Gubernur Bersama KASAD Tanam Pohon dan Tinjau Sirkuit Mandalika
Selain menanam Mangrove dan bagi-bagi sembagi, KASAD didampingi Gubernur NTB juga meninjau Sirkuit Mandalika
MANDALIKA.lombokjournal.com ~ Penanaman pohon Mangrove dan pemberian paket sembako untuk warga sekitar lingkar Mandalika dilakukan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Jenderal TNI Dudung Abdurahman, Selasa (22/02/22) di Desa Mertak, Kecamatan Pujut Loteng.
Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah ikut mendampingi Jenderal Dudung dalam penanaman Mangrove tersebut.
“Selain penanaman pohon dan pemberian sembako, kami berkeliling bersama Pak Kasad, melihat pembangunan dan lintasan sirkuit Mandalika, jelang MotoGP,” kata Gubernur Zul, yang turut didampingi oleh Sari Komisi III DPR RI.
Sirkuit Mandalika membawa multiplier effect untuk kebangkitan pariwisata NTB Indonesia dan geliat sektor ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Jenderal TNI Dudung Abdurahman, mengatakan, kunjungan kerjanya ke Mandalika untuk melihat pengerjaan sirkuit Mandalika, sebagai program prioritas strategis pemerintah.
“Kami ingin melihat langsung sejauh mana peran dan keterlibatan TNI AD, yaitu jajaran Korem 162/WB terhadap mensukseskan pembangunan sirkuit Mandalika dan program-program pemerintah di provinsi NTB,” kata Jenderal Dudung.
Termasuk kelanjutan program penghijauan yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo beberapa bulan yang lalu.
Adanya sirkuit ini, akan memunculkan banyak event dan kegiatan lain di Mandalika, sehingga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat di Mandalika dan NTB pada umumnya.
“Intinya TNI AD mendukung sepenuhnya proses pembangunan di Mandalika, sehingga cepat selesai. Karena sirkuit bertaraf internasional ini merupakan kebanggaan bagi bangsa Indonesia,” tutupnya.
Selain itu Gubernur Zul bersama KASAD, Pangdam, Danrem, Polda dan jajaran TNI AD sempat melihat langsung progres pembangunan di Bukit 360 Sirkuit Mandalika, dan dilanjutkan kegiatan Penanaman Pohon Kenangan atau Pohon Pule.
Kemudian dilanjutkan dengan meninjau Race Control, mengelilingi Sirkuit, meninjau Observation Deck atau bukit Jokowi dan ditutup dengan Makan Siang di Royal Box.
Usai kegiatan di Mandalika, Gubernur Doktor Zul, mengantarkan kepulangan KASAD menuju kembali ke Jakarta di bandara Bizam. ***
PWI NTB Rapat Seleksi Calon Atlet Porwanas
Pengurus PWI Kabupaten/Kota se NTB rapat perekrutan atlet yang akan mengikuti Pekan Olahraga Wartawan Nasional (PORWANAS) di Malang, Jawa Timur
MATARAM.lombokjournal.com ~ Jelang pelaksanaan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (PORWANAS) XIII yang dijadwalkan bulan Oktober 2021 di Malang, Jawa Timur, segenap perwakilan pengurus PWI Kabupaten/Kota Se Nusa Tenggara Barat menghadiri rapat persiapan perekrutan atlet yang akan mengikuti 11 Cabang Olahraga (Cabor).
Rapat yang dirangkaikan dengan syukuran telah berlangsungnya pelaksanaan Hari Pers Nasional HPN yang dipusatkan di Kendari baru baru ini, PWI NTB juga melaksanakan kegiatan di daerah.
Kegiatan yang dimaksud yaitu pelepasan 100 ribu bibit ikan, bersama Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis (FWE) NTN menebar 100 ribu benih ikan di sejumlah sungai dan bendungan di Pulau Lombok.
“Inilah bentuk kebaikan yang bisa dilakukan wartawan,” kata Ketua PWI NTB,Nasrudin.
Dia mengatakan, penebaran benih ikan yang merupakan rangkaian peringatan HPN 2022 di NTB ini membuktikan wartawan tidak hanya terbiasa menulis berita.
Tetapi mengetahui cara mengaplikasikan apa yang ditulis di tengah masyarakat.
Masih dalam HPN, pada persiapan PORWANAS Oktober 2022 kali ini, H Nasrudin selaku Ketua PWI NTB membentuk Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI NTB akan menggelar seleksi atlet dari kalangan jurnalis di seluruh Kabupaten/Kota, di Jalik-Rumbuk Mataram Rabu (23/02/22).
“Setiap cabor kita seleksi dan itu dilakukan oleh masing-masing koordinator cabang dan hasilnya langsung kita lakukan pemusatan latihan,” ungkap Ketua SIWO PWI NTB, kepada awak media, yang hadir di lokasi kegiatan (Kedai Dewan Penasehat PWI, Ir H Sukisman Azmy yang sekaligus merupakan Anggota DPD RI Dapil NTB).
