Munculnya berbagai masalah di masyarakat seperti berbagai tindakan kriminal dan memalukan adalah akibat dari kelakuan orang tidak terdidik. Masalah seperti korupsi, kolusi dan nepotisme masih saja terjadi di tengah semakin tingginya pendidikan warga negara Indonesia, mengapa demikian?
Orang Pintar Belum Tentu Terdidik
Banyak orang yang telah menempuh Pendidikan tinggi, hingga bergelar doctor atau bahkan professor, nyatanya belum tentu mampu mengubah kelakuan seseorang.
Mungkin sekolah tinggi di Indonesia telah berhasil menghasilkan orang-orang pintar namun tidak terdidik. Buktinya masih banyak penjahat yang bergelar sarjana bahkan professor yang harus mendekam di penjara.
Pola pendidikan formal di Indonesia memang hanya mengajarkan bidang keilmuan pengetahuan dan teknologi saja yang membuat orang semakin pintar. Namun sayangnya, dalam hal budi pekerti yang membuat orang menjadi terdidik tidak diajarkan. Dari situlah sebabnya mengapa orang pintar masih banyak yang melakukan tindakan memalukan seperti korupsi.
Mungkin memang hanya di Indonesia mantan narapidana korupsi masih bisa dijadikan pemimpin sebuah instansi. Hal ini bukankah seharusnya menjadi hal yang memalukan bagi semua pihak, padahal masih banyak orang yang terdidik di luar sana tapi tidak dipilih.
Revisi Sistem Pendidikan Formal Bisa Jadi Solusi
Jika sistem pendidikan formal di Indonesia segera di revisi dengan mementingkan proses tidak hanya hasil, akan mencetak orang-orang terdidik. Bagi orang yang terbiasa dididik dengan melihat hasil saja memang tidak akan mempedulikan bagaimana cara atau proses mendapatkannya. Tidak peduli cara benar atau tidak yang ditempuh yang penting hasilnya sesuai dengan yang diinginkan.
Di situlah letak kesalahan sistem di negeri ini, yang membiarkan anak didiknya menggunakan segala cara untuk memperoleh hasil yang ditargetkan. Padahal cara yang ditempuh seharusnya juga masuk ke dalam penilaian apakah caranya benar atau caranya salah. Dengan demikian artinya memperhatikan proses untuk memperoleh hasil yang diinginkan.
Impact dari sistem pendidikan yang mementingkan proses adalah lahir orang-orang pintar yang terdidik, bukan orang pintar yang sok pintar. Jika Indonesia mampu mengubah sistem pendidikannya menjadi seperti ini, maka bukan tidak mungkin jika Indonesia akan bersih dari korupsi.
Saatnya semua pihak berjuang dan mewujudkan Indonesia bersih dari korupsi melalui bidang pendidikan. Pendidikan bisa dimulai dari usia dini di rumah, orang tua di rumah harusnya juga berusaha menciptakan calon orang terdidik bukan hanya orang pintar.***
Arus Balik Idul Fitri di Masa Covid-19
SURYA LUSIANA SAFITRI, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Uniersitas Muhammadiyah Mataram
Pada tanggal 13 Mei 2021 semua ummat Islam di seluruh tanah air merayakan hari besar Islam yang jatuh pada tanggal 01 Syawal 1442 Hijriah. Tentunya, menjadi hikmah tersendiri bagi setiap ummat muslim untuk merayakannya bersama keluarga tercinta.
Dari berbagai daerah baik Mahasiswa/I atau pun pekerja akan kembali melakukan aktifitas kesehariannya setelah selesainya masa cuti perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Di Nusa Tenggara Barat (NTB) Seperti yang diketahui tentang pelarangan mudik yang tertuang dalam Surat Edaran Gubernur NTB Nomor 550/05/KUM/Tahun 2021 tentang penyelenggaran mudik hari raya Idul Fitri Tahun 1442 H dalam masa pandemi Corona Virus Disease 2019, dimana pelabuhan Kayangan dan Tano telah ditutup semenjak tanggal 8 Mei dan akan dibuka kembali pada tanggal 17 Mei 2021.
Rutinitas dan aktivitas seperti biasa akan segera dilakukan oleh semua lapisan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya, artinya arus mudik akan segera terjadi dari berbagai pulau di Indonesia yang akan mengakibatkan terjadinya keerumunan massa.
Khusus di Nusa Tenggara Barat (NTB) bila tidak diantisispasi dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten/Kota ataupun Provinsi akan berpotensi banyaknya pasien terpapar Covid-19. Jumlah akan semakin bertambah.
Berdasarkan data terakhir tanggal 15 Mei Covid-19 di NTB dalam Perawatan (1108), Sembuh (11151), dan Meninggal (599), Sumber: Dinas Kesehatan NTB.
