Membangun Jaringan Sehat, Kunci Sukses Jalankan organisasi 

Salah satu kunci sukses jadi pemimpin sukses dalam menjalankan organisasi yaitu membangun jaringan yang sehat

MATARAM.lombokjournal.com ~ Membangun jaringan dengan berbagai kalangan, potensi bekerjasama untuk kemaslahatan masyarakat dapat dengan mudah terjalin.

Hal tersebut disampaikan Gubernur NTB, Zulkieflimansyah saat menjadi Narasumber pada acara Seminar Online ‘Peningkatan Kapasitas Diri  dengan tema Optimalisasi Relasi, Kemitraan dan Jejaring Organisasi’ yang digelar Women Leadership Forum, Sabtu (12/03/22).

Namun Bang Zul sapaan Gubernur NTB mengingatkan, membangun jaringan haruslah dibarengi dengan ketulusan. 

BACA JUGA: Basri, Kakek yang Pantang Menyerah Meraih Sarjana

Agar hubungan yang terjalin  dapat memberi manfaat kepada kedua belah pihak, dan tidak membuat salah satu pihak dirugikan.

Pentingnya membangun jaringan organisasi yang sehat
Gubernur Zul

“Membangun jaringan itu harus tulus. Jangan membangun relasi itu hanya ingin memanfaatkan. Kalau bisa tangan kita harus lebih sering di atas,” pesan Bang Zul 

Ditambahkan, sebelum membangun jaringan diperlukan pengenalan diri yang dalam. Jika seseorang mengenal dirinya dengan baik, maka dengan mudah orang tersebut mampu mengupgrade kemampuannya

BACA JUGA: Maju Dalam Karir, Jangan Henti Meng-upgrade Kualitas Diri

Sehingga lawan bicaranya bisa sering mendapatkan insight yang baru. 

“Kalo kita tahu positif negatif kita kita tahu mana yg harus ditingkatkan dan diperbaiki,” tutur Bang Zul.*** 

BACA JUGA: Rinjani Dibuka, Saatnya Pariwisata Lombok Utara Bangkit

 




Kisah ‘Primadona’ Nurul, Menolak Menikah Beda Agama

Gadis yang masa mudanya menjadi primadona di kotanya itu, kini telah menjalani masa tuanya, Di bawah terik matahari yang membakar kulit, Nurul (67), duduk di pinggiran sawah. Ia beristirahat di bawah sebuah pohon sambil menikmati sebotol air putih yang ia bawa dari rumahnya, bersama suaminya, Rahman (70)

lombokjournal.com ~ Inilah keseharian perempuan yang di masa mudanya bagai primadona di kotanya, menjadi idola para pria karena kecantikan dan kekayaannya. Lahir dari keluarga berada, bahkan bisa dikatakan kaya raya.

Tak heran kalau masa muda Nurul menjadi Primadona di kotanya. Banyak pria berpangkat termasuk yang memangku jabatan “tergila-gila” padanya. Namun, itu masa lalu Nurul. Kisah yang menghampiri hidupnya setengah abad yang lalu. Tubuh dan kulitnya yang dahulu putih dan mulus, kini tinggalah keriput yang menghitam akibat sengatan matahari yang tiap hari membakarnya.

Karena patah hati, Nurul pulang kampung di sebuah desa terpencil di Pulau Sumbawa dan memilih menikah dengan kerabatnya yang seorang petani. Sejak itulah, puluhan tahun ia menerima nasibnya menjadi seorang petani.

Perjalanan hidup yang penuh ironi, sempat membuatnya shock ketika pertama kali menyadari bahwa ia telah memilih menikah dengan pemuda kampung yang beda dengan pria-pria kota yang parlente yang pernah ia kenal. Namun, makin lama ia berpasrah diri, makin ia bisa menerima keadaannya itu meski terkadang ia sedikit minder.

Ketika ia memutuskan mengikuti kakaknya tinggal di Bandung, Jawa Barat, sekitar 40-an tahun yang lalu, ia menikmati kehidupan kota besar yang membawanya pada pergaulan berkelas.
Keputusan kakaknya untuk membawa Nurul ke Bandung kala itu lebih karena di Pulau Sumbawa tempatnya tinggal, ia banyak disukai para pria. Ia memang dikenal sebagai seorang perempuan cantik dan menawan.

“Istilah sekarang, di kota kecil tempatnya tinggal Bibi Nurul menjadi role model. Apa yang dipakainya akan diikuti orang lain. Begitu juga dengan gaya rambut dan model pakaiannya. Jika memakai sanggul, miring seinci pun akan membuat ia berdandan berjam-jam, seolah tiada habisnya jika dandannya tidak sempurna,” ungkap Rahmi, salah seorang keponakannya.

Cantik, menawan, pintar dan dikenal membuat banyak pria menyimpan hati padanya.
Namun Nurul seperti tidak bersemangat untuk pacaran. Hingga suatu hari seorang pria dengan kedudukan jabatan yang baik nekad datang melamarnya pada kakaknya karena kala itu orang tua mereka telah meninggal dunia.

BACA JUGA: Bau Nyale, Ini Kisah Drama Cinta Puteri Mandalika

Karena ia merasa tidak menyimpan hati untuk pria tersebut ia menolak. Penolakannya itu membuat si pria nekad dan memilih melarikannya. Beruntung, pria tersebut baik hati karena terlalu mencintainya sehingga Nurul tidak mengalami pelecehan atau lainnya.

Selama dua hari dilarikan pria itu, Nurul baik-baik dan aman saja. Nurul sendiri tidak marah pada pria itu karena ia tahu pria itu mencintainya apalagi dia memperlakukannya dengan baik selama “pelarian” itu.
“Kejadian itu bikin heboh di kota kecil tempat Bibi Nurul tinggal,” kata Rahmi.

Kisah itu sempat membuat beberapa pria yang juga menyukai Nurul “patah hati”. Melihat situasi demikian, kakak Nurul akhirnya membawa Nurul tinggal bersamanya di Bandung.
Di sana, Nurul melanjutkan sekolah guru TK-nya dan dengan mudah masuk dan bergaul meski pun itu kota besar. Ia banyak memiliki kawan-kawan hingga konon ia berkawan dengan orang-orang berkelas.

“Bibi Nurul punya pacar seorang pilot, tampan dan baik,” kata Rahmi. Mereka menjalin hubungan cukup lama bahkan hingga sekolah Nurul selesai.

