Perlu Diketahui, Perbedaan Rapid Test Corona Dengan Pemeriksaan Swab  

Jangan sampai Anda kemudian salah mengira dan ingin melakukan rapid test secara mandiri. Sebaiknya, ikuti pemeriksaan menggunakan rapid test yang disediakan oleh pemerintah maupun fasilitas kesehatan terpercaya

MATARAM.lombokjournal.com — Banyak orang yang masih belum paham, antara pemeriksaan virus corona dengan menggunakan rapid test, dan di pihak lain ada pemeriksaan Swab.

Berbedakah?  Rapid test dan pemeriksaan swab adalah pemeriksaan yang berbeda.

Banyak orang mengira, Rapid test sama dengan pemeriksaan swab tenggorokan yang selama ini dilakukan untuk mendeteksi virus, hanya cara kerjanya saja lebih cepat dan praktis. Tentu saja, anggapan itu tidak tepat.

Rapid test corona hanya bisa digunakan sebagai skrining atau penyaringan awal. Sementara itu untuk mendiagnosis seseorang terinfeksi Covid-19, hasil pemeriksaan swab lah yang paling akurat.

Beda Rapid Test Corona dan Pemeriksaan Swab

Alat rapid test digunakan sebagai sarana deteksi awal infeksi virus corona yang semakin meluas. Tes ini berbeda dari pemeriksaan swab tenggorokan dan hidung yang selama ini digunakan untuk menentukan diagnosis Covid-19.

Tahukah bedanya?Jenis sampel yang diambil Pemeriksaan rapid test yang ada di Indonesia, dilakukan menggunakan sampel darah. Sedangkan pemeriksaan swab menggunakan sampel lendir yang diambil dari dalam hidung maupun tenggorokan;

  1. Cara kerja Rapid test memeriksa virus menggunakan IgG dan IgM yang ada di dalam darah.

Apa itu? IgG dan IgM adalah sejenis antibodi yang terbentuk di tubuh saat kita mengalami infeksi virus. Jadi, jika di tubuh terjadi infeksi virus, maka jumlah IgG dan IgM di tubuh akan bertambah.

Hasil rapid test dengan sampel darah tersebut, dapat memperlihatkan adanya IgG atau IgM yang terbentuk di tubuh. Jika ada, maka hasil rapid test dinyatakan positif ada infeksi. Namun, hasil tersebut bukanlah diagnosis yang menggambarkan infeksi Covid-19.

Maka dari itu, orang dengan hasil rapid testnya positif, perlu menjalani pemeriksaan lanjutan, yaitu pemeriksaan swab tenggorok atau hidung. Pemeriksaan ini dinilai lebih akurat sebagai patokan diagnosis. Sebab, virus corona akan menempel di hidung atau tenggorokan bagian dalam, saat ia masuk ke tubuh.

Sampel lendir yang diambil dengan metode swab nantinya akan diperiksa menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction).

Hasil akhir dari pemeriksaan ini, nantinya akan benar-benar memperlihatkan apabila ada virus SARS-COV2 (penyebab Covid-19) di tubuh seseorang.

  1. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil Rapid test hanya membutuhkan waktu 10-15 menit hingga hasil keluar. Pemeriksaan menggunakan metode PCR membutuhkan waktu beberapa jam hingga beberapa hari untuk menunjukkan hasil.

Hasil pemeriksaan rapid test maupun PCR juga bisa keluar lebih lama dari itu, apabila kapasitas laboratorium yang digunakan untuk memeriksa sampel, sudah penuh. Sehingga, sampel yang masuk harus antre lama untuk bisa diperiksa.

  1. Kelebihan dan kekurangan rapid test Salah satu kelebihan pemeriksaan rapid test adalah tes ini cepat dan mudah untuk dilakukan. Cara ini juga bisa menjadi alternatif skrining cepat untuk mendata orang-orang yang butuh pemeriksaan lanjutan.

Kekurangannya, hasil dari tes ini tidak bisa digunakan untuk mendiagnosis Covid-19. Pasien yang positif rapid test harus melalui pemeriksaan lanjutan yaitu swab.

Sementara itu pasien yang negatif, idealnya mengulang rapid test 7-10 hari kemudian. Jika tidak memungkinkan untuk mengulang, maka harus tetap isolasi di rumah selama 14 hari.

Mengapa begitu?

Karena IgG dan IgM, yaitu antibodi yang diperiksa melalui rapid test, tidak langsung terbentuk begitu Anda terinfeksi. Dibutuhkan waktu kurang lebih 7 hari hingga antibodi tersebut terbentuk.

Jadi, kalau Anda menjalani pemeriksaan rapid test hari ini padahal baru terpapar virus corona kemarin, maka kemungkinan besar, hasilnya akan negatif. Inilah yang dinamakan dengan false negative atau negatif palsu.

Begitupun saat hasil rapid testnya positif, bisa saja ternyata false positive atau positif palsu. Sebab, IgG dan IgM akan terbentuk setiap infeksi terjadi dan bukan hanya akibat infeksi Covid-19. Jadi, jika rapid test menunjukkan hasil positif, kemungkinannya ada dua, yaitu Anda benar terinfeksi Covid-19 atau terinfeksi virus lain, seperti demam berdarah, misalnya.

  1. Kelebihan dan kekurangan pemeriksaan swab dan PCR Pengambilan spesimen lendir menggunakan swab dan pemeriksaan menggunakan PCR adalah metode yang paling akurat dalam mendeteksi virus SARS-COV2.

Namun sayangnya, pemeriksaan ini membutuhkan waktu yang lebih lama dan lebih rumit. Pemeriksaan sampel pun hanya bisa dilakukan di laboratorium dengan kelengkapan khusus. Sehingga, kapasitas pemeriksaan tidak terlalu besar.

Oleh karena itu, butuh waktu beberapa hari hingga hasil tes bisa keluar.