Maka dari itu sekiranya Pemerintah perlu melakukan kolaborasi dengan tepat, aman dan nyaman untuk rakyatnya dalam melakukan mudik ke berbagai tempat agar tidak menimbulkan penambahan pasien yang Covid-19.
Sebaliknya, masyarakat haru pula menaati protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
BACA JUGA: Gelombang Kedua Covid-19 di India
Sebab ketika menjaga diri dari Covid-19, maka kita akan melindungi diri sendiri dan juga orang lain di sekitar kita.***
Bahasa Indonesia Mulai Terkikis
Zia Ulhaq, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Mataram
Bahasa Indonesia merupakan perwujudan atas kesadaran dan keunggulan yang dimiliki oleh bangsa yang bernama bangsa Indonesia.
Namun sayang, agaknya di era sekarang ini, kesadaran bangsa kita untuk terus membudayakan bahasa Indonesia di kehidupan sehari-hari mulai terkikis, alias dilupakan oleh penutur aslinya (rakyat Indonesia). Ironisnya, yang penulis lihat saat ini malah menunjukkan bahwa bahasa asing seringkali kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, meskipun tidak ada yang melarangnya.
Padahal kalau kita kembali pada hakikat dari sumpah pemuda yang sudah diikrarkan pada tanggal 28 Oktober tahun 1928 silam, pada kalimat ke-3 yang berbunyi “KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA” sudah menjadi titik terang bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan di Indonesia, negeri kita. Tetapi kini hakikat bahasa Indonesia sebagai persatuan antara bahasa Indonesia dengan kita seakan sudah tenggelam di lautan yang dalam.
Maka dari sinilah, penulis sangat “bersedih” ketika melihat nasib bahasa Indonesia di era sekarang ini. Alasan kesedihan penulist erdukung ketika penulis melihat di kehidupan sehari-hari, banyak kaum muda yang bangga menggunakan bahasa asing dibandingkan menggunakan bahasa kita sendiri.
Bahkan tidak hanya itu, banyak para elit-elit negeri ini yang lebih suka berbahasa asing “inggris” daripada berbahasa dengan menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Begitu juga media-media komersial yang ada di tanah air inijuga seringkali memberikan kita “suplai makanan” bahasa dengan istilah asing dari pada mencari khazanah bahasa negeri kita sendiri.
Kalau benar bahwa penggunaan bahasa Indonesia di negara Indonesia semakin hari semakin terkikis, maka memang benar sebuah teori yang disampaikan oleh Kloss, bahwa ada tipe utama kepunahan bahasa, salah satunya dikarenakan ada sebuah pergeseran Bahasa. Artinya, bahasa tersebut telah menyerah pada pertentangan budaya modern.
Mungkin saja bahasa Indonesia kini sudah mengalami pergeseran bahasa dengan budaya modern, karena bahasa adalah budaya. Artinya, bahasa Indonesia seakan sudah kalah dengan bahasa lain yang jauh lebih “modern” dari bahasa Indonesia. Maka seumpama kita berandai-andai saja, dimana para bapak bangsa kita yang telah memperjuangkan bahasa Indonesia masih hidup, saya sangat yakin mereka akan sangat kecewa dengan kondisi ini.
Jika dikatakan pergesaran bahasa tentu sangat dekat dengan kondisi sekarang ini, karena di era sekarang ini mau tidak mau percaturan budaya (bahasa) sangat luar biasa. Dan sangat memungkinan kalau bahasa Indonesia akan semakin mendekati kepunahan karena kalah dalam percaturan budaya.
Jika situasi ini terus berlanjut, maka jelas kebanggaan akan budaya (bahasa) sendiri akan tenggelam alias akan hilang dan musnah. Sebab kebudayaan dalam tulisan ini diwakili oleh bahasa.
Jika untuk mengamalkanya dalam berkehidupan saja, masyarakat Indonesia enggan atau bahkan malu menggunakan bahasa Indonesia, maka tak ayal lagi, kebudayaan (bahasa) Indonesia tak kira sudah semakin terkikis.
Memang tidak bisa di pungkiri, keberadaan negara maju dengan kemajuan globalisasi dan tren akan semakin membawa budaya bahasanya di tanah air kita. Namun jangan lantas masyarakat Indonesia terjebak atas globalisasi tersebut sebagai proyek meratakan bahasa.
Karena itu di era globalisasi ini bahasa Indonesia selain harus berkembang juga harus dilestarikan oleh kita. Melestarikan, Menjaga dan Mencintai Bahasa Indonesia Dari masalah diatas, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap melestarikan, Menjaga dan mencintai bahasa Indonesia sampai kapanpun.
