UPDATE Covid-19: Hari Minggu, 26 Juli 2020, Bertambah 23 Pasien Positif Covid-19, Pasien Sembuh 21 Orang, Kasus kematian 3 (tiga) Orang

Hingga hari ini kondisi rumah sakit rujukan dan rumah sakit second line untuk penanganan Covid-19 sudah penuh. Bahkan Ruang Intensif di Rumah Sakit Provinsi NTB juga telah penuh

 MATARAM.lombokjournal.com – Laboratorium PCR RSUD Provinsi NTB, Laboratorium PCR RS Unram, Laboratorium PCR Genetik Sumbawa Technopark, Laboratorium PCR RSUD Kota Mataram, Laboratorium PCR Prodia, Laboratorium PCR RSDU R. Soedjono Selong, Laboratorium TCM RSUD Provinsi NTB, Laboratorium TCM RSUD Kota Mataram, dan Laboratorium TCM RSUD H.L. Manambai Abdulkadir mengkonfirmasi, ada tambahan 23 pasien positif Covid-19, dan pasien yang dinyatakan sembuh 21 orang.

Lalu Gita Aryadi

Siaran pers hari Sabtu (25/07/20), Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. HL Gita Ariadi, M.Si menjelaskan, telah diperiksa sebanyak 543 sampel dengan hasil 500 sampel negatif, 20 sampel positif ulangan, dan 23 sampel kasus baru positif Covid-19, pasien sembuh 21 orang, kasus kematian 3 (tiga) orang.

Dijeaskan, adanya tambahan 23 kasus baru terkonfirmasi positif, 21 tambahan sembuh baru, dan 3 (tiga) kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari Minggu ini (26/07/20) sebanyak 1.926 orang, dengan perincian 1.218 orang sudah sembuh, 109 meninggal dunia, serta 599 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

Untuk mencegah penularan dan deteksi dini penularan Covid-19, petugas kesehatan tetap melakukan Contact Tracing terhadap semua orang yang pernah kontak dengan yang terkonfirmasi positif.

Selain itu, diharapkan petugas kesehatan di kabupaten/kota melakukan identifikasi epicentrum penularan setempat Covid-19 untuk dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran virus Covid-19.

TAMBAHAN 23 PASIEN POSITIF COVID-19, PASIEN SEMBUH 21 ORANG, KEMATIAN BARU 3 (TIGA) ORANG

Kasus baru positif tersebut, yaitu :

  1. Pasien nomor 1904, an. Ny. AR, perempuan, usia 41 tahun, penduduk Desa Meninting, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Harapan Keluarga dengan kondisi baik;
  2. Pasien nomor 1905, an. Tn. LM, laki-laki, usia 82 tahun, penduduk Kelurahan Selagalas, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Provinsi NTB dengan kondisi baik;
  3. Pasien nomor 1906, an. Ny. RR, perempuan, usia 71 tahun, penduduk Kelurahan Monjok Timur, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1821. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  4. Pasien nomor 1907, an. Tn. LP, laki-laki, usia 54 tahun, penduduk Desa Gunung Sari, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  5. Pasien nomor 1908, an. Ny. BMN, perempuan, usia 26 tahun, penduduk Kelurahan Gomong, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  6. Pasien nomor 1909, an. Ny. WR, perempuan, usia 24 tahun, penduduk Desa Kawo, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  7. Pasien nomor 1910, an. Tn. LGBPP, laki-laki, usia 28 tahun, penduduk Desa Panji Sari, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  8. Pasien nomor 1911, an. Tn. IPM, laki-laki, usia 35 tahun, penduduk Desa Terong Tawah, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Bhayangkara Mataram dengan kondisi baik;
  9. Pasien nomor 1912, an. Ny. PL, perempuan, usia 54 tahun, penduduk Kelurahan DayanPeken, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  10. Pasien nomor 1913, an. Ny. H, perempuan, usia 53 tahun, penduduk Desa Telagawaru, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dengan kondisi baik;
  1. Pasien nomor 1914, an. Tn. FBH, laki-laki, usia 41 tahun, penduduk Kelurahan Karang Baru, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  2. Pasien nomor 1915, an. Tn. H, laki-laki, usia 52 tahun, penduduk Kelurahan Monjok Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dengan kondisi baik;
  3. Pasien nomor 1916, an. Ny. JS, perempuan, usia 77 tahun, penduduk Kelurahan Mataram Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Pasien meninggal dan dilakukan tatalaksana Covid-19;
  4. Pasien nomor 1917, an. Tn. FR, laki-laki, usia 51 tahun, penduduk Desa Sandik, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat. Pasien pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1859. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Provinsi NTB dengan kondisi baik;
  5. Pasien nomor 1918, an. Ny. SR, perempuan, usia 39 tahun, penduduk Desa Sesela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  6. Pasien nomor 1919, an. Tn. AZH, laki-laki, usia 32 tahun, penduduk Desa Merembu, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  7. Pasien nomor 1920, an. Ny. EN, perempuan, usia 27 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan, Kecamatan Mataram, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1868. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSI Siti Hajar Mataram dengan kondisi baik;
  8. Pasien nomor 1921, an. Ny. S, perempuan, usia 26 tahun, penduduk Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  9. Pasien nomor 1922, an. Ny. BK, perempuan, usia 41 tahun, penduduk Desa Masbagik Utara, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  10. Pasien nomor 1923, an. Tn. MKA, laki-laki, usia 29 tahun, penduduk Desa Tababan, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  11. Pasien nomor 1924, an. Ny. FK, perempuan, usia 24 tahun, penduduk Desa Songak, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  12. Pasien nomor 1925, an. Tn. LMLR, laki-laki, usia 19 tahun, penduduk Desa Gelora, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dengan kondisi baik;
  13. Pasien nomor 1926, an. Tn. S, laki-laki, usia 68 tahun, penduduk Desa Sandubaya, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Pasien meninggal dan dilakukan tatalaksana Covid-19.

Hari Minggu terdapat penambahan 21 orang yang sembuh dari Covid-19 setelah pemeriksaan laboratorium swab dua kali dan keduanya negatif, yaitu :

  1. Pasien nomor 1078, an. Tn. RMF, laki-laki, usia 29 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan Timur, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  2. Pasien nomor 1271, an. Ny. H, perempuan, usia 45 tahun, penduduk Desa Telaga Waru, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur;
  3. Pasien nomor 1298, an. Ny. SM, perempuan, usia 56 tahun, penduduk Desa Aikmel, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur;
  4. Pasien nomor 1335, an. Tn. SH, laki-laki, usia 27 tahun, penduduk Kelurahan Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  5. Pasien nomor 1356, an. Tn. SAK, laki-laki, usia 41 tahun, penduduk Kelurahan Pejarakan Karya, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  6. Pasien nomor 1389, an. Tn. M, laki-laki, usia 39 tahun, penduduk Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur;
  7. Pasien nomor 1512, an. Ny. ERI, perempuan, usia 44 tahun, penduduk Kelurahan Ampenan Tengah, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  8. Pasien nomor 1524, an. Tn. M, laki-laki, usia 53 tahun, penduduk Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah;
  9. Pasien nomor 1622, an. Tn. CW, laki-laki, usia 55 tahun, penduduk Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  10. Pasien nomor 1659, an. Tn. IBM, laki-laki, usia 32 tahun, penduduk Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat;
  11. Pasien nomor 1672, an. Ny. HS, perempuan, usia 59 tahun, penduduk Desa Merembu, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  12. Pasien nomor 1676, an. Tn. MJN, laki-laki, usia 26 tahun, penduduk Kelurahan Pagutan, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  13. Pasien nomor 1726, an. Tn. IGNGYP, laki-laki, usia 63 tahun, penduduk Kelurahan Punia, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  14. Pasien nomor 1735, an. Ny. TS, perempuan, usia 50 tahun, penduduk Kelurahan Monjok, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  15. Pasien nomor 1784, an. Ny. W, perempuan, usia 56 tahun, penduduk Kelurahan Ampenan Selatan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  16. Pasien nomor 1835, an. Tn. A, laki-laki, usia 37 tahun, penduduk berdomisili di Kelurahan Cakranegara Selatan, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram;
  17. Pasien nomor 1847, an. Ny. PAP, perempuan, usia 21 tahun, penduduk Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  18. Pasien nomor 1848, an. Ny. Z, perempuan, usia 55 tahun, penduduk Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  19. Pasien nomor 1849, an. Tn. LW, laki-laki, usia 62 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  20. Pasien nomor 1876, an. Ny. NNRS, perempuan, usia 50 tahun, penduduk Kelurahan Cakranegara Timur, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram;
  21. Pasien nomor 1877, an. Ny. NMW, perempuan, usia 68 tahun, penduduk Kelurahan Cakranegara Selatan, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram.