H Nasrudin menegaskan, wartawan yang ikut seleksi harus mengantongi dua persyaratan wajib, yaitu harus memiliki Kartu Biru PWI dan Kartu Kompetensi dari Dewan Pers.
“Apabila tidak punya mohon maaf tidak bisa ikut dan bagi yang masa berlakunya habis segera diurus dan diaktifkan sebelum kegiatan seleksi,” tegasnya.
“Soal batasan usia belum dapat info pastinya, tapi yang jelas kita ikut sebelas cabor yang direncanakan termasuk Renang,” tambah H Nasrudin.
Sementara Dewan Penasehat PWI NTB, Ir H. Sukisman, H Sukisman Azmy
“Jangan sampai sudah lolos seleksi, tapi kartunya belum terbit. Jadi percuma saja tidak bisa tanding juga,” ungkap jurnalis senior ini.
H Sukisman mengakui, pada PORWANAS terdahulu, atlet Wartawan NTB cukup diperhitungkan. Dikatakannya, untuk Porwanas, PWI bersama SIWO PWI NTB juga terus mempersiapkan diri.
Beberapa Cabang Olahraga (Cabor) yang akan mereka ikut sama seperti Porwanas sebelumnya. Beberapa cabor telah dipersiapkan untuk mengikuti ajang tersebut di antaranya bulu tangkis, catur, dan futsal.
“Jadwal kegiatan Porwanas seyogyanya dilaksanakan tahun 2020 lalu, hanya saja karena pandemic jadwalnya diundur hingga Oktober tahun ini. Kita berharap pada bulan September nanti wabah Covid-19 sudah bisa diatasi dan,” ungkap Sukusman.
Lebih jauh Ketua PWI NTB menambahkan, pihaknya sendiri juga membutuhkan support dari Pemerintah Daerah (Pemda) terkait akan diikutinya Porwanas oleh kontingen SIWO PWI Provinsi NTB. Perihal tersebut sejauh ini pihaknya sudah menyampaikan usulan kebutuhan anggaran biaya untuk keberangkatan tim kepada Pemda Provinsi.
“Kebutuhan sudah kita usulkan dan mudah-mudahan sudah masuk dalam anggaran pemerintah daerah. Harapan kita, dalam Porwanas nanti tim yang kita berangkatkan mampu meraih prestasi lebih baik dari Porwanas yang diikuti sebelumnya,” pungkasnya. ***
Wayang Sasak, Lalu Nasib; Tontonan dan Tuntunan Masyarakat
Seni tradisi Wayang sangat digemari di masyarakat Sasak, salah satunya karena kepiawaian dalang Lalu Nasib yang menjadikan wayang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lalu Nasib sukses menyesuaikan pertunjukan wayangnya dengan situasi terkini Ini wawancara Nanik I Taufan, yang menggali sisi lain dalang berusia lebih 72 tahun tapi tetap bersemangat itu
MATARAM.lombokjournal.com ~ Lalu Nasib, dalang Wayang Sasak, namanya tersohor hingga ke pelosok desa di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya di Pulau Lombok.
Kiprahnya sebagai seorang dalang terbilang fenomenal, sebab ia memiliki ciri khas sendiri. Lucu dan segar, setidaknya itulah suasana yang bisa dinikmati penonton tatkala Lalu Nasib memainkan wayang-wayangnya.
Lalu Nasib
Lalu Nasib menggemari wayang sejak kanak-kanak. Kegemarannya menonton wayang ia lalu membuat dan memainkan wayang-wayangan dari kardus. Bermula dari kegemaran menonton dan memainkan wayang itu, Lalu Nasib akhirnya memilih menjadi seorang dalang sejak tahun 1965.
Sejak itu ia menjadi dalang yang mampu membius para penonton. Meski kini usianya telah menginjak 72 tahun lebih, Lalu Nasib tetap bersemangat memainkan wayangnya dan tetap tampil dengan penuh percaya diri.
“Saya memang sangat menyukai dan senang menonton wayang sejak masa kanak-kanak,” katanya.
Salah satu kelebihan Lalu Nasib sepanjang 55 tahun memainkan wayangnya, adalah mampu menyatu dengan penontonnya. Ia senantiasa sukses menyesuaikan pertunjukannya dengan situasi terkini, dengan ragam kisah yang up to date. Ia selalu menggunakan bahasa sehari-hari yang mewakili perasaan masyarakat kalangan bawah.
Sebagai seorang dalang yang lebih dari setengah abad berkarya, Lalu Nasib memiliki kharisma yang mampu membius para penonton. Ia memiliki kemampuan menciptakan pakem, gaya, genre, dan falsafah tersendiri dalam dunia pewayangan Sasak (Lombok), sehingga ia diterima dan diakui semua orang yang menjadikannya seorang Maestro.
Ia mampu mengikuti perkembangan zaman dengan tetap eksis dalam dunia pewayangan hingga saat ini.