Maka menurut Muhibah (2009) bangsa kita perlu kembali pada fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, karena fungsi itu akan menghasilkan dua hal yaitu:
Sikap kebanggaan bahasa; sikap bangga bahasa Indonesia akan muncul ketika ada perasaan yang mendukung bahwa Indonesia dapat mengungkapkan konsep rumit secara cermat dan isi hati yang sehalus-halusnya.
Sikap kesetiaan bahasa: sikap kesetiaan terhadap bahasa Indonesia terlihat ketika sesorang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia saat melakukan berbagai kegiatan dan komunikasi dengan antar golongan, dan bersedia untuk menjaga bahasa Indonesia agar tidak terpengaruh dengan bahasa asing secara berlebihan.
Dari sikap kedua tersebut apabila dari masing-masing individu mampu menerapkan hal tersebut, maka akan dengan mudah kita menjaga bahasa yang kita miliki dan akan terkurangi juga resiko kepunahan dan terkikisnya bahasa Indonesia.
Tetapi yang jelas pentingnya sebuah keutuhan bahasa Indonesia dan lestarinya bahasa Indonesia tidak mungkin lepas dari peran masyarakat Indonesia. Mengingat hal ini merupakan sebuah manajemen untuk tetap melastarikan bahasa Indonesia sampai kapan pun.
Mengakhiri tulisan ini, kita perlu merenungi bahwa terkikisnya bahasa Indonesia sekarang ini di sebabkan karena kita telah terhipnotis dengan budaya modern (bahasa asing). Kalau tidak segera disadarkan, takutnya ini menjadi ancaman bagi keberadaan bahasa Indonesia kedapanya.
Sehingga perlu pembenahan sejak dini untuk menanamkan rasa cinta terhadap bahasa resmi negara kita yaitu bahasa Indonesia.
Demikian pula sebuah perlindungan terhadap Bahasa Nasional dengan langkah menertibkan undang-undang bahasa juga sangat diperlukan sekali, agar generasi muda tidak semakin meninggalkan bahasa tanah airnya.
Semoga dengan tulisan ini (kita) seluruh masyarakat Indonesia kembali menggunakan bahasa Indonesisa dengan benar, dan semakin mencintai bahasa Indonesia. Karena kita dan bahasa Indonesia adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.***
Menyelamatkan Mata Air di KLU
Vihara Astinda bekerja sama dengan Pemerhati Lingkungan serahkan bantuan bibit tanaman
Menyelamatkan sumber mata air merupakan hal paling utama dalam kehidupan, karena itu penting menjaga dan memeliharanya, salah satunya dengan melakukan penanaman bibit tanaman.
Hal itu dikatakan Attasilani (Rohaniwan Buddha Perempuan) asal Dusun Lonang dan bertugas di Vihara
Attasilani saat di temui wartawan mengatakan, kegiatan sosial penanaman bibit tanaman untuk penyelamatan mata air ini, dipusatkan di halamam Vihara, halaman masyarakan dan di beberapa lokasi perlindungan sumber mata air di sekitar hutan Lenek.
Attasilani mengaku sudah beberapa kali melakukan kegiatan serupa bersama Organisai Astinda (Attasilani Therawada Indonesia).
Senada dengan itu, Bante (Rohaniawan buddha laki-laki) menambahkan, kegiatan penanaman ini penting untuk menjaga kelestarian lingkungan, termasuk perlindungan ketersediaan kebutuhan air untuk kehidupan semua mahluk, terangnya.
Ketersediaan bibit itu selain bantuan sukarela dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa dan UPT Sahbandar Pamenang, Opal KLU, dan UPT Danlanal Pamenang urunan secara swadaya.
Jenis bibit tanaman itu antara lain tanaman Beringin, Jati Putih dan Kenari yang peruntukannya untuk perlindungan mata air.
Selain itu juga tanaman lain yang bisa menjadi perlindungan mata air bibit tanaman buah buahan, seperti Kedondong, Durian, Lengkeng, Jambu biji, Rambutan dan Durian yang akan ditanam di halaman di beberapa Vihara, Lenek, Baru Murmas, Buani dan Kr. Lendang, serta pekarangan rumah warga sekitarnya.
Penanaman biit tanaman itu akan dilaksanakan pada hari Minggu (16/05/21) pagi sekitar pukul 08.30 Wita.
Ang
Pendidikan Daring di Masa Covid-19
Sefyandi, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Mataram
Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sudah lebih dari satu tahun terakhir ini, berdampak terhadap perubahan aktifitas belajar-mengajar.
Tak terkecuali di negeri ini, sejak priode Maret 2020 aktifitas pembelajaran dilakukan secara daring (online learning) menjadi sebuah pilihan dan keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 semakin meluas.
