ini, sehingga saya bisa melakukan perubahan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tanpa harus datang langsung ke kantor BPJS kesehatan,” ujar Naufal.

Dengan adanya kemudahan seperti ini, Naufal pun tak lupa memberikan apresiasi kepada BPJS Kesehatan yang terus berkembang dengan mengikuti perkembangan di era milenial ini.

“Tentunya saya sangat mengapresiasi kinerja dan terobosan BPJS Kesehatan yang tidak mau tertinggal dengan kemajuan teknologi yang ada dan tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada BPJS Kesehatan yang terus memberikan kemudahan dalam segi administrasi maupun dalam hal fasilitas yang ada saat ini sudah semakin baik,” tutup Naufal.

dh/yn/Jamkesnews




UPDATE Covid-19: Hari Rabu, 29 Juli 2020, Bertambah 36 Pasien Positif Covid-19, Pasien Sembuh 12 Orang, Tidak Ada Kasus Kematian

Saat ini penularan Covid-19 masih terus terjadi. Ini menunjukkan bahwa penularan virus ini masih belum dapat dikendalikan dengan baik

MATARAM.lombokjournal.com – Laboratorium PCR RSUD Provinsi NTB, Laboratorium PCR RS Unram, Laboratorium PCR Genetik Sumbawa Technopark, Laboratorium TCM RSUD H.L. Manambai Abdulkadir, dan Laboratorium TCM RSUD Kota Mataram mengkonfirmasi, ada tambahan 36 pasien positif Covid-19, dan pasien yang dinyatakan sembuh 12 orang.

Lalu Gita Aryadi

Siaran pers hari Selasa (28/07/20), Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. HL Gita Ariadi, M.Si menjelaskan, telah diperiksa sebanyak 385 sampel dengan hasil 312 sampel negatif, 37 sampel positif ulangan, dan 36 sampel kasus baru positif Covid-19, sembuh 12 orang, Tidak ada kasus kematian.

Dijelaskan, adanya tambahan 36 kasus baru terkonfirmasi positif, 12 tambahan sembuh baru, dan tidak ada kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari Rabu (29/07/20) sebanyak 2.022 orang, dengan perincian 1.266 orang sudah sembuh, 110 meninggal dunia, serta 646 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

TAMBAHAN 36 PASIEN POSITIF COVID-19, PASIEN SEMBUH 12 ORANG, TIDAK ADA KEMATIAN BARU

Kasus baru positif tersebut, yaitu :

