Desa Wisata, Pemberdayaan Masyarakat Desa untuk Percepat Pemulihan Ekonomi

Setelah diguncang musibah gempa bumi, Nusa Tenggara Barat (NTB) menginisiasi program 99 Desa Wisata untuk kebngkitan sektor priwisata, sekaligus pemulihan ekonomi masyarakat

MATARAM.lombokjournal.com ~ Desa wisata merupakan upaya mengoptimalkan potensi desa sebagai destinasi wisata.

Tentu saja, di dalam desa tersebut harus mempunyai daya tarik bagi wisata. Dan pemenuhan fasilitas penunjang, dan kemudahan wisatawan mengakses destinasi itu.

Desa Wisata

Kemudian, semua aset wisata itu disajikan menyatu dengan tata cara dan tradisi warga desa.

Memang, tantangan pengembangan desa wisata secara umum menyangkut aspek kesiapan sumber daya dan kesiapan kelembagaan pengelola destinasi wisata itu. Kemudian, pemenuhan fasilitas pendukung, hingga perluasan kemitraan yang mendukung keberadaan desa wisata itu.

Provinsi Nusa Tenggara Barat menginisiasi program unggulan 99 yang digagas sebagai  jalan keluar pemulihan ekonomi. Khususnya setelah NTB diguncang musibah gempa dan pandemi Covid-19, yang nyaris melumpuhkan semua sendi ekonomi masyarakat.

“Program unggulan 99 Desa Wisata sangat terasa karena sekarang pemulihan ekonomi itu dilakukan dengan pemberdayaan potensi masyarakat sendiri,” ujar Najamudin Amy di Hotel Astoria, Jumat (25/06).

Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik itu menyebutkan, dengan program itu itu berlangsung pemberdayaan usaha kecil menengah atau UKM/IKM dengan produk lokalnya.

Desa wisata
Njmuddin Amy

Demikian juga, progres pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Lombok Tengah, sebagai destinasi pariwisata super prioritas dengan agenda event internasional.

Seiring pengembangan KEK Mandalika sebagai tujuan wisata dunia, sekaligus mengembangkan Desa Wisata untuk mendukung kebangkitan pariwisata. Ini akan membangkitkan industri pariwisata sebagai sektor andalan NTB, yang mendatangkan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Sekretaris Dinas Pariwisata NTB, L Hasbul Wadi menyebut Desa Wisata saat ini dihajatkan tidak lagi menjadi alternatif wisata.

Pengembangan Desa Wisata dengan konsep pentahelix harus dikelola bersama oleh kabupaten/ kota, stakeholder terkait, perguruan tinggi, komunitas lokal dan dunia usaha.

Agar menghadirkan pariwisata berkualitas dari jumlah kunjungan dan lama tinggal wisatawan.

“Sampai tahun kedua (sejak dimulai program Desa Wisata) ada 41 Desa Wisata yang sudah ada dan 16 di tahun ketiga ini yang disiapkan dengan tata kelola yang baik,” ujar Wadi.

I Made Pari Wijaya, perwakilan ITDC, BUMN yang saat ini mengelola KEK Mandalika menambahkan, pengembangan kawasan Mandalika tidak hanya dilihat dari hasil akhirnya. Namun pengerjaan proyek bernilai triliunan itu menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar, dan secara umum masyarakat NTB.

“Terkait Desa Wisata ada tambahan dua hal selain aksesibilitas, keramahan dan atraksi tapi juga promosi. Dan masyarakat agar benar benar siap menjadi tuan rumah dengan memberikan rasa aman bagi wisatawan,” kata Pari Wijaya.

Sementara itu, General Manager Hotel Lombok Astoria, Saeno Kunto mengatakan, faktor keamanan dalam industri pariwisata sangat penting.

Ia menyebut, Lombok Astoria dapat bertahan di masa pandemi tidak dengan melakukan PHK karena dapat mengurangi keamanan dan kenyamanan.

Selain itu dalam mengemas produk, ia menekankan pada promosi by experience karena dengan pengalaman layanan yang baik, tamu akan mengulang kunjungannya.

“Pekerjaan rumah terbesar kita pelaku industri pariwisata adalah bagaimana menjadi tuan rumah yang baik dengan pengelolaan aksi dan aset yang benar”, ucap Kunto.

jm




Pasien Covid-19 di NTB, Jum’at, Bertambah 48 Positif

Di Nusa Tenggara Barat (NTB) jumlah pasien Covid-19 yang dinyatakan positif cenderung meningkat, melebih jumlah yng dinyatkan sembuh.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Dari pemeriksaan laboratorium pada 357 sampel, telah dikonfirmasi adanya tambahan pasien Covid-19, sebanyak 48 orang yang dinyatakan positif Covid-19 pada hari Jum’at tanggal 25 Juni 2021.

Pasien Covid-19

Update pasien Covid-9 itu disampaikan Sekretaris Daerah selaku Wakil Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si melalui press release pada media, Jum’at (25/06/21).

Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium PCR dan TCM RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Laboratorium PCR RS Unram, Laboratorium PCR STP Sumbawa, Laboratorium PCR RSUD Kota Mataram, Laboratorium PCR RSUD Selong, Laboratorium PCR RS Bhayangkara, Laboratorium PCR RSUD Praya, Laboratorium PCR RSAD Wirabhakti, dan Laboratorium Antigen.

