Masyarakat NTB Rasakan Manfaat Posyandu Keluarga

Revitalisasi Posyandu dilakukan agar edukasi tentang dasar-dasar permasalahan masyarakat dapat teratasi

LOTIM.lombokjournal.com

Posyandu Keluarga di Desa Mendana Raya, Kecamatan Keruak, Lombok Timur diluncurkan Wakil Gubernur NTB Dr.Hj.Sitti Rohmi Djalillah, Selasa (13/10/20).

Wagub sekaligus memantau penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan yang sedang berlangsung.

Di Desa Mendana Raya, nampak masyarakat sibuk memeriksa kesehatan. Sebagian lagi terlihat menunggu giliran. Semuanya dilaksanakan dengan protokol kesehatan, mulai dari menggunakan masker hingga menjaga jarak.

Seperti biasa, Posyandu keluarga melayani pelayanan kesehatan kepada anak, ibu, remaja, hingga lansia. Masyarakat nampak antusias dengan keberadaan posyandu keluarga tersebut.

Wagub menyampaikan, permasalahan yang bisa dideteksi oleh posyandu keluarga tidak hanya soal kesehatan. Melainkan juga menjadi tempat bagi masyarakat untuk berkonsultasi dan mendapatkan edukasi tentang semua hal di masyarakat.

“Kita hajatkan posyandu keluarga ini menjadi pusat edukasi berbagai kebutuhan masyarakat,” ungkap Wagub yang akrab disapa Umi Rohmi tersebut.

Menurutnya, Revitalisasi Posyandu dilakukan agar edukasi tentang dasar-dasar permasalahan masyarakat dapat teratasi.

Seperti, edukasi penanganan ibu hamil dan tumbuh kembang anak, edukasi bahaya narkoba kepada milenial, edukasi buruh migran kepada usia produktif, hingga edukasi masalah gizi kepada lansia.

“Kita optimis, dengan Posyandu keluarga, masalah kesehatan, sumber daya manusia hingga lingkungan bisa kita atasi bersama,” tambah Umi Rohmi di hadapan Bupati Lombok Timur yang juga hadir pada kesempatan tersebut.

Cucu Pahlawan Nasional tersebut meminta, Posyandu keluarga di Lombok Timur harus tetap diperbanyak. Dengan Posyandu Keluarga, seluruh keluhan masyarakat mampu diatasi dari dusun.

“Jika seluruh desa dan dusun sudah terbentuk Posyandu keluarga, kita yakin, Posyandu keluarga tersebut tidak hanya mengatasi masalah kesehatan, tapi mampu meningkatkan IPM,” ungkap wagub.

Posyandu Keluarga 200

Menanggapi hal tersebut, Bupati Lombok Timur, Sukiman Azmi berjanji akan menambah jumlah Posyandu keluarga di Lombok Timur. Ia menargetkan, hingga akhir 2020, setengah dari jumlah Posyandu akan direvitalisasi menjadi Posyandu keluarga.

“Jumlah posyandu di Lombok Timur ini ribuan, yang sudah menjadi posyandu keluarga baru 200, kami akan terus perbanyak, mohon bimbingan ibu Wagub,” ujar Sukiman.

Sukiman bercerita, kesadaran masyarkat tentang pentingnya posyandu keluarga sudah mulai terasa, itu semua dibuktikan dengan kepala desa yang datang menyampaikan keinginannya untuk merevitalisasi Posyandu di desa setempat.

“Posyandu keluarga ini sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, Alhamdulillah,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Desa Mendana Raya, Suparman, mengaku bangga atas kehadiran Wakil Gubernur dan Bupati Lombok Timur. Terlebih, kehadiran wagub meresmikan secara langsung Posyandu keluarga di desanya.

“Mewakili masyarakat desa Mendana Raya, saya ucapkan terimakasih kepada ibu wagub dan pak bupati yang telah menyempatkan waktu melaunching Posyandu keluarga di desa kami,” ungkap kades.

Posyandu keluarga ini, lanjut Suparman, memudahkan masyarakatnya dalam konsultasi berbagai permasalahan. Ia mengaku, masyarakat sudah sadar tentang pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.

“Dulu masyarakat kami banyak yang memberikan ASI kepada anaknya di pinggir jalan, Alhamdulillah sekarang sudah tidak ada lagi, itu semua berkat posyandu keluarga,” ungkap kades yang terkenal humoris tersebut.

Suparman meminta, dukungan dari Pemprov NTB serta kabupaten Lombok timur terus ditingkatkan, terutama faktor pendukung suksesnya Posyandu keluarga tersebut.

“Mohon bimbingan dan bantuan dari Pemprov NTB dan Pemkab Lotim,” ungkapnya.

Sementara itu, Murni (65) mengaku senang dengan adanya Posyandu keluarga tersebut. Perempuan yang sudah lanjut usia ini mengucapkan terimakasih kepada pemerintah desa hingga Pemprov NTB.

“Bagus ini, selain mengantar cucu saya, saya juga bisa Posyandu,” ungkapnya sambil mengacungkan jempol.

Rr/HmsNTB

 




Problematika Anak Pekerja Migran, Wagub Tekankan Sinergi Semua Pihak

Umi Rohmi itu mengajak semua pihak bersinergi dan berkolaborasi dalam melindungi dan membantu Anak Pekerja Migran (APM)

LOTIM.lombokjournal.com

Maraknya Pekerja Migran masih menjadi tantangan yang dihadapi Pemerintah Provinsi NTB.

Bukan hanya masalah kesiapan dan keahlian pekerja atau buruh migran sebelum bekerja keluar negeri, namun juga terkait anggota keluarga yang ditinggalkan.

Keluarga terutama anak tentu membutuhkan perhatian lebih selama ditinggalkan orang tuanya yang tengah mencari nafkah keluar negeri. Di sinilah kehadiran pemerintah bersama LSM dan organisasi lainnya sangat penting perannya dalam membantu tumbuh kembang anak.