  1. Pasien nomor 1987, an. An. NPKAP, perempuan, usia 3 tahun, penduduk Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1780. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji;
  2. Pasien nomor 1988, an. Ny. GAAPL, perempuan, usia 56 tahun, penduduk Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1780. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji;
  3. Pasien nomor 1989, an. Tn. IMK, laki-laki, usia 69 tahun, penduduk Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1780. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Mataram;
  4. Pasien nomor 1990, an. Ny. NMGG, perempuan, usia 28 tahun, penduduk Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1780. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji;
  5. Pasien nomor 1991, an. Ny. H, perempuan, usia 57 tahun, penduduk Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji;
  6. Pasien nomor 1992, an. Tn. LAWW, laki-laki, usia 21 tahun, penduduk Desa Majidi, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji;
  7. Pasien nomor 1993, an. Tn. MDZ, laki-laki, usia 33 tahun, penduduk Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji;
  8. Pasien nomor 1994, an. Tn. KYS, laki-laki, usia 26 tahun, penduduk Kelurahan Dayan Peken, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji;
  9. Pasien nomor 1995, an. Tn. ASU, laki-laki, usia 49 tahun, penduduk Kelurahan Mataram Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Unram;
  10. Pasien nomor 1996, an. Ny. NWS, perempuan, usia 66 tahun, penduduk Kelurahan Cakranegara Utara, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Provinsi NTB;
  11. Pasien nomor 1997, an. Ny. AK, perempuan, usia 29 tahun, penduduk Desa Terong Tawah, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Harapan Keluarga;
  12. Pasien nomor 1998, an. Ny. RA, perempuan, usia 40 tahun, penduduk Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  13. Pasien nomor 1999, an. Tn. A, laki-laki, usia 41 tahun, penduduk Kelurahan Jatiwangi, Kecamatan Asakota, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  14. Pasien nomor 2000, an. Ny. EYN, perempuan, usia 35 tahun, penduduk Kelurahan Rabadompu Barat, Kecamatan Raba, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  15. Pasien nomor 2001, an. An. MAGO, laki-laki, usia 12 tahun, penduduk Kelurahan Rabangodu Utara , Kecamatan Raba, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1830. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  16. Pasien nomor 2002, an. Ny. STJ, perempuan, usia 56 tahun, penduduk Kelurahan Penatoi, Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  17. Pasien nomor 2003, an. Ny. RH, perempuan, usia 39 tahun, penduduk Kelurahan Nae, Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1833. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  18. Pasien nomor 2004, an. Ny. DY, perempuan, usia 27 tahun, penduduk Kelurahan Penaraga, Kecamatan Raba, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  19. Pasien nomor 2005, an. Ny. N, perempuan, usia 27 tahun, penduduk Kelurahan Rabadompu Barat, Kecamatan Raba, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  20. Pasien nomor 2006, an. Ny. MA, perempuan, usia 31 tahun, penduduk Kelurahan Rabadompu Barat, Kecamatan Raba, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  21. Pasien nomor 2007, an. Ny. M, perempuan, usia 27 tahun, penduduk Kelurahan Manggemaci, Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  22. Pasien nomor 2008, an. Ny. NR, perempuan, usia 24 tahun, penduduk Kelurahan Jatiwangi, Kecamatan Asakota, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  23. Pasien nomor 2009, an. Ny. MS, perempuan, usia 28 tahun, penduduk Kelurahan Penanae, Kecamatan Raba, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  24. Pasien nomor 2010, an. Ny. HW, perempuan, usia 24 tahun, penduduk Kelurahan Sarae, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  25. Pasien nomor 2011, an. Tn. SA, laki-laki, usia 39 tahun, penduduk Kelurahan Dara, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  26. Pasien nomor 2012, an. Ny. N, perempuan, usia 40 tahun, penduduk Kelurahan Sambinae, Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  27. Pasien nomor 2013, an. Ny. RS, perempuan, usia 32 tahun, penduduk Kelurahan Sarae, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  28. Pasien nomor 2014, an. Ny. LF, perempuan, usia 24 tahun, penduduk Kelurahan Ule, Kecamatan Asakota, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  29. Pasien nomor 2015, an. Ny. NI, perempuan, usia 34 tahun, penduduk Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1782. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  30. Pasien nomor 2016, an. Tn. A, laki-laki, usia 61 tahun, penduduk Kelurahan Sadia, Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1832. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  31. Pasien nomor 2017, an. Tn. TAL, laki-laki, usia 25 tahun, penduduk Kelurahan Sadia, Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  32. Pasien nomor 2018, an. Tn. MT, laki-laki, usia 24 tahun, penduduk Kelurahan Sadia, Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1832. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  33. Pasien nomor 2019, an. Ny. NL, perempuan, usia 50 tahun, penduduk Kelurahan Sarae, Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  34. Pasien nomor 2020, an. Tn. S, laki-laki, usia 60 tahun, penduduk Kelurahan Jatibaru, Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  35. Pasien nomor 2021, an. An. R, laki-laki, usia 13 tahun, penduduk Kelurahan Sadia, Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1832. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima;
  36. Pasien nomor 2022, an. Tn. AM, laki-laki, usia 35 tahun, penduduk Kelurahan Rabangodu Selatan, Kecamatan Raba, Kota Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kota Bima.

Hari Rabu ini terdapat penambahan 12 orang yang sembuh dari Covid-19 setelah pemeriksaan laboratorium swab dua kali dan keduanya negatif, yaitu :