Dijelaskan, hasil dari pemeriksaan sebanyak 357 sampel dengan 309 sampel negatif, tidak ada positif ulangan, dan 48 sampel kasus baru positif Covid-19.

Jumlah pasien yang positif Covid-19 pada hari Jum’at, jauh melebih pasien yang selesai isolasi dan dinyatakan sembuh.

“Hari ini terdapat 17 penambahan orang yang selesai isolasi dan sembuh dari Covid-19,” kata Lalu Gita melalui press releasenya.

Pada hari ini tidak terdapat penambahan kasus kematian baru.

Dengan tambahan 48 kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19, 17 tambahan sembuh baru, dan tidak ada kasus kematian baru, maka jumlah keseluruhan pasien yng diidentifikasi positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari Jum’at  (25/06/21) sebanyak 14.348 orang.

Rinciannya, sebanyak 13.133 orang sudah sembuh, 618 meninggal dunia, serta 597 orang masih positif, dan menjalani isolasi.

“Petugas kesehatan tetap melakukan Contact Tracing terhadap semua orang yang pernah kontak dengan yang terkonfirmasi positif,” kata Lalu Gita.

Hal itu dilakukn guna mencegah penularan dan melakukan deteksi dini penularan Covid-19.

Pasien Covid-19

Hingga press release ini dikeluarkan, jumlah Kasus Suspek sebanyak 20.647 orang dengan perincian 148 orang (0,7%) masih dalam isolasi, 31 orang (0,1%) masih berstatus probable, 20.496 orang (99,2%) sudah discarded.

Jumlah Kontak Erat yaitu orang yang kontak erat dengan pasien positif Covid-19 namun tanpa gejala sebanyak 91.220 orang, terdiri dari 2.674 orang (2,9%) masih dalam karantina dan 88.546 orang (97,1%) selesai karantina.

Sedangkan Pelaku Perjalanan yaitu orang yang pernah melakukan perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19 sebanyak 116.504 orang, yang masih menjalani karantina sebanyak 997 orang (0,9%), dan yang selesai menjalani masa karantina 14 hari sebanyak 115.507 orang (99,1%).

“Bagi penyintas Covid-19 (orang yang sembuh dari Covid-19) untuk ikut serta membantu saudara kita yang masih berjuang melawan Covid-19 dengan mendonorkan plasma darahnya (Donor Plasma Konvalesen) di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat,” harap Lalu Gita Ariadi.

Rr

Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id, serta layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemi Covid-19 NTB di nomor 0818 0211 8119.




Wirausaha Mahasiswa di Santong, Mengolah Sampah Plastik

Pengolahan sampah plastik yang dilakukan para mahasiswa ini selain merupakan aksi bersih desa dari sampah plastik, juga dimaksudkan membuka peluang wirausaha

SANTONG.lombokjournal.com ~ Ikatan Mahasiswa Desa Santong (IMDS) menginisiasi pengolahan sampah plastik, guna mengedukasi masyarakat pentingnya memilah sampah.

Pemilahan sampah organik dan non organik yang dilakukan dengan baik, akan memudahkan sampah tersebut didaur ulang dan bisa dimanfaatkan.

Pengolahan sampah plastik yang dilakukan akan dijadikan sebagai outlet biogas.

Habib Sulton, S.Pt salah satu penanggung jawab pengolahan sampah plastik itu menjelaskan, kegiatan pengolahan sampah plastik ini berguna untuk mengurangi limbah plastik yang kerap menjadi masalah lingkungan. Teruama dalam penanganan sampah plastik.

Pengolahan sampah plastik yang dilakukan juga menjadi salah satu upaya mahasiswa dari Santong membuka peluang kewirausahaan khususnya bagi anggota IMDS. Dan diharapkan juga menjadi sumber KAS bagi IMDS ke depan.

“Pengolahan sampah ini selain mengatasi persoalan limbah plastik, kami juga memanfaatkan sebagai sumber penghasilan bagi IMDS untuk menunjang program-program ke depannya,” kata Habib saat ditemui lombokjournal.com, Jum’at (25/06/21).

BACA JUGA: Ummi Rohmi Dorong Indutrialisasi Pengolahan Sampah

Limbah plastik kerap menjadi masalah kebersihan dan kesehatan lingkungan. Dan di Desa Santong secara umum masih banyak ditemukan berbagai jenis sampah dibuang sembarangan di sekitar pemukiman, termasuk di saluran-saluran pengairan pertanian, juga di sungai.

Menyikapi persoalan sampa plastik itu, IMDS bergerak melakukan pembagian karung/kantong sampah ke setiap rumah warga, guna mengumpulkan sampah plastik. Dengan demikian sampah plastik tidak dibuang sembarangan, dan bisa dimanfaatkan.

Habib menjelaskan, mahasiswa yang bergabung dalam IMDS akan mendatangi rumah warga untuk minta khusus sampah plastik. Akan disiapkan di tiap rumah warga persediaan kantong sampah/karung sebagai wadah pengumpulannya.

BACA JUGA: 

Kader Posyandu Insentifnya 100 Ribu Sebulan, Wagub Sindir Kades

“Kami akan membagikan karung ke setiap rumah warga dan meminta sampah plastik mereka agar tidak dibuang sembarang. Harapan kami, agar tidak ada lagi sampah plastik terbuang sembarang di desa Santong ini,” kata Habib.