Lebih lengkap tentang PCR test untuk pemeriksaan virus corona PCR adalah sebuah metode pemeriksaan untuk mendeteksi infeksi virus corona.

Sementara itu, pemeriksaan swab adalah cara untuk mendapatkan sampel yang akan digunakan dalam metode PCR. Jadi dalam pemeriksaan corona, pemeriksaan swab dan PCR merupakan satu kesatuan.

Bagaimana pemeriksaan swab dilakukan?

Berikut ini tahapannya;

Pasien akan diminta untuk duduk di kursi. Lalu, tenaga kesehatan akan sedikit mendorong kepala pasien ke arah atas dan memasukkan alat yang berbentuk seperti cotton bud, tapi dengan ukuran yang jauh lebih panjang, ke dalam lubang hidung. Alat itu akan dimasukkan hingga mentok ke bagian belakang hidung.

Lalu, teknik swab dilakukanlah untuk menyapukan alat tersebut ke area belakang hidung. Alat tersebut memiliki bagian ujung yang dapat menyerap cairan atau lendir yang terdapat di area tersebut. Alat akan berada di dalam area tersebut selama beberapa detik agar cairan bisa terserap sempurna.

Setelah selesai, alat swab langsung akan dimasukkan ke tabung khusus dan ditutup. Lalu, tabung tersebut akan dimasukkan ke dalam wadah khusus dan selanjutnya dikirim ke laboratorium untuk diperiksa menggunakan teknik PCR.

Jika swab di hidung tidak memungkinkan, maka swab juga bisa dilakukan melalui tenggorokan. Setelah proses pengambilan sampel dengan teknik swab selesai, maka saatnya sampel tersebut diperiksa dengan teknik PCR. Jadi, PCR intinya adalah pemeriksaan untuk mencocokkan DNA atau RNA yang dipunyai virus.

Ibaratnya seperti tes DNA, tapi untuk virus. Dengan teknik PCR, DNA atau RNA yang ada pada sampel dari swab tadi akan direplikasi atau digandakan sebanyak mungkin.

Lalu setelah digandakan, DNA atau RNA dari sampel tersebut akan dicocokkan dengan susunan DNA SARS-COV2 yang sebelumnya sudah ada.

Jika ternyata cocok, maka DNA yang ada di sampel tersebut adalah benar DNA SARS COV-2. Artinya, orang tersebut positif terinfeksi Covid-19. Sebaliknya, jika ternyata tidak cocok, tandanya orang tersebut negatif terinfeksi Covid-19.

Sudah cukup jelas perbedaan antara rapid test dengan pemeriksaan swab?

Jangan sampai Anda kemudian salah mengira dan ingin melakukan rapid test secara mandiri. Sebaiknya, ikuti pemeriksaan menggunakan rapid test yang disediakan oleh pemerintah maupun fasilitas kesehatan terpercaya, agar alur pemeriksaannya bisa jelas dan terdata dengan baik.

Anda tidak akan kesulitan masuk antrean pemeriksaan, jika memang perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut dengan swab.

Rr

(Kompas.com)




Gubernur Zul Minta Kegiatan Rehab Rekon Diaktifkan

BNPB RI mempersilakan Pemerintah Provinsi NTB mengangkat kembali fasiltator yang telah dinon-aktifkan

MATARAM.lmbokjournal.com — Penanganan percepatan pembangunan dan perbaikan rumah korban gempa bumi di NTB disampaikan Gubernur NTB, DR H Zuikieflimansyah kepada BNPB RI.

Dimintanya, agar fasilitator yang di non-aktifkan akibat  pandemi Covid-19 kembali diaktifkan.

“Tujuannya agar masyarakat memiliki aktifitas ekonomi yang produktif,” ucap Gubernur Zul didampingi Kalak BPBD Provinsi NTB, H Ahsanul Khalik.

Permintaan itu disampaikan Gubernur Zul pada Rapat Koordinasi (Rakor) Virtual menggunakan Video Conference, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov. NTB) bersama BNPB RI dan Pemerintah Kabupaten/Kota, Selasa (21/04/2020) di ruang rapat Gubernur NTB.

Gubernur NTB yang akrab disapa Doktor Zul itu juga mengingatkan, fasilitator bersama masyarakat dalam proses perbaikan dan pembanguna rumah korban gempa bumi, tetap menerapkan prinsip-psinsip protocol pencegahan covid-19.

“Kami minta, persetujuan dari BNPB sehingga dapat dipercepat keaktifan para fasilitaor ini,” kata gubernur.

Gubernur Zul juga melaporkan perkembangan penanganan perbaikan, rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa bumi di NTB, sesuai data BNPB ada 226,204 unit rumah korban gempa bumi di NTB.

Dari data tersebut sudah dilakukan pelaksanaan pembangunan sebanyak 213,085 unit rumah. Adapun rinciannya bahwa secara fisik 100 persen sebanyak 185,596 yang terdiri dari Rusak Berat (RB) 59,640 unit, Rusak Sedang (RS) 28,722 unit dan Rusak Ringan (RR) sebanyak 97,234 unit.

Sedangkan yang dalam proses perbaikan dan pembangunan sebanyak 27,498 unit, yang terdiri dari Rusak Berat (RB) 14,412 unit, Rusak Sedang (RS) 3,720 unit dan Rusak Ringan (RR) sebanyak 9,357 unit.

“Secara umum progresnya on the right track,” katanya.

Deputi Bidang Rehabiltasi dan Rekonstruksi BNPB RI Ir. Rifai, M. B. A menanggapi usulan itu, dan mempersilakan Pemerintah Provinsi NTB untuk mengangkat kembali fasilator yang telah dinon-aktifkan.

Agar fasilitator kembali bekerja dalam menangani pembangunan dan perbaikan kembali rumah korban gempa yang belum selesai.

“Kami sangat mendukung dan sangat mumpuni supaya fasilitator kembali diaktifkan, bahkan kami telah bersurat ke daerah yang terdampak bencana, sesuai dengan hal ini,” jelas Rifai.