  1. Pasien nomor 1372, an. Ny. LH, perempuan, usia 23 tahun, penduduk Kelurahan Dasan Cermen, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram;
  2. Pasien nomor 1454, an. Ny. VC, perempuan, usia 38 tahun, penduduk Kelurahan Cakranegara Timur, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram;
  3. Pasien nomor 1499, an. Tn. DT, laki-laki, usia 48 tahun, penduduk Kelurahan Cilinaya, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram;
  4. Pasien nomor 1545, an. An. IGAFA, perempuan, usia 2 tahun, penduduk Kelurahan Monjok Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  5. Pasien nomor 1600, an. Ny. FZ, perempuan, usia 23 tahun, penduduk Kelurahan Mayura, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram;
  6. Pasien nomor 1690, an. Ny. NMCR, perempuan, usia 56 tahun, penduduk Kelurahan Bertais, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram;
  7. Pasien nomor 1713, an. Tn. S, laki-laki, usia 56 tahun, penduduk Desa Kekeri, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat;
  8. Pasien nomor 1715, an. Tn. M, laki-laki, usia 30 tahun, penduduk Desa Labuapi, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  9. Pasien nomor 1716, an. Ny. BA, perempuan, usia 34 tahun, penduduk Desa Labuapi, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  10. Pasien nomor 1742, an. Nn. FL, perempuan, usia 19 tahun, penduduk Desa Kekeri, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat;
  11. Pasien nomor 1746, an. Tn. N, laki-laki, usia 82 tahun, penduduk Desa Babusalam, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat;
  12. Pasien nomor 1900, an. Ny. LP, perempuan, usia 26 tahun, penduduk Desa Kuripan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat.

Sekda NTB sebagai Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas NTB, Lalu Gita Aryadi mengatakan, hingga saat ini penularan Covid-19 masih terus terjadi. Ini menunjukkan bahwa penularan virus ini masih belum dapat dikendalikan dengan baik.

“Karena itu, untuk bisa tetap produktif dan beraktifitas ditengah pandemi ini, membutuhkan satu syarat yang harus dipenuhi oleh seluruh masyarakat secara kolektif,” katanya.

Ditegaskan, protokol kesehatan dan pencegahan ini harus terus kita terapkan secara disiplin dan ketat sampai vaksin atau obat Covid-19 ditemukan, agar kasus positif baru dan korban meninggal dapat benar-benar kita tekan dan hentikan.

AYA/Rr

 Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id

 Layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemi Covid-19 NTB di nomor 081802118119.




Gubernur Dijadwalkan Jadi Khatib Salat Iedul Adha di Bima

Di Bima, Gubernur Zul dijadwalkan akan menghadiri silaturahim dengan toga, toma, dan masyarakat serta menyerahkan bantuan pembangunan di sejumlah Masjid

MATARAM.lombokjournal.com —  Gubernur NTB Dr.H Zulkieflimansyah dijadwalkan menggelar sholat Idul Adha di Lapangan Besar Desa Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Jumat (31/07/20).

Gubernur akan menjadi khatib pada pelaksanaan sholat Ied tersebut.

Usai sholat Ied, Gubernur Zul akan menyerahkan hewan kurban ke panitia kurban Desa Doridungga berupa satu ekor sapi exotic jenis simental seberat 1.050 Kg.

Pelaksanaan salat Idul Adha di Kabupaten Bima ini dirangkaikan dengan kegiatan kunjungan kerja (kunker), serta silaturahim dengan para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan masyarakat di Pulau Sumbawa yang dimulai dari tanggal 30 – 31 Juli.

Kepala Biro Humas dan Protokol Provinsi NTB Najamuddin Amy, S.Sos, MM mengatakan, pada tanggal 30 Juli besok Gubernur dijadwalkan bertolak dari BIZAM menuju Bandara Sultan Salahuddin Bima pukul 09.50 Wita.

Di Bima, Gubernur Zul dijadwalkan akan menghadiri silaturahim dengan toga, toma, dan masyarakat serta menyerahkan bantuan pembangunan di sejumlah Masjid.

Hari Kamis (30/07/20), Gubernur Zul dijdawalkan tiba di Masjid Nurul Iman, Dusun Lewidewa, Desa Lewintana, sekaligus agenda penyerahan bantuan pembangunan masjid yang akan diterima oleh pengurus masjid setempat. Agenda berlanjut ke Masjid An Nur Dusun Bajo Selatan, Desa Bajo Kecamatan Soromandi.

Beberapa masjid lainnya yang akan didatangi oleh Gubernur dan sekaligus menyerahkan bantuan pembangunannya yaitu Masjid Al Hidayah Dusun Rade, Desa Punti Kecamatan Soromandi, Masjid Al-Fatah Dusun Teh, Desa Kananta Soromandi, Masjid Baburrahman Dusun Riando, Desa Sai Soromandi, Masjid Nurul Iman Dusun Saba.

Selain itu, juga Desa Sampungu, Masjid Sholihin Dusun Wadulancang, Desa Wadukopa Soromandi, dan Masjid At Taqwa Dusun Manggenae Desa Doridungga, Kecamatan Donggo.