Suatu hari, di saat sang pilot berlibur dan mengunjunginya di Bandung, mereka pun jalan-jalan bersama. Mereka berdua sengaja naik becak berkeliling kota. Di tengah jalan, Nurul di lamar oleh kekasihnya.
Alangkah senang hati Nurul mendengarnya. Obrolan pun berlanjut hingga ke rencana pernikahan yang rupanya mereka sepakati bersama.
Kedua sejoli ini larut suka cita karena keduanya merasa bahwa cinta mereka segera bersatu. Seluruh kesepakatan mereka buat sambil meneruskan naik becak bersama. Termasuk soal waktu sang pilot yang tidak setiap waktu bisa bersamanya karena harus terbang dari satu kota ke kota lainnya.

Setelah semua sepakat, tibalah waktunya mereka membahas soal tempat pernikahan.
“Di sanalah Bibi Nurul baru tahu kalau calon suaminya itu beda agama,” kata Rahmi.

Nurul sesaat tersentak dan diam. Selama mereka berhubungan, karena jarang bertemu, ia memang tidak pernah bertanya soal agama. Yang ada di kepalanya laki-laki itu Muslim, seagama dengannya karena tiap kali ketemu ia selalu mengucapkan salam dan sapaan-sapaan keseharian seorang Muslim.

Nurul tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya dan langsung menyampaikan keberatannya pada calon suaminya jika harus menikah di luar cara Islam. Di lain pihak, rupanya calon suaminya pun bertahan bahwa ia tetap ingin menikah memakai cara agamanya.

Sempat terjadi percekcokan hingga akhirnya Nurul pulang dalam keadaan menangis. Nurul mengurung diri di kamar beberapa hari tidak keluar. Matanya sembab dan ia murung. Hingga akhirnya kepada kakaknya ia minta pulang ke kampung.

Oleh kakaknya sebenarnya mereka telah dipertemukan untuk bisa bicara lebih jauh dalam diskusi dengan kepala dingin. Rupanya diskusi itu mentok karena masing-masing bertahan dengan agama yang dianutnya. Pembicaraan yang menemui jalan buntu itu, akhirnya membuat Nurul tetap memutuskan pulang kampung.

Lari dan bersembunyi dari calon suaminya. Ia memilih tempat yang sangat jauh dan terpencil, di sebuah kampung asal ibunya. Padahal ibunya sendiri belum pernah tinggal di kampung tersebut karena sejak kecil telah tinggal di kota.

Tanpa pikir panjang, ia tidak ingin lagi berurusan dengan banyak pria yang juga dulu “memperebutkannya” ditambah lagi ia tak ingin calon suaminya itu menemukannya, ia minta dinikahkan dengan keluarganya yang tinggal di desa itu.
Tentu saja, pemuda yang telah memberinya tiga orang anak itu, seperti ketiban bulan, rezeki yang tidak pernah diduganya. Pernikahan mereka berjalan mulus dan Nurul menyerahkan nasibnya pada suami yang seorang petani.

Saat pulang dari Bandung, Nurul tidak kembali ke kota tempat mereka tinggal bersama orangtuanya melainkan ia pulang kampung. Hal itu dilakukannya karena Nurul sudah tidak memiliki apa-apa.
Harta kekayaan orangtuanya yang banyak, tidak ditemuinya lagi. Beberapa toko, rumah dan aset-aset lain milik saudagar ini telah dikuasai oleh  saudara-saudaranya (paman-paman Nurul).

Sebelum ayah dan ibunya meninggal, toko sembako terbesar milik mereka di kota itu, terbakar habis tak meninggalkan sisa sama sekali.
Awalnya kondisi ekonomi mereka tidak terganggu dengan terbakarnya toko tersebut karena masih memiliki aset-aset lainnya. Situasi mulai berubah setelah orangtuanya meninggal.

Seperti dalam sinetron-sinetron, harta mereka “dirampas” dan diakui oleh paman-pamannya yang tinggal di kota itu. Benar-benar tidak ada sedikit pun yang tersisa untuk mereka. Kakak beradik itu pun memilih pergi dari kota tersebut tanpa membawa apa-apa.

Mereka tidak sedikit pun mendapatkan hak-hak dari harta yang ditinggalkan oleh orang tua mereka.

BACA JUGA: Basri, Kakek yang Pantang Menyerah Meraih Sarjana

“Allah kan maha tahu dan maha melihat,” ujar Nurul pelan sambil tersenyum dan menyiangi padi di sawahnya.
Nurul dan kakaknya ikhlas atas apa yang dilakukan oleh paman mereka. Kedua anak yatim piatu itu akhirnya memilih pergi mencari kehidupan sendiri di luar kota. Begitu kembali ke kota itu mereka sama sekali tidak menemukan secuil pun dari harta orangtua mereka.

Sejak itulah ia diambil kakaknya untuk tinggal di Bandung beberapa tahun hingga akhirnya Nurul memilih kembali ke kampung asal ibunya dan menikah. Segala dendam dan sakit hati atas berbagai peristiwa perjalanan hidupnya, telah hilang.

Ia menerima kehidupannya hari ini sepahit apa pun itu.

Selama obrolan, Nurul memang tidak banyak bicara, ia hanya tersenyum-senyum saja, ketika keponakannya menceritakan kisahnya. Satu hal yang selalu ia katakan pada keponakan-keponakannya, hidup ini adalah pilihan. Jalani apa yang menjadi pilihan itu dalam keikhlasan lalu nikmati dengan ketulusan.

Nurul, perempuan dengan pesona yang indah telah memilih hidup sebagai seorang petani dalam keikhlasan dan kesabaran menjalani hari-harinya. Sesekali, beberapa pria yang pernah sangat menyukainya, kerap bertanya tentang keberadaannya pada keponakannya ini.

Ketika menghilang, Nurul tidak main-main. Meski ia selalu menjadi trendsetter di kota tempatnya tinggal, ia tidak segan bersembunyi di tempat yang tidak bisa dijangkau orang lain.
Ia lari dan bersembunyi dari dunia yang pernah menawarkan “keindahan hidup” tersebut demi satu pilihan yang selalu dijalaninya dengan ikhlas dan sabar.***




Menteri BUMN Didampingi Gubernur NTB Tinjau Sirkuit Mandalika

Saat melakukan peninjauan kesiapan Sirkuit Mandalika menyambut event MotoGP, MenterI BUMN yakin, perhelatan itu akan sukses

MANDALIKA.lombokjournal.com ~ Menteri BUMN, Erick Thohir meninjau kesiapan sirkuit Mandalika, untuk memastikan kelancaran event perhelatan MotoGP Indonesia atau Pertamina Grand Prix of Indonesia pada 18-20 Maret 2022

Saat melakukan peninjauan, Menteri Erick Thohir didampingi Gubernur NTB, Zulkieflimansyah.