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah menyampaikannya saat menjadi keynote speaker pada acara Closing Program Peduli di NTB melalui telekonferensi di Kediaman Wagub, Selasa (13/10/20).

Kegiatan “Berbagi Peran Untuk Keberlanjutan  Program Peduli Sub Pilar Anak Pekerja Migran di NTB” ini merupakan inisiasi dari Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI) NTB.

Wagub mengakui, pekerja migran hingga saat ini masih menjadi PR besar di NTB. Sehingga, persoalan ini harus diatasi dari hulu ke hilirnya.

Edukasi juga menjadi hal yang paling terdepan dalam menuntaskan permasalahan tersebut.

“Itulah mengapa Pemerintah Provinsi NTB menginisiasi program unggulan yang namanya Posyandu Keluarga. Program ini kita hajatkan agar edukasi terhadap berbagai permasalahan, baik itu masalah kesehatan maupun masalah sosial yang kita alami di NTB, bisa kita masukkan melalui Posyandu,” ungkapnya.

Dengan kehadiran Posyandu Keluarga, Wagub yakin banyak permasalahan mendasar yang dapat diselesaikan. Ia berharap keberadaan Posyandu Keluarga di NTB dapat terus ditingkatkan.

“Sehingga pembangunan program itu bukan untuk pemerintah tetapi wujudnya sejatinya untuk masyarakat itu sendiri,” tambahnya.

Wagub yang akrab disapa Umi Rohmi itu mengajak semua pihak terus bersinergi dan berkolaborasi dalam melindungi dan membantu Anak Pekerja Migran (APM).

Pemerintah disebutnya tak bisa bekerja sendiri, melainkan butuh bantuan seluruh kalangan dalam menyukseskan berbagai program pembangunan di daerah.

“Mudah-mudahan dengan apa yang dilakukan oleh SANTAI ini ada keberlanjutannya dan kemudian kita terus-menerus melakukan kolaborasi sinergi yang sebaik-baiknya, saling mengisi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita masing-masing,” pungkasnya.

Senada dengan Wagub, Direktur Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan dan Pembangunan (LPKP) Jawa Timur, Anwar Solihin berharap, semakin banyak kalangan yang turut ambil andil dalam memperhatikan APM. Dengan ini, APM tetap terus mendapat perhatian dari banyak pihak.

“Bagaimana kemudian bisa kita pastikan semua pihak mengambil peran, bagaimana teman-teman dari OPD mengambil peran, dan juga CSO, LSM lainnya mengambil peran dalam melanjutkan Program Peduli yang diinisiasi oleh SANTAI ini,” ujarnya.

Saat ini, ada empat provinsi yang menjalankan program untuk penanganan APM. Empat daerah tersebut yakni, Jawa Timur, Jawa Barat, NTB dan juga NTT.

“Kami ingin menekankan bahwa kelompok masyarakat marginal termasuk APM, seharusnya sekali lagi menjadi kewajiban negara, kewajiban pemerintah, kewajiban OPD. Karena itu teman-teman LSM melakukan tapi pasti akan sangat terbatas baik dari segi waktu maupun sumber daya lainnya,” tutup Anwar.

Sebelumnya, Dodi Sukmayanto selaku Tim Program Peduli dari Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI) NTB mengatakan jika awalnya Program Peduli menyasar dua desa di Kabupaten Lombok Timur, tepatnya pada tahun 2015 sampai dengan tahun 2017.

Hadirnya Program Peduli kemudian diharapkan dapat memberikan peluang baik bagi anak-anak pekerja migran di NTB.

“Sampai dengan tahun ini, SANTAI mengembangkan kemudian program ini di empat desa, tiga desa di Kabupaten Lombok Timur dan satu desa di Kabupaten Lombok Tengah,” jelasnya.

Kegiatan ini pun diharapkan dapat menghasilkan diskusi yang bisa membangun kerjasama dan sinergi yang baik kedepannya.

“Kami Yayasan Tunas Alam Indonesia sangat mengapresiasi kepada kita semua, terutama Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten yang ada di NTB, bapak ibu dan rekan yang luar biasa dalam mengawal dan mengembangkan kegiatan yang ada di desa masing-masing,” tutur Dodi.

Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI) NTB sendiri merupakan salah satu CSO mitra pelaksana Program Peduli di NTB di bawah lembaga payung LPKP Jawa Timur bersama dengan The Asia Foundation dan didukung Pemerintah Australia berkolaborasi dengan Lembaga Mitra Pelaksana (CSO) yang bekerja di wilayah Jawa Timur, NTB, dan NTT.

Dalam kegiatan diskusinya, SANTAI turut pula menghadirkan Kepala DP3P2AKB Provinsi NTB, Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB, Kabid Pelayanan Pencatatan Sipil Dinas Dukcapil Lombok Timur dan Akademisi Universitas Mataram.

Rr/HmsNTB




Gubernur Bicara di Tengah Aksi Mahasiswa, akan Sampaikan Aspirasi Warga NTB ke Presiden

Bang Zul ini akan mengumpulkan tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda untuk membahas tentang Undang-undang Omnibus law ini dan akan segera dilaporkan ke Pemerintah Pusat

MATARAM.lmbokjournal.com

Massa yang tergabung dari elemen mahasiswa dan ormas mendatangi Kantor Gubernur NTB, Selasa (13/10/20).

Ini merupakan aksi massa yang teus melakukan penolakan Undang-undang Omnibus law, yang hingga kini terus berlanjut, penolakan mulai dari mahasiswa hingga ormas, tak terkecuali di NTB.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah langsung menemui massa aksi dan berdialog di tempat. Dan di tengah terik matahari siang, Gubernur menerima tuntutan massa aksi dan berjanji akan berdiskusi serta menjembatani aspirasi semua elemen.