“Gubernur dijadwalkan bermalam di Masjid At Taqwa Dusun Manggenae Desa Doridungga, Kecamatan Donggo pada Kamis malam,” kata Bang Najam.

Usai kunker di Kabupaten Bima, Gubernur melanjutkan perjalanan ke Pendopo Bupati Dompu pada hari Jumat 31 Juli 2020 pukul 13.00 Wita.

Di sana Gubernur dijadwalkan akan bersilaturahim dengan Kades se Kabupaten Dompu beserta Bupati Dompu dan OPD Kabupaten Dompu. Usai kegiatan silaturahim di Kabupaten Dompu, Gubernur akan melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Sumbawa.

“Silaturrahmi dengan Kades Se Kabupaten Sumbawa beserta Bupati Sumbawa dan OPD Kabupaten Sumbawa akan digelar pada hari Sabtu 1 Agustus mendatang,” tambah Bang Najam.

Pada kegiatan Kunker dan silaturahmi di Pulau Sumbawa kali ini, Gubernur didampingi oleh 37 pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mulai dari tiga orang staf ahli, asisten serta puluhan kepala OPD seperti Inspektur, Kepala BPKAD, Kepala Bappeda, Kadis PUPR, Kadis Perkim, Kadis Tanbun, Kadis DPMPTSP, Kadis Sosial, Kadis Dikbud, Kadispora.

Gubernur Zul akan didampingi juga oleh Kadis Perindustrian, Kadis Perdagangan, Kadis Pariwisata, LHK, Kadis Nakeswan, Kadis Perpustakaan dan Arsip, Kadis ESDM, Kadis PMPD Dukcapil, Kadis Perhubungan, Kadiskominfotik,  Kadis Ketahanan Pangan, Kadis Koperasi dan UKM, Kadis Kelautan dan Perikanan, Kalak BPBD, Kasat Pol PP, Karo Hukum, Karo Ap dan LPBJP, Karo Organisasi, Karo Kesra, Karo Ekonomi, Karo Umum, Karo Humas & Protokol dan Karo Kerjasama.

AYA/HmsNTB

 




Wagub Ingatkan Masyarakat Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan, RS Darurat Covid-19 Diresmikan Agustus

Menurut dr Hamzi, pembangunan RS ini sudah memenuhi standar WHO

MATARAM.lombokjournal.com —  Wakil Gubernur Dr.Hj. Sitti Rohmi Djalilah mengapresiasi pembangunan Rumah Sakit (RS) Darurat Covid-19 yang telah berlangsung selama 3 bulan terakhir.

Menurutnya, pembangunan RS Darurat tersebut sangat baik, bahkan gedung berantai dua ini akan segera rampung. Direncanakan, RS Darurat ini akan diresmikan pada tanggal 17 Agustus 2020 mendatang.

Rumah sakit-rumah sakit di NTB yang menangani pasien Covid-19  sudah mulai penuh dengan perawatan pasien Covid-19. Berbagai alat kesehatan (Alkes) seperti ventilator dan lainnya juga menjadi sangat terbatas.

“Sehingga dengan adanya RS Penanggulangan Covid-19, mampu memberikan pelayanan yang lebih baik dan tentunya kesembuhan bagi pasien,” harap Ummi Rohmi saat meninjau lokasi pembangunan RS Darurat Covid-19 di RSUD NTB, Rabu (29/07/20).

Ummi Rohmi berharap dengan adanya penambahan Rumah Sakit Darurat Covid-19, dapat meningkatkan pelayanan yang lebih baik bagi pasien yang terinfeksi Covid-19.

“Sehingga ke depan, pasien Covid-19 yang dirujuk di RSUP NTB tidak lagi dirawat di gedung yang sama bersama dengan pasien umum. Tapi gedungnya terpisah,” kata wagub.

Selain itu, lanjut Ummi Rohmi, dengan kehadiran RS Covid-19 ini masyarakat jangan sampai terlena. Justru masyarakat harus terus disiplin menerapkan protokol kesehatan covid-19.  Apalagi dengan Nurut Tatanan Baru, prosedur harus diperketat.

“Kita jangan lengah, mentang-mentang sudah punya RS Covid. Justru disiplin protokol Covid makin tinggi,” kata Wagub.