Bagaimana tidak, meski tetap memperhatikan pakem asli pewayangan Sasak, ia berinisiatif memasukkan benda-benda modern dalam pagelarannya, seperti alat transportasi tradisional Sasak berupa Cidomo. Bahkan hingga pesawat antariksa Apollo ada dalam pertunjukan wayangnya.
Awalnya modifikasi ini mengagetkan, namun secara tidak langsung ternyata mampu mewakili kebutuhan hiburan masyarakat, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah sebagai komunitas pendukung wayang Sasak. Kreativitas Lal Nasib akhirnya diterima sebagai salah satu ciri khas dari inovasi dalang Sasak.
Tidak itu saja, pergaulannya yang luas membuat Lalu Nasib mampu menciptakan tokoh-tokoh yang mewakili kalangan bawah. Ia menciptakan sendiri tokoh-tokoh wayang Sasak yang mewakili kalangan bawah yakni Rerencek dan Punakawan.
Lalu Nasib mampu menghadirkan tokoh tokoh wayangnya dengan karakter lokal, Inak Ocong, Amak Ocong, Amak Amat, Amak Baok, dan Inak Etet. Tokoh-tokoh ini sangat mewakili masyarakat kelas bawah. Tokoh-tokoh wayang ini kini sangat terkenal di Lombok khususnya, sebab memiliki karakter masing-masing yang mewakili kelas bawah baik karakter maupun caranya berkomunikasi.
“Saya bergaul dengan semua kalangan, dari berbagai suku bangsa,” ungkapnya.
Kecerdasan Lalu Nasib dalam menciptakan tokoh-tokoh lokal ini dilakukannya berdasarkan pengamatan lapangan. Bukan hanya pada orang Sasak Lombok, melainkan pengamatan menyeluruh pada berbagai karakter masyarakat di Nusa Tenggara Barat, yang memiliki tiga etnis besar, yaitu Sasak, Samawa dan Mbojo. Termasuk tipikal karakter orang Jawa bahkan etnis lainnya yang bisa mengundang gelak tawa.
Naluri penciptaannya tak pernah mati. Lihat saja, di tengah gencarnya Pemerintah Provinsi NTB yang memfokuskan diri dalam bidang pariwisata dengan target jutaan wisatawan, Lalu Nasib juga akhirnya menciptakan tokoh wayang ‘bernuansa’ bule.
Sebab itulah dalam memainkan wayangnya, Lalu Nasib senantiasa mengemas cerita dan memakai bahasa yang bisa merangkul ketiga etnis tersebut.
Salah satu keahlian langka yang tidak dimiliki dalang lain di Lombok khususnya, adalah kepiawaian Lalu Nasib mempertontonkan pertunjukan wayang Sasak yang menawarkan celoteh jenaka dari Sang Maestro Lalu Nasib.
Ia tidak hanya memainkan wayang dengan kisah cerita, pakem dan tokoh aslinya, melainkan ia selalu merespon situasi terkini, topik yang tengah hangat di masyarakat, menjadi kekuatan petunjukan wayang Lalu Nasib. Ia paham memainkan wayangnya sebagaimana fenomena yang tengah berkembang. Untuk bisa menguasai materi pertunjukan, Lalu Nasib rajin membaca koran, mendengarkan radio dan berbincang dengan banyak kalangan.
“Saya pelajari semua topik dan perkembangan informasi dari media massa dan pergaulan dengan banyak orang,” ujarnya.
Tak ayal, sepanjang pergelarannya ia mampu membuat penonton terhibur dengan gelak tawa yang garing. Satu hal yang tidak boleh dilupakan dari Dalang Lalu Nasib adalah kemampuannya menguasai semua bidang, Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Kebudayaan, Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Ipoleksosbudkam) yang menjadi materi dalam setiap pertunjukannya.
Ini menjadi nilai penting dari keberadaannya sebagai seorang dalang. Sebab itu ia tetap mampu menjadikan pertunjukan Wayang Sasak sebagai tontonan dan tuntunan yang sesuai dengan masanya.
Itulah sebabnya Lalu Nasib menjadi dalang fenomenal yang langka milik Nusa Tenggara Barat. Sayangnya, perjalanan karir dan karyanya yang begitu panjang dalam dunia pewayangan Sasak tersebut, sejauh ini, tidak banyak terdokumentasi dengan lengkap. Padahal, nama dan kiprahnya di dunia seni pertunjukan pewayangan Sasak khususnya, dikenal hingga ke pelosok desa.
Bisa dikatakan bahwa dari tidak banyak lagi dalang wayang Sasak di Lombok (hanya sekitar 50-an dalang) saat ini, hanya nama Lalu Nasib yang masih dikenal luas dan tetap bertahan di hati masyarakat hingga hari ini. Kehadirannya dalam dunia seni pertunjukan tradisi pewayangan Sasak, tidak lekang oleh waktu, tak tergoyahkan oleh kemajuan zaman yang begitu pesat.
