Selly-Manan Prioritaskan Ketersediaan Pemakaman Umum dan Hadirnya Kebun Binatang di Mataram

Seperti halnya warga yang hidup memerlukan rumah, mereka yang telah berpulang pun  memerlukan rumah pula. Bagi Selly, pemakaman adalah “rumah masa depan” bagi semua warga kota

lombokjournal.com —

MATARAM ;  Masalah perkotaan bukan hanya berhadapan pada penataan ruang dan pemukiman semata. Soal Tempat Pemakaman Umum (TPU) juga lambat laun akan menjadi kendala bersama.

Susutnya lahan akibat alihfungsi dan semakin banyaknya kompleks pemukiman dan perumahan baru, membuat masalah TPU perlu menjadi perhatian.

Bakal Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Mataram, Hj Putu Selly Andayani dan TGH Abdul Manan (Selly-Manan) menjadikan masalah TPU ini sebagai salah satu prioritas pembangunan Kota Mataram.

Selly Andayani menegaskan, dalam hal memimpin bukan cuma mengurus soal hidup dan urusan dunia yang fana. Namun juga menunaikan tanggung jawab manakala warga berpulang ke hadirat Yang Kuasa.

Itu sebabnya, Selly selalu risau, manakala datang kabar padanya, ada warga sebuah kompleks perumahan tak diberi tempat untuk dimakamkan di perkampungan masyarakat yang terdekat.

Belakangan dalam hampir satu dekade ini, pengembangan kompleks perumahan di Kota Mataram memang dibangun minus ketersediaan fasilitas tempat pemakaman bagi warganya.

Akhirnya warga kompleks yang meninggal dunia harus dimakamkan di TPU pemukiman perkampungan.

Selama ini, pada Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karang Medain menjadi satu-satunya lokasi pemakaman bagi warga kompleks perumahan.

Terutama bagi warga Kota Mataram yang berasal dari luar daerah. Tapi, TPU karang Medain kini pun sudah hampir penuh. Hanya tersisa sisi ruang di bagian tengah.

Kondisi ini dilihat Selly Andayani, saat nyekar dan berdoa di TPU Karang Medain, Rabu (12/08/20). Penjabat Wali Kota Mataram tahun 2015 ini melihat langsung bagaimana area pemakaman ini akan penuh dalam hitungan tahun.

“Harus ada solusi TPU jika di Karang Medain ini penuh. Ini jadi salah satu prioritas Selly-Manan,” katanya.

Ia memaparkan, seperti halnya warga yang hidup memerlukan rumah, mereka yang telah berpulang pun  memerlukan rumah pula. Bagi Selly, pemakaman adalah “rumah masa depan” bagi semua warga kota.

“Seperti firman Allah. Sesungguhnya setiap yang berjiwa, akan merasakan mati,” kata perempuan berhijab ini menukil Ayat Suci Alquran.

Sehingga menjadi kewajiban mereka yang hiduplah yang menyiapkan “rumah masa depan” tersebut.

Namun, manakala tidak kunjung memadai, maka kata Selly, pemerintahlah yang harus berada di garis depan.

Selly menegaskan, jika dirinya bersama TGH Abdul Manan mendapat amanah dari masyarakat Kota Mataram, maka tanggung jawab menyiapkan pemakaman umum yang memadai itu akan diambil sepenuhnya oleh pemerintah.

“Insya Allah, Tempat Pemakaman Umum adalah salah satu prioritas kami,” tandasnya.

Dalam desain yang disiapkan, Selly ingin solusi pemakaman untuk warga Kota Mataram tersebut bukan hanya untuk jangka pendek semata.

Melainkan untuk jangka panjang. Sehingga soal TPU untuk masyarakat Kota Mataram ini bisa menjawab tantangan untuk sepuluh, bahkan dua puluh tahun yang akan datang.

Sebagai birokrat mumpuni yang lama bergelut dengan keuangan daerah, Selly tahu betul, bahwa mewujudkan pemakaman ini bukanlah hal yang sulit bagi Pemkot Mataram.

Ia menandaskan, pemerintah Kota Mataram bisa bersinergi dengan Pemerintah Provinsi untuk mewujudkan hal ini.

“Kuncinya ada pada niat dulu. Kalau sudah, pasti Allah akan menunjukkan jalannya. Allah akan memudahkan,” tandasnya.

Selain itu, para pengusaha properti di Kota Mataram juga akan diajak bicara. Agar setiap lokasi perumahan, selain menyiapkan ruang terbuka untuk warganya, juga perlu menyiapkan tempat ibadah dan juga pemakaman.

“Penyiapan ruang ibadah, dan pemakaman itu, tentulah akan menjadi ladang ibadah bagi para pengusaha, dan juga bagi pemerintah. Dan ini akan menjadi berkah bagi warga,” katanya.

Kebun Binatang

 Selain penyediaan TPU yang memadai, Selly-Manan juga akan berupaya mewujudkan impian generasi muda Kota Mataram akan hadirnya kebun binatang.

Menurut Selly, kebun binatang bisa jadi ada penanda sebuah kota yang maju. Kota-kota utama di Indonesia telah memilikinya. Bahkan, provinsi terdekat seperti Bali, memiliki dua kebun binatang dengan nama yang kesohor.

“Kami menyiapkan kebun binatang ini sebagai pusat edukasi untuk generasi muda,” kata Selly. Akan menjadi tempat penangkaran hewan-hewan langka. Hewan-hewan endemik dari Bumi Gora.

Selly mengatakan, banyak sekali anak-anak dan generasi muda Kota Mataram yang hanya tahu dan melihat aneka binatang cuma dari gambar atau tayangan televisi semata. Dia tak ingin tak ingin generasi milenial Mataram seperti itu.

“Anak-anak Kota Mataram layak mendapatkan lebih dari itu. Mendapatkan pengalaman yang jauh lebih berharga dalam hidupnya,” katanya.

Selly mencontohkan, gambar rusa sebagai lambang Provinsi NTB bisa jadi tidak semua generasi muda NTB pernah dan melihat langsung rusa tersebut.

“Jangan sampai rusa-rusa itu hanya ada tertempel di baju-baju dinas saja,” katanya.

Pun misalnya musang yang merupakan binatang endemik dari Gunung Rinjani. Tak banyak generasi muda NTB yang tahu hal tersebut, dan pernah melihatnya secara langsung. Padahal, musang endemik dengan nama latin Paradok Saurus Rinjanikus tersebut hanya ada di NTB.