Namun sesuai aturan yang telah ditentukan pemerintah, fasilitator tetap diberikan ruang untuk bekerja, dengan memperhatikan protocol covid-19, menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan media, menjaga jarak.

“Dasarnya sudah jelas sesuai dengan Kepres nomor 59 tentang gugus tugas, protokol dari Kementerian PUPR nomor 2 tentang tentang memperhatikan protokol Covid-19,” jelasnya.

Rifai juga mengapresiasi Pemrov. NTB dalam perkembangan penanganan perbaikan, rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa bumi di NTB, yang sudah sampai 96 persen.

“Ini sangat menarik, karena kekuatan dan koordinasi daerah sudah sangat baik. Semoga terus disempurnakan,”ucapnya.

Rakor virtual dihadiri oleh Deputi I Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Deputi II Bidang Kajian dan Pengeloaan Isu-isu Sosial, Ekologi dan Budaya Strategis Kepala Kantor Staf Presiden, Direktur Pemulihan dan Penindakan Fisik BNPB, Kepala Daerah dan Kalak BPBD se-NTB.

AYA/HmsNTB




Komunitas Youtuber NTB Bagi-bagi Masker Ke Pengguna Jalan di Praya, Loteng

Sekitar seribu masker yang dibagikan itu sumbernya dari hasil iuran dari masing-masing anggota Komunitas Youtuber

LOTENG.lombokjournal.com – Aksi bagi-bagi masker ke pengguna jalan yang melintas di jalan protokol kota Praya, Lombok Tengah dilakukan Komunitas Youtuber Nusa Tenggara Barat.

Kegiatan itu merupakan aksi solidaritas yang dilakukan secara spontan untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19.

“Aksi ini kita lakukan secara spontanitas oleh teman-teman youtuber, sebagai upaya pencegahan penularan virus covid-19,” ungkap Reyjul selaku Ketua Komunitas Youtuber NTB.

Pihak Satlantas Polres Lombok Tengah sanat mendukung aksi ini. Beberpa anggota  tampak ikut membantu para Youtuber membagikan masker, sekaligus memberikan himbauan kepada para pengguna jalan yang melintas.

“Terima kasih kepada satlantas Polres Lombok Tengah, yang sudah mendukung dan mengawal aksi kami,” kata Reyjul.

Komunitas youtuber juga membawa poster berisi pesan himbauan kepada pengguna jalan. Himbauannya,  agar masyarakat selalui memakai masker saat beraktifitas di luar rumah, serta menjaga kesehatan.

Sekitar seribu masker yang dibagikan itu sumbernya dari hasil iuran dari masing-masing anggota Komunitas Youtuber.

“Ada sekitar seribu lebih masker yang kita bagikan untuk hari ini,” tutur Rayjul.

Kaur Bin Ops Satlantas Polres Lombok Tengah, Iptu Derpin Hutabarat mengapresiasi aksi sosial Komunitas Youtuber dalam upaya meminimalisir resiko penularan virus Covid-19, khususnya di kabupaten Lombok Tengah

“Hari ini kami bersama Komunitas Youtuber NTB, membantu pemerintah dalam upaya pencegahan penularan virus Covid-19,” kata Iptu Derpin.

Menurutnya, Satlantas Polres Lombok Tengah, akan mendukung siapa saja yang akan melakukan aksi sosial dalam upaya meminimalisir reiko penyebaran virus Covid-19, yang telah meresahkan masyarakat.

“Kami dari Satlantas Polres Lombok Tengah, siap mensuport siapapun yang ingin membantu pemerintah, dalam upaya pencegahan virus Covid-19,” tegasnya.

AYA




Apel Siaga Satgas Covid-19, Bupati Najmul Ajak Semua Pihak Bersinergi Tangani Pandemi Virus Corona

Pemda Lombok Utara terus berikhtiar menyiapkan sarana prasarana dan fasilitas penanganan virus corona seperti Rumah Sakit, APD, dan lainnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Lombok Utara

PEMENANG.lombokjournal.com — Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar, SH, MH memimpin pelepasan personel Satgas Covid-19 dalam apel siaga gugus tugas percepatan penanganan penyebaran virus corona di Kabupaten Lombok Utara, di Pelabuhan Bangsal Kecamatan Pemenang (20/04/2020).

Bupat Najmul Akhyar

Apel siaga digelar untuk persiapan penyemprotan disinfektan guna mencegah penularan dan penyebaran virus Corona di kawasan obyek wisata Gili Matra (Meno, Air dan Trawangan).

Satgas Covid-19 rencananya melakukan penyemprotan disinfektan pada fasilitas umum dan fasilitas khusus yang ada di Desa Gili Indah Kecamatan Pemenang.

Bupati Najmul menyampaikan, pelaksanaan tugas yang luhur harus diawali dengan niat baik, ketulusan, dan semangat membantu sesama agar pekerjaan terasa ringan.

Dikatakan, gili merupakan aset Kabupaten Lombok Utara sekaligus aset bangsa. Peserta apel diajak  untuk berpikir luas lantaran kawasan tiga gili menjadi pintu masuk wisata NTB.

“Atas nama Satgas Covid-19 saya mengucapkan terima kasih kepada semua elemen yang sudah membantu kerja besar kita,” katanya mengapresiasi.

Menurut bupati, Pemda Lombok Utara terus berikhtiar menyiapkan sarana prasarana dan fasilitas penanganan virus corona seperti Rumah Sakit, APD, dan lainnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Lombok Utara.

Semua pihak diajak bersinergi dan bekerja sama dalam menangani pandemi virus global tersebut.

Diakuinya, pemerintah daerah tidak bisa berbuat sendiri melainkan harus bekerja sama dan bergandengan tangan dengan pelbagai pihak, guna memberi bantuan sosial bagi masyarakat gumi Tioq Tata Tunaq.

“Dalam situasi sekarang ini mari kita saling memberi semangat. Tutuplah peluang saling menyalahkan dan mari kita sama-sama saling melengkapi,” ajaknya.