Hari Minggu ini juga terdapat penambahan 3 (tiga) kasus kematian baru, yaitu :

  1. Pasien nomor 1768, an. Tn. S, laki-laki, usia 52 tahun, penduduk Desa Masbagik Selatan, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. Pasien memiliki penyakit komorbid;
  2. Pasien nomor 1916, an. Ny. JS, perempuan, usia 77 tahun, penduduk Kelurahan Mataram Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Pasien memiliki penyakit komorbid;
  3. Pasien nomor 1926, an. Tn. S, laki-laki, usia 68 tahun, penduduk Desa Sandubaya, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Pasien memiliki penyakit komorbid.

Sekda NTB sebagai Ketua Pelaksana Gugus Tugas NTB, Lalu Gita Aryadi mengingatkan, Covid-19 adalah penyakit yang berbahaya.

Menurutnya, Kasus-kasus kematian yang disebabkan oleh Covid-19 tidak hanya disertai oleh penyakit komorbid, sehingga kita semua perlu senantiasa waspada dengan tetap melaksanakan protocol kesehatan dan pencegahan Covid-19.

“Hingga hari ini kondisi rumah sakit rujukan dan rumah sakit second line untuk penanganan Covid-19 sudah penuh. Bahkan Ruang Intensif di Rumah Sakit Provinsi NTB juga telah penuh,” kata Lalu Gita.

Masyarakat harus agar senantiasa tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan dalam seluruh aktifitas sosial dan ekonomi, terutama di tempat-tempat keramaian seperti mall, pasar tradisional dan pusat-pusat perbelanjaan serta diberbagai tempat iselenggarakannya kegiatan-kegiatan sosial.

Lalu Gita menekankan, semua memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain disekitar kita, sehingga hal terpenting bagi kita untuk dapat beradaptasi dengan tatanan baru kehidupan saat ini adalah dengan taat dan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19.

“Agar kita semua dapat tetap beraktifitas, produktif, sehat dan aman di tengah pandemi ini,” katanya.

AYA/Rr

 Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id

 Layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemi Covid-19 NTB di nomor 081802118119.

 




CHATASTROPE : Menengok Ulang Penyebab Ketertekanan Komunal yang Dihadapi Manusia

Lakon Chatastrope merupakan drama pendek Samuel Becket selain Come and Go dan beberapa naskah lain. Oleh para kritisi teater, naskah-naskah Becket masuk pada genre teater Absurd

MATARAM.lombokjournal.com —

TETAR LHO INDONESIA mementaskan pertunjukan ‘Chatastrope’ karya pengarang Irlandia, Samuel Beckett, dengan sutradaranya R. Eko Wahono, Jumat (24/07/20).

Pertunjukan yang dihadiri tidak banyak penonton karena aturan protokol kesehatan Covid-19 tersebut, menjadi pertunjukan ke-dua yang diselenggarakan Taman Budaya NTB pasca mewabahnya Covid-19.

Sebelumnya Taman Budaya NTB menghelat pertunjukan berjudul Sandiwara Merah Jambu dari kelompok Teater Kamar Indonesia, Minggu, (26/07/20).

Chatastrope merupakan naskah pendek Becket, bercerita tentang sebuah kelompok teater yang tengah melangsungkan latihan terakhir jelang pertunjukan.

Dimainkan oleh empat aktor: Sutradara (Achdiyat Kurniawan), Asisten Sutradara (Gilang Pratama) Aktor Utama (Ahmad Doom Rosyidi) dan Penata Lampu (Zulhadi), Chatastrope oleh Teater Lho Indonesia sebagaimana pengantar sutradaranya R. Eko Wahono, diniatkan sebagai refleksi dan representasi ketertekanan komunal masyarakat NTB dan dunia karena pandemi virus Covid-19 yang tengah mewabah.

Properti yang minim: hanya kursi, trap dan satu gantungan tempat costum, mampu membuat panggung hidup. Hal itu semakin terasa manakala tokoh sutradara dan asistennya terus berdialog tentang bagaimana seharusnya aktor berlaku di atas panggung.

Adegan demi adegan yang memperlihatkan bagaimana sosok sutradara begitu kuasa (diktator), terhadap asisten dan aktornya menjadi perlambang bagaimana kuasa-bisa berbentuk apa saja termasuk virus Covid-19, membuat seseorang mampu melakukan apa pun yang menjadi kehendaknya.

Dalam sesi diskusi seusai pertunjukan, banyak catatan menarik yang dilontarkan oleh beberapa penonton. Dalam hal ini diwakili beberapa teaterawan senior NTB seperti Majas Pribadi, Kongso Sukoco, Saipullah Sapturi, pun Wing Sentot Irawan.

Majas Pribadi dalam paparannya selain menyinggung sekilas tentang absurditas dari sisi teori, secara samar juga menyatakan bagaimana sutradara, R. Eko Wahono terkesan memaksakan para aktornya untuk memainkan naskah yang sebetulnya belum mampu mereka pahami.

Ada tahapan proses secara organis yang harus dilalui seorang aktor untuk sampai pada pemahaman tentang teater absurd. Proses organis tersebut dinilainya penting guna menghindari pemahaman instan yang saat ini gampang diperoleh seseorang melalui “artifisial intelegensia”.

Kesimpulan pemahaman aktor yang belum sampai pada tatanan organis itu, dijelaskan Majas dengan menyampaikan bagaimana ketegangan nuansa pertunjukan yang ingin diwakili tokoh aktor (diperankan Ahmad Dhoom Rosyidi) tidak diimbangi dua tokoh lain (sutradara dan asisten sutradara).

“Saya melihat, memang absurditas itu bukan persoalan yang gampang. Jadi dalam seni rupa, sebelum bicata surealis ngomong realis dulu. Kenyataan kita berada dalam kehidupan  asrtificial intelegensia, bahwa orang bisa belajar darimana saja, tapi tahapan-tahapan pematangan itu memang tidak bisa menjadi sangat instan. Saya nggak percaya. Saya melihat secara visual lumayan, ending bagus. Saya belum melihat bahwa Dhoom itu berdiri aja itu sudah bagus, dia gigil, dia nggak ngomong, tapi tidak diimbangi oleh dua pemeran yang lain,” paparnya.

Hal lain yang disampaikan Majas adalah tentang bagaimana semestinya pertunjukan tidak perlu terlalu dijelas-jelaskan. Penonton memiliki hak untuk menilai sendiri maksud pertunjukan sesuai kadar pemahamannya.

Hal itu penting dilakukan agar ketegangan yang dialami penonton murni ketegangan yang ditransfer oleh nuansa pertunjukan, bukan ketegangan personal penggarap pertunjukan. Transfer ketegangan nuansa pertunjukan kepada penonton akan sampai ketika pemerannya memiliki pemahaman yang cukup mengenai teater absurd.

“Bahwa pertunjukan ini tidak perlu dijelas-jelaskan. Bahwa dialog di pertunjukan ini tidak terlalu penting dalam pikiran-pikiran Samuel Becket. Tapi dijelaskan oleh bloking, moving itu ya, seluruh elemen yang ada di dalam. Saya melihat bahwa, memang absurditas itu bukan persoalan yang gampang,” terangnya.

Sementara Majas lebih menitik beratkan pada bagaimana pentingnya menilai kesiapan semua perangkat pertunjukan sebelum memilih naskah atau genre pertunjukan, Kongso Sukoco dalam memulai diskusinya berangkat dari pernyataan bahwa naskah-naskah Becket selalu berangkat dari realitas sosial.

Dari pernyataan tersebut, ia kemudian mengajukanpertanyaan apakah Sutradara R. Eko Wahono dalam menafsirkan naskah Chatasrtrope atau dalam bahasanya Kongso disebut malapetaka itu berangkat dari ketegangan psikologi manusia menghadapi pandemi Covid-19 yang dialami dunia saat ini?

Atau malapetaka itu muncul oleh sikap diktator para penguasa? Pertanyaan tersebut dilontarkan Kongso karena melihat malapetaka yang ditampilkan di dalam pertunjukan digambarkan dalam citra kediktatoran sutradara terhadap aktornya sementara dalam pengantar diskusi oleh sutradara R. Eko Wahono, diktatornya sutradara memiliki asosiasi dengan Covid-19.