Rencananya, kebun binatang Kota Mataram itu disiapkan berlokasi di lahan eks Bandara Selaparang di utara Kota Mataram.

Kelak, jika hal tersebut mewujud, kebun binatang ini tak akan cuma menjadi pusat edukasi bagi warga Kota Mataram, namun juga bagi seluruh warga Bumi Gora.

Selain sebagai pusat edukasi bagi generasi muda Kota Mataram, kebun binatang tersebut juga pastilah akan menjadi pusat rekreasi. Hal yang tentu dibutuhkan oleh masyarakat Kota Mataram.

Di sisi lain, paparnya, keberadaan kebun binatang ini akan menjadi ruang terbuka hijau.

“Sehingga akan menjadi salah satu paru-paru Kota Mataram. Yang akan memasok udara segar yang akan meningkatkan kualitas hidup warga Kota Mataram,” tukasnya.

Bagi Selly, memang mesti ada pembenahan terhadap tata ruang kota. Mataram haruslah memiliki taman ikonik. Taman yang akan menjadi ruang publik, tempat bertemunya warga.

Selly mengatakan, di sejumlah Kota di Indonesia ketersediaan taman dan ruang terbuka hijau menjadi hal yang sangat sulit diwujudkan. Namun, dia tak ingin hal tersebut terjadi di Mataram. Sebab, dari tamanlah, warga kota Mataram memulihkan pancaindera.

“Taman dan RTH ini menjadi wahana yang bisa menjadi tempat rekreasi, olahraga, dan menyegarkan atmosfir kehidupan bagi warga Kota Mataram,” katanya.

Me




Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan, Perpres  No 64 Tahun 2020, Menang di MA, Artinya?

Keputusan MA ini telah mengukuhkan Perpres 64 Tahun 2020 itu menutup pintu bagi KPCDI untuk mengajukan kembali gugatan uji materi atas kenaikan iuran BPJS Kesehatan

lombokjournal.com —

JAKARTA ;    Mahkamah Agung atau MA menolak gugatan uji materi kedua yang diajukan oleh Komunitas Pasien Cuci Daerah Indonesia (KPCDI) soal kenaikan iuran BPJS Kesehatan, yang diatur dalam Perpres  No 64 Tahun 2020..

Artinya, peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2020 yang diteken Presiden Joko Widodo atau Jokowi soal kenaikan iuran BPJS Kesehatan akhirnya memperoleh kemenangan di Mahkamah Agung (MA).

Informasi penolakan uji materi kedua ini disampaikan oleh Ketua Umum KPCDI Tony Samosir. Sementara, Direktori Putusan MA belum mempublikasikan hasil putusan terbaru ini.

Namun, sudah ada penguman bahwa gugatan kedua ini ditolak dan diputuskan pada 6 Agustus 2020.

“Keputusan MA tersebut sangat mengecewakan,” kata Tony dalam keterangan resmi seperti  dikatakan pada Tempo di Jakarta, Selasa (11/08/2020).

Pada tanggal 20 Mei 2020, KPCDI kembali menggugat kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang diterbitkan Jokowi lewat Perpres 64 Tahun 2020.

“Apa yang kami lakukan ini untuk mengontrol kebijakan menjadi suatu kebutuhan, bukanlah karena suatu pilihan semata,” kata kuasa hukum KPCDI Rusdianto Matulatuwa dalam keterangan resmi di Jakarta.

Ini adalah gugatan kedua KPCDI ke MA. Awalnya, Jokowi menaikkan iuran BPJS mulai 1 Januari 2020 lewat Peraturan Presiden 75 Tahun 2019.

KPCDI menggugatnya ke MA. Februari 2020, MA mengabulkan gugatan itu dan menyatakan kenaikan iuran BPJS melanggar Undang-Undang (UU). Jokowi kalah.

Sehingga, aturan iuran BPJS kembali ke Perpres awal, yaitu Perpres 82 Tahun 2018.

Setelah kekalahan pertama ini, barulah Jokowi menerbitkan Perpres 64 Tahun 2020. Perpres ini tidak hanya memuat kenaikan iuran, tapi juga diklaim berisi perbaikan menyeluruh Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (SJSN).

Lebih lanjut, Tony pun menyebut keputusan MA ini telah mengukuhkan Perpres 64 Tahun 2020 tersebut.

Dengan kata lain, menutup pintu bagi KPCDI untuk mengajukan kembali gugatan uji materi atas kenaikan iuran BPJS Kesehatan. Menurut Tony, yang akan merasakan dampaknya adalah masyarakat kurang mampu.

Rr




Kunjungi Dusun Kelana, Gubernur Zul Merasa Seperti di Singapura

Menurut gubernur, lingkungan yang bersih akan menghadirkan banyak manfaat

LOTENG.lombokjournal.com — Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah mengatakan kampung – kampung di NTB sudah mulai terlihat menawan, karena kebersihan lingkungan sudah mulai dirasakan manfaatnya.

Semangat gotong royong warga mewujudkan kampung sehat yang bersih dan lestari juga antusiasmenya sangat kental.

Bahkan secara khusus, Gubernur memuji Kampung Kelana “Ijo Berseri” yang menurutnya seperti di Singapura karena saking bersihnya.

“Saya berkunjung desa ini, ibaratnya saya mengujungi  desa-desa yang ada di Singapura. Karena saking bersihnya. Bahkan lukisan di temboknya sebagian besar menggunakan bahasa Inggris,” puji Gubernur saat melaunching Kampung Sehat Kelana “Ijo Berseri” Desa Sepakek, Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah, Rabu (12/08).

Doktor Ekonomi Industri tersebut juga menekankan,  kebersihan dan keindahan adalah kebutuhan bersama. Gubernur berharap kebersihan dan keindahan yang sudah terbentuk saat ini dapat dipertahankan dan menjadi gaya hidup warga NTB di masa yang akan datang.

“Bukan karena ada lomba, inilah cara hidup terbaik bagi kita di masa yang akan dating,” harap gubernur.

Gubernur Zul mengapresiasi Kampung Sehat yang diluncurkan. Menurutnya, setiap sudut kampung telah tertata rapi, tempat sampah juga telah tersedia di setiap rumah-rumah warga.

Begitu juga dengan lukisan dan mural indah yang mengajak masyarakat dapat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Tak hanya itu, tanaman bunga serta sayur-sayuran nampak asri dan lestari menyambut kedatangan gubernur beserta rombongannya.