Bupati Najmul menegaskan, selain di tiga gili penyemprotan juga dilakukan di semua tempat di Lombok Utara guna menseterilisasi wilayah untuk memperkecil penyebaran Covid 19.

“Penyemprotan obyek wisata tiga gili ini termasuk yang ketiga kalinya kita gelar. Ada hal-hal positif yang bisa kita lakukan, misalnya penyemprotan dan menjaga kebersihan lingkungan,” tandasnya.

Sejauh ini, tampak pemerintah daerah Lombok Utara terus melakukan ikhtiar menjalin koordinasi dengan semua pihak.

Mulai dari pemerintah kabupaten, kecamatan, desa hingga kepala dusun sembari mengharapkan musibah dan ujian yang diberikan Allah kepada seluruh komponen daerah dapat segera berakhir.

Apel siaga diikuti para anggota Satgas Covid-19, terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, PMI, Tagana, dan RAPI itu, dihadiri oleh Asisten Bidang Ekonomi dan Administrasi Pengendalian Pembangunan Setda KLU Ir. H. Rusdi, Staf Ahli Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan Setda KLU Evi Winarni, SP, M.Si, Kalaksa BPBD KLU Muhadi, SH, Camat Pemenang Suhadman, S.Sos beserta unsur Gugus Tugas Covid -19 lainnya.

sid




Hari Senin, Pasien Positif Covid-19 Bertambah 21 Orang

MATARAM.lombokjournal.com — Pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari Senin (20/04/2020), meningkat signifikan mencapai 93 orang.

Rinciannya 11 orang sudah sembuh, 4 (empat) meninggal dunia, serta 78 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

Peningkatan jumlah pasien itu diketahui dari press release Gugus Tugas Provinsi Nusa Tenggara Barat, setelah hari Senin dikonfirmasi telah diperiksa 68 sampel dengan hasil 45 sampel negatif, 2 (dua) pasien sampel ulangan positif, dan 21 sampel kasus baru positif Covid-19.

Kasus baru positif Covid-19 tersebut masih didominasi pasien yang punya riwayat perjalanan ke Gowa Makassar. Atau setidakya pernah melakukan kontak erat dengan orang yang pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar.

Pasien yang dikonfirmasi positif Covid-19, yaitu:

  1. Pasien nomor 73, an. Tn. S, laki-laki, usia 57 tahun, penduduk Desa Labuan Bontong, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Sumbawa dan dalam keadaan baik;
  2. Pasien nomor 74, an. Tn. AS, laki-laki, usia 30 tahun, penduduk Desa Labuan Bontong, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Sumbawa dan dalam keadaan baik;
  3. Pasien nomor 75, an. Tn. H, laki-laki, usia 30 tahun, penduduk Desa Labuan Bontong, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Sumbawa dan dalam keadaan baik;
  4. Pasien nomor 76, an. Ny. R, perempuan, usia 38 tahun, penduduk Desa Kananga, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak erat dengan orang yang pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Bima dan dalam kondisi baik;
  5. Pasien nomor 77, an. Tn. I, laki-laki, usia 38 tahun, penduduk Desa Kananga, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien positif Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Bima dan dalam kondisi baik;
  6. Pasien nomor 78, an. Tn. AH, laki-laki, usia 28 tahun, penduduk Desa Bonto Kape, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak erat dengan orang yang pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Bima dengan kondisi baik;
  7. Pasien nomor 79, an. Ny. IJ, perempuan, usia 63 tahun, penduduk Desa Kananga, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak erat dengan orang yang pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Bima dengan kondisi baik;
  8. Pasien nomor 80, an. An. IA, laki-laki, usia 14 tahun, penduduk Desa Kananga, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak erat dengan orang yang pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Bima dengan kondisi baik;
  9. Pasien nomor 81, an. Tn. B, laki-laki, usia 32 tahun, penduduk Desa Kananga, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Bima dengan kondisi baik;
  10. Pasien nomor 82, an. Tn. A, laki-laki, usia 57 tahun, penduduk desa Kore, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak erat dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Bima dengan kondisi baik;
  11. Pasien nomor 83, an. Tn. S, laki-laki, usia 65 tahun, penduduk Desa Kananga, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Bima dengan kondisi baik;
  12. Pasien nomor 84, an. Tn. S, laki-laki, usia 30 tahun, penduduk Desa Kananga, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Bima dengan kondisi baik;
  13. Pasien nomor 85, an. Tn. MS, laki-laki, usia 33 tahun, penduduk Desa Kananga, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Bima dengan kondisi baik;
  14. Pasien nomor 86, an. Tn. MZ, laki-laki, usia 28 tahun, penduduk Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Lombok Tengah dengan kondisi baik;
  15. Pasien nomor 87, an. Tn. A, laki-laki, usia 60 tahun, penduduk Desa Aik Darek, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina di Kabupaten Lombok Tengah dengan kondisi baik;
  16. Pasien nomor 88, an. An. MA, laki-laki, usia 13 tahun, penduduk Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak erat dengan orang yang pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Saat sedang dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dan dalam kondisi baik;
  17. Pasien nomor 89, an. Tn. MF, laki-laki, usia 49 tahun, penduduk Kelurahan Pejarakan Karya, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar dalam 14 hari sebelum sakit. Riwayat kontak erat tidak pernah. Saat ini sedang dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dan dalam kondisi baik.;
  18. Pasien 90, an. Tn. SMP, laki-laki, usia 57 tahun, laki-laki, usia 57 tahun, penduduk Jatisela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak tidak pernah. Saat ini sedang menjalani karantina mandiri dan saat ini dalam kondisi baik;
  19. Pasien 91, an. Tn. A, laki-laki, usia 36 tahun, penduduk Keluarahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak ada. Saat ini sedang dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dan dalam kondisi baik;
  20. Pasien 92, an. Ny. HK, perempuan, usia 41 tahun, penduduk Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak erat dengan orang yang pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Saat ini sedang dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dan dalam kondisi baik;
  21. Pasien 93, an. Tn. R, laki-laki, usia 46 tahun, penduduk Kelurahan Dayen Pekan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Pasien pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini sedang dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kota Mataram dengan kondisi baik.