Sesuai arahan presiden, Gubernur yang kerap disapa Bang Zul ini akan mengumpulkan tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda untuk membahas tentang Undang-undang Omnibus law ini dan akan segera dilaporkan ke Pemerintah pusat.

“Presiden meminta agar para gubernur menampung semua aspirasi, masukan dari masyarakat, termasuk dari teman-teman ini. Oleh karena itu, dalam dua atau tiga hari ini kami akan mengumpulkan tokoh, LSM, organisasi buruh, serta akademisi,” jelas Gubernur.

Bang Zul mengatakan, hal ini dilakukan untuk mendiskusikan dengan detail tentang undang-undang omnibus law agar dapat dipahami secara mendalam. Dirinya juga mengatakan, tidak segan akan memberi masukan kepada pemerintah pusat jika ditemukan kesalahan dalam undang-undang tersebut.

“Kita diskusikan secara detail, kami kasih masukan jika ada yang kurang (dalam uu omnibus law,red) mudah-mudahan ini menghasilkan kebaikan bagi kita semua, kami minta tolong serahkan masukkannya kepada kami kita diskusikan dalam dua tiga hari dan kemudian kita sampaikan hasilnya kepada presiden,” tutur Bang Zul.

Rr/HmsNTB




Wagub Tekankan, Pentingnya Upaya Pengurangan Bencana

Geohazard bukanlah untuk ditakuti,, dan tugas kita mendidik masyarakat tentang itu

LOTIM.lombokjournal.com

Rinjani Lombok UNESCO Global Geopark (UGGp) bekerjasama dengan Lushan UGGp, Pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi NTB menyelenggarakan webinar dengan tema “Living in Harmony with Geohazard”, Selasa (13/10/20).

Webinar itu bagian dari upaya pengurangan risiko bencana secara reguler, dan rangkaian dari kegiatan International Day for Disaster Risk Reduction (IDDR) 2020 in Rinjani,

Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah dalam kesempatan itu, menjelaskan ketika bencana gempa bumi di NTB tahun 2018, selama berbulan-bulan menjadi situasi yang kelam. Semua orang takut tidak tahu harus berbuat apa.

Dan secara geografis, NTB memang berada di wilayah dengan geohazard yang berpotensi bencana,

Hal ini yang harus dihadapi serta pelajari bagaimana masyarakat dapat hidup selaras dengan geohazard.

Menurut Wagub, kita tidak bisa menghindarinya dan adalah takdir kita. Geohazard bukanlah untuk ditakuti, Dan tugas kita mendidik masyarakat tentang itu.

“Teknologi adalah salah satu instrumen yang efektif untuk memberikan informasi dan pengetahuan bagi masyarakat kita. Kami berinisiatif mengembangkan aplikasi mobile bernama SIAGA NTB, agar masyarakat dapat mengetahui informasi tentang tanda potensi bencana, apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya dan dapat didownload di Playstore dan Appstore,” ujar Wagub.

Umi Rohmi mengungkapkan, saat ini di NTB telah memulai kurikulum ramah-bencana dalam konten pendidikan untuk siswa di sekolah. Tujuan agar siswa mengenal potensi bencana, serta cara menghadapinya untuk menyelamatkan hidup mereka saat terjadi bencana.

Melalui Posyandu Keluarga

Selain itu, Pemerintah Provinsi NTB juga mengedukasi masyarakat tentang potensi bencana melalui Posyandu Keluarga tiap bulan.

Awalnya Posyandu hanya melayani kesehatan untuk bayi dan ibu, kini diperluas layanannya dengan memasukkan materi edukasi kebencanaan kepada seluruh anggota keluarga. Diharapkan, Posyandu Keluarga menjadi pusat pendidikan untuk mengatasi masalah kesehatan dan sosial.

“Banyak lagi cara yang bisa kita lakukan untuk mendidik masyarakat kita agar memahami dan menyadari potensi geohazard di tanah air kita, Misalnya kegiatan yang bermanfaat yang digagas oleh tim Geopark Rinjani ini, seperti kompetisi mahasiswa, seminar virtual, dan masih banyak lagi. Itu adalah inisiatif yang sangat kreatif dan mendidik. Kami sangat mengapresiasinya,” ujar Wagub.

Terakhir, Umi Rohmi menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, UNESCO, keynote speaker, dan semua pemangku kepentingan yang terlibat atas dukungan untuk menyukseskan acara tersebut.

“Semoga menjadi kontribusi besar bagi NTB untuk masa depan yang lebih baik, Rinjani adalah rumah kami, hidup kami, kita harus mencintai, memahami, dan memeliharanya untuk generasi masa depan kita,” kata Wagub.

Pemulihan sector Pariwisata

Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Odo R.M Manuhutu menyampaikan apresiasi atas kegiatan webinar yang diselenggarakan.

Kegiatan ini juga upaya pemulihan sektor pariwisata selama masa pandemi, khususnya di Wilayah NTB yang merupakan destinasi super prioritas.

Odo berharap, dengan peran kita di wilayah rawan bencana serta pandemi, menyadarkan orang pentingnya memahami resiko dan terutama bagi kesejahteraan dan kesehatan masyarakat.

“Marilah kita terus berupaya mengurangi resiko bencana secara berkala, untuk menjamin keberlanjutan geopark melalui pertemuan hybrid pada hari pengurangan risiko bencana internasional, sukses selalu geopark rinjani,” ujarnya.

Kegiatan ini turut diikuti oleh Prof. Ainun Naim, Prof. Arif Rahman dari UNESCO, Kepala Jaringan Geopark China, Koordinator APGN dan Perwakilan Departement UGGP, Lushan China.

Rr/HmsNTB




Jika Permintaan Swab saat Umroh meningkat, Rumah sakit Unram Terapkan Sistem Antrian

MATARAM.lombokjurnal.com

Rumah sakit Universitas Mataram (Unram) mengantisipasi membludaknya permintaan swab mandiri untuk kebutuhan umroh dan keberangkatan pekerja migran Indonesia ke luar Negeri

“Ya ,dua permintaan ini berpotensi memiliki daftar antrian cukup panjang karena kebutuhannya yang cukup tinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat,” ujar  Wakil Direktur rumah Sakit Unram, dr. Adnanto Wiweko pada Selasa (13/10/20).