Ia tetap menjadi dalang idola yang pertunjukan-pertunjukannya selalu dinanti sebab ia mampu mampu mewakili kebutuhan masyarakat khususnya kalangan menengah ke bawah.
Tawaran tontonan televisi dan berkembangnya media sosial yang melintasi teknologi canggih yang semakin beragam, tidak mampu sepenuhnya ‘mematikan’ kecintaan masyarakat terhadap keberadaan pertunjukan wayang Lalu Nasib.
Meski mengalami pergeseran pada soal waktu dan volume pertunjukan serta lainnya, pertunjukan wayang Lalu Nasib masih ditanggap hingga saat ini. Ia tetap bisa menghadirkan pertunjukan yang mampu menjadi tontonan dan tuntunan bagi penikmat wayang Sasak.
“Hanya satu yang selalu saya ingat, untuk menjadikan pertunjukan wayang sebagai tontonan dan tuntunan bagi masyarakat,” katanya.***
Pandemi Covid-19 Ajarkan UMKM Sadar Digital
Selama pandemi, Bunda Niken mendorong UMKM belajar cepat beradaptasi memanfaatkan digitalisasi dalam proses berbisnis
MANDALIKA.lombokjournal.com ~ Pandemi Covid-19 mengajarkan para Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Provinsi NTB untuk sadar digital.
UMKM dituntut belajar cepat untuk beradaptasi, meningkatkan inovasi, bersinergi dan memperluas jaringan.
Hj. Niken Saptarini Widyawati
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah mengungkapkan itu saat acara DigiTalk “UMKM NTB Siap Sambut MotoGP 2022” yang berlangsung di Novotel Hotel, Mandalika, Selasa (22/02/22).
“Selama pandemi Covid – 19 di NTB memang mengalami banyak perubahan, selama pandemi membuat kita semua berubah dan harus beradaptasi, inovasi serta bersinergi dengan cara cara yang tidak biasa,” tutur Bunda Niken.
Dikatakan, pemanfaatan digitalisasi para UMKM sudah tidak ada hambatan lagi, mulai dari proses jual beli, bahkan kurasi bisa secara digital.
“Kurasi bisa dilakukan secara digital, dengan interview, pemasaran juga bisa dilakukan secara digital. Kita berharap UKM – UKM dapat melakukan adaptasi dalam proses bisnis ini dengan baik,” katanya.
Bunda Niken mengungkapkan agar para UMKM untuk dapat memanfaatkan berbagai fasilitas yang telah disiapkan oleh Pemprov NTB. Dan terus belajar dari berbagai ilmu yang didapatkan untuk meningkatkan kualitas.
“Kegiatan ini menjadi suatu bagian dari upaya upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas UMKM di NTB,” ungkapnya.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi NTB sendiri telah melakukan banyak ikhtiar untuk UMKM, seperti menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Bela dan Beli Produk Lokal.
Termasuk, penyediaan aplikasi marketplace NTB Mall, mendirikan NTB Mall offline store, hingga membentuk ekosistem dan Komunitas Start Up lokal NTB.
Dalam kegiatan ini hadir Wakil Bupati Lombok Tengah, Dr. H. Nursiah, S.Sos.,M.Si, Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kemkominfo, Septriana Tangkary, Founder & CEO Ladaea, Nanny Hadi Tjahjanto, Kepala Dinas Kominfotik NTB, Dr. Najamuddin Amy, S.Sos., M.M dan Ketua Lombok Womenpreneur Club (LWC) Indah Purwanti Ningsih.***
Regulasi Tarif Hotel di NTB, Gubernur: Jangan Aji Mumpung
Gubernur Zulkieflimansyah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub), yang menjadi regulasi Penyelenggaraan Usaha Jasa Akomodasi
MATARAM.lombokjournal.com ~ Mngantisipasi adanya penyelenggara usaha akomodasi yang mengeluarkan tarif terlampau mahal menjelang perhelatan MotoGP Mandalika 2022, 18-20 Maret mendatang, Gubernur NTB H. Zulkieflimansyah mengeluarkan regulasi mengenai tarif hotel dan penginapan.
Regulasi itu dituangkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) NTB Nomor 9 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Usaha Jasa Akomodasi.
Pergub ini dikeluarkan untuk mengatur batas atas dan batas bawah kamar penginapan, saat MotoGP Mandalika.
“Jangan ugal-ugalan dan aji mumpung karena kita akan untung sekarang, tapi akan rugi dalam jangka panjang. Orang akan kapok datang ke tempat kita kalau aji mumpung naikan harga hotel dan penginapan seenaknya,” pesan Gubernur Zulkieflimansyah, Selasa (22/02/22).
Pergub tersebut menjelaskan, penyedia akomodasi diperkenankan menaikan harga dengan batas yang sudah diatur. Harga yang diberikan harus sesuai zona lokasi event berlangsung.