Pengolahan sampah plastik yang dilakukan Ikatan Mahasiswa Desa Santong (IMDS) merupakan turunan dari salah satu program tahunan mereka yang berfokus kepada peningkatan kesadaran masyarakat desa Santong akan pentingnya menjaga lingkungan.

Selain itu kegiatan pengolahan sampah plastik ini juga  bisa menjadi bahan pertimbangan pihak Pemerintah Desa Santong sebagai solusi penanganan sampah di Desa Santong.

“Program ini sejalan dengan agenda kami yaitu Santong ACC (Aktif, Creative, dan Clean Up) yang diselenggarakan tiap tahun, untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gotong royong dalam melestarikan lingkungan,” ungkap Habib.

Han




Ummi Rohmi Dorong Industrialisasi Pengelolaan Sampah

Ummi Rohmi minta agar 40 Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) yang tersebar se-NTB, agar induatrialisasi di sektor pengelolaan sampah berjalan

GONDANG.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Hj Sitti Rohmi Jalillah menegaskan, sampah bisa menjadi sumber penunjang ekonomi.

“Buktikan kepada masyarakat bahwa sampah bisa jadi solar, pelet, bata, dan sumber penunjang ekonomi lainnya,” tutupnya.

Ummi Rohmi, sapaan akrab Wagub NTB, mengatakan itu saat melihat pengelolaan sampah oleh KSM remaja Peduli Lingkungan”REPELI” Desa Gondang Kec Gangga Kab Lombok Utara, Kamis (24/6/2021).

Karena itu, ia minta agar Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) merevitaliasi sebanyak 40 Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) yang tersebar se-NTB, agar induatrialisasi di sektor pengelolaan sampah berjalan.

BACA JUGA: Data Covid-19 Harus Sinkron dan Satu Pintu untuk Publikasi

TPS 3R merupakan pola pendekatan pengelolaan persampahan pada skala komunal atau kawasan. Ini melibatkan peran aktif pemerintah dan masyarakat, melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat.

“Keberadaan TPS3R dalam pengelolaan sampah dapat menjembatani masyarakat dengan bank sampah.” Kata Wagub,

Keberadaan TPS3R sangat efektif sebagai hilirisasi sampah dan pusat bank sampah. Apalagi banyak masyarakat yang mengeluh tempat pembuangan akhir sampah, yang sering tidak menampung volume sampah yang terus meningkat

Sebagai catatan, Kemenristek/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong ‘hilirisasi’ riset dan inovasi berbasis ekonomi sirkular yang rendah karbon. Konsep tersebut dapat mendukung upaya pelestarian lingkungan di Indonesia.

Menritek Bambang Brodjonegoro mengatakan, ekonomi sirkular berfokus pada penggunaan optimal dari sumber daya dalam aspek produksi hingga konsumsi.

Konsep itu dapat menjadi solusi atas masalah sampah serta untuk memenuhi kebutuhan energi berbahan dasar limbah. (Sumber: mediaindonesia.com) 

Wagub menjelaskan apa yang harus dilakukan UPT TPS3R.

“Tugas UPT TPS3R ini membangun konektifitas dengan desa, bank sampah, sehingga semua sampah organik maupun non organik dapat dikelola disini,” jelas Wagub Hj Rohmi di depan Kadis LHK.

Tunjukan kepada masyarakat, komitmen dan keseriusan pemerintah dalam mengatasi persoalan lingkungan dengan mengelolah sampah. Sehingga Zero Waste terwujud, tambahnya

Kepala Dinas DLH Provinsi NTB, Madani Mukarom menjelaskan bahwa sebanyak 40 TPS3R yang tersebar di Kabupaten/Kota se NTB akan segera dimaksimalkan.

“Sehingga dalam pengolahan sampah organik maupun non organik dapat ditanggulangi,” jelas Madani.

BACA JUGA: Islamic Center Adalah Warisan Luar Biasa Bagi Masyarakat NTB

Di KLU, tempat pengelolaan sampah ada 4 buah. Ada 3 yang telah ada dan 1 sedang penyelesain pembangunannya. Keberadaanya, 1 gondang, 1 jenggala, 1 Bayan dan 1 betek yang sedang dibangun.

edy

 




Kader Posyandu Insentifnya 100 ribu Sebulan, Wagub Sindir Kades

Meski mendapat insentif Rp.100 ribu/bulan, nmun Kader Posyandu di Lombok Utara tetp bekerj dengan iklas

MATARAM.lombokjournal.com ~ Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Keluarga di Kabupaten Lombok Utara, mendapat intensif sebesar Rp.100 ribu/bulan.

Hal itu diungkapkan salah seorang kader Posyandu di Kader Posyandu Keluarga Ida Apriana (33) asal Posyandu Mentari di Dusun Santong Barat Desa Santong, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Ia tidak berani mengeluh kepada Kepala Desa (Kades), kendati insentifnya hanya Rp. 100.000,- per bulan.

Selama 4 tahun, Ida bekerja sepenuh hati. Karena menurutnya, amal perbuatan yang baik akan dibalas di tempat lain. Kalau sarana di posyandunya lumayan memadai. Pelayanan juga maksimal terus bersama kader lain.