Dijelaskan, saat ini untuk kebutuhan tes swab umroh  rumah sakit Unram memiliki kemampuan atau kapasitas maksimal 360 kali dalam satu hari. Hasil tes swabnya juga langsung akan diterbitkan  atau paling lambat 2 hari akan diumumkan.

Dijelaskannya,  jika nanti kebutuhannya meningkat seiring telah dibukanya ijin umroh ke luar negeri pada 1 November  maka pihak rumah sakit Unram akan menerapkan sistem antrian.

Kapasitas maksimal pelayanan tes mandiri di 4 laboratorim se Nusa Tenggara Barat, yaitu maksimal 400 kali tes dalam satu hari. Diharapkan, Pemerintah Daerah segera mengatur skema agar pelaksanaan ibadah umroh dan pemberangkatan pekerja migran indonesia berjalan lancar.

“Jika dilihat dari data penerimaan permintaan tes swab mandiri  periode Juli dan Agustus tercatat cukup banyak permintaannya  kondisi ini kemudian membuat pihak rumah sakit membuat sistem antri  namun september  terjadi permintaan penurunan yaitu 16 orang dalam satu hari hingga sekarang  perubahan tarif ini belum memiliki dampak terhadap adanya lonjakan tes swab mandiri,” jelas dr Wiweko.

Aya




Petani Madu Trigona Desa Salut, Dikunjungi Stafsus Kemenristek BRIN, dan Kemendes PDTT  

Saat ini di dunia, madu yang paling terkenal madu New Zealand yaitu Manuka Honey. Tapi setelah diuji kandungannya masih lebih bagus Madu Trigona Lombok

KAYANGAN.lombokjournal.com

Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Teknologi Kementerian Riset dan Teknologi Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek BRIN), Danang Rizki Ginanjar, dan Staf Khusus Bidang Mitra Luar Negeri dan Perguruan Tinggi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Dodi Pranata Wijaya, mengunjung petani madu trigona binaan LPPM Universitas Mataram di Desa Salut, Senin (12/10/20).

Kedatangan rombongan kementerian itu disambut Plt Bupati Lombok Utara H Syarifudin SH MH, didampingi oleh Plt Kadis Ketahanan Pangan dan Pertanian Ir Hermanto, Kepala Bappeda Heryanto SP, Kepala Desa Salut Bahrudin.

Plt Bupati Lombok Utara H Sarifudin SH MH mengatakan, kedatangan stafsus kementerian memotivasi masyarakat desa dalam mengembangkan produk unggulan Madu Trigona.

Lebih lanjut dikatakannya, Madu Tigona menjadi produk unggulan budidaya pada aspek pertanian dan peternakan.

“Dulu pernah kita didampingi juga oleh NGO dalam pengembangan ini. Kedepannya, desa-desa lain bisa dikembangkan pula Madu Trigona sehingga dapat kita jadikan produk unggulan,” tuturnya.

Plt Bupati Lombok Utara itu menyampaikan langkah yang dilakukan pemda, bukan hanya kali ini tetapi sudah berjalan hampir dua tahun.

Kelompok ini awalnya dilakukan secara swadaya, bukan hanya di Desa Salut saja, tetapi di Sukadana dan Mumbul Sari.

Menjawab pertanyaan awak media terkait pemasaran hasil madu, Sarifudin menjelaskan, untuk saat ini kelompok menjualnya dengan cara biasa.

Karena permintaan banyak, dan mungkin ke depan dengan produksi yang besar harus betul-betul disiapkan pasar dengan matang.

Plt Bupati yang juga Wabup Lombok Utara itu berharap Pemerintah Pusat dan provinsi memberikan perhatian khusus kepada Lombok Utara.

Mengingat usia KLU baru 12 tahun, untuk mengejar ketertinggalan dengan kabupaten lain.

Program Desa Berinoovasi

Stafsus Bidang Komunikasi dan Teknologi Kemenristek BRIN Dadang Rizki Ginanjar mengatakan jika dirinya bersama Stafsus Kemendes PDTT menginisiasi sebuah program yang baru saja di-launching pada bulan Agustus silam yaitu Program Desa Berinovasi.

“Desa Salut merupakan desa awal yang kami kunjungi. Kita ingin Desa Berinovasi membawa teknologi, kita ingin membawa terapan ilmiah. Bagaimana akademisi tidak hanya belajar dengan buku tapi belajar bareng dengan masyarakat di lapangan. Tripoholic, ada pemerintah, akademisi dan dunia bisnis,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskannya, saat ini di dunia, madu yang paling terkenal madu New Zealand yaitu Manuka Honey. Tetapi menurutnya, setelah diuji kandungannya masih lebih bagus Madu Trigona Lombok.

Karenanya, bagaimana cara mengemas supaya berkompetisi dengan madu New Zealand, mulai dari kualitas Packaging dan kuantitasnya sehingga nanti bisa menghasilkan 24 ton bahkan dua kali lipat.

Pada akhirnya bisa menyejahterakan masyarakat dan bisa mengekspor Madu Trigona Lombok ke luar negeri.

Di sela-sela kunjungannya, Stafsus Kemenristek BRIN menjawab pertanyaan awak media, apa yang bisa diterapkan di KLU. Dikatakan, perlu pembinaan swadaya masyarakat.

Menurutnya, dengan adanya swadaya bekerja bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan membuka pasar. Contohnya madu Lombok baik dari segi mutu.

“Kami di kementerian membuat inovasi desa yang di-launching pada tanggal 20 Agustus kemarin.  Bagaimana teknologi bisa tepat guna di desa-desa seluruh Indonesia,” terangnya

Dengan adanya swadaya masyarakat multipihak di Desa Salut maka menjadikan Desa Salut sebagai percontohan untuk Desa Berinovasi.