Petugas kesehatan tetap melakukan Contact Tracing terhadap semua orang yang pernah kontak dengan yang terkonfirmasi positif. Itu dilakukan uUntuk mencegah penularan dan deteksi dini penularan Covid-19.

Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. H. Lalu Gita Ariadi meningatkan, masyarakat bisa berperan aktif dalam upaya pemutusan rantai penularan Covid-19.

Caranya dengan tetap tinggal di rumah, memakai masker jika keluar rumah dan menghindari kerumunan, physical distancing minimal 2 meter, serta selalu mencuci tangan dengan sabun di air mengalir.

AYA 

Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id;

Layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemik Covid-19 NTB 

nomor; 0818 0211 8119. 




Wagub Sampaikan Penanganan Covid-19 Saat Rapat Paripurna DPRD NTB

Umi Rohmi menjelaskan, lonjakan kasus virus Corona cepat diketahui karena NTB saat ini telah memiliki alat sendiri yang dapat mengidentifikasi pasien yang telah terjangkit Covid-19

MATARAM.lombokjournal.com —  Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah membahas perkembangan terbaru penanganan Covid-19 di NTB, saat Rapat Paripurna DPRD Provinsi NTB penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur NTB Tahun 2019 yang berlangsung di Kantor DPRD Provinsi NTB, Senin (20/04/2020).

Menurutnya, peningkatan jumlah pasien yang positif  virus Corona di NTB harus disikapi dengan tenang dan tidak perlu panik.

Lebih lanjut wagub menyampaikan, pasien positif di NTB awal diketahui pada tanggal 16 Maret, tepat dua minggu setelah ditemukannya pasien pertama di Indonesia.

“Pada saat itu memang kita belum punya alat  sendiri, sampel semua harus kita kirim ke Jakarta untuk kemudian tujuh sampai dengan sepuluh hari setelah itu baru kita bisa umumkan,” tutur Umi Rohmi, sapaan akrabnya.

Umi Rohmi menjelaskan, kini lonjakan kasus virus Corona cepat diketahui karena NTB telah memiliki alat sendiri yang dapat mengidentifikasi pasien yang telah terjangkit Covid-19.

Dengan adanya alat tersebut, hasil tes swab dapat diketahui hanya dalam waktu yang jauh lebih singkat.

“Alhamdulillah Provinsi Nusa Tenggara Barat sejak sekitar dua minggu yang lalu, sudah memiliki alat sendiri, sudah ngecek sendiri, sehingga pada saat ini untuk menentukan positif itu hanya butuh satu sampai dengan dua hari. Itulah kemudian mengapa setiap hari kita mendengar jumlah yang positif itu banyak karena memang sesungguhnya yang positif-positif sekarang itu, sejak awal di pertengahan Maret itu sudah masuk ke NTB,” jelasnya.

Namun, Umi Rohmi minta masyarakat agar terus menjaga kedisiplinan dengan mematuhi protokol penanganan Corona, karena menurutnya tantangan utama dalam penanganan Covid-19 ialah kedisiplinan dari masyarakat.

“Kalau kita melihat lonjakan-lonjakan yang begitu signifikan hari-hari ini di NTB ini sebenarnya ada sinyal positif, bahwa kita sudah bisa melokalisir potensi-potensi tersebut dengan catatan, tentunya bagaimana agar masyarakat kita yang masuk dalam kategori PPTG (Pelaku Perjalanan Tanpa Gejala) maupun dia OTG (Orang Tanpa Gejala) maupun ODP (Orang Dalam Pemantauan) itu semuanya disiplin,” ujarnya.

Terakhir, Ummi Rohmi berharap kerjasama dan komunikasi antar pemerintah dengan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik.

Edukasi, kelengkapan sarana dan prasarana penanganan Covid-19 ke depan diharapkan terus ditingkatkan hingga ke pelosok-pelosok desa.

“Insya Allah dengan kerjasama yang baik antara eksekutif, legislatif dan seluruh elemen di Nusa Tenggara Barat masalah yang sulit ini akan bisa kita lalui dengan sebaik-baiknya,” kata Ummi Rohmi.

LKPJ Gubernur NTB

Sebelumya, Wagub Ummi Rohmi dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi NTB penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur NTB Tahun 2019, mengapresiasi kinerja serta kerjasama DPRD Provinsi NTB selama ini.

Masukan dan rekomendasi dari komisi-komisi DPRD dinilainya berharga bagi peningkatan kinerja Pemerintah Provinsi NTB.

“Tentunya, rekomendasi-rekomendasi ini akan kami tindak lanjuti dan akan menjadi masukan yang sangat berharga bagi kita di Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat,” ucap Ummi Rohmi.

AYA/HmsNTB




Hadiri Panen Hydroponic SMKN 1 Kuripan, Gubernur Zul Tekankan Penerapan Teknologi Pertanian

Terapan teknologi pertanian dan peternakan dengan memanfaatkan sistem pertanian terpadu yang dihasilkan siswa-siswi SMK 1 Kuripan, juga dapat diproduksi dan dimanfaatkan oleh petani dan peternak di NTB

LOBAR.lombokjournal.com — Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc., saat hadir untuk panen perdana tanaman hydroponic sayur-sayuran sekaligus panen telur ayam, mengapresiasi hasil produksi SMKN 1 Kuripan, Lombok Barat, Senin (20/04/2020).

Doktor Zul sapaan akrabnya,  meminta SMK-SMK di NTB terus berinovasi mengembangkan sistem pertanian terpadu dalam budidaya dan penerapan teknologi pertanian, mengingat sektor pertanian di Provinsi NTB merupakan sektor andalan dengan potensi paling besar.