“Becket selalu mengasosiasikan teaternya itu dengan situasi sosial. Saya tidak tahu apakah pementasan malapetaka ini yang seperti pengantar sutradara tadi juga berbicara situasi terakhir, situasi pandemi Covid-19? Yang kita itu jadi bodoh, kita ditakut-takuti, itu saya pikir bisa diasosiasikan dengan situasi sosial saat ini. Saya tidak tahu apakah Mas Eko Wahono tadi menafsirkan Chatasrope?” tanyanya.

Tidak begitu berbeda dengan Majas Pribadi dan Kongso Sukoco, pernyataan dua penanya lain dalam hal ini Saepullah Sapturi dan Wing Sentot Irawan juga menyatakan bagaimana absurditas belum sampai pada pemahaman para pemerannya di atas panggung. Sentot bahkan memberikan nasehat kepada R. Eko Wahono agar sebaiknya menjadi penulis ketimbang menyutradarai pertunjukan.

“Saya selalu bilang ke Eko, sebaiknya menulis saja,” katanya.

Sementara itu, R. Eko Wahono selaku sutradara menyampaikan jika pada dasarnya setuju dengan beberapa pernyataan yang dilontarkan. Akan tetapi, dalam praktik penyutradaraannya, Eko cenderung tidak tertarik dengan genre naskah. Sebab ia menganggap bahwa semua genre naskah pada dasarnya bisa disebut realis.

“Saya membaca naskah segelap Waiting for Godot saja, saya membaca dialog-dialognya sangat realis. Jadi sebenarnya yang absurd itu ya, cara berpikirnya saja,” ungkapnya.

Di luar itu, Eko pun mengapresiasi semua yang hadir pada pertunjukan tersebut. Hal yang menurut Eko membuatnya bahagia. Sebab momen pertunjukan bagi para pelaku teater tak ubahnya seperti momen lebaran di mana para pelaku teater bisa bertemu, berkumpul dan bertukar gagasan.

Untuk diketahui lakon Chatastrope merupakan drama pendek Samuel Becket selain Come and Go dan beberapa naskah lain. Oleh para kritisi teater, naskah-naskah Becket masuk pada genre teater Absurd.

Absurdisme sendiri adalah jenis teater yang dengan sengaja melanggar atau meninggalkan konvensi alur, penokohan, dan tema-tema yang umum dijumpai di dalam naskah teater beraliran realis.

Meskipun secara sekilas naskah absurd menunjukkan ketidaksingkronan antar adegan, jika dinikmati lebih dalam maka penonton yang awam pun bisa menemukan benang merah yang menghubungkan adegan per adegan di dalam naskah.

Asta




Gubernur Bangga, JPS Gemilang Tahap Tiga Tersalur 100 Persen

Penyaluran JPS Gemilang yang menggunakan produk-produk lokal mendapat apresiasi dan pujian dari pemerintah pusat

MATARAM.lombokjournal.com — Setelah penyaluran program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang tahap tiga diluncurkan pada tanggal 13 Juli 2020 lalu di Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), distribusi paket bantuan tersebut kini sudah tuntas 100 persen.

Sebanyak 120.000  KK di NTB yang namanya masuk sebagai penerima bantuan JPS tahap tiga ini sudah mendapatkan paket tersebut.

Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah mengatakan, dengan tuntasnya distribusi JPS Gemilang tahap tiga ini dirinya merasa terharu sekaligus bangga dengan sinergi semua pihak.

“Alhamdulillah JPS Gemilang tahap tiga sudah tersalurkan 100 persen di semua kabupaten/kota se NTB. Terima kasih pada teman-teman di lingkungan Pemda Provinsi NTB yang bekerja keras tak mengenal lelah dengan team work yang hebat! Benar-benar terharu dan membanggakan,” kata Gubernur, Sabtu (25/07/20), seiring dengan telah tuntasnya penyaluran JPS pada tanggal 25 Juli pukul 18.00 Wita.

Gubernur juga memberikan ucapan terimakasih kepada Forkopimda dan  semua pihak yang ikut serta mensukseskan distribusi paket bantuan untuk masyarakat yang terkena dampak Covid-19 ini.

“Terima kasih juga pada pemda kabupaten/kota yang tak kalah kerasnya membantu, bersinergi menjadi Tim NTB yg luar biasa! Terima kasih para tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala desa, lurah, kepala lingkungan, Tagana, GNE, teman-teman TNI, Polri, Kejaksaan, BPKP, BPK, dan teman-teman semua yang tak bisa kami sebutkan satu persatu,” ujar Bang Zul sapaan akrabnya.

Ia mengatakan, dengan bekerja dan bersinergi bersama, maka beban yang berat menjadi terasa ringan karena dipikul bersama.

Penyaluran JPS Gemilang yang menggunakan produk-produk lokal mendapat apresiasi dan pujian dari pemerintah pusat.

Presiden Puji Pemprov NTB

Gubernur NTB saat menghadiri  pertemuan dengan Presiden membahas serapan APBD tahun 2020 di Istana Bogor pertengahan Juli lalu mengatakan, Presiden memuji langkah Pemerintah Provinsi NTB karena berhasil memberdayakan dan menggunakan produk-produk IKM/UKM lokal untuk paket bantuan sosial pada Program JPS Gemilang.

“Khusus JPS Gemilang NTB yang menggunakan produk-produk lokal, disebutkan khusus oleh presiden untuk diikuti dan dicontoh oleh provinsi-provinsi lain.” ujar Gubernur.

Terlebih jumlah IKM/UMKM yang dilibatkan sejak penyaluran tahap satu hingga tahap tiga selalu bertambah.

Salah satu stakeholder yang berperan penting ikut membantu pendampingan program JPS Gemilang adalah TNI.

Kapenrem 162/WB Mayor Inf Dahlan, S.Sos mengatakan, Satgas Gugus Korem 162/WB sampai ke tingkat Babinsa Kodim semenjak bergulirnya  program JPS Gemilang maupun program bantuan lain dari pemerintah pusat, termasuk pemda, pemdes selalu melakukan pendampingan bersama stakeholder terkait.

Pendampingan mulai dari  pendataan hingga penyaluran untuk memperkecil timbulnya permasalahan di tengah masyarakat.

“Pendampingan diharapkan dapat membantu mengurangi timbulnya permasalahan yang semestinya tidak perlu terjadi. Manakala semua pihak dapat berkoordinasi dengan baik, maka penyaluran dapat sesuai tujuan, tepat sasaran,tepat waktu serta bernilai manfaat dalam membantu ekonomi masyarakat di tengah pandemi covid -19,” terang Mayor Dahlan.

Menurutnya, dalam kondisi seperti saat ini saat ini semua pihak harus prihatin dan memiliki empati. TNI juga ikut berupaya semaksimal mungkin untuk menghindari munculnya permasalahan di lapangan agar energi tidak terkuras sia sia,

“Sementara kita dihadapkan dalam situasi harus kita  satukan kekuatan dalam melawan pandemi Covid agar kita dapat segera keluar dalam situasi sulit bencana ini,” terangnya.

Program JPS Gemilang dari tahap satu hingga tahap tiga bagi pelaku IKM/UMKM sangat berarti di masa pandemi ini.

Di saat usaha mereka terpuruk, program dari Pemprov NTB menjadi angin segar. Salah satu IKM yang mendapat manfaat dari program ini adalah Putri Rinjani dari Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata Lombok Tengah (Loteng).

Hj. Zaenab selaku Penggerak IKM Putri Rinjani mengaku mendapatkan pengadaan 11 ribuan bungkus abon ikan. Dari belasan ribu bungkus tersebut dibagi ke 27 kelompok usaha. Setiap kelompok memiliki pekerja sebanyak 12-15 orang. Artinya program ini telah membantu banyak keluarga.

“Dari 11 ribuan paket itu, saya hanya ambil tiga ribu. Selebihnya kami bagi ke kelompok lain. Program ini sangat membantu kami. Artinya program ini tidak dimonopoli oleh satu kelompok usaha tertentu, namun IKM seperti kami juga dilirik,” katanya.

IKM Putri Rinjani selama ini memproduksi aneka makanan ringan serta sambal khas Lombok yang dikirim hingga ke sejumlah daerah di Indonesia. Namun setelah pandemi, produksinya turun drastis hingga 90 persen.