Nantinya madu di Lombok bisa dikonsumsi secara nasional bahkan internasional.

“Prospeknya saat ini sudah 5,9 ton per siklus, hampir 24 ton dalam setahun. Kalau kita perbanyak dengan teknologi, maka kita yakin madu di Desa Salut ini branding tropis madu ala Indonesia,” tandasnya.

Stafsus Bidang Mitra Luar Negeri dan Perguruan Tinggi Kemendes PDTT Dodi Pranata Wijaya menyampaikan harapannya, semoga Desa Salut menjadi salah satu desa binaan pilihan dari Program Desa Berinovasi, program dari Kemenristek BRIN dan Kemendes PDTT.

Pihaknya menyampaikan, dalam waktu dekat menteri akan berbicara testimoni desa-desa di Indonesia pada kancah international.

Menurutnya, pada kesempatan kali ini, pihaknya hadir sebagai tim asesmen Desa Berinovasi. Desa Salut sebagai desa binaan dalam pemberdayaan program.

“Kita berharap pada tahun 2021, madu trigona bukan hanya terkenal di nasional saja tetapi di kancah internasional,” harapnya.

Pihak LPPM Mataram mewakili Ketua LPPM Unram, Prof Muliartha menyampaikan, Desa Salut nantinya menjadi percontohan desa yang dikembangkan sebagai Desa Wisata Trigona.

Ada pula binaan terkait kopi, gula merah, yang hampir menghasilkan 10 ton per bulan. Ada pula black garlic sudah diekspor ke luar negeri.

Rangkaian acara berjalan lancar dilanjutkan dengan dialog bersama stafsus kementerian, Kepala Bappeda, Plt Kadis KPP dan para petani trigona dipandu Sekban Bappeda Yuni Kurniati MSi, dilanjutkan dengan kunjungan ke kampung lebah yang ada di Desa Sukadana, Bayan.

sas




Koki Internasional  Diminta Didik Anak Muda di NTB

Karirnya sebagai koki di berbagai restoran ternama tidak membuat Bang Macs lupa daerah asalnya

MATARAM.lombokjournal.com

Muhammad Ali Chehan atau Bang Macs, salah satu putra terbaik NTB di bidang kuliner diminta  membagikan ilmu dan pengalamannya di bidang kuliner kepada anak-anak muda di NTB.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menyampaikan permintaan itu  saat menghadiri launching rumah makan Sanikan Mac’s milik Muhammad Ali Chehan, di Jalan Adi Sucipto, Rembiga  Kota Mataram Senin  (12/10/20) malam.

“Jangan sampai nanti bang Macs pada kehidupannya, berlanjut usianya tapi tidak punya penerus, oleh karena itu, perlu lebih banyak mengkader anak muda NTB untuk menjadi anak muda yang terbaik,” kata Gubernur.

Gybernur menyampaikan harapannya, kuliner di NTB di tangan Bang Macs berkembang pesat dan mendunia, serta tidak kalah dengan rumah makan ataupun restoran yang ada di luar NTB.

Ia meyakini Sanikan Macs dapat melakukan hal tersebut.

“Kalau dilihat dari namanya, ini akan banyak peminat dan dapat dibuka cabang dimana-mana. Oleh karena itu, saya yakin, kalau Mc Donald aja bisa, Sanikan Macs harus juga bisa,” tegasnya.

Muhammad Ali Chehan selaku pemilik Sanikan Macs mengaku, keputusan untuk pulang kampung ke NTB atas permintaan Gubernur Zul.

Dikatakan, karirnya sebagai koki di berbagai restoran ternama tidak membuat dirinya lupa akan daerah asalnya.

Bang Macs menyampaikan, dirinya akan mengembangkan kuliner di NTB dan akan melatih anak-anak muda agar mengikuti jejaknya sampai ke tingkat Internasional.

Rr/HmsNTB




UPDATE Covid-19: Hari Selasa, 13 Oktober 2020, Bertambah 26 Pasien Positif Covid-19, Pasien Sembuh 51 Orang, Kasus Kematian 2 (dua) Orang

Kita bersyukur seluruh pasien dapat ditangani dan terawat dengan baik sehingga tetap ada trend kesembuhan setiap harinya

 MATARAM.lombokjournal.com

Laboratorium PCR RSUD Provinsi NTB, Laboratorium PCR RSUD Provinsi NTB, Laboratorium PCR Prodia, Laboratorium PCR RSUD Kota Mataram, Laboratorium PCR Genetik Sumbawa Technopark, Laboratorium TCM RSUD Dompu, dan Laboratorium TCM RSUD Bima mengkonfirmasi, ada tambahan 26 pasien positif Covid-19.

Lalu Gita Aryadi

Dalam siaran pers hari Selasa (13/10/20), Ketua Pelaksana Harian Gugus  Tugas NTB, Drs. HL Gita Ariadi, M.Si menjelaskan, telah diperiksa Sumbawa sebanyak 201 sampel dengan hasil 174 sampel negatif, 1 (satu) sampel positif ulangan, dan 26 sampel kasus baru positif Covid-19, pasien sembuh  51,  kasus kematian 2(dua) orang.

Dijelaskan, adanya tambahan 26 kasus baru terkonfirmasi positif, 51 tambahan sembuh baru, dan 2 (dua) kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari Selasa ini (13/10/20) sebanyak 3.583 orang, dengan perincian 2.937 orang sudah sembuh, 208 meninggal dunia, serta 438 orang masih positif.

Diharapkan juga kepada petugas kesehatan di kabupaten/kota melakukan identifikasi epicentrum penularan setempat Covid-19 untuk dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran Covid-19.