“Saya sangat bangga, semoga kebersihan kampung ini menjadi contoh bagi kampung lain di NTB, ” tutur gubernur.

Di akhir sambutannya, Doktor Zul berpesan agar warga dapat mempertahankan kondisi lingkungan yang bersih. Menurutnya, lingkungan yang bersih akan menghadirkan banyak manfaat.

“Yang tidak kalah penting, bukan hanya lingkungan yang bersih. Tapi hati masyarakatnya juga harus bersih. Sehingga akan menghadirkan ketentraman dan kebahagiaan dalam hatinya,” pesannya.

Lingkungan hijau

Kepala Dusun Kelana Desa Sepakek, Suparlan menyebutkan, menyebutkan, Kampung sehat “Ijo Berseri” merupakan kolaborasi dari program kampung sehat. Ke depan bukan sekedar kebersihan lingkungan yang diwujudkan tapi lingkungan hijau juga akan terus dikembangkan.

Mulai dari tanaman bunga yang berseri-seri menyambut para pengunjung. Juga tanaman sayur-sayuran yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat itu sendiri.

“Kalau semua itu dapat kita wujudkan, maka kita akan terus kembangkan menjadi desa angrowisata dengan segala potensi yang ada. Baik sumber daya alam yang mendukung maupun sumber daya manusia yang memadai,” jelasnya.

Ia menjelaskan, sejak program kampung sehat mulai dilaksanakan, partisipasi masyarakat dan pemuda sangat luar biasa.

Saking antusiasnya masyarakat menyambut lomba kampung sehat ini, semua kebutuhan baik itu kayu, bambu, makanan dan lain-lain semua disediakan oleh masyarakat.

Pekerjaan nya pun swadaya dari masyarakat itu sendiri. Sehingga semangat pemerintah desa dan masyarakat untuk mewujudkan kampung sehat semakin tinggi.

“Alhamdulillah masyarakat kami sangat antusias dan merasa bangga menyambut program ini. Semoga kunjungan Gubernur kali ini memberi semangat baru kami untuk mewujudkan kampung yang sehat dan bersih,” ungkapnya bangga.

Setelah puas berkeliling desa, Gubernur NTB bersama rombongan melanjutkan kegiatan dengan sholat Dzuhur berjamaah dengan warga desa setempat.

Dalam kunjungan ini, Gubernur NTB turut didampingi oleh Camat Pringgarata, H. Masnum, Polsek Pringgarata serta beberapa kepala Perangkat Daerah lingkup Pemerintah Provinsi NTB.

man/ricky@diskominfotikNTB

 

 




Gerindra NTB: Prabowo Melihat ‘Penumpang Gelap’ Ingin Pecah Belah Bangsa

Prabowo tetap pada prinsipnya membela tanah air, mengesampingkan kepentingan pribadi dan golongan

MATARAM.lombokjournal.com — Ketua DPD Gerindra NTB, H. Ridwan Hidayat menyampaikan, saat Kongres Gerindra beberapa waktu lalu, Prabowo Subianto menjelaskan kepada peserta kongres alasan dirinya mendukung pemerintahan Jokowi.

Karena Prabowo melihat, mulai masuknya banyak ‘penumpang gelap’ mengatasnamakan diri pendukung Prabowo untuk menghancurkan NKRI.

“Beliau melihat banyak penumpang gelap ingin memecah belah bangsa,” ujarnya kepada lombokournal.com, Rabu, (11/08/2020).

Ridwan menjelaskan, bagaimana posisi Prabowo selaku rival Jokowi di Pilpres awalnya sangat berat untuk mengambil keputusan bergabung mendukung pemerintah.

Tetapi, pada akhirnya jiwa kenegarawanan Prabowo membuatnya ringan mengambil keputusan tersebut.

“Lihatlah jiwa negarawan beliau,” katanya.

Diceritakan, bagaimana Prabowo tidak berkecil hati bekerja di bawah presiden sebagai menteri. Hal yang menurut Ridwan sulit dibayangkan banyak orang, tak terkecuali para barisan pendukung Prabowo saat Pilpres dulu.

Selain dukungan, Prabowo juga mendapat banyak cibiran. Kendati begitu, Prabowo tetap pada prinsipnya membela tanah air, mengesampingkan kepentingan pribadi dan golongan.

“Keutuhan negara, itu yang terpenting,” terangnya.

Di luar itu, dalam kongres tersebut, semua DPD Gerindra di daerah bulat mendukung Prabowo kembali memimpin Gerindra.

Dikatakan, keinginan agar Prabowo kembali memegang jabatan ketua partai tidak datang dari Prabowo, tetapi dari semua peserta kongres.

Keputusan agar Prabowo tetap memimpin Gerindra karena figurnya masih dibutuhkan. Belum ada kader Gerindra yang dirasa bisa memimpin Gerindra sebaik Prabowo.

“Beliau ini kan mendidik kita, meminta kita agar jadi kader bangsa, bukan saja kader partai politik,” pungkasnya.

Ast




UPDATE Covid-19: Hari Rabu, 12 Agutus 2020, Bertambah 13 Pasien Positif Covid-19, Pasien Sembuh 48 Orang, Tidak ada Kasus Kematian

Ke depan trend kesembuhan diperkirakan akan terus bertambah. Tentu ini kabar menggembirakan untuk kita bisa segera keluar dari pandemi Covid-19 serta sukses menerapkan tatanan baru kehidupan

 MATARAM.lombokjournal.com —  Laboratorium PCR RSUD Provinsi NTB, Laboratorium PCR RS Unram, Laboratorium PCR Genetik Sumbawa Technopark, Laboratorium PCR RSUD R. Soedjono Selong, Laboratorium PCR RSUD Kota Mataram, dan Laboratorium TCM RSUD H.L. Manambai Abdulkadir mengkonfirmasi, ada tambahan 24 pasien positif Covid-19, dan pasien yang dinyatakan sembuh 53 orang.

Lalu Gita Aryadi

Siaran pers hari Rabu (12/08/20), Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. HL Gita Ariadi, M.Si menjelaskan, telah diperiksa sebanyak 140 sampel dengan hasil 120 sampel negatif, 7 sampel positif ulangan, dan 13 sampel kasus baru positif Covid-19, sembuh 48 orang, kasus kematian 1 (satu) orang.