BACA JUGA: Pesan Wagub Saat Kunjungi Posyandu Keluarga di KLU

“Kami hanya terima intensif 100.000 per bulan, harapannya seperti ketentuan, 150.000 lah per bulan,” ujarnya. Sebab aturan yang telah dikeluarkan Gubernur NTB, paling minimal insentif kader Rp. 150.000/ bulan.

Ida menyampaikan curahan hatinya kepada Wakil Gubernur (Wagub) NTB Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd, yang sedang kunjungan kerja lapangan untuk meninjau perkembangan  Posyandu Keluarga, Kamis (24/06/21).

Kader Posyandu lain, Kalsum (35), lebih ‘makmur’ karena mendapat insentif lebih besar, Rp200.000/bulan.

“Menjadi kader posyandu ini, memang pekerjaan yang harus mengedepankan hati dan keihlasan,” ungkap Kalsum (35), salahsatu diantara 7 kader diposyandu keluarga Senumpeng Dusun Amor-Amor Desa Gumantar Puskesmas Kayangan Kabupaten Lombok Utara.

Mewakili rekan-rekannya, ibu 2 orang anak ini bercerita bahwa pilihannya menjadi kader posyandu adalah keinginan yang tulus.

Diakui ibu yang telah menjadi kader posyandu sejak 2012 ini, dengan intensif Rp. 200.000,- dirasa cukup. Kalau mengharap intensif besar dari Pemerinta DesA tidak mungkin. Maka ketulusanlah modalnya menjalani pekerjaan kemanusiaan ini.

“Kadang tidak kenal waktu, bahkan tengah malam pun kita bekerja. Misalnya mengantar ibu yang melahirkan ke puskemas,” ujarnya dengan nada semangat.

Bersama kader lain, ia tidak mengharap banyak kepada pemerintah. Cukup melengkapi sarana prasarana dan edukasi saja.

“Kami mohon dibantu dan didukung meja, kursi dan tempat agar nyaman kami bekerja,” ucapnya didepan Wagub Ummi Rohmi.

Termasuk pelatihan dan bimbimgan teknis untuk menjadi kader yang terampil dalam segala persoalan di desa. Sehingga bisa memberikan edukasi dan keyakinan yang pasti kepada masyarakat.

BACA JUGA: Posyandu Keluarga Indikator Sustainable Development Goals

Menjawab isi hati kader Posyandu Keluarga, Wagub NTB, Hj Sitti Rohmi tegas mengatakan, sinergi dan kolaborasi sangat dibutuhkan untuk membantu para kader.

Ia menjelaskan selama ini untuk sarana prasarana itu tugasnya Pemerintah Desa dan Kabupaten. Sedangkan bimbingan teknis dan peningkatan SDM serta regulasi Pemerintah Provinsi yang mengawalnya.

Wagub yng akrab disapa Ummi Rohmi menegaskan, agar kader yang telah diberikan pelatihan dan sertifikat jangan sembarangan diganti. Pemerintah Desa juga harus memperhatikan insentif para kader.

“Ingat bapak Kepala desa, jangan seenaknya gonta ganti kader, karena melatih mereka butuh biaya. Dan jangan intensifnya dibawah 150.000,” dingatkan Wagub di depan Kades.

Di akhir kunjungannya, mantan Ketua DPRD Kabupten Lombok Timur ini mengingatkan kader, walaupun ini pekerjaan yang butuh keihlasan, berikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.

“Jangan lupa pak Kades, perhatikan para kader posyadu keluarga,” tutupnya.

edy

@diskominfotik_ntb




Pasien Covid-19 di NTB, Kamis, Bertambah 16 Orang Positif

Jumlah pasien yang dinyatakan sembuh masih lebih banyak dari jumlah penambahan pasien Covid-19

MATARAM.lombokjournal.com ~ Dari pemeriksaan laboratorium di Nusa Tenggara Barat pada 35 sampel, telah dikonfirmasi adanya penambahan pasien Covid-19, sebanyak 16 orang positif Covid-19.

Pasien Covid-19

Update pasien Covid-19 itu disampaikan Sekretaris Daerah selaku Wakil Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si. melalui press release pada media, hari Kamis (24/06/21).

Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium PCR dan TCM RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Laboratorium PCR RS Unram, Laboratorium PCR STP Sumbawa, Laboratorium PCR RSUD Kota Mataram, Laboratorium PCR RSUD Selong, Laboratorium PCR Prodia, Laboratorium PCR RSUD Praya, Laboratorium PCR RSAD Wirabhakti, dan Laboratorium Antigen.

Hasilnya, dari pemeriksaan sebanyak 357 sampel dengan 341 sampel negatif, tidak ada positif ulangan, dan 16 sampel kasus baru positif Covid-19.

Hari Kamis ini jumlah pasien yang dinyatakan sembuh masih lebih banyak dari jumlah penambahan pasien Covid-19.

BACA JUGA: Kesehatan Keluarga Berkualitas Dengan Turut dan Aktif KB

“Hari ini terdapat 17 penambahan orang yang selesai isolasi dan sembuh dari Covid-19,” kata Lalu Gita Aryadi.

Dan hari ini pun tidak terdapat penambahan kasus kematian baru.

Dengan tambahan 16 kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19, 17 tambahan sembuh baru, dan tidak ada kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid19 di Provinsi NTB sampai hari Kamis (24/06/21) sebanyak 14.300 orang.

Rinciannya, sebanyak 13.116 orang sudah sembuh, 618 meninggal dunia, serta 566 orang masih positif.