Menteri BUMN meninjau pengaspalan Sirkuit

“Menemani Pak Menteri BUMN Mas Erick Thohir, melihat persiapan penyelenggaraan MotoGP,” kata Bang Zul sapaan Gubernur NTB di sela melihat kesiapan sirkuit, Jum’at (11/03/22) di Mandalika Lombok Tengah.

Bang Zul bersyukur, pengaspalan lintasan sirkuit juga telah rampung dan siap dijajaki para pembalap MotoGP.

“Alhamdulillah perbaikan pengaspalan sudah selesai dan insya Allah siap untuk balapan MotoGP minggu depan,” ujarnya.

BACA JUGA: Rinjani Dibuka, Saatnya Pariwisata Lombok Utara Bangkit

Menteri BUMN Erick Thohir yakin, penyelenggaraan  event MotoGP Indonesia akan sukses dilaksanakan.

“Kami optimis Event MotoGP berjalan baik di sirkuit Mandalika,” kata Erick Thohir.

Apalagi pengaspalan ulang telah rampung, logistik sudah mulai berdatangan.

Selain itu, ia mengingatkan di era pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, agar tetap waspada dan mentaati protokol kesehatan, saat gelaran MotoGP.

BACA JUGA: Festival Begawe Rinjani, Wagup Berharap Disiapkan Pendakian Kelas Dunia

“Walaupun ada kelonggaran, sudah tidak berlaku PCR untuk perjalanan dalam negeri,” pesannya. ***

 




Basri, Kakek yang Pantang Menyerah Meraih Sarjana

Kerut di wajah Basri tak membuat semangatnya pudar. Gairahnya tetap menyala ketika harus memacu sepeda motornya setiap hari menelusuri jalanan hutan Pusuk yang berkelok-kelok.
lombokjournal.com ~ Tidak kurang dari 40 kilometer harus ditempuhnya demi menuntut ilmu. Bolak balik Tanjung Lombok Utara menuju Kampus Universitas Muhammadiyah Mataram, tidak membuat Basri, kakek berusia 61 tahun menyerah.
Sejak tahun 2015 ia menjalani masa kuliahnya di Fakultas Agama Islam jurusan Komunikasi Penyiaran Islam dengan segala keterbatasannya. Dan di tahun 2020 lalu, ia lulus sebagai Sarjana tertua di kampus itu dengan predikat Mahasiswa Inspiratif Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) tahun 2019/2020.
Menarik mengulik semangat kakek yang tak kenal putus asa ini. Meskipun menjadi mahasiswa tertua di kampus itu, Basri yang lulus PGA tahun 1978, senantiasa berusaha keras mengikuti perkembangan dan menyesuaikan dirinya dengan rekan-rekan kampusnya yang nota bene masih muda.
Ia tak sedikit pun malu duduk bersama dengan mahasiswa lainnya bahkan dosen yang usianya jauh lebih muda dari dirinya. Memutuskan kuliah di usia senja tersebut baginya sederhana saja, agar ia bisa lancar berbahasa arab dan harapannya kelak ia bisa menjadi seorang pendakwah.

BACA JUGA: Wagub NTB Tinjau Sekolah di Bayan, Lombok Utara

Basri menyatakan ingin bisa berbahasa Arabb
Basri saat diwawancara Naniek I Taufan

“Saya ingin sekali bisa berbahasa Arab dan ingin berdakwah,” ungkap Basri.
Ketika pertama kali mendaftar di kampus Universitas Muhammadiyah Mataram, Basri mengaku tidak minder. Ia santai saja berbaur dengan para mahasiswa baru yang seusia dengan anaknya atau bahkan usia cucunya.
Begitu juga ketika ia pertama kali masuk kelas dan menjalani kuliah untuk pertama kali, ia duduk bersama anak-anak muda meski ia mengaku awalnya tak punya bayangan tentang kuliah itu seperti apa.
Baginya, ia hanya ingin menuntut ilmu agama, tidak peduli bagaimana kesulitan-kesulitan yang akan ia hadapi saat menjalani kuliah itu hingga ia menjadi sarjana.
Ia berusaha keras menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus dengan cara alami saja. Basri bahkan mengaku tak terpikir tentang bagaimana menyesuaikan diri, ia beradaptasi dengan cepat.
Basri beruntung karena kawan-kawan kuliahnya menerima dengan sangat baik keberadaannya, menganggapknya sebagai rekan kuliah tanpa melihat usianya yang sudah sepuh. Mereka juga bersedia membantunya dalam banyak hal. Penuh semangat dan rajin kuliah, itulah ciri khasnya.
Di mata Yusron Hadi, ST., M.Pd., dosen pengajar yang juga pembimbing skripsinya, Basri adalah mahasiswa yang rajin dan bersungguh-sungguh dalam menempuh perkuliahan.
Jarak yang jauh – ia tinggal di Tanjung, Lombok Utara – yang harus ditempuhnya untuk bisa mengikuti kuliah di Mataram, membuatnya beberapa kali tertidur di kelas karena kelelahan. Dan ini dimaklumi oleh dosen dan juga rekan-rekan sesama mahasiswanya.
“Saya sering menemukannya tertidur di kelas karena kelelahan, namun kami memaklumi itu, sebab semangat kuliah Pak Basri sangat luar biasa. Ini yang harus menjadi contoh bagi kita semua,” ungkap Yusron Hadi.
Jarak yang jauh dan keterbatasan biaya untuk perjalanan menuju kampus, tidak membuat semangatnya lemah. Agar tidak absen kuliah, ia sering menginap di masjid-masjid yang ada di Mataram jika memang kuliahnya padat.
Ia tidak ingin melewatkan waktu sia-sia untuk beroleh ilmu. Kisah menginap di masjid juga bukan hanya karena padatnya jadwal kuliah melainkan ia sering tak memiliki uang untuk membeli bensin motor.
Meski ia mendapatkan keringanan dengan kuliah gratis di kampus UMMAT, Basri yang hanya seorang tukang (apa saja dikerjakanannya secara serabutan) ini harus mengeluarkan biaya untuk operasional lainnya. Ia membiayai sendiri semua itu dari hasil yang tidak seberapa sebagai tukang dan penjual bibit buah-buahan.
Basri terbilang gigih. Ia tak malu untuk bertanya pada rekan-rekannya termasuk kepada dosen jika ada yang tidak diketahuinya. Di dalam kelas, ia mahasiswa yang sangat aktif.
Nyaris tidak ada momen kuliah tanpa ia bertanya ketika dosen membuka sesi mahasiswa bertanya. Ia sangat ingin mengetahui hal-hal detil dari ilmu yang baru saja dipelajarinya.