Dijelaskan, adanya tambahan 13 kasus baru terkonfirmasi positif, 48 tambahan sembuh baru, dan tidak ada kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari Rabu (12/08/20) sebanyak 2.374 orang, dengan perincian 1.595 orang sudah sembuh, 132 meninggal dunia, serta 647 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

Diharapkan, petugas kesehatan di kabupaten/kota melakukan identifikasi epicentrum penularan setempat Covid-19 untuk dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran virus Covid-19.

TAMBAHAN 13 PASIEN POSITIF COVID-19, PASIEN SEMBUH 48  ORANG, TIDAK ADA KASUS KEMATIAN

Kasus baru positif tersebut, yaitu :

  1. Pasien nomor 2362, an. APAS, perempuan, usia 27 tahun, penduduk Kelurahan Prapen, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Harapan Keluarga;
  2. Pasien nomor 2363, an. S, perempuan, usia 65 tahun, penduduk Desa Tanjung, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Provinsi NTB;
  3. Pasien nomor 2364, an. FS, perempuan, usia 26 tahun, penduduk Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Bhayangkara Mataram;
  4. Pasien nomor 2365, an. SH, perempuan, usia 36 tahun, penduduk Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RS Bhayangkara Mataram;
  5. Pasien nomor 2366, an. OL, perempuan, usia 28 tahun, penduduk Kelurahan Pekat, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 2349. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan Puskesmas Unit 1 Sumbawa;
  6. Pasien nomor 2367, an. AX, laki-laki, usia 46 tahun, penduduk Desa Karang Bongkot, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSAD Wirabhakti Mataram;
  7. Pasien nomor 2368, an. SM, perempuan, usia 57 tahun, penduduk Kelurahan Rabadompu Barat, Kecamatan Raba, Kota Bima. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 2230. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RSUD Kota Bima dan Puskesmas Penanae;
  8. Pasien nomor 2369, an. S, laki-laki, usia 45 tahun, penduduk Desa Kemuning, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan Puskesmas Sekongkang;
  9. Pasien nomor 2370, an. SA, perempuan, usia 54 tahun, penduduk Kelurahan Menala, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat. Pasien pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat;
  10. Pasien nomor 2371, an. S, laki-laki, usia 67 tahun, penduduk Desa Aikmel Barat, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur. Pasien pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Lombok Timur Labuhan Haji;
  11. Pasien nomor 2372, an. S, perempuan, usia 63 tahun, penduduk Desa Aikmel Barat, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan pasien Covid-19 nomor 2371. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Lombok Timur Labuhan Haji;
  12. Pasien nomor 2373, an. EA, perempuan, usia 30 tahun, penduduk Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSUD Lombok Timur Labuhan Haji;
  13. Pasien nomor 2374, an. DR, laki-laki, usia 40 tahun, penduduk Desa Buk Buk, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Riwayat kontak dengan orang sakit Covid-19 belum teridentifikasi. Saat ini menjalani isolasi mandiri dalam pengawasan RS Harapan Keluarga.

Hari Rabu terdapat penambahan 48 orang yang selesai isolasi dan sembuh dari Covid-19, yaitu :

  1. Pasien nomor 537, an. NZ, perempuan, usia 8 tahun, penduduk Desa Beru, Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat;
  2. Pasien nomor 991, an. AF, laki-laki, usia 29 tahun, penduduk Desa Ranggagata, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah;
  3. Pasien nomor 1459, an. MM, laki-laki, usia 35 tahun, penduduk Desa Sepakek, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah;
  4. Pasien nomor 1508, an. NIH, perempuan, usia 17 tahun, penduduk Kelurahan Sapta Marga, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram;
  5. Pasien nomor 1595, an. MHT, laki-laki, usia 17 tahun, penduduk Desa Karang Bongkot, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  6. Pasien nomor 1596, an. MSR, laki-laki, usia 10 tahun, penduduk Desa Karang Bongkot, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat;
  7. Pasien nomor 1725, an. FB, laki-laki, usia 33 tahun, penduduk ber-KTP di Sidoarjo, Jawa Timur. Pasien berdomisili di Kelurahan Praya, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah;
  8. Pasien nomor 1824, an. MBS, perempuan, usia 49 tahun, penduduk Desa Lekong, Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa;
  9. Pasien nomor 1837, an. A, laki-laki, usia 46 tahun, penduduk Desa Masbagik, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur;
  10. Pasien nomor 1871, an. HA, perempuan, usia 33 tahun, penduduk Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur;
  11. Pasien nomor 1908, an. BMN, perempuan, usia 26 tahun, penduduk Kelurahan Gomong, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram;
  12. Pasien nomor 1909, an. WR, perempuan, usia 24 tahun, penduduk Desa Kawo, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah;
  13. Pasien nomor 1955, an. ZNF, perempuan, usia 4 bulan, penduduk Desa Pelambik, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah;
  14. Pasien nomor 1956, an. M, laki-laki, usia 31 tahun, penduduk Desa Pelambik, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah;
  15. Pasien nomor 1998, an. RA, perempuan, usia 40 tahun, penduduk Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima;
  16. Pasien nomor 2015, an. NI, perempuan, usia 34 tahun, penduduk Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima;
  17. Pasien nomor 2045, an. HS, laki-laki, usia 30 tahun, penduduk Desa Benete, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat;
  18. Pasien nomor 2046, an. DD, laki-laki, usia 36 tahun, penduduk Desa Seteluk, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat;
  19. Pasien nomor 2047, an. N, laki-laki, usia 31 tahun, penduduk Kelurahan Bugis, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat;
  20. Pasien nomor 2074, an. INB, laki-laki, usia 30 tahun, penduduk Desa Mekar Sari, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat;
  21. Pasien nomor 2076, an. IH, perempuan, usia 63 tahun, penduduk Desa Presak, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur;
  22. Pasien nomor 2106, an. WBF, perempuan, usia 65 tahun, penduduk Desa Seteluk Tengah, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat;
  23. Pasien nomor 2107, an. YP, perempuan, usia 42 tahun, penduduk Kelurahan Telaga Bertong, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat;
  24. Pasien nomor 2143, an. W, laki-laki, usia 45 tahun, penduduk Desa Doromelo, Kecamatan Manggalewa, Kabupaten Dompu;
  25. Pasien nomor 2144, an. I, laki-laki, usia 27 tahun, penduduk Desa Daha, Kecamatan Huu, Kabupaten Dompu;
  26. Pasien nomor 2145, an. S, laki-laki, usia 24 tahun, penduduk Desa Marada, Kecamatan Huu, Kabupaten Dompu;
  27. Pasien nomor 2146, an. I, laki-laki, usia 32 tahun, penduduk Desa Rasabou, Kecamatan Huu, Kabupaten Dompu;
  28. Pasien nomor 2147, an. H, laki-laki, usia 36 tahun, penduduk Desa Marada, Kecamatan Huu, Kabupaten Dompu;
  29. Pasien nomor 2148, an. S, laki-laki, usia 35 tahun, penduduk Desa Jala, Kecamatan Huu, Kabupaten Dompu;
  30. Pasien nomor 2149, an. Y, laki-laki, usia 39 tahun, penduduk Desa Daha, Kecamatan Huu, Kabupaten Dompu;
  31. Pasien nomor 2150, an. I, laki-laki, usia 22 tahun, penduduk Desa Huu, Kecamatan Huu, Kabupaten Dompu;
  32. Pasien nomor 2160, an. MA, laki-laki, usia 32 tahun, penduduk Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah;
  33. Pasien nomor 2189, an. Tn. AH, laki-laki, usia 34 tahun, penduduk Desa Ubung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah.
  34. Pasien nomor 2190, an. LES, laki-laki, usia 31 tahun, penduduk Desa Panji Sari, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah;
  35. Pasien nomor 2204, an. BWOT, perempuan, usia 38 tahun, penduduk Desa Aikmel, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur;
  36. Pasien nomor 2239, an. LAR, laki-laki, usia 44 tahun, penduduk Desa Beber, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah;
  37. Pasien nomor 2245, an. SKW, laki-laki, usia 68 tahun, penduduk Desa Pemepek, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah;
  38. Pasien nomor 2278, an. MK, perempuan, usia 50 tahun, penduduk Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur;
  39. Pasien nomor 2279, an. YY, perempuan, usia 27 tahun, penduduk Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur;
  40. Pasien nomor 2280, an. S, laki-laki, usia 42 tahun, penduduk Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur;
  41. Pasien nomor 2281, an. SB, perempuan, usia 42 tahun, penduduk Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur;
  42. Pasien nomor 2292, an. S, perempuan, usia 57 tahun, penduduk Desa Tanjung, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur;
  43. Pasien nomor 2293, an. Y, laki-laki, usia 60 tahun, penduduk Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur;
  44. Pasien nomor 2310, an. AM, laki-laki, usia 39 tahun, penduduk Desa Banjar Sari, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur;
  45. Pasien nomor 2311, an. SA, perempuan, usia 46 tahun, penduduk Desa Labuhan Haji, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur;
  46. Pasien nomor 2314, an. BI, perempuan, usia 37 tahun, penduduk Desa Wanasaba, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur;
  47. Pasien nomor 2315, an. S, laki-laki, usia 28 tahun, penduduk Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur;
  48. Pasien nomor 2328, an. M, perempuan, usia 37 tahun, penduduk Desa Apitaik, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur.

Dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), maka terdapat beberapa istilah baru yang sebelumnya belum pernah digunakan, antara lain probable dan discarded.

Probable adalah kasus suspek dengan gejala Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) berat atau gangguan pernafasan berat dengan gambaran klinis yang meyakinkan Covid-19 namun belum ada hasil laboratorium swab RT-PCR.

Discarded adalah kasus setelah pemeriksaan laboratorium RT-PCR negatif Covid-19 atau karantina 14 hari dinyatakan bebas kasus Covid-19.

Sekda NTB sebagai Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas NTB, Lalu Gita Aryadi mengatakan, beberapa hari terakhir trend kesembuhan terus meningkat dan dalam waktu-waktu.

Menurutnya, ke depan trend kesembuhan diperkirakan akan terus bertambah. Tentu ini kabar menggembirakan untuk kita bisa segera keluar dari pandemi Covid-19 serta sukses menerapkan tatanan baru kehidupan.

“Masyarakat dihimbau untuk tetap patuh dan disiplin melaksanakan protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19. Keberhasilan menjalankan tatanan baru kehidupan yang aktif dan produktif serta tetap aman dari Covid-19 terletak pada upaya kolektif kita bersama,” kata Lalu Gita Aryadi.

Karenanya, mari senantiasa berusaha mendisiplinkan diri kita sendiri serta saling mengingatkan dan saling melindungi.

AYA/Rr

 Pemerintah Provinsi menyediakan laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 http://corona.ntbprov.go.id

 Layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemi Covid-19 NTB di nomor 08180211 8119.




MES NTB Optimis, Program Mawar Emas Lepaskan Masyarakat Dari Jerat Rentenir

Peluncuran Mawar Emas selain mengeluarkan masyarakat dari jeratan rentenir, masyarakat mendapat ilmu tentang pentingnya pengetahuan serta penerapan ekonomi syariah

MATARAM.lombokjournal.com —  Program Melawan Rentenir Berbasis Masjid atau Mawar Emas. yang diluncurkan Gubernur H Zulkieflimansyah di Masjid Nurul Ikhsan Keruak, Lombok Timur, terbentuk melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi NTB.

Beberapa instansi dan lembaga keuangan yang terlibat seperti OJK, BI, Bank NTB Syariah, PNM dan Masyarakar Ekonomi Syariah (MES) NTB, bertujuan mempermudah akses keuangan berbasis masjid serta melawan rentenir di tengah masyarakat.

Sebelum peluncuran Mawar Emas tersebut, MES beberapa kali memberikan pelantihan kepada ratusan takmir masjid yang ada di Provinsi NTB.

Itu dilakukan sebagai bentuk kesungguhan MES NTB untuk melawan rentenir yang selama ini menjerat masyarakat dengan bunga pinjaman yang cukup tinggi.

“Alhamdulillah, MES telah melakukan pelatihan kepada ratusan takmir masjid yang ada di provinsi NTB, Pelatihan tersebut  dilakukan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa masjid adalah tempat untuk melakukan berbagai kegiatan selain untuk kegiatan ibadah,” ujar Ketua MES NTB Dr. Baiq Mulianah saat menghadiri acara Launching Mawar Emas di Keruak, Lombok Timur, Rabu (12/08/20).