Pasien Covid-19 terus bertambah

Direktur RSUD Provinsi NTB dr. Lalu Hamzi Fikri menjelaskan, RS Darurat Covid ini awalnya direncanakan untuk membangun Instalasi Gawat Darurat (IGD) Trauma Center khusus Motor GP 2021.

“Namun karena adanya Covid melanda kita, pembangunan gedung ini dipercepat untuk menampung pasien yang terus bertambah,” kata dr. Hamzi Fikri.

Awalnya menurut Direktur RSUP, gedung ini berlantai Enam. Untuk sementara dibangun sementara berlantai dua. Namun tetap dipersiapkan untuk Enam lantai kedepan.

Ditambahkannya, daya tampung gedung ini sebanyak 69 pasien. Lantai satu ada 32 tempat tidur dipersiapkan untuk IGD penanganan dan perawatan pasien memiliki diagnosa dan gejala Covid.

Sedangkan lantai dua ada 37 tempat tidur, sebagai ruang tindakan yang dipersiapkan untuk merawat pasien yang telah diagnosa positif Covid-19.

“Kemudian lantai dua juga dipersiapkan untuk ruang terbuka menjalani aktifitas olahraga dan berjemur,” jelasnya.

Sehingga, ruang yang selama ini yang digunakan untuk ruang isolasai. Hampir 70 porsen telah dialihfungsikan untuk merawat atau ruang isolasi Covid dapat kembali dipergunakan untuk menangani pasien reguler.

Menurut dr Hamzi, pembangunan RS ini sudah memenuhi standar WHO.

Tenaga kesehatan (Nakes) juga dipersiapkan khusus untuk pelayanan di RS Darurat Covid. Ada sekitar 125 yang kita rekrut. “Mereka dilatih dan berikan pendidikan khusus,” tutupnya.

Wakil Gubernur NTB dalam peninjauan ini didampingi Assisten II Ir. Ridwansyah, Kepala PUPR Provinsi NTB.

edy@diskominfotikntb




TVRI Diminta Kolaborasi dengan OPD, untuk Angkat Kekayaan Alam dan Budaya NTB

Pihak TVRI NTB berkomitmen mendukung dan siap berkontribusi dalam mewujudkan NTB Gemilang

MATARAM.lombokjournal.com —  Di tengah gencarnya persaingan lembaga penyiaran dan bertambahnya usia TVRI NTB, maka TVRI NTB diharapkan menjawab dinamika dan kebutuhan informasi masyarakat, terutama informasi yang membangun optimisme terlebih di masa pandemi.

“Mudah mudahan dengan orang yang punya visi baru, TVRI bisa bertahan. Mudah mudahan dengan talenta-talenta hebat mau memikirkan TVRI, sehingga TVRI bukan hanya dapat bertahan, tapi juga kinerjanya semakin baik di masa yang akan datang,” ujar Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah saat menerima silaturahmi dari Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Stasiun NTB di ruang kerja Gubernur NTB, Rabu (26/7/2020).

Kegiatan tersebut untuk meningkatkan kontribusi TVRI NTB bersama pemerintah untuk mewujudkan NTB Gemilang.

Dalam silayurrahmi itu Gubernur Zul didampingi oleh Asisten I Setda Provini NTB, Kadis Kominfotik, Kadis Dikbud, Kadis Koperasi dan UMKM, Kadis Perdagangan, Kadis Ketahanan Pangan, Kadispar, Kepala Biro Humas dan Protokol serta seluruh staf ahli menyambut baik kegiatan silaturahmi tersebut.

Dikatakan Bang Zul, peningkatan kapasitas SDM sangat perlu dilakukan, terlebih anak-anak muda yang ada di TVRI.

“Mari upgrade kapasitas anak anak muda yang ada di TVRI, sekolahkan, kursuskan, peroleh ilmu baru, pengalaman baru, karena masa depan harus dikunjungi lebih dulu dibanding pesaing kita,” harap Bang Zul.

Tidak hanya itu, Bang Zul meminta agar OPD lingkup Pemprov NTB dapat berkolaborasi bersama TVRI dalam mengemas dan menyampaikan informasi kepada masyarakat, terutama dalam meningkatkan dan membumikan kekayaan budaya dan alam NTB.

Kepala Stasiun TVRI NTB, I Gede Mustito menyampaikan, pihaknya berkomitmen mendukung dan siap berkontribusi dalam mewujudkan NTB Gemilang.