TAMBAHAN 26  PASIEN POSITIF COVID-19, PASIEN SEMBUH 51 ORANG, KASUS KEMATIAN 2 (DUA) ORANG

Kasus baru positif tersebut, yaitu :

  1. Pasien nomor 3558, an. MJY, laki-laki, usia 12 tahun, penduduk wilayah Puskesmas Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kabupaten Lombok Utara;
  2. Pasien nomor 3559, an. I, laki-laki, usia 12 tahun, penduduk wilayah Puskesmas Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kabupaten Lombok Utara;
  3. Pasien nomor 3560, an. TF, laki-laki, usia 16 tahun, penduduk wilayah Puskesmas Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kabupaten Lombok Utara;
  4. Pasien nomor 3561, an. MDA, laki-laki, usia 14 tahun, penduduk wilayah Puskesmas Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi terpusat di Kabupaten Lombok Utara;
  5. Pasien nomor 3562 an. FBP, laki-laki, usia 23 tahun, penduduk Kelurahan Ampenan Tengah, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Kota Mataram;
  6. Pasien nomor 3563, an. AA, laki-laki, usia 63 tahun, penduduk Kelurahan Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di ruang isolasi RSUD Sumbawa;
  7. Pasien nomor 3564, an. R, laki-laki, usia 65 tahun, penduduk Kelurahan Lempeh, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di ruang isolasi RSUD Sumbawa;
  8. Pasien nomor 3565, an. N, perempuan, usia 28 tahun, penduduk Desa Diha, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3324. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Bima;
  9. Pasien nomor 3566, an. MJ, perempuan, usia 29 tahun, penduduk Desa Cenggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3157. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Bima;
  10. Pasien nomor 3567, an. W, perempuan, usia 45 tahun, penduduk Desa Teke, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3164. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Bima;
  11. Pasien nomor 3568, an. K, perempuan, usia 48 tahun, penduduk Desa Leu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3243. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Bima;
  12. Pasien nomor 3569, an. RA, perempuan, usia 42 tahun, penduduk Desa Rato, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3243. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Bima;
  13. Pasien nomor 3570, an. RAH, perempuan, usia 37 tahun, penduduk Desa Tumpu, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3243. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Bima;
  14. Pasien nomor 3571, an. N, perempuan, usia 43 tahun, penduduk Desa Bolo, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3243. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Bima;
  15. Pasien nomor 3572, an. N, perempuan, usia 35 tahun, penduduk Desa Tangga, Kecamatan Monta,Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3242. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Bima;
  16. Pasien nomor 3573, an. ES, perempuan, usia 23 tahun, penduduk Desa Sie, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3242. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Bima;
  17. Pasien nomor 3574, an. NH, perempuan, usia 24 tahun, penduduk Desa Monggonao, Kecamatan Mpunda, Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3242. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Bima;
  18. Pasien nomor 3575, an. J, laki-laki, usia 31 tahun, penduduk Desa Sie, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3242. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Bima;
  19. Pasien nomor 3576, an. A, laki-laki, usia 45 tahun, penduduk Desa Sie, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3242. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Bima;
  20. Pasien nomor 3577, an. Z, perempuan, usia 50 tahun, penduduk Desa Parado Wane, Kecamatan Parado, Kabupaten Bima. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di ruang isolasi RSUD Bima;
  21. Pasien nomor 3578, an. T, laki-laki, usia 41 tahun, penduduk Kelurahan Jatiwangi, Kecamatan Asakota, Kota Bima. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Kota Bima;
  22. Pasien nomor 3579, an. JB, perempuan, usia 39 tahun, penduduk Kelurahan Jatiwangi, Kecamatan Asakota, Kota Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 3578. Saat ini dirawat di ruang isolasi RSUD Bima;
  23. Pasien nomor 3580, an. SH, perempuan, usia 71 tahun, penduduk Kelurahan Dara, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di ruang isolasi RSUD Bima;
  24. Pasien nomor 3581, an. SW, perempuan, usia 25 tahun, penduduk Kelurahan Potu, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di ruang isolasi RSUD Dompu;
  25. Pasien nomor 3582, an. MR, laki-laki, usia 22 tahun, penduduk Kelurahan Kandai 2, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di ruang isolasi RSUD Dompu;
  26. Pasien nomor 3583, an. HB, laki-laki, usia 65 tahun, penduduk Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di ruang isolasi RSUD Kota Mataram.

Hari Selasa ini terdapat penambahan 51 orang yang selesai isolasi dan sembuh dari Covid-19, yaitu :