Selain memberikan pelatihan kepada Takmir Masjid, MES juga bekerjasama dengan Bank NTB Syariah dan PNM untuk menyiapkan modal yang dikelola oleh masyarakat tanpa dikenakan bunga. Misalnya Bank NTB Syariah menyiapkan dana 1 juta per orang.

Setiap orang yang meminjam dana harus berkelompok, dalam satu kelompok terdiri dari 20 orang. Berbeda dengan Bank NTB Syariah, PNM menyiapkan Rp 2 juta per orang dengan sistem yang sama.

“Kita bersyukur, ide dari Gubernur NTB untuk memberantas rentenir melalui program Mawar Emas ini bisa kita ikhtiarkan bersama dengan lembaga keuangan yang ada di provinsi NTB,” tambah Rektor Universistas Nahdlatul Ulama itu.

Perempuan yang terkenal rendah hati ini melanjutkan, dipercaya sebagai Ketua Umum MES merupakan amanah dan tanggung jawab yang cukup besar. Terutama dalam gerakannya memasyarakatkan ekonomi syariah dan mensyariahkan ekonomi masyarakat di NTB.

“Tahadduts bin ni’mah, MES provinsi NTB optimis, dengan peluncuran Mawar Emas tersebut masyarakat bisa keluar dari jeratan para rentenir,” tambahnya lembut.

MES Provinsi NTB sendiri berharap, setelah peluncuran Mawar Emas tersebut, selain mengeluarkan masyarakat dari jeratan rentenir, masyarakat mendapat ilmu tentang pentingnya pengetahuan serta penerapan ekonomi syariah dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu, sasaran tembak dari program ini adalah masyarakat di lingkungan sekitar masjid, yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTB secara umum.

“Mawar Emas menyediakan pinjaman tanpa bunga untuk masyarakat yang ingin mengembangkan usahanya, dan program ini dipusatkan di masjid-masjid,” ujarnya.

HmsNTB




Wagub Paparkan Strategi Bangkitkan Pariwisata NTB di Tengah Pandemi

Reaktivasi pariwisata di NTB ini dilakukan dengan menggandeng pihak-pihak lain di luar Pemerintah untuk ikut serta mengambil peran dalam membangkitkan kembali pariwisata di NTB

MATARAM.lombokjournal.com —  Sektor pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) tak luput terdampak pandemi Covid-19.

Di masa adaptasi kebiasaan baru, Pemerintah Provinsi NTB membuat strategi Bangkitkan pariwisata.

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah dalam webinar yang bertajuk ‘Percepatan Reaktivasi Sektor Pariwisata dalam Adaptasi Kebiasaan Baru’, yang diinisiasi Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi memaparkan, strategi Pemerintah Provinsi NTB membangkitkan pariwisata.

“Industri pariwisata kita dalam pandemi ini harus bertahan, kami melakukan berbagai pembenahan untuk hidup aman dan produktif pada sektor pariwisata ini,” kata wagun, Rabu (12/08/20).

Ia mengatakan, tiga hal yang dilakukan untuk mempertahankan pariwisata di masa pandemi ini.

Yang pertama yakni penyempurnaan kualitas destinasi menggunakan protokol CHSE (Clean, Health, Safety and Environment) secara bertahap, terbatas dan terpadu.

Quality tourism atau wisata berkualitas adalah bagian dari pariwisata yang penting diperhatikan, baik dari segi kebersihan lingkungan sekitar, aktivitas, hingga penunjang destinasi untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan.

Promosi, merupakan  bagian yang harus dilakukan untuk memperkenalkan destinasi pariwisata di NTB.

Namun, di masa pandemi ini, Wakil Gubernur yang kerap disapa Umi Rohmi ini menyampaikan,  promosi gencar dilakukan secara digital melalui media-media sosial.

Umi Rohmi juga mengatakan, reaktivasi pariwisata di NTB ini dilakukan dengan menggandeng pihak-pihak lain di luar Pemerintah untuk ikut serta mengambil peran dalam membangkitkan kembali pariwisata di NTB.

“Kami menggunakan konsep pentahelix untuk pembangunan pariwisata dimana pelibatan dari akademisi, pebisnis, komunitas dan media itu menjadi keharusan,” terangnya.

Souvenir yang juga sebagian besar menjadi primadona wisatawan sebagai oleh-oleh tidak luput dari perhatian pemerintah. Umi Rohmi menuturkan, pemerintah mendorong produk UMKM dengan berbagai cara agar tetap bertahan.

“Untuk produk-produk NTB, seperti suvenir terus kami support dengan berbagai program untuk bisa survive dalam kondisi sulit ini,” ungkap Umi Rohmi.

Salah satu hal yang paling penting, adalah menerapkan protokol kesehatan pada setiap kegiatan khususnya kegiatan pariwisata. Hal ini dilakukan agar dapat hidup aman dan produktif yang mana keduanya harus berjalan bersamaan.

Di akhir penyampaiannya, Wakil Gubernur mengatakan, tujuan strategi yang dilakukan ini adalah untuk pariwisata yang berkelanjutan, ia berharap pariwisata NTB tetap berjalan dan semakin maju untuk ke depan.

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan dalam kesempatan itu berpesan kepada seluruh pemerintah daerah untuk melakukan  hal yang baru, agar pariwisata bangkit kembali  seperti yang dilakukan oleh daerah-daerah lain yang pariwisatanya mulai berjalan kembali.

“Mari kita semua bekerja sama untuk memulihkan ekonomi kreatif ini dengan menjaga kebersihan destinasi, team work, dan mengingatkan masyarakat bahwa pariwisata ini akan bangkit kembali dan ekonomi masyarakat dapat berjalan seperti biasanya,” pesannya.

Dalam webinar tersebut, turut hadir Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gubernur Kalimantan Tengah, Walikota Tual Provinsi Maluku, Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas Provinsi Kepulauan Riau, GM PT Bintan Resort Cakrawala.

HmsNTB




Desa Sengkol Jadi Pilot Project Pengelolaan Sampah Metode BSF

Larva BSF mampu menguraikan nutrisi kompleks dalam sampah makanan dengan cepat. Pada prosesnya, tumpukan sampah organik dapat berkurang sebanyak 80 persen selama 24 jam

MATARAM.lombokjourna.com —  Desa Sengkol menjadi pilot project program pengelolaan sampah dengan metode Black Soldier Flies (BSF), dan Pembangunan fasilitas BSF secara Eco Friendly menggunakan bambu dari Lombok.