Maksimal kenaikan tarif kamar tiga kali jika berlokasi lebih dekat dari event. Untuk zona yang lebih luar kenaikan tarif maksimal dua kali. Sedangkan zona terjauh dari area event kenaikan maksimal satu kali.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Yusron Hadi, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/02/22) menambahkan, kenaikan harga tersebut juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan, pengembangan atraksi, dan wisata.
Khusus bagi agen travel, tambah Yusron, juga dapat menjual tiket maupun penginapan dengan sistem bundling dengan catatan tidak menjual dengan harga mahal.
Masalah tarif harga sewa transportasi juga akan disiapkan regulasi.***
Gubernur dan KASAD Silaturahmi dengan Forkopimda dan Tokoh NTB
Gubernur Zulkieflimansyah saat mendampini KASAD bersilaturrahmi dengan para tokoh di NTB berharap ke depan banyak kebaikan diperoleh NTB
MATARAM.lombokjournal.com ~ Silaturahmi Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Jenderal TNI Dudung Abdurahman, dengan Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan sejumlah elemen di NTB didampingi Gubernur NTB Zulkieflimansyah, Senin (21/02/22) di Prime Park Hotel.
Gubernur Zulkieflimansyah
“Alhamdulilah,biasanya kita hanya melihat Pak KASAD lewat media, hari ini kita bisa langsung ketemu dengan beliau,” kata Gubernur Zulkieflimansyah mengawali sambutannya di depan Pangdam Udayana, Danrem, Kapolda, Sekda dan undangan lainnya.
Menurut Bang Zul sapaan gubernur, pepatah mengatakan tidak mungkin saling membantu tanpa saling memahami, dan tidak mungkin bisa saling memahami tanpa saling mengenal.
Untuk itu, mengenal KASAD ada kehangatan dan keakraban, sehingga mudah-mudahan banyak kebaikan yang akan diperoleh NTB ke depan.
TNI AD sangat diidolakan oleh anak-anak muda di NTB, dengan kedatangan KASAD, Pangdam dan Danrem, dapat memberikan kesempatan putra putri NTB untuk ikut berpartisipasi dan menjadi bagian dari TNI dimasa yang akan datang.
“Keberhasilan Danrem 162/WB, memperoleh bintang sebagai jenderal, menginspirasi anak muda di NTB, untuk menjadi patriot yang berkiprah bagi negeri ini kedepan,” harap Bang Zul.
Ia berharap, kedatangan KASAD ke NTB bukan yang terakhir kali, diharapkan ada kunjungan lain berikutnya.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Jenderal TNI Dudung Abdurahman, S. E., M. M, mengapresiasi sambutan yang luar biasa di NTB.
“Saya yakin ini berkat, kekompakan Forkopimda, Gubernur, Danrem, Polda dan seluruh tokoh agama, adat dan masyarakat NTB,” katanya.
“Jaga kekompakan TNI/Polri bersama Pemerintah dan masyarakat untuk mensukseskan semua agenda dan program pemerintah,” kata mantan Pangkostrad ini. ***
Fenomena Berterima Kasih pada Jokowi di NTB, MI6: Wujud Politik Etis
Fenomena ucapan terima kasih di NTB pada Presiden Jokowi, merupakan pengakuan alam bawah sadar rakyat bahwa Jokowi berempati membangun NTB di segala sektor
MATARAM.lombokjournal.com ~ Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 menilai, bergemanya ucapan terima kasih kepada Presiden Jokowi beberapa waktu lalu dari komponen masyarakat maupun stakeholder di NT,B merupakan bentuk ‘politik etis’ untuk saling memanusiakan.
Alam bawah rakyat di NTB tak bisa memungkiri, Presiden Jokowi telah mencurahkan segenap pikiran dan kebijakannya untuk membangun NTB dari segala sektor, termasuk KEK Mandalika dan berbagai sarana prasarana.
KEK Mandalika / Instagram
“Presiden Jokowi menunjukkan perhatian dan empatinya dengan membangun NTB tiada henti dengan beragam proyek infrastruktur dan bantuan kemanusiaannya lainnya,” kata Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH kepada Media, Selasa (22/02/22).
Pria yang akrab disapa Didu itu mengatakan, gerakan moral khas warga NTB menyampaikan ucapan terima kasih ini, harus dimaknai tercerahkannya kotak pandora pikiran dan nurani Rakyat NTB memberikan reward kepada pemimpin yang telah membesarkan Kawasan Bumi Gora.
Menurutnya, Jokowi sadar bahwa Rakyat NTB dalam dua kali Pilpres mayoritas tidak memilihnya. Ia ingin memberikan tauladan dan perhatian lebih buat NTB agar Warga NTB memiliki keyakinan dan membalikan persepsi minor tentang kapasitas kepemimpinannya di mata rakyat NTB.
“Strategi Jokowi yang memberikan perhatian ekstra untuk NTB bukannya tanpa sebab.