BACA JUGA: Festival Bedawe Rinjani, Wagub Berharap Disiapkan Pendakian Kelas Dunia

“Pak Basri sosok yang sangat gigih dan tidak pernah malu untuk bertanya, baik kepada rekan-rekannya maupun kami sebagai dosen. Aktif bertanya jika ia tak pahami sesuatu,” kata Yusron.
Marbot masjid yang menjadi Ketua Forum Silaturrahmi Marbot Masjid se-Lombok Utara ini, merupakan tipe yang pantang menyerah. Meski tertinggal terutama dalam hal teknologi operasional komputer, ia beruntung memiliki banyak kawan yang bisa membantunya sehingga ia bisa menulis skripsi dengan judul “Peran Forum Silaturahmi Marbot Masjid Dalam Meningkatkan Suasana Ibadah” dan ia mampu menyelesaikannya hingga lulus ujian.
Kisah di balik perjuangannya menulis skripsi ini juga tidak mudah. Bukan hanya persoalan mengoperasionalkan komputer dan mencari materi serta konsultasi dengan dosen pembimbing, melainkan sebuah peristiwa kecelakaan pernah hampir membuatnya gagal menyelesaikan skripsinya.
Ia mengalami kecelakaan sepeda motor saat getol-getolnya menyusun skripsi. Tidak kurang dari enam hari, Basri tak sadarkan diri di rumah sakit akibat kecelakaan itu. Hal itu bahkan membuat Basri sempat kehilangan sebagian memorinya.
Ia banyak tidak mengingat apa isi skripsinya begitu juga dengan dosen-dosennya. Namun, bekal semangat pantang menyerah yang dimilikinya membuat Basri terus maju untuk menyelesaikan skripsi tersebut. Kehilangan ingatan ini membuat dosen pembimbingnya sempat kesulitan melanjutkan bimbingan skripsinya.
Akan tetapi, sekali lagi ia beruntung mendapatkan dosen pembimbing yang memahami kondisinya itu dan ingin melihat Basri bisa berdiri di podium wisuda sarjana.
“Membimbing skripsi Pak Basri setelah kecelakaan itu sangat tidak mudah, sebab Pak Basri banyak lupa dan tidak ingat pula dengan dosen-dosennya. Tapi ia tetap tak menyerah, kegigihannya mengalahkan tantangan yang dihadapi. Ini pelajaran penting untuk kita dari Pak Basri,” kata Yusron yang mengagumi kegigihan mahasiswanya itu.

Basri tak mengenal oantang menyerah untuk meraih Sarjana
Basri, S.Sos

Dan pada akhir Maret 2020 lalu, Basri benar-benar membuktikan dirinya sebagai ciptaan Allah SWT yang terlahir tanpa menyia-siakan waktu, ia sukses mengikuti prosesi wisuda sebagai wisudawan tertua Universitas Muhammadiyah Mataram.
Bagi Basri, S. Sos., Demi Masa, waktu tidaklah boleh dibuang percuma sebab itulah hal yang paling berharga dalam hidupnya. Ia pantang menyerah sebelum Sarjana. ***




Wagub NTB Tinjau Sekolah di Bayan, Lombok Utara

Saat meninjau kondisi sekolah di Bayan, KLU, Wagub Sitti Rohmi menekankan pendidikan yang menyenangkan

KLU.lombokjournal.com ~ Kalau siswa-siswi sudah merasa senang berada di sekolah, maka guru pun bisa dikatakan sukses. 

“Karena  pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menyenangkan, dan [tentunya] berkualitas,” kata Wagub, Hj Sitti Rohmi Jalillah.

Wagub Sitti Rohmi tinjau sekolah di Bayan
Wagub Sitti Rohmi [kiri]
Ia menyatakan itu di hadapan siswa-siswi  SMAN 1 Bayan dan SMAN 2 Bayan saat kunjungan kerjanya di Kabupaten Lombok Utara, Kamis (10/03/22).

Saat berkunjung ke SMAN 2 Bayan, Wagub NTB mengapresiasi penampilan budaya yang disuguhkan oleh siswa-siswi. Salah satu contohnya adalah proses menutu yang terdapat di acara Maulid Adat Bayan.

BACA JUGA: Festival Begawe Rinjani, Wagub Berharap Disiapkan Pendakian Kelas Dunia

“Sekolah ini hebat, memiliki kekayaan budaya yang luar biasa,” ucapnya.

Setelah itu, Ummi Rohmi panggilan akrab Wagub, berkesempatan bersilaturahmi ke SMAN 1 Bayan. Dengan tujuan yang sama, meninjau situasi sekolah dan berdialog  dengan siswa-siswi dan guru-guru.

“Siswa-siswi disini punya cita-cita yang bermacam-macam. Mulai dari dokter hingga menjadi seorang pengusaha. Apapun cita-citanya , teruslah belajar dengan baik dan giat, dan tidak lupa minat doa kepada orang tua dan guru di sekolah ini,” ungkapnya.

Dalam kunjungannya ke SMAN 1 dan SMAN 2 Bayan ini,  Wagub juga melihat kondisi lingkungan dan taman sekolah masing-masing. 

Menurutnya lingkungan dan penataan taman  sudah rapi dan cantik.

Ia berpesan, agar siswa-siswi dan guru  selalu dapat menjaga lingkungan sekolah supaya  lebih cantik, lebih hijau dan makin bersih. 

Dan tentunya kalau bisa sudah terintegrasi dengan bank sampah.

“Jadi tidak ada istilah kita tidak kelola sampah dengan baik. Karena barometernya sekolah kita harus asri dan lestari. Alangkah baiknya jika sekolah juga dapat dihubungkan dengan bank sampah. Jika sudah dihubungkan sampah tersebut akan bermanfaat,” harapnya.

Wagub bicara pendidikan DI klu

Di akhir kunjungannya Wagub menyerahkan bantuan terhadap SMAN 1 Bayan dan SMAN 2 Bayan. 