Wagub Hj Sitti Rohmi

Program pengelolaan sampah ini merupakan bantuan Tim ‘BSF GIZ-Renergii-Bambook’ guna mensukseskan Program Unggulan NTB, yakni ‘NTB Zero Waste’ dan ‘NTB Hijau’, yang diimplementasikan dalam bentuk pengelolaan sampah di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, sebagai piot project di Desa Senko.

Wakil Gubernur NTB, Dr. Ir. Hj Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd mengapresiasi program dari Tim BSF GIZ-Renergii-Bambook, mengingat NTB merupakan salah satu Provinsi yang sangat fokus menjaga kelestarian lingkungan.

Sebelumnya, metode BSF telah berlangsung di Desa Lingsar, Lombok Barat yang merupakan hasil kerjasama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB dengan Kementerian Kehutanan Korea Selatan pada tahun 2018.

“Metode BSF merupakan salah satu proses yang sudah dipelajari dari dulu, tetapi kami sangat butuh orang – orang seperti anda untuk bisa merealisasikan hal tersebut, kami berharap Giz akan berkelanjutan dengan melakukan pendampingan” tuturnya pada Tim BSF GIZ Renergii Bambook, bertempat di ruang rapat ‘outdoor’ halaman Setda Provinsi NTB, (12/08).

Proses pengolahan sampah organik dengan menggunakan tehnologi biokonversi sendiri merupakan tekhnologi yang memanfaatkan pelahap larva dari lalat Hermetia illucens (dikenal dengan sebutan Black Soldier Flies atau BSF).

Larva BSF mampu menguraikan nutrisi kompleks dalam sampah makanan dengan cepat. Pada prosesnya, tumpukan sampah organik dapat berkurang sebanyak 80 persen selama 24 jam.

“Sampah makanan tidak harus menjadi sampah yang busuk dan menyebabkan penyakit, tetapi bisa juga menjadi uang, pakan ternak, menjadi pupuk, ini solusi dalam siklus yang dikatakan sebagai zero waste, kami sangat inginkan dan bahagia dengan metode ini,” ujar Umi Rohmi sapaan akrab Wagub NTB.

Pengelolaan sampah dengan metode BSF diharapkan tidak hanya di Desa Sengkol saja, tetapi bisa juga diterapkan dibeberapa daerah wisata.

“Sampah Organik yang muncul dari pasar, hotel dan rumah makan harus ditangani, terimakasih kepada  Tim BSF GIZ-Renergii-Bambook karena telah membantu kita mempercepat proses dikawasan premuin internasional semoga ke depan bisa di tempat wisata lain seperti senggigi atau gili,” jelas Samsudin, S.Hut, M.Si Sekrertaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutan Prov. NTB.

Selain itu, Kathrin Pape dari Giz mengungkapkan, Program yang berlangsung di Desa Sengkol telah menumbuhkan kesadaran diri dari masyarakat, untuk ikut serta sehingga secara tidak langsung terciptanya lapangan kerja yang berkelanjutan.

“Kami mengikutsertakan masyarakat dari Sengkol, para pemuda dan wanita yang dimana mereka bisa bekerja sehingga dapat membantu perekonomian masyarakat” jelasnya.

Sementara itu, Paula dari Bambook menjelaskan alasan pemilihan bambu sebagai bahan baku pembangunan fasilitas BSF di Desa Sengkol.

“Semua project kita dari bamboo, karena lebih murah dan aman dari bencana alam gempa,” tuturnya.

Kepala Desa Sengkol, Satria sangat antusias dan sudah mempersiapkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan, seperti lahan untuk pembangunan yang telah dihibahkan oleh warga.

“Kami berterimakasih karena hal ini sangat penting, semoga program ini dapat berjalan dengan baik ke depan,” katanya.

serly@diskominfotik




Kurangi Blank Spot, Diskominfotik NTB Programkan Desa Mandiri Internet

Disamping untuk membantu membuka area blank spot, diharapkan menjadi lahan pemasukan BUMDES di desa

MATARAM.lombokjourna.com —  Dinas Kominfotik NTB akan membangun Desa Mandiri Internet, yang akan dijadikan Pilot projet yaitu desa-desa yang jauh dari provider serta memiliki sinyal Lemah atau Blank Spot.

“Desa mandiri ini nantinya akan melibatkan BUMDES untuk membangun tower serta akan dilakukan pelatihan yang akan dilakukan oleh krmentrian Kominfotik dan Kominfo NTB,” ujar Kepala Dinas Kominfotik, Putu Gede Aryadi,  Rabu (13/08/20).

Menurut Gede Aryadi , Kementrian Komunikasi dan Informatika akan melakukan pelatihan. Dan nantinya akan dibangun usaha pelayanan internet.

Sehingga transaksi pengembangan bisnis, sosial, ekonomi termasuk pendidikan bisa jalan

“Kami Sudah berkomunikasi dengen kementerian kominfo karena disamping untuk membantu membuka area blank spot, kita harapkan ini menjadi lahan pemasukan BUMDES di desa. Karena kebutuhan internet ini sangat penting, orang jualan online, sekolah juga butuh paket kalau di desa ada bumdes  agen usahanya menyiapkn internet kan bisa mempermudah masyarakat,” kata Gede Aryadi.

Desa yang akan menjadi pilot projek diutamakan daerah – daerah yang pinggiran atau lemah sinyalnya kurang.

‘’Target ada pilot projek dulu. Kita lihat polanya seperti apa kita tawarkan dulu dan kementerian kominfo bisa memberikan pelatihan secara gratis,” kata Gede Aryadi.

Seperti diketahui, di NTB saat ini masih ada puluhan desa yang termasuk blank spot.

“Di NTB ada sekitar 46 Desa yng masuk dalam area blank spot,” jelasnya.

AYA




Program Mawar Emas Diluncurkan Gubernur, Jadi Pelopor di Indonesia

Pedagang dan masyarakat kecil dapat difasilitasi dan didekatkan dengan Bank NTB Syariah, sehingga memperoleh modal di Bank NTB Syariah dengan lebih mudah dan lebih nyaman, dibandingkan ke rentenir

LOTIM.lombokjournal.com – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah resmi meluncurkan program Melawan Rentenir Berbasis Masjid, atau disingkat Mawar Emas,  di Masjid Nurul Ikhsan Keruak, Lombok Timur, Rabu (12/08/20).