Praktik pendidikan secara daring (online learning) ini dilakukan oleh berbagai tingkatan jenjang pendidikan sejak tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Tidak ada lagi aktifitas pembelajaran di ruang-ruang kelas sebagaimana lazim dilakukan oleh tenaga pendidik: guru maupun dosen. Langkah yang tepat namun tanpa persiapan yang memadai.
Akibatnya banyak tenaga pendidik yang tidak siap menghadapi perubahan drastis ini. Sementara itu, tidak ada cara lain untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 selain dengan membatasi perkumpulan manusia dalam jumlah yang banyak.
Pemerintah pun membatasi perkumpulan, maksimal 30-40 orang. Itupun dengan mematuhi protokol kesehatan yang sangat ketat: penggunaan masker, menjaga jarak minimal 1,5 meter, mencuci tangan memakai sabun.
Hal ini didasarkan pada pendapat para ahli kesehatan di seluruh dunia setelah mereka melakukan riset atau penelitian bagaimana cara memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
Kegagapan pendidikan daring
Area sekolah, sebagai ruang belajar mengajar antara murid dengan guru, mahasiswa dengan dosen pun pada akhirnya dilarang melakukan kegiatan proses belajar mengajar secara langsung atau luring. Sebagai gantinya kegiatan proses belajar mengajar di lakukan secara daring.
Perubahan yang signifikan ini terjadi tanpa adanya persiapan yang memadai sebelumnya, akibatnya banyak tenaga pendidik yang tidak siap untuk menghadapi peruban tersebut. Hal ini pun diakui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.
Nadiem berpendapat, “kita harus jujur proses adaptasi ke online learning juga sangat sulit. Paling tidak masih ada pembelajaran terjadi daripada sama sekali tidak ada pembelajaran”.
Statemen pelipur lara, ketimbang langkah cepat menyiapkan infrastruktur.
Sayangnya hingga memasuki tahun ajaran baru ini pun belum nampak gerak revolusioner dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan maupun jajaran kementeriannya dalam menyiapi sarana-prasarana pembelajaran daring.***
Warige dan Jangger Sasak Jangan Dilupakan
Mi6 dan Publik Institut NTB khawatir, budaya seni Sasak masuki fase punah
Budaya Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat mulai seni tari, pewayangan, alat musik tradisional hingga sistem penanggalan atau kalender, dikhawatirkan memasuki fase kepunahan.
Lalu Athari, Hendra Kesumah, Bambang Mei dan Ahmad SH
Sebab beragamnya budaya Sasak tapi tidak diimbangi literasi khusus kebudayaan Sasak, maupun mempromosikan secara aktif jenis-jenis kesenian tradisional tersebut.
Ancaman kepunahan pun menjadi semakin nyata seiring perubahan zaman. Milenial semakin melupakan kebudayaan asal.
Era teknologi menyeret khazanah Sasak tergerus di ambang pintu kepunahan.
Lembaga Kajian Sosial dan Politik, Mi6 dan Publik Institut NTB , menyoroti tanggalan Sasak Warige yang sudah hampir tidak dikenal. Padahal, sistem penanggalan leluhur tersebut cukup berjaya tempo dulu.
Sistem kalender Sasak Warige merupakan penanggalan yang berdasarkan pengamatan peredaran bintang. Identik dengan bintang pleiades atau dalam bahasa Sasak disebut Bintang Rowot.
Bintang Pleiades atau Gugus Kartika adalah sebuah gugus bintang terbuka di rasi bintang Taurus. Gugus bintang tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang karena dekat dengan bumi.
Warige adalah penanggalan oleh masyarakat Sasak digunakan untuk menentukan hari baik dan buruk. Sehingga, untuk beraktivitas bertani, melaut maupun kegiatan kebudayaan dan keagamaan mengacu pada Warige.
Hal itu menjadi sorotan Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto didampingi Sekretaris Mi6, Lalu Athari Fathulah, Dewan Pendiri Mi6, Hendra Kesumah dan Direktur Publik Institut NTB, Ahmad SH
“Warige itu menjadi rujukan oleh masyarakat Sasak dalam menentukan waktu yang baik atau waktu yang tidak baik,” ujar pria yang akrab disapa Didu, Sabtu (15/05/21) dini hari di Mataram.
Didu mengatakan, zaman dulu tiap aktivitas masyarakat Sasak berpaku pada penanggalan Warige. Mulai dari bertani, melaut, acara budaya, acara hajatan atau yang berkaitan dengan keagamaan.
“Itu dulu. Tapi sekarang justru Warige mulai terlupakan. Bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan akan punah,” tuturnya.
Sekretaris Mi6, Lalu Athari menambahkan, tanggalan Warige saat ini justru hanya digunakan pada acara Bau Nyale. Itu karena sudah banyak orang mulai lupa dan tidak mengetahui menggunakan Warige.
“Dari generasi ke generasi, kebudayaan Sasak mulai dilupakan. Warige salah satunya,” ujarnya.