Ia juga menyampaikan, di tengah peliknya persaingan, TVRI telah memiliki aplikasi sendiri di PlayStore dan dapat diunduh oleh masyarakat yang ingin menikmati program-program dari TVRI.

“Tidak hanya itu, kami juga mengikuti tren saat ini dalam menikmati televisi, yakni dengan merambah ke media sosial,” katanya.

AYA/HmsNTB




Seleksi CAT CPNS Tahun 2019, Berlangsung SepTember dan Oktober

Peserta yang positif Covid-19, gugur dengan sendirinya

MATARAM.lombokjournal.com —  Seleksi Kompetisi Bidang (SKB) dengan CAT CPNS tahun 2019 yang sempat tertunda akibat pandemi Covid-19, akan berlangsung antara bulan September dan Oktober tahun ini.

Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi NTB menegaskan, jika ada peserta yang positif Covid-19 dengan terpaksa ia gugur dengan sendirinya. Peserta tersebut tidak diperkenankan untuk mengikuti SKB.

“Yang positif Covid-19 dan belum sembuh resikonya gugur,” tegas Kepala BKD NTB, Muhammad Nasir menyamapaikan aturan saat Jumpa Pers di Mataram, Rabu (29/07/20).

SKB akan berlangsung sekitar tujuh hari. Jika nanti ada peserta yang positif Covid-19 tetapi sembuh pada hari ketujuh itu dia ada kelonggaran bisa mengikuti SKB yaitu hari ke delapan.

Begitupun misalnya sembuh saat hari keenam maka peserta itu bisa mengikuti SKB di hari ketujuh itu. Pantia menyiapkan satu hari cadangan untuk bisa memfasilitasi peserta tersebut.

“Kalau belum juga sembuh sampai hari kedelapan maka gugur,” katanya.

Jumlah keseluruhan peserta yang akan mengikuti SKB untuk sepuluh kabupaten kota se NTB sebanyak 6.984, dan khusus untuk peserta SKB mengambil formasi lingkup Pemprov sendiri ada 942 orang.

Berdasarkan hasil rapat dengan panitia pusat yaitu BKN regional X Denpasar daerah diminta untuk menyiapkan ruangan CAT dan diberi jarak menurut ketentuan protokol Covid-19.

Untuk Pemrov sendiri dari isi CAT satu ruangan sebanyak 100 komputer yang boleh dipakai hanya 60 komputer, itu pun juga akan disediakan 10 ruangan.

“Pelaksanaan SKB sangat ketat. SKB mengikuti protokol Covid-19,” ujarnya.

Dijelaskannya juga sejumlah aturan yang akan diikuti peserta yaitu diharuskan memakai masker, memaki sarung tangan dan face shield.

Untuk sarung tangan sendiri akan disediakan oleh panitia. Sementara itu panitia daerah juga diminta menyiapkan tempat cuci tangan.

“Peserta tidak boleh ditunggu oleh keluarganya. Kalau sudah mengantar harus pulang,” jelasnya.

Sebelum masuk ruangan peserta di cek suhunya. Suhu peserta tidak boleh lebih dari 37,3 derajat Celsius.

Kalau lebih panitia nantinya akan memberikan waktu istirahat lima menit lalu dites lagi. Jika masih saja diatas suhu tersebut peserta akan ditempatkan di ruangan isolasi.

Hal yang juga perlu disiapkan yaitu hasil rapid test non reaktif yang akan dibawa dan diserahkan kepada panitia. Untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan peserta diminta melakukan isolasi diri selama 14 hari sebelum hari test berlangsung.

“Sebagai persiapan peserta harus mengisolasi diri,” terangnya.

Peserta yang di luar daerah NTB sangat memungkinkan untuk melakukan tes di daerahnya tetapi sebelumnya harus melaporkan jauh jauh hari kepada panitia.

Sehingga nantinya akan dikoordinasi dengan BKD daerah setempat. Sama halnya dengan peserta CPNS kementerian yang harus ke Jakarta, dia bisa tes di daerah sendiri asal melaporkan ke kantor BKN perwakilan di provinsi.

“Peserta dari luar daerah dimungkinkan bisa tes diluar daerah,” katanya.