Dari sisi ekonomi politik, Jokowi ingin memastikan di bawah kepemimpinannya terjadi percepatan dan pemerataan pembangunan di semua wilayah NKRI tanpa pandang bulu,” ujar Didu.
Legitimasi Geopolitik Kawasan
Sementara dalam konteks geopolitik, Jokowi sadar, NTB sebagai satu kawasan (region) memiliki entitas yang khas yang berbeda dengan kawasan lain.
Sehingga meskipun dari sisi kuantitas elektoral kecil, NTB memiliki makna politik yang besar dalam soal persepsi dan legitimasi Politik.
“Sehingga tak heran jika Presiden Jokowi ingin memberikan teladan yang baik dan atensi yang besar kepada NTB dengan cara memberikan program pembangunan skala prioritas agar jelas manfaatnya untuk Rakyat,” tegas Didu.
Didu menggarisbawahi, ujian dan komitmen kepemimpinan Jokowi selanjutnya justru terletak kepada estafet Pemimpin berikutnya, untuk menjaga kesinambungan tonggak pembangunan yang telah dilakukan selama ini ditengah persaingan global yang maha dahsyat.(*)
Dalam peninjauan vaksinasi serentak di Lobar, KASAD, Jendral Dudung Abdurrachman didampingi Gubernur Zulkieflimansyah
LOBAR.lombokjournal.com ~ Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Jenderal TNI Dudung Abdurachman, dalam kunjungan kerja (kunker) di NTB melakukan peninjauan vaksinasi secara serentak yang diselenggarakan oleh Dandim Kabupaten/Kota se NTB,di Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat, Senin (21/02/22).
“Dalam kunjungannya saya ke NTB untuk melihat langsung program pemerintah yaitu vaksinasi dilakukan oleh TNI AD yang dibantu oleh Kepolisian dan Pemerintah Daerah, baik provinsi maupun kabupaten, untuk sama-sama bekerja keras, bahu-membahu sehingga bisa mensukseskan program pemerintah yaitu vaksinasi,” jelas Dudung.
KSAD mengatakan, dalam gelaran vaksinasi ditargetkan 1800 vaksin baik dosis 1,2, dan 3.
“Alhamdulillah pencapaian vaksinasi rata-rata hampir 80 persen, diharapkan terus berkelanjutan sehingga masyarakat NTB terhindar dari penyebaran covid-19,” terang Jendral Bintang 4 ini.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Lombok Barat, Jajaran TNI, Polri serta pimpinan pondok pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat. ***
Protein Tinggi dan Antimikroba Pada Cacing Nyale
Festival Bau Nyale yang diselengarakan tiap tahun di Lombok Tengah menyimpan cerita menarik tentang legenda Puteri Mandalika. Beberapa tulisan dariNanik I Taufankali inimendeskripsikan hasil penelitian tingginya kandungan protein pada Cacing Nyale
MATARAM.lombokjournal.com ~ Pulau Lombok memiliki keanekaragaman flora dan fauna pantai yang khas.
Satu di antaranya adalah Cacing Nyale (Polychaeta) yang mempunyai keunikan tersendiri dengan peristiwa tradisi besar yang selalu dinanti-nanti masyarakat Lombok yang dikenal dengan Bau Nyale.
Peristiwa munculnya Cacing Nyale dalam jumlah yang melimpah ini hanya terjadi sekali setahun. Masyarakat yang datang dari seluruh penjuru Lombok melakukan tradisi menangkap cacing (Bau Nyale).
Cacing Nyale oleh masyarakat Lombok lebih dikenal karena fenomena tradisi dan budayanya. Selama ini peristiwa Bau Nyale lebih banyak dibicarakan dari segi tradisi maupun kepariwisataan.
Kemunculan cacing yang konon ‘jelmaan Sang Putri Mandalika’ ini ternyata memberikan kontribusi yang besar bagi dunia keilmuan (penelitian).
Menurut Dra. Dwi Soelistya Dyah, M.Kes maupun Drs. Zainul Muttaqim, peneliti dari Universitas Mataram, yang melakukan penelitian secara khusus terhadap cacing laut ini, cacing-cacing nyale ini memiliki kandungan protein yang tinggi juga mengandung antimikrobaserta dapat menguji kualitas air laut.
“Bahkan, kandungan protein cacing nyale lebih besar dua kali kandungan protein ayam ras,” ungkap Dwi Soelistya kepada Nanik I Taufan.
Peristiwa Bau Nyale berlangsung rutin tiap tahun, rata-rata pada hari kelima setelah bulan purnama.
Cacing yang muncul ke permukaan antara pukul 04.00 hingga sekitar pukul 06.00 ini mempunyai ciri khusus antara lain, bentuk tubuhnya mengalami perubahan. Ad beberapa yang berwarna hijau, kuning ataupun abu-abu, coklat, jingga, merah dan ada yang mempunyai bintik-bintik hitam kecil membujur di sepanjang tubuhnya.
Dari warna tersebut yang dominan adalah hijau dan coklat.