NTB sebagai daerah pariwisata membutuhkan kesenian dan budaya sebagai bagian dari atraksi pariwisata. Untuk itu, campur tangan pemerintah diharapkan mampu mempertahankan budaya dan kesenian Sasak.
“Jika pemerintah hanya fokus pada pariwisata semata, tanpa merawat penunjang pariwisata yang menjadi bagian atraksi seperti seni dan budaya, itu sama aja bohong,” tandas Lalu Athari.
Baik Mi6 maupun Publik Institut NTB melihat Seni tari Jangger Sasak juga mulai terlupakan.
Padahal, seni tari tersebut pada masanya selalu ramai digunakan saat acara hajatan baik pernikahan maupun sunatan.
Namun era saat ini, Jangger sudah mulai sepi peminat. Padahal, banyak nyawa bergantung hidup pada seni tari tersebut.
Direktur Publik Institut NTB, Ahmad SH menuturkan, saat ini generasi milenial yang tidak paham arti sesungguhnya Jangger.
Banyak orang yang hanya melihat Jangger adalah sebuah hiburan erotis yang menampilkan perempuan dengan lekuk tubuh seksi menari di hadapan banyak pria.
“Padahal tarian Jangger Sasak ini memiliki filosofis yang justru sebagai bukti perempuan Sasak mempertahankan kehormatan mereka,” tambahnya.
Setiap gerakan Jangger memiliki filosofis yang menandakan perjuangan perempuan menjaga kehormatannya.
Biasanya, saat perempuan menari, akan datang seorang laki-laki yang ikut menari. Terkadang tangan nakal lelaki itu berusaha menjamah tubuh si penari perempuan.
Dari sanalah Jangger akan mengeluarkan gerak tari mempertahankan kehormatannya. Dia memiliki gerakan menangkis tangan nakal lelaki.
Baju penari juga cukup tebal untuk melindungi dirinya. Sementara di kepala si penari terdapat perhiasan yang berbentuk tajam, yang akan mengarahkan kepada si penyawer pria saat posisi si Jangger tertekan.
Gerakan Jangger seperti silat yang bersiap menangkis serangan. Di tangannya juga memiliki kipas yang akan menghalau penyawer nakal.
“Bahkan, gerakan kaki si penari berbentuk kuda-kuda dalam posisi siap siaga. Itu semua memiliki filosofis bentuk perlawanan perempuan menjaga kehormatan,” tambah Dewan Pendiri Mi6, Hendra Kesumah.
Mi6 menyadari seni tari Jangger sudah mulai memasuki fase kepunahan. Itu karena peran pemerintah dinilai masih minim untuk terus mempertahankan budaya-budaya Sasak ini.
“Pemerintah kadang lupa, era modern yang membawa banyak teknologi dan industrialisasi, konsekuensinya tentu ada yang akan terlupakan. Yaitu seni-budaya tradisional kita. Itu juga akan tenggelam bersama kemajuan zaman jika tak terurus,” urai Hendra Kesumah.
Terkait adanya perubahan penari yang kerapkali berpenampilan seksi dalam seni tari tradisional maupun kontemporer Sasak, Ahmad SH melihat itu hanya soal kedewasaan masyarakat dalam menikmati seni.
“Tidak perlu dikaitkan dengan religi. Seni itu murni ekspresi, bicara soal estetika. Religi itu ranah etik, sementara seni ranah estetik dan tidak berurusan dengan moral,” jelasnya.
Kesenian memang bukan kitab suci yang akan kekal sepanjang masa. Sudah menjadi hukum alam bahwa seni punya hak untuk lahir, berkembang dan mati.
Namun, menjadi kewajiban kehadiran pemerintah untuk mempertahankan seni dan budaya tetap terus hidup.
“Jadi jangan hanya dibuat mabuk dengan modernisasi dan industrialisasi, tapi seni budaya sendiri dilakukan. Itu ibarat anak kota yang tak tahu kampung asal jika seni dan budaya dilupakan,” tutur Ahmad SH yang juga aktivis Lingkungan dan mantan pengurus teras di Walhi Nasional Jakarta.
Bupati Lombok Utara H Djohan Sjamsu SH menyampaikan momentum sholat Idul Fitri untuk mengajak bersyukur, lantaran rangkaian ibadah puasa ramadhan 1442 telah selesai dan terlalui dengan baik.
Bupati H Djohan Sjamsu
Hal itu dikatakannya saat Bupati Lombok Utara H Djohan Sjamsu SH melaksanakan sholat Id di Masjid Ikhwanul Muttaqien Gondang Kecamatan Gangga (13/05/21). Masjid tersebut terdampak gempa tahun 2018, hingga kini memang belum rampung.