Menurut Lalu Gita, petugas kesehatan tetap melakukan Contact Tracing terhadap semua orang yang pernah kontak dengan yang terkonfirmasi positif.

Hal itu dilakukan untuk mencegah penularan dan deteksi dini penularan Covid-19.

Pasien Covid-19

Hingga press release ini dikeluarkan, jumlah Kasus Suspek sebanyak 20.657 orang dengan perincian 136 orang (0,7%) masih dalam isolasi, 28 orang (0,1%) masih berstatus probable, 20.494 orang (99,2%) sudah discarded.

Jumlah Kontak Erat yaitu orang yang kontak erat dengan pasien positif Covid-19 namun tanpa gejala sebanyak 91.169 orang, terdiri dari 2.842 orang (3,1%) masih dalam karantina dan 88.327 orang (96,9%) selesai karantina.

BACA JUGA: Madu Trigona, Bakal Jadi Primadona Industrialisasi di Sumbawa

Sedangkan Pelaku Perjalanan yaitu orang yang pernah melakukan perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19 sebanyak 116.504 orang, yang masih menjalani karantina sebanyak 997 orang (0,9%), dan yang selesai menjalani masa karantina 14 hari sebanyak 115.507 orang (99,1%).

“Bagi penyintas Covid-19 (orang yang sembuh dari Covid-19) agar ikut serta membantu
saudara kita yang masih berjuang melawan Covid-19 dengan mendonorkan plasma darahnya (Donor Plasma Konvalesen) di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat,” harap Lalu Gita Aryadi.

Rr

Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id, serta layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemi Covid-19 NTB di nomor 0818 0211 8119. 




Pesan Wagub Saat Kunjungi Posyandu Keluarga di KLU

Selain mengingatkan agar lebih perhatikan pelaksanaan Posyandu Keluarga, Wagub menyampaikan pesan agar pihak Pemerintah Desa segera mendata warga miskin

SANTONG.lombokjournal.com ~  Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (Wagub NTB), Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., melakukan kunjungan ke lokasi Posyandu Keluarga di beberapa desa di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Kamis (24/05/21).

Pesan Wagub saat kunjungi Posyandu Keluarha di Santong

Kunjungan Wagub guna meninjau pelaksanaan Posyandu Keluarga di Lombok Utara.

Salah satu kunjungan Wagub Lombok Utara yaitu lokasi Posyandu Keluarga di Desa Santong, Kecamatan Kayangan.

Di Desa Santong Ummi Rohmi, panggilan akrab Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., membuka dialog dengan Pemerintah Desa, pihak tenaga kesehatan, dan masyarakat setempat.

Saat meninjau langsung kegiatan Posyandu Keluarga, Ummi Rohmi menyampaikan himbauan kepada pihak Pemerintah Desa, agar lebih memperhatikan pelaksanaan Posyandu Keluarga di tiap dusun.

BACA JUGA: Posyandu Keluarga, Indikator Suistainable Development Goal

Diungkapkan Wagub Ummi Rohmi, Posyandu Keluarga sangat penting untuk diperhatikan oleh semua kalangan masyarakat demi kemaslahatan bersama.

“Posyandu keluarga ini sangat penting, karena posyandu keluarga ini sebagai pusat edukasi berbasis dusun. Jika setiap dusun ada posyandu keluarga maka masyarakat bisa diberikan edukasi terkait kesehatan dan sosial, sesuai dengan masalah di dusun tersebut. Jadi masalah-masalah besar bisa teratasi dari waktu ke waktu,” kata Ummi Rohmi.

Saat itu Wagub menyampaikan pesan, agar pihak Pemerintah Desa Santong segera melakukan pendataan yang benar, agar warga miskin bisa mendapat pelayanan di bidang kesehatan.

Selain itu, Wagub juga ditekankan, agar anak-anak di Desa Santong tidak putus sekolah. Jika memang ada yang putus sekolah, Pemerintah Desa dihimbau menguahakan yang berangkutan ikut Kejar Paket untuk melanjutkan sekolahnya.

BACA JUGA: Madu Trigona, Bakal Jadi Ekowisata Baru di Pulau Sumbawa

Wagub berharap, Posyandu Keluarga bisa benar-benar dimanfaatkan sebagai tempat memberikan edukasi bagi masyarakat.

“Perkuat posyandu keluarga ini agar beberapa aspek bisa terkontrol secara perlahan. Jika posyandunya dijalankan dengan benar, tugas Pemerintah Desa juga akan banyak terbantu,” kata Rohmi.

Pada kesempatan itu juga mengigatkan, para kader yang mengurus Posyandu Keluarga harus benar-benar diperhatikan oleh pemerintah setempat demi terjaganya kualitas pelaksanaan Posyandu Keluarga.

Kader-kader yang sudah ditugaskan harus yang memang sudah memiliki sertifikat dari provinsi, dan tidak boleh sering berganti meski pemerintahan berganti.

“Kader itu sekarang ada sertifikat langsung dari provinsi, jadi tidak boleh digonta ganti sembarang, agar kualitas kader tetap yang terlatih,” Ummi Rohmi.