“Yang berwarna hijau si betina dan coklat adalah nyale jantan,” ungkap Soelistya.
Warna hijau pada epitok (badan belakang) si betina nampaknya karena pantulan dari warna telur yang hijau dan besar. Sementara sperma si jantan berwarna kekuning-kuningan dan kecil sehingga yang terlihat cacing berwarna coklat.
Sebenarnya, kemunculan Nyale secara serempak pada lima hari setelah bulan purnama tersebut merupakan masa kawin bagi cacing Nyale. Saat itu telur cacing betina sudah memenuhi seluruh badannya dan sperma si jantan pun demikian.
“Tubuhnya jadi seperti balon mengembang dan memanjang hingga 36 cm,” katanya. Kulit cacing menjadi sangat tipis setipis-tipisnya kala itu.
Maka pada musim kawin ini, cacing-cacing nyale yang tengah siap bereproduksi mulai keluar dari liang karang-karang tempatnya hidup.
Kepala cacing tetap berada di dalam karang, sementara tubuh yang penuh dengan telur dan sperma hingga ekornya naik ke permukaan dan menari-nari siap untuk melakukan pemijahan.
Pada saat epitoknya ini naik ke permukaan air, mereka bergerak seperti spiral dan saling berdekatan serta membelit satu sama lain sehingga tubuh cacing yang menipis akibat dipenuhi telur dan sperma tadi, mudah sekali hancur dan keluarlah sel telur dan sperma yang selanjutnya terjadi fertilisasi.
Pada saat fertilisasi terjadi, dan zigot yang terbentuk akan menuju ke dasar perairan untuk selanjutnya membentuk larva menempati batuan-batuan karang, hidup dan berkembang hingga musim kawin tiba.
Pantai Selatan Lombok yang paling tinggi populasi cacing Nyale terdapat di Pantai Sager. Hal ini, tutur Bu Sulis, bisa jadi disebabkan oleh sifat pantai yang sesuai dengan habitatnya. Banyaknya karang merupakan salah satu faktor penting bagi cacing Nyale karena di bawah atau di lubang-lubang batu karang tersebutlah ia hidup dan berkembang biak.
Lezat bersama sambal goreng
Dibandingkan dengan Padak (pantai Timur Lombok), Tampes (Pantai Utara) yang jumlah nyalenya yang muncul sangat sedikit bahkan di Pantai Krandangan (Pantai Barat) tidak dijumpai nyale, di Pantai Sager justru muncul melimpah.
Hal ini tidak terlepas dari hamparan terumbu yang terdiri atas karang mati yang masif sebagai tempat yang cocok untuk hidup bagi cacing nyale terdapat di Pantai Sager.
Juga populasi yang tinggi terjadi karena ketersediaan makanan yang cukup serta kurangnya predator pemangsa cacing, yang disebabkan kurangnya pasokan makanan pemangsa tersebut pada dasar laut yang berpasir.***
Bau Nyale, Ini Kisah Drama Cinta Putri Mandalika
Festival Bau Nyale yang diselengarakan tiap tahun di Lombok Tengah menyimpan cerita menarik tentang legenda Puteri Mandalika. Beberapa tulisan dariNanik I Taufanmendeskripsikan Festival Bau Nyale dari beberapa sisi lain, untuk memahami lebih jauh event yang baru saja berlangsung
MATARAM.lombokjournal.com ~Di atas bukit Batu Angkus yang terletak di bibir Pantai Seger, Kuta Lombok Tengah, seorang perempuan jelita berdiri putus asa. Di sekitarnya ada beberapa lelaki (Pangeran) yang siap menanti satu keputusan darinya. Dan ketika waktu yang ditunggu itu tiba, bicaralah ia kepada mereka.
Wahai para pangeran dan rakyatku, aku tidak akan memilih satu dari para pangeran yang melamarku. Demi kebaikan bersama, demi kedamaian negeri ini, aku tidak memilih seorang pun dari kalian. Aku akan menjadi milik semua orang. Jika kalian mencintaiku, temui aku di tempat ini pada tanggal 20 bulan 10 setiap purnama tiba”.
Personifikasi Puteri Mandalika
Dalam legendanya, beginilah kira-kira kalimat terakhir yang sempat diucapkan perempuan yang kemudian memutuskan terjun ke laut dengan cara tiba-tiba. Para pangeran yang menantinya tentu saja kaget dan tidak menduga perempuan yang mereka rebut itu, tidak memlih satu pun dari mereka melainkan memilih menjadi milik semua orang.
Adegan semacam ini kerap dipentaskan dalam mengenang perempuan yang menjadi legenda dalam masyarakat Sasak Lombok. Dialah Putri Mandalika, anak Raja dari Kerajaan Tonjen Beru, Lombok Selatan. Cantik jelita nan menawan, berbudi pekerti luhur sehingga membuat para pangeran kerajaan tetangga jatuh hati padanya.