“Dua hal yang harus dilakukan guna mengakhiri Ramadhan. Pertama, berdo’a. Mudahan semua dipanjangkan umurnya dan diberikan keafiatan agar nantinya dapat melaksanakan puasa ramadhan 1443 yang akan datang. Kedua, menyelenggarakan sholat idul fitri setelah sebulan berpuasa. Semoga pula, ibadah dan seluruh amalan kita diterima oleh Allah SWT,” tuturnya.
Bupati Djohan pada kesempatan tersebut memohon maaf secara pribadi, keluarga, maupun Pemerintah Daerah Lombok Utara, seraya menyampaikan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriah.
Dikatakannya pula dampak setelah gempa belum terselesaikan secara keseluruhan. Lebih dari 18 ribu rumah belum terselesaikan. Lombok Utara terdampak pula Covid-19.
Menurutnya, seluruh polong renten (saudara-saudara semua) menyatakan berikan kesempatan sebaik-baiknya, seikhlas-ikhlasnya kepada Pemerintah Daerah untuk mengurai dan menyelesaikan persoalan satu per satu, dengan dukungan masyarakat.
“Semua persoalan, kalau dilakukan upaya bersama-sama akan mampu diselesaikan. Untuk diketahui bahwa yang menentukan nasib dan kemajuan Lombok Utara ke depan adalah masyarakat itu sendiri. Di dalam alqur’an dinyatakan Tuhan tidak akan mengubah nasib satu bangsa/kaum, sebelum bangsa/kaum itu mengubah nasibnya sendiri,” tandasnya.
Menurutnya, Pemerintah Daerah tidak akan mampu menyelesaikan sendiri persoalan Lombok Utara yang pelik tersebut, tidak bisa sepenuhnya mampu, kecuali bersatu padu kompak bersatu membangun daerah.
“Jika ada keliru mestinya diingatkan. Saya akan samiq’na waato’na insya Allah. Untuk itu dukungan kita semua rentenku, masyarakatku di Lombok Utara ini, kita sama-sama bangun daerah ini menjadi daerah yang baldatun toyyibatun warobbun ghafur, dengan seadil-adilnya sebaik-baiknya. Kompak bersatu semua golongan membangun daerah,” urainya.
Khotib sekaligus Penghulu Desa Gondang, Saiful Wathon memaparkan meski dalam kondisi yang tidak biasa, dalam situasi Covid-19. Hari Raya Idul Fitri 1442, tidak mengurangi semangat masyarakat untuk hadir melaksanakan rangkaian sholat sebagai penyempurna ibadah puasa.
“Momentum Idul Fitri untuk meningkatkan kebaikan pada diri masing-masing dan kebaikan kita sinergikan untuk melahirkan amalan yang bermanfaat. Bagaimana ramadhan mendidik kita menjadi insan yang lebih baik,” imbuhnya.
Dikatakannya, ramadhan adalah semangat menanamkan nilai pada diri, baik nilai pengorbanan, keistiqomahan, kesabaran, ketaatan, kepedulian membangun dan berbagi karunia Allah SWT yang dilandasi iman dan amal.
Agar predikat insan muttaqien bisa diraih. Rangkaian acara Sholat Idul Fitri berjalan lancar khidmat dengan tetap mematuhi Prokes Covid-19.
Hadir saat itu, Staf Ahli Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Setda KLU Simparudin SH, Plt Kadis Dukcapil Tresnahadi SPt, Kapolsek Gangga IPTU Remanto SH, tokoh agama, tokoh masyarakat beserta jama’ah masjid mukimin Gondang Gangga.
wld
Gelombang Kedua Covid-19 di India
Amira Asmalayali, mahasiswa Program Studi Administrasi publik, Universitas Muhammadiyah Mataram
Covid-19 (SARS CoV – 2) atau yang lebih dikenal dengan sebutan virus corona, merupakan virus penyakit menular yang menyerang pernapasan pada manusia. Penyakit ini dapat menyebabkan gejala ringan pada sistem pernafasan dan infeksi pada paru paru hingga kematian.
Covid – 19 pertamakali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini dengan cepat menyebar, sehingga mengakibatkan kelumpuhan aktivitas sosial masyarakat di berbagai kota di China.
Virus ini dapat menjangkit berbagai kalangan usia mulai dari balita, remaja, orang dewasa, hingga para lansia. Menurut laporan, kasus Covid-19 ini banyak menjangkit orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga para lansia sangat rentan terinfeksi oleh virus ini.
Tidak hanya menjangkit berbagai kota di China, virus ini juga menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia, sehingga beberapa negara harus memberlakukan lockdown untuk menekan penyebaran virus.
Setelah 1 tahun lebih warga didunia berkutat dengan penyakit menular ini, perlahan-lahan kehidupan masyarakat mulai memasuki tahap new normal. Namun kekhawatiran akan virus ini terus menghantui, sehingga pemerintah harus memberlakukan kebijakan diantaranya pembatasan aktivitas fisik masyarakat.