Selain itu juga untuk membiasakan petani bersentuhan dengan teknologi.

Hydroponic sayur-sayuran

Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Kuripan Kabupaten Lombok Barat, mengembangkan sistem pertanian terpadu yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan.

Sebagai sekolah menengah vokasi yang konsen di bidang pertanian, diharapkan pola pertanian terpadu seperti ini dapat menghasilkan pembelajaran tentang pertanian yang konprehensif serta saling menguatkan antar sub sektor pertanian yang ada.

Pola Sistem Pertanian Terpadu yang diterapkan oleh SMKN 1 Kuripan ini, mampu meningkatkan produksi tanaman holtikultura seperti cabe, tomat dan terong, serta aneka sayuran dengan pola tanam dengan menggunakan system hydroponic.

Termasuk dalam peningkatan produktifitas ayam petelur untuk dipasarkan dan pemanfaatan pupuk dari limbah peternakan ayam.

Menurut Dr. Zul, terapan teknologi pertanian dan peternakan dengan memanfaatkan sistem pertanian terpadu yang dihasilkan siswa-siswi SMK 1 Kuripan, juga dapat diproduksi dan dimanfaatkan oleh petani dan peternak di NTB.

Ia menilai, banyak petani di NTB tertinggal dan hasil produksinya tidak berkembang, karena produk dan proses pertaniannya tidak berinovasi dengan teknologi dengan memanfaatkan sistem pertanian terpadu.

“Kenapa petani kita miskin karena tidak bersentuhan dengan teknologi yang sedang berkembang,” jelasnya

Gubernur juga menilai, untuk bisa memajukan wilayah-wilayah terpencil di NTB salah satunya adalah dengan membangun SMK-SMK pertanian di wilayah tersebut.

Sehingga Dr. Zul memberi tantangan kepada Kadis Dikbud NTB, Dr.H. Aidy Furqan, yang mendampinginya, untuk bisa membangun SMK pertanian di 10 Kabupaten/Kota di NTB.

“Saya berharap SMK Pertanian juga dibangun 1 di Bima, Dompu, Sumbawa dan KSB,” tuturnya di depan Kabid SMK dan jajaran Dikbud NTB.

Membangunn sekolah kejuruan

Kadis Dikbud NTB, Dr.H. Aidy Furqan, menjelaskan, SMKN 1 Kuripan yang dibuka tahun 1998 ini terus mengalami perkembangan. SMKN 1 Kuripan juga sudah mengembangkan budidaya pengembang tanaman pangan yang memiliki sentuhan teknologi.

“Di NTB ada 171 SMA dan ada 97 SMK, ke depan Sekolah Kejuruan ini akan terus dibangun,” kata Kadis Dikbud.

Sedangkan Kepala Sekolah SMKN 1 Kuripan, H. Hairul Ahmad, SP., M.Pd., menjelaskan ada 3 jurusan di sekolah tersebut. Antara, bidang keahlian Agribisnis dan Agroteknologi, bidang Teknologi dan rekayasa serta bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Sedangkan untuk kompetensi keahlian ada 6 kompetensi, yaitu pertama Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH), kedua Agribisnis Pengelola Hasil Pertanian (APHP), ketiga Agribisnis Ternak Unggas (ATU), keempat Kesehatan Hewan (KH), kelima Teknis dan Bisnis Sepeda Motor dan keenam Teknik Komputer dan Jaringan.

“Ke depan, rencananya akan dikembangkan program-program unggulan di SMKN ini. Mulai dari tanaman hingga pengolahan hasil pertanian. Kita juga sudah punya hasil produksi dan merk. Misalnya minuman berbentuk jahe instan, roti manis  dan nata de coco,” terangnya.

Kunjungan kerja Gubernur Zul kali ini juga diikuti oleh Kadis Pertanian Provinsi NTB, Kadis Peternakan, Kadis Tanaman Pangan, Inspektur dan Kadis Perindustrian.

AYA/HmsNTB

 




Cold Storage Karya Siswa SMKN 2 Gerung, Pemprov Pesan 2O Unit

Dalam waktu dekat alat ini akan segera diproduksi, sebagai tahap ujicoba untuk digunakan oleh nelayan dan petani NTB

LOBAR.lombokjournal.com —  20 unit cold storage karya Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Gerung, Lombok Barat dipesan PemerintaH Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB).

Pesanan ruang pendingin untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan nelayan itu sebagai dukungan Pemprov NTB pada siswa-siswi SMKN) 2 Gerung yang berhasil menciptakan cold storage.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengapresiasi teknologi yang diciptakan siswa-siswi yang tengah mengenyam pendidikan di sekolah tersebut.

Bang Zul panggilan akrab gubernur, mengapresiasi hasil karya putra-putri NTB. Dan itu berarti program industrialisasi yang digaungkan terlihat sudah berjalan baik, terbukti dengan banyaknya karya-karya yang baru muncul

untuk tahap awal. Kedepannya, alat ini akan dikembangkan sehingga penggunaan alat ini tidak lagi memakai energi listrik langsung,  melainkan menggunakan solar cell atau tenaga surya.

“Kita jangan terlampau lama mengerjakan hal ini, mulailah produksi untuk nelayan kita agar dapat digunakan secepatnya. Kita juga berharap alat ini bisa membantu nelayan di tengah wabah Covid-19, agar hasil tangkapan ikan mereka tidak cepat busuk,” kata  Bang Zul saat meninjau cold storage karya SMKN 2 Gerung, Senin (20/04/2020).

Cold storage merupakan media penyimpanan yang dirancang dengan kondisi suhu tertentu, agar dapat mempertahankan kesegaran suatu produk.

Hadirnya alat ini diciptakan sebagai upaya menjawab kebutuhan pertanian dan nelayan di NTB. Sebagai tahap awal, alat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan di lingkungan sekitar.

“Kita berharap alat ini segera dikembangkan dengan teknologi ramah lingkungan, agar dapat dipergunakan seluruh petani dan nelayan kita di NTB,” lanjut Bang Zul.