Ia berharap dengan bantuan ini akan dibangun fasilitas laboratorium beserta perlengkapannya. Sehingga dapat meningkatkan kompetensi siswa-siswi di SMAN 1 dan SMAN 2 Bayan.***

BACA JUGA: Wagub NTB: Distribusi Minyak Goreng Harus Diperbaiki 




Gubernur NTB Dukung PS Selaparang Raya dan Neo Angle 

Gubernur NTB memberi dukungan penuh untuk PS Selaparang Raya dan Neo Angle yang akan mewakili NTB di laga nasional

MATARAM.lombokjournal.com ~ Gubernur NTB, Zulkieflimansyah berharap PS Selaparang Raya dan Tim sepak bola putri Neo Angle Wakili NTB isa memberikan yang terbaik bagi NTB, karena kedua tim itu akan berlaga di Piala Soeratin U-13 dan Pertiwi Cup Nasional.

“Semoga bisa memberikan yang terbaik bagi NTB,” harap Bang Zul sapaan Gubernur.

Ia menyampaikan dukungan penuh saat PS Selaparang Raya dan Neo Angel berkunjung ke Pendopo Gubernur, Jum’at [11/03/22].  

BACA JUGA: Festival Begawe Rinjani, Qagub Berharap Disiapkan Pendakian Kelas Dunia

Seperti dijelaskan Wakil Ketua Asprov PSSI NTB, Suhaimi, PS Selaparang Raya menjadi wakil NTB pada Piala Soeratin U-13 Nasional setelah menjadi pemenang usai mengalahkan tim  PSKT Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) 2-0.

Pertandingan kedua tim berlangsung di final Piala Soeratin U-13 di GOR 17 Desember Turide Mataram, Jumat [18/02] lalu.

Tim asal Lombok Tengah tersebut akan berada di Grup B. dan bersaing dengan klub dari Bali, Sumatera Barat, dan Bangka Belitung pada 10 Maret di Jakarta. 

Sementara, Tim Neo Angel sebagai juara turnamen tersebut akan mewakili NTB pada turnamen sepak bola Pertiwi Cup putaran nasional tahun ini.

Tak hanya PS Selaparang Raya dan Neo Angel, dua klub lainnya akan mewakili NTB pada Putaran nasional Piala Soeratin U-13, U-15, dan U-17. 

Pada kategori U-15, NTB diwakili Perselobar dimulai 12 Maret di Jawa Tengah. Tim asal Lombok Barat ini akan bersaing dengan klub asal Papua Barat, Jawa Barat, dan Kalimantan Tengah.

Sementara itu, Untuk Piala Soeratin U-17, Persebi yang menjadi wakil NTB berada di Grup D bersama Jambi dan Bali. 

BACA JUGA: Kisah Anak Majikan, Jadi Supir Tak Beruntung di Arab Saudi

Seluruh pertandingan Piala Soeratin U-17 dipusatkan di Jawa Timur. ***

 




Festival Begawe Rinjani, Wagub Berharap Disiapkan Pendakian Kelas Dunia

Saat menghadiri Festival Begawe Rinjani, Wagub Sitti Rohmi berharap disiapkan sistem pendakian yang berkelas dunia 

SEMBALUN.lombokjournal.com ~ Seluruh elemen masyarakat diminta bertanggung jawab atas kebersihan dan keasrian Rinjani, bersama menjaga bersama Pemerintah Daerah, termasuk semua stakeholder terkait. 

Sehingga ke depan kehadiran Rinjani sebagai wisata dunia betul-betul menjadi contoh di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur NTB, Hj Sitti Rohmi Djalilah saat membuka Festival Begawe Rinjani bertajuk “Recover Together Recover Stronger” sekaligus dirangkaikan dengan pembukaan kembali jalur wisata pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) bertempat di Senaru Lombok Utara, Kamis (10/03/22).

Menurutnya, Rinjani merupakan aset dan peluang untuk kesejahteraan masyarakat NTB. 

Pembukaan Festival Rinjani, Wagub didamping Wabup Lombok Utara, Danny Karter dan Kepala Balai TNGR Dedy Asriady,
Wagub Sitti Rohmi didampingi Wabup Lombok Utara, Danny Karter dan Kepala Balai TNGR Dedy Asriady

“Apa yang diperjuangkan hari ini dan berkumpul bersama untuk bagaimana Festival Rinjani ini sebagai tanda mulai dibukanya pendakian Gunung Rinjani menjadi kesempatan terbuka bagi kita semua,” jelas Ummi Rohmi sapaan Wagub NTB. 

Ia berharap agar disiapkan sistem pendakian yang berkelas dunia dari sisi protokol kesehatan, keamanan, sampahnya harus kualitasnya lebih baik.

“Selamat untuk semua, mudah-mudahan Gunung Rinjani semakin lestari,” kata Umi Rohmi.

BACA JUGA: Rinjani Dibuka, Saatnya Pariwisata Lombok Utara Bangkit

Untuk diketahui, pemesanan online dimulai tanggal 12 Maret 2022 dan untuk pengunjung diperbolehkan melakukan pendakian mulai tanggal 16 Maret 2022.

Sementara itu, Kepala Balai TNGR Dedy Asriady mengatakan gelaran ini adalah tahun ketiga Balai TNGR menyelenggarakan kegiatan yang menandai dimulainya pembukaan pendakian Gunung Rinjani. 

Keindahan dan potensinya menjadikan sebagai status Unesco Global Geopark Rinjani Lombok. Dengan keanekaragaman hayatinya mendapatkan status sebagai cagar biosfer. Selain itu juga menjadi pariwisata super prioritas, dan kawasan ini masuk dalam strategi pariwisata Nasional.

“Patut berbangga dengan semua itu dengan cara melestarikannya,” ujarnya.

Dikatakan Dedy,  ke depan ia masih bermimpi satu-satunya destinasi wisata pendakian di Indonesia akan memastikan pendakian standar berkelas di dunia, pertama hadir di Rinjani.

Di acara Festival Begawe Rinjani

Dalam festival itu, sejumlah pertunjukan ditampilkan diantaranya wayang botol dari tim sekolah pedalangan Wayang Sasak, atraksi kesenian Suling Dewa, Tari Bayan dan Cilinaya Jiwa Sraya yang dikaitkan dengan dibukanya pendakian Gunung Rinjani. ***

BACA JUGA: Wagub NTB: Distribusi Minyak Goreng Harus Diperbaiki




Kisah Anak Majikan, Jadi Supir Tak Beruntung di Arab Saudi

Kisah dan pengalaman Haris (34), saat bekerja sebagai TKI di Riyadh Arab Saudi, memberikan gambaran, tidak hanya TKW yang mengalami perlakuan buruk dari majikan. Naniek I Taufan menuliskan kisah nasib tak beruntung  seorang TKI

MATARAM.lombokjournal.com ~ Haris yang memilih melarikan diri dari rumah majikannya mengalami banyak hal tidak menyenangkan selama hampir tiga tahun menjadi TKI di negeri tersebut. 