Namun karena rendahnya kesadaran masyarakat akan virus ini membuat kasus terus kian bertambah. Salah satunya yang terjadi saat ini di India. India mencatat rekor dunia, dengan kasus penularan sebanyak 403.738 orang dalam waktu 2 hari.
Gelombang kedua penularan virus Covid-19 di India terjadi, membuat pemerintah india sangat kewalahan. Melalui Kementerian Kesehatan India mengumumkan 403.738 kasus penularan yang terjadi hanya dalam 2 hari.
Kasus penularan yang sudah perlahan lahan menurun, namun terhitung sejak Maret 2021 kasus penularan kembali melonjak secara signifikan.
Pelaksanaan protokol yang kurang baik dan dibukanya bioskop dan pasar pasar setelah kasus di India menurun dianggap menjadi penyebab, selain itu terdapat festival kegamaan dan pemilu juga yang dianggap sebagai pemicu gelombang kedua penularan virus corona.
Terhitung selama Bulan Maret – April terdapat dua event besar yaitu pemilu legislatif yang di laksanakan di 5 negara bagian, dan acara keagamaan yakni Festival Kumbi Mela.
Penurunan kasus di India menjadi indikator untuk tetap melaksanakan Festival Kumbh Mela, serangkaian ritual mandi suci di sungai gangga yang di lakukan setiap 12 tahun. Festival tersebut di laksanakan selama 1 bulan lebih. Menurut data ledakan kasus penularan Covid-19 terjadi sejak 31 Maret – 24 April yang mana bertepatan dengan pelaksanaan ritual keagamaan.
Pada akhir Maret, Uttarakhand mencatat 1.800-an kasus aktif COVID-19. Kurang dari sebulan kemudian, angkanya sudah mengudara jadi 33.330 kasus. Pemerintah memperkirakan 3,5 juta orang hadir pada upacara pada 12 April, sementara dua hari kemudian jumlahnya berkisar 1,35 juta orang.
Pemerintah India sangat kewalahan, di berbagai daerah dilaporkan banyak terjadi krisis pasokan oksigen dan ranjang perwawatan.
Selain itu masifnya lonjakan penularan virus ini juga memunculkan varian baru dari virus Covid-19 yaitu, varian COVID-19 B1617 yang ditemukan di India. Varian yang membawa sejumlah mutasi ini, disebut Strait Times sebagai “mutan ganda” lantaran memiliki dua mutasi utama pada protein virus yang berfungsi mengikat lebih banyak sel dan menyebabkan penularan.
Kini India harus membayar mahal akibat lengah saat pelandaian kasus terjadi. Masifnya lonjakan kasus membuat banyak pihak pesimistis. India saat ini berada dalam lorong gelap bencana COVID-19, yang hampir sulit menemukan jalan keluar.***
Aktivitas Manusia Yang Merusak Lingkungan
Husnul Khatimah, mahasiswa Program Studi Administrasi Pubik, Universitas Muhammadiyah Mataram
Ada dua hal yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan hidup, yaitu karena peristiwa alam dan aktivitas yang dilakukan manusia. Di awah ini dijbarkan beberapa poin yang menggambarkan aktivitas manusia yang dapat menimbulkan resiko tersebut, di antaranya adalah:
Penebangan Hutan (Deforestasi)
Aktivitas penggundulan hutan di Indonesia cukup tinggi. Dalam satu tahun, luas hutan yang mengalami deforestasi bisa mencapai 1,8 juta hektar. Jumlah ini setara dengan 21% dari 133 juta hektar hutan di Indonesia habis dibabat untuk kepentingan-kepentingan industri. Akibatnya, kelestarian flora dan fauna terancam, terjadi bencana alam, hingga penurunan kualitas udara bagi manusia.
Pencemaran Udara, Air, dan Tanah
Masalah polusi tidak hanya terjadi di Jakarta saja. Pencemaran dialami oleh hampir seluruh wilayah Indonesia, meski memang daerah ibu kota memiliki angka tertinggi, baik untuk pencemaran air, tanah, dan udara.
Penyebab dari pencemaran ini bermacam-macam, seperti sampah di sungai, limbah pabrik ke lepas pantai, asap dari pembakaran pabrik, dan masih banyak lagi.
Perburuan Liar
Aktivitas jual-beli hewan langka atau bagian tubuh hewan dapat merusak keseimbangan ekosistem. Akibatnya yang paling terasa adalah semakin langkanya hewan-hewan yang diburu secara liar dan organ tubuhnya diperdagangkan.