“Penurunan produksi sampai 90 persen selama pandemi. Paling yang kami lakukan hanya membuat kerupuk, tortilla dalam sekala kecil, sekitar 5 kilo per hari yang dijual secara keliling di area terbatas atau menunggu pesanan,” katanya.

Ia mengatakan, selama pandemi ini, penjualan tortilla ke luar daerah sudah mulai dilakukan, namun demikian waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke daerah tujuan sangat lama. “Dengan adanya JPS ini kami merasa terbantu,” terangnya.

Untuk diketahui, jumlah penerima JPS tahap III sebanyak 120.000 KK. Terdiri dari 110.130 KK berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan 9.870 non DTKS. Sedangkan produk-produk yang ada dalam JPS Gemilang tahap tiga menggunakan produk dari 4.673 UMKM/IKM/kelompok usaha.

Untuk penerima manfaat di Pulau Lombok sebanyak 83. 276 KPM yang terdiri dari Kabupaten Lombok Utara sebanyak 4.290, Lombok Timur 43.920, Kota Mataram 6.641 Lombok Barat 11.458 dan Lombok Tengah 16.967.

Di Pulau Sumbawa sebanyak 36. 724 PKM, terdiri dari Kabupaten Sumbawa Barat 2.639, Kabupaten Sumbawa 7.106, Kabupaten Dompu 8.696, Kabupaten Bima 16.093 dan Kota Bima 2.187.

AYA/HmsNTB

 




Dirut BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, Terpilih Sebagai Best CEO yang Sukses Saat Pandemi

Apresiasi tersebut diharapkan dapat memacu kinerja BPJS Kesehatan dalam melayani masyarakat

lombokjournal.com —

JAKARTA ;     Sejumlah pemimpin perusahaan yang dinilai berhasil membawa institusinya survive di tengah pandemi Covid-19, mendapat penghargaan.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, merupakan salah satu pemimpin institusi yang dinilai berhasil survive menghadapi pandemi Covid-19.

Fachmi Idris masuk dalam daftar 55 Best CEO – Employees’ Choice Award 2020 yang diselenggarakan oleh Iconomics.

Founder and CEO Iconomics, Bram S. Putro mengatakan, pada kondisi saat ini, kehebatan sosok pemimpin diuji. Disrupsi kali ini melengkapi ujian disrupsi-disrupsi yang sebelumnya sudah melanda, seperti disrupsi digital, politik, dan lainnya

“Kali ini pula CEO seperti menghadapi ujian kelulusan, mampukah para CEO menghadapi dan melewati fase-fase ini,” kata Bram, dalam webinar penyerahan apresiasi Best CEO-Employees’ Choice Awards, Kamis (23/07).

Bagaimana penilaian Best CEO – Employees’ Choice Award 2020 dilakukan?

Bram menjelaskan, penilaian Best CEO – Employees’ Choice Award 2020 dilakukan melalui survei online terhadap ribuan staf berbagai industri dan kategori, dengan total responden mendekati 10.000 pada awal Juni 2020.

Penilaian dilakukan melalui kusioner online dan tanpa melakukan kuota geografis maupun jenjang jabatan.

Responden diminta melakukan penilaian terhadap CEO institusinya, dan diperkenankan melakukan penilaian terhadap CEO institusi lain dalam kategori industri/kegiatan sejenis.

Dijelaskan, dengan mempertimbangkan efisiensi eksekusi, maka hanya sekitar 200 CEO/institusi yang diikutsertakan ke dalam survei. Pemilihan kandidat CEO dan institusinya berdasarkan pilihan redaksi Iconomics.

“Best CEO – Employees’ Choice Award 2020 diberikan kepada pemimpin instansi dengan skor tertinggi di kategori sub-industrinya,” jelasnya.

BPJS Kesehatan berhasil memperoleh skor 4,08 dari 5 dalam parameter penilaian yang meliputi popularity, competency, personality, dan crisis leadership.

Memacu kinerja

Kepala Humas BPJS Kesehatan, M. Iqbal Anas Ma’ruf mengatakan apresiasi tersebut diharapkan dapat memacu kinerja BPJS Kesehatan dalam melayani masyarakat.

“Prestasi ini menjadi motivasi bagi kami agar terus bekerja lebih baik lagi dan mengedepankan integritas, profesional, pelayanan prima, dan efisiensi operasional dalam menyelenggarakan Program JKN-KIS. Yang pasti ini penghargaan karena para Duta yang bekerja luar biasa,” ucap Iqbal.

Kemudian menginisiasi dan menggalang dana kemanusiaan untuk para tenaga medis lewat Gerakan Gotong Royong Bantu Tenaga Kesehatan Cegah Corona (GEBAH Corona), yang diprakarsai BPJS Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan Republika.

Selain itu, BPJS Kesehatan juga menjalankan tugas khusus dari pemerintah.

Dijelaskan, tugas khusus yang dimaksud adalah melakukan verifikasi tagihan pelayanan kesehatan yang telah diberikan kepada peserta JKN-KIS, dari fasilitas kesehatan yang ditelah ditunjuk pemerintah untuk penanganan wabah Covid-19. sesuai dengan ketentuan regulasi yang berlaku.

Diugkapkan Iqbal, pihak BPJS Kesehatan berupaya semaksimal mungkin membantu pemerintah dalam melakukan penanganan terhadap kasus Covid-19.

Sejumlah dukungan BPJS Kesehatan dalam penanganan pandemi Covid-19 antara lain melakukan percepatan pembayaran klaim RS yang menjadi RS rujukan kasus Covid-19, mengalihkan layanan konvensional di Kantor Cabang dan Kantor Kabupaten/Kota ke layanan digital (Mobile JKN, BPJS Kesehatan Care Center 1500, dan Chat Assistant JKN/Chika).

“Kami juga memastikan peserta JKN-KIS memperoleh akses ke fasilitas kesehatan yang ditunjuk pemerintah untuk penanganan wabah Covid-19 sesuai prosedur dan ketentuan,” jelas  Iqbal.

(dob/dob/CNBC Indonesia)




UPDATE Covid-19: Hari Sabtu, 25 Juli 2020, Bertambah 20 Pasien Positif Covid-19, Pasien Sembuh 22 Orang, Kasus kematian 1 (satu) Orang

Masyarakat dihimbau agar senantiasa tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan dalam seluruh aktifitas sosial dan ekonomi

MATARAM.lombokjournal.com — Laboratorium PCR RSUD Provinsi NTB, Laboratorium PCR RS Unram, Laboratorium PCR Genetik Sumbawa Technopark, Laboratorium PCR RSUD Kota Mataram, Laboratorium PCR Prodia, Laboratorium TCM RSUD Provinsi NTB, dan Laboratorium TCM RSUD Praya mengkonfirmasi, ada tambahan 20 pasien positif Covid-19, dan pasien yang dinyatakan sembuh 22 orang.

Lalu Gita Aryadi

Siaran pers hari Sabtu (25/07/20), Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. HL Gita Ariadi, M.Si menjelaskan, telah sebanyak 505 sampel dengan hasil 458 sampel negatif, 27 sampel positif ulangan, dan 20 sampel kasus baru positif Covid-19, pasien sembuh 22 orang, kasus kematian 1 (satu) orang.

Dengan adanya tambahan 20 kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19, 22 tambahan sembuh baru, dan 1 (satu) kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari Sabtu (25/7/2020) sebanyak 1.903 orang, dengan perincian 1.197 orang sudah sembuh, 106 meninggal dunia, serta 600 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

Untuk mencegah penularan dan deteksi dini penularan Covid-19, petugas kesehatan tetap melakukan Contact Tracing terhadap semua orang yang pernah kontak dengan yang terkonfirmasi positif.

Diharapkan juga kepada petugas kesehatan di kabupaten/kota melakukan identifikasi epicentrum penularan setempat Covid-19 untuk dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran virus Covid-19.