Sebagai orang yang pernah hidup berlebihan saat ayahnya yang tinggal di Pulau Sumbawa kaya raya, ia pernah merasakan menjadi majikan. Namun, ketika usaha ayahnya terus surut, membuat ia memutuskan bekerja sebagai TKI demi kebahagiaan istri dan anak-anaknya. Ia pun rela saban hari diperintah untuk melakukan segudang aktivitas bekerja. Inilah kisah anak majikan yang akhirnya menjadi supir.

Perjalanan hidup manusia tidak selamanya berada di atas melainkan berputar. Dan ini pasti dialami oleh semua orang. Roda kehidupan itu akan terus berputar, hari ini susah besok atau ke depannya belum tentu susah terus namun bisa mendapat kesenangan. Demikian pula sebaliknya, hari ini senang besok dan selanjutnya belum tentu selalu senang, bisa jadi susah. Itulah yang dialami oleh Haris. Ia tinggal bersama orangtua yang berada dan memiliki banyak anak buah yang juga siap mengantarkan ia ke mana-mana. Lalu ketika ia bekerja di Riyadh Arab Saudi pada tahun 2012-2016  hal itu berbalik, Harislah yang mengantar anak-anak majikannya ke mana-mana. Ia menjadi supir pada sebuah keluarga berada di negeri Arab.

Kisah memilukan pekerja migran
TKW yang dikabarkan hilang di Arab Saudi

Masa kecil Haris sangatlah bahagia. Ia dibesarkan dalam lingkungan berkecukupan dari ayah yang seorang pengusaha. Kehidupannya bersama kedua orang tua dan tiga saudaranya yang lain, jauh dari kekurangan. Bisa dibilang, semua hal yang diinginkannya bisa dibeli oleh ayahnya, pakaian, kendaraan hingga mobil dengan mudah bisa didapatkan. Saat kejayaan orang tuanya itu, ia nikmati sejak lahir hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).  Namun pada masa SMA, usaha ayahnya sedikit demi sedikit mulai surut. 

“Awalnya memang belum terasa karena ayah punya cukup banyak tabungan saat itu,” kata Haris sambil tersenyum. 

Di masa mulai surut usaha ayahnya, Haris dan saudara-saudaranya masih belum merasakan kekurangan karena tabungan ayahnya masih mampu menopang kehidupan ekonomi mereka. Tapi sejauh mana tabungan itu kuat menopang kebiasaan hidup mewah mereka sekeluarga dengan kejatuhan ekonomi yang semakin hari semakin parah, membuat ayahnya menyerah. “Tanah-tanah, mobil-mobil dan kendaraan lain serta rumah-rumah kami, mulai terjual satu persatu untuk menyambung kebutuhan sehari-hari, hingga tidak bersisa sama sekali,” ujarnya. 

BACA JUGA: Ini Juga Emansipasi, Suami Camat Kayangan Jadi Ketua TP PKK

Hanya dalam waktu lima tahun, harta mereka plus tabungan ayahnya, ludes untuk keperluan sehari-hari termasuk biaya sekolah mereka dan kuliah kakak sulungnya yang hidup mewah di perantauan. Kejatuhan itu terasa sangat memukul mereka. Kakak sulungnya itu pun akhirnya tidak melanjutkan kuliah sedangkan ia berhenti setelah lulus SMA dan dua adiknya hanya sampai tamat sekolah dasar karena memilih bekerja. Dari hasil penjualan aset ayahnya, mereka dibekali masing-masing uang yang diserahkan untuk dikelola sendiri-sendiri. Lagi-lagi, kebiasaan hidup enak menyeret uang tersebut sampai habis tak bersisa. Rani, kakak sulungnya menikah dan terpaksa harus bekerja banting tulang berjualan di pasar. Pekerjaan yang jauh dari basis kehidupan mereka. 

“Kak Rani orang yang gengsian itu akhirnya mau tidak mau memilih berjualan ikan di pasar tradisional,” katanya. 

Rani sendiri berujar bahwa untuk dapat makan sehari-hari, gengsi tidak bisa menyelesaikan masalah. Maka ia memilih dengan segala rasa malu yang harus ia lawan, berjualan di pasar. Haris sendiri setelah menikah tidak tahu harus berbuat apa. Sementara kedua adiknya yang hanya lulus SD itu, ikut bekas anak buah ayahnya bekerja apa saja ke sana kemari. 

Atas keinginan kembali hidup yang lebih baik, Haris pun memutuskan meninggalkan Pulau Sumbawa, berangkat ke Riyadh, setelah sebelumnya kena tipu perekrut tenaga kerja sehingga uang hasil pembagian dari penjualan aset ayahnya habis tak tersisa. Tahun 2010, setelah menjalankan karantina selama dua bulan di Jakarta dan membayar Rp 11 juta, tepatnya di bulan Desember, Haris berangkat ke Riyadh untuk menjadi seorang supir dari keluarga purnawirawan polisi di sana. 

Keluarga ini termasuk keluarga besar karena memiliki tujuh orang anak (4 laki-laki dan 3 perempuan). Mereka memiliki beberapa mobil dan Haris bertanggung jawab mengurus dua mobil dan menjadi supir untuk tiga anak perempuannya. Berbagai perilaku majikan dan anak-anaknya ini merepotkannya sejak pertama kali ia bekerja. Dua anaknya sekolah dan kuliah sedangkan satu anak lagi adalah seorang janda yang menurut Haris, “nakal”. 

“Ini yang paling bikin repot. Suka melanggar aturan keluarga senang pergi ke tempat hiburan bahkan hingga dini hari,” katanya. 

Hari-harinya bekerja sebagai supir selalu kena marah dan caci maki. Tidak jarang ia kena pukulan. Pasalnya, ia jadi tidak mengerti harus mengikuti aturan yang mana. Orang tua bilang anak-anak tidak boleh pulang dini hari sedangkan anak-anak memaksanya untuk mengantar hingga waktu yang tidak terbatas. 

“Ikut kata orang tua, anaknya yang kasar dan main pukul jika saya menolak. Ikut kata anaknya, orang tuanya yang menganiaya saya dan dikatakan melanggar aturan,” ujarnya. 