Organisasi sosial yang memberikan informasi dan analisis menganai status, tren, dan ancaman terhadapat spesies, dan mendorong mempercepat upaya konservasi, IUCN Redlist, menyampaikan keprihatinan. Sebab ada 76 spesies hewan Indonesia yang berstatus Critically Endangered, artinya kritis dan terancam punah.
Jika perdagangan ini dibiarkan begitu saja, maka hewan-hewan endemik Indonesia bisa hilang secara perlahan-lahan.
Yang dapat dan perlu kita lakukan adalah memperhatikan kelestarian lingkungan hidup tidak hanya bermanfaat bagi manusia, tetapi juga untuk hewan dan tumbuhan juga.
Apabila semuanya terjaga, maka keseimbangan kehidupan pun berjalan mengiringinya. Dengan begitu, sudah selayaknya bagi seluruh masyarakat Indonesia memperhatikan aktivitasnya agar tidak mengganggu kondisi lingkungan sekitar.***
Cerita Hidup Anak Rantau
Yuni Wahidah, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Mataram
Perginya seseorang dari asal dimana ia tumbuh besar ketanah rantauan untuk menjalani kehidupan baru dan mencari pengalaman baru, yang biasanya kita sebut dengan merantau ialah sebuah tindakan satu langkah lebih maju dibandingkan orang-orang yang menetap di daerahnya.
Perjuangan hidup di kota orang bukanlah sebuah tindakan yang dapat diambil oleh semua orang. Oleh karena itu tak sedikit dari mereka berbangga hati dengan julukan anak perantau.
Kamu siap pergi merantau maka dengan secara tidak langsung kamu siap mengambil risiko dengan tanggung jawab yang akan kamu pikul dengan sendirinya.
Memutuskan pilihan untuk keluar dari zona nyaman memang merupakan tantangan khusus untuk diri pribadi, akan tetapi untuk melalui hidup diperantauan akan mengajarkan kamu arti sesungguhnya bahwa hidup ini butuh tekad dan semangat yang kuat.
Susah dan senang akan kamu alami ketika kamu sudah pergi merantau di tanah orang dan akan ada banyak hal yang membuat kamu merasakan bahwa hidup ini sangat berarti. Kamu akan merasakan kesepian, kesendirian, kerinduan dan bahkan ketika semua itu tidak terbendung lagi maka kamu akan menangis.
Yang menjadi problematika utama orang perantau ialah kerinduan yang sangat mendalam yang dirasakannya. Bahkan ketika rindu itu sedang melanda dan ketika kamu tidak bisa bercerita kepada siapapun maka sedih yang teramat dalam akan kamu rasakan.
Sejujurnya kesedihan terberat yang ada di hati anak perantau adalah ketika jauh dari ibunya.
Namun di lubuk hatinya pula, anak rantau percaya bahwa orang yang akan dia bahagiakan selain ibunya adalah ayahnya. Karena tangis dan pengorbanan yang begitu besar yang telah dirasakan oleh anak perantau banyak dari mereka yang menjadikan ini sebagai pacuan untuk sukses dengan impian dan tujuan dasar ia merantau.
Menjadi seorang anak rantau, berjalan di negeri orang, tiada satupun saudara, hanya teman sebagai andalan, Begitulah nasib sebagian orang saat ini. khusunya saya.
Saya berjalan kesana kemari hanya untuk mencari setitik ilmu. Hanya bisa mengingat kata-kata terakhir orang tua yang memberikan motivasi untuk saya dalam membentuk Kesabaran dalam hati agar saya bisa menerima keadaan hidup di tanah perantauan.
Walau terkadang keadaan tidak seperti yang saya inginkan, tapi itulah yang harus saya lalui .
Orang tua dan saudara yang jauh di kampung, tidak akan tahu apa yang saya alami di rantau, Keluarga hanya tahu bahwa keadaan saya baik-baik saja,. Saya tidak selalu bergantung pada mereka” Saya tidak ingin terlena dengan kehidupan yang membuat jejak langkah ini terhenti”
Saya harus berjalan menemukan siapa saya, bagaimana saya bisa mempertahankan hidup walau dengan sesuap nasi.
Walau terkadang hati menangis karena nasib, namun sebenarnya tangisan hanya membuat lemah. Namun tangisan bisa hadir sebagai ungkapan suara hati. Entah bagaimana masa depan.
ini yang selalu saya membayangkannya setiap saat, Tapi biar semuanya berjalan menurut waktu. Karena apa yang ada didepan itulah yang harus saya hadapi. Entah esok atau lusa akan terjadi dalam hidup ini, Hanya Tuhan yang tahu semua ini.***
Sajak dariku….
Pengorbananku adalah tekadku
Langkahku adalah ikhtiarku
Impianku adalah cita-citaku
Kuyakin apa yang kugapai akan membahagiakanmu
Dan kuyakin kebahagian yang utuh akan kembali kelak kita bersatu