  1. Pasien nomor 973, an. RD, perempuan, usia 52 tahun, penduduk Lamongan, Jawa Timur;
  2. Pasien nomor 1159, an. NWD, perempuan, usia 34 tahun, penduduk Desa Giri Madya, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat;
  3. Pasien nomor 1699, an. WW, perempuan, usia 38 tahun, penduduk Desa Taman Sari, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat;
  4. Pasien nomor 1907, an. LP, laki-laki, usia 54 tahun, penduduk Desa Gunung Sari, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat;
  5. Pasien nomor 1931, an. SHS, laki-laki, usia 36 tahun, penduduk Desa Jatisela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat;
  6. Pasien nomor 2054, an. J, perempuan, usia 43 tahun, penduduk Desa Gunung Sari, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat;
  7. Pasien nomor 2070, an. BDP, laki-laki, usia 63 tahun, penduduk ber-KTP di Malang. Pasien berdomisili di Kelurahan Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  8. Pasien nomor 2183, an. EAN, perempuan, usia 29 tahun, penduduk Desa Terong Tawah, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  9. Pasien nomor 2187, an. N, perempuan, usia 33 tahun, penduduk Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  10. Pasien nomor 2272, an. MTZ, laki-laki, usia 29 tahun, penduduk Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  11. Pasien nomor 2338, an. AR, laki-laki, usia 22 tahun, penduduk Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  12. Pasien nomor 2378, an. FRT, laki-laki, usia 28 tahun, penduduk Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  13. Pasien nomor 2379, an. EH, laki-laki, usia 48 tahun, penduduk ber-KTP di Banyuwangi, Jawa Timur;
  14. Pasien nomor 2380, an. MA, laki-laki, usia 41 tahun, penduduk Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  15. Pasien nomor 2381, an. MI, laki-laki, usia 40 tahun, penduduk Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  16. Pasien nomor 2481, an. IN, laki-laki, usia 38 tahun, penduduk Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat;
  17. Pasien nomor 2482, an. BS, perempuan, usia 36 tahun, penduduk Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat;
  18. Pasien nomor 2502, an. RJ, perempuan, usia 26 tahun, penduduk Desa Telaga Waru, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  19. Pasien nomor 2508, an. AS, laki-laki, usia 28 tahun, penduduk Kelurahan Pagutan, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  20. Pasien nomor 2515, an. GS, perempuan, usia 26 tahun, penduduk Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  21. Pasien nomor 2550, an. AI, laki-laki, usia 25 tahun, penduduk Desa Penimbung, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat;
  22. Pasien nomor 2551, an. HS, perempuan, usia 29 tahun, penduduk Desa Sesela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat;
  23. Pasien nomor 2643, an. SR, perempuan, usia 32 tahun, penduduk Kelurahan Pagutan Barat, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  24. Pasien nomor 2671, an. AS, laki-laki, usia 32 tahun, penduduk Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  25. Pasien nomor 2719, an. AF, laki-laki, usia 24 tahun, penduduk Kelurahan Ampenan Selatan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  26. Pasien nomor 2809, an. AAYW, laki-laki, usia 42 tahun, penduduk Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  27. Pasien nomor 2810, an. JH, laki-laki, usia 51 tahun, penduduk Kelurahan Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram;
  28. Pasien nomor 2836, an. M, perempuan, usia 29 tahun, penduduk Kelurahan Turida, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram;
  29. Pasien nomor 2837, an. T, perempuan, usia 37 tahun, penduduk Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat;
  30. Pasien nomor 2843, an. PW, perempuan, usia 23 tahun, penduduk Desa Meninting, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat;
  31. Pasien nomor 2844, an. HH, laki-laki, usia 23 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan Timur, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  32. Pasien nomor 2845, an. RP, laki-laki, usia 30 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan Timur, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  33. Pasien nomor 2846, an. MS, laki-laki, usia 45 tahun, penduduk Kelurahan Ampenan Selatan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram;
  34. Pasien nomor 2847, an. MDP, perempuan, usia 30 tahun, penduduk Kelurahan Dasan Agung, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  35. Pasien nomor 2861, an. S, laki-laki, usia 24 tahun, penduduk Desa Beleke, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat;
  36. Pasien nomor 3284, an. D, laki-laki, usia 63 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan Timur, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  37. Pasien nomor 3286, an. YG, laki-laki, usia 64 tahun, penduduk Kelurahan Pagesangan Barat, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  38. Pasien nomor 3324, an. A, perempuan, usia 26 tahun, penduduk Desa Soki, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima;
  39. Pasien nomor 3329, an. S, perempuan, usia 28 tahun, penduduk Parado Wane, Kecamatan Parado, Kabupaten Bima;
  40. Pasien nomor 3347 an. YJ, laki-laki, usia 47 tahun, penduduk Desa Telaga Bertong, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat;
  41. Pasien nomor 3354, an. AFR, perempuan, usia 16 tahun, penduduk Desa Dete, Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa;
  42. Pasien nomor 3359, an. HW, perempuan, usia 36 tahun, penduduk Desa Kerumut, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur;
  43. Pasien nomor 3390, an. Z, perempuan, usia 24 tahun, penduduk Desa Kerumut, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur;
  44. Pasien nomor 3416, an. S, perempuan, usia 70 tahun, penduduk Kelurahan Melayu, Kecamatan Asakota, Kota Bima;
  45. Pasien nomor 3437, an. MA, laki-laki, usia 25 tahun, penduduk Desa O’o, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu;
  46. Pasien nomor 3459, an. AYW, perempuan, usia 27 tahun, penduduk Kelurahan Punia, Kecamatan Mataram, Kota Mataram;
  47. Pasien nomor 3460, an. EH, perempuan, usia 32 tahun, penduduk Kelurahan Bada, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu;
  48. Pasien nomor 3499,an. SH, perempuan, usia 75 tahun, penduduk Desa Kempo, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu;
  49. Pasien nomor 3500, an.ASB, laki-laki, usia 24 tahun, penduduk Kelurahan Bada, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu;
  50. Pasien nomor 3501, an.SW, perempuan, usia 28 tahun, penduduk Kelurahan Dorotangga, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu;
  51. Pasien nomor 3502, an. J, perempuan, usia 55 tahun, penduduk Kelurahan Simpasai, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu.

Dipermaklumkan, bahwa pasien nomor 865, an. M, perempuan, usia 56 tahun, penduduk Kelurahan Mayura, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram yang pada tanggal 12 Oktober 2020 diumumkan selesai isolasi dan sembuh, sebenarnya sudah pernah diumumkan sembuh pada press release sebelumnya.

Hari Selasa juga terdapat penambahan 2 (dua) kasus kematian baru, yaitu :

  1. Pasien nomor 3477, an. AJ, laki-laki, usia 75 tahun, penduduk Desa Danger, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur;
  2. Pasien nomor 3544, an. H, laki-laki, usia 62 tahun, penduduk Kelurahan Ntobo, Kecamatan Penanae, Kota Bima. Pasien memiliki penyakit komorbid.

Lalu Gita Aryadi mengatakan, Kita bersyukur seluruh pasien dapat ditangani dan terawat dengan baik sehingga tetap ada trend kesembuhan setiap harinya

“Protokol pencegahan dan kesehatan dalam masa pandemi ini wajib dilaksanakan oleh setiap orang untuk menekan dan mengurangi penyebaran Covid-19,” katanya.