Yang lebih parah menurutnya, anak majikannya ini kerap kali menaikkan laki-laki di tengah jalan ke dalam mobilnya. 

“Nanti mereka masuk mall dan pulangnya dini hari. Saya harus menunggu di parkiran semalaman,” ujarnya.

Sudah capek mengurus anak majikan yang selalu keluar tanpa jeda, ia juga harus mengantar jemput kedua anak lainnya sampai ke acara jalan-jalan ke mall atau ke rumah kawannya. Jam kerja yang ditentukan sesuai kontrak, tidak lagi berlaku. Dengan gaji hanya sekitar Rp 2.5 juta, Haris bekerja siang malam, hampir 24 jam. 

“Jika ingin istirahat tidur sebentar saja, HP harus selalu di bawah telinga, karena jika ada telepon ia harus segera bangkit tidak ada alasan apa pun apalagi ngantuk dan istirahat,” katanya. 

Haris tinggal di bagian depan rumah tersebut dekat satpam. Ia sama sekali tidak diperbolehkan masuk rumah. Ia hanya bisa ketemu dengan pembantu rumah tangga yang orang Jawa Timur, saat mereka keluar untuk buang sampah. 

Haris merasa benar-benar tenaganya habis. Makan juga tidak teratur. Selama bekerja di sana, para pembantu rumah tangga dan supir serta satpam, diberi makanan sisa mereka. Karena sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan majikan yang makin hari makin sering memukulnya, ia pun melawan dan meminta berhenti bekerja saat kontrak kerjanya dua tahun berakhir. 

“Tapi majikan tidak mengizinkan saya berhenti, paspor, KTP dan semua surat-surat saya ditahan,” katanya. 

Mereka hanya berjanji saja, selalu bulan depan atau liburan sekolah ia baru diizinkan berhenti bekerja. Jika saja perlakuan mereka baik, kemungkinan Haris masih mau bertahan untuk bekerja, tapi mengingat buruknya perlakuan tersebut, ia memilih kabur dari rumah majikannya, setelah setahun tertahan. 

Suatu hari ia memberanikan diri melarikan diri dari rumah majikannya setelah bertengkar hebat melawan majikannya itu. Diam-diam ia lari meminta pertolongan pada perwakilan perusahaan yang “menjualnya” pada keluarga itu yang ada di Riyadh. Namun tidak diurus sama sekali. Ia diminta melapor pada polisi setempat (seperti Polsek). 

Sialnya, salah seorang anak majikannya yang seorang polisi malah memaki dan mengusirnya. Ia juga datang ke imigrasi untuk mengurus kepulangan, juga terdapat salah seorang kerabat majikannya. Pengurusan surat-suratnya dipersulit sedemikian rupa. 

BACA JUGA: Bau Nyale, Ini Kisah Drama Cinta Putri Mandalika

Maka luntang-lantunglah ia sampai akhirnya ia lari ke KJRI Riyadh. Tiba di sana, ia meminta perlindungan dan menceritakan semua permasalahannya serta ia menginformasikan bahwa masa kontraknya telah habis dan ia ingin kembali ke Indonesia.

“Sempat diurus oleh KJRI sampai mendatangi rumah majikan saya. Tapi perlakuan majikan saya pada staf KJRI yang mengantar saya untuk meminta surat-surat saya agar saya bisa pulang ke Indonesia, sangat kasar dan tidak menghargai. Kami malah dicaci maki dengan kata-kata tidak pantas,” katanya. 

Ia dan staf KJRI pun pulang dengan tangan hampa. Empat bulan ia tinggal di penampungan KJRI Riyadh menunggu agar semua surat-surat kepulangannya dapat diurus. Sampai akhirnya, Desember 2016, ia dapat kembali di tanah air. Haris bersyukur dapat kembali berkumpul dengan keluarganya dalam keadaan selamat mengingat terlalu banyak kisah sedih rekan-rekannya sesama TKI di luar negeri yang hingga saat ini tidak bisa pulang karena berbagai persoalan. Ia mengaku tidak berminat lagi bekerja di luar negeri. 

“Apa pun pekerjaan akan saya lakukan di kampung halaman ini, agar saya bisa berkumpul dengan anak dan istri,” katanya.***

 




Rinjani Dibuka, Saatnya Pariwisata Lombok Utara Bangkit 

Wakil Bupati Lombok Utara, Danny Karter mengatakan, dibukanya kembali pendakian Gunung Rinjani menjadi trigger bangkitnya pariwisata Lombok Utara 

TANJUNG.lombokjournal.com ~  Sekarang waktunya wisata di Lombok Utara bangkit setelah sempat mengalami masa sulit akibat gempa 2018 silam serta pandemi Covid 19.

Wakil Bupati Lombok Utara, Danny Karter Febrianto Ridawan, ST,. M.Eng, mengatakan itu, di tengah kegiatan Rinjani Begawe Festival, di Desa Senaru Kabupaten Lombok Utara NTB dengan tema Recover Together Recover Stronger, tang digelar Balai Taman Nasional Gunung Rinjani Kamis (10/03/04).

Kegiatan ini sebagai tanda dibukanya kembali jalur pendakian Gunung Rinjani yang sempat ditutup pada awal  tahun lalu.

“Kegiatan ini harus dijadikan trigger kebangkitan pariwisata Lombok Utara,” tuturnya. 

Danny mengatakan, dengan dibukanya kembali jalur pendakian Rinjani tentu akan membangkitkan perputaran ekonomi masyarakat di sekitar  jalur pendakian.

BACA JUGA: Wagub NTB: Distribusi Minyak Goreng Harus Diperbaiki

“Saya mengucapkan terimakasih atas atensi dari Pemerintah Pusat, Provinsi serta Pemerintah Desa dalam pemulihan ekonomi di wilayah Desa Senaru,” ucapnya.

Senaru harus dijaga

Wagub hadir dalam acara Rinjani Begawe
Wagub Sitti Rohmi

Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah hadir dalam kegiatan itu bersama Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi Dr. Nandang Prihadi, Kepala Balai TNGR Dedy Asriady, S.Si., M.P,  termasuk para Kepala OPD terkait.

Ummi Rohmi sapaan Wagub menyampaikan kekagumannya terhadap potensi alam di kawasan Gunung Rinjani, khususnya Desa Senaru. 

 “Senaru merupakan tempat luar biasa indah,” tuturnya.

Ia menekankan, menjadi tanggung jawab yang besar bagaimana alam yang indah tetap terjaga.