TAMBAHAN 20 PASIEN POSITIF COVID-19, PASIEN SEMBUH 22 ORANG, KEMATIAN BARU 1 (SATU) ORANG

Kasus baru positif tersebut, yaitu :

  1. Pasien nomor 1884, an. Tn. KS, laki-laki, usia 59 tahun, penduduk Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  2. Pasien nomor 1885, an. Ny. NJ, perempuan, usia 31 tahun, penduduk Kelurahan Sayang Sayang, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1055. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  3. Pasien nomor 1886, an. Tn. MFHW, laki-laki, usia 21 tahun, penduduk Kelurahan Monjok Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  4. Pasien nomor 1887, an. Tn. FKAP, laki-laki, usia 23 tahun, penduduk Desa Tanak Beak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1776. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  5. Pasien nomor 1888, an. Ny. AW, perempuan, usia 46 tahun, penduduk Kelurahan Karang Baru, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  6. Pasien nomor 1889, an. Tn. MA, laki-laki, usia 49 tahun, penduduk Kelurahan Kebun Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSAD Wirabhakti Mataram dengan kondisi baik;
  7. Pasien nomor 1890, an. Ny. LE, perempuan, usia 37 tahun, penduduk Kelurahan Monjok Timur, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  8. Pasien nomor 1891, an. An. MAS, laki-laki, usia 12 tahun, penduduk Kelurahan Monjok Timur, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  9. Pasien nomor 1892, an. Tn. M, laki-laki, usia 73 tahun, penduduk Desa Kuripan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  10. Pasien nomor 1893, an. Ny. M, perempuan, usia 34 tahun, penduduk Desa Kuripan Timur, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1649. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  11. Pasien nomor 1894, an. Tn. IKS, laki-laki, usia 56 tahun, penduduk Kelurahan Monjok Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang bergejala Covid-19. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  12. Pasien nomor 1895, an. Ny. IL, perempuan, usia 58 tahun, penduduk Desa Lembar, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  13. Pasien nomor 1896, an. Ny. BASA, perempuan, usia 22 tahun, penduduk Desa Babusalam, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  14. Pasien nomor 1897, an. Tn. MFAA, laki-laki, usia 22 tahun, penduduk Desa Rensing, Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Bhayangkara Mataram dengan kondisi baik;
  15. Pasien nomor 1898, an. Ny. SIS, perempuan, usia 33 tahun, penduduk Kelurahan Karang Taliwang, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Bhayangkara Mataram dengan kondisi baik;
  16. Pasien nomor 1899, an. Tn. S, laki-laki, usia 34 tahun, penduduk Desa Parampuan, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Bhayangkara Mataram dengan kondisi baik;
  17. Pasien nomor 1900, an. Ny. LP, perempuan, usia 26 tahun, penduduk Desa Kuripan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  18. Pasien nomor 1901, an. An. ASN, perempuan, usia 15 tahun, penduduk Desa Kekeri, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  19. Pasien nomor 1902, an. Tn. IMAA, laki-laki, usia 26 tahun, penduduk Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1364. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik;
  20. Pasien nomor 1903, an. Tn. KJ, laki-laki, usia 30 tahun, penduduk Kelurahan Monjok, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Harapan Keluarga dengan kondisi baik.

Hari Sabtu terdapat penambahan 22 orang yang sembuh dari Covid-19 setelah pemeriksaan laboratorium swab dua kali dan keduanya negatif, yaitu :

  1. Pasien nomor 812, an. Ny. M, perempuan, usia 60 tahun, penduduk Kelurahan Dasan Agung, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  2. Pasien nomor 1163, an. Ny. BNA, perempuan, usia 45 tahun, penduduk Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  3. Pasien nomor 1166, an. Tn. HF, laki-laki, usia 30 tahun, penduduk Desa Peteluan Indah, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat;
  4. Pasien nomor 1169, an. Ny. BS, perempuan, usia 38 tahun, penduduk Desa Bagik Polak, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  5. Pasien nomor 1246, an. Tn. IMA, laki-laki, usia 53 tahun, penduduk Kelurahan Cakranegara Utara, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram;
  6. Pasien nomor 1252, an. Ny. ADL, perempuan, usia 26 tahun, penduduk Desa Brang Biji, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa;
  7. Pasien nomor 1312, an. Tn. MT, laki-laki, usia 31 tahun, penduduk Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  8. Pasien nomor 1334, an. Tn. PES, laki-laki, usia 38 tahun, penduduk Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  9. Pasien nomor 1342, an. Ny. BS, perempuan, usia 55 tahun, penduduk Desa Rumak, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat;
  10. Pasien nomor 1355, an. Tn. MF, laki-laki, usia 27 tahun, penduduk Kelurahan Ampenan Utara, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  11. Pasien nomor 1426, an. Ny. B, perempuan, usia 70 tahun, penduduk Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  12. Pasien nomor 1474, an. Ny. SS, perempuan, usia 45 tahun, penduduk Desa Terong Tawah, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  13. Pasien nomor 1558, an. Tn. IND, laki-laki, usia 32 tahun, penduduk Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  14. Pasien nomor 1589, an. Tn. F, laki-laki, usia 34 tahun, penduduk Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  15. Pasien nomor 1590, an. Tn. FS, laki-laki, usia 35 tahun, penduduk Kelurahan Pejarakan Karya, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  16. Pasien nomor 1629, an. Tn. NRS, laki-laki, usia 32 tahun, penduduk Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  17. Pasien nomor 1630, an. Tn. TH, laki-laki, usia 28 tahun, penduduk Desa Pringgarata, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah;
  18. Pasien nomor 1660, an. Tn. A, laki-laki, usia 58 tahun, penduduk Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat;
  19. Pasien nomor 1678, an. Tn. Z, laki-laki, usia 53 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan Timur, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  20. Pasien nomor 1679, an. Tn. A, laki-laki, usia 26 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan Timur, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  21. Pasien nomor 1695, an. Tn. MW, laki-laki, usia 35 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan Timur, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  22. Pasien nomor 1696, an. Tn. N, laki-laki, usia 34 tahun, penduduk Desa Perina, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah.

Hari Sabtu ini juga terdapat penambahan 1 (satu) kasus kematian baru, yaitu pasien nomor 1751, an. Ny. BDI, perempuan, usia 29 tahun, penduduk Kelurahan Tiwugalih, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah.

Sekda NTB sebagai Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas NTB, Lalu Gita Aryadi berharap, masyarakat yang memiliki penyakit tidak menular tesebut untuk lebih menjaga kesehatan, segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Berupaya mencegah terinfeksi Covid-19 dengan cara tidak keluar rumah, memakai masker bila harus keluar rumah, melakukan physical distancing, sering cuci tangan, dan tidak merokok,” katanya.

Masyarakat dihimbau agar senantiasa tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan dalam seluruh aktifitas sosial dan ekonomi, terutama di tempat-tempat keramaian seperti mall, pasar tradisional dan pusat-pusat perbelanjaan serta diberbagai tempat  diselenggarakannya kegiatankegiatan sosial.

“Hal terpenting bagi kitam untuk dapat beradaptasi dengan tatanan baru kehidupan saat ini adalah dengan taat dan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19, agar kita semua dapat tetap beraktifitas, produktif, sehat dan aman di tengah pandemi ini,” kata Lalu Gita Aryadi.

AYA/Rr

 Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id

 Layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemi Covid-19 NTB di nomor 08180211 8119




Cerita Pekerja Pariwisata yang Dirumahkan Saat Wabah Covid-19, Tanpa Pesangon dan Sulit Dapat Pekerjaan Lain

Sang manager masih tetap dengan jawabannya bahkan setengah menantang, mempersilahkan Markes untuk mengadukan perusahaan ke instansi yang melindungi tenaga kerja

MATARAM.lombokjournal.com — Banyak pekerja pariwisata NTB  kena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan sementara oleh perusahaan sebagai dampak mewabahnya pandemi Covid-19.

Sebagian besar dari pekerja pariwisata yang mengalami PHK dan dirumahkan sementara tersebut, tidak diberikan pesangon atau bantuan lain oleh perusahaan tempatnya bekerja. Jumat, (24/07/2020).

Markes (bukan nama sebenarnya), seorang karyawan di salah satu hotel berbintang di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, misalnya.

Sejak dirumahkan beberapa bulan lalu, ia dan beberapa karyawan lain belum mendapat uang pesangon atau jenis bantuan apa pun dari perusahaan tempatnya bekerja. Padahal, ia telah bekerja selama bertahun-tahun dan memiliki jabatan cukup tinggi di perusahaan.

“Kalau sudah teken kontrak harusnya dapat tunjangan, pesangon. Di sini ndak ada sama sekali yang saya lihat perusahaan. Hampir semua. Bisa dikatakan, hanya dua persen yang masih kasih gaji, tunjangan. Tapi dia kerja. Datang bersih-bersih. 80 persen tidak ada sama sekali pesangon. Gaji pun tidak,” ungkapnya kepada LombokJournal.com.