Dikatakan, selain itu penting untuk kita semua menjaga diri dan orang lain dari virus corona, dengan betul-betul memperhatikan pergerakan antar wilayah dalam akivitas kegiatan sosial dan ekonomi yang dilaksanakan serta menjauhi kerumunan baik di dalam maupun di luar ruangan.

Rr/AYA

Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id

 Layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemi Covid-19 NTB di nomor 0818 0211 8119.




Humas PTS di NTB Tukar Ide dan Gagasan Majukan Lembaga Pendidikan Swasta

Maju dan tidaknya Universitas, dikenal atau tidaknya Universitas tergantung dari Humas

MATARAM.lombokjournal.com

Para Humas Perguruan Tinggi Swasta di Nusa Tenggara Barat bertemu untuk bertukar pikiran, ide dan konsep memajukan Lembaga pendidikan terutama Perguruan Tinggi Swasta (PTS), di Ruang Peradilan, Universitas Islam Al-Azhar, Senin (12/10/20).

Pertemuan para Humas yang dikemas dalam  silaturahmi itu dibuka Rektor Universitas Islam Al-Azhar, Dr. Ir. Muh Ansyar, M.P.

Di hadapan para Humas PTS, sapaan Ansyar itu mengatakan, sangat mendukung ide Humas PTS untuk perkuat silaturahim tersebut karena, maju dan tidaknya Universitas, dikenal atau tidaknya Universitas tergantung dari Humas. Karena, Humas merupakan Etalase sebuah lembaga.

“Ke depan para Universitas bukan lagi berkompetisi melainkan berkolaborasi. Majunya PTS tergantung kolaborasi, oleh sebab itu, saya sangat mendukung pertemuan Humas ini sebagai ajang berdiskusi memajukan Kampus masing-masing,” ungkapnya.

Menurut Ansyar, silaturahim ini bisa memecahkan masalah di Kampus masing-masing, apalagi para Humas bersatu saling memberikan pemikiran untuk kemajuan lembaga pendidikan.

“Kita bersama majukan lembaga pendidikan, Humas itu etalase perguruan tinggi, perannya sangat penting dan saya sangat mendukung penuh langkah Humas,” katanya.

Ansyar menambahkan, rata-rata PTS di NTB cukup bagus baik infrastruktur dan fasilitas pendukung lainnya.

Sehingga, perlu diperkuat dengan keberadaan forum Humas PTS kemudian perbanyak silaturahmi, tukar ide, gagasan dan pemikiran. Bila perlu berkolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Apa yang disampaikan Rektor Unizar itu disambut baik Kepala Biro Humas Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma) Mataram, Ismail Marzuki.

Sapaan Bang Is itu mengatakan, pertemuan perdana ini bentuk silaturahmi untuk menukar pikiran, ide, konsep dan gagasan bagaimana para PTS bisa bersaing dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di NTB.

“Sebenarnya kita tidak kalah dengan PTN, tergantung bagaimana kita perkuat diri dan membangun kolaborasi menyangkut pendidikan,” ujarnya.

Bang Is menambahkan, akan agendakan pertemuan berikutnya dengan para Humas PTS karena, informasi diterima, beberapa Humas PTS di Pulau Sumbawa siap hadir.

Terkait lanjut Bang Ismail, point diskusi dengan perwakilan Humas PTS tersebut yakni, akan upayakan ada kerjasama antar PTS yang belum memiliki kerjasama.

Kemudian, mengupayakan ada Webinar bertema “Peran strategis  Humas di PTS”, dimana rencana akan hadirkan nara sumber seperti Kepala LLDIKTI, Ketua Aptisi NTB, Pimpinan PTS atau perwakilan.

“Pertemuan perdana ini sangat bermanfaat dan mendapatkan beberapa ide untuk memajukan Lembaga pendidikan swasta,” tutupnya.

AYA (*)




Pemahaman Kesehatan Reproduksi Masih Rendah

ke depan pemerintah diharapkan dapat menjadikan kesehatan reproduksi dalam kurikulum pendidikan berjenjang

MATARAM.lombokjournal.com

Kepala Dinas KesehataN Provinsi NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi mengatakan, kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan reeproduksi masih sangat rendah di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Hal ini disebabkan  angka pendidikan rata-rata di NTB masih pada level 7 koma dalam satu tahun

inilah yang menjadi penyebab minimnya kesadaran tentang kesehatan reproduksi khususnya bagi kalangan wanita di provinsi nusa tenggara barat

“Ya ,hal ini juga merupakan efek berantai jika perempuan tersebut akan menjadi orang tua atau ibu di masa depan  dimana peran ibu sebagai madrasah pertama bagi anaknya, tidak berjalan semestinya.  Pendidikan kesehatan reproduksi seharusnya diberikan sejak dini agar dapat membuka wawasan dan pengetahuannya,” ujar Eka, Senin (12/10/20)

Eka menjelaskan,  kabupaten yang dinilai rawan terjadi pernikahan dini ada 3  yaitu Kabupaten Lombok Timur,  Lombok Utara  dan Lombok Tengah.

Bahkan Pemerintah Provinsi dan kabupaten sendiri telah membuat perda tentang kesehatan reproduksi  namun tidak berjalan penerapannya di lapangan.

ia berharap, ke depan pemerintah dapat menjadikan kesehatan reproduksi dalam kurikulum pendidikan berjenjang

Dampak pernikahan usia dini secara medis adalah timbulnya penyakit bagi ibu dan calon anaknya.

Penyebabnya, pada dasarnya organ tubuh manusia berkembang hingga usia 20 tahun. Jika perempuan menikah diusia di bawah 20 tahun,  maka organ reproduksi akan beresiko terkena kanker rahim dan anak cacat stunting.

“Jika ini dibiarkan akan berlanjut, menyebabkan Provinsi Nusa Tenggara Barat belum dapat berkurang angka stuntingnya,” kata Eka.

AYA