BKD juga menyampaikan sejumlah persiapan sebelum SKB berlangsung diantaranya untuk daerah melakukan verifikasi akhir data kelulusan SKD (3 kali formasi) antara data BKN dsngan pengumuman instansi vertikal dilengkapi dengan SPTJM ketua Pansel paling lambat 28 Juli.

Mengunggah SPTJM dan mengisi link pengumuman hasil SKD melakaui SSCN Admin dan melakuakan entry lokaia ujian (Mandiri atau Cost Sharing jika ada) paling lambat 29 Juli.

“Sedangkan untuk peserta sendiri memilih lokasi test maksimal tiga kali pilih lokasi sebelum tanggal 7 Agustus. Mencetak kartu ujian SKB mulai tanggal 8 Agustus,” pungkasnya

AYA




Wagub Minta Ponpes Istiqomah Terapkan Protokol Kesehatan

Ponpes dapat menjadi contoh yang baik dalam hal penerapan protokol kesehatan di daerah ini

MATARAM.lobokjournal.com — Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren (Ponpes) menjadi salah satu fokus perhatian Pemerintah Provinsi NTB di masa pandemi saat ini.

Semua Ponpes di NTB untuk Istiqomah dalam menjalankan protokol kesehatan guna menghindari penyebaran wabah ini.

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah mengatakan itu saat menjadi narasumber pada Webinar yang diinisiasi oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan (PWNW) Provinsi NTB, Rabu (29/07/20).

“Protokol Covid-19 yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak adalah hal yang harus istiqomah kita lakukan sepanjang waktu, sampai vaksin ditemukan,” ujar Wagub Hj Sitti Rohmi.

Ia mengungkapkan, dirinya yakin keluarga besar NW dapat dengan cepat beradaptasi dengan kebiasaan hidup baru dengan protokol kesehatan. Karena memang sudah terbiasa untuk diajarkan disiplin dalam ajaran NW.

“Kita sadar betul di NW setiap kiprah perjuangan kita didasari oleh yakin, ikhlas, sabar dan Istiqomah, kita sudah terlatih untuk itu,” katanya.

Wakil Gubernur yang kerap disapa Umi Rohmi ini mengatakan, Ponpes dapat menjadi contoh yang baik dalam hal penerapan protokol kesehatan di daerah ini.

Melalui webinar, ia berpesan kepada seluruh pengurus Ponpes untuk ikut serta mensosialisasikan protokol kesehatan, agar masyarakat dapat mengetahui pentingnya hal tersebut.

Ia juga meminta kepada masyarakat, agar tidak menganggap remeh pandemi ini.

Dikatakan, mejalankan protokol kesehatan ini, adalah salah satu amalan yang sangat baik saat ini, karena menerapkan protokol kesehatan bukan hanya menyelamatkan diri dari penyebaran Covid-19, melainkan menyelamatkan orang lain, terutama yang ada di lingkungan sekitar.

“Saya sangat berharap melalui pertemuan kita pada webinar ini, mengetuk hati kita untuk menjadi garda terdepan, menjadi contoh yang baik seperti yang selalu diingatkan oleh Tuan Guru Bajang,” harap Ummi Rohmi.

Di akhir penyampaiannya, Umi Rohmi berpesan, Ponpes  harus memiliki pusat kesehatan santri, menyiapkan lebih banyak tempat cuci tangan, membuat tempat isolasi, kapasitas ruangan harus dikurangi, perlengkapan mandi tidak boleh digunakan bersama.

Selain itu, pengecekan suhu dilakukan secara rutin, olahraga rutin, serta menjaga kebersihan pondok.

Senada dengan Wakil Gubernur, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi NTB, Dr. KH. Zaidi Abdad juga berpesan kepada para pengasuh dan pengurus Ponpes di NTB, agar selalu memperhatikan penerapan protokol kesehatan di Ponpes masing-masing.

“Mencegah kemudharatan lebih kita utamakan daripada mencari kemaslahatan,” ungkapnya.

Kata Zaidi, bagi pondok-pondok pesantren,  yang ingin membuka kembali aktivitas pendidikan di pondoknya, harus mempersiapkan protokol kesehatan yang ketat. Seperti mempersiapkan ruang kesehatan, ruang isolasi dan mengurangi jumlah santri dalam kamar.

Pondok Pesantren juga harus tetap berkomunikasi dengan Gugus Tugas Covid-19 setempat.

AYA/HmsNTB