Markes menjelaskan, atas desakan beberapa rekannya agar menyuarakan masalah tersebut ke perusahaan, ia pun menemui manager umum. Sang manager yang diharapkan memberikan solusi justru menyampaikan, jika perusahaan tidak bisa berbuat apa pun.

Merasa tidak cukup dengan jawaban itu, Markes mengatakan ke sang manager jika tindakan yang diambil perusahaan keliru karena melanggar aturan terkait ketenagakerjaan.

Sang manager masih tetap dengan jawabannya bahkan setengah menantang, mempersilahkan Markes untuk mengadukan perusahaan ke instansi yang melindungi tenaga kerja.

“Justru teman-teman itu yang meminta. Karena saya kan leadernya di sana, ‘ayo pak bagaimana?’ akhirnya saya tanyakan ke GM (General Manager).

GM bilang ndak bisa karena dari Owner Direksi tidak ada jawaban.

“Bagaimana pak, terkait Disnaker nanti?’ silahkan mau ke Dinsaker mau lapor ke mana silahkan. GM nantang gitu. Kami mau berbuat apa. ‘Kami juga punya kebijakan sebagai perusahaan,” tuturnya sembari beberapa kali menirukan jawaban menejer umum perusahaannya.

Perlu diketahui, Markes sebenarnya melanggar aturan perusahaannya karena menyampaikan fakta tersebut ke publik. Sebagaimana yang dilakukan manager umum, begitulah semestinya ia berlaku: menekan bawahannya.

“Saya yang sudah masuk managemen, sebenarnya ndak boleh berbicara tentang ini. Harus apa yang dikatakan owner company, direksi, itu harus saya ngikut. Harus saya tekan ke staf ke bawahan agar tidak mengerti tentang itu,” katanya.

Lebih jauh, Markes mengungkapkan, apa yang dialaminya juga dialami hampir semua karyawan yang bekerja di hotel-hotel yang ada di Gili Trawangan.

Bahkan hotel Ombak Sunset dan hotel Villa Ombak yang notabene sebagai ‘icon’ tiga gili (Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air) diakuinya menerapkan kebijakan serupa ke para pekerjanya.

“Icon di Gili Trawangan itu kan Ombak Sunset dan Villa Ombak, sama,” ujarnya.

Di samping itu, sebelum pandemi Covid-19 pendapatan bersih rata-rata hotel besar di Gili Trawangan bisa mencapai dua sampai tiga miliar per bulan. Hal tersebut diketahui Markes karena jabatannya di prusahaan memungkinkannya mengakses laporan keuangan beberapa hotel.

Karena dalam meraup untung besar tersebut hotel-hotel juga dibantu para pekerja, harusnya mereka tidak lepas tangan dengan tetap bertanggung jawab meski kondisi perusahaan sedang sulit seperti sekarang.

“Sampai satu bulan itu dapat dua miliar, tiga miliar income bersih sudah itu, bahkan lima miliar. Tapi mau gimana? Owner juga punya hak untuk berbicara, company punya hak untuk mengatur,” sesalnya.

Tetap Penuh Harapan

Kendati menerima kenyataan pahit tidak lagi memiliki pekerjaan utama, Markes menerangkan jika dirinya tidak ingin terlalu lama untuk larut dalam kesusahan dan kesedihan dengan mulai mencari pekerjaan lain.

Walaupun, dia mengatakan sangat sulit menemukan pekerjaan pada masa pandemi seperti sekarang, ia tetap optimis.

Saat ini ia bekerja serabutan, mengerjakan apa pun yang bisa mendatangkan uang. Ia punya cita-cita membuka usaha suatu saat nanti, saat ini, ia belum memiliki modal.

Di luar itu, ia masih menjalin komunikasi guna saling bertukar pendapat dan informasi pekerjaan dengan para karyawan lain yang mengalami nasib sama dengannya, terutama karyawan yang berada di bawahnya ketika bekerja di hotel.

Ia pun bersyukur karena tak memiliki hutang sebagaimana beberapa rekan sesama pekerja pariwisata yang semasih bekerja dulu mengambil pinjaman bank dan mengambil kredit rumah. Dengan kondisi tanpa penghasilan saat ini, betapa berat beban yang harus mereka pikul.

“Teman-teman yang ambil kredit rumah. Mereka harus setor tiap bulan. Uang dari mana,” katanya.

Ast




UPDATE Covid-19: Hari Jum’at, 24 Juli 2020, Bertambah 33 Pasien Positif Covid-19, Pasien Sembuh 13 Orang, Kasus kematian 2 (dua) Orang

“Bagi kita, yang terpenting dapat beradaptasi dengan tatanan baru dengan taat dan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19”

MATARAM.lmbokjournal.com – Laboratorium PCR RSUD Provinsi NTB, Laboratorium PCR RS Unram, Laboratorium PCR Genetik Sumbawa Technopark, Laboratorium PCR RSUD Kota Mataram, Laboratorium PCR RSUD R. Soedjono Selong, Laboratorium PCR Prodia, Laboratorium TCM RSUD Provinsi NTB, Laboratorium TCM RSUD H.L. Manambai Abdulkadir, dan Laboratorium TCM RSUD Kota Mataram mengkonfirmasi, ada tambahan 33 pasien positif Covid-19, dan pasien yang dinyatakan sembuh 13 orang.

Lalu Gita Aryadi

Siaran pers hari Jum’at (24/07/20), Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. HL Gita Ariadi, M.Si menjelaskan, telah sebanyak 526 sampel dengan hasil 441 sampel negatif, 52 sampel positif ulangan, dan 33 sampel kasus baru positif Covid-19,  kasus kematian 2 (dua) orang.

Dijeaskan, adanya tambahan 33 kasus baru terkonfirmasi positif, 13 tambahan sembuh baru, dan 2 (dua) kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari Jum’at ini (24/7/2020) sebanyak 1.883 orang, dengan perincian 1.175 orang sudah sembuh, 105 meninggal dunia, serta 603 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

Menurut Lalu Gita, untuk mencegah penularan dan deteksi dini penularan Covid-19, petugas kesehatan tetap melakukan Contact Tracing terhadap semua orang yang pernah kontak dengan yang terkonfirmasi positif.

TAMBAHAN 33 PASIEN POSITIF COVID-19, PASIEN SEMBUH 13 ORANG, KEMATIAN BARU 2 (DUA) ORANG

Kasus baru positif tersebut, yaitu :