“Kecantikan dan keluhuran budinya kesohor tidak hanya di Pulau Lombok melainkan hingga di luar Pulau Lombok sehingga ia menjadi rebutan. Para Pangeran sama-sama tidak mau mundur selangkah pun untuk dapat mempersuntingnya,” ungkap Lalu Putria, Budayawan Sasak.
Dikisahkan, perebutan tersebut terjadi antarpangeran yang berasal dari kerajaan yang ada di Pulau Lombok antara lain, Kerajaan Bumbang, Rambitan, Johor, Kedaro, Prabu Dundang dan lain-lain. Nyaris terjadi perang saudara karenanya. Putri Mandalika melakukan semedi untuk mencari petunjuk apa yang harus dilakukannya.
Ia bersemedi di sebuah hutan lalu mendapatkan petunjuk bahwa keputusan yang harus diambilnya adalah yang terbaik bagi dirinya, keluarga dan masyarakat Sasak.
Suatu hari pada waktu dan tempat yang telah disepakati, yakni pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak bertepatan dengan purnama, lanjut Putria yang juga mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lombok Tengah ini, pada Bukit Batu Angkus di pesisir Pantai Seger, ia pun mempersilahkan para Pangeran dan masyarakat datang ke sebuah tempat yang sudah disepakati untuk menyaksikan ia mengambil keputusan.
Di sanalah Sang Putri memberikan pelajaran bagi semua Pangeran dan masyarakat, bahwa dalam kebimbangannya menjatuhkan pilihan, ia tidak memilih salah satu dari mereka yang memperebutkannya melainkan ia memilih mengorbankan dirinya dengan terjun ke laut demi mencegah terjadinya pertumpahan darah.
Ia memutuskan menjadi milik semua orang dengan cara menyerahkan dirinya pada alam, melompat ke laut dan menghilang.
Inilah akhir dari drama cinta Putri Mandalika, ketika ia menghilang di lautan lepas itu, angin kencang dan hujan badai pun datang. Para pangeran dan masyarakat yang hadir terkesima menyaksikan pengorbanan Putri Mandalika. Mereka menanti kembalinya Sang Putri. Namun Mandalika menghilang dan tak pernah muncul ke permukaan.
Mereka pun berduyun-duyun menuju lautan untuk menemukan dan menyelamatkannya. Tetapi Putri Mandalika benar-benar menghilang. Yang mereka temukan hanyalah jutaan cacing berwarna-warni yang menyala dan mengkilap diterpa sinar matahari..
“Cacing-cacing yang dikenal dengan nama Nyale inilah yang akhirnya dipercaya oleh masyarakat Sasak Lombok sebagai jelmaan Putri Mandalika. Cacing-cacing nyale ini tidak hanya ditemukan di Pantai Seger melainkan di sepanjang pesisir pantai bagian selatan Lombok, seperti Pantai Arguling di bagian barat Pantai Kuta Lombok, Pantai Mawun di Grupuk, jutaan nyale ditemukan,” katanya.
Sejak itulah, tiap tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak (tahun 2022 ini jatuh pada tanggal 20-21 Februari), ratusan ribu warga Lombok akan tumpah ruah menanti “kedatangan” Putri Mandalika
yang menjelma dalam bentuk cacing nyale di sepanjang pesisir pantai selatan Lombok. Maka tiap tahun penanggalan Sasak tersebut, masyarakat Lombok selalu menyelenggarakan ritual Bau Nyale (menangkap Nyale).
Sejauh ini, dari tahun ke tahun, perhitungan waktu munculnya nyale selalu tepat dan sangat jarang meleset. Sebelum ritual inti bau nyale dilakukan, diawali dengan penentuan tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak yang dilakukan oleh para pemangku adat Sasak yang berasal dari empat penjuru angin yakni, Timu’ (timur), Bat (barat), Lau’ (selatan) dan Daye (utara).
Untuk menentukan tanggal ini dilakukan ritual Mapan yakni melihat petunjuk pada sebuah buku semacam primbon (Jawa) yang disebut Papan Urige. Perhitungan ini dilakukan dengan cara tradisional. Masing-masing pemangku akan menghitung dengan caranya masing-masing dan setelah itu mencarikan titik temunya bersama-sama.
Selain itu, para pemangku adat yang telah turun temurun melakukan perhitungan waktu ini juga menggunakan tanda-tanda alam seperti gemuruh deru ombak yang lebih kuat dari biasanya, hujan angin disertai kilat yang menyambar dan petir bersahutan, yang dikenal dengan gerem genteng. Juga tanda-tanda alam lain berupa terlihatnya Bintang Tenggale yang posisinya kira-kira sama dengan penentuan hilal (menentukan waktu puasa pertama).
“Semakin kencang hujan angin turun maka semakin banyak nyale keluar. Namun jika waktu yang ditentukan itu tanpa hujan lebat dan angin kencang, nyale biasanya hanya sedikit,” kata Putria.***