Juga untuk menyimpan sayur dan buah

Wakil Kepala Mutu SMKN 2 Gerung, Andi Sudrajad mengungkapkan bahwa cold storage ini akan dibuat dengan beberapa ukuran dengan masing-masing fungsi.

“Untuk alat yang kami buat ini, bukan hanya bisa digunakan sebagai penyimpanan hasil tangkapan ikan, namun bisa juga untuk penyimpanan sayur dan buah-buahan karena dilengkapi dengan beberapa item tambahan,” terangnya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat alat ini akan segera diproduksi, sebagai tahap ujicoba untuk digunakan oleh nelayan dan petani NTB.

Usai melihat karya siswa-siswi SMKN 2 Gerung, Gubernur Zul beranjak menuju SMKN 1 Kuripan untuk meninjau hidroponik sayur-sayuran dan panen telur ayam yang dikembangkan oleh sekolah tersebut.

AYA/HmsNTB




Bertambah 11 Pasien Positif Covid-19, Punya Riwayat Ke Gowa Makassar 9 Orang

MATARAM.lombokjournal.com — Jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB terus bertambah.

Sampai hari Minggui (19/04/20) sebanyak 72 orang, dengan perincian 11 orang sudah sembuh, 4 (empat) meninggal dunia, serta 57 orang masih positif namun dalam keadaan baik.

Ketua Pelaksana Harian Gugus NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si melalui press release  yang diterima media, Minggu (19/04), menjelaskan penambahan jumlah pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Dijelaskan, setelah diperiksa 48 sampel dengan hasil 33 sampel negatif, 4 (empat) pasien sampel ulangan positif, dan 11 sampel kasus baru positif Covid-19.

Dari 11 pasien positif Covid-19 itu, sebanyak 9 orang pernah melakukan perjalanan ke Gowa, Makassar.

Sedang sisanya, yang seorang pasien nomor 65, dengan inisial  Tn. SY, laki-laki, 63 tahun, penduduk Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat. Pasien ini pernah kontak dengan orang sakit dengan gejala demam, batuk, pilek yang baru pulang dari Gowa Makassar dan Kota Mataram.

Tn SY meninggal dunia tanggal 18 April 2020 setelah menjalani perawatan di RSUD H.L Manambai Abdulkadir, Sumbawa.

Pasien yang seorang lagi pernah melakukan perjalanan ke Madura dalam 14 hari sebelum sakit.  Pasien nomor 66,  dengan inisial Tn. KA, laki-laki, 39 tahun, penduduk Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur.

Pasien yang pernah melakukan perjalanan ke Madura ini sedang dirawat di Ruang Isolasi RSUD R. Soedjono Selong dalam keadaan baik.

Sebanyak pasien kasus baru positif Covid-19, antara lain :

  1. Pasien nomor 62, an. Tn. AR, laki-laki, 51 tahun, penduduk Desa Tatebal, Kecamatan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa. Pernah perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Sumbawa dan dalam keadaan baik;
  2. Pasien nomor 63, an. Tn. A, laki-laki, 48 tahun, penduduk Desa Sukamulya, Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa. Pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Sumbawa dan dalam keadaan baik;
  3. Pasien nomor 64, an. Tn. S, laki-laki, 52 tahun, penduduk Desa Sukadamai, Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa. Pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Sumbawa dan dalam keadaan baik
  4. Pasien nomor 67, an. Tn. LD, laki-laki, 61 tahun, penduduk Desa Bunut Baok, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Lombok Tengah dan dalam keadaan baik;
  5. Pasien nomor 68, an. Tn. H, laki-laki, 64 tahun, penduduk Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Lombok Tengah dan dalam keadaan baik;
  6. Pasien nomor 69, an. Tn. MIS, laki-laki, 37 tahun, penduduk Desa Mantang, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah. Pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Lombok Tengah dan dalam keadaan baik;
  7. Pasien nomor 70, an. Tn. N, laki-laki, 20 tahun, penduduk Desa Sepakek, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah. Pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Lombok Tengah dan dalam keadaan baik;
  8. Pasien nomor 71, an. Tn. A, laki-laki, 38 tahun, penduduk Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. Pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Lombok Tengah dan dalam keadaan baik;
  9. Pasien nomor 72, an. Tn. M, laki-laki, 59 tahun, penduduk Kelurahan Praya, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 tidak pernah. Saat ini menjalani karantina terpusat di Kabupaten Lombok Tengah dan dalam keadaan baik.

“Untuk mencegah penularan dan deteksi dini penularan Covid-19, petugas kesehatan tetap melakukan Contact Tracing terhadap semua orang yang pernah kontak dengan pasien yang terkonfirmasi positif,” jelas  Lalu Gita.

AYA

 




JPS Gemilang Dari Produk UMKM, Langkah Gubernur Zul Diapresiasi Kelompok Tani Hutan

Dengan dibelinya produk kayu putih oleh Pemprov NTB, Murad maupun Sahrun mengaku menjadi yakin bahwa kayu putih yang selama ini ditanam bersama ratusan petani benar-benar dapat meningkatkan taraf hidup mereka

MATARAM.lombokjournal.com —  Gubernur H Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Hj Siti Rohmi, resmi meluncurkan program JPS Gemilang untuk 105.000 KK Miskin dan pelaku sektor formal dan informal terdampak Covid-19.

Saat meluncurkan JPS Gemmilang, Gubernur  Zulkieflimansyah, SE, M.Sc memberikan kepercayaan pada masyarakat dan pelaku UMKM di Provinsi NTB untuk  mensupplay produk lokal pada Program Jaring Pengaman Sosail (JPS) Gemilang.

Lagkah Gubernur H. Zulkieflimansyah yang memberikan kepercayaan pelaku UMKM di NTB untuk mensupplay produk lokal pada Program Jaring Pengaman Sosail (JPS) Gemilang, mendapat apresiasi Kelompok Tani Hutan (KTH) Kayu Putih Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Tengah.