  1. Pasien nomor 1851, an. Tn. SS, laki-laki, usia 32 tahun, penduduk Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  2. Pasien nomor 1852, an. Tn. D, laki-laki, usia 64 tahun, penduduk Desa Tempos, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Provinsi NTBdengan kondisi baik;
  3. Pasien nomor 1853, an. Ny. N, perempuan, usia 54 tahun, penduduk Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Provinsi NTB dengan kondisi baik;
  4. Pasien nomor 1854, an. Ny. NA, perempuan, usia 43 tahun, penduduk Kelurahan Pagutan Barat, Kecamatan Mataram, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  5. Pasien nomor 1855, an. Ny. SR, perempuan, usia 61 tahun, penduduk Kelurahan Babakan, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Harapan Keluarga dengan kondisi baik;
  6. Pasien nomor 1856, an. Tn. AD, laki-laki, usia 52 tahun, penduduk Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  7. Pasien nomor 1857, an. Tn. PP, laki-laki, usia 63 tahun, penduduk Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Awet Muda Narmada dengan kondisi baik;
  8. Pasien nomor 1858, an. Tn. T, laki-laki, usia 58 tahun, penduduk Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Darurat Asrama Haji dengan kondisi baik;
  9. Pasien nomor 1859, an. Ny. SH, perempuan, usia 48 tahun, penduduk Desa Sandik, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat. Pasien pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Siloam Mataram dengan kondisi baik;
  10. Pasien nomor 1860, an. Tn. U, laki-laki, usia 31 tahun, penduduk Desa Naru, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima. Pasien pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1581 dan 1745. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan Puskesmas Sape dengan kondisi baik;
  11. Pasien nomor 1861, an. Ny. T, perempuan, usia 23 tahun, penduduk Desa Jis, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima. Pasien pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 1581. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan Puskesmas Sape dengan kondisi baik;
  12. Pasien nomor 1862, an. Ny. TL, perempuan, usia 29 tahun, penduduk Desa Kuripan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Harapan Keluarga dengan kondisi baik;
  13. Pasien nomor 1863, an. Tn. SJ, laki-laki, usia 64 tahun, penduduk Kelurahan Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Harapan Keluarga dengan kondisi baik;
  14. Pasien nomor 1864, an. Ny. DI, perempuan, usia 47 tahun, penduduk Desa Gerung Selatan, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Patuh Patut Patju dengan kondisi baik;
  15. Pasien nomor 1865, an. Tn. IKD, laki-laki, usia 67 tahun, penduduk Kelurahan Cakranegara Utara, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Provinsi NTB dengan kondisi baik;
  16. Pasien nomor 1866, an. Ny. HRN, perempuan, usia 63 tahun, penduduk Desa Presak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Provinsi NTB dengan kondisi baik;
  17. Pasien nomor 1867, an. Ny. A, perempuan, usia 32 tahun, penduduk Desa Bagik Polak, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Provinsi NTB dengan kondisi baik;
  18. Pasien nomor 1868, an. Tn. SAPY, laki-laki, usia 26 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan Barat, Kecamatan Mataram, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSI Siti Hajar Mataram dengan kondisi baik;
  19. Pasien nomor 1869, an. Ny. R, perempuan, usia 50 tahun, penduduk Desa Tanjung, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Tanjung dengan kondisi baik;
  20. Pasien nomor 1870, an. Ny. S, perempuan, usia 31 tahun, penduduk Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Tanjung dengan kondisi baik;
  21. Pasien nomor 1871, an. Ny. HA, perempuan, usia 33 tahun, penduduk Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Lombok Timur Labuhan Haji dengan kondisi baik;
  22. Pasien nomor 1872, an. Ny. W, perempuan, usia 27 tahun, penduduk Desa Mamben Daya, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Lombok Timur Labuhan Haji dengan kondisi baik;
  23. Pasien nomor 1873, an. Ny. S, perempuan, usia 38 tahun, penduduk Kelurahan Babakan, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dengan kondisi baik;
  24. Pasien nomor 1874, an. Ny. LD, perempuan, usia 25 tahun, penduduk Desa Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan pasien bergejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Tanjung dengan kondisi baik;
  25. Pasien nomor 1875, an. Ny. N, perempuan, usia 24 tahun, penduduk Desa Pengenjek, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Praya dengan kondisi baik;
  26. Pasien nomor 1876, an. Ny. NNRS, perempuan, usia 50 tahun, penduduk Kelurahan Cakranegara Timur, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  27. Pasien nomor 1877, an. Ny. NMW, perempuan, usia 68 tahun, penduduk Kelurahan Cakranegara Selatan, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dengan kondisi baik;
  28. Pasien nomor 1878, an. Ny. NKM, perempuan, usia 59 tahun, penduduk Kelurahan Cakranegara Selatan, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dengan kondisi baik;
  29. Pasien nomor 1879, an. Tn. DU, laki-laki, usia 29 tahun, penduduk Kelurahan Karang Baru, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  30. Pasien nomor 1880, an. Ny. AR, perempuan, usia 27 tahun, penduduk Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  31. Pasien nomor 1881, an. Ny. NDP, perempuan, usia 22 tahun, penduduk Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  32. Pasien nomor 1882, an. Ny. MM, perempuan, usia 32 tahun, penduduk Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kota Mataram dengan kondisi baik;
  33. Pasien nomor 1883, an. Tn. IPW, laki-laki, usia 33 tahun, penduduk Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang tanpa gejala Covid-19. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Patut Patuh Patju dengan kondisi baik.

Dipermaklumkan beberapa hal sebagai berikut:

  • Berdasarkan hasil klarifikasi terhadap pasien Covid-19 nomor 1817 yang semula diumumkan sebagai penduduk Kelurahan Sapta Marga, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, bahwa pasien sesungguhnya berdomisili di Desa Terong Tawah, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  • Berdasarkan hasil klarifikasi terhadap pasien Covid-19 nomor 1824 yang semula diumumkan penduduk Desa Tapir, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat, bahwa pasien sesungguhnya berdomisili di Desa Lekong, Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa.

Hari Jum’at ini terdapat penambahan 13 orang yang sembuh dari Covid-19 setelah pemeriksaan laboratorium swab dua kali dan keduanya negatif, yaitu :

  1. Pasien nomor 983, an. Ny. SR, perempuan, usia 42 tahun, penduduk Kelurahan Monjok Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  2. Pasien nomor 1017, an. Ny. K, perempuan, usia 64 tahun, penduduk Kelurahan Monjok, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  3. Pasien nomor 1143, an. Tn. LMFK, laki-laki, usia 33 tahun, penduduk Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah;
  4. Pasien nomor 1214, an. Ny. H, perempuan, usia 54 tahun, penduduk Desa Lembah Sari, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat;
  5. Pasien nomor 1288, an. An. CNR, perempuan, usia 7 tahun, penduduk Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat;
  6. Pasien nomor 1514, an. Ny. S, perempuan, usia 33 tahun, penduduk Desa Parampuan, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  7. Pasien nomor 1517, an. Ny. DMDP, perempuan, usia 34 tahun, penduduk Desa Bug Bug, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat;
  8. Pasien nomor 1635, an. Tn. PJ, laki-laki, usia 57 tahun, penduduk Kelurahan Turida, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram;
  9. Pasien nomor 1697, an. Tn. DI, laki-laki, usia 36 tahun, penduduk Kelurahan Mataram Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  10. Pasien nomor 1709, an. Tn. M, laki-laki, usia 57 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  11. Pasien nomor 1717, an. Tn. AM, laki-laki, usia 65 tahun, penduduk Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima;
  12. Pasien nomor 1756, an. Tn. BFA, laki-laki, usia 35 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan Timur, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  13. Pasien nomor 1758, an. Tn. INAS, laki-laki, usia 41 tahun, penduduk Kelurahan Mataram Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram.

Hari Jum’at ini juga terdapat penambahan 2 (dua) kasus kematian baru, yaitu :

  1. Pasien nomor 1769, an. Tn. M, laki-laki, usia 43 tahun, penduduk Desa Pringgajurang, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur;
  2. Pasien nomor 1821, an. Tn. LM, laki-laki, usia 75 tahun, penduduk Kelurahan Monjok Timur, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Pasien memiliki riwayat komorbid.

Sekda NTB sebagai Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas NTB menghimbau, seluruh masyarakat agar senantiasa tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan dalam seluruh aktifitas sosial dan ekonomi, terutama di tempat-tempat keramaian seperti mall, pasar tradisional dan pusat-pusat perbelanjaan serta di berbagai tempat diselenggarakannya kegiatan-kegiatan sosial.

“Bagi kita, yang terpenting dapat beradaptasi dengan tatanan baru kehidupan saat ini adalah dengan taat dan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19, agar kita semua dapat tetap beraktifitas, produktif, sehat dan aman di tengah pandemi ini,” katanya.

Ditegaskan, protokol kesehatan dan pencegahan ini harus terus kita terapkan secara disiplin dan ketat sampai vaksin atau obat Covid-19 ditemukan, agar kasus positif baru dan korban meninggal dapat benar-benar kita tekan dan hentikan.

Selain itu untuk memaksimalkan upaya pencegahan, diharapkan kepada masyarakat untuk dapat kooperatif terhadap kegiatan contact tracing yang dilakukan oleh petugas. Serta tidak boleh ada stigma negatif jika ada di antara warga kita atau tetangga yang terkonfirmasi positif.

“Mari kita terus memperkuat kolaborasi, kerja sama dan tetap semangat untuk melakukan pembinaan, sosialisasi dan edukasi secara humanis dan persuasif untuk meminimalisir jatuhnya korban akibat Covid-19,” kata Lalu Gita Aryadi

AYA/Rr

 Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id

 Layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemi Covid-19 NTB di nomor 08180211 8119.

 




Pemprov Akan Lakukan Tracing dan Swab Gratis untuk Pedagang di Pasar

Tim Gugus Tugas telah menemukan empat pasien Covidi-19 yang tertular di pasar tradisional. Salah satu dari pasien tersebut dinyatakan meninggal

MATARAM.lombokjournal.com — Pemerintah Provinsi melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Perdagangan dengan melibatkan TNI dan Polri,  pada hari Selasa (28/07/20), akan melakukan Tracing kontak kepada pegawai serta pedagang  yang ada di pasar Kebon Roek Ampenan, Mataram.

“Kita besok itu tracing dulu karena ternyata dari data kita, ada pasien-pasien positif dari yang bekerja di sekitar pasar  Kebon Roek,” ujar Kepala Dinas Kesehatan, Nurhandini Eka Dewi usai menggelar rapat di Kantor Gunernur NTB, Jumat (24/07/20).