Ia juga mengajak Stakeholder serta  masyarakat untuk menjadikan Gunung Rinjani menjadi kawasan wisata berstandar dunia. 

Tentu untuk mewujudkan hal tersebut harus dijaga bersama terutama berkaitan dengan masalah sampah yang sering ditinggalkan para pendaki.

Karena itu, menjadi tanggung jawab bersama menjaga kelestarian alam Taman Nasional Gunung Rinjani nantinya dimana pengunjung diperbolehkan mendaki Rinjani mulai tanggal 16 Maret 2022.

Sementara itu, Kepala Balai TNGR Dedy Asriady mengutarakan, Taman Nasional Gunung Rinjani adalah keindahan yang dititipkan Tuhan kepada masyarakat Lombok.

Hal itu dibuktikan dengan dipilihnya kawasan Rinjani sebagai destinasi wisata super prioritas. 

“Penting untuk semua masyarakat merasa berbangga dengan keberadaan TNGR ini harus dijaga dengan cara melestarikan kawasannya,” katanya.

kemeriahan Begawe Rinjani

Festival yang mengangkat tema Recover together recover stronger ini juga menampilkan beberapa hiburan, di antaranya pentas seni, launching film dan Talkshow Budaya Lingkar Rinjani.

Wakil Gubernur dan rombongan juga menyempatkan untuk mengunjungi posyandu keluarga di dusun Tumpang Sari, Senaru dan meninjau kesiapan CHSE jelang menghadapi event MotoGP.***

BACA JUGA: Bupati: KLUKemiskinan Tinggi Tapi Pengangguran Rendah

 




Wagub NTB: Distribusi Minyak Goreng Harus Diperbaiki

Kata Wagub Sitti Rohmi, rantai distribusi harus dicari jalan keluarnya, jangan dibiarkan terlalu lama 

MATARAM.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur (Wagub) NTB Hj. Sitti Rohmi Djalilah menekankan perbaikan pola distribusi kebutuhan pokok minyak goreng dari distributor ke retail dan pasar, hingga sampai kepada masyarakat. 

Ini untuk membereskan permasalahan kebutuhan pokok minyak goreng dan menjaga ketersediaan stok barang kebutuhan pokok.

Wagub Sitti Rohmi menegaskan, pola dan rantai distribusinya harus dipikirkan jalan keluarnya.

Wagub memasalhkan distribusi minyak gorengan revitalisasi Posyandu
Wagub Sitti Rohmi

“Jadi hal seperti ini jangan dibiarkan terlampau lama, harus ada solusi untuk mengurai permasalahan tersebut,” tandas Wagub.

Hal itu disampaikan pada Rapat Terbatas (Ratas) menyikapi kebutuhan pokok minyak goreng dan menjaga ketersediaan stok barang kebutuhan pokok, Selasa (8/3/2022) di Ruang Rapat Sangkareang Kantor Gubernur NTB.

Ia berharap agar pintu masuknya minyak goreng dari pabrik ke distributor-distributor di NTB harus jelas. Baik itu jumlah distributor, cara dropping ke retail maupun pasar hingga ke konsumen atau masyarakat.

“Jadi harus kita tau masuknya ke NTB, normalnya per bulan itu berapa, sehingga ketahuan prosentase terpenuhinya kebutuhan minyak goreng,” katanya.

BACA JUGA: Program SNGI Diharapkan Sasar Barometer Stunting di NTB

Dalam laman facebooknya saat berdiskusi dengan para distributor minyak goreng dan asosiasi pengusaha ritel Indonesia (Aprindo) mengenai supply and demand minyak goreng di NTB, Selasa (8/3), Wagub juga menegaskan, soal minyak goreng ini bukan hanya di NTB, tetapi menjadi persoalan di hampir seluruh daerah. 

Menurutnya, pemerintah sedang menyiapkan sejumlah langkah. Salah satunya terkait upaya penambahan alokasi dan kuota minyak goreng. 

Tiap bulan dibutuhkan 1,7 juta hingga 2 juta liter untuk kebutuhan konsumsi masyarakat. 

“Jangan sampai UMKM kita yang mengandalkan minyak goreng sebagai bahan baku pokok, berhenti berproduksi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB Drs. H. Fathurrahman,M.Si, menyatakan bahwa kebutuhan pokok minyak goreng ini akan segera diatasi. 

“Apalagi menjelang perhelatan MotoGP, harus segera diatasi agar tidak mencuat,” kata H. Fathurrahman.

Karena menurutnya, para UMKM maupun industri-industri kuliner yang berpartisipasi mensukseskan event MotoGP membutuhkan pasokan demi terjaminnya kebutuhan saat pelaksanaan event tersebut.

Selain itu. ia menjelaskan, rapat ini untuk mengetahui quota minyak goreng untuk NTB. Sehingga dapat dipantau, pasokan minyak goreng terhubung dengan produsen mana saja dan distributor lokal di NTB. 

“Semua ini agar kita dapat mengawasi dan memantau rantai pasoknya,” kata Fathurrahman.

Menurutnya, kebutuhan minyak goreng untuk NTB 1,7 juta liter sampai 2,2 juta liter per bulan. Jumlahnya sekitar 50 ribu-60 liter per hari.

Dari paparan beberapa distributor di NTB, khususnya di pulau Lombok, saat ini para distributor hanya mampu sediakan kurang lebih 1.500 liter perhari.

Jadi pasokan minyak goreng dari produsen ke distributor belum secara kontinyu tersedia.  

BACA JUGA: Revitalisasi Posyandu Langkah Konkrit Wujudkan SDG’s

“Kadang dalam sehari, datang 2-3 kontainer. Dalam sehari atau dua hari langsung di droping ke retail dan pasar, sehingga hari berikutnya sudah tidak ada,” ucapnya

Ia mengaku terus berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Satgas  dan para distributor untuk mencari solusi dan menyelesaikan permasalahan minyak goreng. 

“Termasuk untuk mengikuti ketetapan HET minyak goreng sebesar Rp14.000,- per liter. Namun saat ini harga yang beredar dipasar tembus hingga angka Rp18.000,- sampai Rp25.000,- per liter,” ujarnya.

Ia mengaku Rapat tersebut akan ada pertemuan berikutnya, untuk mengerucutkan solusi kebutuhan pokok minyak goreng.

Dalam Rapat terbatas tersebut turut dihadiri Asisten 2 Setda Provinsi NTB, para distributor minyak goreng dan beberapa retail di NTB. ***