Peluncuran program Mawar Emas itu bertepatan dengan Hari Nasional UMKM 2020, yang menghadirkan sebanyak 50 peserta Mawar Emas yang langsung menerima pembiayaan mikro pada acara peluncuran.

Mereka hadir dalam protokol kesehatan yang ketat, mewakili 417 orang dari se antero Pulau Lombok yang siap menerima pencairan tahap 1 Mawar Emas.

Mawar Emas diluncurkan secara resmi oleh Gubernur NTB, dan dihadiri oleh Bupati Lombok Timur, H. M. Sukiman Azmy, unsur Forkopimda Provinsi NTB dan Kabupaten Lombok Timur, Kepala OJK Provinsi NTB, Perwakilan Bank Indonesia NTB, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah NTB, Direksi Bank NTB Syariah, Pimpinan Cabang PNM Mataram, para tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Gubernur Zul dalam sambutannya mengatakan, program ini yang pertama di Indonesia. Kesempatan ini harus dijadikan momentum untuk meningkatkan  legesi daerah kita, bukan hanya di NTB tapi menjadi contoh di Indonesia.

“Secara ide memang semua orang bisa, namun secara praktek tidak semua orang bisa melakukan, baru kita yang merealisasikannya,” ujarnya.

Bang Zul optomis, dengan dukungan OJK program “Mawar Emas” akan sukses, karena lokomotif di depannya adalah OJK.

Dijelaskan gubernur, program “Mawar Emas” atau Program Melawan Rentenir berbasis Masjid (Mawar Emas) adalah Program pemerintah Provinsi NTB untuk membantu UKM dan pedagang-pedagang kecil, yang selama ini lebih nyaman dan lebih mudah meminjam ke rentenir dengan berbunga tinggi.

“Akibat berbunga tinggi akhirnya jadi beban yang sangat berat dan membuat lingkaran setan kemiskinan yang susah diputus,” ujarnya.

Gubernur berharap, dengan Program “Mawar Emas” ini pedagang dan masyarakat kecil akan dapat difasilitasi dan didekatkan dengan institusi keuangan, seperti Bank NTB Syariah, sehingga mampu mendapatkan pinjaman dan memperoleh modal di Bank NTB Syariah dengan lebih mudah dan lebih nyaman, dibandingkan ke rentenir.

“Mudah-mudahan dengan masyarakat kecil bisa meminjam uang dan modal ke Masjid, akan membuat Masjid selain sebagai pusat ibadah bisa sekaligus menjadi pusat ekonomi dan sosial,” harapnya.

Gubernur menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) “Mawar Emas”,  seperti OJK, BI, Bank NTB Syariah, PNM dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) NTB yang membuat program ini menjadi mungkin terlaksana.

“Hari ini kami mulai dari Lombok Timur, untuk selanjutnya menyusul di Kabupaten dan Kota se-NTB,” katanya.

TKI pun tak lepas dari rentenir

Bupati Lombok Timur, H. Sukiman Azmi, dalam sambutannya mengatakan, saat ini Rentenir sudah merasuki semua sendi kehidupan masyarakat di Lombok Timur. Mulai dari Petani, Nelayan bahkan para TKI juga tidak lepas dari praktek rentenir.

Bupati menaruh harapan besar kepada 1,2 juta penduduk Lotim, jika masyarakat dapat tersentuh program ini, maka akan mendatangkan berkah bagi masyarakat Lotim dan akan menjalar ke Kabupaten lainnya di NTB.

Program inovatif Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) NTB ini hadir untuk membantu pelaku usaha mikro yang acapkali kesulitan mengakses kredit atau pembiayaan konvensional.

mumnya mereka tidak memiliki agunan berupa sertifikat tanah atau BPKB. Jarak tempuh ke kantor lembaga keuangan yang relatif jauh, dengan tingkat literasi (pemahaman) dan inklusi (akses) keuangan yang rendah.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK tahun 2019, tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat NTB sebesar 34,65 persen dan 62,73 persen. Jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 38,03 persen dan 76,19 persen.

Tidaklah mengherankan bila pelaku usaha mikro dan masyarakat kecil sangat rentan terjerat hutang rentenir, atau yang dikenal dengan istilah ‘bank subuh’ atau ‘bank rontok’.

Hal ini tentu menjadi momok bagi mereka dalam upaya untuk keluar dari garis kemiskinan.

Untuk itu, diperlukan sinergi antara Pemerintah Daerah, OJK, dan para pemangku kepentingan untuk merumuskan terobosan program pembiayaan, yang dapat menyentuh masyarakat di lapisan bawah dengan biaya yang sangat murah.

Pemikiran inilah yang mendasari lahirnya program Mawar Emas.

Melalui koordinasi dengan MES NTB, kegiatan Mawar Emas dipusatkan di masjid sebagai pusat peradaban dan sumber kemakmuran.

Takmir masjid dan ketua kelompok pengajian ditunjuk menjadi ujung tombak program, sehingga diperlukan pembekalan dan pendampingan secara intensif.

Diantaranya, pelatihan takmir masjid se-Pulau Lombok pada tanggal 18-20 Juli 2020 di Hotel Jayakarta, tanggal 21 Juli 2020 di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB, dan terakhir tanggal 5 Agustus 2020 di Ponpes Al-Manshuriah Ta’limusshibyan Bonder, Lombok Tengah.

Para takmir masjid yang telah mengikuti pelatihan akan menjaring kelompok ibu-ibu jemaah masjid yang membutuhkan akses permodalan usaha.

Selanjutnya mereka akan dibina dan memperoleh pembiayaan sebesar 2 juta rupiah dari PNM Mekar (skema 1), atau pembiayaan qardhul hasan tanpa bunga sebesar 1 juta rupiah dari Bank NTB Syariah (skema 2).

Pelaku usaha yang membutuhkan pembiayaan lebih besar juga dapat dihubungkan dengan produk tanpa agunan Bank NTB Syariah.

Kepala OJK Provinsi NTB Farid Faletehan selaku Pengarah TPAKD Provinsi NTB pun menekankan pentingnya akses pembiayaan yang mudah dan murah bagi pelaku usaha mikro.

Kehadiran Mawar Emas diharapkan mampu melepaskan masyarakat dari rentenir, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah NTB.

Ke depan, TPAKD NTB akan mengundang keterlibatan lembaga jasa keuangan lainnya, agar Mawar Emas dirasakan manfaatnya di seluruh penjuru Nusa Tenggara Barat.

AYA/HmsNTB