Nurhandini menjelaskan, jika akan mulai traching kepada orang-orang terdekat pasien yang bekerja di pasar Kebon Roek, tak terkecuali tracing juga akan dilakukan kepada para pedagang yang ada di pasar tersebut.

“Kita mulai dari tracing hari Selasa, di satu tempat sebanyak 300  orang yang akan dites, seperti tes Swab guna mengetahui apa ada yang reaktif atau tidak dan tes itu akan kita lakukan sehari saja dalam satu gerakan,”ujar Eka sapaan akrabnya

Sebelumnya Tim Gugus Tugas telah menemukan empat pasien Covid-19 yang tertular di pasar tradisional. Salah satu dari pasien tersebut dinyatakan meninggal.

“Data kita yang bekerja di Kebon Roek itu positif, kalau di Mandalika ada dua, satu meninggal  dan sekarang ada 4 orang di Kebon Roek. Ini posisi sekarang terkena di pasar,” katanya.

Petugas kesehatan yang akan diterjunkan untuk mengambil swab dan rapid test sebanyak 12 orang.

“Ada 12 tenaga kesehatan yang sudah kita latih itu nanti yang akan kita turunkan,” katanya.

AYA




Silaturrahmi ICSB, Bunda Niken Optimis UMKM Bisa Jadi Pemain Utama di MotoGP

ISBC memiliki empat pilar pendukung, yakni terdiri dari akademisi, peneliti, pemerintah dan pelaku bisnis

MATARAM.lombokjournal.com – Setelah beberapa hari lalu resmi dilantik, pengurus International Council for Small Business (ICSB) NTB, menggelar pertemuan pertamanya dengan pengurus atau perwakilan organisasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) se- NTB, di Aula Pendopo Gubernur, Jumat (24/07/20)

ICSB memang sudah lama eksis, tapi merupakan organisasi baru di NTB. Melalui silaturahmi tersebut, ICSB membangun sinergi dan menyerap segala aspirasi dari berbagai pihak.

”Kami menyadari, sebelum kami bertindak lebih jauh kami perlu untuk menangkap aspirasi, kegelisahan, opini dan harapan harapan yang ada dari pengurus UMKM UMKM di Nusa Tenggara Barat,” ujar Ketua ICSB Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah.

UMKM dipercaya mampu bertahan dan menjaga perekonomian di NTB, terlebih dalam berbagai kondisi yang terjadi di NTB. Sehingga peningkatan kualitas UMKM sangat perlu dilakukan.

Pada gempa bumi yang melanda NTB, terlebih Lombok pada tahun 2018 silam, berkat bantuan dari berbagai penjuru dunia, dalam waktu kurang dari setahun NTB mampu bangkit.

Bahkan pada 2019 pertumbuhan ekonomi di NTB tercacat sebagai tertinggi keempat dari 34 provinsi di Indonesia.

Ketika pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan yang signifikan, lanjut Bunda Niken, kita kembali dilanda oleh musibah yakni pandemi covid-19.

Pandemi covid-19 yang tidak hanya melanda NTB akan tetapi juga melanda dunia.

“Saya melihat dari penurunan yang terjadi dari sisi perekonomian itu ketika pandemi Covid-19 ini kita turun nya lebih sedikit, yang mana dulu kita -4 persen dan saat ini hanya -2 persen, artinya kita dari sisi perekonian mungkin sudah lebih kuat, artinya meski kita sangat menderita namun kita bisa menghadapi ini dengan lebih baik lagi,” ujarnya.

Hal itu semakin membuat Bunda Niken semakin optimis. Pada perhelatan MotoGP 2021 mendatang UMKM NTB akan menjadi pemain utama dalam giat tersebut.

Untuk itu, Bunda Niken mengajak akan terus mengobarkan semangat dan memperkuat kolaborasi UMKM menyambut perhelatan MotoGP itu.

“Mudah mudahan bisa memberikan semangat bagi kita semua, kita akan berdaulat di budaya kita sendiri, kita akan menjadi penyedia dari event 2021 tersebut, kita akan menjadi orang orang yang sangat diuntungkan dengan adanya hal tersebut,” katanya.

Menurutnya, dewasa ini segala sesuatu terkoneksi dengan internet sehingga peran anak muda sangat penting, dalam membantu pertumbuhan UMKM dan membuat UMKM UMKM baru, tentunya yang lebih tanggap, lebih segar dan lebih kreatif.

“Secara garis besar ICSB kita akan menggerakkan atau menggairahkan terbentuknya wirausaha baru, kita melihat masih banyak potensi yang bisa dilakukan, masih banyak lagi usaha yang bisa dilaksanakan, dan kita akan dukung, kita akan gairahkan anak anak muda untuk maju dan berani menjadi seorang wirausahawan,” katanya.

Tidak hanya menggerakkan hadirnya wirausaha baru, ICBS juga akan membantu wirausaha yang telah ada untuk terus meningkatkan kualitasnya.

Ketua DPD IWAPI NTB, Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi menyampaikan, pertemuan tersebut sangat langka. Banyak pengurus UMKM di NTB bertemu dan berdiskusi terkait masa depan UMKM di NTB kedepannya.

“Ini kita dipertemukan, ini sangat langka kita dipertemukan seperti ini, kalau bersama sama kita memikirkan kemajuan UMKM maka akan lebih maju, ini kemajuan untuk UMKM dan pengusaha, kami sangat mengapresiasi kegiatan ini,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Diyah juga berbagi beberapa masukan terhadap ICBS dan siap mendukung serta berkolaborasi bersama ICBS.

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Chairman DPD NTB, Awanadi Aswinabawa mengemukakan, ICSB ini hadir salah satu fungsi dan tujuannya menjadi inkubator untuk UMKM di NTB, sekaligus sebagai katalisator memproses percepatan tumbuh kembangnya UMKM itu sendiri.

“Secara garis besar sebenarnya apabila kita petakan masalah masalah yang utama yang tidak hanya terjadi di NTB,tapi juga di daerah daerah lain, pasti kita akan bicara masalah kualitas produk, SDM, Pemasaran itu sendiri, oleh karena itu dengan hadirnya teman-teman dari Ipmi, Iwapi dan yang lainnya, itu dapat bersinergi dengan ICSB sehingga bisa membantu menciptakan UMKM yang sehat,” terangnya.

Ia memaparka, ISBC memiliki empat pilar pendukung, yakni terdiri dari akademisi, peneliti, pemerintah dan pelaku bisnis.

AYA/HmsNTB




Sekda Minta Sekolah yang Selenggarakan  MPLS, Segera Dihentikan

Perda akan disusun mulai awal Agustus mendatang. Dalam perda tersebut juga diatur denda yang akan diberikan bagi siapa pun yang melanggar

MATARAM.lombokjournal.com  — Sekertaris Daerah (Sekda) NTB, H.L. Gita Aryadi meminta kepada sekolah yang melakukan Masa pengenalan Lingkungan sekolah (MPLS) di masa pandemi untuk sementara di hentikan sampai batas waktu yang ditentukan.

Hal ini sesuai dengan surat Edaran Gubernur yang sudah disebarkan ke seLuruh sekolah yang ada di Kabupaten/ Kota di NTB.

“Sudah minta melakukan penutupan karena kondisi kita seperti itu, kita minta untuk ditutup,” ujar Lalu Gita Aryadi pada, Jumat (24/07/20).

Lalu Gita menjelasakan, hingga kini Pemerintah Provinsi sedang menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) terkait kegiatan yang dilakukan di sekolah selama pandemi Covid-19 ini masih berlangsung.

“Dengan segala kesadaran kita minta ditutup dulu kegiatan yang menimbulkn keramaian disekolah, dan berkaitan dengan  itu kita akan menyusun perda, sampai ada denda,” tegasnya.

Sekda memaparkan, di era pandemi ini sudah menjadi tanggung jawab kita agar bagaimana kita bisa semua bisa patuh dalam segala aturan, karena itu demi kesehatan kita bersama.

Perda akan disusun mulai awal Agustus mendatang. Dalam perda tersebut juga diatur denda yang akan diberikan bagi siapa pun yang melanggar.

“Perda mulai Agustus mudahan bisa ditetapkan di DPR akan diatur berupa denda agar bisa memberikan efek jera. Tujuannya  agar keselamatan tetap terjaga, sekali lagi meskipun belum adanya perda kita tentunya harus selalu patuh mentaati ptotokol kesehatan,” kata Sekda,

AYA