JPS Gemilang mendistribusiknan paket sembako senilai Rp. 250.000/KK selama tiga bulan. Per paket berisi antara lain beras, telur, minyak goreng, teh kelor, susu kedelai, masker, sabun, dan minyak kayu putih/cengkeh.

Untuk pemenuhan paket Minyak Kayu Putihnya, Pemprov NTB mengambil dari produksi binaan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, melalui KPH Rinjani Barat, yang mendorong, membina dan mendampingi seratus lebih KPH di wilayahnya.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya, atas kebijakan yang diambil oleh Pak Gubernur NTB. Dimana produk dalam Program JPS Gemilang, semuanya menggunakan Produk lokal NTB. Termasuk salah satunya Minyak kayu putih 10 ml yang merupakan hasil dari KTH kami,” ujar Ketua KTH Tunas Pade Tunaq, Murad, Sabtu (18/04/20)

Ketua KTH Tenem 1 Kab. Lombok Tengah, Sahrun, yang mengaku telah merasakan secara langsung manfaat kebijakan penggunaan minyak kayu putih dalam paket JPS Gemilang, juga mengapresiasi angkah Pemprov NTB.

Menurutnya, selama ini pemerintah memerintahkan ribuan petani melakukan budidaya tanaman di hutan. Terutama kayu putih, yang belum dapat dirasakan secara langsung manfaatnya oleh anggotanya.

“Selama ini, Pemerintah telah memberikan kami penyuluhan-penyuluhan dan motivasi untuk merawat dan memanfaatkan hasil hutan. Terutama pohon kayu putih. Manfaatnya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Tapi kami masyarakat awam tentu butuh juga manfaat untuk tambahan nafkah kami,” terang Sahrun.

Sehingga, dengan dibelinya produk kayu putih oleh Pemprov NTB, Murad maupun Sahrun mengaku menjadi yakin bahwa kayu putih yang selama ini ditanam bersama ratusan petani benar-benar dapat meningkatkan taraf hidup mereka.

Dan optimis untuk menambah jumlah kayu putih yang akan ditanam di kawasan hutan Kritis.

Kepala Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rinjani Barat, Mustara Hadi, S.Hut, M.Si, merincikan bahwa KTH Tunas Pade Tunaq dan Tenem merupakan bagian dari 122 KTH lainnya, dimana dalam satu KTH minimal beranggotakan 15 orang.

Semuanya berada dalam wilayah pembinaan pihaknya yang meliputi Kab Lombok Barat dan Lombok Utara

“Semangat masyarakat untuk menanam pohon kayu putih sangat menentukan, kesuksesan program konservasi diwilayah KPH Rinjani barat. Karena KPH Rinjani barat itu fokus di pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HBK). Sehingga untuk mendukung konservasi hutan pada lahan Kritis dan sangat kritis salah satunya kami mengandalkan Pohon kayu Putih. Karena yang dimanfaatkan daunnya, bukan kayunya,” jelas Mustara Hadi.

Selama ini baru 1.500 hektar yang menjadi target konservasi dengan pohon kayu putih. Mustara mengaku sedikit kesulitan meyakinkan manfaat ekonomis dari pohon kayu putih kepada masyarakat.

Karena belum ada bukti langsung yang dirasakan kelompok binaannya tersebut. Bahkan, masyarakat sering membandingkan dengan hasil buah-buahan.

“Kami tentu konsen konservasi lahan kritis dan sangat kritis. Pohon buah-buahan tentu sulit untuk tumbuh di lahan sangat kritis. Nah, kami mendorong KTH itu untuk menanam Pohon Kayu Putih, yang memang memiliki keunggulan sebagai Pohon Pioner. Dimana justru memiliki pertumbuhan yang baik di lahan terbuka dengan tingkat panas yang tinggi,” imbuh Mustara Hadi.

Kendalanya, masyarakat kurang semangat selama ini. Karena belum merasakan secara langsung secara ekonomi pohon kayu putih.

Namun, dengan adanya orderan ratusan ribu botol kayu putih untuk memenuhi paket JPS Gemilang menjadi bukti bahwa kayu putih yang ditanam menjadi bagian industrialisasi NTB.

Akhirnya masyarakat tergerak dan komitmen untuk berpartisipasi membantu Konservasi lahan kritis dan sangat kritis d KLU, Lombok Barat, bahkan juga di Lombok Tengah yang saat ini menjadi wilayah KPH  pelanggan tastura.

“Dari dulu kami telah menyiapkan pabrik penyulingan Kayu Putih di Desa Malaka dan Desa Bentek Lombok Utara. Dengan kapasitas produksi 300 kg/hari, untuk membantu masyarakat memproduksi minyak kayu putih sendiri. Semoga dengan momentum ledakan permintaan dalam paket JOS Gemilang ini, masyarakat bisa lebih serius bersama-sama mengelola dan memproduksi Minyak kayu putih,” harapnya.

Mustara dan jajarannya harus terus mendorong budidaya Kayu Putih selain karena alasan utama konservasi hutan  sangat kritis. Termasuk alasan telah dimasukkan sebagai komoditi unggulan di wilayahnya, yang tercantum di RPHJP (rencana Pengelolaan Hutan Jangka panjang) tahun 2014-2023.

Juga karena ternyata minyak kayu putih produksi mereka dari pohon di hutan NTB juga termasuk memiliki kualitas super menurut standart SNI.

“Dari uji laboratorium oleh Balai BPOM, minyak kayu putih yang dihasilkan oleh pohon di hutan kita, memiliki kadar Sineol 68 persen. Dan itu dalam kategori SNI 354 : 2014, merupakan level Super. Jadi kualitas terbaik, bukan hanya kualitas utama yang kadar Sineolnya hanya di bawah 60 persen. Dan yang kami kemas pun 100 persen minyak kayu putih tanpa campuran apapun,” tutup Mustara.

AYA/HmsNTB