Han




Bahaya HIV/AIDS Menjadi Musuh Bersama

Bahaya HIV/AIDS harus menjadi musuh bersama (common enemy), karena itu upaya mencegah penularannya membutuhkan sinergi semua lini

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara (KLU) melalui Unit Pelaksana Teknis Badan Layanan Umum Daerah (UPT BLUD) Puskesmas Gangga menyelenggarakan sosialisasi bahaya penyakit HIV/AIDS di Balai Desa Sambik Bangkol (Samba), Rabu (23/06/21).

Sosialisasi diikuti oleh 25 peserta terdiri dari perwakilan setiap dusun, staf desa, perangkat kewilayahan, dan para kader desa dengan narasumber dari Bidang Penyakit Menular Dinas Kesehatan KLU, Sabri, SKM.

“Kegiatan sosialisasi ini salah satu bentuk perhatian dan kepedulian BLUD Puskesmas Gangga dalam menyelamatkan masyarakat dan generasi kita dari bahaya penyakit mematikan ini,” ujar Penjabat (Pj) Kepala Desa Sarjono, S.I.Kom membuka sosialisasi.

BACA JUGA:

Bima dan BPOLBF Perkuat Percepatan Pembangunan Pariwisata 

Menurutnya, bahaya HIV/AIDS harus menjadi musuh bersama (common enemy) semua pihak. Upaya untuk mencegah penularannya membutuhkan sinergi semua lini.

Dikatakan, penyebaran kasus HIV/AIDS laksana fenomena gunung es. Hanya sedikit saja yang nampak di zona permukaan, lainnya tidak terdeteksi. Hal ini menandakan kasus rill bisa mencapai 2 kali lipat dari apa yang terdata.

“HIV/AIDS betul-betul ancaman bagi generasi di masa depan. Usia produktif dengan rentang usia 15-24 tahun adalah usia yang rentan terkena penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia ini,” tutur Kasubbag Humas pada Bagian Humas dan Protokol Setda KLU tersebut.

HIV dan AIDS sulit diketahui dan diobati lantaran sulit dicegah dan dideteksi, penyakit yang baru bisa diketahui dalam waktu puluhan tahun. Upaya pencegahan sedini mungkin harus dimulai dari lingkungan keluarga.

“Memastikan anak-anak atau anggota keluarga kita terlebih dahulu atau memastikan mereka jauh dari penyakit masyarakat,” tegasnya.

Dipaparkan pula diantara sarana penularannya yaitu hubungan seksual di luar nikah atau hubungan seks yang dilarang norma-norma kehidupan.

Untuk menghindarinya, maka kehidupan sehari-hari perlu diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan masyarakat.

Peserta sosialisasi diimbau sungguh-sungguh, agar materi yang disampaikan narasumber dapat diresapi secara seksama.

BACA JUGA: Pengelolaan Sampah Harus Berkelanjutan

“Itulah nanti yang harus diindahkan dan patuhi dalam kehidupan sehari-hari,” imbaunya.

Ia berharap usai sosialisasi para peserta dapat menjadi pioner atau motor penggerak pencegahan penyakit HIV/AIDS di lingkungan masing-masing.

“Lebih baik mencegah daripada mengobati, lebih baik antisipasi daripada mitigasi, dan lebih baik mitigasi daripada evakuasi. Mari kita wujudkan hidup sehat dan aman untuk masa depan yang lebih sejahtera,” kata Sarjono.

Narasumber sosialisasi, Sabri, SKM dalam paparan materinya menyebutkan ada 3 penyakit menular, yaitu HIV, TBC, dan kusta. Ketiga penyakit itulah yang menular dan masih ada hingga sekarang.

Dijelaskan, HIV merupakan virus yang merusak kekebalan tubuh. Selain HIV, Covid-19 termasuk penyakit disebabkan oleh virus.

“Semua penyakit yang disebabkan oleh virus belum ada obatnya, yang ada itu adalah anti bodi zat kekebalan tubuh,” terangnya.

Sasaran penyakit HIV itu menyerang kekebalan tubuh manusia, sementara AIDS termasuk rentetan dari HIV jika sudah kronis.

“Virus HIV ini bersarangnya di dalam tubuh, terutama dalam cairan tubuh kita. Ada 4 macam cairan dalam tubuh kita yaitu cairan mani, cairan vagina, darah dan ASI. Dan yang sudah terbukti tempat bersarangnya virus adalah di 4 tempat ini. Dan yang paling berbahaya adalah darah karena kuman itu langsung masuk ke darah,” jelasnya.

Disampaikan pula, HIV tidak serta merta langsung menyerang, tapi 5 sampai 10 tahun baru terdeteksi dampaknya. Misalnya studium tiga dengan gejala muncul benjolan-benjolan, sementara stadium empat sudah tidak bisa diobati.

“Penyakit ini disebabkan seks bebas. Sejarahnya pertama masuk di Indonesia pada tahun 1978, ada di Bali dan Jakarta. Di KLU yang sedang melakukan pengobatan ada 32 orang menyebar di semua kecamatan,” tutur Sabri.

Kata dia, di Indonesia sendiri penyakit AIDS paling banyak di Papua dan NTT. HIV penyakit yang eksklusif sehingga penderitanya tidak boleh dipublikasi.

Sabri juga mengingatkan pihak yang seringkali membawa kuman adalah perempuan. Berdasarkan data Dikes KLU rata-rata perempuan. Penularan juga bisa lewat transfusi darah, kontak seksual, dan plasenta.

“Dan yang paling bahaya itu seks lelaki dengan lelaki. Begitu pula air susu ibu dan jarum suntik mengakibatkan penularan. HIV ini beda dengan Covid, karena penularannya berbeda,” ujar Sabri.

@ng




Pasien Covid-19 di NTB, Rabu, Bertambah 15 Orang Positif

Jumlah pasien positif Covid-19 sedikit berkurang, meski ada penambahan namun jumlah yang sembuh lebih banyak

MATARAM.lombokjournal.com ~ Dari pemeriksaan laboratorium pada 356 sampel, telah dikonfirmasi tambahan pasien Covid-19 sebanyak 15 orang positif.

Pasien Covid-19

Update pasien Covid-19 itu disampaikan Sekretaris Daerah selaku Wakil Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. H. Lalu Gita Ariadi M.Si. melalui press release pada media, Rabu (23/06/21).

Pemeriksaan sampel itu dilakukan di Laboratorium PCR dan TCM RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Laboratorium PCR RS Unram, Laboratorium PCR STP Sumbawa, Laboratorium PCR RSUD Kota Mataram, Laboratorium PCR RSUD Selong, Laboratorium PCR Prodia, Laboratorium PCR RSUD Praya, Laboratorium PCR RSAD Wirabhakti, dan Laboratorium Antigen.

Hasil pemeriksaan dari 356 sampel dengan 341 sampel negatif, tidak ada positif ulangan, dan 15 sampel kasus baru positif Covid-19.

BACA JUGA:

Dasa Wisma Digalakkan Guna Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi

Meski ada penambahan 15 kasus baru positif Covid-19, namun dengan 21 penambahan orang yang selesai isolasi dan dinyatakan sembuh dari Covid-19, maka jumlah pasien positif hari Rabu di NTB sedikit berkurang.

Hari ini juga tidak terdapat penambahan kasus kematian baru.

Dengan tambahan 15 kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19, 21 tambahan sembuh baru, dan tidak ada kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid19 di Provinsi NTB sampai hari Rabu (23/06/21) sebanyak 14.284 orang,

Rinciannya, 13.099 orang sudah sembuh, 618 meninggal dunia, serta 567 orang masih positif.

“Petugas kesehatan tetap melakukan Contact Tracing terhadap semua orang yang pernah kontak dengan yang terkonfirmasi positif,” kata Lalu Gita Aryadi melalui press releasenya.

Hal itu dilakukan guna mencegah penularan dan deteksi dini penularan Covid-19.

Hingga press release ini dikeluarkan, jumlah Kasus Suspek sebanyak 20.645 orang dengan perincian 126 orang (0,6%) masih dalam isolasi, 30 orang (0,1%) masih berstatus probable, 20.489 orang (99,2%) sudah discarded.

BACA JUGA:

Shalat Idhul Adha dan Pelaksanaan Qurban, Ini Isi Edaran Menag

Jumlah Kontak Erat yaitu orang yang kontak erat dengan pasien positif Covid-19 namun tanpa gejala sebanyak 91.099 orang, terdiri dari 2.855 orang (3,1%) masih dalam karantina dan 88.244 orang (96,9%) selesai karantina.

Sedangkan Pelaku Perjalanan yaitu orang yang pernah melakukan perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19 sebanyak 116.504 orang, yang masih menjalani karantina sebanyak 1.020 orang (0,9%), dan yang selesai menjalani masa karantina 14 hari sebanyak 115.484 orang (99,1%).

“Diharapkan bagi penyintas Covid-19 (orang yang sembuh dari Covid-19) untuk ikut serta membantu saudara kita yang masih berjuang melawan Covid-19 dengan mendonorkan plasma darahnya (Donor Plasma Konvalesen) di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat,” kata Lalu Gita Ariadi.

Rr

Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id, serta layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemi Covid-19 NTB di nomor 0818 0211 8119.




Shalat Idul Adha dan Pelaksanaan Qurban, Ini Edaran Menag

Di tengah pandemi Covid-19, perlu penerapan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan Shalat Idul Adha dan pelaksanaan qurban 1442 H

JAKARTA.lombokjournal.com ~ Dalam penyelenggaraan Salat Idul Adha 1442 H/2021 M dan pelaksanaan qurban di masa pandemi Covid-19, Kementerian Agama menerbitkan Surat Edaran (SE), Rabu (23/06/21).

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, SE. 15 Tahun 2021 tentang penerapan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan Shalat Idul Adha 1442 H/2021 M dan pelaksanaan qurban di masa pandemi Covid-19, untuk memberi rasa aman umat Islam.

“Untuk memberi rasaa aman kepada umat Islam di tengah pandemi Covid-19 yang belum terkendali dan munculnya varian baru, perlu dilakukan penerapan protokol kesehatan secara ketat dalam penyelenggaraan Salat Idul Adha dan pelaksanaan qurban 1442 H,” terang Menag Yaqut Cholil Qoumas seperti dikutip dalam laman Kemenag.go.id, Rabu (23/6).

BACA JUGA: Museum NTB Harus Indah dan Nyaman, Agar Pengunjung Betah

Menurut Menag, edaran ini dimaksudkan sebagai panduan dalam upaya pencegahan, pengendalian, dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 pada semua zona risiko penyebaran Covid- 19.

“Ini diterapkan dalam rangka melindungi masyarakat,” jelas Menag Yaqut Cholil Qoumas.

Edaran ini ditujukan kepada jajaran Ditjen Bimas Islam, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi, Kepala Kankemenag Kab/Kota, Kepala KUA Kecamatan, pimpinan Ormas Islam, pengurus masjid dan musala, panitia peringatan hari besar Islam, serta masyarakat muslim di seluruh Indonesia.

Dikatakan Menag, pejabat Kementerian Agama di tingkat pusat melakukan pemantauan pelaksanaan Surat Edaran ini secara hierarkis melalui instansi vertikal yang ada di bawahnya.

BACA JUGA: Inovasi Pengelolaan Sampah Harus Berkelanjutan

Berikut ketentuan edaran SE. 15 tahun 2021 tentang Penerapan Protokol Kesehatan dalam Penyelenggaraan Shalat Hari Raya Idul Adha dan Pelaksanaan Qurban Tahun 1442 H/2021 M:

1. Malam Takbiran menyambut Hari Raya Iduladha pada prinsipnya dapat dilaksanakan di semua masjid/mushala, dengan ketentuan
sebagai berikut:

  • Dilaksanakan secara terbatas, paling banyak 10% dari kapasitas masjid/musala, dengan memperhatikan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat, seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.
  • Kegiatan Takbir Keliling dilarang untuk mengantisipasi keramaian atau kerumunan.
  • Kegiatan Takbiran dapat disiarkan secara virtual dari masjid/ musala sesuai ketersediaan perangkat telekomunikasi di masjid/musala.

2. Salat Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1442 H/2021 M di lapangan terbuka atau di masjid/musala pada daerah Zona Merah dan Oranye ditiadakan;

3. Salat Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijah 1442 H/2021 M dapat diadakan di lapangan terbuka atau di masjid/musala hanya di daerah yang dinyatakan aman dari Covid-19 atau di luar zona merah dan oranye, berdasarkan penetapan pemerintah daerah dan
Satuan Tugas Penanganan Covid-19 setempat;

4. Dalam hal Salat Hari Raya Idul Adha dilaksanakan di lapangan terbuka atau di masjid, sebagaimana dimaksud pada angka 3, wajib menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat, dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Salat Hari Raya Idul Adha dilaksanakan sesuai dengan rukun
    salat dan penyampaian Khutbah Idul Adha secara singkat, paling lama 15 menit.
  • Jemaah Salat Hari Raya Idul Adha yang hadir paling banyak 50% dari kapasitas tempat agar memungkinkan untuk menjaga jarak antarshaf dan antarjemaah;
  • Panitia Salat Hari Raya Idul Adha diwajibkan menggunakan alat
    pengecek suhu tubuh dalam rangka memastikan kondisi sehat jemaah yang hadir;
  • Bagi lanjut usia atau orang dalam kondisi kurang sehat, baru
    sembuh dari sakit atau dari perjalanan, dilarang mengikuti Salat Hari Raya Idul Adha di lapangan terbuka atau masjid/musala;
  • Seluruh jemaah agar tetap memakai masker dan menjaga jarak selama pelaksanaan Salat Hari Raya IduI Adha sampai selesai;
  • Setiap jemaah membawa perlengkapan salat masing-masing, seperti sajadah, mukena, dan lain-lain.
  • Khatib diharuskan menggunakan masker dan faceshield pada saat menyampaikan khutbah Salat Hari Raya Idul Adha;
  • Seusai pelaksanaan Salat Hari Raya Idul Adha, jemaah kembali ke rumah masing-masing dengan tertib dan menghindari berjabat tangan dengan bersentuhan secara fisik.

5. Pelaksanaan qurban agar memerhatikan ketentuan sebagai berikut:

  • Penyembelihan hewan qurban berlangsung dalam waktu tiga hari,
    tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah untuk menghindari kerumunan warga di lokasi pelaksanaan qurban.
  • Pemotongan hewan qurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan Ruminasia (RPH-R). Dalam hal keterbatasan jumlah dan kapasitas RPH-R pemotongan
    hewan qurban dapat dilakukan di luar RPH-R dengan protokol kesehatan yang ketat.
  • Kegiatan penyembelihan, pengulitan, pencacahan daging, dan pendistribusian daging qurban kepada warga masyarakat yang berhak menerima, wajib memerhatikan penerapan protokol kesehatan secara ketat, seperti penggunaan alat tidak boleh secara bergantian.
  • Kegiatan pemotongan hewan qurban hanya boleh dilakukan oleh panitia pemotongan hewan qurban dan disaksikan oleh orang yang berkurban.
  • Pendistribusian daging qurban dilakukan langsung oleh panitia kepada warga di ternpat tinggal masing-masing dengan meminimalkan kontak fisik satu sama lain.

6. Panitia Hari Besar Islam/Panitia Salat Hari Raya Idul Adha sebelum menggelar Salat Hari Raya Iduladha di lapangan terbuka atau masjid/musala wajib berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan unsur keamanan setempat untuk mengetahui informasi status zonasi dan menyiapkan tenaga pengawas agar standar protokol kesehatan Covid-19 dijalankan dengan baik, aman, dan terkendali;

7. Dalam hal terjadi perkembangan ekstrim Covid-19, seperti terdapat peningkatan yang signifikan angka positif Covid-19, adanya mutasi varian baru Covid-19 di suatu daerah, pelaksanaan Surat Edaran ini disesuaikan dengan kondisi setempat. Rr/Kemenag.go.id